VocaWorld, chapter 138 - Festival Budaya (Pembukaan)

Hari pertama festival budaya akademi Voca pun di mulai. Setiap kelas di akademi Voca membuat acara berbeda. Seperti kelas 1-B misalnya. Mereka saat ini membuka sebuah rumah hantu. Tampak beberapa orang berjaga di depan pintu. Tak lama Ray pun datang.
"Apa semuanya sudah siap disini?" tanya Ray.
"Belum. Saat ini mereka masih memakai make up di dalam. Dan persiapan akhir juga sedang dilakukan." jawab sang ketua kelas yang berjaga di pintu depan.
"Bolehkah aku cek ke dalam?" tanya Ray.
"Ya silahkan." ujar ketua kelas.
Ray masuk ke dalam ruangan yang nampak gelap itu. Seluruh bagian ruangan ditutupi kain hitam dan dibuat jadi seperti labirin.
"Kalau tidak salah di dalam sini." ujar Ray menyingkapkan kain hitam.
Saat disingkapkan, terlihatlah sesuatu yang sangat mengagumkan. Miku sedang berdiri ganti baju dengan yang lainnya.
"Belang-belang seperti biasa ya?" ucap Ray dengan ekspresi datar.
"Kyaaa!!! Ecchi!!!" teriak para gadis yang sedang berganti pakaian.
Ray pun dilempari berbagai macam benda oleh para gadis itu. Namun Ray malah menghindari setiap lemparan mereka.
"Kenapa malah menghindar?" tanya Miku.
"Kalau tidak menghindar nanti bisa kena." jawab Ray dengan wajah yang biasa saja.
"Ya justru itu harusnya kamu kena!" bentak Miku.
"Tapi bagaimana cara kalian ganti baju?" tanya Ray.
"Hah? Ya tinggal ganti aja kan!" jawab Miku.
"Tapi kostum dan pakaian kalian kan barusan dilempar-lemparkan." sahut Ray menunjuk kebelakang.
Para gadis pun terkejut karena baru menyadari hal itu. Saat itu mereka hanya mengenakan pakaian dalam.
"Shiro Ray! Cepat pergi sana! Mau sampai kapan kau akan berdiri disana!?" suruh Miku dengan kesal dan malu.
"Oh jadi aku harus pergi nih?" tanya Ray sambil menunjuk mukanya.
"Iyalah! Dasar mesum!" pekik Miku.
"Baiklah kalau begitu. Tapi pastikan kalian harus sudah siap sebelum pukul 7." ujar Ray lalu pergi meninggalkan para gadis yang marah dan malu itu.
"Kenapa dia bisa sebiasa itu melihat kita telanjang?" ucap salah satu gadis dibelakang Miku.
"Mungkin dia tak tertarik pada dada yang kecil sepertu kita." sahut yang disebelah kirinya.
"Memang sih, diantara kita semua, yang paling besar itu Megupo-san." tambah yang disebelah kanannya.
Miku yang mendengarnya langsung melihat ke arah dadanya.
"Aku benar-benar benci dia!" ucap Miku tampak geram.
Ray keluar dari pintu belakang. Dia berpapasan dengan Gumi.
"Oh halo Megupo-san. Sepertinya diantara yang lain kamulah yang paling siap." sapa Ray.
"Da-darimana kamu tahu ini aku?" tanya Gumi dengan gugup.
"Itu rahasia." jawab Ray sambil lewat disamping Gumi.
Saat itu Gumi memang sudah memakai kostum dan ber-make up lengkap. Dia hampir mustahil dikenali. Rambutnya pun ditutupi dengan wig hitam berantakan.
"Oh ya, Megupo-san.. jangan lupa dengan peranmu." ujar Ray dari belakang Gumi.
"Ya, tentu saja." jawab Gumi.
Ray melanjutkan langkahnya menjauh dari kelas 1-B. Dia kemudian menuju ke lorong kelas 2. Berjalan menyusuri lorong, dia bertemu dengan Luka.
"Selamat pagi, Ray-kun.." sapa Luka sambil tersenyum.
"Selamat pagi.." sahut Ray.
"Kamu tak perlu memeriksa yang disini. Semuanya sudah aku cek." kata Luka.
"Begitu ya. Kalau begitu aku akan ke kelas 3." ujar Ray.
"Tidak perlu. Aku juga sudah melakukannya untukmu." sahut Luka.
"Hah? Kamu sigap juga, Megurine-san. Apa kamu sedang bersemangat hari ini?" tanya Ray sedikit terkejut.
"Ya tentu saja aku bersemangat. Tidak mungkin aku membiarkan Ray-kun melakukan semuanya sendirian. Ray-kun yang membuat perencanaan, jadwal, dsb. Jadi, untuk urusan yang lain biar aku saja yang lakukan." jawab Luka.
"Tapi kan Megurine-san..", "Tidak ada tapi-tapi. Pokoknya jika ada sesuatu katakan padaku. Biarkan aku membantumu." potong Luka.
"Baiklah.." terima Ray.
"Oh ya, Ray-kun belum sarapan kan? Mau sarapan bareng?" tawar Luka sambil tersenyum.
"Tidak per..", "Ayo." ucap Luka sebelum Ray selesai berucap.
Luka menarik lengan Ray. Orang-orang disekitar terlihat terkejut dan tercengang melihat Luka menarik lengan seorang junior nya seperti itu.

Waktu hampir menunjukan pukul 7. Di luar gerbang sekolah, Rin dan Len menunggu depan gerbang yang masih belum dibuka.
"Untung saja hari ini libur, jadi kita bisa ke festival budaya Akademi Voca tahun ini." ujar Len.
"Ya tahun kemarin diadakannya bertepatan dengan festival budaya SMP kita, jadi kita terlalu sibuk." tambah Rin.
"Kira-kira seperti apa ya di dalam?" ucap Len.
"Aku penasaran kelasnya Ray-niichan mau ngadain apa ya kira-kira?" sahut Rin.
Waktu pun menunjukkan pukul 7 pas. Gerbang depan sekolah dibuka.
"Kepada para pengunjung yang berbahagia, selamat datang di festival budaya akademi Voca. Ini adalah pertama festival, dan kami akan mengadakannya dalam 3 hari. Dan hari ini adalah hari 'Class in Action'. Setiap kelas akan mengadakan sesuatu untuk menyambut para pengunjung. Selamat menikmati festival budaya kami." ucap ketua OSIS melalui pengeras suara.
"Lah itu sepertinya biasa saja. Cuma kelasnya masing-masing mengadakan sesuatu seperti cafe maid, rumah hantu, dan semacamnya." ujar Len.
"Ray-niichan tidak mungkin mengadakan sesuatu yang biasa. Pasti ada sesuatunya." kata Rin tidak setuju dengan Len.
"Wah.. adik-adiknya Mei-Mei ada disini rupanya." sapa Kamui yang sudah ada di dalam.
"Lho, gerbangnya kan baru saja dibuka. Bagaimana caranya nii bisa ada didalam?" tanya Len.
"Haha.. jangan remehkan seorang samurai. Loncat pagar tidak jadi masalah buat saya." jawab Kamui dengan wajah tampak bangga.
"Loncat pagar?!! Sebenarnya niisan ini samurai apa ninja?" kata Rin terkejut.
Di kantin, Ray dan Luka baru selesai makan.
"Terima kasih untuk makanannya, Megurine-san." ucap Ray.
"Apa menurutmu semuanya akan berjalan lancar?" tanya Luka.
"Jangan khawatir. Kalau semuanya sudah ditempat yang semestinya, maka semuanya akan baik-baik saja." jawab Ray.
"Apa sebaiknya kita memberi clue pada mereka?" tanya Luka.
"Satu clue saja sudah cukup rasanya untuk mereka." jawab Ray.
"Ada tambahan dari salah satu staf ahli kami. Katanya ada event khusus treasure hunter. Telah disebar di seluruh penjuru sekolah berbagai kupon. Jika kalian berhasil menemukannya, maupun itu pengunjung ataupun siswa akademi Voca, maka mereka akan mendapatkan hadiah yang tertulis disana." ujar ketua OSIS melalui pengeras suara.
"Sejak kapan Ray-kun mengirimkan pesan pada ketua OSIS?" tanya Luka sedikit terkejut.
"Sejak pagi tadi." jawab Arya dengan santai.
"Kamu memang selalu berpikir cepat, Ray-kun." puji Luka.
"Kalau begitu bukankah sebaiknya kita patroli saja? Kita harus memastikan semuanya berjalan semestinya." ajak Ray sambil berdiri.
"Baiklah kalau begitu." sahut Luka yang ikut berdiri.

Di tempat lain di pinggiran kota, June kembali bertemu dengan laki-laki berjubah.
"Ada apa memanggilku? Ini baru satu malam, dan kulihat kau tak membawa apapun." ujar laki-laki berjubah itu.
"Aku kemari untuk meminta uang muka. Kau tahu kan, untuk mendapatkannya benda itu adalah sesuatu yang sulit. Aku harus berhadapan dengan The White Light dan teman-temannya." jelas June.
"Aku tidak peduli. Lagipula kau terkenal sebagai orang yang licik. Aku tak mungkin memberikan uang muka sebelum melihat barangnya." tolak laki-laki berjubah.
"Kalau kau tidak butuh pun tak apa. Aku bisa memusnahkannya saat ini juga." gertak June.
"Cih! Berani sekali kau mengancamku." ucap laki-laki berjubah itu.
"Tentu saja aku berani, yang sedang butuh itu kau. Aku tidak butuh sama sekali. Kalau tidak jadi ya tinggal musnahkan." tambah June.
"Sepertinya berhasil. Benar apa yang dikatakan dia." ucap June dalam hati.
"Baiklah! Terima ini!" ucap laki-laki itu melempar sebuah kantung.
June menangkapnya.
"Senang berbisnis denganmu. Sampai jumpa tanggal 10 November." ujar June melompat pergi.
"Dia jadi pintar menggertak. Siapa yang mengajarinya?" ucap laki-laki berjubah itu terlihat kesal dari sorot matanya.
Luka berjalan sendirian ke arah kelas 2-C. Disana ada Meiko dan Kaito yang terlihat sedang berdebat.
"Kamu tuh susah banget dibilangin ya? Bukankah sudah kubilang untuk memakai yang anjing, ini malah pakai yang kucing." bentak Meiko.
"Soalnya kostum ini kan mencirikan kita banget." sahut Kaito.
"Mencirikan gimana?" tanya Meiko.
"Ya kucing kan takut anjing." jawab Kaito.
"Jadi maksudmu kau takut padaku hah?" ujar Meiko menarik kerah baju Kaito.
"Ya lihat saja, kau itu menyeramkan banget, Meiko." jawab Kaito sedikit kesulitan bernapas.
"Kurang ajar!" pekik Meiko membanting Kaito.
"Menyebut perempuan dengan kata 'menyeramkan' itu penghinaan!" bentak Meiko menunjuk ke arah Kaito.
"Pagi-pagi sudah ribut aja. Ada apa ini?" tanya Luka sambil berjalan mendekati Kaito dan Meiko.
"Kaito tuh, disuruh pakai kostum anjing, malah pakai yang kucing." jawab Meiko.
"Lho, memangnya kenapa kalau pakai yang kucing? Memangnya ada bedanya?" tanya Luka lagi sambil tersenyum.
"Y-ya beda lah.." jawab Meiko.
"Bedanya apa?" tanya Luka lagi.
Wajah Meiko semakin memerah karena semakin didesak oleh Luka.
"Lho, ngomong-ngomong Kaito-kun kemana ya?" ucap Luka.
Meiko pun menoleh ke arah Kaito, tapi Kaito sudah tak terlihat lagi disana.
"Dia kabur!" ucap Meiko.
Sekilas Luka pun melihat Ray.
"Ray-kun.." ucap Luka.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】