Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | part 6

Setelah berhasil kabur dari Rere, sekarang Arya berada di tempat gelap. Seluruh jendela di kelas itu terlihat ditutup oleh tirai sehingga cahaya matahari minim disana.
"Rasanya aku keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya." kata Arya dalam hatinya.
"Berdirilah ksatriaku." pinta sosok gadis itu.
Arya pun berdiri dan berbalik ke arah gadis itu.
"Aku tahu ini bukan tempat yang cocok, tapi.." ucap gadis itu terlihat berjalan mendekati Arya.
Sambil membuka kancing bajunya satu persatu, gadis itu memainkan lidahnya secara sensual.
"Apa ini?!! Dia mau apa?!!" ucap Arya kaget dalam hati.
Arya langsung berlari ke arah pintu, tapi dengan cepat di sergap oleh gadis itu. Arya ditarik kebelakang dan didudukan di kursi.
"Bahaya nih! Mesti gimana aku!?" kata Arya dalam hati mulai panik.
Gadis itu mendekat sambil memegang sebuah tali tambang.
"Kamu takkan bisa lari dariku, ksatriaku." ujar gadis itu.
Hal itu membuat Arya menjadi semakin panik. Di lapangan voli, Shinta terlihat mencoba tantangan ekskul voli.
"Ingat, yang perlu kamu lakukan hanyalah melakukan servis dan sampai ke sisi lain lapangan." ujar senior laki-laki.
"Mudah!" ucap Shinta kemudian melakukan servis.
Servis Shinta sangat sempurna dan membuat para senior ekskul voli kaget.
"Hebat! Kamu seorang jenius. Maukah kamu bergabung ekskul voli?" tawar senior tadi.
"Ahahaha.. bagaimana ya.." ucap Shinta.
"Sudah, bergabung saja dengan kami. Sini, bukunya akan aku kasih stempel." bujuk senior itu mengambil buku di saku belakang Shinta dan langung memberi stempel.
"Ma-maaf.. tapi itu.. bukan bukuku." kata Shinta berusaha mencegah senior itu namun terlambat.
Senior itu menoleh dengan ekspresi bodoh. Senior yang lain nampak pucat mendengar itu.
"Apaaaaa???!!!" ucap para senior dengan wajah pucat dan terlihat shock.
"Bukuku kan sudah dikumpulkan disana." tambah Shinta menunjuk ke sebuah meja di pinggir lapangan.
"Kenapa tidak bilang daritadi!?" kata senior tadi.
"Lah kan senior sendiri yang nyerobot ngambil buku-ku." sahut Shinta.
"Terus ini gimana urusannya?" sambung senior itu suram tertunduk di lapangan.
"Ahaha.. jangan tanya aku. Mana aku tahu." ujar Shinta.
"Ada apa ini?" tanya seorang gadis dari OSIS.
"Gawat!" ucap senior itu saat anak OSIS itu datang.
"Ti-tidak apa-apa kok. Hahahaha.." jawab senior tadi langsung berdiri.
"Oh. Lalu kenapa buku itu tergeletak disana?" tanya gadis itu lagi sambil menunjuk buku berjilid biru muda itu.
"Ah kalau itu.." sahut senior itu dengan wajah berkeringat.
Gadis itu menatap dingin.
".. aku bisa jelaskan!" sambung senior itu.
Sementara itu di koridor, ketua OSIS sedang berjalan melakukan inspeksi jikalau ada murid baru yang akan berbuat curang.
"Ah.. senior jangan terlalu banyak bergerak diatasku." terdengar suara laki-laki didalam kelas yang seluruh jendelanya tertutup tirai itu.
Ketua OSIS pun berhenti.
"Ayolah jangan malu-malu.. katakan saja.." suara perempuan yang sensual itu jelas terdengar dari kelas tersebut.
"Tidak.. aku tidak bisa mengatakannya!" sahut si laki-laki.
"Oh.. apa perlu sedikit kupaksa." kata si perempuan.
"Woy.. sedang apa kalian disini!?" bentak ketua OSIS sambil membuka pintu.
Tampak Arya sedang terikat di kursi dan gadis dengan kacamata bulat yang culun sedang membenarkan kacamatanya. Gadis itu saat itu sedang duduk diatas Arya dengan posisi menyamping sambil melingkarkan tangan kanannya di leher Arya.
"Oh ketua OSIS, apa kabar?" sapa gadis dengan rambut ponytail rendah dan dikepang itu.
"Lagi-lagi kamu. Bukankah kamu sudah mendapat teguran dari ibu kepala sekolah karena metode wawancara mu ini? Kenapa belum kapok juga?" tanya ketua OSIS itu.
Gadis itu berdiri sambil mengancingkan 2 kancing bajunya yang terbuka.
"Maaf-maaf.. soalnya aku tidak tahan. Dia adalah sumber berita yang terlalu menarik." jawab gadis itu menoleh ke arah Arya.
"Tak ada alasan. Pokoknya saat ini kamu telah mendapat peringatan pertama dari OSIS." ujar ketua OSIS lalu berjalan meninggalkan mereka.
"Haha.. dia benar-benar berbahaya. Untung saja aku dapat menahan diri." ucap Arya dalam hatinya dengan lesu.
"Perlukah kita lanjutkan lagi?" tanya gadis itu tiba-tiba.
"Eehhh?!! Sudah dapat teguran juga masih saja mau melanjutkan?!" sahut Arya dengan wajah terkejut.
"Bukankah semakin dilarang kita jadi semakin tertantang?" balas gadis itu.
"Tidaaak! Aku tidak mau melanjutkan hal yang tadi!" tolak Arya.
"Imutnya.." ucap gadis itu sambil kembali memainkan lidahnya secara sensual disenyumannya.
"Lagipula siapa kamu? Kenapa kamu menanyaiku dengan cara seperti tadi?" tanya Arya.
"Aku dari ekskul jurnalistik. Dan jika kamu mau tahu namaku.." jawab gadis itu kembali mendekati Arya.
Di menarik sedikit kerah bajunya dan mencondongkan badannya.
"Aku menulis namaku dengan pulpen.. didalam sana.." ucap gadis itu dengan setengah berbisik di telinga Arya.
"Stop! Tolong jangan menggodaku terus senior! Sebutkan saja lah! Aku tidak sanggup melihatnya!" ujar Arya menutup matanya.
"Baiklah, namaku Chelsea Mariana Angela." sahut gadis itu sambil menegakan tubuhnya lagi.
"Aku sudah mengikutimu sejak dari ekskul pramuka. Setelah mendapat pesan dari Luthfi, aku tertarik untuk mengetahui tentangmu. Tapi saat ini aku juga sudah selesai dengan urusanku, jadi aku akan pergi." jelas Chelsea.
"Jadi begitu ya.. memangnya siapa itu Luthfi?" pikir Arya.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi, ksatriaku." ujar Chelsea sambil keluar dari kelas.
"Akhirnya dia pergi juga. Tapi dia aneh banget. Wajahnya begitu cantik dan sensual, tapi dia menutupinya dengan kacamata seperti itu." gumam Arya setelah Chelsea pergi.
"Tunggu, kalau dia pergi.. lalu siapa yang membukakan ikatanku!!!?" ucap Arya baru sadar dia masih terikat di kursi.
Dilapangan voli, gadis dari OSIS yang merupakan sekertaris OSIS tampak membuka-buka buku berjilid biru muda.
"Kalau yang kamu katakan itu benar, artinya ini tanggung jawabmu. Kamu tak bisa membatalkan stempel yang sudah diberikan. Kamu harus menunggu pemilik buku ini kemari dan suruh dia melakukan chalenge nya." ujar sekretaris OSIS.
"Haha.. aku tidak punya pilihan lain sepertinya. Aku tak mungkin menentang sekretaris OSIS." ujar senior ekskul voli dalam hati.
"Ba-baiklah. Akan kutunggu pemilik buku itu." sahut senior itu.
"Oke jadi tunggu anak bernama.. Arya Sastrawardhana dan nanti kalau sudah kembalikan pada orangnya." tambah sekretaris OSIS.
"Maaf.. apa tadi ada yang menyebut nama Arya Sastrawardhana?" tanya Alice yang tidak sengaja mendengarnya.
Senior ekskul voli, sekretaris OSIS, dan juga Shinta langsung menoleh ke arah Alice.
"Kamu mengenalnya?" tanya sekretaris OSIS.
"Iya. Eh, maksudku tidak." jawab Alice.
"Hah? Jadi yang benar iya atau tidak?" tanya sekretaris OSIS lagi.
'Tidak, tapi.. aku tahu orangnya.." jawab Alice tampak sedikit malu.
"Kalau gitu mah kenal dong." sahut senior ekskul voli.
"Tidak! Aku tidak mengenalnya. Setidaknya.. tidak secara pribadi.." ujar Alice
"Terus ada apa?" tanya sekretaris OSIS.
"Bo-bolehkah aku meminta buku itu?" sahut Alice.
"Tidak bisa, ini bukan milikmu. Kami harus menahannya dan membiarkan pemilik aslinya yang mengambil." balas sekretaris OSIS.
"Tapi, aku lah yang memungut buku itu pertama kali saat dia yang menjatuhkannya. Dan aku malah meninggalkannya dan membuatnya diambil oleh orang lain. Aku harus bertanggung jawab mengembalikannya." jelas Alice.
"Nona muda, sebaiknya kita biarkan saja mereka. Anggota OSIS pasti memastikan buku itu kembali ke pemiliknya." bujuk Ani yang berdiri dibelakang Alice.
"Tapi, aku harus mengembalikannya. Dengan tanganku sendiri. Aku harus meminta maaf padanya karena tak bisa mengembalikan bukunya padahal bertemu dengannya saat itu." ujar Alice.
"Kenapa kamu begitu ingin meminta maaf padanya? Kenapa dia begitu istimewa untukmu? Memangnya dia sehebat itukah dimatamu?" tanya Shinta.
"Dia.. dia membantuku. Dia membantu setiap orang dengan membantu satu orang. Dia membantuku melewati tantangan di ekskul pramuka. Dia.. begitu baik.." jawab Alice.
Setelah memperhatikan ekspresi Alice saat itu, sekretaris OSIS pun menghampiri Alice.
"Baiklah, ini.. kembalikan lah padanya. Tapi harus secepatnya dikembalikan ya." ujar sekretaris OSIS sambil menyodorkan buku itu.
"Te-terima kasih.." terima Alice.
Disebuah ruangan yang terlihat sibuk, tampak Chelsea masuk.
"Ketua, kemana aja? Kami sedang sibuk saat ini. Kenapa ketua pergi begitu saja?" tanya seseorang laki-laki pendek yang membawa kamera.
"Aku tadi sedang wawancara dengan narasumber." jawab Chelsea.
"Narasumber? Wawancara? Kita ini sedang memberi tantangan pada murid baru, kenapa ketua malah keluar malas-malasan dengan alasan itu? Aku tak mungkin percaya." ujar laki-laki itu.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku sudah mendapatkan jawaban wawancaranya disini. Segera persiapkan semuanya. Kita akan rilis berita di mading hari ini juga." kata Chelsea menunjukan buku kecil di tangan kirinya.
"Hah? Memangnya siapa narasumbernya?" tanya laki-laki itu.
"Ksatriaku." jawab Chelsea.
Laki-laki itu malah menatap aneh saat mendengar jawaban itu.
"Siapa tuh?" tanya laki-laki itu.
"Ksatriaku ya ksatriaku." jawab Chelsea.
"Tuh kan jawabanmu saja meragukan mana mungkin aku percaya!" sahut laki-laki itu.
"Tapi ini buktinya. Ini hasil wawancaraku. Pertama aku mengikatnya, menggodanya hingga dia berteriak-teriak meminta tolong, lalu meninggalkannya terikat dikursi." jelas Chelsea.
"Itu malah terdengar seperti kau sedang mengerjainya, bukan mewawancarainya!" bentak laki-laki itu.
"Tapi ini buktinya!" sahut Chelsea menunjukan isi dibuku kecilnya.
"Ah paling itu cuma karanganmu doang." kata laki-laki itu.
"Ini beneran! Percayalah padaku!" bujuk Chelsea.
Tapi laki-laki itu mengacuhkannya.
Arya yang masih terikat, melompat-lompat dengan kursi menuju keluar kelas.
"Haha.. memalukan sekali aku harus melompat-lompat seperti ini." ujar Arya dalam hatinya.
Tak disangka, datang Fajar dan Digna.
"Hei, bukankah itu dia?" ucap Fajar menunjuk ke arah Arya.
"Ya itu dia. Tapi sedang apa dia?" sahut Digna.
"Entahlah, mungkin itu tren baru." balas Fajar.
Mereka berdua menghampiri Arya.
"Hei.. sedang apa bro?" sapa Fajar pada Arya.
"Oohh.. saat ini aku sedang menghadapi tantangan ketua OSIS. Kalau aku bisa berkeliling dengan badan terikat dikursi, maka aku akan mendapatkan stempel dari semua ekskul dengan gratis." jawab Arya.
"Benarkah!?" ucap Fajar dan Digna.
"Tentu saja tidak! Mana ada tantangan seperti itu!" sahut Arya.
"Lalu kenapa kamu terikat seperti itu?" tanya Digna.
"Ah.. bagaimana menjelaskannya ya. Tiba-tiba aku ditangkap oleh seorang senior perempuan yang seksi, di ikat, kemudian diduduki." jelas Arya.
Fajar dan Digna pun jadi bengong mendengar penjelasan tersebut.
"Bagaimana ceritanya tuh? Tolong ceritakan dengan lebih detail!" pinta Fajar tampak sangat penasaran.
"Haha.. aku tidak bisa, itu terlalu memalukan." tolak Arya.
"Ayolah aku mohon! Jadi dia menggunakan posisi apa saat mendudukimu? Apa dia ganti posisi setelah itu?" bujuk Fajar.
"Tidak, dia hanya menanyaiku tentang hal-hal aneh." jawab Arya.
"Hal aneh apa? Apa tentang rasanya?" tanya Fajar.
"Ah.. tunggu sebentar kenapa pertanyaanmu makin aneh?" ucap Arya.
Wajah Fajar tampak sangat penasaran, sementara Digna malah menutup wajahnya dengan tangannya.
"Oh ya, bisakah kalian membukakan ikatan ini dulu?" pinta Arya.
"Tunggu sebentar.." ucap Digna berjalan ke belakang Arya.
"Wah kalau ini sih sulit. Kita butuh pisau untuk membukanya." sambung Digna setelah melihat ikatan itu.
"Sayang sekali aku tak membawa pisau cutter ku. Coba kau mau menjelaskan pertanyaan senior itu, pasti aku akan memotong tali itu dengan karate ku." sahut Fajar.
"Memangnya kamu bisa karate?" tanya Digna.
"Tidak sih." jawab Fajar dengan polos.
"Kalau begitu jangan bilang!" bentak Digna sambil menjitak Fajar.
"Lalu bagaimana dong?" tanya Arya.
"Hmm.." gumam Fajar dan Digna.
"Hrrrmmm... hrrrrmmmmmmm.." Arya membuat suara efek mobil.
"Jangan memplesetkan suara kami!" bentak Fajar dan Digna.
"Soalnya kalian mikirnya kelamaan. Bawa saja aku ke suatu tempat. Ke pos sebuah ekskul misalnya. Lalu pinjam pisau cutter mereka." saran Arya.
"Oh.. benar juga." sahut Fajar.
Tiba-tiba Fajar dan Digna seperti menyadari sesuatu.
"Kalau kamu sudah tahu jawabannya tak usah bertanya kan?" ucap Fajar dan Digna bersamaan.
"Oh iya juga, kenapa tidak terpikir.." ujar Arya.
Kemudian Fajar dan Digna mengankat kursi itu beserta Arya diatasnya. Mereka membawanya pergi. Beberapa saat kemudian datang Rere ketempat itu.
"Sial, kemana dia? Tiba-tiba hilang gitu. Jangan-jangan dia beneran ninja." gerutu Rere.
Kemudian Rere pergi ke arah Fajar dan Digna membawa Arya. Di sebuah ruangan penuh dengan rak buku. Seorang gadis anggun dengan bando putih menghias kepalanya terlihat sedang membaca buku.
"Sepertinya dia menikmati waktunya." ucap gadis yang tak lain adalah Sindy itu.
Tampak di ponsel Sindy aplikasi chat dalam keadaan terbuka. Aplikasi chat terkenal bernama LINE itu tampak aktif dan ramai dengan obrolan. Room dengan nama 'Unity of X-Cool' itu tampak di dominasi oleh nama Luthfi. Chat terakhir adalah dari nama 'Chelsea' yang isinya, "Dia kuikat dikursi setelah ku wawancara. Dia imut sekali.". Tak lama ada balasan dari nama 'Ikhsan', "Tapi aku yakin dia akan menemukan jalannya menuju ke takdir selanjutnya." katanya.
Bersambung ke part 7..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】