VocaWorld, chapter 137 - Sebelum Festival

Tak terasa sudah hampir tanggal 10 November. Tepatnya sudah tanggal 7 November. Anggota OSIS tampak menyiapkan sebuah set panggung.
"Kemana perginya Shiro Ray?" tanya ketua OSIS.
Ketua OSIS kelihatannya sedang melakukan inspeksi.
"Shiro Ray tadi pergi bersama wakil ketua. Tapi kalau kemananya, kami tidak tahu." jawab salah satu anggota OSIS yang sedang menyiapkan panggung.
"Jadi dia tidak memberitahu kalian?" tanya ketua OSIS lagi.
"Jangankan memberitahu. Kapan saat perginya saja kami tidak tahu." jawab anggota OSIS itu.
"Lah terus tahu darimana dia pergi dengan Megurine-chan?" tanya ketua OSIS.
Saat itu Ray sedang berkeliling sambil membawa bungkusan mencurigakan. Dia berjalan disekitar area akademi Voca bersama Luka.
"Apa kamu sudah mencatat semuanya, Megurine-san?" tanya Ray.
"Ya, sudah semuanya." jawab Luka yang juga membawa bungkusan aneh.
"Kalau begitu sekarang kita berpencar." kata Ray.
Kemudian mereka berdua pun mengambil jalan yang berbeda. Sore itu sekolah memang sudah sepi. Hanya ada beberapa anggota klub tertentu yang masih ada disekolah. Begitu juga dengan klub light music.
"Mereka lama banget. Beli makanan kemana sih mereka itu?" gerutu Kaito yang sedang mendekorasi ruang kelasnya.
Anak kelas 2-C tampak sedang sibuk mempersiapkan festival. Gumi memperhatikan mereka dari pintu belakang.
"Eh, dia anak kelas 1 ya? Sedang apa dia disini?" tanya teman sekelas Kaito.
"Dia anggota klub light music. Dia kuajak kemari karena kasihan, dia sendirian di ruang klub kalau kutinggal. Saat ini kan Meiko sedang belanja makanan dengan adiknya." jawab Kaito.
"Hmm.. emang kelasnya tidak mempersiapkan sebuah acara? Kenapa dia tidak kembali ke kelasnya?" tanya teman Kaito yang lain.
"Berkat seseorang jenius dikelasnya, persiapan kelas mereka jadi selesai 2 kali lebih cepat. Jadi saat ini kelasnya sepi." jelas Kaito.
"Eh, orang jenius macam apa yang bisa membuat persiapan jadi cepat selesai?" ujar teman Kaito itu.
"Ah sulit menjelaskan tentang dirinya." sahut Kaito.
Lalu Luka pun datang. Namun bungkusan yang dibawanya sudah tak nampak lagi.
"Bagaimana keadaan disini?" tanya Luka.
"Ini dia wakil ketua OSIS kita. Kemana aja kau, Megurine? Kenapa tidak membantu teman sekelasmu?" sahut Kaito.
"Maaf, karena saat ini aku sibuk membantu anggota OSIS mempersiapkan panggung buat acara di hari terakhir festival budaya." jawab Luka sambil tersenyum.
"Sibuk tapi kok malah datang kemari." ujar Kaito.
"Oh.. Megurine-san.. sedang apa kamu disini?" tanya Meiko yang baru saja datang.
Dia terlihat membawa sebuah kantong plastik.
"Yeah makanan sudah datang!" sorak orang-orang yang ada disitu.
Meiko pun memberikan kantong plastik yang dibawanya pada Kaito. Kaito membagikan isi di dalam nya pada orang-orang yang sedang bekerja disana.
"Aku hanya lewat saja." jawab Luka.
"Oohh.." sahut Meiko sambil terlihat matanya bergulir ke kiri dan kanan mencari sesuatu.
"Mencari siapa?" tanya Luka.
"Ti-tidak. Aku tidak sedang mencari apapun." jawab Meiko.
Luka kemudian pamit dan keluar dari kelas itu. Meiko memperhatikan Luka dari pintu depan. Luka berjalan sendirian sambil membawa sebuah bungkusan.
"Woi Kaitobego, segeralah ke ruangan klub jika disini sudah selesai!" suruh Meiko.
"Emang ada apa di ruangan klub?" tanya Kaito.
"Lah pake nanya lagi. Kita perlu mempersiapkan untuk Club Strike nanti kan." jawab Meiko.
"Club Strike? Nama klub kita kan klub light music." ujar Kaito.
Meiko pun langsung menatap tajam pada Kaito.
"Eh, ada apa? Apa ada yang aneh diwajahku?" ucap Kaito.

Di dalam ruang klub, Miku dan Gumi terlihat sedang menunggu Kaito dan Meiko. Mereka duduk berhadapan dan makanan sudah tersaji diatas meja.
"Wah.. untung aja ada Shiro Ray. Pekerjaan kita di kelas jadi cepat beres." ujar Miku sambil meregangkan tangannya.
"Haha.. tumben Miku-chan bilang begitu. Biasanya kan sering memaki-maki dan ngomel dibelakang dia." komentar Gumi.
"Oh benar juga, dia memang menyebalkan! Huh!" sahut Miku membuang muka.
"Kalau dia menyebalkan, kenapa tidak protes saja tadi siang tuh? Katakan saja biar Miku-chan yang beresin." ujar Gumi.
"Eh?! Ogah!" ucap Miku.
"Iya neng ada apa?" ucap seseorang dari arah pintu.
"Tuyul?!" ucap Miku terkejut melihat sosok laki-laki paruh baya botak di depan pintu.
"Saya bukan tuyul, saya Ogah, bertugas menjaga sekolah ini hingga akhir tahun." ujar laki-laki itu.
"Lah kalau ogah ngapain jaga sekolah ini?" tanya Miku.
"Neng mau tahu?" sahut pak Ogah.
"Iya." jawab Miku.
"Beneran?" tanya pak Ogah lagi.
"Beneran." sahut Miku.
"Ciyus? Miapah?" tanya pak Ogah lagi dengan gaya alay.
"Eh???" ucap Miku yang malah bengong.
"Gumi-chan, tadi bahasa apaan?" tanya Miku dengan berbisik.
"Itu bahasa Alay, Miku-chan." jawab Gumi.
"Lho, Gumi-chan pernah Alay? Kok tahu?" tanya Miku lagi dengan polos.
"Nyesel aku jawab." kata Gumi dalam hati.
"Oke saya kasih tahu, tapi.." sambung pak Ogah.
"Tapi apa?" tanya Miku.
"Cepe dulu.." jawab pak Ogah.
"Cepe? Apa itu cepe?" tanya Miku yang kembali jadi bingung.
"Cepe itu 100 neng. Masa gak tahu?" ledek pak Ogah.
"Oohh.. 100 yen. Ini.." ucap Miku memberikan uang koin 100 yen.
"Oke jawabannya adalah, karena saya butuh duitnya." jawab pak Ogah.
Miku langsung terbengong mendengar itu.
"Ya iyalah, semua orang juga bekerja karena butuh duit!" bentak Miku.
Pak Ogah pun kabur ke luar dari ruangan tersebut. Tak lama kemudian datanglah Meiko dan Kaito.
"Ada apa? Kenapa disini jadi panas gini suasananya?" tanya Kaito duduk disebelah Gumi.
Gumi pun pindah tempat ke samping Miku.
"Tadi ada orang nyebelin minta uang 100 yen untuk jawaban yang sudah kami tahu." jelas Miku sambil cemberut.
"100 yen?" ucap Meiko duduk disebelah Kaito.
"Tunggu, jangan bilang kalau itu pak Ogah penjaga sekolah kita." lanjut Meiko.
"Pak Ogah? Jadi namanya pak Ogah?" tanya Miku.
"Kalau yang Hatsune maksud itu yang kepalanya botak, itu memang pak Ogah." jawab Kaito.
"E, ehhh?!!! Yang bener!!?" ucap Miku kaget.
"Lah bukannya jelas banget dibaju seragamnya. Ada nama 'OGAH' nya gede banget. Paka tanda panah segala dengan tulisan 'nama saya'." ujar Gumi sambil nepuk jidat.

Sambil berdiri di dekat papan tulis, Ray tampak menatap layar ponselnya. Dia terlihat cukup serius saat itu, namun kemudian konsentrasinya buyar oleh dibukanya pintu kelas itu dengan keras.
"Aniki? Sedang apa disini?" tanya Dante yang membuka pintu tadi.
"Dante, sebaiknya jangan terlalu serius. Santailah sedikit. Kamu harus rileks dan menikmati acara esok hari." kata Ray.
"Aku disini hanya untuk memberi sentuhan akhir saja." sambung Ray sambil beranjak dari kelas itu.
"Sentuhan akhir?" ucap Dante tidak mengerti maksud Ray.
"Tunggu Aniki!" panggil Dante.
Ray berhenti dan menoleh kebelakang. Wajah Dante terlihat serius saat itu.
"Bisakah Aniki jelaskan apa itu Club Strike?" tanya Dante.
"Lho, bukannya sudah aku jelaskan waktu itu? Kamu tidak mendengarkan emangnya?" tanya Ray.
"Hahaha.. maaf Aniki. Waktu itu aku sedang menghapal lagu, jadi tidak tahu apa yang Aniki jelaskan saat diruang klub itu." jawab Dante.
"Ya ampun.. ya sudah, ini baca aja penjelasannya di brosur ini." ujar Ray sambil memberikan sepucuk kertas pada Dante.
Kertas brosur itu dibaca oleh Dante hingga nampaknya ia mulai mengerti dan langsung melemparnya ketempat sampah.
"Hahaha.. aku sudah mengerti. Jadi aku tidak membutuhkan brosur itu lagi." ujar Dante dengan penuh kebanggaan.
"Kalau sampai dia melakukannya pada brosur orang lain, tepat didepan orang yang membagikan brosur tersebut, pasti dia sudah kena tempeleng atau kena timpuk bata." ujar Ray dalam hatinya.
Sementara itu di pertengahan kota, June duduk santai sambil makan bento di kursi. Saat sedang asik makan, seorang anak berjubah panjang mendekati June.
"Dimana paketnya?" tanya orang itu berdiri dihadapan June.
"Oh, kau ternyata. Tenang saja paketnya aman." jawab June.
"Aku tidak butuh aman! Aku ingin membawa paketnya sekarang juga." ujar orang itu dengan tatapan mata tajam.
Namun bagian wajah lain tampak gelap karena itu adalah area minim cahaya di taman itu.
"Tenanglah sedikit, akan kuambilkan dengan segera." balas June tampak sedikit ketakutan.
"Baiklah, akan kuberi waktu tambahan 3 hari dari sekarang. Kalau sampai saat itu kamu belum membawa paketnya juga, maka aku akan membunuhmu saat itu juga." ancam orang itu.
Kemudian sosok berjubah itu pun berjalan lagi meninggalkan June.
"Tak sabaran sekal. Aku disini juga sedang susah, malah didesak dan ditagih pula." gerutu June.
"Jadi saat ini aku harus mengambil kembali barangnya? Tapi bagaimana caranya aku tahu dimana pesawat itu?!!" sambung June.
"Pesawat yang bisa menghilang memang menyusahkan!" bentak Dante sambil membanting kotak bento nya.
"Kenapa aku membantingnya?!! Padahal baru habis setengah?!!" ujar June melihat nasi dan lauknya berantakan ditanah.
Tiba-tiba wajah June berubah tersenyum menyeringai.
"Tapi semuanya akan terbayar besok." ujar June.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】