LINE Dragon Flight Story, chapter 12 - Putri Yang Membeku
Elli membeku terkena serangan naganya Eve, Snow. Saat ini Duran dan Rikka sedang kebingungan bagaimana cara mengembalikan Elli seperti semula.
"Kita bisa mencairkannya kan, kita gunakan napas naga." ujar Duran.
"Tidak, meskipun dicairkan itu malah akan berbahaya. Saat membeku semua organ vital nya berhenti bekerja. Jika kita mencairkannya sekaligus. Itu malah akan membuatnya seluruh organ tubuhnya kaget. Itu bisa membunuhnya." larang Rikka.
"Terus kita harus bagaimana? Kita tak mungkin membiarkannya seperti ini terus kan?" tanya Duran.
"Aku juga tidak tahu.." sahut Rikka.
"Nona, jangan panik. Anda harus tenang agar bisa berpikir jernih. Jika begini terus nona tidak akan menemukan jawabannya." suruh Bonar.
"Kamu sendiri panik begitu, Bonar." ujar Torn.
"Menyuruh orang lain jangan panik, sendirinya saja panik." tambah Moonlight.
"Bisakah kalian diam, aku disini sedang berusaha berkata bijak." ujar Bonar.
Torn dan Moonlight hanya bisa menatap lesu saat mendengar hal itu.
"Biarkan saja dia membeku!" potong D yang tiba-tiba muncul dari hutan.
Duran dan Rikka terkejut dengan kedatangan D.
"Apa maksudmu dengan membiarkannya membeku, hah!?" bentak Torn tampak kesal.
"Tak ada gunanya membentaknya Torn, dia bukan seorang dragon rider. Dia takkan mengerti bahasa kita." ujar Moonlight.
D menatap Torn yang terlihat kesal padanya. D tersenyum dan mendekati Elli yang membeku.
"Sepertinya kita harus cepat-cepat kepuncak gunung. Kita harus membuatnya tetap membeku." ujar D.
Torn marah mendengarnya lalu mengayunkan tangannya hendak mencengkeram tubuh D. D berjungkir balik ke belakang menghindarinya.
"Aku menyarankan itu untuk kebaikannya, tuan naga." ujar D.
Namun Torn melompat dan menyerang D lagi. D menghindari setiap serangan Torn dengan mudah.
"Tuan royal dragon, sebaiknya kamu hentikan seranganmu itu!" perintah D sambil menghindar.
"Aku tak mungkin memaafkan siapapun yang berani mengatakan seperti itu pada tuan putri!" tolak Torn sambil hendak menembakan api dari mulutnya.
"Kalau begitu terpaksa harus kulakukan ini!" ujar D sambil memegang pedang besar dipunggungnya.
Namun Moonlight melesat dan mendorong Torn tepat sebelum D mencabut pedangnya. Saat Moonlight dan Torn menyingkir, D menebaskan pedangnya. Dan efek tebasan itu sangat dasyat. Tanah terbelah sejauh 100 meter dan semua yang ada diatasnya hancur.
"Kekuatan macam apa itu?!" ucap Bonar terkejut.
"Apa dia benar-benar manusia?" ujar Rikka.
"Jika Moonlight terlambat, pasti naga itu sudah terbelah dua." tambah Duran.
D menyimpan lagi pedang besar itu dibelakang punggungnya.
"Hei kalian, segeralah bawa putri itu ke puncak gunung. Jika tidak dia akan segera mati." suruh D.
"Apa katamu barusan? Kamu menyuruh kami tetap membuatnha membeku. Lalu mengancam kami? Sepertinya kamu sudah gila!" ujar Duran mengeluarkan pisau.
"Sepertinya aku tak punya pilihan lain." ujar D.
D lalu mengeluarkan sebuah tongkat kayu, mengikat kedua ujungnya dengan tali tipis, kemudian mengambil anak panah dari batang kecil bambu yang sudah ditajamkan ujungnya.
"Jadi kamu akan membunuh kami dengan panah? Takkan kubiarkan." kata Duran memasang kuda-kuda.
"Bukan aku, tapi dia." ucap D tampak dibelakangnya ada Moonlight hendak mencakarnya.
"Moonlight?!" ucap Duran.
D menghindar dari cakaran Moonlight, akibatnya debu mengarah ke Duran dan menghalangi pandangan Duran. D berlari memanfaatkan kesempatan itu, Torn menghadangnya dari depan.
"Takkan kubiarkan kau lewat!" ucap Torn.
"Boleh, tapi biarkan anak panahku lewat." sahut D sambil melesatkan anak panah dengan kuat.
Anak panah itu melesat melewati Torn dan mengenai baju Rikka sehingga Rikka terseret kebelakang.
"Nona!" ucap Bonar sambil melompat dan menangkap tubuh Rikka.
"Sial!" ucap Torn lalu terbang menjauh dari D.
Torn terbang ke arah pegunungan dan semakin meninggi menghindari panah-panah dari D.
"Bagus, akhirnya kamu mau juga membawanya kesana." ujar D berhenti menembakan panahnya.
"Kurang ajar!" pekik Duran melompat dan menyerang D dengan pisau.
D sepertinya tidak kesulitan menghindari setiap serangan Duran. Malah dia tampak seperti bermain. Saat Duran menusukkan pisau itu ke arah wajah D, D mengelak dan menangkap lengan Duran lalu.
"Hentikan sekarang! Tak ada gunanya kita bertarung saat ini!" ujar D.
"Tak ada gunanya katamu? Saat ini kamu hendak membunuh teman kami. Kami tak bisa tinggal diam!" jawab Duran.
"Membunuh temanmu? Bagaimana caranya? Aku saat ini jauh dari temanmu. Bagaimana cara aku membunuh seseorang yang terbang 2 km di udara?" balas D sambil melepaskan lengan Duran.
Duran baru sadar kalau Elli yang membeku dan Torn sudah menghilang dari sana.
"Moonlight, kemana perginya mereka?" tanya Duran pada naganya.
"Mereka pergi ke arah pegunungan Grey High Wall." jawab Moonlight.
"Apa?! Kita harus segera menyusulnya!" ucap Duran lalu naik ke punggung Moonlight.
Duran pun terbang menyusul Elli. Yang tertinggal disana hanya ada Rikka, Bonar dan D.
Torn terlihat kelelahan terbang dan mendarat di atas pegunungan itu. Tampak salju menutupi wilayah tersebut.
"Aku berhasil melindungi tuan putri. Namun bagaimana dengan yang lain? Aku meninggalkan mereka disana?" gumam Torn meletakkan Elli dengan lembut diatas salju.
"Tuan putri.." ucap Torn terlihat khawatir.
Torn menatap Elli yang membeku dengan putus asa.
Sementara itu, ditempat Rikka dan Bonar masih ada D disana.
"Kenapa kalian masih ada disini?" tanya D.
"Itu bukan urusanmu." jawab Rikka dengan judes.
"Ya itu benar, semua ini sebenarnya tidak ada kaitannya denganku. Dan aku seharusnya tidak ikut campur sejak awal." sahut D.
D melepaskan tali dibusur panah buatannya itu dan menyimpan semuanya kembali ditas ranselnya.
"Tapi aku harus mengingatkanmu, tidak baik mengacuhkan seseorang yang sedang membutuhkan bantuan. Apalagi jika dia adalah temanmu." sambung D.
"Tapi, saat ini aku sudah tidak berteman lagi dengannya." kata Rikka sambil melepas anak panah yang nyangkut dipakaiannya.
"Benarkah begitu? Kalau begitu kenapa dia sampai mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu? Apalagi datang jauh-jauh untuk membantumu." ujar D.
D pun mengingat saat disungai dia melihat ada 2 naga yang terbang lewat diatasnya. Dan itulah yang membuat kata-kata terputus saat mengingat tentang apa yang ada di sebelah selatan Greymount.
"Itu artinya dia bodoh jika menganggap orang yang jelas-jelas membencinya sebagai temannya." kata Rikka sambil melihat ke bawah.
"Ya dia memang bodoh. Tapi kamu lebih bodoh karena membenci dan menjauhi orang yang sudah jelas ingin menjadi temanmu dan menyayangimu, lalu mengikuti masa lalu yang sudah jelas kamu benci." balas D.
Rikka tak bisa membalas perkataan D itu. Dia hanya terdiam saja dan terlihat shock.
"Kamu pasti sudah mengerti kan, kalau saat ini berbahaya menaikan suhu tubuh temanmu itu. Kamu seorang alchemist, kamu pasti tahu itu." ujar D menatap tajam ke arah Rikka.
"Saat membeku waktu seakan ikut terhenti. Tapi saat kita mencoba menjalankan lagi waktunya, belum tentu yang dihentikan oleh waktu tersebur akan ikut berjalan lagi." sambung D.
"Begitukah, nona Rikka." tanya Bonar.
"Iya, itu memang benar. Teorinya masuk akal." jawab Rikka dengan sedikit merasa menyesal.
"Tapi aku tahu siapa yang bisa membantu menjalankan fungsi bersama berjalannya waktu." tambah D.
"A-apa? Kamu kenal seseorang yang bisa membantu kita?" tanya Rikka.
"Bukan seseorang sih, tapi jika mau aku bisa mengantarmu ke tempat dimana kamu bisa menemukannya." tawar D.
"Kalau begitu cepat katakan padaku, biar aku dan Bonar yang menemuinya. Kalau terbang pasti lebih cepat." pinta Rikka.
"Tidak, justru tempatnya tidak bisa ditemukan jika mengendarai naga. Kita harus berjalan kaki." tolak D.
Rikka bingung dengan yang dikatakan D.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.