LINE Dragon Flight Story, chapter 11 - Menolong Teman

Duran, Elli dan Rikka mendapatkan ucapan terima kasih dari penduduk kota Rimpolly. Karena atas bantuan mereka, gerombolan rampok kapak baja berhasil ditangkap. Rikka juga berhasil mengembalikan tubuh anggota gerombolan rampok yang menjadi raksasa kembali seperti semula dengan obat dari jamur Alice biru. Setelah itu mereka kembali ke lab Rikka.
"Rikka-chan memang hebat." puji Elli.
"Jadi begini ya kemampuan seorang alchemist. Mantap.." tambah Duran.
Wajah Rikka memerah dapat pujian dari mereka berdua.
"Ini pertama kalinya ada yang memujinya. Biasanya dia dikucilkan karena kemampuannya itu. Nona Rikka pasti sangat merasa senang." ujar Bonar dalam hati.
"Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan." ujar Duran pada Elli.
"Apa itu?" sahut Elli.
"Kenapa nagamu memanggilmu tuan putri?" tanya Duran.
"Ah.. itu bisa aku jelaskan.." jawab Elli.
"Apa kamu seorang putri kerajaan?" tanya Duran lagi.
"B-bukan kok. Aku tak mungkin seorang putri atau semacamnya." jawab Elli.
"Tapi gaunmu itu, terlalu bagus untuk orang biasa." ujar Duran.
"Hahaha.. benarkah begitu. Aku hanya membelinya dari tukang obral murah keliling. Iya kan, Torn?" kata Elli dengan senyuman grogi.
"Tuan putri ini memang tidak pandai berbohong ya. Apalagi kalau ditekan seperti itu." ujar Torn.
"Sudah kubilang jangan sebut gitu kalau sedang ada orang lain!" bentak Elli.
"Jadi kamu itu benar seorang.." ucap Duran lalu mulutnya ditutup oleh Elli.
"Jangan katakan pada siapapun tentang hal ini. Aku harus merahasiakan identitasku ini dari siapapun." pinta Elli pada Duran dengan suara pelan.
"Tapi kenapa kamu menyembunyikannya dari orang lain?" tanya Duran.
"Itu karena.. aku ini.." jawab Elli dengan ragu.
"Ya sudah, tak apa. Tapi bolehkah aku berpetualang bersamamu. Sudah sejak lama aku ingin melayani seorang anggota kerajaan. Selama ini aku hidup dari menjadi ksatria bayaran ataupun menolong orang. Tapi tujuan hidupku adalah menjadi seorang ksatria yang hebat seperti ayahku." kata Duran menjelaskan pada Elli tentang tujuan hidupnya.
"Ta-tapi, aku tak punya uang untuk membayarmu. Aku tak mungkin mempekerjakanmu saat ini." balas Elli.
Duran pun berlutut dan memberi hormat.
"Anda tidak usah membayar saya, saya akan dengan senang hati melayani anda tanpa bayaran. Selama anda tetap menjadi diri anda yang baik hati seperti tadi. Karena hanya pada orang seperti anda saya mau bekerja. Saya Duran dan naga saya Moonlight akan dengan senang hati melayani anda." ujar Duran.
"Ba-bangunlah! Akan tampak aneh jika kamu memberi hormat sepertiku didepan banyak orang." pinta Elli.
"Baiklah, tuan putri." sahut Duran sambil berdiri lagi.
"Jangan memanggilku begitu lagi, sudah aku bilang kan! Panggil saja aku Elli." suruh Elli.
"Tapi, jika memanggil langsung dengan nama, itu tidak sopan." kata Duran.
"Kalau begitu, daripada jadi ksatria ku, bagaimana kalau kita berpetualang bersama sebagai teman? Aku ingin kamu jadi temanku, Duran-chan." ujar Elli.
"T-teman?" ucap Duran terkejut.
"Iya, dengan jadi teman kita bisa lebih dekat dan akrab. Karena aku tak ingin kita terbatasi oleh yang namanya tingkat jabatan ataupun kasta. Aku ingin kita semua hidup bersama dan saling membantu satu sama lain tanpa harus minder ataupun takut karena perbedaan kasta." ujar Elli.
Duran pun tersenyum mendengar hal itu. Kemudian memeluk Elli dengan erat.
"Aku benar-benar senang mendengarnya! Kamu benar-benar tipe ku!" kata Duran sambil memeluk Elli.
"Eehh?!! Maksudnya apa aku ini tipemu?!" sahut Elli kaget.
"Jadi kamu itu seorang putri kerajaan?" tanya Rikka.
"Dulu sih iya. Tapi sekarang sudah bukan seorang putri lagi kok. Soalnya kerajaanku sudah runtuh." kata Elli sambil tersenyum.
Namun Rikka terlihat menundukan kepalanya dan wajahnya nampak gelap.
"Rikka-chan? Kamu baik-baik saja?" tanya Elli mendekati Rikka.
"Jangan mendekatiku! Aku telah salah menilaimu. Kukira kita bisa berteman. Tapi ternyata tidak!" bentak Rikka.
"Rikka-chan apa maksudmu? Apa kau melakukan kesalahan hingga kamu marah padaku?" tanya Elli.
"Aku.. aku benci kamu! Aku benci semua orang yang merupakan anggota kerajaan." ujar Rikka lalu membereskan peralatan lab nya.
"Rikka-chan, tunggu! Aku kan sudah bilang aku bukan seorang putri lagi." kata Elli berusaha menjelaskan pada Rikka.
"Aku tidak mau dengar! Menjauhlah dariku!" bentak Rikka sambil mendorong Elli yang mendekat padanya.
Rikka pun pergi meninggalkan lab dan terbang bersama Bonar.
"Apa anda yakin melakukannya, nona Rikka?" tanya Bonar.
"Tentu aku yakin. Kamu tahu sendiri kan bagaimana anggota kerajaan memperlakukan kita!?" jawab Rikka.
"Tapi dia kan?" ucap Bonar.
"Aku tak peduli. Semua anggota kerajaan terlihat sama dimataku. Mereka angkuh dan licik." sahut Rikka.

Duran membantu Elli berdiri. Elli terlihat sedih, dia seperti hendak menangis.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Duran yang khawatir.
"Maafkan aku, karena aku melakukan hal tadi, identitasmu jadi ketahuan. Aku tidak tahu akan jadi begini akhirnya." sambung Duran dengan menyesal.
"Tidak apa-apa kok, ini juga salahku karena ngomongnya terlalu keras tadi. Aku memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Aku memang ceroboh." ujar Elli sambil menghapus air mata di sela matanya.
Elli dan Duran keluar dari lab dan menghampiri Moonlight dan Torn.
"Apa anda akan membiarkan saja mereka pergi, tuan putri?" tanya Torn.
"Ya, apa boleh buat kan. Kita tak punya hak menghentikan mereka." jawab Elli tampak sedikit sedih.
"Tapi apa anda lupa, ada seorang Dragon Rider yang mengincar mereka? Bahkan dia berkata akan membalas kekalahannya." tambah Torn.
Elli baru mengingatnya, dan hal itu pun membuatnya gelisah.
"Kenapa bisa ada Dragon Rider lain mengincarnya?" tanya Moonlight pada Torn.
"Aku mendengarnya dari Bonar, katanya mereka tiba-tiba dikejar saat terbang menuju ke kota ini." jawab Torn.
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Aku sudah bukan temannya lagi. Dia juga membenciku, pasti dia tak ingin aku tolong." ujar Elli dengan hati yang gundah.
"Itu kan anggapannya saja. Selagi kamu masih menganggap dia temanmu, maka tak ada yang bisa melaranngmu untuk menolongnya." kata Duran sambil tersenyum.
"Tapi bagaimana kalau dia marah?" tanya Elli.
"Cukup bilang saja kalau kamu hanya sedang lewat saja kan? Dan orang yang menyerangnya itu menghalangi jalanmu. Gampang kan?" jawab Duran sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Majikanmu cerdas juga. Idenya bagus sekali." ujar Torn.
"Haha.. dia memang selalu memberi kejutan." kata Moonlight sambil tersenyum.
Akhirnya mereka pun terbang berniat menyusul Rikka dan melindunginya dengan rencana 'hanya lewat' nya itu. Di sebuah lembah, D tampak sedang minum dan mengisi perbekalan airnya.
"Ada apa lagi?" kata D tiba-tiba setelah mengisi tempat air yang terbungkus kain.
Dibelakangnya tampak sosok orang memakai jubah.
"Pekerjaanmu bagus sekali. Dan kulihat kamu berhasil mengambil pedangnya. Tapi bagaimana dengan bayaranmu nanti? Kudengar kamu malah meninggalkannya untuk di tangkap oleh yang lain." kata sosok itu.
"Aku sudah mendapatkan bayaran yang lebih dari cukup disana. Jadi kamu tak perlu khawatir." jawab D sambil menoleh ke sosok itu.
"Lalu, ada informasi apa lagi hari ini?" tanya D sambil berdiri.
"Aku tak yakin kamu bisa membayarku untuk informasi kali ini. Jadi aku ragu untuk memberikannya." ujar sosok itu.
"Oohh.. kita lihat saja nanti.." sahut D sambil tersenyum.
"Nampaknya kamu sudah punya cara untuk mendapatkan uang. Baiklah, aku akan menunggumu di desa Ruksimodartamina di sebelah selatan gunung Greymount. Waktumu hanya 3 hari untuk menemuiku. Ingat itu." ujar sosok itu kemudian menghilang dibalik bayangan hutan.
"Nama desa macam apa itu. Lagipula, di sebelah selatan gunung Greymount itu.." pikir D terpotong karena suatu hal.

Rikka terbang menuju ke timur dan terus ke timur. Dia terbang tinggi bersama Bonar.
"Kenapa kita semakin meninggi?" tanya Rikka.
"Jika tidak, kita tak mungkin melewati pegunungan Grey High Wall. Karena kita akan memasuki kawasan negara lain." jawab Bonar.
"Hmm.. benar juga. Grey High Wall adalah benteng dari kekaisaran Arkanesia. Benteng yang membuat mereka bertahan dari kerajaan Dargenia." ujar Rikka.
Di lereng pegunungan itu, tampak ada sebuah tenda dan seekor naga berwarna biru muda menjaganya.
"Snow! Cepat berpatroli sekarang! Kita benar-benar butuh makanan sekarang." suruh seorang gadis dari dalam tenda.
"Hah? Sendirian?" tanya naga bernama Snow itu.
"Iyalah. Aku malas keluar. Dingin." ujar gadis yang ternyata Eve itu saat keluar tenda.
"Oke-oke, baiklah.. aku akan pergi mencari makanan. Tunggulah disini.." kata Snow.
Kemudian Snow pun terbang menuruni gunung. Saat Eve masuk kembali ke tenda Snow kembali.
"Nona Eve!!!" teriak Snow memanggil Eve.
"Cepet amat! Mana makanannya?" tanya Eve yang tidak jadi masuk tenda.
"Itu-itu.. diatas.." jawab Snow sambil menunjuk ke atas.
"Diatas?" sahut Eve lalu melihat ke langit.
Terlihat ada seekor naga terbang tinggi diatas langit.
"Naga? Memang ada apa dengan naga itu?" tanya Eve yang hanya melihat siluet saja.
"Itu naga hijau yang waktu itu." jawab Snow.
"Naga hijau?" ucap Eve lalu berpikir berusaha mengingat sesuatu.
Eve pun mengingat kejadian saat dia dikalahkan oleh Rikka dan Elli.
"Gadis itu kah?! Snow! Ayo berangkat!" ucap Eve lalu melompat ke punggung Snow.
Eve dan Snow pun terbang ke atas mengejar siluet naga itu. Sementara itu Rikka terbang tenang hendak menyeberangi pegunungan.
"Sebentar lagi kita akan menyeberangi perbatasan negara." ujar Bonar.
Kemudian dari depan melesat seekor naga berwarna biru.
"Nona Rikka, ada naga yang datang ke arah kita." kata Bonar memperingatkan Rikka.
"Berapa banyak?" tanya Rikka.
"Hanya satu, tapi sepertinya tak asing." jawab Bonar.
"Tak asing? Apa kamu mengenalinya?" tanya Rikka lagi.
"Tidak, tapi kita pernah bertemu dengannya. Dia adalah yang menyerang dan hendak membunuh kita dulu." jawab Bonar.
"Oohh.. begitu ya?" ujar Rikka saat itu.
Kemudian Rikka mengambil permen dari dalam sakunya.
"Bonar makan ini!" suruh Rikka bersiap melempar permen itu.
Bonar berhenti lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Rikka pun melempar permen itu ke mulut Bonar.
"Popeye Power Candy!" ucap Rikka sambil Bonar berpose memamerkan otot lengannya.
"Mereka berhenti? Apa mereka sudah menyerah?" ujar Eve bertanya-tanya.
"Sepertinya tidak." sahut Snow.
Lalu Snow menambah kecepatan terbangnya. Kemudian menangkap lengan Bonar berusaha mendorongnya kebelakang tapi tidak bisa.
"Apa?!" ucap Snow saat tidak bisa mendorong Bonar sedikitpun.
Bonar menendang perut Snow dengan lutut, lalu membanting Snow ke tanah. Snow mengepakan sayap nya dengan kuat untuk menghindari benturan dengan tanah. Bonar hendak menghantam Snow dari atas, namun Snow menghindar dengan terbang rendah ke belakang Bonar. Kemudian Snow terbang lagi ke atas untuk menjauh dan memberi jarak.
"Apa-apaan itu barusan? Sejak kapan dia menjadi sekuat itu?" ujar Snow heran dengan kekuatan Bonar.
"Sepertinya kita takkan menang dengan pertarungan fisik. Coba ulur waktu sebentar, aku akan menggunakan kemampuanku. Dan itu butuh persiapan." kata Eve kemudian menggigit pisaunya.
"Oke, aku mengerti." sahut Snow.
Bonar melesat lagi menghampiri Snow. Snow terbang menghindar dari Bonar. Snow berusaha menjauh dari Bonar dan mengulur waktu.
"5 detik lagi.." ucap Snow dalam hati sambil menghindar dari serangan-serangan Bonar.
Setelah 5 detik berlalu.
"Silent Assassination!" ucap Eve tepat saat Bonar berada di depan Snow.
Waktu serasa diputar lambat, namun Eve dapat bergerak normal dan melompat menginjak leher Snow lalu bertumpu ke kepala Bonar lalu loncat kebelakang tempat duduk Rikka. Dan dengan pisau nya, Eve akan menebas leher Rikka. Namun tanpa disadarinya ada Duran yang melesat dengan cepat dari samping lalu menusuk Eve dengan pedang penembus perisai nya. Eve pun terlempar kebelakang sekaligus dengan hilangnya efek kemampuan Eve.
"Nona Eve!!" teriak Snow.
Snow langsung terbang dan menyusul Eve yang jatuh kebawah. Dan Eve pun mendarat dengan aman di punggung Snow.
"Bagaimana dia bisa terpengaruh oleh kemampuanku?" ucap Eve yang heran.
"Dia tidak punya kemampuan seperti itu, tapi aku rasa dia hanya sangat cepat." sahut Snow.
Terlihat Eve berdarah karena tergores ujung pedang Duran.
"Nona Eve anda berdarah." ujar Snow.
"Ah tak apa. Tenang saja. Ini hanya luka kecil." jawab Eve sambil berusaha tersenyum.
Tapi dibelakang mereka Duran datang dengan kecepatan tinggi bersama Moonlight. Snow yang menyadari itu langsung berusaha menambah kecepatan. Tapi ternyata di depan mereka sudah ada Elli dan Torn. Snow pun berhantaman dengan Torn. Snow terpental kebelakang, sementara Torn tidak bergeming.
"Sial, kita terkepung." kata Snow.
Duran yang datang dari belakang membuat Snow menjatuhkan diri kebawah, dan dengan bertumpu pada tangan dia berjungkir balik.
"Hampir saja. Nona Eve, apa anda tidak apa-apa disana?" tanya Snow pada Eve.
Eve hanya menganggukan kepalanya. Tapi dibelakang mereka Bonar datang hendak melesatkan semburan api.
"Fire ball!" ucap Bonar menembakan bola api.
"Frost breath!" ucap Snow menyemburkan angin dingin.
Benturan kedua serangan itu membuat uap air yang menimbulkan kabut.
"Kesempatan!" ucap Eve.
Snow melompat ke atas Bonar. Torn saat itu melesat ke samping Bonar.
"Bonar! Menghindarlah sekarang!" suruh Torn.
Bonar malah terkejut melihat Torn dan tak sempat menghindar.
"Frost Breath!" Snow kembali meniupkan angin dingin.
Angin itu tepat mengarah ke arah Rikka. Tapi Elli melompat ke arah Rikka dan mendorongnya hingga terjatuh. Akhirnya Elli yang terkena angin itu dan akhirnya membeku.
"Berhasil!" ucap Eve tak tahu apa yang sebenarnya terjadi lalu terbang tinggi dan kabur bersama Snow.
Saat kabut menghilang, Rikka mampu melihat jelas Elli membeku diatas punggung Bonar.
"Elli!!!!" teriak Rikka.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】