Memo, chapter 12 - Tempat Duduk
Arya terlihat kelelahan setelah berkeliling sekolah. Dia mencari ke kelas mana dia harus masuk. Tapi tak ada satupun kelas yang memajangkan namanya.
"Bercanda nih pasti, masa di kelas pertama." ujar Arya memeriksa ke arah kelas X-1.
Dia memeriksa satu-persatu nama yang tertulis disana. Dan tepat di absen ke 6, namanya terpampang dengan jelas.
"Haha.. pasti beneran bercanda nih." kata Arya sambil tersenyum aneh.
Dalam bayangannya, kelas itu isinya penuh dengan orang berpenampilan elegan. Ada yang membaca buku, mengetik di laptop, ada juga yang sedang mendebatkan masalah materi pelajaran.
"Sepertinya aku bakalan jadi satu-satunya yang paling aneh dikelas." ujar Arya sambil membuka pintu.
Arya pun berjalan menuju kedalam kelas. Dan dia menemukan hal yang kebalikan. Di dalam kelas tersebut malah banyak orang yang ngobrolin gosip, ada yang main HP, dan ada juga yang tidur sambil menaikan kakinya ke meja.
"Lah aku salah baca papan nama ya?" ucap Arya dalam hati heran.
Arya menongolkan kepalanya keluar ke arah papan nama kelas.
"Benar kok, X-1. Tapi kok gini?" pikir Arya.
"Hei bro! Disini!" panggil Fajar dari bagian paling belakang ruangan kelas.
Arya menoleh ke arah datangnya suara. Dia menemukan Fajar dan Digna disana. Dan tempat duduk disebelah Digna masih kosong. Dan itu tepat dipojokan bagian paling jauh dari meja guru.
"Mereka sekelas denganku ya? Benar-benar mengejutkan." ujar Arya dengan tatapan malas.
Arya menghampiri mereka berdua.
"Kamu telat sih bro. Kalau datang lebih awal pasti dapat yang paling depan sana." ujar Fajar.
"Hahaha.. malah bagus dibelakang. Kalau terlalu dekat dengan guru aku malah akan gugup." kata Arya dalam hati.
"Bukannya kamu datang lebih awal dariku? Kenapa jadi yang paling telat?" tanya Digna.
"Oohh.. sebenarnya itu tadi.. aku keliling dulu. Aku cek dari yang paling belakang. Nilaiku kan pas-pasan." jelas Arya.
"Kamu ini, orangnya emang kurang percaya diri ya?" sahut Fajar.
"Ya.. bisa dibilang itu kelebihanku.." balas Arya.
"Itu kan malah kekurangan, bukan kelebihan." kata Digna.
"Itu kelebihan kok. Kelebihan rasa kurang percaya diri nya." ujar Arya.
"Haha.. maksudmu berlebih ya." ucap Digna dengan ekspresi datar.
"Tapi kok seperti ini murid-muridnya? Kupikir karena kelas pertama isinya bakal orang jenius semua." kata Arya memperhatikan seluruh isi kelas.
"Kalau semua orang pintar berkumpul dalam satu kelas, entar kelas yang lain kasihan. Mau nyontek ke siapa kalau ada PR, tugas atau ulangan." jawab Digna.
"Bener tuh yang dibilang si ganteng kalem. Kalau orang sepertiku berkumpul dalam satu kelas, entar kelasnya jadi terlalu amazing." tambah Fajar.
"Ya, amazing ancurnya.." ujar Arya dan Digna dalam hati.
"Terus kamu mau duduk dimana?" tanya Digna pada Arya.
"Apa disebelahmu sudah ada yang menempati?" tanya balik Arya.
"Ada." jawab Digna.
"Siapa?" tanya Arya lagi.
"Tasku." jawab Digna menunjuk ke tas diatas kursi yang dimaksud Arya.
"Aku serius!" bentak Arya.
"Ya, aku juga serius kok. Itu tasku." sahut Digna dengan santai.
"Kalau begitu singkirkan tasmu, karena aku mau duduk disana!" suruh Arya.
"Tidak boleh." tolak Digna.
"Kenapa?" tanya Arya.
"Karena tasku ada disana." jawab Digna.
Arya langsung tepuk jidat karenanya.
"Lihat! Ada Jackie Chan!" ucap Arya menunjuk ke pintu depan.
"Mana?" sahut Digna melihat ke pintu depan tampak sangat tertarik.
Arya menggunakan kesempatan itu untuk mengambil tasnya Digna dan meletakannya diatas meja lalu ia duduk disana.
"Ah tidak ada kok. Mana?" tanya Digna jadi bingung.
"Mungkin aku salah lihat. Hahaha.." ujar Arya.
"Dia tertipu karena hal seperti itu!?" ucap Fajar dengan wajah shock.
Catatan hari ini:
Berpikir negatif itu membuang waktu dan tenaga. Jadi tetaplah berpikir positif, meski butuh kesabaran.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.