LINE Dragon Flight Story, chapter 21 - Putri Dan Ingatan Yang Hilang
Pertempuran di istana kerajaan Scarlet masih berlanjut, meskipun raja Redd telah tewas terkena panah D. Moonlight dan Torn sedang bertarung dengan sengit diatas langit. Sementara Elli terlihat berada di sebuah ruangan di dalam menara.
"Ka-kalian mau apakan aku? Ibu apa maksudnya ini?" tanya Elli yang terlihat ketakutan.
Lithiana dan Rikka mendekati Elli yang duduk dilantai dengan wajah yang tampak takut.
"Kenapa dia terus-terusan memanggilmu ibu?" tanya Rikka pada Lithiana.
"Itu karena aku yang pertama kali dilihatnya setelah ia pulih." jawab Lithiana.
"Apa maksudmu?" tanya Rikka tidak mengerti.
"Tak usah bingung, memang ini tak masuk akal. Tapi kemampuan Lithiana memang begitu. Mother's Embrace, kehangatan pelukan seorang ibu yang bisa membuat es abadi sekalipun mencair. Sebenarnya butuh gabungan kekuatan kami untuk melakukannya. Tapi saat ini dia sendiri pun sudah bisa." jelas Ruby dari jendela.
"Mother's Embrace?!" ucap Rikka terkejut.
"Ya, saat seseorang dipulihkan dari kebekuan total, Lithiana punya 2 pilihan. Memberi memori baru, atau mempertahankan memori lama. Tapi sepertinya Lithiana memberi memori baru pada temanmu itu sehingga dia tidak ingat apapun tentang dirimu." tambah Ruby.
"Apa ada cara mengembalikan memori lama nya?" tanya Rikka.
"Ada. Tapi itu sedikit berbahaya." jawab Ruby.
"Berbahaya kenapa?" tanya Rikka.
"Karena memori lama dan memori barunya akan saling berbenturan. Maka resikonya adalah, kalau temanmu itu tidak kuat, maka dia akan jadi gila." jawab Ruby dengan tatapan yang tampak serius.
Saat itu Moonlight dan Torn masih bertarung. Mereka jatuh ke hutan dibelakang istana.
"Kamu masih kuat seperti biasanya, Torn. Meskipun dengan sayap luka, kamu masih kuat terbang seperti tadi." ujar Moonlight.
"Kau juga sangat gesit, Moonlight. Kau bisa menghindar dari seranganku dan dengan cepat mengambil tuan putri dari punggungku dan menyerahkannya ke nona Rikka hanya dalam sekejap." balas Torn.
"Apakah kita masih harus lanjut?" tanya Moonlight.
"Terserah.." sahut Torn.
"Sepertinya kita harus berhenti saja. Lagipula tak ada alasan kita untuk bertarung. Kamu tak mendapat perintah untuk melawanku kan?" tambah Moonlight.
"Ya, kamu benar juga." balas Torn.
"Moonlight! Apa itu kamu yang jatuh disana?" panggil Duran dari balik dinding benteng istana.
"Ya, ini aku, nona! Bagaimana dengan disana?" sahut Moonlight.
"Beres! Semuanya oke!" balas Duran.
"Moonlight, apa kamu melihat nona Rikka?" tanya Bonar.
"Ya, dia ada bersama nona Elli saat ini. Kamu tenang saja, Bonar." jawab Moonlight.
"Apa kita perlu menemui mereka?" tanya Torn.
"Tidak, kita disini saja. Sayapmu sedang luka. Jangan memaksakan diri lagi. Bisa-bisa kamu takkan bisa terbang lagi nanti." jawab Moonlight.
"Tapi aku khawatir dengan tuan putri." ujar Torn.
"Aku mengerti perasaanmu. Tapi coba percayalah pada teman-temannya. Tak mungkin seorang teman melakukan hal buruk pada temannya sendiri kan?" kata Moonlight mencoba menenangkan Torn.
Duran dan yang lainnya berjalan mengitari istana. Saat berjalan, mereka melihat seekor naga putih besar diatap istana.
"Apaan tuh?!" ucap Duran kaget melihat naga besar itu.
"Apa kalian teman putri kecil?" tanya Ruby saat melihat Duran.
"Putri kecil?" tanya balik Duran yang tak mengerti apa maksudnya.
"Duran! Kemarilah! Ini aku Rikka!" teriak Rikka dari atas menara.
Duran terkejut melihat Rikka bisa ada berada disana.
"Nona Rikka?!" ucap Bonar saat melihat Rikka.
"Bonar!!! Kamu tidak apa-apa?" tanya Rikka dengan suara keras.
"Syukurlah anda tidak apa-apa, nona." ujar Bonar dengan terharu.
"Kenapa Rikka ada disana?! Kenapa juga ada naga sebesar itu didepan Rikka!?" pikir Duran dengan panik.
Dalam bayangan Duran, Rikka dibawa dengan paksa oleh Ruby lalu ditawan didalam menara dan dijaga oleh Ruby supaya tidak kabur.
"Aku akan menyelamatkanmu! Tunggu kami!" teriak Duran.
"Eh?! Apa maksudnya menyelamatkanku?!" ucap Rikka terkejut mendengarnya.
"Tunggu, disebelahnya itu.. bukannya dia yang menyerang kami.. Bonar juga.. jangan-jangan mereka disandera." kata Rikka dalam hatinya saat menyadari ada Eve dan Snow.
"Apa mereka musuhmu?" tanya Ruby.
"Y-ya.. yang disebelah nya itu.." jawab Rikka.
Namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ruby langsung saja terbang melesat ke arah Duran dan Eve.
"Bahaya!" ucap Snow melepaskan Bonar dan melompat ke depan Duran dan Eve.
Ruby menyemburkan uap dingin, begitu juga dengan Snow. Namun nampaknya serangan Ruby lebih kuat dan es merah pun tercipta lebih banyak dan lebih besar dari es milik Snow.
"Dragonslasher!" teriak D dari arah hutan.
Sebuah gelompang angin datang dan membelah segalanya yang terlewati dalam garis lurus. Es yang tercipta dari benturan serangan Ruby dan Snow pun terlihat hancur oleh serangan itu.
"Apa itu?!" ucap Snow terkejut.
Melihat hal tersebut Ruby mundur dan kembali mendekat ke menara.
"Bisakah kalian jangan menilai hanya dengan melihat saja? Apa yang kalian lihat belum tentu benar kan?" ujar D muncul setelah asap debu perlahan menghilang.
"Siapa dia?" tanya Eve pada Duran.
"Dia adalah laki-laki aneh yang selalu saja tiba-tiba muncul dan selalu tahu akan segala hal yang terjadi." jawab Duran.
"Jadi dia cenayang?" sahut Eve.
Saat asap debu menghilang total, nampaklah dengan jelas D berjalan menghampiri mereka sambil memanggul Rath dengan tombak milik Rath. Rath saat itu tampak tak sadarkan diri.
"Kenapa kamu masih disini? Disana mereka butuh kamu. Segeralah kesana." ujar D.
"A-apa maksudmu mereka membutuhkanku?" tanya Duran.
D kemudian menangkap kerah pakaian Duran, lalu D melemparnya ke arah jendela menara.
"Aaaaaaa!!!!" teriak Duran melesat dengan cepat ke arah menara.
Duran pun masuk dan menabrak dinding dengan kepala dibawah dan kaki terangkat keatas.
"Kuharap dia tidak apa-apa." ujar D.
"Tidak apa-apa apanya! Dia pasti kesakitan!" bentak Eve dan Snow dengan mata terbelalak karena kaget.
"Kurang ajar! Lain kali akan kubalas kau!" pekik Duran dari arah menara.
Duran kemudian menoleh ke arah Rikka. Duran terkejut seketika. Elli terlihat sedang dipeluk oleh Lithiana. Tubuh mereka tampak bercahaya. Cahaya merah yang perlahan berubah menjadi biru.
"Ada apa ini? Rikka, apa yang terjadi?" tanya Duran pada Rikka.
"Proses pembalikan. Membangkitkan memori lama yang hilang. Ia bilang ini beresiko, jadi.. aku butuh bantuanmu." jawab Rikka.
"Bantuan apa?" tanya Duran lagi.
"Penanggungan rasa sakit. Kita akan memikul rasa sakit dari benturan memori, supaya.. resiko Elli semakin kecil." jelas Rikka lalu menjulurkan tangannya ke arah Duran.
"Kalau begitu, aku dengan senang hati akan membantu." sahut Duran menerima uluran tangan Elli.
Mereka kemudian melangkah masuk kedalam lingkaran sihir yang tercipta oleh kekuatan Lithiana.
Waktu tampak berhenti di dunia luar. Hanya Duran, Rikka, Elli dan Lithiana saja yang bergerak dengan normal.
"Apa ini? Apa yang terjadi?" ucap Duran melihat kekiri dan kekanan.
"Aku juga tidak tahu." sahut Rikka.
Kemudian semuanya menjadi gelap. Mereka seakan pergi meninggalkan dunia dan pergi ke alam lain. Tak ada satupun cahaya kecuali cahaya yang berasal dari tubuh mereka berempat.
"Kya!" teriak Rikka terlihat kesakitan.
Duran pun tampak meringis menahan sakit yang hebat. Namun bukan sakit fisik, rasa sakit itu berasal dari hati. Semuanya jadi semakin suram. Rasa sakit yang diterima jadi semakin dalam.
"Apa-apaan dengan rasa sakit ini.." rintih Duran.
"Ini terlalu sakit.. orang normal pasti sudah gila setelah merasakan ini.." sahut Rikka.
Duran dan Rikka melihat ke arah Elli, dan Elli pun nampak kesakitan. Itu terlihat dari ekspresinya dan dekapan tangannya ke Lithiana yang semakin erat.
"Jadi ini rasa sakit setelah dibagi 3? Apalagi jika hanya dia sendirian yang merasakannya." pikir Rikka.
"Aku tak pernah berpikir ternyata ada rasa sakit seperti ini." gumam Duran.
Semua semakin gelap dimata Duran dan Rikka. Pandangan mereka akan Elli perlahan semakin memudar. Kegelapan semakin kelam dan semakin melekat menyelimuti mereka berdua.
"Apa lagi sekarang?" ucap Duran.
Dan dalam sekejap kegelapan menghilang bagaikan tirai yang disingkap keatas. Duran dan Rikka terllihat terkejut. Mereka sudah ada ditempat berbeda. Mereka ada di sebuah istana yang sangat megah. Istana yang jauh berbeda dari istana kerajaan Scarlet.
"Ada dimana kita?" tanya Rikka.
"Aku tidak tahu. Tapi dari hiasannya, sepertinya ini semacam istana." jawab Duran.
"Apa kita berteleportasi? Tak mungkin kita berpindah tempat kan?" ujar Rikka tampak berpikir.
Duran berjalan ke arah jendela besar dihadapannya. Kemudian dengan perlahan Duran membuka jendela besar itu dan nampaklah pemandangan kota yang indah dihadapannya. Duran berjalan ke beranda dengan wajah terlihat terkejut.
"I-ini tidak mungkin!?" ucap Duran sambil menutup mulutnya.
"Ada apa?" tanya Rikka.
"Ini kan.. kota ku.." sambung Duran tampak menangis.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.