Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | part 5
Sang senior ekskul basket bernama Yahya berdiri dari tempat duduknya. Tinggi badannya yang setinggi 193 cm membuatnya jadi perhatian saat berdiri. Tinggi badan yang sedikit tidak biasa untuk orang Indonesia, apalagi dia masih kelas 3 SMA.
"Nah, sekarang bagaimana kamu akan mengalahkanku?" tanya Yahya sambil berjalan ke tengah lapangan basket menghampiri Arya dan Shinta.
"Aku? Kamu sepertinya salah menggunakan kata, senior. Harusnya kamu mengatakan bahwa kami lah yang akan mengalahkanmu." jawab Arya.
"Kamu tidak keberatan kan melakukannya lagi dengan rintangan yang lebih sulit?" tanya Arya pada Shinta.
"Keberatan? Kenapa aku harus keberatan? Hidup itu adalah untuk menghadapi tantangan." jawab Shinta.
"Kalian kelihatannya yakin banget bisa mengalahkanku. Kalau begitu kita mulai saja. Yang perlu kalian lakukan adalah mencetak angka." ujar Yahya.
Arya tersenyum mendengar hal itu.
"Yahya, yang dikenal sebagai monster ekskul basket sekarang kembali ke lapangan. Ini sungguh hal yang tidak biasa." ujar ketua OSIS sambil berjalan mendekat ke lapangan basket.
"Dia membuat nya berdiri dari tempat duduknya. Benar yang dikatakan Luthfi." ucap pak Bams dari kejauhan.
"Ayo maju.." ucap Yahya.
"Baiklah.." sahut Arya.
Arya mengoper bola kepada Shinta. Shinta melesat ke arah pinggir lapang mengitari Yahya. Dan Arya memutar ke arah lain.
"Pintar juga. Menjauh dariku supaya aku tidak bisa menjangkaunya." komentar Yahya dalam hati sambil melirik ke arah Arya.
"Tapi masih belum cukup!" ucap Yahya yang bergerak sangat cepat dan sudah ada di hadapan Shinta dalam sekejap.
"Apa?!" ucap Shinta yang terkejut Yahya sudah ada dihadapannya.
Shinta buru-buru mengoper ke arah Arya yang tampak sudah siap menerima bola. Namun ternyata bola tersebut dapat di tepis oleh Yahya.
"Yang benar saja. Dia mampu menepis umpan cepat seperti itu?!" ucap Shinta dalam hati.
Pada akhirnya Arya harus mengulang dari tengah lapang lagi bersama Shinta.
"Ini tak semudah yang terpikirkan. Karena dia tinggi, maka daya jangkau tangan juga langkah kakinya pasti lebih jauh. Dia bisa mencapai dari satu sisi lapangan ke lapangan lain dengan cepat." pikir Arya sambil memantul-mantulkan bola ke tanah bersiap menyerang lagi.
"Ini jadi sulit karena walaupun mereka berdua, tapi tetap saja mereka melawan seorang senior yang lebih tahu tentang basket. Kemungkinan kemenangan mereka sangat kecil. Ditambah perbedaan fisik yang sangat signifikan. Kemungkinan mereka menang pasti hanya sekitar 5 persen." ujar Fajar yang menonton dari samping lapangan.
"Hah? Kamu kerasukan apa sampai bicara seperti itu?" tanya Digna yang berdiri disamping Fajar.
"Kerasukan?! Apa maksudmu?! Aku baik-baik saja kok." sahut Fajar menoleh ke araj Digna.
"Ya tumben aja kamu mengatakan hal seperti tadi." jawab Digna.
"Memangnya kau tahu apa tentangku? Kita kan baru saja kenal." balas Fajar.
"Hanya melihat tingkahmu saja pasti semua orang berpikiran sama denganku." jawab Digna sambil melirik ke arah Fajar.
Arya kali ini mencoba men-dribling bolanya sendirian menuju tepat ke arah Yahya.
"Mau satu lawan satu ya? Mari kita lihat sehebat apa kamu sebenarnya, ksatria." ujar Yahya.
"Dia memang tinggi, tapi semakin tinggi seseorang, semakin banyak ruang diantara tubuhnya." kata Arya dalam hatinya.
Arya melemparkan bola itu ke antara kaki Yahya. Bola itu memantul dan diterima oleh Shinta yang sudah berada dekat dengan ring.
"Begitu ya. Dia memanfaatkan celah ditubuhku dan membuatku lengah dengan berpikir kalau dia akan melakukan one-on-one denganku." kata Yahya dalam hatinya.
Shinta melompat hendak melakukan shoot, namun Yahya datang dan memblok shoot itu dari belakang dengan tangannya yang panjang. Bola pun kembali keluar lapangan.
"Memblok shoot seperti itu, apa dia benar-benar manusia?" ucap Fajar saat melihatnya.
"Sepertinya gerak refleknya bagus meskipun tubuhnya tinggi." ujar Digna.
"Tapi dia memblok dari belakang. Ingat bolanya juga bergerak cepat. Walaupun gerak reflekmu cepat, mustahil untuk mengejar bola yang sudah dilemparkan." jelas Fajar.
"Kalau gitu kita anggap saja dia punya tangan yang cepat dan reflek yang luar biasa." kata Digna.
Arya dan Shinta mencoba berkali-kali namun terus gagal. Yahya tak terkalahkan meski sendirian.
"Ini berbahaya. Kalau terus begini aku akan terlalu lama disini. Dan semua orang berkumpul menyaksikan kami. Dia akan menemukanku dengan segera kalau begini terus." ujar Arya yang sudah kelelahan.
"Kau punya strategi apalagi? Katakan padaku!" pinta Shinta yang terlihat masih bersemangat.
"Sebentar biar kupikirkan." ujar Arya mencoba berpikir meski dalam keadaan kelelahan.
"Ini sudah yang keberapa kalinya ya?" tanya seorang murid baru pada Digna.
"Aku tidak tahu. Aku tidak hitung." jawab Digna.
"17. Mereka sudah 17 kali mencoba dan 17 kali gagal." jawab Fajar.
"Mereka takkan menang. Yahya terlalu kuat untuk mereka. Terlalu cepat 1000 tahun bagi mereka berdua menghadapi Yahya." kata ketua OSIS kemudian berjalan meninggalkan lapangan basket.
"Sepertinya kita bisa melakukan itu." kata Arya sambil bersiap lagi.
"Itu? Itu apa? Aku tidak mengerti." tanya Shinta.
"Teknik menyilang." jawab Arya.
Arya dan Shinta bersiap hendak mencoba lagi. Yahya berdiri dengan santai.
"Aku menemukan celahnya yang lain. Mungkin orang lain akan menganggapnya sebagai kelebihan. Tapi.. bagiku itu adalah kelemahan terbesar yang ia miliki." ujar Arya dalam hatinya.
Arya mengoper ke Shinta. Kemudian mereka berlari saling melewati satu sama lain saling menyilang.
"Hal sederhana seperti itu takkan bisa menipuku. Apa kalian sudah kehabisan ide?" ucap Yahya dengan santai.
Yahya hendak menghalangi jalan Shinta, namun Shinta kembali mengoper ke Arya hanya beberapa detik setelah ia mendapatkan bola dari Arya.
"A-apa?!!" ucap Yahya terkejut.
Yahya dengan cepat berlari ke arah Arya. Saat itu Arya bersiap melakukan tembakan 3 angka. Yahya berusaha menggagalkan tembakan Arya. Arya tidak jadi melakukan tembakan dan membelakangi Yahya.
"Fake kah? Atau memang dia takut gagal untuk menembak?" kata Yahya dalam hatinya.
Arya bergerak ke kiri berusaha keluar dari penjagaan Yahya, Yahya pun melangkahkan kaki nya ke kiri mengikuti langkah Arya. Arya tersenyum dan melemparkan kaki melalui kedua kakinya dan kaki Yahya. Di belakang Yahya ada Shinta yang menerima umpan dari Arya.
"Mereka menjebakku." ucap Yahya dalam hati
Shinta melompat dan mencoba mencetak angka langsung dari kejauhan. Yahya berputar dan melompat hendak menggagalkan tembakan Shinta. Namun Shinta ternyata bukan mau menembak, tapi mengoper bola pada Arya yang tampak memberi isyarat meminta bola sambil lewat di sampingnya. Arya membawa bola ke sisi kanan ring dan bersiap menembak. Yahya berlari mengejar Arya namun tak sempat, Arya keburu menembak. Melihat bola yang dilemparkan, Yahya bukannya panik malah tampak lega.
"Itu tidak akan masuk, kurang tenaga. Tangan kurusnya tidak cukup untuk melempar sejauh itu." kata Yahya dalam hati.
Namun Arya malah tersenyum melihat Yahya berhenti dan merasa aman.
"Apa itu tadi?" ucap Yahya saat mendengar suara jaring ring yang seperti kemasukan bola.
Ternyata saat menoleh, ternyata benar saja bolanya sudah jatuh kebawah dan Shinta baru mendarat setelah habis melompat.
"Masuk!" ucap manager.
Para penonton bersorak, Arya merasa lega karena semuanya sudah selesai. Shinta melompat-lompat kegirangan.
"Ka-kau.." ucap Yahya menatap ke arah Arya.
"Sepertinya kamu sudah menyadarinya, senior." sahut Arya.
"Sifat arogansi itu sangat berbahaya bagi manusia. Karena sifat itu bisa membuatmu terbang tinggi dan menjatuhkanmu langsung dari ketinggian tersebut. Rasanya pasti sangat sakit. Seperti barusan, senior selalu mengabaikan tembakan yang takkan masuk. Padahal sekecil apapun kemungkinan bola itu akan masuk, setidaknya kita antisipasi kemungkinan kecil tersebut." sambung Arya menjelaskan pada Yahya sambil tersenyum.
"Begitu ya? Sepertinya aku sudah kalah sejak awal." sahut Yahya sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya.
Yahya pun menghampiri manager nya. Yahya terlihat membisikkan sesuatu pada manager nya. Manager nya terlihat kaget. Tapi manager nya kemudian tampak menyetujui apa yang dikatakannya setelah dibujuk.
"Oke, karena hari ini aku sangat senang. Aku akan memberi stempel pada semua orang secara gratis!" ucap Yahya dengan lantang.
Para murid baru pun langsung bersorak mendengarnya. Mereka semua menghampiri meja menager untuk meminta stempel dibuku mereka. Dari balik keramaian, Arya menghilang.
Digna dan Fajar terlihat senang mendapatkan stempel gratis. Mereka melihat stempel yang mereka kumpulkan.
"Lho kok punyamu baru 2?" tanya Fajar pada Digna saat mengintip melihat buku Digna.
"Aku tidak terlalu tertarik dengan ekskul yang lain." jawab Digna.
"Hmm.. begitu ya." sahut Fajar.
"Hei, dimana buku dia?" tanya Digna.
"Dia? Dia siapa?" tanya balik Fajar.
"Itu lho, si Arya. Masa lupa?" jawab Digna.
"Ooohhh.." sahut Fajar.
Setelah beberapa langkah, Fajar langsung berhenti.
"Oh iya, bukunya?!!!" ucap Fajar baru mengingatnya.
"Baru ingat dia." komentar Digna dalam hati.
"Bukunya.. bukunya itu yang kayak gimana aku lupa!" sambung Fajar.
"Eh? Jadi itu yang kau lupakan?" ucap Digna.
"Apa kau ingat bukunya seperti apa?" tanya Fajar pada Digna.
"Hmm.. kalau itu sih.. sepertinya biru.." jawab Digna.
"Biru ya. Ayo kita cari sekarang." ucap Fajar menuju ke arah kantin.
"Hei salah, harusnya kita cari disana kan?" ujar Digna sambil menunjuk ke kerumunan murid baru yang meminta stempel ke ekskul basket.
"Aku kesini juga mau mencari." jawab Fajar.
"Mencari apa?" tanya Digna.
"Nyari makanan lah. Lapar nih. Seharian aku muter-muter. Emangnya kamu, diam aja disana nungguin anak ekskul taekwondo datang." jawab Fajar.
Wajah Digna sedikit memerah karena malu.
"Ayo sini! Mau ikut tidak?" ajak Fajar.
"Terus bukunya gimana?" tanya Digna lagi.
"Paling juga ditahan oleh senior disana kalau tidak ada yang ngakuin." jawab Fajar.
"Hmm.. benar juga. Baiklah aku ikut!" sahut Digna.
Di dalam kerumunan orang yang minta stempel, Shinta melihat ada buku terjatuh di samping meja manager. Sebuah buku berwarna biru muda.
"Buku siapa nih?" ucap Shinta sambil mengambil buku itu.
Shinta keluar dari kerumunan dan membuka-buka buku itu.
"Arya Sastrawardhana. Nama nya.. seperti namaku.." pikir Shinta dengan wajah memerah.
Shinta terus membuka-buka buku itu dari satu halaman ke halaman lain. Tak lama setelah Shinta pergi, Alice datang bersama Ani.
"Bagaimana ini? Bukunya tidak ada." ujar Alice tampak sedih.
"Nona tak usah sedih. Kita pasti menemukannya. Mereka bilang buku dititipkan pada laki-laki bermata sipit bernama Fajar." kata Ani mencoba menenangkan Alice.
"Hmm.. iya sih. Tapi dimana kita harus mencari dia?" tanya Alice.
"Tunggu nona muda, kenapa disana rame banget?" ucap Ani menyadari lapangan basket jadi ramai.
"Eh.. iya juga. Rame banget.." sahut Alice.
"Bentar aku tanyain dulu.." ujar Ani.
Ani bertanya pada salah satu murid baru di kerumunan. Tak lama kemudian Ani kembali menghampiri Alice.
"Katanya ekskul basket memberi stempel gratis setelah ketuanya dikalahkan oleh seorang anak laki-laki memakai baju ksatria." jelas Ani pada Alice.
"Baju ksatria? Jangan-jangan dia?!" ucap Alice.
"Ya, menurutku juga begitu, nona muda." sahut Ani.
"Jadi dia pergi kesana kemari membantu orang-orang mendapatkan stempel sambil mencari bukunya. Dia orang yang baik." ujar Alice sambil tersenyum.
"Tapi kita tidak punya petunjuk menemukan laki-laki bernama Fajar itu." kata Ani sambil berpikir.
"Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada senior yang memberi stempel? Pasti dia membaca nama dulu sebelum memberi stempel kan? Bisa sekalian dapat stempel juga entar." usul Alice.
"Benar juga, nona muda memang pintar." ujar Ani setuju.
Alice jadi malu-malu dipuji oleh Ani. Sementara di kantin.
"Cape bener dah. Ngejar-ngejar si Agus itu bikin kesel aja." gerutu Rere yang berjalan menuju penjaga kantin.
"Es buahnya nya satu!" ucap Rere bersamaan dengan seorang laki-laki disebelahnya.
Mendengar ucapan yang sama membuat Rere menoleh ke arah laki-laki itu. Dan ternyata itu adalah Arya.
"Dia???!!!!" ucap Arya dan Rere dalam hati bersamaan dengan wajah kaget.
Arya langsung melarikan diri.
"Hei jangan lari kau!" ujar Rere yang kemudian mengejarnya.
"Siapa itu yang dikejar-kejar?" ucap Fajar yang baru sampai ke kantin bersama Digna.
"Tidak tahu." sahut Digna.
"Ini es nya." ujar bibi penjaga kantin menyodorkan dua es buah pada Fajar dan Digna.
"Apa ini? Datang-datang langsung diberi es buah? Bibi bisa meramal kah?" kata Fajar.
Arya lari menyusuri koridor sekolah dan jauh dibelakangnya Rere berlari dengan kecepatan tinggi berusaha mengejarnya. Arya berbelok ke arah kiri dan menyusuri koridor kelas 3, dan tiba-tiba ria ditarik masuk ke dalam kelas. Pintunya pun langsung ditutup saat Arya sudah ke dalam. Terlihat dari jendela Rere lewat begitu saja tanpa tahu Arya ada di dalam kelas.
"Kamu tidak apa-apa, ksatriaku?" ucap seorang gadis dari belakang Arya.
Arya yang terduduk di lantai mendongah ke atas melihat sosok perempuan berkacamata dan berambut panjang.
Bersambung ke part 6..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.