Memo, chapter 16 - Senior Junior 2

Arya dengan tampak lesu masuk ke ruang ekskul sastra. Dia merasa ngantuk sekali dan tak bisa menahannya lagi. Dan sesampainya di tempat duduk dia langsung duduk lesu.
"Selamat siang juniorku.." sapa Sindy.
"Selamat siang.." sahut Arya dengan malas.
"Kamu kenapa malas gitu? Yang semangat dong." ujar Sindy.
"Haha.. aku juga mau sih semangat, tapi aku ngantuk baget." jawab Arya dengan lesu.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak tiduran disana?" tawar Sindy menunjuk ke arah kasur di dekat rak buku.
Kasur gulung atau kalau yang jepang disebut futon itu tampak sudah terpajang dan siap dipakai.
"Eh, sejak kapan ada kasur disana? Kemarin tidak ada!" tanya Arya kaget.
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba ada disana." jawab Sindy.
"Hah? Senior pikir itu kasur ajaib yang muncul tiba-tiba pada saat dibutuhkan?" kata Arya tidak percaya.
"Bercanda kok bercanda.. sebenarnya aku yang menyiapkannya untukmu.." jelas Sindy.
"Senior menyiapkannya untukku? Untuk apa?" tanya Arya sambil tersenyum aneh.
"Kan kamu katanya ngantuk, jadi aku siapkan untuk tempatmu tidur." jawab Sindy.
"Darimana juga senior tahu kalau aku ngantuk?" tanya Arya heran.
"Kan dari kamu tadi." jawab Sindy.
"Tapi kan sudah daritadi senior sepertinya menyiapkan kasurnya!" ujar Arya.
"Makanya jangan remehkan intuisi seorang perempuan." kata Sindy sambil tersenyum.
"Jadi cepatlah tidur disana kalau ngantuk!" suruh Sindy dengan suara lembut.
"Perasaanku tidak enak nih." ucap Arya dalam hatinya.
Arya pun tiduran di kasur itu dan memejamkan matanya sambil berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh dari dalam otaknya.
"Tunggu sebentar, rasanya ada yang bernapas ke leherku." ujar Arya dalam hatinya dengan mata masih terpejam.
Arya pun membuka matanya dan menemukan Sindy sedang tidur di sebelahnya dan saling berhadapan dengannya. Arya pun terperanjat dan langsung bangun duduk sambil mundur ke dinding.
"Se-se-senior! Sedang apa kamu tidur disana!?" tanya Arya dengan wajah masih shock.
"Kok kamu bangun lagi? Katanya ngantuk?" tanya Sindy.
"Ta-ta-tapi kan, aku mana bisa tidur disebelah senior!" jawab Arya.
"Kok tidak bisa? Memangnya tidur disebelahku kurang nyaman bagimu?" tanya Sindy sambil bangun duduk lagi.
"Bukan begitu masalahnya!" sahut Arya dengan wajah memerah.
"Sindy! Ada yang ingin aku.." ucap Rere masuk ke dalam ruangan.
Rere kaget melihat Sindy diatas tempat tidur dan Arya di depan Sindy.
"Apa yang kau lakukan, bocah!" bentak Rere sambil berlari ke arah Arya.
Rere berusaha menendang wajah Arya. Namun Arya berguling ke samping menghindarinya. Arya pun lari keluar dari ruangan itu.
"Hei! Jangan kabur!" teriak Rere sambil mengejar Arya.
"Sial kenapa jadi begini? Tapi sekarang aku jadi seger sih, tidak ngantuk lagi!" ujar Arya dalam hati dengan panik ia berlari sekuat tenaga.
"Kurang ajar tuh bocah! Untung saja aku punya firasat dan ingin bertemu Sindy." pikir Rere sambil mengejar Arya.

Catatan hari ini:
Perempuan adalah makhluk dengan perasaan dominan dibanding pemikiran. Intuisi mereka lah yang menuntun mereka. Jadi tugas laki-laki adalah menjaga mereka dari prasangka negatif dengan logikanya.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】