VocaWorld, chapter 44 - Malam Tak Berangin
Dante dan anggota klub visual kei mulai menaiki panggung. Mereka mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Perkenalkan, kami adalah Magatama." ucap ketua botak lewat microphone.
"Drummer, Goliath." sambung ketua botak.
"Bassist, Kiyoshi." ujar Kiyoshi.
"Gitarist, Hydra." ucap Hydra.
"Keyboardist, Range." tambah Range.
"Gitar dan Vocal, Lucifer." ucap Dante sambil tersenyum jahat.
Mereka semua berpose dengan gaya mereka masing-masing.
"Lu-Lucifer?!" ucap Gumi terlihat terkejut saat mendengarnya.
"Ini bahaya, dia malah menggunakan nama nya yg dulu." ujar Ray yg juga mendengar ucapan Dante.
Ray melihat ke arah Gumi, dan terlihat Gumi berubah jadi kesal dan marah. Itu terlihat dari ekspresinya. Gumi pun memakai earophoid nya dan kemudian melompat sambil berubah. Saat melompat tiba-tiba suasan sekitar jadi hitam putih. Dan muncul Ray yg melompat menghalanginya. Ray mencengkeram baju Gumi lalu menariknya berputar dan kemudian melemparnya. Tubuh Gumi terlempar menjauh dari tempat konser. Lemparan itu sangat kuat sehingga Gumi terlempar cukup jauh. Dan suasana di sekitarnya kembali berwarna.
"Te-ternyata dia memang benar bekerja sama dengan pangeran kegelapan. Kurang ajar.." ucap Gumi saat terlempar menjauh dari tempat konser.
Gumi pun menyeimbangkan tubuhnya dan mendarat di salah satu gedung, namun Ray tiba-tiba muncul di depannya kemudian mendorong tubuh Gumi lagi.
"Sejak kapan di-dia disini?!" ucap Gumi terlihat terkejut melihat Ray yg sudah ada didepannya.
Gumi pun kembali terpental kebelakang menuju sebuah lahan kosong dan berguling-guling ditanah.
"Apa ini? Kenapa aku sama sekali tak berkutik melawannya? Siapa dia sebenarnya?" ujar Gumi dalam hati bertanya-tanya.
Gumi mencoba untuk bangkit lagi kemudian ia melihat Ray sedang berjalan dengan santainya ke arahnya.
"Nampaknya kamu mengenali Dante, gadis kelinci." ujar Ray sambil menatap Gumi dengan tatapan yg menyeramkan.
"Ya, tentu saja. Dan akhirnya aku juga bisa melihatmu menunjukkan jati dirimu yg sebenarnya. Pasti kau adalah pelayan pangeran iblis yg menyelamatkannya dari serangan terakhir yg seharusnya membunuhnya." balas Gumi yg telah berdiri tegak lagi.
"Pelayan? Nampaknya kamu salah sangka tentang diriku." sahut Ray yg berhenti melangkah.
"Jangan banyak alasan, satu-satunya alasan kamu menyembunyikannya adalah karena kamu adalah pengikut pangeran kegelapan!" bentak Gumi.
"Aku sama sekali tidak menyembunyikannya." jawab Ray.
"Cih, diam kau!" teriak Gumi sambil memakai goggle nya.
Seluruh tubuh Gumi diselimuti cahaya jingga. Kemudian Gumi menghilang dari hadapan Ray dan muncul dibelakangnya.
"Kalau soal kecepatan, aku tidak akan kalah!!!" teriak Gumi yg sedang dalam posisi hendak menendang kepala Ray.
"Benarkah begitu?" ucap Ray yg melirik ke arah Gumi.
Entah kenapa Ray sudah tidak ada dihadapan Gumi dan malah Gumi yg terlempar ke belakang. Saat terlempar Gumi melihat Ray lah yg menarik bajunya dan melempar dirinya itu.
"A-apa? Padahal aku yakin dia di depanku. Kenapa tiba-tiba dia bisa di belakangku?" ucap Gumi dalam hati saat melihatnya.
Gumi kembali terguling-guling ditanah, namun dia masih bisa menahannya dan sekarang dia dalam posisi berjongkok.
"Di-dia nampaknya juga pengguna kecepatan sepertiku." ujar Gumi dalam hatinya.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin membuatku diam?" ujar Ray mengejek Gumi.
"Dance: Happy Rabbit!" teriak Gumi yg lalu menghilang dan muncul di hadapan Ray.
Gumi pun hendak memukul perut Ray, namun Ray menghindar ke samping.
"Dia bisa menghindari serangan secepat itu?!" ucap Gumi dalam hati terkejut.
Namun Gumi masih belum mau menyerah. Dan sambil sedikit memiringkan tubuhnya, dia menendang kepala Ray. Ray memiringkan tubuhnya ke belakang untuk menghindarinya.
"Tidak mungkin! Untuk menghindarinya dia harus punya kecepatan setingkat atau lebih diatasku." ujar Gumi dalam hati tak percaya dengan apa yg dilihatnya.
Gumi pun terus melancarkan serangan bertubi-tubi namun sama sekali tak mengenai Ray sedikitpun. Serang-serangan cepat itu hanya seperti mainan untuk Ray. Dan malahan Ray lah yg berhasil melempar Gumi beberapa kali.
"Sial.. kenapa seranganku tak bisa mengenainya sedikitpun?" ujar Gumi terlihat kelelahan.
"Sebaiknya kamu menyerah saja." ucap Ray menatap tajam dari kejauhan.
Tiba-tiba ada yg menyentuh pundaknya dari belakang. Gumi terkejut dan menoleh, namun ia semakin terkejut saat melihat yg menyentuhnya ternyata adalah Ray.
"A-apa?! Sejak kapan?!!" ucap Gumi yg melirik ke arah tempat Ray berada sebelumnya namun tak ada siapa-siapa disana.
Gumi hendak menyerang Ray lagi, namun Ray memukul leher bagian belakang Gumi. Gumi pun terjatuh tak sadarkan diri.
"Ti-tidak.." ucap Gumi saat-saat terakhir sebelum jatuh.
Sementara itu di tempat konser, terlihat konser Dante sudah selesai.
"Wah.. lagunya bagus banget. Suaranya juga bagus. Dia dari akademi Voca juga kan?" ujar Meiko saat itu.
"Ya, kalau tidak salah dia adalah orang yg selalu bersama orang menyebalkan itu." sahut Miku.
"Orang menyebalkan? Siapa maksudnya?" tanya Meiko.
"Itu lho, yg namanya Shiro Ray itu. Orangnya menyebalkan banget. Sering banget ngejekin kalau dikelas. Saat hendak kupukul, dia selalu menghindar." jelas Miku.
"Ooohh.. tapi ngomong-ngomong Gumi-chan kemana? Aku tidak melihatnya lagi sejak tadi." tanya Meiko sambil menoleh kiri-kanan mencari Gumi.
"Tak tahu dah, tiba-tiba saja dia menghilang kayak setan." jawab Miku.
"Mungkin dia ke toilet." sahut Kaito.
"Ya bisa jadi. Kalau begitu aku akan mencarinya dulu." ujar Meiko yg lalu pergi meninggalkan Miku dan Kaito.
"Ka-Kaito-senpai.." panggil Miku dengan malu-malu.
Kaito pun menoleh ke arah Miku.
"Yeah.. akhirnya aku berdua saja dengan Kaito-senpai. Tapi apa ya yg harus aku katakan? Hmm.. aku bingung." ujar Miku dalam hatinya.
"Ada apa Hatsune?" tanya Kaito terlihat heran Miku memanggilnya namun malah diam.
"Ti-tidak, tak ada apa-apa." jawab Miku yg terlihat gugup.
"Kenapa aku malah menjawab gitu?!! Itu tadi kesempatanku untuk ngobrol dengan Kaito-senpai. Aaaahhh.." teriak Miku dalam hatinya.
"A-anu.. sebenarnya apa hubungan Kaito-senpai dengan Meiko-san?" tanya Miku.
"Hubunganku dengan Meiko? Hmm.. tak ada yg spesial kok. Hanya teman saja. Memangnya kenapa?" jawab Kaito yg lalu bertanya balik.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja." jawab Miku.
"Oh ya, Hatsune itu adiknya Meiko ya?" tanya Kaito.
"Sebenarnya sih bukan, aku sama sekali tak punya hubungan darah dengan Meiko-san." jawab Miku terlihat murung.
"Maaf aku menanyakan hal itu, aku tak bermaksud membuatmu sedih. Hanya saja aku penasaran tentang dirimu." ujar Kaito berusaha menenangkan Miku.
Miku pun terkejut mendengar kalau Kaito ingin tahu tentang dirinya. Wajah Miku mulai memerah lagi.
"Be-begitu ya.." ucap Miku sambil menundukkan kepalanya karena malu.
Tiba-tiba Kaito dicubit dari belakang.
"Adawww.." ucap Kaito kesakitan.
"Dasar playboy, baru ditinggal sebentar udah godain gadis lain." gerutu Meiko.
"Aduaduaduh.. lepasin Meiko, sakit tahu.." pinta Kaito.
"Aku takkan memaafkanmu karena gombalin Miku-chan. Dia itu masih polos tahu!" ujar Meiko yg semakin keras mencubit Kaito.
"Tidak, kamu salah paham Meiko. Aku sama sekali tak ngegombalin Hatsune." balas Kaito yg semakin kesakitan.
"Beneran?" tanya Meiko.
"Beneran dah." jawab Kaito.
"Baiklah kalau begitu." balas Meiko sambil melepaskan cubitannya.
"Aduh.. itu tadi sakit banget." gerutu Kaito.
"Itu salahmu sendiri. Siapa suruh jadi playboy." balas Meiko sambil memalingkan muka.
"Oh ya, apa kau sudah menemukan Gumi, Meiko?" tanya Kaito.
"Tidak, Gumi-chan tidak ada dimanapun. Padahal aku sudah mencarinya kemana-mana. Ditoiletpun tidak ada." jawab Meiko terlihat khawatir.
"Tidak ada? Beneran Meiko-san?" tanya Miku.
"Iya." jawab Meiko.
"Hmm.. apa mungkin dia diculik oleh dark sider?" ujar Kaito.
"Tidak mungkin, kalau ada dark sider harusnya kita bisa menyadarinya." sahut Meiko.
"Dalam keadaan seramai ini, sudah pasti kita takkan menyadarinya." balas Kaito.
"Pokoknya, sekarang kita harus berpencar mencari Gumi-chan, Meiko-san, Kaito-senpai." ujar Miku.
Meiko dan Kaito pun mengangguk dan mereka pun berpisah untuk mencari Gumi.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.