VocaWorld, chapter 37 - Motivasi Negatif
Ray berlari dikejar Kamui yg terlihat sangat marah karena Ray yg menabrak Luka saat lari. Ray berlari masuk ke gedung sekolah lalu menaiki tangga dan terus ke atas. Tidak berapa lama mereka pun sampai diatap. Ray berlari melewati seorang murid laki-laki yg terlihat aneh. Tatapan matanya kosong dan ia terlihat tanpa ekspresi. Dan ia pun tampak tak menghiraukan Ray. Dan Kamui pun sampai diatap.
"Gakupo Kamui, orang yg menjadi salah satu lulusan terbaik akademi Voca. Aku benci orang sepertimu. Akan kubunuh kau!" ucap murid itu dengan menatap Kamui dengan tatapan yg menyeramkan.
"Hah? Ada apa ini?" ucap Kamui merasa bingung.
"Yg ini bisa berbicara? Nampaknya yg satu ini diberi kecerdasan untuk mengendalikan secara psikis. Tidak, mungkin lebih bisa dibilang mendorong sifat negatif dan memberi kekuasaan pada inang untuk mengeluarkan sifat negatif itu." pikir Ray.
Murid yg dikendalikan minor itu pun mulai menyerang Kamui, namun Kamui berhasil menghindarinya.
"Gakupo-san, aku sarankan kamu untuk segera berubah. Kamu takkan bisa mengalahkannya hanya dengan kekuatanmu yg sekarang." ujar Ray.
"Hah? Kau bilang apa? Seenaknya saja memerintahku. Lagipula kenapa dia tak menyerangmu?" tanya Kamui.
"Karena kamu lebih terkenal dibandingkan aku. Jadi hawa keberadaanmu lebih besar dibandingkan aku. Makanya dia tak menghiraukanku." jawab Ray.
"Sialan! Mana mungkin aku percaya. Hawa keberadaan? Apa juga itu? Pasti kau yg mengendalikannya." sahut Kamui.
"Kalau aku memang mengendalikannya, pasti hanya kamu yg di serang kan, tuan samurai." balas Ray yg melangkah ke arah pintu.
"Bukankah itu jadi jelas kalau kau yg mengendalikannya." tambah Kamui yg kemudian mencengkeram kerah baju Ray.
Murid tadi pun kembali menyerang, dia melompat dan memukul ke bawah ke arah mereka. Kamui pun melepaskan kerah baju Ray dan melompat kebelakang untuk menghindar, sedangkan Ray hanya melangkah kebelakang dengan santai. Dan tak satupun dari mereka yg terkena serangan itu. Lantai itu terlihat retak terkena pukulan murid tersebut.
"Kelihatannya aku benar-benar harus serius." ujar Kamui sambil memakai earophoid nya saat melihat dampak serangan murid itu.
"Gakupo-san, selamat berjuang.." ucap Ray yg ternyata sudah ada di pintu dan bersiap turun.
"Hei jangan kabur!" larang Kamui namun Ray sudah terlanjur turun meninggalkannya di atap.
"Dia benar-benar orang yg menyebalkan. Dia memanfaatkan asap debu barusan untuk kabur. Aku jadi semakin membenci orang itu." gerutu Kamui.
Kemudian ia pun berubah, namun karena tak membawa katana nya dia hanya bisa menggunakan teknik karate nya.
"Mati!" ucap murid itu sambil berlari ke arah Kamui dengan sekuat tenaga.
Gerakannya cepat namun Kamui masih bisa menahan serangannya. Tapi karena saking kuatnya Kamui terseret ke belakang dan ia pun menjebol pagar kawat. Beberapa saat sebelum pagar kawat jebol, tiba-tiba suasana di sekitar menjadi hitam putih.
"Ini, bukankah ini yg digunakan Ray-kun saat itu?" ucap Luka saat menyadari hal itu.
Memang diantara suasana yg semuanya jadi hitam putih, hanya Kamui, Luka, Miku, Gumi, Meiko, Kaito dan murid yg terasuki minor itu saja yg masih berwarna. Kamui dan murid tersebut jatuh di tengah lapangan itu. Tapi para siswa, guru dan semuanya yg berwarna hitam putih tak ada yg menyadarinya.
"Me-mereka tak melihatnya? Padahal tadi itu suaranya keras sekali." ucap Kamui yg baru menyadari hal itu.
Di kelas 1-C, Dante juga menyadari hal itu.
"Ini?! Melody of silent?!!" ucap Dante terkejut.
Kemudian ia buru-buru lari keluar kelas walau masih belajar. Dia menuju ke arah kelas 1-B. Dan dia menemukan Ray yg dalam keadaan berubah bersandar di dinding tampak lemas dan berkeringat sambil memegang dada kirinya.
"Aniki, apa yg Aniki lakukan? Kenapa menggunakan melody of silent secara tiba-tiba untuk area seluas ini?!" tanya Dante terkejut melihat keadaan Ray.
"Aku tak punya pilihan lain, Dante. Aku harus menyembunyikannya." jawab Ray.
Di lapangan terjadi pertarungan sengit antara Kamui dengan murid yg dirasuki.
"Sial, dia juga menggunakan earophoid ya? Seandainya aku membawa Enka, aku pasti bisa mengalahkannya." ujar Kamui terlihat ngos-ngosan.
"Luka-oneesama, ada apa ini?" tanya Gumi.
"Nampaknya salah satu murid akademi Voca ada yg dirasuki minor." jawab Luka.
"Kenapa Gakupo-san terlihat kewalahan melawannya? Bukannya dia hebat?" tanya Miku.
"Aku juga tak tahu. Nampaknya itu karena dia menggunakan earophoid." jawab Luka lagi.
"Aku tak tahu apa yg terjadi, tapi yg pasti Ray-kun sengaja menabrakku untuk membimbingnya supaya bertemu murid yg dirasuki dan melawannya. Dan Ray-kun menggunakan sesuatu yg membuat semuanya jadi hitam putih ini untuk menyembunyikan pertarungan kami untuk mencegah kepanikan. Bagaimana caranya dia memikirkan cara ini?" gumam Luka dalam hatinya.
Kamui terlihat menggunakan teknik-teknik karate nya, namun murid itu selalu bisa menghindarinya. Dan sebaliknya murid itu berhasil mendaratkan sebuah pukulan di wajah Kamui. Kamui pun terlempar beberapa meter. Dari arah gedung sekolah, melalui jendela Dante melihat pertarungan itu.
"Aniki, biarkan aku membantunya." pinta Dante.
"Tidak, jangan lakukan. Aku tak mereka tahu siapa kamu sebenarnya." larang Ray sambil terlihat menahan sakit di dadanya.
"Tapi, jika terlalu lama Aniki bisa.." ucap Dante terlihat khawatir.
"Tenang saja, aku masih sanggup menahannya beberapa menit lagi." potong Ray sambil memberikan senyuman.
"Aniki.." ucap Dante.
"Sial, aku tak membawa earophoid ku. Aku tak bisa membantunya." gerutu Miku tampak kesal.
"Lagipula pelajaran olahraga kan tidak boleh membawa itu." sahut Gumi.
"Bagaimana kalau kalian ambil saja earophoid kalian dikelas?" ujar Luka memberikan saran.
"Tapi bagaimana caranya, Luka-oneesama? Kalau ketahuan guru olahraga kita bisa dimarahi." tanya Gumi.
"Tak perlu takut, lihat saja pertarungan Kamui saja mereka tak sadar. Apalagi kalau cuma kalian." jawab Luka.
"Ternyata kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya sampah di depan matanya." ucap Miku dan Gumi sambil bersujud penuh kesuraman.
"Ayolah, maksud Megurine-san bukan begitu." ujar Meiko yg mendekati mereka.
"Ini keadaan darurat, Gakupo tampak tak bisa mengatasinya sendiri. Hatsune, aku akan mengandalkanmu karena kamu pernah menghadapi yg dirasuki minor sebelumnya kan?" ujar Kaito.
"Wah.. Kaito-senpai benar-benar keren.." ucap Miku dalam hatinya dengan mata berbinar-binar melihat Kaito.
"Baiklah, kalau begitu kami akan ke kelas untuk mengambil earophoid kami." ujar Miku.
Kemudian Miku dan Gumi pun bergegas berlari ke kelas mereka.
"Ayo, kita pergi, Dante. Bisa gawat kalau mereka tahu aku bisa menggunakan earophoid." ajak Ray.
"Kemana?" tanya Dante.
"Ke atas." jawab Ray.
Miku dan Gumi sampai di kelas, dan Ray juga Dante sudah tak ada di sana. Miku dan Gumi pun mulai mengambil earophoidnya.
Kamui mati-matian melawan murid yg dirasuki minor itu hanya dengan tangan kosong. Dia bekali-kali terkena pukulan dan tendangan lalu tersungkur ditanah. Namun Kamui selalu bisa berdiri lagi.
"Kenapa? Kenapa dia hebat sekali? Padahal aku sudah mengeluarkan kemampuan karate milikku." ujar Kamui dalam hatinya.
"Dance: Rolling Girl", "Dance: Happy Rabbit" ucap Miku dan Gumi bersamaan.
Mereka pun menyerang murid itu bersamaan. Miku menyerang kakinya dengan tendangan lalu sambil berputar dan bertumpu pada tangannya Miku menendang murid itu ke angkasa. Dari atas Gumi sudah bersiap-siap menendang murid itu kembali ke tanah. Miku menyingkir supaya tak tertimpa. Dan murid itu pun jatuh dengan keras ketanah. Tanah itu sampai retak dan mengeluarkan suara dentuman.
"Whoa.. Gumi-chan terlalu berlebihan. Dia bisa mati." ucap Miku terlihat panik.
"Tidak apa, dia memakai system earophoid nya. Dia tak mungkin mati hanua karena itu." jawab Gumi.
"Tapi bukannya earophoid memakai system power lock supaya kekuatannya selalu pada batas 0%?" sahut Meiko.
Mendengar hal itu semuanya pun bengong beberapa saat.
"Tidaak!!! Dia benar-benar akan mati!" teriak Miku semakin panik.
"Whoaa.. tidak mungkin.. aku akan dipenjara.." sahut Gumi yg sama-sama panik.
"Gaku-gaku.." panggil Gumi pada Kamui.
"Eh, siapa ya? Saya tidak kenal." sahut Kamui pura-pura tidak kenal sambil berjalan meninggalkan Gumi.
"Gaku...!!! Mau mati ya?" teriak Gumi yg kesal saat melihat tingkah Kamui.
"Kalian tenang sebentar, dia masih bernapas." ujar Kaito yg memeriksa napas dan denyut jantung murid yg dirasuki itu.
"Kalau begitu semuanya jadi jelas. Dia tidak mendapatkan kekuatan dari earophoid, melainkan dari minor." jelas Luka.
"Lihat diatas sana, nampaknya minor itu berhasil di keluarkan tapi berusaha kabur." ujar Meiko sambil menunjuk ke arah minor yg sedang melompat pergi.
Namun Kamui menghadang, dan dengan satu pukulan minor itu pun lenyap.
"Ayo kita bawa ke UKS. Bisa gawat kalau ada yg melihatnya berbaring disini." ujar Kaito.
Semuanya pun mengangguk tanda setuju.
"Kenapa kalian seperti menyuruhku yg mengantarnya ke UKS." tolak Kaito.
"Ya, tubuh saya sangat kelelahan dari tadi dipukulin." ujar Kamui.
"Lagipula diantara kami, yg laki tinggal kamu aja, Kaito." sahut Meiko.
Kaito akhirnya terpaksa membawa murid itu ke UKS sendirian. Suasana sekitar pun kembali berwarna.
"Semuanya kembali semula. Nampaknya Ray tahu semua sudah selesai. Dia pasti memperhatikan dari suatu tempat." ujar Luka sambil celingak-celinguk mencari Ray.
"Ayo kita pergi, Dante." ajak Ray.
"Baik, Aniki." sahut Dante.
Sementara itu dilapangan.
"Bekas apa ini? Meteor jatuh?! Bom?!! dan sejak kapan? Barusan ini tidak ada." teriak guru olahraga terlihat panik.
"Ternyata aku memang terlalu berlebihan nendangnya." ujar Gumi sambil terlihat suram sambil berdiri.
"Sabar, Gumi-chan." ucap Miku yg memegang bahu Gumi.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kelas.
"Memangnya kenapa Aniki begitu takut ada yg tahu siapa diriku?" tanya Dante.
"Karena gadis berambut hijau itu, dia nampaknya mulai mencurigaimu." jawab Ray.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.