VocaWorld, chapter 41 - Hanya Mengambil Hanya Apa Yang Dibutuhkan

Siang hari itu di akademi Voca, Luka sedang berjalan di lorong kelas 1. Seperti biasa terjadi kehebohan diantara murid-murid kelas 1 yg melihat keanggunan Luka. Dari kejauhan terlihat Ray sedang bersandar dekat jendela. Dia kemudian memberi isyarat pada Luka supaya mengikutinya dengan menggerakan kepalanya. Luka yg menyadari isyarat dari Ray itu kemudian mengikutinya. Ray terlihat berhenti dibelakang gedung sekolah.
"Ada apa Ray-kun?" tanya Luka.
"Aku ingin mengembalikan ini." ujar Ray sambil mengeluarkan amplop dari sakunya.
Luka pun membuka amplop itu dan ternyata isinya adalah uang.
"Kenapa kamu mengembalikannya? Bukankah Ray-kun dulu benar-benar menginginkan uang ini?" tanya Luka tampak heran.
"Aku bukan ingin, aku hanya butuh. Aku takkan mengambil sesuatu lebih dari yg aku butuhkan. Jadi, saat ini aku kembalikan sisanya. Untuk kebutuhan lain, aku juga sudah menyisihkan sedikit." jelas Ray.
"Padahal kamu kan bisa pergunakan untuk kehidupan sehari-hari." ujar Luka.
"Kehidupanku sama sekali tak berhubungan dengan uang. Aku tak perlu uang untuk bertahan hidup." jawab Ray.
"Lagipula, sebentar lagi kamu takkan mau memberikan uang lagi padaku, Megurine-san." sambung Ray menatap ke arah Luka.
"Apa maksudmu?" tanya Luka.
"Kamu akan segera tahu, Megurine-san." jawab Ray sambil meninggalkan Luka.
Luka hanya terdiam dan tak mengerti.
"Kupikir dia sengaja mendekatiku untuk uang, tapi karena dia mengembalikan sisa uangnya aku jadi tidak mengerti. Ditambah Ray-kun mengatakan kalau dia tidak menginginkan uang ini, tapi dia hanya butuh." ujar Luka sambil melihat amplop yg ada ditangannya.
Luka kembali ke kelasnya dan disana ia bertemu dengan Meiko dan Kaito.
"Megurine? Kenapa kamu tampak lesu begitu? Ada masalah?" tanya Kaito.
"Tidak kok. Tidak ada masalah apa-apa." jawab Luka sambil tersenyum.
"Oh ya, Kaito-kun, Meiko-san, menurut kalian kalau ada seseorang yg baik padaku dan selalu membantuku kalau aku sedang kesulitan tapi kemudian dia mengatakan hal itu untuk uang itu bagaimana?" tanya Luka pada Meiko dan Kaito.
"Hmm.. ya sudah jelas kan kalau gitu, pasti untuk uang." jawab Meiko.
"Tapi masalahnya, dia mengembalikan sisa uangnya." tambah Luka sambil menunjukkan sebuah amplop.
"Tidak mungkin." ucap Kaito terkejut.
"Sayang banget, padahal pergunakan saja semuanya. Kenapa dikembalikan?" ucap Meiko yg heran.
"Menurutku juga begitu. Ini membuatku semakin bingung tentang dirinya." ujar Luka tampak sedih.
"Me-Megurine-san.. jangan bilang orang yg kamu maksud selalu baik padamu itu.." ucap Meiko terlihat menyadari sesuatu.
Luka mulai menoleh lagi ke arah Meiko saat mendengarnya.
"..pacaramu. Kamu sudah punya pacar?" sambung Meiko.
"Eh, tidak-tidak-tidak.. dia bukan pacarku. Aku belum pacaran. Beneran.." ujar Luka menolaknya dengan wajah memerah.
"Terus kenapa kamu begitu peduli tentang nya?" tanya Kaito.
"Itu karena, dia adalah yg pertama yg begitu berbeda. Dia baik dan selalu membantuku tanpa alasan. Saat dia bilang dia melakukan itu untuk uang aku begitu terkejut. Kupikir tadinya dia sama saja dengan yg lainnya. Namun karena dia mengembalikan uangnya, ini membuatku jadi makin bingung tentangnya." jelas Luka.
Melihat ekspresi Luka, Meiko pun tersenyum. Kemudian Meiko berdiri dan memegang pundak Luka.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kamu cukup percaya saja padanya." ujar Meiko sambil tersenyum.
Luka terkejut mendengar ucapan Meiko. Dia tidak mengerti maksudnya, namun ia menganggukan kepalanya.

Sementara itu, di lorong kelas 1 nampak Miku dan Gumi sedang berjalan berdua.
"Eh, mereka juga bisa menggunakan kekuatan earophoid?" ucap Gumi terlihat terkejut.
"Ya, aku juga pada awalnya terkejut. Tapi nampaknya Meiko-san dan Kaito-senpai tahu password pembukan power lock nya dari Megurine-senpai." jawab Miku.
"Tapi tak kusangka mereka berdua bisa sehebat itu bisa mengalahkan major." ujar Gumi.
"Aku juga kaget, nampaknya mereka punya kekuatan lebih besar daripada aku." balas Miku.
"Tentu saja, mereka lebih senior kan? Kemungkinan mereka menyanyikan dan menciptakan lebih banyak lagu daripada kita. Saat ini kamu baru punya dua kan? Itupun yg satu lagunya tidak jelas gitu." jelas Gumi.
"Enak saja bilang tidak jelas. Aku nyiptainnya dengan susah payah tahu!" gerutu Miku karena kesal.
"Ya-ya.. lagipula kamu belum menyanyikannya di depan yg lainnya kan? Jadi belum berpengaruh pada penambahan kekuatanmu." tambah Gumi.
"Oohh.. begitu ya." sahut Miku.
Dari belakang Dante mengikuti Miku dan Gumi. Dari raut wajahnya dia terlihat sedang kesal.
"Kenapa Aniki menyuruhku mengikuti gadis berambut hijau ini? Memangnya ada apa dengan gadis ini?" ujar Dante dalam hatinya.
Dante memperhatikan Gumi, tepat ke arah wajahnya.
"Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat." gumam Dante saat memperhatikan wajah Gumi.
"Aaa.. kenapa aku malah memperhatikan wajahnya seperti orang yg lagi kasmaran.." kata Dante dalam hati sambil menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya.
"Dante." panggil Ray yg tiba-tiba muncul dibelakangnya.
"Aniki?!" ucap Dante terkejut.
"Kita tak punya waktu, kita harus pergi sekarang." ujar Ray terlihat serius.
"Kemana?" tanya Dante.
"Jangan banyak tanya, ikut saja." jawab Ray.
"Lalu sekolah kita?" tanya Dante lagi.
"Tenang saja kita bisa keluar masuk tanpa diketahui dengan melody of silent ku. Lagipula kita takkan lama." jawab Ray lagi.
Terlihat dari jendela ada 2 gelombang riak air raksasa di arah tengah kota.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】