VocaWorld, chapter 36 - Berpikir Cepat
Siang itu, Miku ada pelajaran olahraga. Dia dan Gumi adalah yg paling pertama sampai di lapangan.
"Miku-chan, kenapa kamu begitu semangat?" tanya Gumi.
"Haha.. karena hari ini adalah hari dimana aku bisa melihat Kaito-senpai berolahraga. Berkat pergantian jam pelajaran." jawab Miku.
"Apa kamu yakin?" sambung Ray yg tiba-tiba muncul di samping mereka.
Miku dan Gumi pun terperanjat kaget melihat Ray.
"Kenapa kalian?" ujar Ray heran.
"Se-sejak kapan kamu disana?" tanya Miku.
"Baru saja. Aku tak menyangka kalian cepat sekali ganti baju. Apa hanya untuk melihat mereka berdua?" jawab Ray.
Terlihat dilapangan ada Kaito sedang dimarahi oleh Meiko.
"Kaito, apa yg kau lakukan, hah? Sudah kubilang jangan sampai salah. Jarak antara halang rintang ini haruslah benar kan!" bentak Meiko.
"Iya, maaf." ucap Kaito yg terlihat sedang memasang halang rintang untuk lari.
"Meiko-san, Kaito-senpai, apakah ini untuk mata pelajaran olahraga kalian?" tanya Miku yg menghampiri mereka.
"Iya, kami hari ini harus lari halang rintang. Kalau kalian?" jawab Meiko.
"Kami sih belum tahu, karena belum dikasih tahu oleh guru nya." jawab Gumi.
"Kemungkinan mungkin hanya lari 100m." sambung Ray.
"Siapa dia?" tanya Meiko.
"Dia? Haha.. dia hanya orang tak jelas yg ikutan berolahraga." jawab Miku.
"Ya, benar yg dikatakan Hatsune-san." sahut Ray yg kemudian berjalan menjauh.
"Wah.. kamu kejam juga ya, Miku-chan. Mengatakan seorang laki-laki dengan sebutah orang tidak jelas." ujar Meiko.
Kaito pun melihat Miku saat mendengarnya.
"Ti-tidak kok, Kaito-senpai jangan salah paham. Aku tidak kejam kok." sahut Miku takut Kaito salah paham.
"Laki-laki sialan, jangan-jangan dia sengaja melakukan itu untuk mengerjaiku. Akan kubalas nanti." ucap Miku dalam hatinya karena kesal terhadap Ray.
Ray hanya tersenyum sambil terus menjauh dari Miku.
"Ray-kun.." panggil Luka yg berdiri di hadapannya.
"Oh.. Megurine-san, ada apa?" sahut Ray.
"Seperti yg kamu lihat, hari ini aku juga ada pelajaran olahraga. Oh ya, disana ada apa?" jawab Luka sambil berbalik menanyakan Miku dan kawan-kawan.
"Ya, seperti biasa, Fire Couple sedang dalam keadaan On Fire." jawab Ray.
"Maksudmu mereka berkelahi lagi?" tanya Luka lagi.
"Ya, tidak biasanya kamu bisa mengerti secepat ini." jawab Ray sambil tersenyum.
"Tentu saja, sebagai atasanmu aku harus bisa mengerti bawahan." sahut Luka.
"Hmm.. berarti kalau bawahan putih, maka atasan juga harus putih." ujar Ray sambil tersenyum.
"Hah, kamu ngintip ya?" kata Luka terkejut lalu menutup dada dan selangkangannya dengan tangan.
"Eh, apa maksudmu? Kamu tidak mengerti ya? Maksudku kalau bawahan melakukan sesuatu hal, maka atasan juga akan terkena dampaknya. Maka itu harus saling mengerti satu sama lain." jelas Ray.
Luka yg mendengar hal itu pun langsung malu sendiri. Wajahnya memerah dan ia menutup matanya karena tak kuat.
"Ini memalukan.. kenapa aku malah kepikiran kesana? Harusnya aku tahu apa yg Ray-kun maksud. Maksudku, kami kan sedang membicarakan tentang atasan-bawahan yg itu. Bukan yg lain.." ujar Luka dalam hatinya.
"Ya ampun, jangan-jangan dia pikir aku membicarakan yg lain." ujar Ray dalam hatinya.
Saat pelajaran olahraga dimulai, kelas 2-C melakukan lari halang rintang sementara kelas 1-B melakukan lari 100m. Saat itu Gumi mendapatkan waktu tercepat.
"Wah.. Gumi-chan hebat." puji Miku.
"Mi-Miku-chan juga hebat, lagipula kita cuma beda 2 detik aja." sahut Gumi tampak malu.
Sementara itu di pinggiran lapangan lari itu, Kamui terlihat sedang menonton.
"Luka-tan! Berjuanglah!!" teriak Kamui dari pinggir lapangan melihat Luka yg bersiap-siap lari.
"Kenapa dia kesini lagi?" ucap Luka yg mendengar teriakan Kamui.
"Sebaiknya aku membelikan minuman untuk Luka-tan." ujar Kamui yg kemudian pergi.
Diatap sekolah, terlihat seorang murid laki-laki begitu murung. Dia menatap ke bawah dari balik pagar kawat.
"Kenapa aku selalu mendapat nilai jelek dalam praktek menyanyi. Padahal nilai materi ku bagus. Kenapa? Suara ku kan bagus. Kenapa ada orang bersuara serak tapi nilainya lebih bagus dariku? Ini pasti ada sesuatu antara guru disini. Sialan." pekik murid itu dalam hati merasa kesal.
Tak lama keluar sebuah gelombang riak air diatasnya. Ditempat lain terlihat Ray juga sedang bersiap-siap untuk lari.
"Ah, ini pasti melelahkan." ujar Ray sambil berdiri dengan malas.
Kemudian dia mendengar sesuatu.
"Minor?! Disaat seperti ini??" ucap Ray dalam hatinya yg lalu berpaling melihat ke arah gelombang riak air di langit.
"Ray, ayo cepat kesini!" suruh guru olahraga.
Kemudian Ray pun membuat posisi start jongkok mengikuti perintah guru olahraga.
"Nampaknya ada yg akan dirasuki, ini bahaya. Aku juga tak bisa memanggil Dante karena ada mereka. Ditambah siapa yg akan menjadi targetnya? Miku? Luka? Atau siapa?" pikir Ray sambil mengambil ancang-ancang untuk lari.
Luka juga sama sedang mengambil ancang-ancang.
"Siapa yg harus aku mintai pertolongan? Karena, aku tak membawa earophoid ku." pikir Ray yg kemudian berlari saat mendengar isyarat untuk lari dari guru olahraganya.
Ray melirik ke arah Luka. Dan dari balik Luka, ia melihat sekilas ada Kamui disana. Dan Kamui membawa earophoid nya. Ray pun tersenyum.
"Apa-apaan dia? Kenapa larinya lambat sekali?" komentar Gumi terhadap larinya Ray.
"Haha.. laki-laki seperti dia memang takkan sebanding dengan Kaito-senpai." sahut Miku yg duduk di sebelahnya.
Ray memang berlari dengan langkah kecil saat itu.
"Sekarang!" ucap Ray yg lalu menambah kecepatan larinya dalam sekejap.
Ray pun menabrak Luka yg melewati lintasan lari yg berbentuk lonjong itu, jadi Luka ada di depannya saat itu. Ray pun menubruk Luka dan menjatuhkannya di tanah.
"Kya!" teriak Luka saat terjatuh.
Dan asap debu pun menyelimuti mereka.
"Luka-tan!" ucap Kamui saat melihatnya.
Miku, Gumi, Meiko dan Kaito pun terlihat terkejut melihatnya. Dari balik asap debu, Ray membisikkan sesuatu.
"Saat aku bilang mundur, kamu segeralah mundur." bisik Ray di telinga Luka.
"Ke-kenapa?" tanya Luka.
"Sudah lakukan saja." jawab Ray.
Kamui berlari ke arah Ray dan Luka yg masih diselimuti asap debu yg mulai menghilang.
"Kurang ajar!" ucap Kamui sambil bersiap-siap memukul ke arah asap debu.
"Mundur!" ucap Ray.
Kemudian Luka pun mundur, begitu pula dengan Ray. Dan pukulan Kamui pun tak mengenai mereka dan hanya mengenai tanah diantara mereka berdua.
"Sialan! Kenapa kau menabrak Luka-tan!" bentak Kamui.
"Kenapa? Tak ada alasan. Aku hanya ingin menabraknya saja." jawab Ray.
"Kurang ajar!" ucap Kamui terlihat geram.
"Kalau kamu marah, coba kejar aku." tantang Ray.
Kemudian Ray pun lari ke arah gedung sekolah. Kamui mengejarnya dengan sekuat tenaga karena marah.
"Kenapa sih Ray-kun menabrakku?" ujar Luka bertanya-tanya melihat ke arah Ray yg dikejar Kamui.
Lalu Luka pun tersadar ternyata ada gelombang riak air diatas atap gedung sekolah.
"Tunggu, jadi Ray-kun barusan.." ucap Luka dengan wajah terkejut.
Dari tengah-tengah gelombang itu pun keluar minor yg lalu masuk ke murid laki-laki yg sedang murung itu. Tatapan murid yg dirasuki itu pun berubah jadi tatapan kosong. Dan senyumannya terlihat menyeramkan.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.