VocaWorld, chapter 40 - Nyala Api Membara
Muncul 2 ledakan api menjulang tinggi yg berwarna merah dan biru. Major mundur beberapa langkah kebelakang saat terkena hempasan api tersebut.
"Meiko-san, Kaito-senpai, kenapa kalian juga memiliki kekuatan dengan earophoid kalian?" tanya Miku terkejut melihat orang yg menciptakan api itu adalah Meiko dan Kaito.
"Kalau masalah itu, sebenarnya Megurine yg memberi tahu password kami." jawab Kaito.
"Dan dia juga memberi tahu cara membuka power lock dengan password itu." sambung Meiko.
"Dia memberi tahu kami semuanya." ujar Meiko dan Kaito bersamaan dengan senyuman penuh percaya diri.
"Mereka berdua entah kenapa begitu kompak. Padahal kukira mereka tidak begitu akrab karena sering bertengkar." ujar Miku dalam hatinya.
"Meiko, apa kau yakin bisa menanganinya?" tanya Kaito.
"Ya, tenang saja. Malah sebaliknya aku khawatir kamu dihajar habis-habisan oleh monster itu karena kamu bodoh, Kaito bego." jawab Meiko.
"Apa maksudnya barusan itu? Ngajak ribut ya?" ucap Kaito ngambek.
"Hah? Siapa takut!" sahut Meiko.
Kedua major itu mulai mendekat lagi ke arah mereka. Kaito dan Meiko menyadari hal itu.
"Jangan mengganggu!!!" bentak Meiko dan Kaito pada major.
"Dance: Fighting Spirit!" teriak Meiko dan tangannya pun di selimuti api merah.
"Instrument: Fire Harmonica." ucap Kaito dan keluarlah sebuah harmonika dari metal dan keluar nyala api biru dari lubangnya.
Meiko melompat dan melakukan gerakan pukulan uppercut dan mengenai perut major, sementara Kaito memainkan sebuah nada sambil menggerakan harmonika ke kiri bawahnya dan muncul slash api biru mengenai bahu major ke arah yg sama seperti gerakan harmonikanya. Major yg dihadapi oleh Meiko terangkat keudara oleh api yg dikeluarkan oleh tinju Meiko. Sementara major yg dihadapi Kaito tersungkur karena slash api biru ke kiri bawah, mungkin dari sudut pandang major itu adalah kanan bawah. Tidak hanya sampai disitu, Meiko kembali melancarkan serangan ke arah major yg dihadapinya.
"Rasakan ini!!!" teriak Meiko muncul dari udara.
Dia memukul kepala major itu hingga terjungkal ke belakang. Pukulan Meiko itu sangat kuat karena disertai dengan api merah yg membuat efek hempasan yg kuat.
"Aku akan menunjukkan kemampuanku bermain harmonika." ucap Kaito kembali bersiap menggunakan harmonikanya.
"Aku juga tak mau kalah. Aku akan melakukan dancing ku sesuai permainan harmonika mu itu, Kaito." sahut Meiko mengepalkan tangannya keras-keras dan berdiri tegak bersiap melakukan dancing.
"Nampaknya mereka mulai semakin memanas ya. Ini jadi semakin menarik." ujar Ray memperhatikan dari atas gedung.
"Aku tak percaya ini, mereka bisa menghadapi major sendirian." kata Dante yg berada di sebelah Ray.
"Mereka berdua itu, memang sangat kuat saat mereka bersama." ucap Ray sambil tersenyum.
"Aniki mengatakannya seperti Aniki mengenalnya saja. Memang Aniki tahu apa tentang mereka?" tanya Dante yg merasa heran.
"Apa kamu ingat saat kita pertama kali ke kota ini?" tanya Ray balik.
"Ya." jawab Dante.
"Kalau begitu kamu pasti ingat seorang gadis dan anak laki-laki yg menunjukkan jalan pada kita walau mereka sedang bertengkar." sambung Ray.
Hari itu adalah hari minggu seperti hari ini. Meiko dan Kaito berjalan bersebelahan namun saling menjaga jarak. Dilihat dari muka mereka yg sama-sama cemberut sepertinya mereka saling marah akan sesuatu. Namun mereka harus bertemu dengan tak sengaja karena mereka harus bekerja dan ditempat yg sama pula.
"Aku tak percaya kamu mengikutiku sampai kesini, Kaito bego." ucap Meiko merasa jengkel.
"Siapa lagi yg mau mengikuti gadis preman, jangan kepedean deh." sahut Kaito.
"Siapa yg kau bilang preman hah? Udah bosan hidup ya?" ancam Meiko mengangkat kerah baju Kaito dan keluar logat premannya.
"Maaf, apakah kalian bisa beritahu kami dimana akademi Voca?" tanya seseorang berjaket hitam dan memakai tudungnya.
Disebelahnya ada seseorang yg memakai jaket putih yg juga bertudung. Wajah mereka tak terlihat karena gelap tertutup tudung jaket.
"Ooh.. akademi Voca ya? Kalian tinggal melewati jembatan lalu belok kanan dan saat melihat pohon sakura berjajar maka itulah jalan menuju akademi Voca." jelas Meiko.
"Lebih tepatnya setelah menyeberangi jembatan kalian lurus aja terus sampai kalian melihat jalan dimana ada banyak pohon sakuranya. Baru dah belok kanan." tambah Kaito.
"Oohh.. begitu ya. Terima kasih info nya. Walau sedang ada masalah rumah tangga, tapi kalian tetap kompak ya." sahut orang berjaket itu tampak tersenyum lalu pergi dan diikuti oleh yg berjaket putih.
"Hei tunggu! Apa maksudnya tadi itu hah?!" teriak Kaito pada kedua orang namun tak dianggap.
"Benar, kami belum menikah jadi jangan pernah bilang kalau aku punya masalah rumah tangga dengan lelaki bodoh ini!" bentak Meiko sambil menunjuk-nunjuk Kaito.
"Aniki, kenapa aniki tadi bilang begitu? Bukankah tak baik membuat mereka marah?" tanya yg berjaket putih.
"Tidak, mereka tidak benar-benar marah kok. Aku yakin itu." jawab yg berjaket hitam.
"Hei Meiko, apa tidak sebaiknya kita tidak marahan lagi?" ucap Kaito menoleh ke arah Meiko.
"Hah? Kenapa memangnya?" tanya Meiko.
"Bukankah agak memalukan kalau nanti dianggap ada masalah rumah tangga lagi." jawab Kaito sambil menatap ke arah lain dan menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.
"Siapa juga yg mau menurutimu. Huh!" ucap Meiko sambil memalingkan muka.
"Hah! Kenapa kau malah jawab nya gitu?" ujar Kaito yg kembali kesal.
"Aku tak perlu menurutimu untuk berhenti marahan denganmu, karena.. aku memang sudah menganggap kita sudah tak ada masalah lagi. Jadi ngapain harus marahan?" jelas Meiko sambil melirik kecil ke arah Kaito.
"Oohh.. begitu ya. Syukurlah.." ujar Kaito tersenyum lega.
"Pokoknya kita saat ini tak perlu mempermasalahkan soal tugas kelas menyanyi berpasangan. Kita konsentrasi dengan kerja dulu saja. Mengerti!" ucap Meiko menunjuk ke arah Kaito.
Kaito menganggukan kepalanya tanda setuju. Wajah Meiko terlihat sedikit memerah. Dan mereka pun kembali berjalan bersebelahan, walau masih menjaga jarak.
"Jadi, aniki sengaja mengatakan hal itu untuk memancing mereka untuk baikan?" tanya yg berjaket putih yg ternyata masih memperhatikan Meiko dan Kaito.
"Ya, aku membuat mereka untuk lebih jujur. Karena tak satupun dari mereka yg berani memulai untuk berbaikan." jawab yg berjaket hitam dengan senyuman percaya dirinya.
Meiko dan Kaito memang dapat tugas menyanyi berpasangan saat itu. Mereka latihan di atap gedung sekolah. Dan sore itu adalah hari pertama mereka latihan.
"Jadi kita akan menyanyikan lagu apa?" tanya Kaito saat itu.
"Tentu saja lagu yg membuat semangat!" jawab Meiko dengan penuh percaya diri.
"Bicara sih gampang, tapi bagaimana kita bawainnya nanti?" tanya Kaito lagi.
"Pertama kita harus tentukan alat musik nya dulu." jawab Meiko menoleh ke arah Kaito.
Kemudian Meiko membuka tas gitarnya dan mengeluarkan sebuah gitar listrik. Sedangkah Kaito membuka-buka tasnya dan mengeluarkan sebuah suling.
"Kaito, apaan itu?" tanya Meiko sambil menunjuk suling yg Kaito pegang dengan tatapan tak puas.
"Tentu saja ini suling. Masa tidak tahu." jawab Kaito.
"Kenapa kamu ngeluarin suling saat aku ngeluarin gitar, dasar Kaito bego!!" bentak Meiko yg tiba-tiba marah.
"Eh, memang kenapa?" tanya Kaito heran.
"Masih nanya kenapa?!!! Tentu saja karena kamu tuh bego. Kalau gitar disatuin dengan suling entar jadi tarling. Aku gak mau nyanyi lagu cirebonan!!!" jawab Meiko dengan kesal.
"Tapi aku tak bisa alat musik lain selain suling." ujar Kaito.
"Ya ampun kamu ini, masa cuma bisa suling aja. Baiklah kalau begitu, aku tak punya pilihan lain. Ini!" ujar Meiko sambil mengeluarkan sebuah harmonika dan melemparkannya ke Kaito.
Kaito pun menangkapnya.
"Ini, harmonika?! Tapi aku tak bisa.." ujar Kaito.
"Aku akan mengajarkanmu.." potong Meiko.
Kaito terlihat terkejut mendengar perkataan Meiko yg tiba-tiba.
"A-apa kau sering memainkannya, Meiko?" tanya Kaito sambil melihat harmonika itu.
"Ya, memang kenapa?" jawab Meiko.
"Tapi kalau begitu bukankah kalau aku memainkannya.. itu bisa.. menjadi ciuman tak langsung.." balas Kaito terlihat sedikit malu dan tampak ragu untuk memainkan harmonika itu.
Meiko yg mendengarnya menjadi sedikit malu. Dan perlahan wajahnya semakin lama semakin memerah.
"Kalau kamu tak mau ya tidak usah!" teriak Meiko sambil merebut harmonika itu dari tangan Kaito.
"Ta-tapi.. aku ingin memainkan harmonika itu.." ucap Kaito.
"Di-dia tetap ingin memainkan harmonikaku walau itu bisa menjadi ciuman tak langsung?! Jangan-jangan Kaito.." ujar Meiko dalam hatinya mulai menduga-duga.
Meiko pun memberikan lagi harmonika itu pada Kaito.
"Lagipula aku tak perlu malu kan kalau hanya mengalami ciuman tak langsung denganmu. Kau kan maskulin banget." ujar Kaito sambil menerima harmonika itu.
"Mati aja sana!!!" pekik Meiko sambil memukul wajah Kaito.
Kaito pun terjatuh di lantai dan Meiko mencengkeram kerah bajunya dan mendudukinya.
"Kamu sudah pengen mati ya! Enak saja bilang aku maskulin. Jadi selama ini kamu menganggapku laki, hah! Dasar Kaito bego!!!" bentak Meiko sambil memukuli wajah Kaito.
"Maaf deh.. aku tidak akan.. sekali-kali lagi menganggapmu.. macho lagi." ucap Kaito sambil dipukuli oleh Meiko.
"Ternyata lebih parah!!!" ucap Meiko sambil memberikan pukulan terakhir ke wajah Kaito sampai merusak lantainya.
Meiko pun mengambil gitarnya dan memasukannya lagi ke tas gitarnya lalu pergi.
"Dasar Kaito bego, benar-benar tak bisa diharapkan." gerutu Meiko sambil menuruni tangga.
Sementara itu Kaito mengambil lagi harmonika yg sempat terlepas dari tangannya akibat diserang Meiko.
"Kenapa aku begitu bodoh, harusnya aku berterima kasih padanya karena mau mengajariku cara bermain harmonika. Malah dia meminjamkanku harmonikanya." ujar Kaito dalam hati sambil menatap harmonika itu.
"Besok, aku harus berterima kasih padanya." ujar Kaito sambil tersenyum.
"Tapi kalau dipikir-pikir, aku memang merasa malu dengan ciuman tak langsung ini walau aku bilang dia maskulin." sambung Kaito wajahnya sedikit memerah.
Kaito menatap harmonika itu lebih lama lagi, dan kemudian dia terbayang bibir Meiko.
"Sialan, kenapa aku malah jadi deg-degan gini?!!" gerutu Kaito menutup wajahnya dengan tangannya karena malu.
Malam harinya Kaito menceritakan pada Kamui tentang tugas nyanyi nya.
"Jadi Kaito-dono mau memainkan harmonika itu tapi tidak bisa?" ujar Kamui.
"Ya, begitulah.." jawab Kaito.
"Bagaimana kalau saya ajarkan.." ucap Kamui merebut harmonika ditangan Kaito.
"Eh, jangan yg itu!" larang Kaito merebut kembali harmonika itu.
"Kenapa memangnya?" tanya Kamui heran melihat Kaito.
"Ti-tidak apa-apa kok. Hanya saja, kau tak boleh menggunakan ini." jawab Kaito tampak sedikit malu.
"Haaahhh? Kenapa anda ini, Kaito-dono.." gerutu Kamui.
"Kenapa aku seperti ini? Aku merasa tak rela membiarkan Kamui yg pertama memainkannya. Kenapa?" ucap Kaito dalam hatinya bertanya-tanya.
Kaito pun memberanikan diri mencoba memainkan harmonika itu untuk pertama kalinya.
Keesokan harinya Kaito dan Meiko bertemu kembali di atap. Siang itu mereka terlihat sedang makan bekal makan siang. Kaito mengambil sebuah telur dadar dan memakannya. Kemudian terlihat sedikit terkejut.
"Kenapa? Mau jelek-jelekin masakanku dan bilang rasanya hambar?" tanya Meiko.
"Tidak kok, aku hanya terkejut bagaimana bisa telur dadar seenak ini? Bagaimana bikinnya?" jawab Kaito yg lalu bertanya balik karena penasaran.
"Rahasia." jawab Meiko.
"Kenapa kau ini, padahal aku nanya baik-baik?" gerutu Kaito.
"Maaf saja, tapi harus kamu tahu kalau masakan adalah salah satu senjata perempuan. Kalau aku kasih tahu resepnya ke kamu maka senjata itu akan jadi tumpul." jelas Meiko sambil memalingkan wajah dari Kaito.
"Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti." ujar Kaito sedikit jengkel.
"Deritamu.." balas Meiko.
"Oh ya, Meiko. Sore nanti, bagaimana kalau kita latihan lagi?" ajak Kaito.
"Memangnya kamu udah bisa mainin harmonika?" tanya Meiko.
"Ya, semalam aku diajarkan oleh Gakupo. Walau dia hanya memberi arahan saja, karena aku tak bisa membiarkan dia memainkan harmonikamu." jawab Kaito.
"Lho kenapa emangnya?" tanya Meiko lagi.
"Soalnya, ini adalah harmonika milik Meiko yg dipercayakan padaku. Aku harus menjaganya baik-baik. Aku tak bisa membiarkan orang lain memainkannya." jawab Kaito sambil mengeluarkan harmonika dari saku bajunya dan melihatnya sambil tersenyum.
"Be-begitu ya. Terserah sih.." ucap Meiko sambil memalingkan wajah lagi kali ini karena malu.
Kembali ke masa sekarang, Kaito terlihat tersenyum. Sementara terlihat major terbakar api biru dan terbaring di depannya.
"Ada apa Kaito? Kamu senyum-senyum sendiri, sudah gila ya?" tanya Meiko saat melihatnya.
"Tidak, aku hanya ingat masa lalu saat aku pertama kali bisa bermain harmonika." jawab Kaito tersenyum pada Meiko.
"Jangan mengingat hal seperti itu disini." sahut Meiko malu-malu.
Kedua major itu ternyata masih bisa bangkit lagi. Mereka berdiri tegak dan api yg menyelimuti mereka perlahan hilang.
"Meiko, ayo kita duet lagi." ajak Kaito.
"Ya, tak masalah." sahut Meiko.
Lalu Kaito dan Meiko mulai bersiap-siap menyerang lagi. Kaito memainkan sebuah melodi cepat dengan harmonika nya dan terlihat ratusan slash api biru mengenai tubuh major yg di hadapi Kaito. Sementara Meiko menyamakan dengan melodinya Kaito dan melakukan serangan pukulan beruntun yg cepat ke arah major yg dihadapinya. Kedua major itu terlihat kewalahan menghadapi serangan-serangan Kaito dan Meiko.
"Ayo kita selesaikan ini!" ujar Meiko.
"Ya." sahut Kaito.
Meiko memutar-mutar lengan kanannya sementara menaruh lengan kirinya di depan siap-siap melakukan pukulan. Sementara Kaito mengambil posisi berdiri menyamping.
"Nampaknya mereka akan segera menyelesaikannya." ujar Ray.
"Ya, Aniki." sahut Dante.
Meiko lalu melepaskan pukulan ke arah major di hadapannya.
"Red Dragon Punch!" teriak Meiko saat itu.
Dan keluarlah api yg berputar seperti tornado lurus kedepan dan berbentuk seperti naga. Sementara Kaito juga bersiap menyerang major nya.
"Blue Dragon Slash!" ucap Kaito sambil melompat ke arah major.
Sambil membuat gerakan berbalik ke kiri dia melakukan slashing sambil melewati major yg ia lawan dengan sangat cepat. Slash itu membuat bekas sayatan api biru di udara berbentuk seperti naga. Dan hasilnya serangan Meiko berhasil menembus tubuh major itu dan serangan Kaito berhasil membelah tubuh major yg satu lagi. Kedua major itu pun terbakar dan hilang.
"Meiko-san dan Kaito-senpai hebat. Mereka mampu mengalahkan masing-masing satu major." puji Miku yg melihat dari kejauhan.
Meiko dan Kaito menghampiri Miku. Mereka berdua tampak khawatir.
"Miku-chan kamu tak apa kan?" tanya Meiko memastikan lagi Miku tidak apa-apa.
"Ya, aku tak apa kok." jawab Miku.
"Syukurlah, kalau kamu tak apa, Hatsune." ucap Kaito tersenyum pada Miku.
Sementara Ray dan Dante melihat dari atap gedung.
"Dante, ayo kita pulang. Setelah ini pasti akan jadi semakin menarik." ajak Ray pada Dante yg berada di sebelahnya.
"Baiklah, Aniki." terima Dante.
Ray dan Dante pun menghilang dari tempat itu dengan gerakan yg sangat cepat.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.