VocaWorld, chapter 39 - Api Telah Menyala

Miku dikepung oleh 2 major. Miku yg sudah dalam keadaan berubah pun mencoba untuk menyerang major-major itu.
"Dance: Rolling Girl" ucap Miku yg lalu melompat berputar ke arah salah satu major.
Miku menendang perut major itu namun tidak mempan, Miku kembali terpental.
"Sial, ternyata memang benar tak mempan." ujar Miku.
Major yg ada dibelakangnya pun hendak menyerangnya. Namun Miku berhasil menghindar dengan melompat menjauh dari area serangan.
"Hahaha.. biar aku saja yg menghadapinya." ucap Dante yg muncul melesat ke arah salah satu major.
Dante melesat dari atas melalui gedung tinggi. Namun Ray tiba-tiba menghentikan nya lalu menggunakan melody of silent. Ray pun membawa Dante kembali ke atas gedung tinggi sebelum disadari oleh Miku.
"Kenapa Aniki menghentikanku?" tanya Dante.
"Sebaiknya kita menghindari pertarungan kalau ada mereka. Aku takut, mereka tahu identitasmu." jawab Ray.
"Mereka? Apa maksudnya?" ucap Dante tak mengerti.
Dibawah, terlihat Miku kewalahan menghindari pukulan-pukulan kedua major itu. Miku berusaha sesekali melancarkan serang pada mereka, namun itu nampaknya tak ada gunanya. Serangannya tak berpengaruh apapun pada kedua major tersebut.
"Seandainya ada Gumi-chan, ini pasti lebih mudah." ujar Miku terengah-engah kelelahan.
"Lihat dia, Aniki! Tak mungkin untuknya melawan 2 major sekaligus. Biarkan aku turun." ujar Dante.
"Tidak boleh!" cegah Ray.
"Kenapa?" tanya Dante lagi.
"Untuk saat ini kamu diam saja, Dante. Aku takkan membiarkanmu membocorkan identitasmu. Terlalu berbahaya." jelas Ray.
Sementara Miku terlihat makin terdesak, Ray dan Dante hanya diam menyaksikan dari atas gedung.

Di kediaman Gakupo, terlihat Kamui dan Gumi masih berbincang-bincang di depan dojo.
"Jadi, apa rencanamu, Gaku-Gaku?" tanya Gumi.
"Aku tak handal dalam hal rencana, namun tak ada salahnya kita menyelidiki lebih dalam." jawab Kamui.
"Ya, benar juga. Kita harus memastikan kalau perkiraan kita benar. Kita tak bisa menuduh tanpa bukti." tambah Gumi.
"Tapi aku bingung harus memulai dari mana?." ujar Kamui sambil garuk-garuk kepala.
"Kita mulai dari, sejak kapan mereka ada di kota ini? Dan dimana mereka tinggal? Soalnya sampai sekarang tak ada satupun yg mengetahui tempat tinggal mereka dan sejak kapan mereka disini. Tak ada satupun jejak kalau mereka lulusan sebuah SMP yg ada di kota ini." kata Gumi memberi masukan.
"Wah.. hebat Megu. Kau bisa berpikir sampai kesana." ujar Kamui.
"Bukankah sejak dulu selalu aku yg berpikir kalau sedang berhadapan dengan musuh." sahut Gumi.
"Iya juga sih. Hahaha.." kata Kamui yg kemudian tertawa.
"Dasar kamu ini, Gaku-Gaku. Sejak dulu selalu saja seperti itu. Padahal kamu lebih tua dariku." gerutu Gumi.
"Ya, jadi ingat masa lalu. Rasanya seperti baru kemarin. Saat-saat kau selalu memarahiku kalau aku membuat masalah. Rasanya, aku seperti memiliki adik perempuan." ujar Kamui.
"Benar, rasanya aku juga seperti memiliki seorang kakak laki-laki. Lebih tepatnya kakak yg bodoh." balas Gumi dengan tatapan malas.

Sementara di perkotaan, Miku masih terlihat bertarung dengan kedua major itu. Tapi Miku sudah kelelahan dan tak mampu lagi bertahan.
"Aku terlalu banyak menggunakan dance ku. Aku kehilangan banyak energi. Bagaimana ini?" ucap Miku dalam hatinya merasa bingung.
Salah satu major memukulnya hingga terpental beberapa meter. Tapi Miku berhasil berdiri dan menahan walau agak terseret kebelakang.
"Aniki, apa tidak apa-apa membiarkan gadis kuncir dua itu?" tanya Dante.
"Sudahlah, diam dan tonton saja. Kita tak perlu melakukan sesuatu yg tidak semestinya." jawab Ray.
"Walau berkata seperti itu, tapi nampaknya Aniki juga seperti tidak tahan melihatnya." ujar Dante.
Kedua major sudah mengepung Miku lagi. Mereka ada di depan dan belakang Miku. Miku sudah tak sanggup bergerak lagi. Kedua major itu pun langsung melancarkan serangan mereka. Pukulan dari atas tepat mengarah pada Miku.
"Ti-tidak mungkin, apakah ini akhir bagiku? Aku tak boleh mati dulu. Padahal aku belum menikah dengan Kaito-senpai. Aku mesti gimana? Kumohon seseorang tolong aku!" teriak Miku dalam hatinya sambil memejamkan mata tak sanggup melihat keadaan sekitar.
Miku hanya berdiri terpaku bersiap menerima serang kedua major itu. Namun tiba-tiba ada api berwarna merah dan biru muncul menghalangi para major dari Miku. Saking kuatanya tekanan api itu, kedua major itu sampai mundur kebelakang beberapa langkah.
"Ada apa ini semuanya terasa hangat? Apa yg sebenarnya terjadi?" ucap Miku dalam hati sambil perlahan membuka matanya.
"Maaf kami terlambat, Miku-chan." ucap seorang gadis memakai pakaian serba merah yg di selimuti api merah.
"Soalnya kami bermasalah dengan manajer saat hendak ijin keluar, Hatsune." sambung laki-laki memakai pakaian putih dengan syal biru dan diselimuti api biru.
"Lihat, dia punya bantuannya sendiri. Kita tak perlu membantunya." ujar Ray pada Dante.
Dante pun tampak terkejut dengan kedatangan mereka. Mereka bisa memaksa kedua major mundul beberapa langkah hanya dengan kedatangan mereka.
"Kami akan melindungimu!" ucap laki-laki dan gadis itu yg tak lain adalah Kaito dan Meiko yg sudah berubah.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】