Memo, chapter 94 - Hantu & Uji Nyali 8
Akhirnya sekarang giliran Fajar yang merupakan peserta terakhir untuk melakukan uji nyali. Ia duduk sendirian didalam kegelapan dengan lilin yang tinggal sedikit lagi dan sampah-sampah bekas makanan ringan dan minuman kaleng yang telah dihabiskan oleh Arya.
"Beneran nih? Aku beneran ditinggal sendirian disini saat orang lain makan nasi goreng yang enak?" gerutu Fajar dalam benaknya.
"Sialan!! Kenapa pula aku mesti giliran terakhir!!! Oh iya juga, kan yang minta giliran terakhir itu aku??!!" keluh Fajar dalam hatinya.
"Lagipula apa-apaan dengan aturan uji nyali yang disampaikan senior berkacamata itu!?" lanjut Fajar kemudian mengingat perkataan Chelsea sebelum uji nyalinya dimulai.
"Jika kamu merasa sudah tidak sanggup untuk melanjutkan uji nyali ini, maka silahkan melompat dan kemudian bersalto 3 kali diudara sebelum mendarat lagi ditanah." ujar Chelsea dalam ingatan Fajar.
"Itu tidak mungkin lah! Aku mana mungkin bisa bersalto 3 kali diudara hanya dengan sekali lompatan!? Atlet lompat indah saja butuh ketinggian tertentu untuk bisa melakukannya!" protes Fajar dalam benaknya sambil memukuli lantai dengan kesal.
Saat Fajar memukuli lantai, ia melihat bungkus makanan ringan kosong dan kemudian terkejut menyadari sesuatu.
"Benar juga. Aku pura-pura kesurupan saja, pasti mereka akan segera menjemputku. Hahaha.. aku memang jenius! Fajar gitu lho!" ucap Fajar dalam hatinya..
Kemudian Fajar pun pura-pura menggeram dan menatap tajam ke arah kamera. Ia mengamuk di ruangan itu dan menjatuhkan kursi serta meja rusak yang tak terpakai yang ada disana. Bahkan ia juga bertingkah layaknya seekor macan yang sedang kelaparan dan bersiap mencabik apapaun yang akan muncul dihadapannya.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan muncul lah Andri yang berjalan masuk ke ruangan tersebut.
"Yes! Sepertinya berhasil." ucap Fajar dalam hatinya tampak senang.
Tapi ada yang aneh, Andri malah berjalan mendekati kamera.
"Maaf sebelumnya, ternyata aku lupa menghidupkan kameranya. Maaf ya.." ucap Andri.
"Eeehhh!!?? Dia lupa menghidupkan kameranya??!!! Lalu sedari tadi ngapain aku mesti pura-pura kesurupan segala!?" gerutu Fajar dalam hatinya terlihat terkejut.
"Kalau begitu silahkan dimulai lagi uji nyalinya. Aku akan kembali ke ruang monitor." lanjut Andri kemudian melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut.
"T-tunggu.." ucap Fajar namun sayangnya Andri sudah jauh jadi tak bisa mendengarnya.
Fajar pun tertunduk lesu penuh kesuraman di lantai yang dingin itu. Fajar kecewa sekaligus malu tak tertahan akibat melakukan hal yang gila itu, meskipun tak ada orang yang benar-benar melihatnya.
"Hari ini benar-benar buruk banget bagiku. Ini tak mungkin jadi lebih buruk lagi kan?" tukas Fajar sambil menunduk dalam kesuraman.
Dan tiba-tiba saja lilin pun padam. Ternyata lilinnya sudah habis dan kini Fajar benar-benar dalam kegelapan total.
"Hhyyyaaaa!!!" teriak Fajar karena kaget dan ketakutan.
Fajar secara reflek langsung meringkuk bersujud dilantai karena ketakutan. Dia gemetaran dengan wajah panik seperti sedang menahan kebelet buang air besar.
"Ba-bagaimana ini? Ini gelap banget. Aku tak bisa melihat apa-apa. Mungkin sebaiknya aku keluar lewat jendela saja ya. Ya, benar. Soalnya disaat begini diluar lebih terang jadi jendela bakalan kelihatan jelas. Peduli amat dengan uji nyali. Gagal ya gagal deh." pikir Fajar ketika bersujud dilantai.
Namun ketika ia baru saja berniat melakukannya, tiba-tiba saja terdengar sebuah nyanyian yang samar-samar. Itu adalah sebuah lagu, yang walau tak begitu jelas namun ia kenal dari alunan melodinya kalau itu adalah lagu Lingsir Wengi.
Seketika Fajar pun langsung menutup telinganya berusaha agar tidak mendengar lagu tersebut.
"Ini tidak beneran kan? Ini cuma khayalan ku saja kan?" terka Fajar sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya rapat-rapat.
Akan tetapi karena suasana disekitarnya sangat sangat sepi, maka meski telinganya ditutup, lagu itu tetap terdengar ke telinga Fajar.
"Mbak kunti atau siapapun itu, tolong jangan ganggu ya. Aku ini anak baik lho, jadi jangan gangguin." ujar Fajar dalam panik.
"Oh iya, setan kan doyannya godain orang bener, kenapa aku bisa lupa!?" lanjut Fajar.
"Emak, jika Fajar punya salah mohon maafin Fajar ya mak. Sepertinya Fajar akan berakhir disini mak. Maafin Fajar mak." ucap Fajar dalam hatinya sudah pasrah.
Tapi tak lama kemudian terdengarlah suara adzan. Itu adalah suara Ikhsan yang mengumandangkan adzan subuh dari mesjid sekolah. Beberapa saat setelahnya datanglah Chelsea dan Andri ke ruangan tempat Fajar berada.
"Selamat! Sepertinya kamu sudah berha-" ucap Chelsea namun terpotong karena kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ia melihat Fajar sedang berlutut sambil membuka tangannya seperti sedang berdoa.
"Meski ku rapuh~ dalam langkah~ kadang tak setia~ kepadaMU~ namun cinta~ dalam jiwa~ hanyalah padaMU~" ucap Fajar dengan nada seperti menyanyi.
Sementara Andri mendekati kamera dan kemudian menghentikan proses merekam nya. Lalu ia menyadari ada sebuah ponsel diatas meja didekat stand kamera tersebut.
"Hmm.. kenapa aku bisa lupa. Aku kan meminjam ponsel ketua DKM untuk menggantikan senter yang baterainya sudah habis.." ucap Andri dalam benaknya.
"Mh?? Alarm sholat subuh?" lanjut Andri menyadari tampilan di ponsel tersebut.
Catatan hari ini:
Disaat kita lupa kepadaNYA, maka saat itulah kita mesti mulai kembali mengingatNYA.
"Beneran nih? Aku beneran ditinggal sendirian disini saat orang lain makan nasi goreng yang enak?" gerutu Fajar dalam benaknya.
"Sialan!! Kenapa pula aku mesti giliran terakhir!!! Oh iya juga, kan yang minta giliran terakhir itu aku??!!" keluh Fajar dalam hatinya.
"Lagipula apa-apaan dengan aturan uji nyali yang disampaikan senior berkacamata itu!?" lanjut Fajar kemudian mengingat perkataan Chelsea sebelum uji nyalinya dimulai.
"Jika kamu merasa sudah tidak sanggup untuk melanjutkan uji nyali ini, maka silahkan melompat dan kemudian bersalto 3 kali diudara sebelum mendarat lagi ditanah." ujar Chelsea dalam ingatan Fajar.
"Itu tidak mungkin lah! Aku mana mungkin bisa bersalto 3 kali diudara hanya dengan sekali lompatan!? Atlet lompat indah saja butuh ketinggian tertentu untuk bisa melakukannya!" protes Fajar dalam benaknya sambil memukuli lantai dengan kesal.
Saat Fajar memukuli lantai, ia melihat bungkus makanan ringan kosong dan kemudian terkejut menyadari sesuatu.
"Benar juga. Aku pura-pura kesurupan saja, pasti mereka akan segera menjemputku. Hahaha.. aku memang jenius! Fajar gitu lho!" ucap Fajar dalam hatinya..
Kemudian Fajar pun pura-pura menggeram dan menatap tajam ke arah kamera. Ia mengamuk di ruangan itu dan menjatuhkan kursi serta meja rusak yang tak terpakai yang ada disana. Bahkan ia juga bertingkah layaknya seekor macan yang sedang kelaparan dan bersiap mencabik apapaun yang akan muncul dihadapannya.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan muncul lah Andri yang berjalan masuk ke ruangan tersebut.
"Yes! Sepertinya berhasil." ucap Fajar dalam hatinya tampak senang.
Tapi ada yang aneh, Andri malah berjalan mendekati kamera.
"Maaf sebelumnya, ternyata aku lupa menghidupkan kameranya. Maaf ya.." ucap Andri.
"Eeehhh!!?? Dia lupa menghidupkan kameranya??!!! Lalu sedari tadi ngapain aku mesti pura-pura kesurupan segala!?" gerutu Fajar dalam hatinya terlihat terkejut.
"Kalau begitu silahkan dimulai lagi uji nyalinya. Aku akan kembali ke ruang monitor." lanjut Andri kemudian melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut.
"T-tunggu.." ucap Fajar namun sayangnya Andri sudah jauh jadi tak bisa mendengarnya.
Fajar pun tertunduk lesu penuh kesuraman di lantai yang dingin itu. Fajar kecewa sekaligus malu tak tertahan akibat melakukan hal yang gila itu, meskipun tak ada orang yang benar-benar melihatnya.
"Hari ini benar-benar buruk banget bagiku. Ini tak mungkin jadi lebih buruk lagi kan?" tukas Fajar sambil menunduk dalam kesuraman.
Dan tiba-tiba saja lilin pun padam. Ternyata lilinnya sudah habis dan kini Fajar benar-benar dalam kegelapan total.
"Hhyyyaaaa!!!" teriak Fajar karena kaget dan ketakutan.
Fajar secara reflek langsung meringkuk bersujud dilantai karena ketakutan. Dia gemetaran dengan wajah panik seperti sedang menahan kebelet buang air besar.
"Ba-bagaimana ini? Ini gelap banget. Aku tak bisa melihat apa-apa. Mungkin sebaiknya aku keluar lewat jendela saja ya. Ya, benar. Soalnya disaat begini diluar lebih terang jadi jendela bakalan kelihatan jelas. Peduli amat dengan uji nyali. Gagal ya gagal deh." pikir Fajar ketika bersujud dilantai.
Namun ketika ia baru saja berniat melakukannya, tiba-tiba saja terdengar sebuah nyanyian yang samar-samar. Itu adalah sebuah lagu, yang walau tak begitu jelas namun ia kenal dari alunan melodinya kalau itu adalah lagu Lingsir Wengi.
Seketika Fajar pun langsung menutup telinganya berusaha agar tidak mendengar lagu tersebut.
"Ini tidak beneran kan? Ini cuma khayalan ku saja kan?" terka Fajar sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya rapat-rapat.
Akan tetapi karena suasana disekitarnya sangat sangat sepi, maka meski telinganya ditutup, lagu itu tetap terdengar ke telinga Fajar.
"Mbak kunti atau siapapun itu, tolong jangan ganggu ya. Aku ini anak baik lho, jadi jangan gangguin." ujar Fajar dalam panik.
"Oh iya, setan kan doyannya godain orang bener, kenapa aku bisa lupa!?" lanjut Fajar.
"Emak, jika Fajar punya salah mohon maafin Fajar ya mak. Sepertinya Fajar akan berakhir disini mak. Maafin Fajar mak." ucap Fajar dalam hatinya sudah pasrah.
Tapi tak lama kemudian terdengarlah suara adzan. Itu adalah suara Ikhsan yang mengumandangkan adzan subuh dari mesjid sekolah. Beberapa saat setelahnya datanglah Chelsea dan Andri ke ruangan tempat Fajar berada.
"Selamat! Sepertinya kamu sudah berha-" ucap Chelsea namun terpotong karena kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ia melihat Fajar sedang berlutut sambil membuka tangannya seperti sedang berdoa.
"Meski ku rapuh~ dalam langkah~ kadang tak setia~ kepadaMU~ namun cinta~ dalam jiwa~ hanyalah padaMU~" ucap Fajar dengan nada seperti menyanyi.
Sementara Andri mendekati kamera dan kemudian menghentikan proses merekam nya. Lalu ia menyadari ada sebuah ponsel diatas meja didekat stand kamera tersebut.
"Hmm.. kenapa aku bisa lupa. Aku kan meminjam ponsel ketua DKM untuk menggantikan senter yang baterainya sudah habis.." ucap Andri dalam benaknya.
"Mh?? Alarm sholat subuh?" lanjut Andri menyadari tampilan di ponsel tersebut.
Catatan hari ini:
Disaat kita lupa kepadaNYA, maka saat itulah kita mesti mulai kembali mengingatNYA.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.