Memo, chapter 100 - Festival Olahraga, bagian 1
Pekan raya olahraga sekolah SMA Negeri Parahyangan telah dimulai. Arya dan kawan-kawan telah siap di lapangan sepak bola yang telah disulap menjadi sebuah arena festival olahraga tersebut. Tampak seluruh murid sekolah mulai yang dari kelas 10 sampai yang kelas 12 semuanya mengenakan seragam olahraga mereka masing-masing. Berbeda dengan kelas 10, kelas 11 dan kelas 12 memiliki seragam olahraga khas kelas mereka masing-masing yang berbeda satu sama lain. Sehingga seragam olahraga mereka juga bisa berfungsi sebagai seragam tim juga.
"Sepertinya hanya kelas kita saja yang seragamnya biasa banget ya." keluh Fajar.
"Ya bukan hanya kita saja sih. Seluruh anak kelas 10 juga kan memang seragam olahraga nya sama. Karena ini memang seragam olahraga khas sekolah." ungkap Digna.
"Iya, katanya kita baru diperbolehkan memiliki seragam khas kelas pas sudah naik ke kelas 11 kan. Jadi mau bagaimana lagi kita cuma bisa memakai yang ini saja." ujar Arya menambahkan.
"Tapi kalau gini apa kita takkan tertukar dengan kelas 10 yang lain?" tanya Fajar.
"Memangnya bagaimana bisa ada yang tertukar? Ya kecuali kalau wajahnya pasaran mungkin saja sih." ujar Arya.
"Memangnya wajah yang seperti apa yang pasaran itu?" tanya Digna.
"Ya yang seperti pasaran." jawab Arya sambil berpose seperti sedang menggotong sesuatu.
"Yang seperti pasaran? Memangnya ada?" sahut Digna.
"Ya ada lah. Kan suka ada tuh wajah-wajah yang membuat kita ngeri dan ingin mendoakan semoga ia mendapatkan kehidupan yang lebih baik." jelas Arya.
"Maksudmu itu!!?? Maksudmu wajah yang saking menyedihkannya membuatmu jadi merasa iba?!" tukas Digna dengan terkejut.
"Ya yang seperti itu memang ada didunia ini." ujar Fajar.
"Kamu jangan ikut-ikutan!" bentak Digna.
"Eh, bukannya tadi aku yang mulai ya.. Kok aku malah tak boleh ikutan?" ucap Fajar dalam hatinya tampak syok.
"Ngomong-ngomong kapan acaranya dimulai. Kita sudah berdiri disini sejak tadi, tapi tak ada tanda acaranya akan dimulai. Kemana nih para panitianya?" tanya Fajar sambil melihat-lihat ke sekitarnya.
"Lah, sudah dimulai dari tadi kok." jawab Arya.
"Eh? Kapan?" tanya Fajar lagi dengan bingung.
"Emangnya daritadi kamu ngapain saja? Kok bisa tidak ngeuh kalau acaranya sudah dimulai sejak tadi?" gerutu Arya.
"Eeehh?!! Kok acaranya dimulai tanpa bilang-bilang dulu padaku!? Harusnya bilang dulu dong kalau mau dimulai tuh!" protes Fajar.
"Memangnya kamu kira kamu tuh siapa sampai panitia mesti mengatakannya dahulu padamu sebelum memulai acara?" keluh Digna.
"Tapi kalau begini aku jadi tidak bisa melihat kecantikan kak Sindy ketika memberikan kata sambutan sebagai ketua panitia acara." ujar Fajar dengan nada kecewa.
"Walau memperhatikan sekalipun, sepertinya kamu takkan bisa melihatnya tuh." sahut Arya.
"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Fajar.
"Karena yang memberikan kata sambutan tadi kan senior Rere." jawab Arya.
"Apa!!?? Bukannya disini dibilang kalau ketua panitia acaranya itu adalah wakil ketua OSIS!" ujar Fajar sambil mengeluarkan sebuah brosur dari sakunya.
"Dapat darimana tuh brosur? Perasaan mereka tidak ngeluarin brosur untuk acara ini." ungkap Digna.
"Aku mencetaknya sendiri." jawab Fajar.
"Hasil cetakanmu sendiri?! Kamu serius!?" ucap Digna kaget dengan jawaban Fajar tersebut.
"Sebenarnya seberapa semangatnya kamu sampai nyetak brosurmu sendiri?" komentar Arya lalu menghela napasnya.
"Dan disini juga disebutkan kalau akulah yang akan jadi MVP acara ini." sambung Fajar.
Arya dan Digna pun hanya bisa menganga dengan wajah syok karean telah kehilangan kata-kata mereka untuk mengomentari tingkah temannya itu.
"Tunggu, kenapa kalian malah diam saja? Apa kalian saking kagetnya sampai tak bisa berkata apa-apa?" tukas Fajar sambil tersenyum.
"Arya!" panggil Shinta dari depan.
"Hei Shinta, kenapa cuma Arya saja yang disapa? Sapa kami juga dong." protes Fajar.
"Hah? Siapa kalian?" sahut Shinta dengan nada bengis.
"Eehh.. kita kan sekelas, masa lupa. Fajar yang ganteng ini sulit dilupakan lho." ujar Fajar.
"Oh.." sahut Shinta seperti sudah mengerti.
"Akhirnya ingat juga." ucap Fajar.
"Kalian berdua pasti nyasar ya. Kalian dari sekolah mana emangnya?" tukas Shinta.
"Kita dikira anak nyasar!!?? Oi Digna jangan diam saja, kita dikira bocah nyasar lho." komentar Fajar tampak keberatan.
Namun ketika menengok, Digna malah terlihat sibuk mengobrol dengan teman sekelasnya yang lain.
"Digna!!??" panggil Fajar.
"Oh maaf, aku sedang sibuk mendiskusikan strategi pertandingan futsal. Pembicaraan tak penting itu aku serahkan saja padamu ya." jawab Digna dengan santainya.
"Jadi cuma aku sendirian!!??" ucap Fajar dengan syok.
"Woi Shinta, aku Fa-" ujar Fajar sambil menoleh lagi ke arah Shinta.
Namun ia mendapati Shinta malah asik mengobrol dengan Arya dan mengabaikannya.
"-srah saja dengan kesendirian ini." sambung Fajar dalam hatinya dengan syok.
"Apa tak ada didunia ini perempuan yang peduli padaku." keluh Fajar tampak suram.
Ketika itu tampak seseorang naik ke atas podium dan meraih microphone. Itu adalah ketua seksi keamanan OSIS, Rere Eka Widya yang memang sekarang menjadi ketua panitia acara tersebut. Dan nampaknya ia naik ke podium untuk memberikan sebuah pengumuman atau semacamnya.
"Sudah kuduga, aku memang tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Tapi mau bagaimana lagi.." gerutu Rere sebelum menyalakan microphone ditangannya itu.
"Sebentar lagi acara pertama akan segera dimulai. Kepada setiap murid yang hendak ikut serta diharap untuk segera bersiap-siap di arena pertandingan yang hendak diikuti masing-masing dari kalian supaya nantinya lebih mudah. Dan ingat untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan turun tangan menghukum kalian." ujar Rere melalui pengeras suara dengan nada preman.
Mendengar itu entah kenapa anak kelas 11 dan kelas 12 tiba-tiba gemetar ketakutan. Pemandangan itu pun membuat bingung anak kelas 10.
"Segitu saja. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan oleh pembawa acara yang baru saja ku tunjuk." lanjut Rere kemudian menunjuk ke arah kerumunan siswa kelas 10.
Tepatnya itu adalah kelompok dari kelas X - 1. Dan yang ditunjuk oleh Rere saat ini adalah Arya yang memang sedang berada disana. Arya yang merasa ditunjuk oleh Rere terlihat terkejut dan kebingungan. Dia menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.
"Iya kamu!" ucap Rere seolah mengerti arti isyarat Arya itu.
"Dia serius kah ingin aku yang menjadi pembawa acaranya?!" ucap Arya dalam hatinya karena kaget tak menduganya.
"Selamat." ucap Fajar sambil menyentuh pundak Arya.
"Selamat matamu belekan! Ini sih namanya aku disuruh masuk kandang harimau kan! Aku tak pandai berkomunikasi di depan orang banyak tapi aku malah ditunjuk menjadi pembawa acara. Apa maksudnya ini?" gerutu Arya.
"Jangan senang dulu deh kamu. Aku nanti juga bakalan jadi populer dikalangan cewek seperti dirimu dan bakalan ditunjuk jadi MC. Lihat saja!" bentak Fajar.
"Siapa yang senang!? Aku kesal tahu! Matamu beneran ketutup belek nih sepertinya." protes Arya dengan jengkel.
"Ngapain malah ngobrol disana? Cepat kemari! Oh ya, kau boleh mengajak seseorang untuk menjadi partner mu sebagai pembawa acara." ujar Rere.
"Be-begitukah. Kalau begitu.. Fajar! Dengan kewenangan yang telah diberikan kepadaku, aku akan menunjukmu menjadi partner ku sebagai pembawa acara pekan raya olahraga selama sepekan kedepan. Bagaimana? Apakah kamu menerimanya?" ungkap Arya dengan nada seperti sedang melantik jabatan resmi.
"Tentu saja hamba menerimanya dengan senang hati. Hamba akan melakukan tugas yang telah dititahkan kepada hamba ini dengan sepenuh hati hamba." jawab Fajar selayaknya seorang pendekar yang dilantik menjadi kesatria kerajaan.
Orang-orang disekitar mereka berdua pun lantas memperhatikan ke arah dua orang konyol itu semua. Mereka menatap aneh kepada Arya dan Fajar karena kelakuan tak wajar tersebut yang memang terkesan lebay.
"Baguslah, baguslah.. sekarang cepatlah kemari dan lakukan tugas kalian berdua." ujar Rere.
"Baik, nyai!" sahut Arya dan Fajar bersamaan sambil memberi hormat.
"Siapa yang kalian panggil nyai!!?? Panggil saja kakak lah!" protes Rere merasa kesal.
"Baik, kak lah!" balas mereka berdua.
"Siapa yang kalah!!? Aku menang lah pasti kalau ikutan mah!" bentak Rere.
"Eehhh.." ucap orang-orang dari OSIS.
"Apa-apaan dengan kesalahpahaman pengucapan kata berusan." komentar Sindy sambil tersenyum heran.
Arya dan Fajar kini berada di tenda pembawa acara pekan raya olahraga untuk melaksanakan tugas mereka. Kedua sahabat itu tampak duduk dengan canggung karena mereka ada di satu-satunya tenda yang ada disitu. Sementara yang lain tampak panas-panasan dibawah terik matahari pagi. Bahkan para guru pun tampak berdiri berbaris disamping barisan anggota OSIS. Wajah grogi terlihat jelas di raut wajah kedua pemuda yang jadi pembawa acara tersebut.
"Kenapa cuma kita yang berada diteduhin?" tanya Fajar pada teman disebelahnya.
"Mana ku tahu. Jangan tanya aku lah." jawab Arya.
"Kalau begini sih mendingan kita tidak ditendain kan." tukas Fajar sambil mengusap keringatnya.
"Iya nih. Rasanya entah kenapa lebih panas daripada diluar tenda." tambah Arya.
Fajar kemudian menghidupkan michrophone nya.
"Ehem! Selamat pagi semua! Selamat datang diacara Pekan Raya Olahraga dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bagaimana kabar kalian? Kalian tidak sakit kan?" ujar Fajar membuka acara.
"Ya iya lah. Mana ada orang sakit ikutan acara olahraga seperti ini." balas Arya.
"Kalau kalian merasa sakit, kepala pusing, mual, kadas, kurap, panu, dan kutu air.." lanjut Fajar.
"Lah penyakit gituan ngapain ikut disebutin." tambah Arya.
"..segera melapor ke anggota PMR atau guru untuk mendapat perawatan." sambung Fajar.
"Mereka tidak bisa nyembuhin yang kamu sebutkan tadi! Ya kecuali yang pertama dan kedua sih mungkin." tukas Arya.
"Kakak PMR yang cantik! Tolong sembuhin daku dong! Kepala daku pusing nih." ungkap Fajar ke arah anggota PMR.
Tapi meski menyebut cantik, faktanya tak ada satupun anggota perempuan di barisana anggota PMR yang sedang berjaga disana saat ini.
"Mereka semua laki tuh." ujar Arya dengan senyum mengejek.
"Apa?! Bagaimana bisa??!! Kenapa malah bandot semua yang kebagian tugas berjaga dilapangan?! Merusak pemandangan!" ucap Fajar dengan blak-blakan.
Mendengar itu, para anggota PMR itu pun tampak mengeluarkan aura membunuh yang kelam. Sorot mata mereka yang tadinya tenang, kini berubah menjadi bengis dan kejam layaknya hewan buas yang kelaparan. Postur tubuh mereka yang tadinya agak lemas akibat terus berdiri dibawah panas matahari kini berubah menjadi sangar dan mengintimidasi.
"Baiklah. Untuk hari ini kalau dia terkena cedera atau semacamnya, kita takkan merawatnya." ujar salah seorang anggota PMR.
"Setuju." sahut anggota yang lainnya.
"Kelihatannya mereka marah tuh." ujar Arya pada Fajar.
"Beneran? Dasar laki-laki baperan." tukas Fajar.
"Woy!" sahut Arya mencoba menegur.
"Oke, sampai lusa, kalau dia sakit kita abaikan dia." ujar anggota PMR.
"Mereka jadi makin marah tuh." ungkap Arya melihat tatapan tajam dari anggota PMR.
Melihatnya juga, Fajar pun kaget karena seolah tiba-tiba barisan anggota PMR itu sekarang dipenuhi oleh orang-orang sangar berwajah preman dan berbadan tegap berotot.
"Ma-maafkan kami ya, om. Kami cuma bercanda." ucap Fajar tiba-tiba dengan nada lembut.
"Haahh? Om?? Oke, kita blacklist dia dari daftar pasien selama seminggu." ujar anggota PMR dengan nada jengkel.
"Mereka malah makin marah??!!" ucap Arya.
"Terus gimana dong?" tanya Fajar dengan panik.
"Ayo kita mulai saja acaranya! Kita mulai!" sahut Arya yang juga nampak panik.
"Oke kita mulai sekarang. Acara pertama." tambah Fajar yang sama paniknya.
Fajar kemudian melihat ke alah kertas yang ada diatas meja dihadapannya. Di kertas itu ada daftar susunan acara yang hendak diselenggarakan di festival olahraga tersebut.
"Run to the hill! Hari pertama ini, kita akan melakukan perlombaan yang sesuai dengan tema nya yaitu lari. Semua yang berhubungan dengan barlari akan dilombakan hari ini." ujar Fajar.
"Ya tidak termasuk dengan yang lari dari kenyataan sih." tambah Arya.
"Mari kita mulai pestanya!!!" ucap Fajar dengan penuh semangat.
Lomba dengan tema lari pertama adalah lomba lari jarak pendek. Tampak yang menjadi perwakilan kelas X-1 adalah Shinta yang memang jago dalam bidang olahraga.
"Aku akan tunjukkan kemampuanku sebenarnya. Aku takkan menahan diri." ujar Shinta dalam benaknya memberikan motivasi untuk dirinya.
Tampak yang berlomba adalah 5 kelas dari kelas 10 yang diacak. Para peserta tampak kebanyakan adalah laki-laki, dan hanya Shinta saja satu-satunya peserta perempuannya. Mereka kini sudah bersiap di arena lari jarak pendek dengan posisi start jongkok mereka.
"Bersedia, siap.. mula!" ucap pemberi aba-aba.
Dalam sekejap, tiba-tiba Shinta seakan menghilang dari tempatnya berada dan langsung berada digaris finish. Para peserta laki-laki tampak terkejut dan masih nungging di garis start dengan mulut terbuka.
"Apa yang barusan terjadi!?" ucap Fajar yang juga terkejut dengan kejadian tersebut.
"Sepertinya peserta dari kelas X-1 barusan berlari dengan secepat kilat sampai-sampai tak ada satupun dari kita maupun peserta yang lain mampu menyadarinya. Dan dari penglihatan kita seakan peserta dari kelas X-1 tersebut seperti tiba-tiba berada di garis finish." jelas Arya.
"Memangnya yang begitu bisa terjadi? Mau secepat apapun kita berlari tak mungkin terlihat seperti menghilang seperti tadi." sanggah Fajar.
"Tidak, jika kita benar-benar memperhatikan, sebenarnya dia benar-benar berlari lho. Dia tidak menghilang seperti kelihatannya." bantah Arya.
"Ba-bagaimana bisa?" tanya Fajar.
"Setiap manusia pasti pernah lengah. Ada saat-saat dimana seseorang menerima informasi dengan lambat dan kehilangan kepekaan mereka terhadap kejadian disekitarnya. Dan itulah yang terjadi ketika balap lari barusan." jawab Arya.
"Apa maksudnya itu?" tanya Fajar lagi.
"Itulah yang kumaksud dengan kelengahan tadi. Dan itu memang kadang terjadi ketika pertandingan seperti ini. Apalagi ketika kita meremehkan lawan kita dan terlalu percaya diri pada kemampuan kita dan mengabaikan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada kita." jelas Arya.
"Oh begitu rupanya. Ini seperti seseorang yang banyak bengong dan tak menyadari kalau makanan atau minumannya diambil orang ya." terka Fajar tampak sudah mengerti.
"Ya seperti itulah kira-kira." sahut Arya.
"Ngomong-ngomong mau sampai kapan mereka nungging disana?" komentar Fajar ketika melihat para peserta lari lain yang bertanding dengan Shinta tampak masih berada di posisi start mereka.
"Entahlah.. mungkin mereka sedang melakukan pemanasan dulu." balas Arya.
"Benar sekali kita sedang pemanasan!" ucap salah seorang peserta.
"Ayo kita cari tahu siapa yang lebih jago push up!" sahut yang disebelahnya.
"Oke ayo kita lomba push up!" balas yang ada disebelahnya lagi.
"Push up kah, boleh juga!" ungkap peserta terakhir.
Dan mereka pun melakukan push up bersama mengabaikan fakta kalau yang mereka ikuti sekarang adalah lomba lari jarak pendek.
"Dan sekarang mereka malah push up!" ucap Fajar mengomentari kejadian itu.
"Yang kalau dalam bahasa malay sebutannya itu 'perkosa bumi'." tambah Arya.
"Apa!? Jadi saat ini mereka sedang berlomba-lomba menghamili planet bumi gitu ya!?" tukas Fajar dengan terkejut.
"Ya kira-kira seperti itulah." sahut Arya.
"Sungguh sangat perkasa sekali! Benar-benar tak disangka sama sekali keempat peserta lomba lari kita ini saat ini sedang mencoba mengawini bumi dengan semangatnya." ungkap Fajar.
Para penonton pun tampak tertawa dibuatnya.
"Entah kenapa rasanya ini malah jadi lebih memalukan.." ucap para peserta yang sedang push up itu dengan suram menghentikan kegiatan push up mereka.
"Wah sepertinya seru juga nih disini." ucap Sindy masuk diantara tempat duduk Arya dan Fajar.
"Senior!?", "Kak Sindy?!" ucap Arya dan Fajar bersamaan karena kaget akan kedatangan Sindy.
"Halo kalian berdua. Terima kasih sudah mau jadi pembawa acara pengganti. Karena pembawa acara kita sedang sakit jadi aku menyuruh Rere untuk menunjuk penggantinya. Dan tak kusangka kalian berdua yang menggantikannya." ujar Sindy.
"Eh, jadi aku ditunjuk oleh senior Rere bukan karena dia menjahiliku?" tukas Arya.
"Tentu saja tidak kan. Mana mungkin kita menunjuk pembawa acara sembarangan." jawab Sindy.
"Memangnya siapa yang tadinya mau dijadikan pembawa acara?" tanya Fajar.
"Ketua OSIS." jawab Sindy.
"Ketua OSIS!?" ucap Arya dan Fajar terkejut.
"Ya. Tapi karena tiba-tiba sakit, dia jadi tidak bisa hadir dan kalian berdualah yang ditunjuk untuk menggantikannya saat ini." ujar Sindy.
"Be-begitukah." sahut Arya dengan sedikit berkeringat.
"Tapi tadi kamu hebat sekali, Arya. Acaranya jadi seru karena kamu lucu sekali. Seperti yang diharapkan dari juniorku." ujar Sindy memuji Arya.
"Bagaimana denganku?" tanya Fajar sambil menunjuk dirinya.
"Sekarang aku jadi tertarik untuk jadi pasanganmu." sambung Sindy pada Arya.
"Pa-pasangan??!!" ucap Fajar kaget ketika mendengarnya.
"Ya aku tidak keberatan sih. Tapi bagaimana dengan Fajar?" balas Arya pada Sindy.
"Kamu tidak keberatan!!??? Ya tentu saja sih kan. Tapi kenapa bawa-bawa aku segala!? Jangan bilang kamu kasihan padaku! Apa aku memang semengenaskan itu untukmu!?" tukas Fajar.
"Be-benar juga. Kalau aku disini, dia kasihan kan. Dapat peran setan." ujar Sindy.
"Iya kan.." sahut Arya.
"Jangan mengabaikanku!!!" teriak Fajar dengan kesal.
"Sindy, kau ngapain disini?" tanya Rere datang menghampiri Sindy.
"Rere, apa kabar?" sahut Sindy ketika melihat Rere.
"Apa kabar jidatmu! Bukannya kau harusnya ada ruangan OSIS. Kenapa malah berkeliaran disini?" protes Rere.
"Tapi mengerjakan dokumen itu membosankan. Dan terdengar dari pengeras suara, sepertinya disini lumayan seru juga. Jadi aku kesini saja." jawab Sindy.
"Tapi jika bukan kau yang mengerjakan dokumennya, siapa lagi? Daripada panas-panasan disini bukannya lebih baik di dalam ruang OSIS. Disana juga ber-AC jadi lebih enak." ungkap Rere.
"Walau begitu, tetap saja kan sepi kalau cuma sendirian." ujar Sindy.
"Baiklah, baiklah, setidaknya biarkanlah aku yang menemanimu." sahut Rere.
"Mau bolos tugas?" tukas Sindy.
"Bukanlah! Itu cuma supaya aku bisa mengawasimu agar tidak bermalas-malasan ataupun kabur lagi." tegas Rere tampak wajahnya sedikit memerah.
"Benarkah..??" ucap Sindy dengan nada meragukan Rere.
"Jangan coba mengalihkan topik, ayo ikut saja denganku kembali ke ruang OSIS. Dokumen yang mesti kau urus masih numpuk tuh." ujar Rere yang kemudian menarik tangan Sindy dan membawanya pergi.
Arya dan Fajar hanya menatap dengan bengong pada kedua sesniornya nya itu. Mereka tampak heran dan kemudian saling memberi isyarat kalau mereka sama-sama bingung dan berniat untuk mengabaikannya saja.
"Oke kita mulai ke pertandingan selanjutnya!" ucap Fajar dengan semangat.
[Bersambung ke part selanjutnya..]
"Sepertinya hanya kelas kita saja yang seragamnya biasa banget ya." keluh Fajar.
"Ya bukan hanya kita saja sih. Seluruh anak kelas 10 juga kan memang seragam olahraga nya sama. Karena ini memang seragam olahraga khas sekolah." ungkap Digna.
"Iya, katanya kita baru diperbolehkan memiliki seragam khas kelas pas sudah naik ke kelas 11 kan. Jadi mau bagaimana lagi kita cuma bisa memakai yang ini saja." ujar Arya menambahkan.
"Tapi kalau gini apa kita takkan tertukar dengan kelas 10 yang lain?" tanya Fajar.
"Memangnya bagaimana bisa ada yang tertukar? Ya kecuali kalau wajahnya pasaran mungkin saja sih." ujar Arya.
"Memangnya wajah yang seperti apa yang pasaran itu?" tanya Digna.
"Ya yang seperti pasaran." jawab Arya sambil berpose seperti sedang menggotong sesuatu.
"Yang seperti pasaran? Memangnya ada?" sahut Digna.
"Ya ada lah. Kan suka ada tuh wajah-wajah yang membuat kita ngeri dan ingin mendoakan semoga ia mendapatkan kehidupan yang lebih baik." jelas Arya.
"Maksudmu itu!!?? Maksudmu wajah yang saking menyedihkannya membuatmu jadi merasa iba?!" tukas Digna dengan terkejut.
"Ya yang seperti itu memang ada didunia ini." ujar Fajar.
"Kamu jangan ikut-ikutan!" bentak Digna.
"Eh, bukannya tadi aku yang mulai ya.. Kok aku malah tak boleh ikutan?" ucap Fajar dalam hatinya tampak syok.
"Ngomong-ngomong kapan acaranya dimulai. Kita sudah berdiri disini sejak tadi, tapi tak ada tanda acaranya akan dimulai. Kemana nih para panitianya?" tanya Fajar sambil melihat-lihat ke sekitarnya.
"Lah, sudah dimulai dari tadi kok." jawab Arya.
"Eh? Kapan?" tanya Fajar lagi dengan bingung.
"Emangnya daritadi kamu ngapain saja? Kok bisa tidak ngeuh kalau acaranya sudah dimulai sejak tadi?" gerutu Arya.
"Eeehh?!! Kok acaranya dimulai tanpa bilang-bilang dulu padaku!? Harusnya bilang dulu dong kalau mau dimulai tuh!" protes Fajar.
"Memangnya kamu kira kamu tuh siapa sampai panitia mesti mengatakannya dahulu padamu sebelum memulai acara?" keluh Digna.
"Tapi kalau begini aku jadi tidak bisa melihat kecantikan kak Sindy ketika memberikan kata sambutan sebagai ketua panitia acara." ujar Fajar dengan nada kecewa.
"Walau memperhatikan sekalipun, sepertinya kamu takkan bisa melihatnya tuh." sahut Arya.
"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Fajar.
"Karena yang memberikan kata sambutan tadi kan senior Rere." jawab Arya.
"Apa!!?? Bukannya disini dibilang kalau ketua panitia acaranya itu adalah wakil ketua OSIS!" ujar Fajar sambil mengeluarkan sebuah brosur dari sakunya.
"Dapat darimana tuh brosur? Perasaan mereka tidak ngeluarin brosur untuk acara ini." ungkap Digna.
"Aku mencetaknya sendiri." jawab Fajar.
"Hasil cetakanmu sendiri?! Kamu serius!?" ucap Digna kaget dengan jawaban Fajar tersebut.
"Sebenarnya seberapa semangatnya kamu sampai nyetak brosurmu sendiri?" komentar Arya lalu menghela napasnya.
"Dan disini juga disebutkan kalau akulah yang akan jadi MVP acara ini." sambung Fajar.
Arya dan Digna pun hanya bisa menganga dengan wajah syok karean telah kehilangan kata-kata mereka untuk mengomentari tingkah temannya itu.
"Tunggu, kenapa kalian malah diam saja? Apa kalian saking kagetnya sampai tak bisa berkata apa-apa?" tukas Fajar sambil tersenyum.
"Arya!" panggil Shinta dari depan.
"Hei Shinta, kenapa cuma Arya saja yang disapa? Sapa kami juga dong." protes Fajar.
"Hah? Siapa kalian?" sahut Shinta dengan nada bengis.
"Eehh.. kita kan sekelas, masa lupa. Fajar yang ganteng ini sulit dilupakan lho." ujar Fajar.
"Oh.." sahut Shinta seperti sudah mengerti.
"Akhirnya ingat juga." ucap Fajar.
"Kalian berdua pasti nyasar ya. Kalian dari sekolah mana emangnya?" tukas Shinta.
"Kita dikira anak nyasar!!?? Oi Digna jangan diam saja, kita dikira bocah nyasar lho." komentar Fajar tampak keberatan.
Namun ketika menengok, Digna malah terlihat sibuk mengobrol dengan teman sekelasnya yang lain.
"Digna!!??" panggil Fajar.
"Oh maaf, aku sedang sibuk mendiskusikan strategi pertandingan futsal. Pembicaraan tak penting itu aku serahkan saja padamu ya." jawab Digna dengan santainya.
"Jadi cuma aku sendirian!!??" ucap Fajar dengan syok.
"Woi Shinta, aku Fa-" ujar Fajar sambil menoleh lagi ke arah Shinta.
Namun ia mendapati Shinta malah asik mengobrol dengan Arya dan mengabaikannya.
"-srah saja dengan kesendirian ini." sambung Fajar dalam hatinya dengan syok.
"Apa tak ada didunia ini perempuan yang peduli padaku." keluh Fajar tampak suram.
Ketika itu tampak seseorang naik ke atas podium dan meraih microphone. Itu adalah ketua seksi keamanan OSIS, Rere Eka Widya yang memang sekarang menjadi ketua panitia acara tersebut. Dan nampaknya ia naik ke podium untuk memberikan sebuah pengumuman atau semacamnya.
"Sudah kuduga, aku memang tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Tapi mau bagaimana lagi.." gerutu Rere sebelum menyalakan microphone ditangannya itu.
"Sebentar lagi acara pertama akan segera dimulai. Kepada setiap murid yang hendak ikut serta diharap untuk segera bersiap-siap di arena pertandingan yang hendak diikuti masing-masing dari kalian supaya nantinya lebih mudah. Dan ingat untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan turun tangan menghukum kalian." ujar Rere melalui pengeras suara dengan nada preman.
Mendengar itu entah kenapa anak kelas 11 dan kelas 12 tiba-tiba gemetar ketakutan. Pemandangan itu pun membuat bingung anak kelas 10.
"Segitu saja. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan oleh pembawa acara yang baru saja ku tunjuk." lanjut Rere kemudian menunjuk ke arah kerumunan siswa kelas 10.
Tepatnya itu adalah kelompok dari kelas X - 1. Dan yang ditunjuk oleh Rere saat ini adalah Arya yang memang sedang berada disana. Arya yang merasa ditunjuk oleh Rere terlihat terkejut dan kebingungan. Dia menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.
"Iya kamu!" ucap Rere seolah mengerti arti isyarat Arya itu.
"Dia serius kah ingin aku yang menjadi pembawa acaranya?!" ucap Arya dalam hatinya karena kaget tak menduganya.
"Selamat." ucap Fajar sambil menyentuh pundak Arya.
"Selamat matamu belekan! Ini sih namanya aku disuruh masuk kandang harimau kan! Aku tak pandai berkomunikasi di depan orang banyak tapi aku malah ditunjuk menjadi pembawa acara. Apa maksudnya ini?" gerutu Arya.
"Jangan senang dulu deh kamu. Aku nanti juga bakalan jadi populer dikalangan cewek seperti dirimu dan bakalan ditunjuk jadi MC. Lihat saja!" bentak Fajar.
"Siapa yang senang!? Aku kesal tahu! Matamu beneran ketutup belek nih sepertinya." protes Arya dengan jengkel.
"Ngapain malah ngobrol disana? Cepat kemari! Oh ya, kau boleh mengajak seseorang untuk menjadi partner mu sebagai pembawa acara." ujar Rere.
"Be-begitukah. Kalau begitu.. Fajar! Dengan kewenangan yang telah diberikan kepadaku, aku akan menunjukmu menjadi partner ku sebagai pembawa acara pekan raya olahraga selama sepekan kedepan. Bagaimana? Apakah kamu menerimanya?" ungkap Arya dengan nada seperti sedang melantik jabatan resmi.
"Tentu saja hamba menerimanya dengan senang hati. Hamba akan melakukan tugas yang telah dititahkan kepada hamba ini dengan sepenuh hati hamba." jawab Fajar selayaknya seorang pendekar yang dilantik menjadi kesatria kerajaan.
Orang-orang disekitar mereka berdua pun lantas memperhatikan ke arah dua orang konyol itu semua. Mereka menatap aneh kepada Arya dan Fajar karena kelakuan tak wajar tersebut yang memang terkesan lebay.
"Baguslah, baguslah.. sekarang cepatlah kemari dan lakukan tugas kalian berdua." ujar Rere.
"Baik, nyai!" sahut Arya dan Fajar bersamaan sambil memberi hormat.
"Siapa yang kalian panggil nyai!!?? Panggil saja kakak lah!" protes Rere merasa kesal.
"Baik, kak lah!" balas mereka berdua.
"Siapa yang kalah!!? Aku menang lah pasti kalau ikutan mah!" bentak Rere.
"Eehhh.." ucap orang-orang dari OSIS.
"Apa-apaan dengan kesalahpahaman pengucapan kata berusan." komentar Sindy sambil tersenyum heran.
Arya dan Fajar kini berada di tenda pembawa acara pekan raya olahraga untuk melaksanakan tugas mereka. Kedua sahabat itu tampak duduk dengan canggung karena mereka ada di satu-satunya tenda yang ada disitu. Sementara yang lain tampak panas-panasan dibawah terik matahari pagi. Bahkan para guru pun tampak berdiri berbaris disamping barisan anggota OSIS. Wajah grogi terlihat jelas di raut wajah kedua pemuda yang jadi pembawa acara tersebut.
"Kenapa cuma kita yang berada diteduhin?" tanya Fajar pada teman disebelahnya.
"Mana ku tahu. Jangan tanya aku lah." jawab Arya.
"Kalau begini sih mendingan kita tidak ditendain kan." tukas Fajar sambil mengusap keringatnya.
"Iya nih. Rasanya entah kenapa lebih panas daripada diluar tenda." tambah Arya.
Fajar kemudian menghidupkan michrophone nya.
"Ehem! Selamat pagi semua! Selamat datang diacara Pekan Raya Olahraga dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bagaimana kabar kalian? Kalian tidak sakit kan?" ujar Fajar membuka acara.
"Ya iya lah. Mana ada orang sakit ikutan acara olahraga seperti ini." balas Arya.
"Kalau kalian merasa sakit, kepala pusing, mual, kadas, kurap, panu, dan kutu air.." lanjut Fajar.
"Lah penyakit gituan ngapain ikut disebutin." tambah Arya.
"..segera melapor ke anggota PMR atau guru untuk mendapat perawatan." sambung Fajar.
"Mereka tidak bisa nyembuhin yang kamu sebutkan tadi! Ya kecuali yang pertama dan kedua sih mungkin." tukas Arya.
"Kakak PMR yang cantik! Tolong sembuhin daku dong! Kepala daku pusing nih." ungkap Fajar ke arah anggota PMR.
Tapi meski menyebut cantik, faktanya tak ada satupun anggota perempuan di barisana anggota PMR yang sedang berjaga disana saat ini.
"Mereka semua laki tuh." ujar Arya dengan senyum mengejek.
"Apa?! Bagaimana bisa??!! Kenapa malah bandot semua yang kebagian tugas berjaga dilapangan?! Merusak pemandangan!" ucap Fajar dengan blak-blakan.
Mendengar itu, para anggota PMR itu pun tampak mengeluarkan aura membunuh yang kelam. Sorot mata mereka yang tadinya tenang, kini berubah menjadi bengis dan kejam layaknya hewan buas yang kelaparan. Postur tubuh mereka yang tadinya agak lemas akibat terus berdiri dibawah panas matahari kini berubah menjadi sangar dan mengintimidasi.
"Baiklah. Untuk hari ini kalau dia terkena cedera atau semacamnya, kita takkan merawatnya." ujar salah seorang anggota PMR.
"Setuju." sahut anggota yang lainnya.
"Kelihatannya mereka marah tuh." ujar Arya pada Fajar.
"Beneran? Dasar laki-laki baperan." tukas Fajar.
"Woy!" sahut Arya mencoba menegur.
"Oke, sampai lusa, kalau dia sakit kita abaikan dia." ujar anggota PMR.
"Mereka jadi makin marah tuh." ungkap Arya melihat tatapan tajam dari anggota PMR.
Melihatnya juga, Fajar pun kaget karena seolah tiba-tiba barisan anggota PMR itu sekarang dipenuhi oleh orang-orang sangar berwajah preman dan berbadan tegap berotot.
"Ma-maafkan kami ya, om. Kami cuma bercanda." ucap Fajar tiba-tiba dengan nada lembut.
"Haahh? Om?? Oke, kita blacklist dia dari daftar pasien selama seminggu." ujar anggota PMR dengan nada jengkel.
"Mereka malah makin marah??!!" ucap Arya.
"Terus gimana dong?" tanya Fajar dengan panik.
"Ayo kita mulai saja acaranya! Kita mulai!" sahut Arya yang juga nampak panik.
"Oke kita mulai sekarang. Acara pertama." tambah Fajar yang sama paniknya.
Fajar kemudian melihat ke alah kertas yang ada diatas meja dihadapannya. Di kertas itu ada daftar susunan acara yang hendak diselenggarakan di festival olahraga tersebut.
"Run to the hill! Hari pertama ini, kita akan melakukan perlombaan yang sesuai dengan tema nya yaitu lari. Semua yang berhubungan dengan barlari akan dilombakan hari ini." ujar Fajar.
"Ya tidak termasuk dengan yang lari dari kenyataan sih." tambah Arya.
"Mari kita mulai pestanya!!!" ucap Fajar dengan penuh semangat.
Lomba dengan tema lari pertama adalah lomba lari jarak pendek. Tampak yang menjadi perwakilan kelas X-1 adalah Shinta yang memang jago dalam bidang olahraga.
"Aku akan tunjukkan kemampuanku sebenarnya. Aku takkan menahan diri." ujar Shinta dalam benaknya memberikan motivasi untuk dirinya.
Tampak yang berlomba adalah 5 kelas dari kelas 10 yang diacak. Para peserta tampak kebanyakan adalah laki-laki, dan hanya Shinta saja satu-satunya peserta perempuannya. Mereka kini sudah bersiap di arena lari jarak pendek dengan posisi start jongkok mereka.
"Bersedia, siap.. mula!" ucap pemberi aba-aba.
Dalam sekejap, tiba-tiba Shinta seakan menghilang dari tempatnya berada dan langsung berada digaris finish. Para peserta laki-laki tampak terkejut dan masih nungging di garis start dengan mulut terbuka.
"Apa yang barusan terjadi!?" ucap Fajar yang juga terkejut dengan kejadian tersebut.
"Sepertinya peserta dari kelas X-1 barusan berlari dengan secepat kilat sampai-sampai tak ada satupun dari kita maupun peserta yang lain mampu menyadarinya. Dan dari penglihatan kita seakan peserta dari kelas X-1 tersebut seperti tiba-tiba berada di garis finish." jelas Arya.
"Memangnya yang begitu bisa terjadi? Mau secepat apapun kita berlari tak mungkin terlihat seperti menghilang seperti tadi." sanggah Fajar.
"Tidak, jika kita benar-benar memperhatikan, sebenarnya dia benar-benar berlari lho. Dia tidak menghilang seperti kelihatannya." bantah Arya.
"Ba-bagaimana bisa?" tanya Fajar.
"Setiap manusia pasti pernah lengah. Ada saat-saat dimana seseorang menerima informasi dengan lambat dan kehilangan kepekaan mereka terhadap kejadian disekitarnya. Dan itulah yang terjadi ketika balap lari barusan." jawab Arya.
"Apa maksudnya itu?" tanya Fajar lagi.
"Itulah yang kumaksud dengan kelengahan tadi. Dan itu memang kadang terjadi ketika pertandingan seperti ini. Apalagi ketika kita meremehkan lawan kita dan terlalu percaya diri pada kemampuan kita dan mengabaikan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada kita." jelas Arya.
"Oh begitu rupanya. Ini seperti seseorang yang banyak bengong dan tak menyadari kalau makanan atau minumannya diambil orang ya." terka Fajar tampak sudah mengerti.
"Ya seperti itulah kira-kira." sahut Arya.
"Ngomong-ngomong mau sampai kapan mereka nungging disana?" komentar Fajar ketika melihat para peserta lari lain yang bertanding dengan Shinta tampak masih berada di posisi start mereka.
"Entahlah.. mungkin mereka sedang melakukan pemanasan dulu." balas Arya.
"Benar sekali kita sedang pemanasan!" ucap salah seorang peserta.
"Ayo kita cari tahu siapa yang lebih jago push up!" sahut yang disebelahnya.
"Oke ayo kita lomba push up!" balas yang ada disebelahnya lagi.
"Push up kah, boleh juga!" ungkap peserta terakhir.
Dan mereka pun melakukan push up bersama mengabaikan fakta kalau yang mereka ikuti sekarang adalah lomba lari jarak pendek.
"Dan sekarang mereka malah push up!" ucap Fajar mengomentari kejadian itu.
"Yang kalau dalam bahasa malay sebutannya itu 'perkosa bumi'." tambah Arya.
"Apa!? Jadi saat ini mereka sedang berlomba-lomba menghamili planet bumi gitu ya!?" tukas Fajar dengan terkejut.
"Ya kira-kira seperti itulah." sahut Arya.
"Sungguh sangat perkasa sekali! Benar-benar tak disangka sama sekali keempat peserta lomba lari kita ini saat ini sedang mencoba mengawini bumi dengan semangatnya." ungkap Fajar.
Para penonton pun tampak tertawa dibuatnya.
"Entah kenapa rasanya ini malah jadi lebih memalukan.." ucap para peserta yang sedang push up itu dengan suram menghentikan kegiatan push up mereka.
"Wah sepertinya seru juga nih disini." ucap Sindy masuk diantara tempat duduk Arya dan Fajar.
"Senior!?", "Kak Sindy?!" ucap Arya dan Fajar bersamaan karena kaget akan kedatangan Sindy.
"Halo kalian berdua. Terima kasih sudah mau jadi pembawa acara pengganti. Karena pembawa acara kita sedang sakit jadi aku menyuruh Rere untuk menunjuk penggantinya. Dan tak kusangka kalian berdua yang menggantikannya." ujar Sindy.
"Eh, jadi aku ditunjuk oleh senior Rere bukan karena dia menjahiliku?" tukas Arya.
"Tentu saja tidak kan. Mana mungkin kita menunjuk pembawa acara sembarangan." jawab Sindy.
"Memangnya siapa yang tadinya mau dijadikan pembawa acara?" tanya Fajar.
"Ketua OSIS." jawab Sindy.
"Ketua OSIS!?" ucap Arya dan Fajar terkejut.
"Ya. Tapi karena tiba-tiba sakit, dia jadi tidak bisa hadir dan kalian berdualah yang ditunjuk untuk menggantikannya saat ini." ujar Sindy.
"Be-begitukah." sahut Arya dengan sedikit berkeringat.
"Tapi tadi kamu hebat sekali, Arya. Acaranya jadi seru karena kamu lucu sekali. Seperti yang diharapkan dari juniorku." ujar Sindy memuji Arya.
"Bagaimana denganku?" tanya Fajar sambil menunjuk dirinya.
"Sekarang aku jadi tertarik untuk jadi pasanganmu." sambung Sindy pada Arya.
"Pa-pasangan??!!" ucap Fajar kaget ketika mendengarnya.
"Ya aku tidak keberatan sih. Tapi bagaimana dengan Fajar?" balas Arya pada Sindy.
"Kamu tidak keberatan!!??? Ya tentu saja sih kan. Tapi kenapa bawa-bawa aku segala!? Jangan bilang kamu kasihan padaku! Apa aku memang semengenaskan itu untukmu!?" tukas Fajar.
"Be-benar juga. Kalau aku disini, dia kasihan kan. Dapat peran setan." ujar Sindy.
"Iya kan.." sahut Arya.
"Jangan mengabaikanku!!!" teriak Fajar dengan kesal.
"Sindy, kau ngapain disini?" tanya Rere datang menghampiri Sindy.
"Rere, apa kabar?" sahut Sindy ketika melihat Rere.
"Apa kabar jidatmu! Bukannya kau harusnya ada ruangan OSIS. Kenapa malah berkeliaran disini?" protes Rere.
"Tapi mengerjakan dokumen itu membosankan. Dan terdengar dari pengeras suara, sepertinya disini lumayan seru juga. Jadi aku kesini saja." jawab Sindy.
"Tapi jika bukan kau yang mengerjakan dokumennya, siapa lagi? Daripada panas-panasan disini bukannya lebih baik di dalam ruang OSIS. Disana juga ber-AC jadi lebih enak." ungkap Rere.
"Walau begitu, tetap saja kan sepi kalau cuma sendirian." ujar Sindy.
"Baiklah, baiklah, setidaknya biarkanlah aku yang menemanimu." sahut Rere.
"Mau bolos tugas?" tukas Sindy.
"Bukanlah! Itu cuma supaya aku bisa mengawasimu agar tidak bermalas-malasan ataupun kabur lagi." tegas Rere tampak wajahnya sedikit memerah.
"Benarkah..??" ucap Sindy dengan nada meragukan Rere.
"Jangan coba mengalihkan topik, ayo ikut saja denganku kembali ke ruang OSIS. Dokumen yang mesti kau urus masih numpuk tuh." ujar Rere yang kemudian menarik tangan Sindy dan membawanya pergi.
Arya dan Fajar hanya menatap dengan bengong pada kedua sesniornya nya itu. Mereka tampak heran dan kemudian saling memberi isyarat kalau mereka sama-sama bingung dan berniat untuk mengabaikannya saja.
"Oke kita mulai ke pertandingan selanjutnya!" ucap Fajar dengan semangat.
[Bersambung ke part selanjutnya..]
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.