Memo, chapter 90 - Hantu & Uji Nyali 4
Fajar kembali ke perpustakaan sambil membawa sekantong plastik 'sesajen' yang telah ia beli dari toko swalayan. Ia lalu meletakan kantong plastik itu diatas meja.
"Ini, aku sudah membelinya." ujar Fajar.
"Tunggu sebentar, kenapa plastiknya seperti dari ind*maret?" tanya Arya.
"Ya tentu saja karena aku belinya memang dari ind*maret kan." jawab Fajar.
"Lah, memangnya kini ind*maret menyediakan sesajian juga?" tanya Sindy.
"Tidak sih, makanya aku beli apa saja yang bisa kubeli disana. Lagipula aku tak mungkin masuk ke sana tanpa membeli apapun kan." jelas Fajar.
"Ya kalau gitu kenapa pergi ke ind*maret?" protes Rere.
"Mau bagaimana lagi!? Warung sudah pada tutup kalau jam segini mah! Cuma ind*maret saja yang masih buka!" ungkap Fajar.
"Ya kalau tutup tinggal dibuka saja kan." ujar Chelsea.
"Kau ingin aku mendobrak masuk! Kau ingin aku menerobos properti orang lain!? Nanti aku dianggap maling gimana?" bentak Fajar.
"Tenang saja, paling juga entar dikeroyok warga terus dibakar hidup-hidup." jawab Chelsea.
"Apanya yg tenang saja!? Itu malah mengkhawatirkan kan?! Dibakar hidup-hidup itu benar-benar ngeri dah! Apa yg sebenarnya senior pikirkan!?" protes Fajar.
"Tapi dengan begitu kan, aku jadi bisa mendapatkan berita yg bagus." balas Chelsea sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempolnya.
"Tolong jangan bersenang-senang diatas penderitaan orang!" bentak Fajar.
"Tapi sepertinya kita tak punya pilihan lain. Semuanya sudah terlanjur dibeli. Jadi sebaiknya kita gunakan saja snack-snack ini untuk sesajennya." ujar Digna sambil menengok isi kantong plastik itu.
"Iya, aku setuju dengan Digna. Daripada mubazir kan, lebih baik kita manfaatkan yang ada saja." tambah Arya yang juga melihat isi didalam kantong plastik diatas meja itu.
"Oke, kalau gitu aku akan membawanya ke lokas supaya bisa langsung disiapkan. Sekalian aku akan menyuruh anggota timku kemari untuk menyambungkan kamera ke monitor yg ada disini." ujar Chelsea kemudian mengangkat kantong plastik tersebut sambil berlalu pergi dari perpustakaan.
"Baiklah. Jadi sekarang kita hanya perlu memanggil Ikhsan kemari." tambah Sindy.
"Tapi bukannya ini sudah terlalu lama dia diam di mesjid. Kuharap dia tidak ketiduran disana karena terlalu nyaman dengan kipas angin mesjid." gerutu Rere.
"Tenang saja, dia bukan orang yg seperti itu kok." balas Sindy.
"Apa ada yg memanggilku?" ucap Ikhsan tiba-tiba muncul sambil membuka pintu ruang perpustakaan itu.
"Uwaaa!!!???" teriak Arya, Fajar, Digna, dan Rere secara bersamaan.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kami akan memanggilmu kemari, Ikhsan?" tanya Rere.
"Jangan bilang dia bahkan bisa membaca pikiran orang dari jarak jauh." tukas Arya.
"Tentu saja itu tidak mungkin kan, Arya." jawab Ikhsan.
"Dia membaca pikiranku!!?? Ini orang, nyeremin!" pikir Arya.
"Ke-kenapa kamu malah menyebutku Arya? Namaku Rere lah! Apa kepalamu terbentur sesuatu ketika di mesjid tadi!? Sini, mau kubenturkan lagi kah!" bentak Rere yg jadi kesal, namun dengan pipi yang memerah.
"Oh, kamu boleh juga, Ikhsan. Bisa melempar dua burung dengan satu batu." puji Sindi dalam hatinya.
"Terima kasih atas pujiannya." sahut Ikhsan sambil menundukkan tubuhnya memberi hormat ala pelayan.
"Siapa juga yang memujimu!!?? Aku sedang mengancammu tahu!! Kau mencoba membuatku kesal ya!" bentak Rere semakin kesal pada Ikhsan.
"Dia pasti seorang masokis." pikir Fajar dan Digna bersamaan dengan tatapan jijik.
"Sial, ternyata ini malah berbalik padaku. Seharusnya aku berpura-pura saja tadi tuh." gumam Ikhsan.
"Rasakan itu, makanya jangan berani-beraninya membaca pikiranku, senior Ikhsan." ucap Arya dalam hatinya sambil tersenyum licik.
"Tolong jangan berpikir seolah semuanya telah kamu rencanakan. Tadi itu jelas-jelas hanya sebuah kebetulan!" protes Ikhsan dalam hatinya.
Catatan hari ini:
Jangan seenaknya menggunakan kemampuan khusus kita, karena hasil yang terjadi pun akan jadi seenaknya pula.
"Ini, aku sudah membelinya." ujar Fajar.
"Tunggu sebentar, kenapa plastiknya seperti dari ind*maret?" tanya Arya.
"Ya tentu saja karena aku belinya memang dari ind*maret kan." jawab Fajar.
"Lah, memangnya kini ind*maret menyediakan sesajian juga?" tanya Sindy.
"Tidak sih, makanya aku beli apa saja yang bisa kubeli disana. Lagipula aku tak mungkin masuk ke sana tanpa membeli apapun kan." jelas Fajar.
"Ya kalau gitu kenapa pergi ke ind*maret?" protes Rere.
"Mau bagaimana lagi!? Warung sudah pada tutup kalau jam segini mah! Cuma ind*maret saja yang masih buka!" ungkap Fajar.
"Ya kalau tutup tinggal dibuka saja kan." ujar Chelsea.
"Kau ingin aku mendobrak masuk! Kau ingin aku menerobos properti orang lain!? Nanti aku dianggap maling gimana?" bentak Fajar.
"Tenang saja, paling juga entar dikeroyok warga terus dibakar hidup-hidup." jawab Chelsea.
"Apanya yg tenang saja!? Itu malah mengkhawatirkan kan?! Dibakar hidup-hidup itu benar-benar ngeri dah! Apa yg sebenarnya senior pikirkan!?" protes Fajar.
"Tapi dengan begitu kan, aku jadi bisa mendapatkan berita yg bagus." balas Chelsea sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempolnya.
"Tolong jangan bersenang-senang diatas penderitaan orang!" bentak Fajar.
"Tapi sepertinya kita tak punya pilihan lain. Semuanya sudah terlanjur dibeli. Jadi sebaiknya kita gunakan saja snack-snack ini untuk sesajennya." ujar Digna sambil menengok isi kantong plastik itu.
"Iya, aku setuju dengan Digna. Daripada mubazir kan, lebih baik kita manfaatkan yang ada saja." tambah Arya yang juga melihat isi didalam kantong plastik diatas meja itu.
"Oke, kalau gitu aku akan membawanya ke lokas supaya bisa langsung disiapkan. Sekalian aku akan menyuruh anggota timku kemari untuk menyambungkan kamera ke monitor yg ada disini." ujar Chelsea kemudian mengangkat kantong plastik tersebut sambil berlalu pergi dari perpustakaan.
"Baiklah. Jadi sekarang kita hanya perlu memanggil Ikhsan kemari." tambah Sindy.
"Tapi bukannya ini sudah terlalu lama dia diam di mesjid. Kuharap dia tidak ketiduran disana karena terlalu nyaman dengan kipas angin mesjid." gerutu Rere.
"Tenang saja, dia bukan orang yg seperti itu kok." balas Sindy.
"Apa ada yg memanggilku?" ucap Ikhsan tiba-tiba muncul sambil membuka pintu ruang perpustakaan itu.
"Uwaaa!!!???" teriak Arya, Fajar, Digna, dan Rere secara bersamaan.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kami akan memanggilmu kemari, Ikhsan?" tanya Rere.
"Jangan bilang dia bahkan bisa membaca pikiran orang dari jarak jauh." tukas Arya.
"Tentu saja itu tidak mungkin kan, Arya." jawab Ikhsan.
"Dia membaca pikiranku!!?? Ini orang, nyeremin!" pikir Arya.
"Ke-kenapa kamu malah menyebutku Arya? Namaku Rere lah! Apa kepalamu terbentur sesuatu ketika di mesjid tadi!? Sini, mau kubenturkan lagi kah!" bentak Rere yg jadi kesal, namun dengan pipi yang memerah.
"Oh, kamu boleh juga, Ikhsan. Bisa melempar dua burung dengan satu batu." puji Sindi dalam hatinya.
"Terima kasih atas pujiannya." sahut Ikhsan sambil menundukkan tubuhnya memberi hormat ala pelayan.
"Siapa juga yang memujimu!!?? Aku sedang mengancammu tahu!! Kau mencoba membuatku kesal ya!" bentak Rere semakin kesal pada Ikhsan.
"Dia pasti seorang masokis." pikir Fajar dan Digna bersamaan dengan tatapan jijik.
"Sial, ternyata ini malah berbalik padaku. Seharusnya aku berpura-pura saja tadi tuh." gumam Ikhsan.
"Rasakan itu, makanya jangan berani-beraninya membaca pikiranku, senior Ikhsan." ucap Arya dalam hatinya sambil tersenyum licik.
"Tolong jangan berpikir seolah semuanya telah kamu rencanakan. Tadi itu jelas-jelas hanya sebuah kebetulan!" protes Ikhsan dalam hatinya.
Catatan hari ini:
Jangan seenaknya menggunakan kemampuan khusus kita, karena hasil yang terjadi pun akan jadi seenaknya pula.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.