Memo, chapter 93 - Hantu & Uji Nyali 7
Peserta kedua adalah Digna, dan ia saat ini sedang berada di depan gedung lama kelas 2 yang menjadi lokasi uji nyali. Ia sedang diwawancara oleh Chelsea. Sementara Fajar dan Arya menontonnya di ruang monitor saat ini.
"Menurutmu dia bakalan gimana, jar?" tanya Arya pada Fajar.
"Bakalan gimana gimana maksudnya?" tanya balik Fajar.
"Ya uji nyalinya lah. memangnya apa lagi?" sahut Arya.
"Ya setidaknya dia mungkin bakalan lebih serius darimu, Arya." balas Fajar.
"Hah? Apa maksudmu barusan? Aku juga serius tahu!" tegas Arya dengan serius.
"Ya, serius main-mainnya. Apa-apaan coba dengan akting kesurupanmu itu. Enak banget makan makanan ringan yang harusnya jadi sesajen." gerutu Fajar.
"Eh, emang tadi aku kesurupan ya?" sahut Arya terlihat terkejut.
"Katanya sih gitu! Tapi aku tak yakin, karena aku tahu kau cuma berpura-pura kan? Ya kan?" tukas Fajar.
"Jadi begitu ya. Pantas saja aku merasa tiba-tiba kenyang gitu setelah uji nyali. Itu karena aku kesurupan ya? Kalau begitu sering-sering deh kesurupan." ungkap Arya.
"Kau serius mengatakan hal itu!?" protes Fajar.
"Tentu saja aku serius!" jawab Arya sambil mengacungkan jempolnya.
"Dia ini beneran bodoh ya?!" pekik Fajar dalam hatinya.
Dalam tayangan monitor tampak Digna sudah selesai diwawancara, dan kini ia sudah mulai ditempatkan dilokasi uji nyali. Hanya di temani oleh nyala lilin dan sisa bungkus makanan ringan yang isinya telah dihabiskan oleh Arya.
"Ini peserta kedua malam ini ya? Tidak tampak seperti seorang peserta uji nyali sama sekali." komentar Sindy.
"Tidak, bagiku dia terlihat sangat berpengalaman kok." sanggah Ikhsan.
"Berpengalaman?" sahut Rere.
"Iya. Dia berpengalaman dalam bidang beladiri." jawab Ikhsan.
"Tunggu sebentar, itu tak ada hubungannya dengan uji nyali kan?" tegur Rere.
"Ya mari kita lihat saja bagaimana dia akan menghadapi lawannya kali ini." lanjut Sindy.
"Ini bukan pertandingan beladiri, jadi tak ada yang mesti dilawan." komentar Rere.
Digna terlihat duduk dengan tenang sambil menatap lurus ke depan. Dia tidak menoleh ke manapun dan tetap melihat ke depan dengan wajah serius yang nampaknya seperti permanen itu.
"Aku tak bisa melihat apapun. Di kegelapan seperti ini aku tak bisa melihat apa-apa. Bisakah kita nyalakan lampunya saja?" pinta Digna sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Dia ini ngomong apa? Tentu saja itu tak mungkin kan! Ini kan uji nyali. Kalau terang dimana letak uji nyalinya. Jadi tidak menakutkan lagi dong." komentar Fajar yang menyaksikan lewat monitor.
"Aku lapar. Semua makanan disini pun sudah habis dimakan oleh Arya. Apa aku boleh memesan makanan cepat saji?" sambung Digna.
"Kau ini gila ya? Kalau kau melakukannya entar acara ini malah jadi acara komedi tahu!" tegur Fajar.
"Mungkin sebaiknya aku tunggu ada tukang nasi goreng yang lewat saja. Lagipula aku tak membawa ponselku karena ditinggal di perpustakaan." lanjut Digna.
"Ya itu tidak mungkin kan. Mana ada tukang nasi goreng lewat disini." ungkap Fajar.
Tiba-tiba saja pintu perpustakaan terbuka.
"Maaf aku lama. Aku sudah membelikan nasi goreng untuk kita semua." ujar Andri yang nampak masuk ke perpustakaan sambil membawakan kantong plastik besar.
"Eh beneran ada tukang nasi goreng lewat?!" ucap Fajar kaget.
"Apa maksudmu? Tentu saja ada kan." jawab Andri.
"Ini tak bisa dipercaya. Tukang nasi goreng macam apa yang jualan di wilayah sekolah malam-malam begini?" pikir Fajar.
"Mungkinkah!?" ucap Fajar dalam hatinya dengan wajah terkejut.
Dia pun kemudian membayangkan tukang nasi goreng yang mendorong sebuah gerobak canggih dengan sebuah radar terpasang di gerobaknya. Dan di radar tersebut tampak mendeteksi keberadaan manusia lalu tukang nasi goreng itu menoleh ke arah terdeteksinya manusia tersebut dan melihat beberapa sosok manusia dari kacamata pendeteksi panas nya.
"Target potensial pelanggan ditemukan. Jumlah: 10 orang." ucap tukang nasi goreng tersebut.
"Hmm.. tukang nasi goreng jaman sekarang sudah benar-benar canggih ya." ujar Fajar sambil mengakhiri khayalannya.
"Sepertinya baru saja dia membayangkan sesuatu yang absurd." pikir Arya sambil tersenyum aneh.
Di tampilan monitor tampak kini Digna sedang push up.
"Sedang apa dia? Apa dia sedang pamer ketahanan tubuhnya?" tukas Fajar ketika melihatnya.
"Sepertinya peserta kita sudah menyerah ya?" ucap Chelsea.
"Eh, menyerah?! Itu tanda menyerahnya?! Dengan push up!?" komentar Fajar terkejut.
"Baiklah, dia sudah melakukan push up 25 kali. Jadi mari sekarang kita jemput dia." ujar Chelsea kemudian pergi bersama Andri menjemput Digna ke lokasi uji nyali.
"Uji nyali ini mulai terasa semakin aneh." ungkap Fajar dengan mata terbelalak seolah tak percaya.
Tak berapa lama kemudian Digna pun kembali bersama dengan Chelsea dan Andri. Mereka pun tampak menghampiri meja Sindy dan yang lainnya yang sudah bersiap untuk makan nasi goreng yang sudah dibelikan oleh Andri.
"Sudah kuduga nasi gorengnya sudah datang." ucap Digna ketika duduk di tempat duduknya.
"Eh, kau sudah menduganya?! Kau sudah tahu kalau nasi gorengnya sudah dibelikan!? Jangan bilang karena itulah kau menyerah dari uji nyalimu?" tukas Fajar.
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah sangat lapar kok. Uji nyali mah tidak penting. Yang penting makan." ungkap Digna.
"Tch, padahal kau yang nantangin uji nyali. Kok malah tidak serius begitu." gerutu Fajar.
"Oh ya, ngomong-ngomong sekarang kan giliranmu. Kenapa masih duduk disini?" tanya Digna.
"Eh?! Jadi aku tak boleh ikutan makan nih?" tanya balik Fajar.
"Siapa yang bilang tidak boleh? Kamu bisa ikutan makan nanti setelah kamu selesai kan." jawab Digna.
"Tapi nanti keburu dingin. Jadinya tidak enak lagi." protes Fajar.
"Tenang saja, akan aku hangatkan untukmu." ujar Arya.
"Kau memang bilang hangatkan, tapi anehnya kok malah terdengar seperti makan ya." tukas Fajar.
"Jangan asa menuduh, aku serius kok akan menghangatkannya untukmu." tegas Arya.
"Be-begitukah. Memangnya kau bakalan hangatkan dimana?" tanya Fajar.
"Diperutku tentunya." jawab Arya.
"Sudah kuduga! Kau memang berniat memakannya kan!" bentak Fajar.
Catatan hari ini:
Saat perut lapar, prioritaskan untuk makan daripada melakukan sesuatu yang kurang penting.
"Menurutmu dia bakalan gimana, jar?" tanya Arya pada Fajar.
"Bakalan gimana gimana maksudnya?" tanya balik Fajar.
"Ya uji nyalinya lah. memangnya apa lagi?" sahut Arya.
"Ya setidaknya dia mungkin bakalan lebih serius darimu, Arya." balas Fajar.
"Hah? Apa maksudmu barusan? Aku juga serius tahu!" tegas Arya dengan serius.
"Ya, serius main-mainnya. Apa-apaan coba dengan akting kesurupanmu itu. Enak banget makan makanan ringan yang harusnya jadi sesajen." gerutu Fajar.
"Eh, emang tadi aku kesurupan ya?" sahut Arya terlihat terkejut.
"Katanya sih gitu! Tapi aku tak yakin, karena aku tahu kau cuma berpura-pura kan? Ya kan?" tukas Fajar.
"Jadi begitu ya. Pantas saja aku merasa tiba-tiba kenyang gitu setelah uji nyali. Itu karena aku kesurupan ya? Kalau begitu sering-sering deh kesurupan." ungkap Arya.
"Kau serius mengatakan hal itu!?" protes Fajar.
"Tentu saja aku serius!" jawab Arya sambil mengacungkan jempolnya.
"Dia ini beneran bodoh ya?!" pekik Fajar dalam hatinya.
Dalam tayangan monitor tampak Digna sudah selesai diwawancara, dan kini ia sudah mulai ditempatkan dilokasi uji nyali. Hanya di temani oleh nyala lilin dan sisa bungkus makanan ringan yang isinya telah dihabiskan oleh Arya.
"Ini peserta kedua malam ini ya? Tidak tampak seperti seorang peserta uji nyali sama sekali." komentar Sindy.
"Tidak, bagiku dia terlihat sangat berpengalaman kok." sanggah Ikhsan.
"Berpengalaman?" sahut Rere.
"Iya. Dia berpengalaman dalam bidang beladiri." jawab Ikhsan.
"Tunggu sebentar, itu tak ada hubungannya dengan uji nyali kan?" tegur Rere.
"Ya mari kita lihat saja bagaimana dia akan menghadapi lawannya kali ini." lanjut Sindy.
"Ini bukan pertandingan beladiri, jadi tak ada yang mesti dilawan." komentar Rere.
Digna terlihat duduk dengan tenang sambil menatap lurus ke depan. Dia tidak menoleh ke manapun dan tetap melihat ke depan dengan wajah serius yang nampaknya seperti permanen itu.
"Aku tak bisa melihat apapun. Di kegelapan seperti ini aku tak bisa melihat apa-apa. Bisakah kita nyalakan lampunya saja?" pinta Digna sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Dia ini ngomong apa? Tentu saja itu tak mungkin kan! Ini kan uji nyali. Kalau terang dimana letak uji nyalinya. Jadi tidak menakutkan lagi dong." komentar Fajar yang menyaksikan lewat monitor.
"Aku lapar. Semua makanan disini pun sudah habis dimakan oleh Arya. Apa aku boleh memesan makanan cepat saji?" sambung Digna.
"Kau ini gila ya? Kalau kau melakukannya entar acara ini malah jadi acara komedi tahu!" tegur Fajar.
"Mungkin sebaiknya aku tunggu ada tukang nasi goreng yang lewat saja. Lagipula aku tak membawa ponselku karena ditinggal di perpustakaan." lanjut Digna.
"Ya itu tidak mungkin kan. Mana ada tukang nasi goreng lewat disini." ungkap Fajar.
Tiba-tiba saja pintu perpustakaan terbuka.
"Maaf aku lama. Aku sudah membelikan nasi goreng untuk kita semua." ujar Andri yang nampak masuk ke perpustakaan sambil membawakan kantong plastik besar.
"Eh beneran ada tukang nasi goreng lewat?!" ucap Fajar kaget.
"Apa maksudmu? Tentu saja ada kan." jawab Andri.
"Ini tak bisa dipercaya. Tukang nasi goreng macam apa yang jualan di wilayah sekolah malam-malam begini?" pikir Fajar.
"Mungkinkah!?" ucap Fajar dalam hatinya dengan wajah terkejut.
Dia pun kemudian membayangkan tukang nasi goreng yang mendorong sebuah gerobak canggih dengan sebuah radar terpasang di gerobaknya. Dan di radar tersebut tampak mendeteksi keberadaan manusia lalu tukang nasi goreng itu menoleh ke arah terdeteksinya manusia tersebut dan melihat beberapa sosok manusia dari kacamata pendeteksi panas nya.
"Target potensial pelanggan ditemukan. Jumlah: 10 orang." ucap tukang nasi goreng tersebut.
"Hmm.. tukang nasi goreng jaman sekarang sudah benar-benar canggih ya." ujar Fajar sambil mengakhiri khayalannya.
"Sepertinya baru saja dia membayangkan sesuatu yang absurd." pikir Arya sambil tersenyum aneh.
Di tampilan monitor tampak kini Digna sedang push up.
"Sedang apa dia? Apa dia sedang pamer ketahanan tubuhnya?" tukas Fajar ketika melihatnya.
"Sepertinya peserta kita sudah menyerah ya?" ucap Chelsea.
"Eh, menyerah?! Itu tanda menyerahnya?! Dengan push up!?" komentar Fajar terkejut.
"Baiklah, dia sudah melakukan push up 25 kali. Jadi mari sekarang kita jemput dia." ujar Chelsea kemudian pergi bersama Andri menjemput Digna ke lokasi uji nyali.
"Uji nyali ini mulai terasa semakin aneh." ungkap Fajar dengan mata terbelalak seolah tak percaya.
Tak berapa lama kemudian Digna pun kembali bersama dengan Chelsea dan Andri. Mereka pun tampak menghampiri meja Sindy dan yang lainnya yang sudah bersiap untuk makan nasi goreng yang sudah dibelikan oleh Andri.
"Sudah kuduga nasi gorengnya sudah datang." ucap Digna ketika duduk di tempat duduknya.
"Eh, kau sudah menduganya?! Kau sudah tahu kalau nasi gorengnya sudah dibelikan!? Jangan bilang karena itulah kau menyerah dari uji nyalimu?" tukas Fajar.
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah sangat lapar kok. Uji nyali mah tidak penting. Yang penting makan." ungkap Digna.
"Tch, padahal kau yang nantangin uji nyali. Kok malah tidak serius begitu." gerutu Fajar.
"Oh ya, ngomong-ngomong sekarang kan giliranmu. Kenapa masih duduk disini?" tanya Digna.
"Eh?! Jadi aku tak boleh ikutan makan nih?" tanya balik Fajar.
"Siapa yang bilang tidak boleh? Kamu bisa ikutan makan nanti setelah kamu selesai kan." jawab Digna.
"Tapi nanti keburu dingin. Jadinya tidak enak lagi." protes Fajar.
"Tenang saja, akan aku hangatkan untukmu." ujar Arya.
"Kau memang bilang hangatkan, tapi anehnya kok malah terdengar seperti makan ya." tukas Fajar.
"Jangan asa menuduh, aku serius kok akan menghangatkannya untukmu." tegas Arya.
"Be-begitukah. Memangnya kau bakalan hangatkan dimana?" tanya Fajar.
"Diperutku tentunya." jawab Arya.
"Sudah kuduga! Kau memang berniat memakannya kan!" bentak Fajar.
Catatan hari ini:
Saat perut lapar, prioritaskan untuk makan daripada melakukan sesuatu yang kurang penting.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.