Memo, chapter 89 - Hantu & Uji Nyali 3

Arya datang ke gedung perpustakaan dengan terengah-engah kelelahan. Ia berjalan sambil mengambil napas lalu mengusap keringat di wajahnya.

"Fiuh.. olahraga malam hari memang melelahkan." ucap Arya.

Arya berjalan mendekat ke tempat Sindy, Rere dan Chelsea berada.

"Kamu juga? Jangan bilang kamu juga mengejar bayangan misterius dan akhirnya sampai disini." tukas Rere sambil menatap curiga.

"Eh, darimana senior tahu!?" sahut Arya dengan ekspresi terkejut.

"Beneran kah?! Uwaahh.. kenapa sekolah ini dipenuhi oleh orang bodoh??" keluh Rere terkejut mendengar jawaban Arya itu.

"Tenang saja senior, tadi itu aku cuma bercanda kok." ungkap Arya.

"Begitukah. Syukurlah.. kupikir sekolah ini sudah tak ada harapan lagi dengan siswa-siswa yang tidak masuk akal tahun ini." balas Rere.

"Sebenarnya, tadi aku bukan mengejar bayangan, melainkan dikejar olehnya. Aku berlari sekuat tenaga tapi dia selalu bisa mengejarku. Aku lari ke arah manapun dia selalu bisa mengikutiku. Menyeramkan sekali." lanjut Arya dengan wajah serius.

"Aku tarik kembali perkataanku! Sekolah ini benar-benar sudah tidak ada harapan!" ucap Rere dengan kesal.

"Eehh??!! Tapi aku beneran dikejar lho! Dia sedari tadi mengikutiku hingga kemari!" balas Arya.

"Tentu saja terus mengikutimu, kan itu bayanganmu sendiri. Masa sih ada bayangan yang tersesat ketika mengikuti sumber bayangannya."  gerutu Rere terlihat semakin jengkel.

Tiba-tiba saja datang Digna dengan napas ngos-ngosan sama seperti Arya sebelumnya.

"Woy Arya sialan! Kenapa kamu ninggalin aku disana? Padahal kamu yang bawa senternya! Untung saja aku bisa mengikutimu terus." ujar Digna sambil menarik kerah baju Arya.

"Ternyata bukan bayangan??!!" ucap Rere tampak sangat terkejut dugaannya keliru.

"Maaf-maaf, kupikir kamu hantu makanya aku terus lari ketika kamu terus mengikutiku." ujar Arya sambil melempar senyum pada Digna.

"Hah? Kalau aku hantu aku pasti sudah bisa mengejarmu kan? Aku akan menembus dinding daripada berlari mengejarmu dari belakang mengikuti luka-liku lorong itu!" tegas Digna.

"Hmm.. benar juga. Kenapa tak kepikiran? Padahal tadinya kupikir itu dikarenakan ingin lebih sehat dan lebih penuh tantangan gitu." balas Arya.

"Kamu pikir hantu perlu olahraga atau semacamnya kah? Mereka kan melayang, tidak napak ke tanah. Jadi mereka tak mungkin memikirkan untuk meningkatkan stamina, dasar bodoh." jawab Digna.

"Oh.. gitu ya. Digna memang pintar ya." ungkap Arya.

"Bukannya aku yang pintar, tapi kamunya saja yang terlalu bodoh kan!" sahut Digna.

"Aahh.. sepertinya dia memang terbiasa membuat orang lain kesal ya. Ternyata dia melakukan itu bukan hanya kepadaku saja. Benar-benar orang yang menjengkelkan." pikir Rere.

Arya pun kemudian menarik sebuah kursi mendekat  ke meja dimana Sindy, Rere, dan Chelsea sedang duduk. Lalu ia duduk di kursi itu dan bergabung dengan pembicaraan Sindy dan yang lainnya.

"Apa yang sedang kalian bicarakan saat ini?" tanya Arya ingin tahu topik pembicaraan yang sedang mereka bahas.

"Saat ini kami belum membicarakan apapun. Baru saja ingin kita mulai, tapi tadi terpotong oleh kedatangmu itu." jawab Chelsea.

"Begitukah. Kalau begitu maafkan aku." sahut Arya.

"Lagipula, kenapa senior ada disini? Bukannya senior sedang mempersiapkan peralatan untuk uji nyali kita?" tanya Digna yang juga menarik sebuah kursi kemudian duduk disebelah Arya.

"Mh. Tim ku sudah mempersiapkannya saat ini. Tapi aku kesini untuk menyampaikan sebuah permintaan." jawab Chelsea.

"Permintaan? Apakah itu?" tanya Sindy.

"Aku mau meminta sesajen." jawab Chelsea dengan singkat.

"...." keadaan hening sejenak.

"Sesajen??!!!" ucap Rere dan Digna kaget secara bersamaan berdiri sambil menggebrak meja.

"Hmm.. ide yang bagus." ungkap Sindy sambil tersenyum.

"Ide bagus darimana!? Lagipula buat apaan sesajen diacara uji nyali begini?" tegur Digna.

"Sesajen ya.. kupikir sesajen itu terlalu berlebihan." ujar Arya.

"Tuh, Arya juga berpikir begitu kan." tambah Digna.

"Mungkin lebih baik kita sebut saja ini sebagai hidangan makan malam." lanjut Arya.

"Itu?! Berlebihan itu maksudnya itu!? Cuma namanya doang??!!" komentar Digna.

"Ide bagus. Kalau begitu mari kita siapkan anggarannya." ujar Sindy.

Mereka berlima pun mengeluarkan uang yang ada di kantong mereka masing-masing diatas meja. Dan jumlah yang tersaji diatas meja pun ada sekitar Rp. 24.500. Ketika mengetahuinya mereka pun seketika langsung suram.

"Ternyata kita benar-benar miskin ya." ucap Chelsea.

Uang itu kemudian dikumpulkan oleh Sindy dan dirapikan.

"Arya, tolong belikan sesajen paling murah yang bisa kamu temukan." suruh Sindy lalu menyodorkan uangnya kepada Arya.

"Aduh! Aku lelah banget. Badan letih, lemah, lesu, lunglai, tak bertenaga. Benar-benar lelah banget dah. Mungkin karena tadi habis berlari. Senior minta tolong pada Digna saja. Kelihatannya dia masih kuat tuh." ujar Arya tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke meja dan bertingkah seperti baru saja selesai lari marathon puluhan kilometer.

"Eh, kenapa malah aku?!" sahut Digna tampak keberatan.

"Kalau begitu, Digna kamu belikan sesajennya menggantikan Arya." ujar Sindy.

"Wadudududuh.. kakiku! Kakiku!! Sepertinya kakiku keseleo pas mengejar Arya tadi. Adududuh.." ungkap Digna sambil memegangi kakinya seakan sangat menyakitkan.

"Alasan mereka benar-benar lebay sekali. Aku ragu Sindy akan mempercayai mereka." pikir Rere ketika melihat tingkah Arya dan Digna.

"Kalau begitu sayang sekali. Sepertinya aku harus meminta orang lain untuk membelikannya." balas Sindy sambil terlihat kecewa.

"Dia mempercayainya??!!!" ucap Rere dalam hatinya tampak terkejut.

Dan disaat itulah datang Fajar masuk ke dalam perpustakaan.

"Ah, syukurlah aku bisa sampai kemari walaupun jalannya gelap." ujar Fajar sambil bernapas lega.

"Kamu! Belikan kami sesajen!" ucap Sindy menunjuk kepada Fajar.

"Eh?! Kenapa tiba-tiba!?" sahut Fajar kaget tiba-tiba ditunjuk oleh Sindy.

"Cepat belikan, dan jangan kembali sebelum kamu berhasil membelinya." paksa Sindy sambil menyerahkan uang patungannya pada Fajar.

"Lah, baru juga sampai, kenapa jadi begini kejadiannya." gumam Fajar.

"Ayo cepat pergi sana. Nanti warung yang jual sesajennya keburu tutup." tambah Sindy sambil mendorong tubuh Fajar kembali keluar dari ruang perpustakaan itu kemudian menutup pintunya.

"Ini serius nih, aku yang harus beli sesajennya?" pikir Fajar yang masih belum percaya yang telah terjadi padanya.

"Kamu masih belum pergi juga?" tanya Sindy yang mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit dengan tatapan horror.

"Ma-maaf! Aku akan pergi sekarang!" sahut Fajar langsung berlari sekuat tenaganya karena ketakutan melihat tatapan mata Sindy itu.

Fajar akhirnya pergi ke tempat ia bisa membeli sesajen. Itu yang seharusnya terjadi. Namun ia malah berakhir disebuah toko swalayan terdekat dengan sekolah.

"Apa disini sedia sesajen?" tanya Fajar pada kasir toko.

"Hah?" sahut kasir itu tampak menatap aneh kepada Fajar.

Catatan hari ini:
Sesudah kesulitan selalu datang kemudahan, mungkin.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】