Memo, chapter 99 - Obrolan Dalam Kelas 2

Arya dan kedua temannya seperti biasa sedang mengobrol didalam kelas saat waktu istirahat. Kelas saat ini tampak lebih ramai dari biasanya karena hampir semua murid kelas itu juga sedang mengobrol didalam kelas sambil makan makanan yang dibawa dari kantin.

"Kalian berdua, sudahkah kalian menonton video uji nyali kita? Katanya sudah di upload lho." ujar Fajar.

"Aku tidak tertarik. Lagipula aku tak mau membuang pulsaku untuk hal tak berguna seperti itu." jawab Digna.

"Kalau aku sih sudah. Memangnya kenapa tiba-tiba nanya itu?" tanya balik Arya.

"Hmm.. sebenarnya.." sahut Fajar.

"Sebenarnya?" ulang Arya dan Digna.

"Sebenarnya.. aku berniat untuk memulai berjualan merchandise ku sendiri." tegas Fajar.

"Hah?!" sahut Arya dan Digna kaget dengan jawaban Fajar tersebut.

"Aku lihat viewer video nya semakin lama semakin banyak. Kalau terus begini aku akan makin terkenal nih." ujar Fajar dengan penuh keyakinan.

"Be-benarkah begitu?" sahut Digna.

"Tapi bukannya itu normal ya. Kan emang mestinya bertambah banyak. Masa berkurang sih." ungkap Arya dengan santai.

"Tidak, tidak. Sudah pasti viewernya makin banyak karena ada aku disana. Tidak salah lagi." balas Fajar dengan wajah yakin.

"Ini orang kelewat positif ya pikirannya." komentar Digna dalam benaknya.

"Kurasa kamu terlewat positif deh tentang hal itu." ujar Arya.

"Dia mengatakannya terang-terangan!?" ucap Digna dalam hatinya terkejut.

"Memangnya bagaimana kamu bisa yakin itu memang karenamu?" tanya Arya.

"Syukurlah kamu bertanya. Sebenarnya aku sejak kemarin selalu mengecek viewer video nya. Dan setiap kali aku mengecek viewer nya aku nonton videonya juga, lalu setiap kali selesai menonton adeganku, ketika aku cek lagi viewer nya ternyata sudah bertambah. Dengan begitu tidak salah lagi kan kalau viewer nya bertambah karena ada aku disana!" jelas Fajar dengan penuh kebanggaan.

"Ternyata beneran memang karena dia!! Dalam artian lain!!" ucap Arya dan Digna dalam hatinya kembali kaget.

"Ku-kupikir harusnya kamu tidak harus mengecek video nya sesering itu." usul Digna.

"Tapi jika aku tidak selalu mengeceknya, nanti aku tak tahu sudah seterkenal apa diriku selanjutnya." balas Fajar dengan senyuman penuh kegembiraan.

"Ya tenang saja, tanpa terus kamu cek pun kamu sudah terkenal kok." ujar Arya.

"Untuk dirimu sendiri." lanjut Arya dalam hati.

"Karena itu tanpa harus selalu mengeceknya pun sudah pasti kan viewernya akan selalu bertambah karena keterkenalan dirimu." sambung Arya.

"Dari dirimu, oleh dirimu, dan untuk dirimu sendiri." tambah Arya dalam hatinya.

"Arya!? Kamu serius mengatakannya!? Tolong jangan dukung kebodohannya itu. Entar dia malah semakin menjadi-jadi." protes Digna dalam hatinya.

"Begitukah menurutmu. Ya memang tidak bisa dipungkiri sih bagaimana besarnya karismaku sehingga bisa membuat video tidak menarik itu jadi banyak viewer nya. Dan tanpa perlu diragukan lagi video itu akan makin terkenal." ungkap Fajar.

"Iya kan.." sahut Arya.

"Mungkin sebaiknya aku harus sesegera mungkin jualan merchandise. Sebelum semua fans ku mulai mengamuk." sambung Fajar.

"Oh ya, masalah itu. Kalau tentang merchandise, bukannya lebih baik lakukan dulu perencanaan yang lebih matang terlebih dahulu." ujar Arya memberi masukan.

"Hmm.. perencanaan ya? Memangnya cuma jualan merchandise butuh perencanaan segala ya?" tanya Fajar merasa sedikit heran.

"Tentu saja kan. Karena kamu sekarang adalah orang terkenal maka semua jual beli haruslah lewat jalur resmi kan. Dan itu pasti akan dikenakan pajak penjualan. Jadi kamu harus mengurus segala sesuatunya terlebih dahulu kan." jawab Arya.

"Oh.. kamu benar juga." sahut Fajar setuju.

"Karena itu, rencanakanlah dulu dengan matang baru nanti kita bahas lagi." tambah Arya.

"Mh, baiklah." sahut Fajar sambil menggangguk.

"Dia menurut?! Arya, ternyata kamu mengerikan sekali ya." komentar Digna dalam hatinya dengan wajah pucat.

Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari speaker. Itu adalah suara notifikasi yang biasa diputar sebelum pengumuman.

"Perhatian kepada seluruh murid kelas 10 hingga kelas 12, seperti yang kita ketahui besok adalah HUT RI ke 72. Daripada kita cuma sekedar berlibur di rumah maka ada baiknya kita menyehatkan tubuh dan jiwa kita dengan semangat kemerdekaan. Kita akan mengadakan sebuah pekan olahraga untuk memperingati HUT RI ke 72. Sebuah pekan olahraga yang besar dan megah. Supaya kita merdeka jiwa dan raga. Minggu depan selama satu pekan, kita akan mengadakan sebuah festival olahraga di sekolah ini. Bagi setiap kelas harap segera bersiap dan mulai mendaftarkan setiap anggota yang akan diikutkan dengan setiap acara yang akan berlangsung. Untuk lebih lengkapnya, silahkan tanyakan kepada wali kelas kalian masing-masing." ujar pembaca pengumuman yang nampaknya adalah seorang guru perempuan melalui pengeras suara.

"Pekan olahraga kah. Kenapa mesti pekan olahraga. Aku tidak handal dalam hal begituan." keluh Arya lalu menghela napasnya.

"Benar juga, kamu kan payah banget dalam olahraga. Waktu pelajaran olahraga saja kamu selalu yang paling dibelakang kan. Apa kamu akan baik-baik saja dengan pekan olahraga ini?" tanya Digna terlihat khawatir.

"Ya semoga saja aku tidak diikutkan dengan semua pertandingan olahraga ini. Ini tidak wajib kan?" ungkap Arya.

"Tapi jika ada banyak jenis pertandingan dalam 1 hati sudah pasti kamu terpaksa akan diikutkan dengan satu jenis pertandingan kan. Karena tidak mungkin ada satu orang yang bisa mengikuti dua atau tiga jenis pertadingan secara bersamaan." ujar Fajar.

"Benar juga sih. Kalau begitu setidaknya aku harus mengikuti pertandingan yang tak membutuhkan stamina dan kebugaran." balas Arya.

"Mungkin catur cocok untukmu. Apalagi kamu kan memang suka mempermainkan orang lain." usul Digna.

"Mempermainkan orang lain? Apa maksudmu?" tanya Arya dengan nada bingung.

"Jangan bilang dia melakukannya tanpa ia sadari!?" tukas Digna dalam hatinya.

"Ya tapi mungkin catur memang cocok untukku karena tak menguras banyak stamina dan juga tidak menuntut kebugaran fisik." ujar Arya.

"Kupikir tidak begitu!" ucap Fajar.

"Hah?" sahut Arya menoleh ke arah Fajar.

"Catur itu adalah olahraga paling berat. Karena kita harus memindahkan kuda dan juga benteng kan. Bayangkan saja. Kuda dan benteng itu berat banget lho." jelas Fajar.

"Oh begitu ya." balas Arya dengan nada datar.

"Kenapa kamu tampak biasa saja!? Harusnya kamu lebih heboh dong dikit!" protes Fajar pada reaksi datar atas lawakannya itu.

"Ah bagaimana bilangnya ya. Lawakan itu sudah mainstream banget. Jadi rasanya sudah agak hambar buat ketawa." jawab Arya dengan nada datar.

"Dasar anak sastra, wawasanmu luas juga." gerutu Fajar dengan kesal.

"Kalau memang mau melawak, harusnya begini dong." ungkap Arya.

"Catur ya, daripada kamu mungkin sebaiknya kita cari anak perempuan bernama Wulan saja. Karena yang bernama wulan biasanya catur banget kan. Walau hanya 3 bulan sekali." lanjut Arya dengan menirukan Fajar.

"Eh, apa maksudnya?" tanya Fajar yang malah bingung.

Sementara Digna tampak memalingkan wajahnya sambil tampak menahan tawa gelinya.

Catatan hari ini:
Sebuah lawakan membutuhkan sebuah daya pukul dan itu mestilah tak terduga, karena kalau sudah dapat diduga maka pukulan tersebut akan meleset karena lawan sudah mengantisipasi.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】