Memo, chapter 87 - Hantu & Uji Nyali 1

Uji nyali, sebuah acara yang biasa diselenggarakan untuk menguji keberanian sekaligus menguji ke angkeran sebuah lokasi yang memang dianggap sebagai tempat yang horror dan misterius. Namun saat ini bukan stasiun TV yang mengadakan acara tersebut, melainkan ekskul sastra yang diikuti oleh Arya.

"Aku tak menyangka kalau yang kamu maksud dengan memintakan ijin adalah dengan melibatkan ekskulmu, Arya." ujar Digna.

"Mau bagaimana lagi, tapi cuma ini cara cepat untuk mendapatkan ijin dari sekolah." ungkap Arya.

"Tunggu, bukankah itu yang disebut dengan penyalahgunaan kekuasaan?" tukas Digna.

"Hahaha.. kamu ini ngomong apa sih, Digna? Ternyata kamu bisa bercanda juga ya, hahaha.." balas Arya tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Digna.

Digna pun hanya bisa menahan rasa kesalnya karena tepukan keras Arya pada punggungnya.

Saat ini sekolah sudah sepi karena memang sudah hampir malam hari. Cahaya mentari mulai meredup di langit barat karena matahari sudah lama terbenam. Yang jadi sumber cahaya hanya lampu gedung perpustakaan yang saat ini dinyalakan untuk kegiatan uji nyali tersebut. Dan kebetulan karena sekarang ekskul sastra yang jadi penyelenggara, maka perpustakaan lah yang dijadikan tempat berkumpul oleh Arya dan semua orang yang terlibat dalam kegiatan ini.

Orang-orang yang saat ini mengikuti kegiatan uji nyali ini diantara lain adalah Arya, Digna, Fajar sebagai peserta. Sementara sebagai penyelenggara adalah ekskul sastra, dan didukung oleh ekskul jurnal juga Ikhsan sebagai perwakilan DKM.

"Kenapa aku mesti ikutan hal seperti ini juga?" tanya Ikhsan bingung karena ia juga diajak.

"Kak Ikhsan, syukurlah kakak juga ada disini. Aku jadi merasa aman~" ungkap Fajar sambil menyalami Ikhsan dengan penuh rasa syukur.

"Jadi begitu ya, aku disini cuma buat jadi 'micin' di kegiatan ini. Seperti yang diharapkan dari Sindy." pikir Ikhsan sambil menjaga senyum ramahnya walau ia sebenarnya merasa risih.

Sementara itu, Sindy dan ketua ekskul jurnal yaitu Chelsea terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Mereka tampak sedang berdebat dengan serius di sebuah meja yang biasa digunakan untuk membaca di perpustakaan.

"Tidak-tidak, kita tidak bisa menggunakan sekolah ini hingga pagi kan? Lagipula bagaimana dengan orang tua siswa, nantinya mereka akan khawatir kalau anak mereka tidak pulang kan." ujar Sindy tampak sedang menolak ide dari Chelsea.

"Tapi sebuah uji nyali bakalan hambar kalau dimulai bukan dari tengah malam. Jadi tak ada pilihan lain selain menginap!" tegas Chelsea.

"Walau begitu, kita tetap tidak bisa egois dan memaksa mereka untuk menginap. Pikirkan juga perasaan orang tuamu dong kalau tiba-tiba anakmu tidak pulang ke rumah." sanggah Sindy.

"Kalau itu kan bisa diatur, kita hanya perlu memberitahukan pada orang tua kita kalau kita punya kegiatan ekskul yang mengharuskan kita untuk menginap disekolah." jelas Chelsea.

"Maksudnya meminta ijin gitu? Ya itu bisa saja dilakukan. Tapi kamu yakin orang tua kita akan mengijinkannya? Meskipun ini kegiatan ekskul, tapi tetap saja kan berbahaya membiarkan putera-puteri mereka menginap di tempat yang jauh dari rumah." tanya Sindy.

"Hmm.. tenang saja, kalau itu biar aku mengurusnya. Serahkan saja padaku." jawab Chelsea dengan wajah yakin sambil mengacungkan jempolnya.

"Kenapa mesti kamu yang mengurusnya?" sahut Sindy.

"Oke, akan kutelepon sekarang." lanjut Chelsea mengeluarkan ponselnya.

"Tunggu sebentar, jangan bilang kamu punya semua nomor orang tua kami? Dapat darimana tuh nomor?" tanya Sindy dengan tatapan curiga.

"Ah, tentu saja dari data siswa kan? Saat pendaftaran sekolah, setiap siswa kan menyematkan data diri beserta nomor HP orang tua atau nomor telpon rumah masing-masing." jawab Chelsea.

"Itu memang benar sih, tapi bagaimana caranya kamu bisa mengetahui semua data siswa itu? Memangnya kamu punya hak akses ke data para siswa?" tanya Sindy lagi.

"Tentu saja tidak, tehe~" jawab Chelsea dengan sok imut.

Sindy pun menepuk jidatnya saat mendengar itu.

"Aku akan berpura-pura tak mendengarnya untuk saat ini. Lalu, bagaimana caranya kamu membujuk para orang tua untuk memberikan ijin mereka?" tanya Sindy lagi.

"Beri aku waktu sebentar." balas Chelsea.

Chelsea kemudian bangkit dari tempat duduknya dan kemudian pergi keluar dari gedung perpustakaan itu.

"Tumben banget aku mendengar senior kalah dalam berdebat." ujar Arya sambil duduk di kursi bekas Chelsea duduk.

"Ya, mau bagaimana lagi, meskipun aku mengeluarkan semua kata-kata penghancurku, Chelsea akan tetap ngotot untuk mempertahankan keinginannya. Dia memang tipe orang yang seperti itu. Jadi aku tak punya pilihan lain selain mengalah padanya." jelas Sindy.

"Jadi dengan kata lain, orang seperti senior Chelsea itulah kelemahan senior Sindy?" tukas Arya.

"Ya, mungkin saja." balas Sindy sambil tersenyum.

"Entah kenapa aku malah jadi tidak percaya." gumam Arya.

"Arya." panggil Sindy.

"Apa?" sahut Arya.

"Apa disana hangat?" tanya Sindy.

"Apa maksudnya?" balas Arya malah bingung.

"Tempat duduk itu bekas Chelsea lho." ucap Sindy.

"Tolong jangan menggodaku disaat seperti ini! Aku tahu senior hanya mencoba mengalihkanku saja kan!" bentak Arya sambil berdiri dan menggebrak meja.

"Tapi kamu memang sengaja duduk disana kan." tukas Sindy.

"Kalau ditanya senjaga atau tidak disengaja ya tentu saja aku akan menjawab sengaja kan. Lagipula bagaimana caranya aku duduk di kursi tanpa disengaja?" tanya Arya.

"Ya bisa saja kan ada yang mendudukanmu dengan paksa diatas kursi kemudian mengikatmu lalu menggodamu sambil menginterogasimu." jawab Sindy dengan tatapan menggoda.

"Tunggu sebentar, darimana senior mengetahuinya?" tanya Arya tampak terkejut.

"Hah? Apa maksudmu?" sahut Sindy sambil tersenyum.

"Tidak ada, lupakan saja." balas Arya.

"Dan juga senior, tadi itu senior cuma mau mengalihkan topik pembicaraan saja kan?" tukas Arya setelahnya.

"Wah.. ternyata memang susah ya untuk menggunakan trik pada orang yang memang sudah ahli menggunakannya." ungkap Sindy.

"Tolong jangan mengelak terus senior. Senior pasti sengaja mengalah kan pada senior Chelsea? Apa tujuan senior melakukannya?" tukas Arya lagi dengan yakin.

"Entahlah.." balas Sindy.

"Apa senior sudah tahu kalau senior Chelsea bakalan ngotot dan mencoba terlihat seperti menentangnya agar nampak bertanggung jawab?" tambah Arya.

"Mungkin saja.." sahut Sindy.

Arya mulai merasa kesal.

"Atau senior hanya ingin membuat acara menginap disekolah yang menyenangkan?" lanjut Arya.

"Bisa jadi.." jawab Sindy.

"Dia pasti mencoba menghentikan topik pembicaraan ini dengan membuatku kesal. Sepertinya aku tidak bisa mencari tahu dengan cara biasa ya. Senior Sindy memang hebat.." pikir Arya.

"Senior." panggil Arya.

"Apa, juniorku?" sahut Sindy.

"Aku akan memanggil senior Rere juga kemari." ujar Arya.

"Eh?!" ucap Sindy terlihat sedikit kaget.

Catatan hari ini:
Kita tidak bisa mengajari berhitung pada orang yang sudah bisa berhitung, kecuali kita punya cara lain untuk berhitung yang belum diketahui oleh orang tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】