Memo, chapter 67 - Memungut dan Mencari 3
Sindy tiba-tiba saja menghilang. Arya, Shinta dan Alice tampak terkejut dengan menghilangnya Sindy saat ini.
"Kak Sindy pergi kemana?" ucap Alice.
"Hmm.. mana aku tahu. Aku saja baru datang." sahut Arya.
"Jangan-jangan dia diculik?!" tukas Shinta.
"Tidak mungkin lah. Kalau dia diculik, orang-orang pasti pada lihat. Lagipula di gerbang depan kan ada satpam." ujar Arya.
"Hmm.. benar juga." sahut Shinta tampak berpikir keras.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita cari saja?" usul Alice.
"Lalu bagaimana dengan mengumpulkan sampahnya?" tanya Arya.
"Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu! Kak Sindy hilang! Bisakah kamu lebih khawatir sedikit!" bentak Alice tampak marah dengan wajah imutnya.
"Y-ya.. kurasa kamu benar." sahut Arya sambil garuk kepala.
Mereka bertiga pun terdiam untuk berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau kita berpencar? Dengan begitu kita bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan senior Sindy lebih cepat." ujar Arya.
"Ide bagus!" sahut Shinta.
"Mmhh.. nice idea!" ucap Alice sambil mengangguk.
"Kalau begitu, Shinta! Kamu pergi menuju ke kantin! Dan Alice pergilah ke ruangan OSIS!" suruh Arya.
"Lalu kamu?" tanya Shinta dan Alice.
"Aku akan menuju ke mesjid. Ada kemungkinan senior Sindy sedang sholat kan?" jawab Arya yang lekas pergi meninggalkan ketiga gadis itu.
Alice dan Shinta saling melihat satu sama lain dengan tampak mengerti dengan suruhan Arya tadi dan kemudian mereka berdua pun pergi dari halaman depan. Saat Arya sampai di mesjid, yang pertama yang ia lakukan adalah tiduran di teras depan mesjid yang tampak sejuk di siang yang panas itu.
"Aahh.. tidak ada yang menandingi nyamannya lantai mesjid saat cuaca panas gini." ucap Arya dengan wajah bahagia.
"Berani juga kamu menggunakan tempat ibadah sebagai tempat bersantai." ucap seorang senior dengan kacamata dan terlihat mengenakan sarung.
"Oh.. senior Ikhsan. Apa kabar?" sapa Arya.
"Bagaimana bisa kamu bisa sesantai itu walaupun sedang dimarahi seniormu?" tanya orang itu yang ternyata adalah Ikhsan.
"Ya tentu saja, karena yang marah itu kan senior. Bukan pemilik tempat ibadah ini." jawab Arya dengan tenang.
"Pintar juga kamu ternyata." puji Ikhsan.
Kemudian Ikhsan duduk disebelah Arya yang sedang tiduran.
"Tapi bukankah DIA akan marah kalau rumah-NYA dipakai untuk bermalas-malasan?" ujar Ikhsan sambil tersenyum.
"Hmm.. benarkah begitu? Coba pikirkan, apa benar seorang selain pemilik rumah untuk mengatur tamu pemilik rumah?" balas Arya.
"Justru bukankah itu baik ada yang mengingatkanmu. Tapi tamu macam apa kamu ini, permisi saja tidak. Setidaknya ucapkanlah salam. Dan dalam hal ini, ucapkanlah doa masuk mesjid." kata Ikhsan dengan tatapan tajam pada Arya.
Wajah Arya jadi pucat saat melihat tatapan Ikhsan yang tampak mengerikan itu.
"Ya.. se-sepertinya senior benar. He.. hehe.." sahut Arya dengan ketakutan kemudian duduk bangun dari tidurannya.
"Baguslah kalau kamu mengerti." ucap Ikhsan sambil tersenyum.
Ikhsan pun berdiri lagi dan berjalan masuk kedalam mesjid.
"Kalau kamu mencari Sindy, dia ada di ruang OSIS." ujar Ikhsan sambil berlalu.
"Aku sudah tahu." balas Arya.
"Tunggu sebentar! Bagaimana dia tahu aku sedang mencari senior Sindy!?" ucap Arya dalam hatinya dengan wajah terkejut.
"Kak Sindy pergi kemana?" ucap Alice.
"Hmm.. mana aku tahu. Aku saja baru datang." sahut Arya.
"Jangan-jangan dia diculik?!" tukas Shinta.
"Tidak mungkin lah. Kalau dia diculik, orang-orang pasti pada lihat. Lagipula di gerbang depan kan ada satpam." ujar Arya.
"Hmm.. benar juga." sahut Shinta tampak berpikir keras.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita cari saja?" usul Alice.
"Lalu bagaimana dengan mengumpulkan sampahnya?" tanya Arya.
"Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu! Kak Sindy hilang! Bisakah kamu lebih khawatir sedikit!" bentak Alice tampak marah dengan wajah imutnya.
"Y-ya.. kurasa kamu benar." sahut Arya sambil garuk kepala.
Mereka bertiga pun terdiam untuk berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau kita berpencar? Dengan begitu kita bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan senior Sindy lebih cepat." ujar Arya.
"Ide bagus!" sahut Shinta.
"Mmhh.. nice idea!" ucap Alice sambil mengangguk.
"Kalau begitu, Shinta! Kamu pergi menuju ke kantin! Dan Alice pergilah ke ruangan OSIS!" suruh Arya.
"Lalu kamu?" tanya Shinta dan Alice.
"Aku akan menuju ke mesjid. Ada kemungkinan senior Sindy sedang sholat kan?" jawab Arya yang lekas pergi meninggalkan ketiga gadis itu.
Alice dan Shinta saling melihat satu sama lain dengan tampak mengerti dengan suruhan Arya tadi dan kemudian mereka berdua pun pergi dari halaman depan. Saat Arya sampai di mesjid, yang pertama yang ia lakukan adalah tiduran di teras depan mesjid yang tampak sejuk di siang yang panas itu.
"Aahh.. tidak ada yang menandingi nyamannya lantai mesjid saat cuaca panas gini." ucap Arya dengan wajah bahagia.
"Berani juga kamu menggunakan tempat ibadah sebagai tempat bersantai." ucap seorang senior dengan kacamata dan terlihat mengenakan sarung.
"Oh.. senior Ikhsan. Apa kabar?" sapa Arya.
"Bagaimana bisa kamu bisa sesantai itu walaupun sedang dimarahi seniormu?" tanya orang itu yang ternyata adalah Ikhsan.
"Ya tentu saja, karena yang marah itu kan senior. Bukan pemilik tempat ibadah ini." jawab Arya dengan tenang.
"Pintar juga kamu ternyata." puji Ikhsan.
Kemudian Ikhsan duduk disebelah Arya yang sedang tiduran.
"Tapi bukankah DIA akan marah kalau rumah-NYA dipakai untuk bermalas-malasan?" ujar Ikhsan sambil tersenyum.
"Hmm.. benarkah begitu? Coba pikirkan, apa benar seorang selain pemilik rumah untuk mengatur tamu pemilik rumah?" balas Arya.
"Justru bukankah itu baik ada yang mengingatkanmu. Tapi tamu macam apa kamu ini, permisi saja tidak. Setidaknya ucapkanlah salam. Dan dalam hal ini, ucapkanlah doa masuk mesjid." kata Ikhsan dengan tatapan tajam pada Arya.
Wajah Arya jadi pucat saat melihat tatapan Ikhsan yang tampak mengerikan itu.
"Ya.. se-sepertinya senior benar. He.. hehe.." sahut Arya dengan ketakutan kemudian duduk bangun dari tidurannya.
"Baguslah kalau kamu mengerti." ucap Ikhsan sambil tersenyum.
Ikhsan pun berdiri lagi dan berjalan masuk kedalam mesjid.
"Kalau kamu mencari Sindy, dia ada di ruang OSIS." ujar Ikhsan sambil berlalu.
"Aku sudah tahu." balas Arya.
"Tunggu sebentar! Bagaimana dia tahu aku sedang mencari senior Sindy!?" ucap Arya dalam hatinya dengan wajah terkejut.
Catatan hari ini:
Sehebat apapun kita mengatakan sesuatu agar terlihat benar tetap tidak akan bisa mengalahkan sesuatu yang benar sesungguhnya.
Sehebat apapun kita mengatakan sesuatu agar terlihat benar tetap tidak akan bisa mengalahkan sesuatu yang benar sesungguhnya.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.