Memo, chapter 68 - Memungut dan Mencari 4

Arya pergi meninggalkan mesjid karena diceramahi oleh Ikhsan. Dia berjalan menuju ke kantin. Di kantin dia melihat ada seseorang yang tidak asing sedang makan disana. Dan itu adalah Rere yang tampak sedang makan dengan wajah sebal.
"Jadi dia masih disini ternyata. Kupikir dia sudah pulang tadi tuh." gumam Arya sambil lewat dibelakang Rere.
Tiba-tiba kerah baju bagian belakangnya ditarik oleh Rere. Arya pun terduduk di kursi di seberang tempat duduk Rere.
"Aduh! Apaan sih.." gerutu Arya yang kesakitan didudukan secara paksa seperti itu.
Rere duduk kembali dikursinya dan menatap Arya dengan tajam.
"Gawat nih, sepertinya aku bakal di interogasi." ujar Arya dalam hati.
Arya pun memalingkan wajahnya melihat ke arah lain.
"Kau bilang mau memungut sampah kan? Lalu sedang apa kau disini?" tanya Rere dengan suara sangar.
"Ah.. kalau itu sih.." sahut Arya sambil tersenyum aneh.
Melihat senyum aneh diwajah Arya, Rere langsung menatap curiga padanya.
"Gimana jawabnya nih. Kalau aku bilang aku bolos bisa-bisa aku dibunuhnya." gerutu Arya dalam hati.
"Kalau itu gimana?" tanya Rere.
"Kalau itu sih hanya tuhan yang tahu." balas Arya.
Seketika tinju melesat ke arah wajah Arya, dan untungnya tinjuan itu berhenti sebelum mengenai wajahnya. Namun efek gelombang kejutnya begitu terasa. Walaupun tidak kena, wajah Arya langsung pucat karena merasakan angin yang tercipta menerpa wajahnya.
"Jangan bercanda denganku, bocah." gertak Rere dengan tatapan garang.
"Ba-baiklah. Se-sebenarnya aku sedang mencari se-senior Sindy." jawab Arya dengan tergagap karena ketakutan.
"Oh.. kalau Sindy sih kulihat dia bersama dengan ketua OSIS menuju ke ruang OSIS." balas Rere.
"Oh begitu ya. Hahaha.." sahut Arya.
"Sebenarnya aku sudah tahu sih." sambung Arya dalam hati.
Rere kemudian meneruskan makannya dan mengabaikan Arya yang duduk dihadapannya. Arya hanya melihat Rere menyantap mie ayam yang terlihat pedas itu dengan lahap. Wajah dan leher Rere terlihat berkeringat akibat pedasnya.
"Apa yang sebenarnya kulihat? Aku harus segera pergi dari sini." gerutu Arya dalam hati memalingkan pandangannya dari Rere.
Wajahnya terlihat malu saat itu.
"A-aku harus segera pergi. Terima kasih infonya." ucap Arya sambil berdiri.
"Kenapa tidak pesan sesuatu? Biar aku yang bayar." tawar Rere.
Arya pun menatap sayu pada Rere.
"Kenapa kau menatapku seperti itu!?" bentak Rere.
"Waktu itu saja senior berkata mau menraktirku tapi tahunya malah kabur. Perlu senior tahu, saat ini aku sedang krisis! Aku sedang mengirit buat beli pulsa listrik!" bentak balik Arya.
"Yah.. kalau masalah itu bisakah kau lupakan. Lagipula tenang saja. Saat ini kan aku lagi makan, aku tak mungkin kabur." balas Rere dengan sedikit malu.
"Baiklah kalau begitu." sahut Arya.
"Cih, ini pertama kalinya aku dibentak seperti itu selain oleh Sindy. Dasar bocah sialan." gerutu Rere dalam hati tampak kesal namun pipinya memerah karena malu.
Arya tampak membeli es buah dan kemudian pergi meninggalkan kantin.
"Terima kasih traktirannya." ucap Arya sambil berlalu.
"Padahal aku yang nraktir, kenapa aku yang malah menurut padanya? Lagipula semiskin apa dia itu sampai harus mengirit uang jajan untuk beli pulsa listrik. Tunggu, berarti itu artinya dia hidup sendiri kan. Tapi kalau tinggal dikosan kan harusnya dia tidak beli listrik sendiri, dan hanya bayar tagihan pemakaiannya saja. Jadi itu artinya dia tinggal dirumah sendiri. Lalu kalau begitu kenapa dia mesti beli pulsa listrik sendiri? Aahh.. aku pusing memikirkannya! Kenapa pula aku susah-susah memikirkan tentangnya! Eeuuuhhh!!" gerutu Rere dalam hatinya.
Rere pun menghabiskan mie ayam nya kemudian membayar makanan tersebut beserta es buah Arya.

Catatan hari ini:
Sebuah informasi bisa saja datang dari sesuatu yang tidak terduga.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】