VocaWorld, chapter 179 - Sinkronisasi Perasaan
Miku dengan menggunakan dance 'Cherry Blossom Princess' nya mampu menghabisi seluruh darksider yang ada di pusat kota dengan mudahnya. Melihat seluruh pasukannya dihabisi, Leviathan yang ada di atap gedung tidak bisa tinggal diam.
"Sialan! Perempuan macam apa dia ini, terlalu kuat. Pasukan darksider bahkan yang telah berevolusi sekalipun dilibas dengan mudahnya. Sepertinya aku perlu menggunakannya." gerutu Leviathan terlihat kesal.
Leviathan kemudian mengangkat tongkat nya keatas. Ujung tongkat tersebut bersinar, dan bumi bergetar.
"Ada apa ini?!" ucap Len.
"Gempa bumi?!" tambah Rin.
"Diatas!" kata Miku melihat cahaya dari atas gedung.
Keberadaan Leviathan telah diketahui oleh Miku, Rin dan Len. Padangan mereka bertiga pun berpusat pada cahaya tersebut.
"Sepertinya dia yang terakhir. Ayo kita serang!" ajak Rin.
"Kenapa malah jadi kamu yang mimpin, Rin?" protes Len.
"Mau bagaimana lagi, Gumi-neechan kan tidak ada." sahut Rin.
"Tapi setidaknya biarkanlah aku yang lebih tua untuk memimpin." kata Len.
"Hei, kamu tidak sedang ngelindur kan, Len? Yang kakak disini itu aku." balas Rin menatap tajam pada Len.
"Eh, beneran? ka-kalau gitu biarkan aku sebagai satu-satunya lelaki untuk memimpin!" pinta Len.
"Tidak bisa!" tolak Rin.
"Kenapa mereka malah ribut tentang siapa yang mimpin disituasi seperti ini? Lagipula yang paling tua disini kan aku. Apa mereka melupakanku sebagai kakak mereka?" ujar Miku dengan menangis bodoh.
Sementara mereka sibuk sendiri, tampak beberapa hydrant air yang ada di sekeliling gedung tempat Leviathan berada pecah berkeping-keping dan air menyembur dengan kuatnya ke angkasa. Miku dan Kagamine bersaudara dibuat terkejut oleh hal itu.
"Muncullah dihadapanku, Trishulla!" ucap Leviathan.
Air yang menyembur ke langit itu kini bermpul diudara menjadi empat gumpalan air raksasa. Ukurannya bahkan lebih besar dari bangunan tempat Leviathan berdiri.
"Be-besar sekali." ucap Len.
"Kira-kira bakal jadi apa itu?" ujar Rin.
Gumpalan-gumpalan air itu kini berubah menjadi makhluk monster raksasa yang tampak memegang senjata tombak bermata 3 yang juga terbuat dari air seperti halnya monster itu.
"Hahaha.. kalian kali ini takkan sanggup untuk mengalahkannya." ujar Leviathan dengan nada angkuh.
Melihat sosok yang sangat besar yang jumlahnya bahkan ada 4 membuat Miku, Rin dan Len gemetar ketakutan.
"Ayo lari!" ucap Rin.
"Miku-nee, ayo! Ngapain diam aja!" ajak Len pada Miku yang malah terdiam.
"Ke-kenapa mesti kabur? Aku ti-tidak takut kok." jawab Miku.
"Jangan bohong dah! Lihat aja kaki Miku-nee gemetaran gitu." balas Len sambil menunjuk kaki Miku yang memang gemetaran.
"I-ini.. kakiku ge-gemetaran bukan karena takut kok. Ta-tapi karena gempa." sanggah Miku.
"Gempanya sudah berhenti sejak tadi kali." balas Len lagi menatap sayu pada Miku.
Salah satu monster air yang paling dekat dengan Miku tampak bersiap menyerang Miku. Major cair berbentuk manusia itu sudah mengarahkan tombaknya ke Miku.
"Miku-neechan! Awas diatasmu!" teriak Rin yang melihatnya.
Miku pun menoleh ke atas, dan tombak monster tersebut tepat menuju ke arah tubuh Miku yang ukurannya hanya sebesar ujung tombak tersebut. Miku terkejut dan tak bisa bergerak. Tapi tiba-tiba terdengar seperti suara siulan dan monster air itu tertembus peluru tak terlihat hingga berlubang, begitu pula gedung tempat Leviathan berdiri. Gedung itu pun meledak karena gelombang kejut dari dalam gedung. Sementara monster air yang tadi berlubang kini hancur kembali menjadi air. Miku terselamatkan oleh peluru tak terlihat itu.
"Miku-nee!", "Miku-neechan tidak apa-apa?" ujar Len dan Rin bersamaan menghampiri Miku.
Gedung nya runtuh, Leviathan melompat menuju ke gedung lainnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tadi itu?" gerutu Leviathan tak menyangka monster air nya hancur begitu saja.
Tiba-tiba ada suara-suara siulan yang lain, dan ketiga monster air yang tersisa pecah menjadi air biasa. Dan terjadi 3 dentuman gelombang kejut yang kuat disana.
"Mungkin aku tidak bisa bertarung secara langsung. Tapi setidaknya aku bisa memberikan bantuan walau sedikit." ujar Ray yang sedang mengincar dengan snipernya.
June dikeroyok oleh Luka, Meiko, Kaito dan Kamui. Meskipun June menggunakan kemampuan yang bisa memperlambat gerakan lawannya, namun itu sama sekali tak efektif melawan kelompok Luka yang memiliki kerjasama yang cukup baik.
"Benar, seperti yang Megurine bilang, dia tidak bisa mengalahkan kerjasama tim dan antisipasi cepat." ujar Kaito.
"Dan gabungan serangan jarak jauh dan jarak dekat sangat efektif melawan kemampuannya itu." sambung Meiko.
June kelelahan karena stamina nya mulai habis. Sementara Luka dan kelompoknya tampak biasa-biasa saja.
"Sial, kenapa hanya aku saja yang merasakan kelelahan ini?" gerutu June dengan terengah dan bercucuran keringat.
"Tak perlu bingung, tentu saja hanya kamu merasakan kelelahan. Karena hanya kamu saja yang gerakannya tidak melambat oleh kemampuanmu itu kan?" tukas Luka.
"Bagaimana kau tahu?" tanya June.
"Tentu saja aku tahu. Karena jika tidak begitu, maka sebelumnya kamu pasti sudah terkena serangan Meiko. Dan itu artinya saat kamu melakukan gerakan lebih cepat daripada yang kami lakukan dan itu membutuhkan lebih banyak energi daripada kami." jawab Luka.
Luka kemudian menekan beberapa nada di piano nya dan pixie miliknya pun bermunculan.
"Dasar bodoh, meskipun kamu menggunakan serangan itu, itu akan percuma jika aku bisa memperlambatnya." ujar June yang melihat pixie Luka melesat kearahnya.
"Fire Storm!" ucap Meiko melakukan pukulan cepat bertubi-tubi menembakan hujan bola api ke arah June dari arah lain.
"Blue Fire Slash!" ucap Kaito mencambukkan api biru menggunakan dari harmonika yang ia mainkan dari arah sebaliknya.
"Meskipun kamu bisa memperlambat waktu, maka percuma saja jika kamu tidak punya jalan untuk kabur." ujar Luka.
"Siiiaaaaaallll!!!" pekik June lalu menggunakan kemampuannya.
Semuanya menjadi berwarna negatif. Serangan pixie, api biru Kaito, dan hujan api Meiko, semuanya menjadi lambat. June melompat kemudian menonaktifkan kekuatannya saat melayang diudara. Semua serangan saling menghantam dan saling menghancurkan. Sementara June mendarat ditanah dengan selamat.
"Jadi dia bisa menggunakannya seperti itu." gumam Luka sedikit terkejut.
June kembali mengaktifkan kemampuannya dan melesat ke arah Luka. June berputar kemudian mengarahkan kakinya ke Luka. Namun dibelakang punggungnya ternyata ada Kamui yang bersiap menebasnya.
"Sial, aku melupakannya!" gerutu June terkejut merasakan ancaman di belakang punggungnya.
June mengurungkan niatnya untuk menendang Luka karena pedang Kamuisudah hampir menggores ke punggungnya. Laki-laki licik itu pun mundur menjauh dari Luka dan Kamui. Warna keadaan sekitar kembali seperti semula.
"Takkan kubiarkan anda menyentuhnya, Jun-dono." ujar Kamui yang melindungi Luka.
"Woh.. keren sekali." puji June.
"Anda tak usah khawatir, saya akan menjaga anda dengan seluruh hidup saya." kata Kamui pada Luka yang ada dibelakangnya.
Tiba-tiba saja gedung dibelakang June hancur dan runtuh. Lalu sesosok manusia melesat ke arahnya dan tersungkur ditanah hingga membuat tanahnya jadi seperti karpet yang mengkerut.
"Mengerikan dah. Aku dihajar habis-habisan olehnya." ujar orang itu yang ternyata adalah Dante.
"Tuan Lucifer!!?? Apa yang terjadi?" tanya June terkejut.
"Tidak apa-apa. Hanya rasanya nostalgia saja." jawab Dante sambil bangkit lagi.
"Apa hubungannya dihajar habis-habisan dengan nostalgia?" sahut June malah heran.
Tak lama kemudian Gumi pun muncul. Gumi terlihat juga mengalami luka-luka walaupun tidak sebanyak Dante.
"Jadi kamu memilih berlindung pada anak buahmu?" tukas Gumi menatap dingin pada Dante.
"Bukannya yang nendang aku kesini itu kau ya? Tidak mungkin aku sengaja terpental kesini. Dan juga mana aku tahu JB ada disini." balas Dante.
"Untuk seseorang yang saling memusuhi kalian ini terlalu akrab." komentar Leviathan yang berjalan mendekati mereka.
"Kenapa kau kemari?" tanya Dante.
"Aku terdesak, dasar bodoh! Mereka punya pelindung tak terlihat, dan juga mereka handal dalam pertarungan jarak dekat maupun jarak menengah." jawab Leviathan.
Tak lama Miku dan Kagamine bersaudara juga sampai di tempat itu karena mengejar Leviathan.
"Sepertinya kita terkepung." ujar June.
"Ya, aku tahu. Aku kan bisa lihat." sahut Dante.
Dengan terburu-buru, pasukan militer pemerintah bergerak menuju pusat kota. Namun keberangkatan pesawat tempur tampak tertunda karena belum mendapat ijin dari pemerintah pusat.
"Komandan, mau sampai kapan kita disini? Yang lain sudha pada berangkat. Kita sudah pada terlambat." protes salah satu pilotnya.
"Mau bagiamana lagi, pesawat ini bukan milik kita. Kita mendapat ijin menggunakannya hanya untuk penyerangan kemarin saja. Dan untuk hari ini, kita belum mendapat ijin. Lagipula pusat telekomunikasi kita baru saja dihancurkan. Jadi sulit untuk memberitahukan pihak pusat." jawab sang komandan.
"Cih, kalau begitu percuma kita memiliki pesawat yang canggih kalau kita tidak bisa menggunakannya." gerutu pilot.
"Tak apa. Tenang saja, saat ini mereka sedang mencoba menyambungkan melalui koneksi internet menggunakan jaringan publik." ujar komandan.
"Semoga saja mereka bisa cepat." kata pilot itu.
Dalam persembunyiannya, Shiro Ray menggunakan scope snipernya untuk memperhatikan keadaan markas pasukan militer.
"Berkat Dante, pergerakan mereka jadi melambat, namun sepertinya sudah saat nya untuk menggunakan nya. Aku sudah melatihnya, jadi aku rasa tidak apa-apa." ujar Ray melihat pesawat-pesawat tempur di markas itu belum terbang juga.
Kembali ke markas militer, tampak komunikasi telah tersambung ke tempat menteri pertahanan melalui koneksi internet.
"Komandan, kita sudah tersambung dengan menteri pertahanan." lapor prajurit yang bertugas menyambungkan komunikasi.
"Bagus." sahut komandan.
Komanadan itu pun menghampiri prajurit tersebut dan melaporkan semuanya pada menteri pertahanan. Ia juga meminta ijin untuk menggunakna pesawat tempur sekali lagi. Setelah mendapat ijin, komandan itu langsung bergegas keluar dari hangar dan menemui para pilot yang sudah berada dalam pesawat.
"Kita sudah dapat ijin dari MenHan. Siap berangkat." ujar komandan.
"Siap, komandan! Laksanakan!" sahut para pilot.
Mesin pesawat-pesawat itu pun dinyalakan oleh para pilotnya masing-masing.
"Akhirnya kita let's go!" ucap salah satu pilot.
"Aku duluan!" ucap seorang pilot yang melesat lebih dulu memacu pesawatnya.
"Woy, formasinya!" bentak seorang pilot yang lain.
Pesawat-pesawat super canggih itu pun melesat ke pusat kota dengan kecepatan tinggi.
"Akan kuhancurkan mereka sebelum pasukan darat sampai. Hahaha.." ucap salah seorang pilot dengan percaya diri.
"Takkan kubiarkan." ucap Ray yang melihat dari kejauhan.
Ray mengetik-ngetik sesuatu di laptopnya.
"Synchronizing.. activate!" sambung Ray.
Miku, Luka, Rin, Len, Meiko, Gumi, Kaito, dan Kamui merasakan sesuatu yang aneh. Dan tiba-tiba semuanya pun berubah menjadi hitam putih kecuali mereka dan musuhnya. Dante yang menyadarinya pun terkejut.
"I-ini.. melody of silent?!" ucap Dante.
"Melody of silent? Apaan tuh?" tanya June.
"Itu adalah sebuah susunan nada yang membentuk melodi yang mampu menciptakan keheningan dan mengisolasi setiap yang ada pada jarak jangkauan nya." jelas Dante.
"Maksudnya apa tuan?" sahut June yang masih belum mengerti.
"Jadi begitu. Kalau begitu salah satu dari mereka.." ujar Leviathan yang kelihatannya mengerti maksud Dante.
"Tapi anehnya, tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan tanda-tanda penggunaan melody of silent. Kalau begitu, siapa yang menggunakannya?" gumam Dante memperhatikan Miku dan kawan-kawan satu-persatu.
"Apa yang terjadi? Apa maksudnya ini?" tanya Meiko.
"Entahlah. Tapi ini sama seperti waktu itu." balas Luka ingat kejadian waktu di sekolah saat ia hendak diserang orang yang dirasuki minor.
"Mereka terlihat kebingungan juga. Kalau begitu, jangan-jangan ini pekerjaan Aniki. Tapi, dia sudah tidak memiliki kekuatan. Jadi harusnya aku bisa melihatnya saat ini kalau memang ini dia yang melakukan." pikir Dante sambil celinguk kanan kiri.
"Maaf Dante, aku tidak berada disini. Aku pun tak mesti ada disana untuk menggunakannya." ujar Ray melihat Dante melalui scope snipernya.
Namun penglihatannya terlihat memudar seperti ada sesuatu yang menghalangi matanya.
"Sial, ini mengganggu penglihatanku. Ini juga sakit sekali. Ini buruk. Aku tak bisa menghentikan air mataku." gerutu Ray yang ternyata bercucuran mata, namun bibirnya tersenyum namun sedikit meringis seperti menahan sakit.
Di laptopnya pun terdapat tulisan 'synchronizing active'.
To be continued..
"Sialan! Perempuan macam apa dia ini, terlalu kuat. Pasukan darksider bahkan yang telah berevolusi sekalipun dilibas dengan mudahnya. Sepertinya aku perlu menggunakannya." gerutu Leviathan terlihat kesal.
Leviathan kemudian mengangkat tongkat nya keatas. Ujung tongkat tersebut bersinar, dan bumi bergetar.
"Ada apa ini?!" ucap Len.
"Gempa bumi?!" tambah Rin.
"Diatas!" kata Miku melihat cahaya dari atas gedung.
Keberadaan Leviathan telah diketahui oleh Miku, Rin dan Len. Padangan mereka bertiga pun berpusat pada cahaya tersebut.
"Sepertinya dia yang terakhir. Ayo kita serang!" ajak Rin.
"Kenapa malah jadi kamu yang mimpin, Rin?" protes Len.
"Mau bagaimana lagi, Gumi-neechan kan tidak ada." sahut Rin.
"Tapi setidaknya biarkanlah aku yang lebih tua untuk memimpin." kata Len.
"Hei, kamu tidak sedang ngelindur kan, Len? Yang kakak disini itu aku." balas Rin menatap tajam pada Len.
"Eh, beneran? ka-kalau gitu biarkan aku sebagai satu-satunya lelaki untuk memimpin!" pinta Len.
"Tidak bisa!" tolak Rin.
"Kenapa mereka malah ribut tentang siapa yang mimpin disituasi seperti ini? Lagipula yang paling tua disini kan aku. Apa mereka melupakanku sebagai kakak mereka?" ujar Miku dengan menangis bodoh.
Sementara mereka sibuk sendiri, tampak beberapa hydrant air yang ada di sekeliling gedung tempat Leviathan berada pecah berkeping-keping dan air menyembur dengan kuatnya ke angkasa. Miku dan Kagamine bersaudara dibuat terkejut oleh hal itu.
"Muncullah dihadapanku, Trishulla!" ucap Leviathan.
Air yang menyembur ke langit itu kini bermpul diudara menjadi empat gumpalan air raksasa. Ukurannya bahkan lebih besar dari bangunan tempat Leviathan berdiri.
"Be-besar sekali." ucap Len.
"Kira-kira bakal jadi apa itu?" ujar Rin.
Gumpalan-gumpalan air itu kini berubah menjadi makhluk monster raksasa yang tampak memegang senjata tombak bermata 3 yang juga terbuat dari air seperti halnya monster itu.
"Hahaha.. kalian kali ini takkan sanggup untuk mengalahkannya." ujar Leviathan dengan nada angkuh.
Melihat sosok yang sangat besar yang jumlahnya bahkan ada 4 membuat Miku, Rin dan Len gemetar ketakutan.
"Ayo lari!" ucap Rin.
"Miku-nee, ayo! Ngapain diam aja!" ajak Len pada Miku yang malah terdiam.
"Ke-kenapa mesti kabur? Aku ti-tidak takut kok." jawab Miku.
"Jangan bohong dah! Lihat aja kaki Miku-nee gemetaran gitu." balas Len sambil menunjuk kaki Miku yang memang gemetaran.
"I-ini.. kakiku ge-gemetaran bukan karena takut kok. Ta-tapi karena gempa." sanggah Miku.
"Gempanya sudah berhenti sejak tadi kali." balas Len lagi menatap sayu pada Miku.
Salah satu monster air yang paling dekat dengan Miku tampak bersiap menyerang Miku. Major cair berbentuk manusia itu sudah mengarahkan tombaknya ke Miku.
"Miku-neechan! Awas diatasmu!" teriak Rin yang melihatnya.
Miku pun menoleh ke atas, dan tombak monster tersebut tepat menuju ke arah tubuh Miku yang ukurannya hanya sebesar ujung tombak tersebut. Miku terkejut dan tak bisa bergerak. Tapi tiba-tiba terdengar seperti suara siulan dan monster air itu tertembus peluru tak terlihat hingga berlubang, begitu pula gedung tempat Leviathan berdiri. Gedung itu pun meledak karena gelombang kejut dari dalam gedung. Sementara monster air yang tadi berlubang kini hancur kembali menjadi air. Miku terselamatkan oleh peluru tak terlihat itu.
"Miku-nee!", "Miku-neechan tidak apa-apa?" ujar Len dan Rin bersamaan menghampiri Miku.
Gedung nya runtuh, Leviathan melompat menuju ke gedung lainnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tadi itu?" gerutu Leviathan tak menyangka monster air nya hancur begitu saja.
Tiba-tiba ada suara-suara siulan yang lain, dan ketiga monster air yang tersisa pecah menjadi air biasa. Dan terjadi 3 dentuman gelombang kejut yang kuat disana.
"Mungkin aku tidak bisa bertarung secara langsung. Tapi setidaknya aku bisa memberikan bantuan walau sedikit." ujar Ray yang sedang mengincar dengan snipernya.
June dikeroyok oleh Luka, Meiko, Kaito dan Kamui. Meskipun June menggunakan kemampuan yang bisa memperlambat gerakan lawannya, namun itu sama sekali tak efektif melawan kelompok Luka yang memiliki kerjasama yang cukup baik.
"Benar, seperti yang Megurine bilang, dia tidak bisa mengalahkan kerjasama tim dan antisipasi cepat." ujar Kaito.
"Dan gabungan serangan jarak jauh dan jarak dekat sangat efektif melawan kemampuannya itu." sambung Meiko.
June kelelahan karena stamina nya mulai habis. Sementara Luka dan kelompoknya tampak biasa-biasa saja.
"Sial, kenapa hanya aku saja yang merasakan kelelahan ini?" gerutu June dengan terengah dan bercucuran keringat.
"Tak perlu bingung, tentu saja hanya kamu merasakan kelelahan. Karena hanya kamu saja yang gerakannya tidak melambat oleh kemampuanmu itu kan?" tukas Luka.
"Bagaimana kau tahu?" tanya June.
"Tentu saja aku tahu. Karena jika tidak begitu, maka sebelumnya kamu pasti sudah terkena serangan Meiko. Dan itu artinya saat kamu melakukan gerakan lebih cepat daripada yang kami lakukan dan itu membutuhkan lebih banyak energi daripada kami." jawab Luka.
Luka kemudian menekan beberapa nada di piano nya dan pixie miliknya pun bermunculan.
"Dasar bodoh, meskipun kamu menggunakan serangan itu, itu akan percuma jika aku bisa memperlambatnya." ujar June yang melihat pixie Luka melesat kearahnya.
"Fire Storm!" ucap Meiko melakukan pukulan cepat bertubi-tubi menembakan hujan bola api ke arah June dari arah lain.
"Blue Fire Slash!" ucap Kaito mencambukkan api biru menggunakan dari harmonika yang ia mainkan dari arah sebaliknya.
"Meskipun kamu bisa memperlambat waktu, maka percuma saja jika kamu tidak punya jalan untuk kabur." ujar Luka.
"Siiiaaaaaallll!!!" pekik June lalu menggunakan kemampuannya.
Semuanya menjadi berwarna negatif. Serangan pixie, api biru Kaito, dan hujan api Meiko, semuanya menjadi lambat. June melompat kemudian menonaktifkan kekuatannya saat melayang diudara. Semua serangan saling menghantam dan saling menghancurkan. Sementara June mendarat ditanah dengan selamat.
"Jadi dia bisa menggunakannya seperti itu." gumam Luka sedikit terkejut.
June kembali mengaktifkan kemampuannya dan melesat ke arah Luka. June berputar kemudian mengarahkan kakinya ke Luka. Namun dibelakang punggungnya ternyata ada Kamui yang bersiap menebasnya.
"Sial, aku melupakannya!" gerutu June terkejut merasakan ancaman di belakang punggungnya.
June mengurungkan niatnya untuk menendang Luka karena pedang Kamuisudah hampir menggores ke punggungnya. Laki-laki licik itu pun mundur menjauh dari Luka dan Kamui. Warna keadaan sekitar kembali seperti semula.
"Takkan kubiarkan anda menyentuhnya, Jun-dono." ujar Kamui yang melindungi Luka.
"Woh.. keren sekali." puji June.
"Anda tak usah khawatir, saya akan menjaga anda dengan seluruh hidup saya." kata Kamui pada Luka yang ada dibelakangnya.
Tiba-tiba saja gedung dibelakang June hancur dan runtuh. Lalu sesosok manusia melesat ke arahnya dan tersungkur ditanah hingga membuat tanahnya jadi seperti karpet yang mengkerut.
"Mengerikan dah. Aku dihajar habis-habisan olehnya." ujar orang itu yang ternyata adalah Dante.
"Tuan Lucifer!!?? Apa yang terjadi?" tanya June terkejut.
"Tidak apa-apa. Hanya rasanya nostalgia saja." jawab Dante sambil bangkit lagi.
"Apa hubungannya dihajar habis-habisan dengan nostalgia?" sahut June malah heran.
Tak lama kemudian Gumi pun muncul. Gumi terlihat juga mengalami luka-luka walaupun tidak sebanyak Dante.
"Jadi kamu memilih berlindung pada anak buahmu?" tukas Gumi menatap dingin pada Dante.
"Bukannya yang nendang aku kesini itu kau ya? Tidak mungkin aku sengaja terpental kesini. Dan juga mana aku tahu JB ada disini." balas Dante.
"Untuk seseorang yang saling memusuhi kalian ini terlalu akrab." komentar Leviathan yang berjalan mendekati mereka.
"Kenapa kau kemari?" tanya Dante.
"Aku terdesak, dasar bodoh! Mereka punya pelindung tak terlihat, dan juga mereka handal dalam pertarungan jarak dekat maupun jarak menengah." jawab Leviathan.
Tak lama Miku dan Kagamine bersaudara juga sampai di tempat itu karena mengejar Leviathan.
"Sepertinya kita terkepung." ujar June.
"Ya, aku tahu. Aku kan bisa lihat." sahut Dante.
Dengan terburu-buru, pasukan militer pemerintah bergerak menuju pusat kota. Namun keberangkatan pesawat tempur tampak tertunda karena belum mendapat ijin dari pemerintah pusat.
"Komandan, mau sampai kapan kita disini? Yang lain sudha pada berangkat. Kita sudah pada terlambat." protes salah satu pilotnya.
"Mau bagiamana lagi, pesawat ini bukan milik kita. Kita mendapat ijin menggunakannya hanya untuk penyerangan kemarin saja. Dan untuk hari ini, kita belum mendapat ijin. Lagipula pusat telekomunikasi kita baru saja dihancurkan. Jadi sulit untuk memberitahukan pihak pusat." jawab sang komandan.
"Cih, kalau begitu percuma kita memiliki pesawat yang canggih kalau kita tidak bisa menggunakannya." gerutu pilot.
"Tak apa. Tenang saja, saat ini mereka sedang mencoba menyambungkan melalui koneksi internet menggunakan jaringan publik." ujar komandan.
"Semoga saja mereka bisa cepat." kata pilot itu.
Dalam persembunyiannya, Shiro Ray menggunakan scope snipernya untuk memperhatikan keadaan markas pasukan militer.
"Berkat Dante, pergerakan mereka jadi melambat, namun sepertinya sudah saat nya untuk menggunakan nya. Aku sudah melatihnya, jadi aku rasa tidak apa-apa." ujar Ray melihat pesawat-pesawat tempur di markas itu belum terbang juga.
Kembali ke markas militer, tampak komunikasi telah tersambung ke tempat menteri pertahanan melalui koneksi internet.
"Komandan, kita sudah tersambung dengan menteri pertahanan." lapor prajurit yang bertugas menyambungkan komunikasi.
"Bagus." sahut komandan.
Komanadan itu pun menghampiri prajurit tersebut dan melaporkan semuanya pada menteri pertahanan. Ia juga meminta ijin untuk menggunakna pesawat tempur sekali lagi. Setelah mendapat ijin, komandan itu langsung bergegas keluar dari hangar dan menemui para pilot yang sudah berada dalam pesawat.
"Kita sudah dapat ijin dari MenHan. Siap berangkat." ujar komandan.
"Siap, komandan! Laksanakan!" sahut para pilot.
Mesin pesawat-pesawat itu pun dinyalakan oleh para pilotnya masing-masing.
"Akhirnya kita let's go!" ucap salah satu pilot.
"Aku duluan!" ucap seorang pilot yang melesat lebih dulu memacu pesawatnya.
"Woy, formasinya!" bentak seorang pilot yang lain.
Pesawat-pesawat super canggih itu pun melesat ke pusat kota dengan kecepatan tinggi.
"Akan kuhancurkan mereka sebelum pasukan darat sampai. Hahaha.." ucap salah seorang pilot dengan percaya diri.
"Takkan kubiarkan." ucap Ray yang melihat dari kejauhan.
Ray mengetik-ngetik sesuatu di laptopnya.
"Synchronizing.. activate!" sambung Ray.
Miku, Luka, Rin, Len, Meiko, Gumi, Kaito, dan Kamui merasakan sesuatu yang aneh. Dan tiba-tiba semuanya pun berubah menjadi hitam putih kecuali mereka dan musuhnya. Dante yang menyadarinya pun terkejut.
"I-ini.. melody of silent?!" ucap Dante.
"Melody of silent? Apaan tuh?" tanya June.
"Itu adalah sebuah susunan nada yang membentuk melodi yang mampu menciptakan keheningan dan mengisolasi setiap yang ada pada jarak jangkauan nya." jelas Dante.
"Maksudnya apa tuan?" sahut June yang masih belum mengerti.
"Jadi begitu. Kalau begitu salah satu dari mereka.." ujar Leviathan yang kelihatannya mengerti maksud Dante.
"Tapi anehnya, tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan tanda-tanda penggunaan melody of silent. Kalau begitu, siapa yang menggunakannya?" gumam Dante memperhatikan Miku dan kawan-kawan satu-persatu.
"Apa yang terjadi? Apa maksudnya ini?" tanya Meiko.
"Entahlah. Tapi ini sama seperti waktu itu." balas Luka ingat kejadian waktu di sekolah saat ia hendak diserang orang yang dirasuki minor.
"Mereka terlihat kebingungan juga. Kalau begitu, jangan-jangan ini pekerjaan Aniki. Tapi, dia sudah tidak memiliki kekuatan. Jadi harusnya aku bisa melihatnya saat ini kalau memang ini dia yang melakukan." pikir Dante sambil celinguk kanan kiri.
"Maaf Dante, aku tidak berada disini. Aku pun tak mesti ada disana untuk menggunakannya." ujar Ray melihat Dante melalui scope snipernya.
Namun penglihatannya terlihat memudar seperti ada sesuatu yang menghalangi matanya.
"Sial, ini mengganggu penglihatanku. Ini juga sakit sekali. Ini buruk. Aku tak bisa menghentikan air mataku." gerutu Ray yang ternyata bercucuran mata, namun bibirnya tersenyum namun sedikit meringis seperti menahan sakit.
Di laptopnya pun terdapat tulisan 'synchronizing active'.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.