VocaWorld, chapter 51 - Falling To Darkness And Fade To Black
Gumi terlihat sedang terbaring di tempat yg gelap. Tak lama kemudian, ia terbangun. Lalu ia melihat sebuah gambar, dirinya ada disana dengan latar atap sebuah gedung. Lalu ada Dante yg melesat melewati Gumi dalam gambar itu sembari menangis dan berteriak, "Aniki!".
"Di-dia benar-benar menangis?" ucap Gumi saat melihat gambar itu.
Kemudian Gumi berjalan ke samping menghindari gambar tersebut dan ia menemukan gambar yg lain. Digambar itu ada seorang laki-laki berjaket putih bertudung membelakanginya. Sambil sedikit menoleh ia berkata, "Aku tak tahu kenapa, dan aku juga tak mengerti. Hanya saja, aku tak ingin kalau sampai kau terlibat.".
"Ada apa dengannya? Apa dia mengkhatirkanku? Kenapa pangeran kegelapan mengkhawatirkanku?" ujar Gumi saat melihatnya sambil menutup telinganya.
Lalu Gumi pun berlari berusaha menghindar gambar tadi. Gumi berlari dengan ekspresi hampir menangis. Kemudian tiba-tiba dia ada di sebuah tempat dimana banyak reruntuhan bangunan. Dan banyak api yg berkobar di sekitarnya, seperti telah terjadi pertempuran hebat. Dan di sekitarnya terlihat ada banyak orang-orang yg dikenalnya tampak terkapar tak berdaya dengan luka di sekujur tubuh mereka.
"I-ini tidak mungkin.. Miku-chan, Luka-oneesama, Gaku-Gaku, semuanya.. apa ini salahku? Kenapa jadi begini?" ucap Gumi melihat tubuh teman-temannya yg sudah tak bergerak lagi.
"Tidak...!!!" teriak Gumi.
Ternyata itu semua hanya mimpi. Gumi terbangun, dan saat tersadar ternyata dia ada di sebuah kamar yg tampak tak asing baginya. Jantungnya berdegup kencang akibat bangun tiba-tiba.
"Gumi-chan.. ada apa?!" ucap Miku saat membuka pintu kamar itu.
"Miku-chan.." panggil Gumi.
"Kamu sudah bangun ya.. tadi kamu tiba-tiba saja jatuh dijalan." ujar Miku sambil menghampiri Gumi.
"Miku-chan.." ucap Gumi yg lalu menangis memeluk Miku yg duduk di samping ranjang.
"Gu-Gumi-chan.." kata Miku terkejut tiba-tiba saja dipeluk oleh Gumi.
"Syukurlah Miku-chan masih hidup.." ujar Gumi sambil nangis.
"Eh, apa maksudnya itu?!" ucap Gumi terkejut mendengarnya.
"Ta-tadi aku bermimpi.. aku melihat Miku-chan dan yg lainnya sudah tergeletak di tanah.. dan.. dan.. kalian sudah tak bergerak lagi.." jawab Gumi masih sambil menangis.
"Tenang saja, itu hanya mimpi kan. Lagipula, kukira kamu pingsan. Kok bisa mimpi?" tanya Miku.
"Aku juga tidak tahu. Pokoknya itu yg aku lihat tadi.." jawab Gumi sambil menghapus air matanya.
"Ya udah, kamu nginap aja disini malam ini. Lagipula ini sudah terlalu malam. Bahaya kalau pulang sendirian." sahut Miku.
Gumi pun mengangguk. Lalu Meiko tiba-tiba datang.
"Oh.. Gumi-chan sudah sadar rupanya. Sebaiknya Gumi-chan mandi dulu, air hangatnya sudah aku siapkan tuh. Setelah itu kita makan malam bersama, ya?" ujar Meiko sambil tersenyum.
"Tidak biasanya Meiko-san tersenyum seperti itu, tampak menyeramkan tahu.." sahut Miku.
"Hah? Memangnya siapa yg meminta komentarmu!!" bentak Meiko dengan nada premannya.
"Tuh kan muncul yg aslinya. Kelihatan deh sosok mak lampir nya.." tambah Miku.
"Siapa yg kau sebut mak lampir hah?!! Udah bosan hidup ya? Pokoknya malam ini jatah bawang daunnya gak akan aku kasih!" sambung Meiko.
"Eehhh.. kenapa?" keluh Miku.
"Siapa suruh ngajak aku berantem, hah?!" bentak Meiko.
Gumi hanya tertawa kecil melihat hal itu.
Keesokan harinya, siang itu Kamui terlihat baru pulang berbelanja. Dia membawa sebuah kantong plastik besar dengan beberapa barang di dalamnya.
"Hari ini aku memberi figur Momo-chan. Edisi special yandere, hehe.. Aku juga dapat bonus posternya. Mantap dah.." ucap Kamui sambil mengecek barang di dalam kantong plastik itu sambil berjalan.
"Akhirnya aku menemukanmu, Angin Fajar." ujar Dante yg sudah dalam keadaan berubah mencegat didepan Kamui.
"Pangeran kegelapan?! Sial, aku tidak membawa Enka." ucap Kamui dalam hati terkejut melihat Dante.
Kamui pun buru-buru memakai earophoid nya dan berubah. Namun Dante melesat menyerang dan berusaha menghantamkan pukulan tangan kanannya. Namun Kamui menangkap pukulan itu dengan tangan kanannya.
"Dance: Brutal!" ucap Dante yg kemudian bergerak ke arah kanan Kamui lalu memukul wajahnya dengan tangan kirinya.
Barang belanjaan Kamui pun jatuh berserakan di trotoar, sementara Kamui terlempar jauh ke sisi jalan yg lain. Dante melesat mengejar Kamui.
"Apa-apaan gerakannya itu? Sangat sulit ditebak." ucap Kamui sambil kembali berdiri.
Dante melesat dan melancarkan pukulan dengan tangan kirinya. Kamui menghindar namun ternyata Dante merubah pukulan itu menjadi gerakan menyiku ke arah wajah. Kamui yg menyadarinya segera menahan dengan tangan kanannya. Tapi Dante kembali melancarkan pukulan dengan tangan kanannya, saat sikuannya itu tertahan. Kamui kembali menangkap dengan tangan kirinya yg masih bebas.
"Sialan.." ucap Kamui yg menyadari pose Dante saat menahan sikuan dengan tangan kanan dan pukulan dengan kiri.
Saat itu Dante sudah berdiri dengan satu kaki, yaitu kaki kanan. Sementara kaki kirinya bersiap menendang.
"Hahaha.. rasakan ini!" ucap Dante sambil menendang tubuh Kamui bagian kanan yg terbuka lebar.
Kamui terpental ke dalam sebuah gedung menjebol jendela dan atap lantai 5 dan tertahan di lantai 6 pada gedung 10 lantai itu. Dante melompat dan menjebol jendela lantai 6 untuk mengejar Kamui.
"Kenapa? Apa kau kesulitan melawanku? Ayo keluarkan teknik mu itu. Serang aku seperti saat kau menyerang Aniki." tantang Dante sambil berjalan santai ke arah Kamui.
"Aniki?! Jadi The White Light-dono itu kakaknya? Tidak mungkin.." ujar Kamui dalam hati tampak terkejut.
Dante semakin mendekat ke arahnya sambil menendang beberapa meja dan peralatan lainnya yg menghalangi jalannya ke luar jendela. Nampaknya gedung itu adalah sebuah kantor.
"Sial, sekarang aku tidak membawa Enka. Aku tak mungkin bisa mengalahkannya tanpa Enka." ujar Kamui mulai panik dan berkeringat.
"Karate Technique: Magnum Slash." ucap Kamui sambil melakukan gerakan membelah dengan tangannya.
Itu menciptakan efek gelombang udara yg mengarah ke Dante. Dante pun terkena serangan itu, dan daerah tempat ia berdiri tampak hancur. Dan ia pun tertutup asap debu.
"Aku tahu jurus karateku saja takkan cukup melawannya, namun itu memberikan cukup waktu untuk mundur." kata Kamui dalam hati sambil berbalik dan melarikan diri.
Saat hendak melompat menerobos jendela, tiba-tiba kerah kimono nya ada yg menarik dari belakang.
"Mau kabur kemana hah!" bentak Dante yg ternyata menarik kerah kimono Kamui lalu melemparnya kembali ke belakang.
Kamui pun terguling-guling dilantai dan terseret beberapa meter.
"Di-dia.. reaksinya lebih cepat daripada yg kuduga.." ujar Kamui berusaha berdiri lagi.
Dante kembali berlari ke arahnya, Kamui bersiap-siap dan memasang kuda-kuda. Tapi Dante melompat ke atas dan mendarat di langit-langit. Kamui berusaha mengikuti gerakannya dan melihat ke arah Dante. Dan terlihat Dante bersiap melompat bertumpu pada langit-langit itu. Kamui terkejut, namun terlambat Dante sudah melompat dan membuat langit-langit itu ambrol akibat tenaganya yg besar. Dante menabrakan kepalanya ke badan Kamui hingga menjebol setiap lantai sampai lantai dasar. Setelah itu terlihat Kamui terpental lagi keluar ke arah tempat parkir yg sedang kosong. Dari balik asap debu dinding yg jebol, terlihat mata merah menyala melihat ke arah Kamui.
Saat itu tempat parkir bertingkat itu tampak sepi. Mungkin karena kantor itu sedang libur saat itu. Kamui terlihat tergeletak di lantai dasar parkiran itu dan melihat Dante menghampirinya dengan mata nya yg menyala dibalik asap debu.
"Di-dia terlalu kuat. Aku bisa mati kalau terus begini." ujar Kamui yg terduduk dan berusaha bangun.
"Hahaha.. ayo Angin Fajar. Keluarkanlah teknikmu itu.. hahahaha.." tantang Dante sambil tertawa.
Dante mulai menembus asap debu itu dan mendekati Kamui. Cahaya merah kehitaman mulai menyelimuti tubuhnya dan semakin pekat.
"Hentikan!" teriak Gumi yg tiba-tiba muncul di hadapan Kamui dan Dante.
"Kau?! Kenapa kau kemari?" tanya Dante yg terkejut.
Gumi terlihat dalam keadaan berubah dan terengah-engah. Dia memakai goggle nya dan membawa sebuah katana di punggungnya.
"Ini, aku bawa Enka mu." ujar Gumi sambil melepas ikatan pada pedang itu sehingga pedang katana itu jatuh di hadapan Kamui.
"Menyingkirlah, kau jangan ikut campur." suruh Dante.
"Tidak, aku takkan membiarkan kau menyakiti orang yg berharga bagiku!" tolak Gumi.
"Aku juga.." ucap Dante dengan suara pelan yg lalu berlari ke arah Kamui dan Gumi.
Gumi memejamkan matanya karena takut, namun ternyata Dante melompat dan mendarat di langit-langit parkiran itu. Kamui terlihat sudah mengambil katananya.
"Teknik yg sama takkan berguna bagiku." ucap Kamui sambil mencabut katananya.
Kemudian Kamui melakukan gerakan tusukan ke arah Dante. Dante melompat ke belakang Kamui untuk menghindar.
"Sekarang lah saatnya aku untuk serius." ucap Kamui sambil berbalik ke arah Dante.
"Dance: Samurai Warrior!" kata Kamui sambil bersiap menyerang Dante, dan tubuhnya mulai diselimuti cahaya keunguan.
Kamui pun berlari ke arah Dante mulai melakukan tebasan-tebasan secara cepat. Namun Dante dapat menghindarinya. Dante menghindar dan terus mundur hingga keluar daerah parkiran lalu melompat keatas. Dia berpijak pada bagian pinggir hingga sampai di lantai teratas gedung parkiran itu. Kamui mengikutinya.
"Hebat, setelah memegang pedang itu, gerakan dan seranganmu semakin cepat dan teratur. Tapi itu takkan mempan melawanku." ujar Dante dengan percaya diri.
Tanpa berkata apa-apa Kamui mulai menyerangnya lagi, namun Dante kembali bisa menghindar.
"Instrument: Devil Bone Guitar." ucap Dante sambil menangkis tebasan Kamui dengan gitarnya.
Dante pun menghempaskan Kamui dengan gitarnya sampai terseret beberapa langkah kebelakang.
"Rasakan ini, Devilish Slash!" ucap Dante mengeluarkan api hitamnya.
Kamui pun menebas api hitam, meski sempat terseret kebelakang, namun ia berhasil membelah api hitam itu menjadi dua.
"Bagus! Hahaha.. bagaimana dengan ini?" kata Dante yg memainkan sebuah melodi sambil mengacungkan kepala gitar nya ke atas.
Kamui tampak terkejut melihatnya. Ada bola api hitam berukuran sangat besar tercipta tepat di atas parkiran itu.
"Nampaknya, teman-temanmu datang kesini juga. Sayang sekali kalau mereka juga harus terlibat dan mati di tempat ini." ujar Dante melirik ke kiri dan kanan.
Ternyata Miku, Luka, Meiko, Kaito, Rin dan Len sudah ada di area sekitar parkiran itu.
"Apa dia pangeran kegelapan itu?" tanya Meiko.
"Ya seperti yg dijelaskan oleh Gumi-chan." sahut Miku yg berada di sebelahnya.
"Gakupo.." ucap Kaito melihat Kamui terdesak.
"Jadi dia ya pangeran kegelapan yg terkenal itu. Kenapa dia masih hidup?" ujar Luka.
"Besarnya.. kekuatan macam apa itu?" komentar Len.
"Bagaimana ini, kalau kita disini terus kita bisa mati." sambung Rin.
"Sial, mereka pasti dibawa oleh Gumi. Kalau begini, mereka juga bisa terkena dampak serangan itu. Aku juga takkan sempat menggunakan Kamikaze." ujar Kamui dalam hati panik.
"Cukup." ucap Ray yg tiba-tiba muncul dan menggenggam leher gitarnya Dante.
Hal itu pun menghentikan dan merusak melodi yg sedang di mainkan Dante, dan bola api yg ada diatas tempat parkir itu pun buyar.
"A-Aniki?!" ucap Dante terkejut.
Miku dan yg lainnya pun terkejut melihat kedatangan Ray. Bahkan Kamui tidak habis pikir bagaimana Ray bisa ada disana. Padahal tadi tidak ada.
"Dia? Sejak kapan?" ucap Kamui.
"Aniki? Bukankah Aniki sedang terluka parah? Kenapa Aniki kemari?" tanya Dante.
"Bagaimana aku bisa membiarkanmu menghancurkan separuh kota? Itu berada di luar rencana." jawab Ray.
"Ray-kun.." ucap Luka terlihat tak percaya melihat Ray.
"Maafkan kelancangan adikku yg bodoh ini. Dia memang bodoh, karena mengorbankan kota ini hanya untuk membunuh seorang Angin Fajar." ujar Ray pada semuanya dengan nada yg lumayan keras.
"Ray-kun apa maksudnya ini?" tanya Luka tidak mengerti.
"Mulai dari sekarang, aku pun tak akan segan pada kalian. Aku akan mulai menyerang kalian karena kalian sudah pantas untuk menjadi lawanku. Jadi kalian pun tak usah sungkan untuk menyerangku juga." sambung Ray sambil tersenyum.
"Ray-kun jawab pertanyaanku!" bentak Luka.
"Ini adalah deklarasi perang, Megurine-san. Kemarin itu, aku menyiapkan kalian untuk berperang. Mewalan kami tentunya." jawab Ray.
"A-apa?!" ucap Luka tampak shock.
"Kalian beruntung sekarang hampir musim panas, jadi kalian tak perlu khawatir kalian akan di serang saat di sekolah. Karena aku pun tidak terlalu suka kalau sampai ada korban sampingan." tambah Ray.
Luka dan yg lainnya sudah tak bisa berkata apa-apa lagi saat itu karena terkejut dan shock.
"Just one more word, 'enjoy your summer, everyone!'" ujar Ray yg lalu membawa Dante melompat kebelakang dan jatuh kebawah.
Kamui pun mengikutinya, namun Ray dan Dante sudah lenyap.
"Tidak mungkin, selama ini.. selama ini itu hanya kebohongan.. Ray-kun.." ujar Luka sambil jatuh diatas lututnya dan memegang kepalanya.
"Sudah kuduga dia mencurigakan." ucap Miku.
"Cahaya dan kegelapan bersatu? Ada apa ini sebenarnya.." ucap Gumi menatap ke arah langit dengan tatapan kesedihan.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.