VocaWorld, chapter 58 - Checkmate!

Hari itu cuaca tidak seperti biasanya. Langit sedikit mendung, walaupun saat itu musim panas. Voca Town pun terlihat teduh saat itu. Jauh di dalam hutan, ada sebuah pondok. Rumah kecil sederhana terbuat dari kayu. Di dalam rumah itu, Miku, Meiko dan Kaito terlihat sedang gelisah. Pintu depan pun terbuka, dan Luka pun masuk ke dalam pondok.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Luka menatap ke arah Meiko dan Kaito.
Meiko dan Kaito mengangguk.
"Bagaimana denganku?" tanya Miku.
"Miku-chan adalah targetnya. Maka kamu lah yg harus kami lindungi. Kalau sampai kamu kenapa-napa. Maka itu artinya kita sudah kalah." jelas Luka.
"Miku-chan diam saja ya. Percayakan semuanya pada kami." ujar Meiko.
"Kau tenang saja Hatsune, aku akan melindungimu." tambah Kaito.
"Meiko-san, Kaito-senpai.." ucap Miku.
"Kita tetap pada rencana. Kalian mengerti kan?" ujar Luka pada Meiko dan Kaito.
"Ya." sahut Meiko dan Kaito.
Luka pun ke luar dari pondok itu. Dia berjalan menyusuri jalan setapak di hutan itu.
"Ray-kun pasti akan segera mengetahui persembunyian ini. Aku tahu itu.." ucap Luka sambil berjalan.
Di depan rumah Miku, terlihat Ray dan Dante berdiri dan sudah dalam keadaan berubah.
"Sepi sekali, nampaknya semua orang telah pergi. Kecuali si kembar." ucap Ray menatap rumah itu.
"Apa kita perlu serang mereka berdua, Aniki?" tanya Dante.
"Tidak perlu. Selama mereka tidak menghalangi tujuan kita, kita tak perlu menyerangnya." jawab Ray.
Ray pun berjalan menuju ke arah hutan.
"Aniki, tunggu! Kita mau kemana?" tanya Dante lagi.
"Sudah ikuti saja. Aku punya firasat mereka menggunakan taktik sembunyi dan jebak." jawab Ray.
Dante pun mengikuti Ray dan berjalan di sampingnya.
"Lalu kenapa ke arah hutan?" tanya Dante lagi.
"Karena hutan adalah tempat terbaik melakukan taktik itu. Ditambah, itu bisa meminimalisir jumlah korban sampingan." jelas Ray.
"Lalu darimana Aniki tahu kalau hutan tempat mereka sembunyi itu disana?" tanya Dante lagi.
"Aku tidak tahu, untuk sementara kita andalkan saja keberuntungan kita. Kalau kita bertemu dengan salah seorang dari mereka disana, berarti tempat itulah persembunyian mereka." jelas Ray lagi.
"Oohh.. begitu ya.." sahut Dante.
Ray dan Dante pun pergi ke arah hutan.
Luka yg berjalan di hutan kemudian bertemu dengan Gumi dan Kamui.
"Bagaimana? Apa mereka sudah siap dengan rencananya?" tanya Kamui.
"Ya. Bagaimana dengan kalian?" jawab Luka lalu bertanya balik.
"Kami siap kapanpun, Luka-oneesama." jawab Gumi.
"Baguslah.. kalian kembali ke posisi!" suruh Luka.
"Baik!" sahut Gumi dan Kamui.
"Wah.. Luka-tan tampak imut banget saat dia serius.." pikir Kamui sambil tersenyum semangat dan berjalan masuk ke hutan lebih dalam.
"Baiklah, sekarang tinggal aku yg bersiap-siap." ujar Luka sambil kembali ke arah pondok.

Awan mendung semakin tebal menutup sinar matahari. Ray melihat ke arah kiri dan kanan setelah mereka masuk cukup dalam ke area hutan.
"Ada apa Aniki?" tanya Dante.
"Aku menemukan mereka." jawab Ray melihat ke hutan arah barat.
Di dalam pondok, Luka menerima sebuah panggilan telepon.
"Ya, moshi-moshi.." ucap Luka menerima telpon itu.
"Luka-nee, ini aku Len. Luka-nee bilang untuk mengatakan kalau kami melihat orang mencurigakan yg memperhatikan rumah ini, kami harus lapor kan? Beberapa saat tadi Rin mengatakan kalau dia melihat dua orang yg memperhatikan rumah ini dan berjalan menuju ke hutan." ujar Len.
"Oohh.. begitu ya. Terima kasih ya, Len-kun." ucap Luka.
Kemudian Luka pun menutup panggilan itu. Dia mulai berpikir dan memegang dagunya.
"Kenapa Megurine-san begitu serius?" ucap Meiko.
Di dalam hutan, Ray dan Dan berjalan menuju ke barat.
"Kenapa kita ke arah sini, Aniki?" tanya Dante.
"Aku hanya sedang menjalankan rencana. Strategi sembunyi dan jebak, jika dilakukan dihutan maka ada 2 kemungkinan. Kalau mereka tak membuat jebakan terbuka, maka mereka bersembunyi di tempat tertutup. Seperti rumah, gua, atau sebagainya." jelas Ray.
"Hah?" ucap Dante.
"Disini hanya keluarga Megurine yg punya banyak rumah, villa dan sebagainya. Tepatnya dibelakang kediaman mereka. Ada jalan setapak mencurigakan. Kemungkinan itu mengarah ke sebuah pondok atau semacamnya." sambung Ray.
"Hmm.." gumam Dante masih tampak bingung.
"Ada apa lagi? Padahal aku sudah menjelaskannya." tanya Ray.
"Aku mengerti kalau yg soal itu. Yg aku masih bingung adalah, bagaimana Aniki bisa tahu semua itu?" jawab Dante.
Ray hanya tersenyum lalu mempercepat langkahnya.

Di dalam pondok, Miku, Luka, Meiko dan Kaito tampak bingung. Luka masih memegang dagunya dan berpikir. Sementara Kaito duduk di sofa dengan tak tenang. Meiko berdiri mondar-mandir. Dan Miku hanya menatap ke arah jendela.
"Kupikir mereka takkan datang." ucap Miku.
"Ya, mereka takkan tahu tempat ini." sahut Kaito.
"Lagipula ini sudah terlalu lama." sambung Meiko.
"Tidak, mereka akan datang." ucap Luka.
"Darimana kau tahu itu, Megurine?" tanya Kaito.
"Bukankah mereka berdua adalah pahlawan The White Light dan Pangeran Kegelapan? Mereka pasti akan tahu tempat ini dengan mudah." jawab Luka.
Kaito tak bisa berkata apa-apa mendengar itu.
"Sekarang hanya tinggal menunggu waktunya tiba saja." tambah Luka.
Dari arah hutan di depan pondok. Kamui dan Gumi yg bertugas disana terlihat mulai bosan menunggu.
"Ini terlalu lama.." ucap Gumi.
"Tunggu, ada seseorang yg datang." sahut Kamui.
Dan nampaklah Ray berjalan dengan santai di jalan setapak menuju ke pondok. Kamui pun bersiap menyerang. Begitu pula dengan Gumi yg memakai goggle nya.
"Jadi rupanya dia menyiapkan 2 knight disini." ucap Ray yg menyadari keberadaan Gumi dan Kamui.
"Dia tahu keberadaan kami?!" ujar Kamui dalam hati.
"Jangan-jangan dia punya kemampuan seperti Gaku-Gaku?" kata Gumi dalam hatinya.
"Dance: Happy Rabbit.", "Dance: Samurai Warrior." ucap Gumi dan Kamui bersamaan.
Gumi melesat dalam kecepatan tinggi melakukan tendangan putar sambil melompat menyerang kepala Ray, dan Ray pun menunduk untuk menghindarinya. Lalu Kamui melakukan yg datang dari arah kiri Ray, melakukan tebasan diagonal ke kiri atasnya. Namun Ray mendongahkan kepalanya ke belakang dan menghindarinya. Gumi mendaratkan kaki kanannya yg tadi digunakan menendang, lalu berputar dan melakukan tendangan dengan kaki kirinya berusaha menghentakkan tubuh Ray ke tanah. Ray berputar menghindar ke samping kanan Gumi. Gumi dan Kamui terus melakukan serangan, namun serangan mereka selalu gagal. Lalu Gumi pun melompat dan melakukan tendang dengan kaki kirinya, Ray malah mendorong kaki kiri Gumi itu dan mengenai wajah Kamui lalu Ray menangkap tangan Gumi memutar tubuh Gumi dan melemparnya. Kamui dan Gumi pun sama-sama terpental ke belakang menjauh dari Ray, dan terlihat katana milik Kamui terjatuh menancap ditanah.
"Apa itu barusan? Gerakannya seperti kukenal." ucap Kamui.
"Darimana kamu mempelajarinya? Itu adalah dance milik Luka-oneesama." ujar Gumi.
"Kalian bisa tanyakan itu pada Queen kalian." jawab Ray.
"Dance milik Luka-tan ya? Memang dance itu pernah melemparku hampir sampai ke sungai dulu." ujar Kamui.
"Gaku-Gaku!" panggil Gumi.
"Apa Megu?" sahut Kamui.
"Kemana pangeran kegelapan? Aku tak melihatnya dari tadi." ujar Gumi.
Kamui pun terkejut mendengarnya karena memang baru sadar juga.

Di pondok, Luka masih tampak berpikir.
"Kupikir rencana ini sangat sempurna, tapi Ray-kun bukan orang yg bodoh. Dia juga adalah The White Light. Kemungkinan rencanaku hanyalah permainan anak-anak untuknya." pikir Luka.
"Wah.. burung-burungnya berterbangan.." ucap Miku melihat ke arah jendela.
Luka, Meiko dan Kaito pun melihat ke arah jendela. Kaito bangun dari tempat duduknya dan mengangguk ke arah Meiko. Meiko pun membalas mengangguk. Kemudian mereka memakan earophoidnya dan berubah.
"Tak kusangka dia akan menyerang dari arah depan." ucap Luka.
Meiko dan Kaito berlari ke pintu depan.
"Tunggu sebentar, tidak mungkin sesederhana itu." ujar Luka dalam hati kembali berpikir.
Meiko dan Kaito sudah membuka pintu depan.
"Tunggu kalian! Cepat pergi ke halaman belakang!" suruh Luka.
"Apa maksudmu, Megurine?" tanya Kaito.
"Cepat lakukan saja!" suruh Luka lagi.
Meiko dan Kaito menutup lagi pintu depan dan berlari ke pintu belakang. Mereka pun keluar ke halaman belakang.
"Pangeran kegelapan?!" ucap mereka berdua saat keluar.
Disana berdirilah Dante yg sudah memegang gitarnya dan memunculkan api hitamnya.
"Tak kusangka kalian bisa menyadarinya secepat itu, padahal aku baru saja mau membakar kalian beserta rumahnya." ujar Dante.
Meiko dan Kaito pun langsung bersiap menyerang. Meiko mengepalkan tangannya dan dari sarung tangannya ke luar api merah. Sementara Kaito mengeluarkan harmonika nya.
"Dance: Fire Fighter.", "Instrument: Harmoni of Fire." ucap Meiko dan Kaito.
"Devilish Slash!" teriak Dante mengibaskan gitarnya.
Dan terlihatlah api yg menjulang tinggi bahkan dari tempat Gumi dan Kamui bertarung dengan Ray. Ray pun tersenyum lalu berlari ke arah pondok.
"Takkan kubiarkan!" ucap Kamui berusaha menghadangnya.
Gumi pun mengikuti Ray dari belakang hendak menghentikannya.
Namun Ray berputar ke arah kanan Kamui lalu mendorong kepala Kamui dengan tangan kanannya sehingga menabrak Gumi dan kepala mereka berdua teradu.
"Aduh!" ucap Gumi dan Kamui.
Sementara Kamui dan Gumi kesakitan Ray sudah jauh.
"Sial, dia menggunakan Gaku-Gaku sebagai tamengnya untuk menghalangiku untuk mengejarnya. Tapi, akan tetap ku kejar!" ujar Gumi dalam hatinya lalu melesat melewati Kamui.
"Megu, tunggu aku!" ucap Kamui mengambil katananya lalu ikut mengejar Ray.

Sementara itu dari arah belakang pondok, Meiko dan Kaito tampak berkeringat karena menahan api hitam Dante.
"Sial, kalau aku tadi tidak sempat melakukan slashing, mungkin aku sudah terbakar bersama pondoknya." pekik Kaito dalam hati tampak kesal.
"Kalau aku tak sempat melakukan pukulan, pasti aku tak bisa menahan api itu bersama Kaito. Pangeran kegelapan memang kuat." ucap Meiko dalam hati.
"Masih belum.." ucap Dante lalu melakukan slashing horizontal.
"Devilish Slash!" teriak Dante lagi.
"Fight-o!" teriak Meiko melakukan pukulan dan menembakan api dari tangannya.
Sementara Kaito melakukan permainan harmonika lalu mengayunkan harmonikanya dan keluarlah api biru. Pondok itu hampir sepenuhnya tertutup oleh api hitam, tapi berkat Meiko dan Kaito pondok itu tidak terkena api hitam karena terhalangi api Meiko dan Kaito. Saat api hitam itu menghilang, Dante sudah tak ada di tempatnya lagi.
"Kemana dia?" tanya Meiko.
"Dia melarikan diri?!" ucap Kaito yg melihat Dante lari ke samping pondok.
"Kejar!" ucap Meiko.
Kemudian Meiko dan Kaito pun mengejar Dante ke bagian depan pondok.
"Go Fire!" teriak Meiko menembakan api dari tinjunya ke arah Dante. Dante menghindar ke kiri.
"Aaaa..!! Apa ini?" ucap Gumi yg melompat ke kirinya untuk menghindari sebuah tembakan api.
"Sial, pandanganku terhalang api. Aku tak bisa melihatnya." sambung Gumi.
Meiko dan Kaito kembali mengejar Dante, dan kemudian mereka bertemu Gumi.
"Gumi-chan?" ucap Meiko.
"Eh, Meiko-neesan." sahut Gumi.
"Woy.. tunggu aku, Megu!" panggil Kamui yg tertinggal jauh di belakang.
Kamui pun sampai disana.
"Akhirnya terkejar juga." ucap Kamui terlihat ngos-ngosan.
"Kau payah, Gakupo!" ujar Kaito.
"Oohh.. kalian semua berkumpul disini rupanya. Baguslah.. tugasku selesai." kata Dante.
"Apa?!" ucap Meiko terkejut.
"Jadi kalian mengejar pangeran kegelapan?" tanya Kamui pada Kaito.
"Ya." jawab Kaito.
"Kalau kami sedang mengejar Shiro Ray, apa kalian melihatnya?" tanya Gumi.
"Tidak." jawab Meiko.
"Ada dimana dia?" ucap Gumi.
"Coba tebak.." potong Dante sambil tersenyum.
Pintu belakang pondok terlihat terbuka.
"Checkmate!" ucap Ray dengan santai menatap Luka dan Miku.
Luka tampak terkejut melihat Ray berada dalam pondok.
"Dia melewati kalian berdua, tapi kalian sama sekali tidak sadar? Hahahaha.." ucap Dante yg lalu tertawa.
"Luka-oneesama! Miku-chan!" teriak Gumi.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】