VocaWorld, chapter 62 - Musim Panas dan Masa Lalu

Di kediaman Megurine, di ruang baca terlihat Luka sedang mencari-cari sesuatu di internet melalui komputer di ruang baca itu.
"Ternyata memang tidak ada." ucap Luka yg ternyata pencariaannya tidak membuahkan hasil.
Luka pun berdiri lalu berjalan mendekat ke jendela.
"Kenapa tidak ada satupun berita atau catatan mengenai kedua orang itu maupun kejadian di Voca Town saat itu. Papa tak mungkin berbohong kan?" ujar Luka yg kemudian menoleh melihat buku berjudul 'Diary of C' yg ada diatas meja.
Hari pun sudah sore, dan Ray yg sedang memancing nampaknya hanya mendapatkan sedikit ikan hari itu. Rin yg duduk di depannya pun tampak kecewa.
"Ray-niichan, dapatnya sedikit sekali." ucap Rin.
"Ya mau bagaimana lagi, mungkin ekosistem sungai nya sudah sedikit berkurang." sahut Ray menarik tali pancingnya dari dalam air.
"Hmm.. aku jadi tidak bisa minta deh." ujar Rin kecewa.
"Kalau kamu mau, bawa aja. Aku cuma butuh 2 kok." jawab Ray.
"Benarkah tidak apa-apa?" tanya Rin yg merasa sedikit ragu.
"Ya, bawa aja." jawab Ray sambil mengaitkan 2 ikan pada kail pancingnya.
Ray pun menyodorkan kantong plastik yg berisi seekor ikan tersebut.
"Wah.. terima kasih, Ray-niichan." ucap Rin sambil menerima kantong plastik itu dengan bahagia.
"Dah.." sahut Ray sambil pergi dan melambai ke Rin.
Ray tampak memanggil alat pancingnya dan berjalan menjauhi Rin. Sementara itu Rin hanya tersenyum bahagia sambil memegang kantong plastik berisi ikan pemberian Ray. Rin pun pulang ke rumah. Dijalan dia bertemu Meiko yg baru pulang bekerja.
"Rin-chan, tumben kamu keluar." ujar Meiko saat bertemu dengan Rin di persimpangan.
"Soalnya aku kesal dirumah. Jadi aku keluar jalan-jalan." jawab Rin.
"Hmm.. emang tidak panas? Tadi siang itu kan mataharinya lumayan terik lho." tanya Meiko.
"Tidak kok. Malah tadi itu sejuk banget." ucap Rin sambil tersenyum dengan pipi sedikit memerah.
"Ya sudah, ayo kita pulang.." ajak Meiko.
Kemudian mereka pun pulang dan sampai dirumah.
"Kami pulang.." ucap Meiko dan Rin.
Meiko pun langsung pergi ke dapur untuk memasak makan malam dan meletakan belanjaan ke kulkas. Namun saat hendak ke dapur, dia dikejutkan oleh Len yg berjongkok depan kulkas.
"Len-chan ngapain diem depan kulkas gitu?" tanya Meiko dengan heran.
"Ngadem." jawab Len dengan ekspresi yg tampak tenang dan bahagia.
"Hah? Kalau mau ngadem pake kipas saja atuh! Kenapa diam depan kulkas?" bentak Meiko.
"Kipas nya rusak Meiko-nee." jawab Len.
"What the?!" ucap Meiko dengan suara menggema dalam hati dengan ekspresi shock.
"Kok bisa rusak diapain?" tanya Meiko.
"Tidak tahu dah. Tanya aja ama Miku-nee." jawab Len sambil duduk santai depan kulkas.
Tiba-tiba Meiko pun menutup pintu kulkas.
"Eh kenapa ditutup, Meiko-nee? Aku kan lagi nga.." ujar Len belum sempat menyelesaikan perkataannya dia sudah dikejutkan oleh tatapan mata Meiko.
"Kau tahu gak, hah? Len-chan tahu gak kalau kipas itu adalah satu-satunya alat penyejuk ruangan di rumah ini. Hah!" ucap Meiko muncul logat premannya.
"Ti.. ti-ti-ti.. tidak." jawab Len dengan terbata-bata.
"Jadi harusnya kau tahu apa hukumannya kalau sampai kipas itu rusak." sambung Meiko dengan wajah gelap dan mata menyala.
Len pun hanya bisa diam dengan mulut menganga dan muka yg pucat.
"Aku pulang.." ucap Miku yg baru pulang saat itu.
"Selamat datang.." ucap Meiko sambil motong sayuran didapur terlihat sedang mau memasak.
Miku pun lewat di depan ruang tengah dan melihat Rin sedang nonton TV. Kemudian Miku pergi ke dapur menemui Meiko.
"Meiko-san, kemana Len-chan. Dia kok tidak kelihatan? Apa dia masih belum pulang?" tanya Miku sambil nongol melihat Meiko di dapur.
"Tidak, dia ada disini kok. Miku-chan hanya belum melihatnya saja." jawab Meiko sambil tersenyum.
"Ah masa?" ucap Miku sambil membuka kulkas.
Miku pun melihat Len sedang duduk dan hampir membeku di dalam kulkas.
"Miku-nee.. lari.." ucap Len dengan gemetaran menoleh ke arah Miku.
Miku pun terkejut melihat Len, apalagi setelah mendengar peringatan Len itu.
"Apa ini?!! Jangan-jangan.. ini adalah perbuatan mak lam.." ucap Miku belum menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Meiko sudah di belakangnya.
Rin pun datang ke dapur. Namun saat itu Miku sudah tidak ada disana.
"Oh ya Meiko-neesan, tolong masakin ini dong." ucap Rin sambil menyodorkan sebuah kantong plastik.
"Itu apa, Rin-chan?" jawab Meiko seolah tak terjadi apa-apa.
"Ini ikan." jawab Rin memberikan kantong plastik itu pada Meiko.
"Oohh.. mau diapakan? Digoreng? Dibakar?" tanya Meiko.
"Terserah Meiko-neesan. Kalau Meiko-neesan yg masak semuanya pasti enak." jawab Rin lalu tersenyum.
"Oke. Kalau gitu Rin-chan tunggu aja ya. Biar neesan masakin." ujar Meiko.
Rin pun mengangguk.
"Oh ya, Miku-neechan sama Len kemana? Kok tidak ada? Perasaan tadi aku kayak dengar suaranya deh dari arah dapur." tanya Rin melihat ke seluruh dapur mencari Miku dan Len.
"Tenang saja, mungkin mereka lagi ngadem sekarang. Jadi tak perlu dipikirkan. Pastinya mereka bahagia banget." jawab Meiko.
"Oh begitu ya. Kalau gitu aku kembali nonton TV dulu ya.." sahut Rin yg lalu kembali ke ruang tengah.
Padahal Miku dan Len saat itu ada di dalam kulkas. Len duduk berjongkok diatas salah satu rak yg cuku lebar. Sementara Miku tiduran sambil memeluk lututnya di bagian paling bawah kulkas.

Keesokan harinya. Pagi itu matahari tampak hangat menyinari dunia. Miku dan Len pun terlihat tidur terlentang dibawah sinar matahari pagi di ruang tengah dekat jendela.
"Hangatnya.." ucap Miku.
"Iya nih.." sahut Len.
"Mentari pagi, datanglah padaku.." ujar Miku.
"Datanglah padaku juga.." sambung Len.
Tidak terasa hari pun sudah siang. Miku dan Len pun tampak mengering dibawah di dekat jendela. Saat itu Rin turun ke bawah.
"Kyaa.. Miku-neechan dan Len mengering!" teriak Rin terkejut melihat keadaan Miku dan Len.
"Rin-chan ayo sini. Sinar mataharinya hangat lho.." ucap Miku dengan suara seperti nenek-nenek.
"Iya Rin, kemarilah.." tambah Len dengan suara mirip kakek-kakek.
"Tidak! Aku tidak mau mengering juga!!" tolak Rin.
"Ada apa sih ini ribut-ribut?" tanya Meiko yg juga turun kebawah.
Terlihat dia membawa vacuum cleaner, sepertinya selesai membersihkan lantai atas.
"Itu Meiko-neesan, Miku-neechan dan Len kering kayak ikan asin gitu. Bagaimana ini?" ucap Rin dengan setengah menangis.
"Tidak apa-apa kok. Mereka mungkin hanya senang saja bisa merasakan hangatnya tuan matahari." sahut Meiko mencoba menenangkan Rin.
"Tapi hari ini kan panas banget." balas Rin.
Meiko hanya tersenyum saat itu dengan keringat menetes di pipinya. Lalu bel pun berbunyi.
"Iya bentar.." ucap Meiko meletakan vacuum cleanernya di ruang tengah lalu berjalan menuju ke pintu depan.
"Siapa disana?" tanya Meiko saat dekat dengan pintu depan.
"Ini aku Kaito." jawab seseorang diluar.
Meiko pun membuka pintunya, dan ternyata memang benar itu Kaito. Kaito tampak membawa sebuah kantong plastik saat itu.
"Aku bawakan es krim. Jadi kita bisa makan bareng." ujar Kaito memperlihatkan kantong plastik yg ia bawa.
Meiko pun mempersilahkan Kaito masuk. Kaito pun pergi ke ruang tengah, disana dia melihat pemandangan yg tak biasa.
"Apa yg terjadi disini?!! Mereka sampai kering gitu. Apa ini semacam terapi model baru?" ucap Kaito dalam hati terkejut melihat keadaan Miku dan Len.
"Oy kalian, ayo kumpul kemari. Aku bawakan es krim nih.." ucap Kaito sambil meletakan kantong plastik yg ia bawa.
"Benarkah? Ooo.." ucap Rin melihat kedalam kantong plastik yg dibawakan Kaito yg sekarang ada diatas meja.
"No more ice please!!" pekik Miku dan Len terlihat shock.
"Eh, kalian ini kenapa? Ayo, entar keburu mencair lho." ujar Kaito membujuk Miku dan Len.
"No, thanks. Untuk beberapa hari kedepan aku tidak mau melihat es dulu." sahut Miku.
"Aku sudah bosan melihat es." tambah Len.
"Meiko, kau apakan mereka sebenarnya sampai seperti itu?" tanya Kaito saat Meiko datang membawakan minuman dingin.
"Mereka semalam hanya aku kasih terapi doang kok. Hasilnya seperti itu." jawab Meiko.
"Aku yakin itu bukan terapi yg bagus.." ucap Kaito menatap aneh pada Meiko.
Sementara Rin tampak senang mengemut es krim berwarna jingga yg nampaknya itu adalah rasa jeruk.
"Apa kamu ingat waktu kita pertama kali bertemu, Meiko?" ucap Kaito menatap langit-langit ruangan itu.
Meiko pun melirik ke arah Kaito sambil ngemut es krim rasa stroberi.
"Saat itu juga musim panas seperti ini." ujar Kaito membayangkan saat itu.
Dalam ingatan Kaito, terlihat Kaito sedang duduk melamun di dekat sungai. Dia sedang melempar batu-batu kecil ke sungai itu.
"Bukan begitu caranya melempar batu. Tapi begini!" ucap seseorang dari samping nya yg tampak melempar batu dan batu memantul beberapa kali diatas permukaan air.
Kaito nampak kagum pada lemparan anak itu yg bisa memantul diatas air. Ia belum pernah melihat hal itu sebelumnya.
"Yeah! 4 kali pantulan! Ini rekor baru." ucap anak itu.
Kaito pun menoleh ke arah suara itu. Terlihatkan seorang anak berambut coklat berkuncir 2 yg menjulur hingga bahu. Dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
"Hebat.. bagaimana bisa begitu?" tanya Kaito.
"Hehe.. bagaimana ya? Itu ada tekniknya.." jawab anak itu.
"Bisakah kau ajarkan padaku?" pinta Kaito.
"Bisa. Tapi kamu harus jadi anak buahku dulu.." jawab anak itu nepuk dada.
"Kaito-dono.. anda disini rupanya." ucap anak laki-laki berambut ungu berkuncir satu kebelakang.
"Mau apa kau kemari, Gakupo?" tanya Kaito pada anak yg ternyata itu adalah Kamui kecil.
"Anda harus pulang. Ibu anda bisa marah kalau tahu anda berkeliaran tanpa ijin seperti ini." jawab Gakupo.
"Baiklah.. aku akan pulang.." gerutu Kaito yg kemudian berjalan menuju ke arah Kamui.
Kaito pun pulang bersama Kamui.
"Gakupo, kalau boleh tanya apa kamu kenal anak yg tadi? Aku lupa menanyakan namanya." tanya Kaito.
"Oh dia, dia itu adalah.. hmm.. anak-anak sekitar sini memanggilnya Komei. Saki Komei-dono." jawab Kamui.
"Hah? Sepertinya nama itu tidak asing.." ucap Kaito sambil berpikir.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】