VocaWorld, chapter 63 - Memori Musim Panas (Laki-Laki Itu Harus Kuat)

Sekitar 11 tahun yg lalu, Shion Kaito datang ke Voca Town bersama dengan ibunya. Lalu Kaito kecil dititipkan ke keluarganya Kamui dan tinggal bersama mereka. Namun Kaito sering merasa bosan, dia selalu tampak murung saat dirumahnya Kamui.
"Kamui, coba ajak Kaito-dono untuk main keluar. Mungkin dia bosan dirumah terus." suruh seorang laki-laki berusia 30 tahunan dan berambut ungu dikuncir satu.
"Baiklah, ayah. Tapi nanti ibunya Kaito-dono akan marah kalau sampai tahu Kaito-dono keluyuran diluar." sahut Kamui kecil.
"Tenang saja, biar ayah yg tanggung jawab." ujar laki-laki yg ternyata ayah Kamui itu.
"Baik, kalau begitu." ucap Kamui sambil bangun dari duduknya.
Kemudian Kamui pun mengajak Kaito jalan-jalan di Voca Town. Kaito pun diajak ke sebuah taman.
"Maaf Kaito-dono, saya mau pergi sebentar untuk beli minuman. Kaito-dono tunggu dulu disini." ucap Kamui.
Kamui pun pergi meninggalkan Kaito sendirian ditaman. Saat Kamui kembali, ternyata Kaito sudah dikelilingi oleh beberapa anak laki-laki dan dia tampak sedang dikeroyok.
"Kaito-dono!" teriak Kamui berlari ke arah Kaito.
Kamui pun mencabut pedang kayunya. Kemudian menebaskannya pada anak-anak itu. Anak-anak itu pun mundur karena takut terkena pukul pedang kayu itu.
"Mundur! Mundur!" suruh Kamui sambil menodongkan pedang kayunya pada anak-anak itu.
"Jadi kau dapat perlindungan dari si anak samurai rupanya. Ayo kita pergi semuanya!" ucap salah satu anak yg mungkin adalah pemimpinnya.
Kemudian anak-anak itu pergi.
"Anda tidak apa-apa, Kaito-dono?" tanya Kamui.
Kaito tampak murung lalu kemudian lari menjauhi Kamui.
"Kaito-dono! Tunggu!" panggil Kamui.
Namun Kaito tetap lari. Kaito pun sampai di pinggir sungai lalu berjalan menuju ke bawah jembatan. Dia duduk di pinggir sungai hingga sore sambil melempar batu ke air.
"Kenapa aku lemah? Kenapa? Aku selalu saja dilindungi olehnya. Harusnya aku bisa lebih kuat. Tapi.. ibu akan marah kalau aku terlibat kegiatan fisik yg terlalu sering. Kenapa?" ucap Kaito sambil duduk merenung.
Kaito pun melempar lagi sebuah batu ke sungai dan langsung tenggelam. Dan saat itulah seorang berambut coklat menghampirinya. Orang yg Kamui sebut bernama Komei itu mengajarinya cara melempar batu.

Keesokan harinya Kaito tampak sedang berpikir. Dia menggaruk-garuk kepalanya karena merasa pusing.
"Ya ampun, pernah denger dimana sih itu nama? Rasanya ada diujung lidah tapi sulit untuk diucapkan." ujar Kaito sambil garuk-garuk kepala.
"Ada apa Kaito-dono?" tanya Kamui yg duduk di sampingnya.
"Ini, aku seperti pernah dengar nama Komei itu. Tapi aku tidak ingat pernah dengar dimana dan kapan." jawab Kaito.
"Mungkin maksud anda itu Shokatsu Koumei. Ahli strategi dari legenda 3 kerajaan. Pasti anda mendengar dari mendiang ayah anda. Karena ibu anda adalah orang cina, maka beliau akan menyebutnya Zhuge Liang." jelas Kamui.
"Wah.. pengetahuanmu cukup luas juga ya." puji Kaito.
"Kalau masalah sejarah, saya gampang hafal, Kaito-dono. Karena seorang samurai harus belajar dari pengalaman yg bernama sejarah." jawab Kamui.
"Oh ya, apakah hari ini kau bisa mengajakku keluar lagi?" tanya Kaito.
"Tapi Kaito-dono, apa anda tidak takut dimarahi ibu anda? Kemarin saja ibu anda ngomel-ngomel pake bahasa cina. Ayah saya saja sampai tidak bisa berkata apa-apa karena tidak mengerti." jawab Kamui.
"Ayolah.. aku sedang ingin keluar saat ini." bujuk Kaito sambil menarik lengan kimono Kamui.
"Oke, baiklah. Tapi jangan jauh-jauh dari saya." terima Kamui sambil memegang kepala Kaito.
Kaito dan Kamui pun kembali berjalan menuju ke arah sungai dimana mereka bertemu Komei. Namun Kaito tak menemukan Komei. Kamui pun mengajak Kaito untuk pergi lebih jauh ke tengah kota. Kemudian mereka sampai disebuah kedai ramen.
"Ramen?" ucap Kaito saat melihat kedai ramen itu.
"Kaito-dono mau? Kita masuk saja.." ajak Kamui.
Mereka berdua pun masuk.
"Nambah lagi!" pinta seorang anak berbaju merah.
"Komei." ucap Kaito.
Anak berambut coklat berkuncir 2 itupun menoleh ke arah Kaito.
"Hmm.. siapa?" ucap Komei memiringkan kepalanya.
"Ini aku, masa tidak ingat?" ujar Kaito sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ooh.. yg kemarin disungai itu ya. Hehe.." ucap Komei sambil tersenyum.
"Sedang apa kau disini?" tanya Kaito.
"Haha.. hanya inspeksi menggantikan ayahku." jawab Komei.
"Inspeksi?" ucap Kaito tidak mengerti.
"Inspeksi makanan." jawab Komei.
"Ini ramen ekstra pedasnya!" ujar tukang ramennya menyodorkan semangkuk ramen.
"Oke, aku coba lagi!" ucap Komei.
"Tolong buatkan 2 mangkuk ramennya." pesan Kamui sambil duduk di tempat duduk yg tersedia.
"Oh.. kamu putranya Gakupo-san. Siapa anak yg datang bersamamu ini?" tanya penjual ramen itu.
"Ini adalah putra kenalan ayah saya." jawab Kamui.
"Oohh.. kalau putra dari kenalan Gakupo-san pasti dia adalah seorang yg terkenal juga." ujar penjual ramen itu.
Kemudian Kamui dan Kaito pun makan ramen disana. Setelah selesai makan ramen mereka pun hendak pulang.
"Terima kasih ya ramennya. Akan kukatakan pada ayahku kalau ramen super pedas mu tidak ada yg kurang. Jadi bisa segera dimasukkan ke menu." ujar Komei pada tukang ramen.
"Terima kasih.." ujar tukang ramen.
"Makan gratis dengan berpura-pura melakukan inspeksi itu buruk, Komei." ucap Kaito.
"Hah? Apa katamu? Siapa yg makan gratis? Saat ini ayahku sedang sibuk jadi aku disuruhnya untuk menggantikannya." jawab Komei.
"Kau pikir aku akan percaya?" ujar Kaito.
"Ngajak berantem ya? Hah!" bentak Komei dengan logat preman.
"Boleh." terima Kaito.
"Kaito-dono.." panggil Kamui.
"Jangan khawatir." sahut Kaito.

Mereka pun pergi ke taman yg saat itu memang sedang sepi.
"Baiklah kita mulai!" ujar Komei kemudian mengambil kuda-kuda layaknya petinju.
"Hiiaaa.." teriak Kaito sambil berlari ke arah Komei lalu melancarkan sebuah pukulan.
Komei pun menagkapnya dengan satu tangan saja. Kaito pun melancarkan pukulan dengan tangan yg lain. Komei bisa menahannya dengan satu tangan yg tersisa.
"Pukulanmu lemah sekali. Seperti perempuan saja." ejek Komei dengan wajah datar.
"Cih." ucap Kaito kesal.
Kaito kemudian melancarkan pukulannya berkali-kali namun tetap saja bisa ditahan Komei.
"Sekarang giliranku!" ucap Komei melesatkan tinjunya ke arah wajah Kaito.
Kaito berusaha menahannya dengan cara menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya, namun tetap saja tubuh Kaito terdorong ke belakang dan lalu terjatuh.
"Kaito-dono!" ucap Kamui sambil mencabut pedang kayu nya.
"Berhenti! Aku tak butuh bantuanmu!" bentak Kaito yg berdiri lagi.
Komei hanya menatapnya saat itu. Kaito kembali menyerang Komei namun semua sia-sia. Pada akhirnya Kaito kembali terjatuh lagi dan lagi terkena pukulan Komei. Kamui sudah tampak tak bisa bersabar lagi. Dia pun berusaha menebas Komei.
"Hentikan! Ku bilang hentikan!!!" bentak Kaito.
"Tapi, Kaito-dono.." ucap Kamui menghentikkan tebasannya ke arah Komei.
"Aku bilang kan, aku tak butuh bantuanmu. Sudah cukup aku jadi anak yg lemah. Aku tak ingin lagi dilindungi oleh orang lain. Aku ingin melindungi diriku sendiri. Aku adalah laki-laki, aku harus kuat!" ujar Kaito sambil bangkit lagi.
"Ayo lanjutkan!" tantang Kaito.
"Kukira sudah cukup." ujar Komei.
"Kenapa?" tanya Kaito.
"Aku sudah tidak tertarik melawanmu lagi." jawab Komei.
"Kenapa? Kenapa! Apa karena aku lemah?" tanya Kaito lagi dengan nada lebih keras.
"Bodoh!" bentak Komei sambil menampar Kaito.
"Mau sampai kapan kamu akan menganggap kekuatan laki-laki hanya soal fisik? Kalau kamu terus beranggapan seperti itu kamu akan terus kalah! Kau akan selalu jadi pecundang. Jadi seorang berandalan. Membuang dirimu sendiri kedalam jurang kegelapan. Mengerti!" bentak Komei.
"Aaaaa..!!" teriak Kaito yg geram lalu berjalan meninggalkan mereka.
"Bocah samurai." panggil Komei.
"Apa?" sahut Kamui.
"Ada apa dengan anak itu sebenarnya?" tanya Komei.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】