VocaWorld, chapter 55 - Suasana Yang Panas Di Awal Musim Panas
Liburan musim panas telah tiba. Hari itu Miku diam dan bermalas-malasan di rumah. Dia tiduran di lantai dengan kipas angin menyala.
"Malas banget dah. Malas ngapa-ngapain. Panas banget soalnya.." ucap Miku sambil tiduran terlentang dekat jendela.
"Miku-chan, aku berangkat dulu ya. Jaga rumah!" ujar Meiko dari pintu depan.
"Ya." sahut Miku.
Kemudian terdengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali, menandakan Meiko sudah pergi.
"Ahh.. Meiko-san berangkat kerja. Rin-chan dan Len-chan sedang main nyari kumbang di hutan. Aku harus ngapain ya? Ahh.. tidur aja kali ya.." ucap Miku dengan nada malas.
Di kediaman Gakupo, terlihat di dalam dojo Kamui sedang senderan di dekat pintu depan dojo.
"Ya ampun, baru awal musim panas aja panasnya udah segini. Apalagi kalau nanti ya, bisa-bisa saya bisa goreng telor diatas batu. Panasnya.. jadi tidak bisa meditasi depan." gerutu Kamui sambil kipas-kipas menggunakan kipas kertas.
"Oy Gakupo!" panggil Kaito dari luar.
"Ya, ada apa?" sahut Kamui.
Pintu depan dojo pun terbuka.
"Oh kau disini, Gakupo. Tumben gak didepan." ujar Kaito setelah membuka pintu dan melihat ada Kamui yg sedang senderan.
"Mana bisa saya duduk di depan kalau panas seperti ini." jawab Kamui.
"Begitu ya. Tolong jaga rumah ya. Aku mau kerja dulu." ujar Kaito.
"Siap, Kaito-dono." sahut Kamui.
Lalu Kaito pun menutup lagi pintunya dan pergi.
"Mungkin sebaiknya saya di dalam rumah saja pakai AC. Untuk sementara waktu tidak meditasi dulu." ujar Kamui yg lalu keluar dari dojo.
Di dalam hutan, Rin dan Len terlihat sedang berjalan menyusuri hutan dan melihat-lihat ke atas pohon mencari kumbang.
"Ketemu tidak disana, Rin?" tanya Len.
"Tidak." jawab Rin yg tak jauh dari Len.
"Yah.. mesti cari kemana ya?" ucap Len tampak kecewa.
"Lagipula, kenapa aku harus ikut mencarinya. Hari ini panas banget tahu. Mending di rumah aja." gerutu Rin.
"Hmm.. kamu ini ngomong apa? Mencari kumbang adalah kesenangan anak laki-laki. Harusnya kamu senang dong kalau aku ajak." ujar Len dengan bangga.
"Hah?" ucap Rin merasa ada yg aneh dengan perkataan Len.
"Aku ini perempuan!" bentak Rin menendang Len.
Len pun langsung menabrak sebuah pohon dan tersungkur ditanah. Len pun bangun lagi sambil menahan sakit diwajahnya karena menabrak pohon barusan. Lalu tak sengaja Len melihat ada kumbang ditanah.
"Wah.. lucky! Kelihatnya kumbang ini jatuh dari pohon yg kutabrak tadi. Hehehe.." ucap Len merasa senang.
Namun saat Len hendak menangkapnya, kumbanh itu pun terbang dan mendarat dipakaian Rin.
"Iiiyyyy.. kecoak!!" teriak Rin saat melihat ada serangga yg menurutnya aneh hinggap di bajunya.
"Diam Rin! Biar aku tangkap.." suruh Len sambil melangkah dengan pelan supaya kumbang itu tidak kabur lagi.
"Kyaa.. pergi! Pergi! Pergi kau kecoak!!! Huwaaa..!!" teriak Rin sambil mengibas-ngibaskan bajunya.
Kumbang itu pun akhirnya terbang. Rin tampak hampir menangis karena ketakutan.
"Aaaahhh.. kenapa kamu malah bikin dia pergi!" ujar Len sedikit kesal.
"Aku benci kecoak." jawab Rin terlihat menahan diri untuk menangis.
"Tapi itu bukan kecoak, itu kumbang. Harusnya kamu bisa bedain dong. Bentuknya kan beda." gerutu Len.
"Pokoknya aku benci serangga! Huwaa..!!" bentak Rin yg lalu menangis dan lari menjauh.
"Tunggu, Rin!" ucap Len mencoba menghentikan Rin.
Namun Rin tidak mendengarkan dan tetap berlari menjauh.
"Yah.. aku mesti nyari lagi deh sendirian." ujar Len yg kemudian kembali meneruskan pencarian kumbang nya.
Sementara itu di kediaman Luka, Luka sedang membaca buku berjudul, 'Diary of A'. Saat ini Luka sudah sampai ke pertengahan buku itu. Dia membaca dengan serius di halaman rumahnya.
"Luka-sama, ini minumannya." ucap seorang maid meletakan segelas minuman dingin di meja yg berada di hadapan Luka.
"Ya, terima kasih." sahut Luka.
Luka terlihat senyum-senyum saat membaca buku itu. Sambil berjalan menjauh, maid itu sempat melirik kecil melihat Luka tersenyum.
"Aku tak tahu buku apa yg sedang dibaca Luka-sama. Tapi syukurlah Luka-sama kembali tersenyum lagi. Karena beberapa hari ini dia berhenti tersenyum seperti sedang banyak pikiran." ujar maid itu dalam hati sambil melangkah menjauh.
Di tempat lain, Rin sedang berjalan sendirian. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Ray.
"Kenapa menangis, gadis kecil?" tanya Ray.
"Eh, kakak yg waktu itu.." ucap Rin saat melihat kalau itu Ray.
Ray pun berlutut dan memegang bahu Rin.
"Tak usah takut, saat ini aku sedang tak ada niat menyerang mu. Jadi kenapa kamu menangis?" tanya Ray sambil tersenyum ramah.
"Len mengajakku berburu kumbang. Tapi aku melepaskannya. Lalu Len memarahiku." jawab Rin sambil tersedu-sedu.
"Jadi kamu menangis karena dia memarahimu?" tanya Ray lagi.
"Aku benci Len, padahal aku ketakutan karena serangga itu. Tapi dia malah lebih membela serangga itu." sambung Rin.
Ray pun tersenyum lalu mengelus kepala Rin.
"Dia itu bukannya tak ingin membelamu, mungkin dia hanya terlalu asik dalam kesenangannya berburu kumbang. Sebagai anak laki-laki itu memang terbiasa terjadi. Namun dia juga bodoh karena tidak sadar kalau kamu takut pada kumbang itu. Makanya kamu harus memakluminya." ujar Ray sambil ngelus kepala Rin.
"Kenapa aku harus memakluminya!" bentak Rin.
"Karena dia bodoh kan." jawab Ray sambil tersenyum.
Rin pun tersadar akan maksud perkataan Ray. Lalu Rin pun menghapus air matanya dan tersenyum.
"Terima kasih, kakak yg waktu itu. Aku sudah mengerti sekarang." ucap Rin.
"Baguslah kalau begitu.." sahut Ray.
Di kejauhan, ada Gumi yg kebetulan lewat situ. Dia melihat Ray yg sedang memegang bahu Rin. Dia pun terkejut, dan langsung berlari sekuat tenaga.
"Menjauh darinya, Shiro Ray!" pekik Gumi sambil melompat dan melakukan tendangan.
Ray pun memeluk Rin berputar dan membawa Rin menghindar dari tendangan Gumi.
"Apa yg kamu lakukan? Tadi itu berbahaya sekali." ujar Ray dengan tersenyum tenang.
"Lepaskan tanganmu darinya!" suruh Gumi.
"Baiklah." sahut Ray sambil mengangkat tangannya seperti tanda menyerah dan melepaskan Rin.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Gumi pada Ray.
"Aku hanya kebetulan lewat, sama sepertimu." jawab Ray sambil tetap mengangkat tangannya.
"Awas saja kalau kau sampai menyakiti dia!" bentak Gumi.
"Justru kamu lah yg paling mengancam keselamatannya. Tendangan mu itu terlalu gegabah. Akan konyol kan kalau sampai melukai teman sendiri." sahut Ray.
Gumi tidak menjawab apapun dan hanya menatap tajam ke arah Ray.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati mengarahkan seranganmu." ujar Ray sambil mundur dengan perlahan.
Lalu Ray berbalik dan pergi menjauh. Sementara Gumi sudah bersiap-siap memakai earophoid kalau-kalau terjadi pertarungan.
"Tadi itu, dia berkata benar. Ada apa dengannya? Penjahat macam apa yg memberikan saran pada musuhnya?" gumam Gumi dalam hati.
Gumi pun berjalan bersama Rin dan mengantarnya pulang. Rin masih tampak sedikit cemberut saat itu. Gumi merasa sedikit bingung melihatnya.
"Rin-chan kenapa cemberut gitu?" tanya Gumi.
"Aku masih merasa sebal pada Len. Tapi mau bagaimana lagi. Dia itu terlalu bodoh untuk menyadari perasaan seseorang." jawab Rin.
"Eh, apa ini? Jangan bilang dia suka pada saudaranya sendiri?" ucap Gumi dalam hati.
Lalu Gumi pun membayangkan Rin dicampakkan oleh Len.
"Dia itu terlalu asik dalam dunianya sendiri. Dia terlalu asik mencari kumbang." sambung Rin.
Gumi kembali membayangkan Rin yg berusaha mengutarakan perasaanya namun Len tidak memperdulikannya, bahkan tidak sadar karena terlalu asik mencari kumbang.
"Tapi berkat kakak yg tadi, aku jadi mengerti. Aku tak boleh jadi membencinya hanya karena hal itu. Itu karena dia bodoh. Karena itu aku harus kuat untuk membuatnya jadi lebih peka." tambah Rin lagi.
"Shiro Ray mengajarkan hal yg tidak baik pada Rin-chan! Kurang ajar tuh orang. Harusnya dia mengingatkan kalau percintaan sedarah itu tidak baik dan bahkan terlarang." gerutu Gumi dalam hatinya.
"Ri-Rin-chan.. sebenarnya itu keliru." ucap Gumi.
"Hah? Keliru bagian mananya?" tanya Rin sedikit bingung.
"Ah.. bagaimana menjelaskannya ya?.. itu sebenarnya.." ujar Gumi juga bingung menjelaskan kalau percintaan sedarah itu salah.
"Bagiku tidak ada yg keliru kok dari perkataan kakak yg tadi. Lagipula saat dia mengusap kepalaku terasa begitu nyaman. Jadi tak mungkin dia penipu." sahut Rin dengan yakin.
"Dia itu penjahat, Rin-chan. Penjahat! Sadarlah.." teriak Gumi dalam hatinya.
"Ah sudah sampai. Terima kasih ya sudah mau mengantarku." ucap Rin sambil membungkukkan badannya.
"Y-ya.." sahut Gumi.
"Sampai jumpa lagi ya, Gumi-neechan." ujar Rin sambil membuka pintu dan melambai ke Gumi.
Gumi pun membalas melambai ke arah Rin. Rin masuk ke rumahnya, sementara Gumi kembali melanjutkan langkahnya.
"Ah, bagaimana caranya aku mengingatkan mereka? Nampaknya mereka sudah terlalu jauh.." gumam Gumi dalam hati sambil berjalan.
Gumi berjalan sambil memikirkan hal itu. Kemudian saat ia berjalan melewati jembatan.
"Awas nabrak." ujar seseorang dari sampingnya.
Ternyata ada Dante yg berjongkok di pagar pinggir jembatan itu dan menghadap ke arah Gumi. Dia tepat berada di samping Gumi saat itu. Gumi pun terkejut dan melompat ke belakang.
"This was a hot day to have a hot fight. Just fit prefectly, right?" ujar Dante sambil bangkit dan berdiri diatas pagar jembatan itu.
Dante pun memakai earophoidnya. Gumi juga meraih earophoidnya.
"Let's rock.." ucap Dante dan matanya mulai merah menyala.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.