VocaWorld, chapter 50 - Siapa Yang Salah?

Dante melesat melewati Gumi. Ekspresi Gumi berubah seperti terkejut melihat sesuatu. Tangan Dante pun tampak seperti hendak meraih sesuatu.
"Aniki!!!" teriak Dante.
Sebuah puasaran angin yg sangat besar berada dihadapannya.
"Selesai sudah.." ucap Kamui yg sedang berdiri membelakangi pusaran angin itu kemudian menyarungkan lagi katana nya.
Angin tornado keunguan itu pun lenyap. Dan tampak sesosok laki-laki berambut hitam dan jaket biru yg telah rusak dan penuh sobekan melayang dan mulai terjatuh.
"Aniki..!!!" teriak Dante yg meraih laki-laki yg tidak lain adalah Ray.
Dante pun memangku Ray dan mendarat di tepian sungai. Tanah tepian sungai tampak sedikit retak akibat hantaman kaki Dante. Dante pun meletakan tubuh Ray di tanah.
"Sial, disaat seperti ini malah datang. Aku sudah mulai kehabisan tenaga." ujar Kamui mulai panik saat menyadari kedatangan Dante.
Tatapan mata Dante berubah, sekarang yg ada diwajahnya hanya sebuah ekspresi yg haus akan darah.
"Berani sekali kau melukai Aniki. Aku takkan pernah memaafkanmu.. Angin Fajar!!!" ujar Dante yg diakhiri dengan teriakan.
Mulai muncul aura merah kehitaman di sekitar Dante. Aura itu pun mulai meledakan sejumlah kekuatan besar yg menciptakan hembusan angin yg kuat.
"Sial, kalau dia mengamuk disini, perumahan yg ada di sekitar sini bisa habis terbakar. Aku juga sudah tidak bisa menggunakan Kamikaze lagi." ujar Kamui semakin panik.
"Ada apa? Kenapa kau tidak menyerangku seperti menyerang Aniki? Ayo maju dan keluarkan teknik yg tadi lagi, hah!" bentak Dante menantang.
Kamui pun melompat hendak menyerang Dante.
"Begini saja?" ucap Dante sambil tersenyum.
Badannya mulai miring, dengan bertumpu pada kaki kiri dia menghindari tebasan Kamui sekaligus kemudian menendang Kamui dengan kaki kanannya. Kamui terpental dan menghantam pematang sungai dengan sangat keras, lebih keras daripada saat Ray menghantam pematang.
"Instrument: Devil Bone Guitar!" ucap Dante mengeluarkan instrumen nya.
Keluarlah sebuah gitar listrik, di bagian kepala nya muncul api hitam yg berkobar menjulang ke angkasa setinggi sekitar 200 meter.
"Nah sekarang giliranku! Hahaha.." kata Dante dengan tatapan menyeramkan sambil tertawa dan mata yg merah menyala.
"Sial, sudah berakhir kah? Inikah akhirnya?" ujar Kamui mulai putus asa.
Kamui terlihat kesakitan sehingga butuh waktu untuk bangkit. Dan ia tahu itu, dan ia juga tahu kalau takkan sempat menghindari serangan Dante karenanya.
"He-hentikan.. Dan..te.." ucap Ray yg menarik celana Dante.
Api hitam yg ada di gitarnya menghilang, Dante pun menoleh ke belakang dan melirik ke bawah. Terlihat Ray yg terbaring tak berdaya tampak lemah sudah sadarkan diri.
"Aniki.." ucap Dante saat melihatnya.
"Kita mundur.. Dante.." kata Ray dengan suara lemah.
"Tidak Aniki.. aku harus membalaskanmu. Aku harus membunuhnya.." tolak Dante.
"Dante!.." ujar Ray berusaha membentak Dante dengan suaranya yg lemah itu.
Dante pun menyadari kalau Ray membutuhkan pengobatan dengan segera.
"Kita mundur.. ini perintah.." ujar Ray.
"Baiklah, Aniki." terima Dante yg kemudiang menghilangkan lagi instrumennya.
Dante pun memanggul tubuh Ray di pundaknya.
"Hari ini nampaknya kau masih beruntung. Tapi lain kali kalau kita bertemu lagi, akan kupastikan kau akan kubakar sampai jadi abu." ancam Dante menatap tajam ke arah Kamui.
Dante pun melompat dalam kecepatan tinggi dan tampak seperti menghilang.
"Cih, tadi itu hampir saja. Kamu tidak apa-apa, Gaku-Gaku?" tanya Gumi yg baru sampai di tempat itu.
"Semua bagian tubuhku serasa sakit sekali." jawab Kamui.
Gumi pun membantu Kamui berdiri.
"Ya ampun, kenapa kamu bisa kalah melawannya?" gerutu Gumi.
"Dia, sudah lebih kuat dan lebih cepat dari pada yg dulu. Dia bisa menghindari tebasanku sambil menyerangku." jawab Kamui.
"Begitu ya.." sahut Gumi.
"Kalau saja tadi itu tidak dihentikan oleh The White Light-dono, pasti aku sudah mati terbakar beserta perumahan yg ada di belakangku ini." ujar Kamui dalam hati.
"Sebaiknya kita pulang saja, Megu. Kita harus bersiap-siap untuk serangan balasan dari mereka." suruh Kamui.
"Oh ya Gaku-Gaku, apa menurutmu seorang iblis bisa menangis?" tanya Gumi secara tiba-tiba.
"Hah, apa Megu?" ucap Kamui yg nampak tak mendengarnya.
"Tidak, lupakan saja." jawab Gumi yg kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Kamui.
"Aku melihatnya dengan jelas, saat itu dia menangis saat melihat Shiro Ray terkena teknik Kamikaze milik Gaku-Gaku." ujar Gumi dalam hati.
Gumi pun mengingat momen saat Dante melesat melewatinya. Sekilas ia melihat Dante terlihat cemas dan mengeluarkan air mata. Dan hal itu membuat Gumi terkejut.

Di rumah danau, Dante membaringkan tubuh Ray. Terlihat tubuh Ray penuh luka sayatan di sekujur tubuhnya. Dante pun mengeluarkan sejumlah perban dari sebuah kotak yg ada di pojok kamar itu.
"Aniki, kenapa Aniki bisa sampai terkena jurus itu?" tanya Dante sambil membalut tubuh Ray dengan perban.
"Yg aku tahu, Aniki pasti bisa menghindari teknik Kamikaze itu. Kenapa tidak menghindar?" tanya Dante lagi terlihat khawatir.
"Ya.. bisa dibilang aku hanya ingin merasakan sakit yg sama seperti saat kamu terkena teknik itu dahulu. Dan ternyata rasanya seperti terkena tebasan ribuan pedang." jawab Ray sambil tersenyum.
"Bodoh! Aniki Bodoh! Kenapa mesti melakukan hal itu? Saat ini kekuatan Aniki tidak sekuat dahulu. Aniki belum pernah menyanyi lagi setelah perang itu. Aniki bisa saja mati kalau sampai terkena teknik itu. Aniki tahu kan?" bentak Dante terlihat marah.
"Ya, tentu aku tahu resikonya. Namun, kalau aku tak pernah merasakan rasa sakitmu, maka aku takkan pernah bisa mengerti dirimu." sahut Ray masih tersenyum dan mengusap kepala Dante.
Dante pun selesai membalut tubuh Ray yg luka mulai dari perut sampai ke leher. Dan beberapa bagian kaki seperti paha, lutut dan betis. Dante mulai tertunduk dan menutup wajahnya dengan tangan kirinya, seperti menahan sebuah kesedihan yg mendalam.
"Mulai hari ini, semuanya akan jadi lebih sulit lagi. Aku masih harus memastikan beberapa hal sebelum melanjutkan ke rencana selanjutnya." ujar Ray dalam hati sambil menatap ke arah langit-langit kamar.
Di kediaman Gakupo, terlihat Kamui duduk di dalam dojonya dengan sebuah katana di pangkuannya.
"Malam ini, saya harus berlatih untuk meningkatkan teknik berpedang saya. Fokus.. fokus.." ujar Kamui berusaha untuk bekonsentrasi untuk meditasi sebelum berlatih.
"Gakupo! Mau sampai kapan kau disini? Cepat mandi sana! Airnya sudah aku siapkan tuh!" bentak Kaito yg membuka pintu dojo dengan keras.
"Terong rebus.. terong goreng.. terong bakar.." ucap Kamui sambil berlutut nungging dan menutupi kepalanya dengan tangan.
"Eh, sedang apa kau disana, Gakupo?" tanya Kaito yg melihat.
"Kaito-dono jangan bikin kaget gitu ah! Sama sekali tidak lucu tahu." gerutu Kamui.
"Hah? Kau takut gara-gara aku tiba-tiba buka pintu? Ya ampun.." ujar Kaito.
"Saya lagi dalam proses meditasi, suara sekecil apapun bisa sangat mengganggu. Apalagi yg barusan!" balas Kamui dengan wajah malu.
"Ya udah maaf, sekarang cepat mandi sana!" suruh Kaito lagi.
"Uh.. malas.." jawab Kamui yg kemudian duduk bersila lagi.
"Eh?!" ucap Kaito dengan sedikit kesal.
"Daripada mandi, mending saya meditasi lagi. Mandi pun tidak ada gunanya, karena besok juga bakalan kotor lagi kan." kata Kamui sambil memejamkan matanya lagi melanjutkan meditasi.
"Oohh.. begitu ya.." ujar Kaito tampak kesal.
Kaito pun menutup pintu dojo dengan pelan sekali.
"Sayang sekali, karena.. kalau tidak mandi.. takkan kubagi semur terong.." ucap Kaito sambil pelan menutup pintu itu seperti sedang mengancam.
Saat pintu tertutup penuh, tiba-tiba..
"Semur terong!!!" teriak Kamui sambil menendang pintu.
Pintu itu pun terlempar dan mengenai Kaito yg masih berada dibalik pintu. Kaito tersungkur di tanah dengan pintu yg menindih diatasnya.
"Semur.. terong..!!!" teriak Kamui yg berlari ke dalam rumah.
"Samurai sialan.." gerutu Kaito yg masih tersungkur ditanah tampak jengkel.
Beberapa saat kemudian, terlihat Kaito yg sudah mandi.
"Sialan Gakupo itu, aku jadi harus mandi lagi." gerutu Kaito sambil mengusap-ngusap rambutnya yg basah dengan handuk.
"Hah?!" ucap Kaito tampak terkejut.
"Yo, Kaito-dono.." sapa Kamui yg terlihat hampir selesai makan.
"Lauknya kau habiskan?" tanya Kaito yg menunjuk meja makan yg tampak hanya ada piring-piring kosong saja.
"Hahaha.. yah gimana ya, masakan Kaito-dono memang nomer satu dah." jawab Kamui sambil tertawa bodoh.
"Kenapa kau habiskan semuanya!!! Kalau semur terong nya yg habis, aku masih maklum. Tapi kenapa yg lainnya ikutan lenyap juga!!!" bentak Kaito.
Kamui pun bangkit lalu menyentuh pundak Kaito.
"Sabar.." ucap Kamui.
"Sabar pale lu peang!!!" pekik Kaito sambil memukul Kamui di perut.
"Keluar lagi dah, keluar lagi dah.." ucap Kamui berusaha menahan agar tidak muntah.
Kaito pun masuk ke dapur, dan dengan kesal dia pun akhirnya memasak mie instan.

Keesokan harinya, di akademi Voca. Tepatnya di kelas 1-B, Gumi terlihat sedang melamunkan sesuatu. Miku yg memperhatikan dari belakang tampak cemas melihatnya.
"Gumi-chan kenapa? Ada masalah?" tanya Miku.
Namun Gumi tidak menjawab dan hanya diam saja.
"Miku-chan, Gumi-chan, apa kalian melihat Ray-kun?" tanya Luka yg berdiri dekat pintu belakang kelas.
"Oohh.. dia hari ini nampaknya tidak masuk. Alasannya tidak masuk juga tidaj jelas." jawab Miku.
"Hmm.. begitu ya. Apa Ray-kun sedang sakit ya. Tidak biasanya dia tidak hadir seperti ini." ujar Luka.
"Oh ya, Gumi-chan kenapa? Kok tampak murung gitu?" tanya Luka saat melihat Gumi yg tampak lesu.
"Aku juga tidak tahu. Gumi-chan sama sekali tidak menjawab saat ku sapa dan ku tanya beberapa kali." jawab Miku.
Luka pun masuk ke dalam kelas dan menghampiri Gumi.
"Gumi-chan.. kamu tidak apa-apa? Kalau kamu lagi sakit biar aku antar ke UKS." kata Luka sambil berjongkok dekat mejanya Gumi.
"Luka-oneesama..?!" ucap Gumi terkejut melihat Luka di depan wajahnya lalu berdiri.
"Kalau kamu sakit, kita ke UKS aja yuk!" ajak Luka.
"Ti-tidak, aku tidak apa-apa kok. Permisi.." jawab Gumi yg lalu pergi meninggalkan Miku dan Luka.
"Gumi-chan.." ucap Miku terlihat khawatir.
"Kenapa aku masih kepikiran dengan hal kemarin? Apa karena aku melihatnya menangis?" ujar Gumi bertanya-tanya.
"Harusnya iblis tak punya kesedihan. Dia itu pangeran kegelapan, orang dibalik perang nada hitam. Harusnya dia adalah orang yg kejam." sambung Gumi menundukan kepalanya.
Gumi pun berjalan di lorong itu dengan wajah tertunduk. Pulang sekolah, Gumi masih tampak lesu dengan kepala tertunduk.
"Gumi-chan.. ayo pulang bareng!" ajak Miku.
Namun gumi hanya menyahut dengan suara pelan. Hampir tak terdengar.
"Gumi-chan.." ucap Miku semakin khawatir.
"Oh ya, Gumi-chan tahu gak? Di episode sebelumnya drama 'Notice Me, Senpai', adegan nya kocak banget lho. Masa Miki bikin coklat valentine tapi cabe. Kasihan Kaido-senpai nya kepedasan. Hahaha.. haha.." ujar Miku berusaha menghibur Gumi namun ternyata gagal.
Kemudian mereka terlihat melanjutkan jalan dengan keheningan. Tidak berapa lama, ada seorang laki-laki berjaket putih berdiri menghalangi jalan mereka. Gumi yg tertunduk pun melihat ke arah wajah laki-laki itu.
"Apa kau punya waktu?" tanya laki-laki itu yg tidak lain adalah Dante.
"Pa-pangeran kegelapan?!" ucap Gumi terkejut melihat sosok Dante dan langsung bersiap untuk bertarung.
"Tenang saja, hari ini aku takkan menyerang ataupun melukaimu. Aku hanya ingin berbicara denganmu." ujar Dante.
"Pangeran kegelapan?" kata Miku dalam hatinya sambil memiringkan kepala karena tidak mengerti.
"Ingin bicara apa?" tanya Gumi dengan serius.
"Jauhi samurai itu." jawab Dante.
"Kenapa memangnya?" tanya Gumi lagi.
"Sudahlah, jauhi saja dia. Karena besok aku akan membunuhnya. Aku tak mau kalau kau sampai terlibat." jawab Dante.
"A-apa? Kenapa?" ucap Gumi tampak terkejut.
"Karena dia telah menyakiti orang yg berharga bagiku." balas Dante.
"Lalu kenapa kamu memperingatkanku?" tanya Gumi lagi.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak mengerti. Hanya saja, rasanya aku tak ingin kalau sampai kau terlibat." jawab Dante sambil berbalik lalu pergi.
"Tunggu! Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu yg membuat Gumi bersedih, hah!" bentak Miku.
"Jangan ikut campur, ini bukan urusanmu." sahut Dante yg tetap berjalan menjauh dari mereka.
"Ada apa dengan dia itu? Tiba-tiba mengancam mau membunuh seseorang lalu pergi begitu saja. Yg seperti itu jangan dipikirkan ya, Gumi-chan?" gerutu Miku.
Namun Gumi hanya terdiam dengan ekspresi kaget dan ketakutan. Kemudian Gumi pun terjatuh tak sadarkan diri.
"Gumi-chan?!!!" ucap Miku.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】