VocaWorld, chapter 61 - Kipas Angin Yang Berhenti Berputar
Siang hari di Voca Town. Cuaca tampak sangat panas, sinar matahari terlihat begitu terik dengan udara yg membuat gerah orang meski berada di dalam ruangan.
"Kurang ajar kau global warming!" teriak Miku sambil tiduran dan menunjuk ke langit-langit ruang tengah itu.
Walau saat itu Miku sedang dikipasi oleh kipas angin yg menyala sampai level maksimal, dia masih terlihat kegerahan. Kemudian ada yg memencet tombol putar nya. Dan kipas itu pun menoleh kiri dan kanan.
"Panasnya.." ucap Len yg tiduran di samping kanan Miku.
"Gerah.." sahut Rin yg tiduran di samping kiri Miku.
"Iya.." balas Miku dengan lemas.
"Eh, kalian kenapa ikutan tiduran disini?" tanya Miku yg baru sadar kehadiran Rin dan Len.
"Ya.. kami juga mau dikipasin lah. Dikamar udaranya panas banget." jawab Len.
"Buka jendela pun malah makin gerah." sambung Rin.
"Tapi jangan seenaknya juga mencet tombol putarnya! Jadi aku kebagian anginnya cuma pas lempeng ke tengah doang!" bentak Miku.
"Tapi mau bagaimana lagi. Masa cuma Miku-neechan doang yg kebagian anginnya." gerutu Rin.
"Kalau begitu kita ubah posisi saja." usul Miku.
"Posisi gimana maksudnya, Miku-nee?" ucap Len bingung.
Posisi 1: Kereta Api. Posisi ini menjadikan Miku paling dekat dengan kipas dan memanjang sesuai jalur angin kipas dengan Rin di posisi ke dua dan Len di posisi ke 3.
"Sialan, aku cuma kebagian angin yg paling lemah disini." gerutu Len.
"Aku malah kehalang oleh Miku-neechan." tambah Rin.
"Aku apalagi kehalang oleh kamu juga, Rin! Ganti posisi!" balas Len.
Posisi 2: Gedung bertingkat. Miku, Rin dan Len saling bertumpuk ke atas. Dimana Miku paling bawah, Rin diatas Miku, dan Len diatas Rin.
"Nah kalau begini aku adem." ucap Len.
"Aku malah gerah banget!" sahut Rin yg terhimpit diantara Len dan Miku.
"Berat!" pekik Miku tampak susah bernapas.
"Ganti posisi dah!" pinta Rin.
Posisi 3: Piramida. Miku berada diatas, sementara Len dan Rin dibawah diantara Miku dan lantai.
"Kenapa aku masih dibawah!!!" bentak Rin.
Posisi 4: Piramid terbalik. Membalikkan posisi 3 dengan 2 orang yaitu Miku dan Len sementara Rin dibawah.
"Aaaa.. kenapa aku selalu tidak mujur!" ujar Rin kesal lalu bangun secara tiba-tiba hingga membuat Miku dan Len terguling ke kiri dan kanan.
Rin pun pergi meninggalkan Miku dan Len.
"Miku-nee.." panggil Len.
"Ada apa Len-chan?" sahut Miku.
"Kok perasaan jadi gerah ya?" ucap Len.
Kemudian Miku pun melihat ke arah kipas. Ternyata kipasnya mati, dan terlihat ada asap keluar dari bagian belakangnya.
"This is the end of the world?!!!" teriak Miku dalam hati terkejut melihatnya.
Rin berjalan-jalan di dekat sungai. Lalu ia melihat ada Ray sedang memancing disana. Rin pun tampak senang melihat Ray, dan kemudian berlari menghampirinya.
"Kakak yg waktu itu!" panggil Rin sambil berlari.
Ray pun menoleh ke arah Rin.
"Kakak sedang apa?" tanya Rin sambil saat berjalan ke samping Ray.
"Seperti biasa, memancing.." jawab Ray dengan santai.
"Panas-panas begini?" ucap Rin.
"Tidak terasa panas kok kalau kita sedang senang melakukan sesuatu dan tertuju pada hal itu." jawab Ray.
"Hmm.. aku tidak mengerti sih. Tapi tak apa lah.." ucap Rin sambil memiringkan kepalanya.
Rin kemudian duduk didepan Ray diantara kedua kakinya.
"Kakak, apa tidak kepanasan memakai jaket seperti itu di siang hari seperti ini?" tanya Rin.
"Tidak kok." jawab Ray.
"Masa? Padahal aku gerah banget meski pakai kaos dan rok mini juga." ujar Rin.
"Tidak percaya? Coba deh agak merapat.." suruh Ray.
Saat itu Ray memang memakai jaket dengan terbuka dan tangannya tidak dimasukan. Jadi hanya tudungnya saja yg nyangkut dikepala. Tanpa ragu Rin pun merapat karena penasaran. Dia pun menengadah ke atas melihat ke wajah Ray. Ray pun kemudian meniupi Rin dengan lembut. Tampak Rin memejamkan kepalanya karena merasa nyaman ditiupi Ray. Setelah 4 tiupan Ray pun berhenti.
"Eh, kenapa berhenti?" tanya Rin melihat ke wajah Ray lagi.
"Aku bukan kipas angin, mana mungkin meniupimu terus, gadis kecil." jawab Ray.
"Bicara tentang kipas angin aku masih kesal dengan kejadian di rumah." ujar Rin sambil cemberut.
"Memang apa yg terjadi?" tanya Ray.
"Bukan sesuatu yg penting sih, tapi tetap saja mengesalkan." tambah Rin.
"Ya sudah, sekarang jangan pikirkan itu. Lebih baik kita mancing." ujar Ray.
"Oh ya, nama kakak siapa sih?" tanya Rin.
"Emang aku belum pernah mengatakannya ya? Hmm.. namaku Ray. Shiro Ray." jawab Ray.
"Kalau begitu boleh aku panggil Ray-niichan?" tanya Rin lagi.
"Ya, silahkan saja.." jawab Ray.
"Ray-niichan, tiupin lagi.." pinta Rin.
"Iya-iya.." sahut Ray yg lalu meniupi Rin lagi.
Rin pun tampak tersenyum senang saat itu.
Miku terlihat berjalan keluar rumah sambil membawa kipas angin yg rusak. Nampaknya Miku bermaksud membawanya ke tempat servis barang elektronik.
"Panas banget dah.. ada kipas juga malah dijinjing. Bukannya buat ngipasin.." gerutu Miku dengan keringat mengucur.
"Seandainya aku punya AC, pasti tidak akan begini jadinya. Tapi sayangnya AC tidak kebeli. Karena uang gaji Meiko-san tidak cukup." ujar Miku sambil tetap berjalan dan mengusap keringat di jidatnya.
Dijalan, Miku bertemu dengan Gumi yg sedang berdiri di depan mesin penjual minuman. Dia memakai pakaian olahraga dengan celana panjang, karena selesai jogging.
"Beli yg mana ya? Pocar* apa Miz*ne ya? Keduanya sama-sama bisa gantiin ion yg hilanh bersama keringat. Tapi, lebih baik yg mana ya?.." ucap Gumi bingung memilih minuman.
"Gumi-chan lagi ngapain tuh?" ucap Miku melihat Gumi dari kejauhan.
"Random aja dah!" teriak Gumi melesatkan telunjuknya ke tombol secara acak dengan mata tertutup.
Kemudian setelah hampir tertekan tombolnya tangan Gumi berhenti, dan sebelah mata Gumi terbuka.
"Yg ini aja dah!" ucap Gumi dengan wajah datar menekan tombol dibawah tempat botol miz*ne.
"Gumi-chan!" panggil Miku.
"Oh.. Miku-chan kah.." sahut Gumi.
"Gumi-chan habis jogging ya?" tanya Miku.
"Ya.. tapi ternyata pulang kesiangan, jadi keburu panas deh.." jawab Gumi.
Gumi pun membuka tutup botol minuman yg ia beli, terus meminum minuman itu.
"Iya, tadi juga sampai tumpuk-tumpukkan bareng Rin-chan dan Len-chan. Terus Rin-chan ngambek karena dia yg dibawah terus." ujar Miku.
Gumi pun terkejut dan langsung menyemburkan minumannya.
"Gumi-chan kenapa? Minumannya tidak enak?" tanya Miku.
"Tidak kok, bukan begitu. Hanya keselek saja." jawab Gumi.
"Mereka itu keluarga macam apa sebenarnya. Miku-chan, ada apa denganmu! Rin-chan dan Len-kun itu saudara kembar. Kenapa kamu biarkan mereka melakukan itu?" ucap Gumi dalam hati terlihat pipinya memerah membayangkan Len memeluk Rin dari belakang sambil tiduran.
Miku hanya memiringkan kepalanya karena bingung. Sementara itu, dikediaman Megurine yg tenang dan sejuk karena ber-AC. Tampak Luka sangat tenang membaca buku berjudul 'Diary of C'. Saat ini dia hampir sampai di akhir.
"Jadi, mereka adalah awal berkembangnya Voca Town. Tapi, siapa mereka? Tak pernah ada catatan apapun tentang mereka dibuku sejarah kota ataupun surat kabar." ucap Luka sambil berpikir.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.