VocaWorld, chapter 57 - Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
Luka melihat ke arah rak paling bawah di ruang baca itu. Dia tampak memikirkan sesuatu dan memegang dagunya.
"Semua buku ada 7 buku jika yg sedang aku pegang ini dihitung juga. Abjad yg ada setelah kata 'Diary of' semuanya disusun secara berurutan dari A sampai G. Jadi kalau kita ingin antara angka 7 dan abjad ABCDEFG, maka kita akan mendapat.." ujar Luka yg lalu meletakan kembali 'Diary of B' yg sedang ia pegang.
"7 susunan nada, yg pastinya dimulai dari C sebagai nada Do." sambung Luka yg mengambil buku 'Diary of C' yg berada tepat disebelah tempat 'Diary of B'.
Kemudian Luka pun membuka-buka halaman buku itu sambil berjalan ke arah meja baca.
"Sudah kuduga.." ucap Luka saat membaca kalimat awal di buku itu.
Disana tertulis, "Hari ini adalah hari pertamaku menulis ini sebagai catatan penting dalam pekerjaanku yg baru. Namaku Meguzan Ranpo, namun orang-orang memanggilku, Megupo.". Luka terkejut mendengar nama itu. Nama itu sangat dikenalnya.
"Bukankah ini nama keluarga Gumi-chan? Kenapa bisa sama dengan nama panggilan papa?" ujar Luka.
Kemudian Luka pun melanjutkan membaca buku itu karena penasaran. Setelah mandi dan makan malam pun dia kembali ke ruang baca. Dia terus saja membaca hingga larut malam. Tampaknya dia begitu ingin tahu pekerjaan ayahnya yg diceritakan di buku 'Diary of B'. Hingga tanpa terasa dia tertidur di ruang baca itu. Pagi pun tiba, dan terdengar seorang maid memanggil-manggil Luka. Maid mengetuk-ngetuk pintu kamar Luka namun tidak dijawab juga.
"Luka-sama, sudah pagi. Ayo bangun, Luka-sama. Sarapannya sudah siap." panggil Maid itu sambil tetap mengetuk pintu.
"Kenapa tidak dijawab juga? Apa beliau tidak ada dikamarnya?" pikir maid itu.
"Kalau begitu saya masuk ya. Permisi.." ujar maid itu sambil membuka pintu.
Namun terlihat tempat tidur itu kosong. Tidak ada tanda-tanda ada Luka disana.
"Mungkin beliau ada di ruang baca." ucap maid itu menutup kembali pintunya.
Kemudian maid itu pun pergi menuju ruang baca.
"Luka-sama, apa anda didalam?" tanya maid itu sambil mengetuk pintu ruang baca.
Hal itu membuat Luka terbangun.
"Ya, ada apa?" sahut Luka kepalanya tertutup sebuah buku.
"Ternyata benar disini." ucap maid itu dalam hati.
"Sarapannya sudah siap, Luka-sama." jawab maid itu.
"Ooh.." sahut Luka sambil mengangkat kepalanya dan buku itu pun jatuh diatas meja.
Luka pun membuka pintu ruang baca itu dan hal itu mengagetkan maid tersebut. Karena saat itu Luka tampak lemas, dengan mata mengantuk, dan kantung mata dibawah matanya, Luka terlihat seperti zombie.
"Luka-sama?! Anda punya kantung mata?! Bagaimana ini?" ucap maid itu terlihat panik.
"Tentu saja, aku membaca hingga jam 3 pagi. Hoaaamm.." jawab Luka yg lalu menguap.
"Jam 3 pagi?! Ya ampun Luka-sama ini.. kurang tidur itu tidak baik untuk kesehatan kulit anda. Anda tahu kan?" ujar maid itu.
Namun Luka saat itu langsung jatuh tertidur di pundak maid itu. Kelihatannya Luka masih sangat mengantuk.
"Luka-sama, sejauh ingatanku beliau selalu saja begini kalau sedang tertarik akan sesuatu." ujar maid itu dalam hati sambil memapah Luka ke kamar.
Waktu menunjukkan jam 7 pagi, Gumi terlihat berjalan menuju kediaman Gakupo. Saat sampai di depan kediaman Gakupo, dia melihat Kamui sedang duduk bersila di depan dojo sambil memejamkan matanya.
"Kamu masih melakukan hal ini? Memangnya apa gunanya?" sapa Gumi pada Kamui sambil duduk di sampingnya.
"Ini adalah hal sangat penting. Menjadikan jiwa setenang air adalah penting bagi seorang samurai. Karena hanya air yg tenang yg bisa memantulkan bayangan yg sempurna." jawab Kamui.
"Oh.. begitukah? Tapi bukankah air yg tenang itu diam tak beriak. Bagaimana bisa disebut setenang air kalau kamu barusan menjawabku?" ujar Gumi.
"Eh?.. hmm.. lupakan yg barusan. Karena sekarang aku baru mulai serius." ucap Kamui menoleh ke arah Gumi sebentar lalu kembali meneruskan meditasi.
"Wah.. ada gadis cantik.." ucap Gumi.
"Mana?" tanya Kamui langsung membuka matanya lagi dan mencari-cari gadis yg dimaksudkan Gumi.
"Megu, mana gadis can.." belum selesai berbicara, Kamui dikejutkan dengan tatapan dingin Gumi.
"Jadi itu yg namanya serius?" ujar Gumi.
"Bu-bukan begitu, Megu. Tadi itu aku belum masuk serius. Sekarang baru serius." sahut Kamui.
"Terserah.." ujar Gumi tampak tak percaya lagi pada Kamui.
"Oh Megupo!" sapa Kaito yg terlihat membawa sekeranjang pakaian basah berniat menjemurnya.
"Jangan terlalu dianggap, dia memang seperti itu." ucap Kaito sambil menjemur pakaian.
"Ya, aku mengerti kok. Kami sudah berteman sejak kecil. Jadi aku sangat mengenalnya." jawab Gumi.
"Gakupo, sarapan dulu sana! Makanannya sudah siap tuh. Megupo juga kalau belum sarapan boleh kok ikut sarapan." ujar Kaito.
"Baiklah.." sahut Kamui yg lalu bangkit dari tempatnya duduk.
"Oh.. terima kasih ya. Kebetulan aku memang belum sempat sarapan." jawab Gumi.
Gumi pun mengikuti Kamui masuk ke rumah. Tampak Kamui dan Gumi sarapan, dan tidak lama Kaito pun muncul setelah selesai menjemur dan ikutan makan.
"Terima kasih untuk makanannya.." ucap mereka bertiga saat selesai sarapan.
Kemudian bel pun berbunyi.
"Siapa itu bertamu pagi-pagi seperti ini?" ucap Kamui.
"Biar aku yg buka." ujar Kaito bangkit dari tempat duduknya.
Kaito pun membuka pintu. Dan ia melihat seorang gadis berambut hijau biru berkuncir dua berdiri didepannya. Gadis yg tak lain adalah Miku itu pun terlihat kaget melihat Kaito.
"Kaito-senpai? Kenapa ada disini?" tanya Miku.
"Hah? Apa maksudmu, Hatsune? Tentu saja aku ada disini. Aku kan tinggal disini. Walau cuma numpang sih.." jawab Kaito.
"Miku-chan.." panggil Gumi dari dalam.
Terlihat Gumi menghampiri Kaito dan Miku di pintu depan.
"Gumi-chan kemari dulu.." ujar Miku menarik Gumi ke luar dan agak menjauh dari Kaito.
"Gumi-chan tinggal bareng Kaito-senpai?" tanya Miku dengan sedikit cemberut.
"Tidak mungkin lah.. kalau aku tinggal disini mana mungkin aku bilang kita ketemuan disini. Kontrakanku itu bukan disini. Ini hanya tempat pertemuan doang." jelas Gumi.
"Tapi tadi Gumi-chan muncul dari dalam." sambung Miku masih cemberut.
"Tadi itu aku ikut sarapan disini. Soalnya di rumah tidak sempat masak." jawab Gumi.
"Oohh.. begitu ya.." sahut Miku terlihat lega.
"Nampaknya kalian sedang sibuk bicara. Kalau begitu aku pergi kedalam dulu ya, masih ada kerjaan soalnya. Lanjutin ngobrolnya didalam aja.." ucap Kaito.
"Tidak, terima kasih, kami akan segera pergi.." jawab Gumi.
"Oh.. baiklah kalau gitu." sahut Kaito sambil tersenyum ramah.
"Ayo, Miku-chan.." ajak Gumi.
"Yah.. padahal aku ingin lebih lama bareng Kaito-senpai.." ujar Miku tampak kecewa.
"Kalau terlalu siang entar keburu panas." sahut Gumi.
Miku dan Gumi pun berjalan menuju ke tengah. Mereka pun naik bis yg menuju ke bagian pinggiran sebelah barat laut Voca Town. Tepatnya ke distrik 5. Sesampainya disana mereka kembali berjalan kaki untuk menuju ke kontrakan Gumi.
"Apa masih jauh?" tanya Miku tampak mulai lemas berjalan.
"Sudah dekat kok." jawab Gumi.
Mereka terus berjalan hingga sampai ke sebuah kontrakan yg tampak sedikit kumuh dan kurang terurus. Mereka naik ke lantai 2.
"Nah kita sudah sampai." ujar Gumi.
"Gumi-chan tinggal disini?" ucap Miku sedikit kaget.
"Ya." jawab Gumi.
"Tapi tempat ini agak seram. Lihat aja catnya udah banyak yg mengelupas." ujar Miku sambil menunjuk tembok.
"Jangan menilai buku dari sampulnya." ucap Gumi sambil membuka kunci pintu.
Kemudian Gumi pun membuka pintu dan terlihatlah bagian dalam rumah itu.
"Wah.." ucap Miku terkagum.
Ternyata bagian dalamnya cukup rapi. Temboknya sudah dilapisi wallpaper, dan perabotan yg diletakan tampak sesuai dan terlihat rapi.
"Bagian luarnya mungkin tampak tak terurus, tapi bagian dalamnya menurutku masih layak huni. Selain itu sewa nya juga murah." jelas Gumi.
"Hmm.. begitu rupanya.." ucap Miku.
Di luar kontrakan itu, tampak Dante sedang duduk diatas atap sebuah rumah.
"Jadi sekarang dia mengajak temannya ke rumah, ya?" ujar Dante yg lalu berdiri.
Kemudian Dante berjalan ke samping atap lalu melompat ke atas pagar dan turun ke jalan.
"Lain kali saja.." ucap Dante yg pergi menjauh.
Siang harinya, Luka sudah bangun dari tidurnya. Dia bangkit dari tempat tidurnya lalu meregangkan tubuhnya.
"Sudah siang ya.." ucap Luka yg terlihat masih belum sadar sepenuhnya.
"Ya, ini sudah siang.." sahut Ray yg ternyata sedang duduk di kursi di sebelah tempat tidurnya.
Luka pun terperanjat kaget dan mundur mendekat ke sandaran ranjangnya.
"Jangan takut, aku kesini hanya untuk menyampaikan sesuatu." ujar Ray.
"Mau menyampaikan apa?" tanya Luka.
"Minggu depan aku akan melakukan penyerangan. Targetnya adalah, Hatsune Miku." ujar Ray.
Luka pun terkejut.
"Kuharap, kamu sudah bersiap saat itu terjadi." tambah Ray.
Ray pun pergi menuju pintu lalu keluar dari kamar Luka dan menutup pintu itu.Tepat saat menutup pintu, tidak lama pintu itu dibuka.
"Maaf Luka-sama, ada apa memanggil saya?" ucap seorang maid yg membuka pintu itu.
"Siapa yg memanggilmu?" sahut Luka terlihat bingung.
"Tapi tadi anda mengirimkan email ke saya dan menyuruh saya untuk ke kamar anda." jawab maid itu.
"Ini pasti pekerjaan Ray-kun. Apa tujuannya? Mau aku cepat bangun dan mandi atau makan?" gumam Luka dalam hati.
"Ya sudah, tolong siapkan makan untukku ya." suruh Luka sambil tersenyum ramah.
"Baik, Luka-sama." sahut maid itu.
Keesokan harinya pun Luka langsung mengumpulkan Miku, Meiko, dan Gumi di kediaman Gakupo.
"Ada apa, Megurine? Kenapa kita mesti melakukan rapat darurat?" tanya Kaito.
"Kemarin Ray-kun datang menemuiku dan memberikan sebuah pernyataan perang. Dia mengatakan 6 hari dari sekarang, dia akan menyerang kita. Dan target utamanya adalah, Miku." jelas Luka.
"Hah? Aku?" ucap Miku terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri.
Begitu juga yg lainnya, semuanya terlihat terkejut mendengar perkataan Luka.
"Nampaknya ada suatu alasan dia mau menyerang Miku. Namun aku masih belum mengerti alasannya apa." sambung Luka.
"Megurine-san, jadi kemarin dia menemuimu, dan kamu membiarkannya pergi begitu saja?" tanya Meiko.
"Aku tak punya pilihan. Saat itu aku berada di situasi dimana aku tidak bisa melawan." jawab Luka.
"Apa? Maksudnya situasi seperti apa itu? Apa Luka-tan diapa-apain olehnya?" tanya Kamui merasa penasaran dan terlihat sedikit marah.
Lalu Gumi pun menendang kepala Kamui sampai Kamui tersungkur di lantai.
"Begitu ya. Shiro Ray memang bukan orang yg bodoh. Dia takkan pergi ke tempat musuh tanpa persiapan." ujar Gumi dengan menahan kesal pada Kamui.
"Pokoknya.. kita harus bersiap-siap menghadapi mereka. Apa kalian mengerti?" tanya Luka.
Semuanya pun mengangguk, kecuali Kamui yg tampak tak sadarkan diri tersungkur dengan wajah menempel dilantai kayu dojo itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.