VocaWorld, chapter 60 - Hitam Atau Putih?
Di suatu tempat di selatan VocaTown, jauh di pegunungan disana ada sebuah villa. Tampak dihalaman villa itu Miku, Luka, Meiko, Kaito, Gumi, Kamui, Rin dan juga Len terlihat sedang bersiap-siap melakukan sesuatu. Kaito tampak membawa alat pemanggang ke halaman. Sementara Kamui membawa karung yg berisikan arang. Sementara Luka, Miku, Meiko dan Len sedang duduk dikursi dengan meja berpayung.
"Ah.. terima kasih, Megurine-senpai. Setelah seminggu makan ikan terus, akhirnya bisa makan daging juga. Hehehe.." ucap Miku tampak bahagia.
"Tapi Miku-nee, ikan juga kan daging." ujar Len.
"Eh, iya kah?" sahut Miku agak bingung.
Len pun nepuk jidat karenanya.
"Tak usah berterima kasih, Miku-chan. Anggap ini sebagai permintaan maafku karena tak bisa melindungimu." jawab Luka.
"Tapi, aku masih tak habis pikir. Kenapa Ray-kun malah tampak ramah pada Miku-chan?" ucap Luka dalam hatinya.
"Luka-oneesama, pemanggangnya udah beres." lapor Gumi.
"Oohh.. baguslah. Kalau begitu kita tinggal menunggu dagingnya datang." sahut Luka sambil berdiri dari tempat duduknya.
Tidak berapa lama datanglah seorang maid dan dibelakangnya tampak ada 2 orang laki-laki sedang memikul sesuatu dengan menggunakan sebuah batang kayu.
"Saya sudah membawakan dagingnya, Luka-sama. Ini adalah daging domba garut yg di impor langsung dari Indonesia. Dan baru saja sampai tadi pagi dan langsung dipotong." ujar maid itu saat menghampiri Luka.
Dan 2 orang laki-laki itu pun meletakan pikulannya. Lalu terlihatlah seekor domba yg telah di sembelih yg ukurannya sangat besar untuk ukuran seekor domba.
"Me-Megurine.. apa ini tidak berlebihan?" ucap Kaito saat melihat domba itu.
"Kita kan ada banyak, kalau yg biasa tidak akan cukup kan?" jawab Luka.
"Tapi ini mah kayak persediaan daging untuk seminggu! Siapa yg mau menghabiskan!!?" bentak Kaito.
"Hmm.. tentu saja kan.." ucap Luka sambil mengangkat tangan kanannya keatas.
"Kamu!" sambung Luka sambil meluruskan tangannya kedepan dan menunjuk Kaito.
"Kenapa mesti aku!!?" ucap Kaito.
"Sebagai gentleman, kamu harus bisa menghabiskannya kan." tambah Luka.
"Aaa..!! Dia membuatku stress!!!" teriak Kaito memegang kepalanya sambil menengadah keatas.
"Seorang gentleman harus bisa menghabiskannya?!" ucap Kamui dalam hati saat mendengar perkataan Luka.
"Megurine Luka.." panggil Kamui dengan wajah tenang.
Luka pun menengok ke arahnya.
"Biar aku habiskan semua dagingnya." sambung Kamui dengan wajah sok keren memunculkan kilauan aneh disekitarnya.
Luka hanya menatap Kamui seakan merasa aneh.
"Dasar bodoh!!!" bentak Kaito sambil menendang pantat Kamui.
"Aaa.. kenapa anda menendang saya, Kaito-dono?" ucap Kamui kesakitan.
"Kalau kau menghabiskannya kita mau makan apa!!!?" jawab Kaito dengan kesal.
"Oh ya Len-chan, Rin kemana?" tanya Meiko pada Len.
"Tadi dia bilang mau jalan-jalan melihat alam sekitar sebentar." jawab Len.
"Lah, kenapa kamu gak temenin?" tanya Meiko sedikit terkejut.
"Katanya dia mau sendiri. Lagipula aku malas harus ngikutin dia terus." jawab Len lagi.
"Kamu tuh gimana sih? Gimana kalau dia tersesat!" bentak Meiko.
"Sudah-sudah.. biar aku saja yg cari. Aku sudah kenal wilayah sini." ujar Luka.
"Ah, terima kasih kalau begitu, Megurine-san." ucap Meiko.
"Ya, tak apa." sahut Luka.
Kemudian Luka pun pergi meninggalkan mereka.
Rin saat itu sedang berjalan-jalan di sebuah jalan setapak di dekat sungai. Dia melihat ke kiri dan ke kanan melihat pemandangan alam sekitar. Ada banyak binatang seperti kupu-kupu dan burung yg berterbangan. Kemudian Rin pun merasa sedikit terkejut, dia melihat seseorang yg dikenalnya sedang duduk di tepi sungai.
"Bukankah itu kakak yg waktu itu." ucap Rin.
Rin pun pergi menemuinya.
"Kamu sedang apa?" tanya Rin pada laki-laki dengan jaket hitam itu bertudung itu.
"Oh.. kamu rupanya, gadis kecil. Bisa kamu lihat, aku sedang memancing." jawab laki-laki itu membuka tudung jaketnya.
Di hadapannya ada sebuah pancingan, dan 2 pancingan sederhana dari bambu.
"Wah.. ternyata benar kakak yg waktu itu." ujar Rin tampak senang melihat laki-laki yg ternyata Ray itu.
"Kamu sendiri sedang apa disini?" tanya Ray kembali melihat ke depan.
"Aku dan yg lainnya sedang pesta barbeque. Kakak mau ikut?" jawab Rin menawarkan Ray ikut.
"Tidak, terima kasih, gadis kecil. Saat ini aku juga sedang punya pestaku sendiri. Pesta ikan bakar." tolak Ray.
"Memangnya sudah dapat berapa ikannya?" tanya Rin mendekat dan kemudian jongkok di samping Ray.
Rin melihat ke arah wadah dari anyaman bambu yg ada di sebelah kanan pancingan bambu.
"Wah.. sudah banyak.." ucap Rin kagum melihat ada banyak ikan di wadah itu.
"Kalau kamu mau, kamu boleh bawa beberapa untuk dibakar disana." tawar Ray.
"Benarkah?" tanya Rin.
"Ya." jawab Ray.
"Yeah! Asyik.." ucap Rin tampak senang lalu memeluk Ray.
Dari arah hutan, terlihat Luka sedang berjalan dijalan setapak di pinggir sungai itu. Kemudian ia melihat ada Ray dan Rin yg tampak seperti ditangkap oleh Ray. Luka pun terkejut dan segera berlari untuk menyelamatkan Rin.
"Ray-kun, lepaskan dia!" suruh Luka pada Ray saat sampai dibelakang Ray dan Rin.
"Luka-neesan." ujar Rin saat melihat Luka lalu melepaskan pelukannya pada Ray.
"Tenang saja, Megurine-san. Saat ini aku tak ada niat untuk menyerang kalian." ujar Ray.
"Lalu kamu kesini untuk apa?" tanya Luka.
"Memancing." jawab Ray.
"Hah? Rasanya itu alasan yg terlalu sederhana. Kenapa pula mesti memancing disini coba? Kan bisa memancing di sungai di Voca Town. Pasti alasanmu sebenarnya tidak lain adalah karena ingin mengikuti kami." ujar Luka tak percaya.
"Aniki, apa perlu aku mengusirnya pergi saja. Dia berisik sekali.." ucap Dante yg terlihat sedang tiduran dibawah teduhnya pohon tak jauh dari Ray.
Luka terkejut saat tahu ada Dante disana. Dia sama sekali tak menyangka dan tak sadar akan keberadaan Dante, karena biasanya Dante selalu disamping Ray. Namun saat ini Dante tiduran di bawah pohon pinggir hutan, sementara Ray duduk diatas bebatuan di pinggir sungai.
"Ya ampun.. perempuan itu makhluk yg berisik. Dicuaca panas gini bicara dengan suara sekeras itu malah bikin suasana makin gerah kan." gerutu Dante dengan suara pelan.
"Sudah kamu tenang saja disana, Dante. Ini akan segera selesai." sahut Ray.
"Kamu jangan khawatir, aku berkata jujur kok, Megurine-san. Aku tidak ada niat mengikuti kalian. Aku kesini karena mengikuti rekomendasi di siaran radio tadi malam. Katanya disini adalah tempat memancing yg bagus." sambung Ray menjawab perkaatan Luka.
"Ini ada apa sih? Kenapa Luka-oneesan begitu kerasa padanya?" tanya Rin yg tak mengerti.
"Tidak ada apa-apa kok, Rin-chan. Kalau begitu ayo kita kembali, yg lain sudah menunggu kita." jawab Luka.
"Ta-tapi.." ucap Rin.
"Ayo.." ajak Luka dengan lembut sambil memegang lengan Rin.
Rin dan Luka pun meninggalkan Ray disana. Ray pun kembali melanjutkan memancing. Terlihat seperti ada yg menarik salah satu pancingannya. Ray pun menariknya, dan ia pun mendapatkan ikan lagi. Ikan yg cukup besar. Ray pun tersenyum.
Di halaman depan villa, terlihat mereka masih bingung mau diapakan daging domba itu.
"Aduh.. Gakupo benar-benar mengesalkan. Stay cool, Kaito.. stay cool. Aku butuh es krim untuk membantu mendinginkan kepalaku." ijar Kaito yg duduk bersandar ke meja.
"Bagaimana? Sudah mulai belum masaknya?" tanya Luka yg baru datang bersama Rin.
"Belum. Luka-tan.. kami sengaja menunggumu.." ujar Kamui berlari hendak memeluk Luka.
Luka pun menangkap tangan Kamui, melakukan salsa kemudian memutar-mutar tubuh Kamui seperti gasing dan dihempaskan ke samping. Kamui pun berputar-putar dan lalu menabrak pohon.
"Ouw!" ucap Kamui saat menabrak pohon dan ambruk dengan mata yg berputar-putar.
"Jadi mau diapakan ini?" tanya Meiko yg sudah memegang pisau dan berjongkok dekat jasad domba itu.
"Terserah Meiko-san saja." jawab Miku.
"Beneran?" tanya Meiko.
Gumi dan Len pun mengangguk tanda setuju.
"Baiklah.." ucap Meiko.
Lalu Meiko melakukan gerakan mencincang dengan kecepatan tinggi.
"Selesai!" ucap Meiko lalu bangkit dan berjalan menuju alat pemanggang.
Miku dan yg lainnya pun melihat ke arah Meiko dan bingung. Kemudian mereka melihat ke arah jasad domba yg tampaj tak ada perubahan itu.
"Meiko-san.." panggil Miku.
"Tunggu saja, kalian akan segera lihat hasilnya." jawab Meiko.
Tiba-tiba dari jasad domba keluar cahaya. Miku dan yg lainnya terkejut dan kagum.
"Apa itu? Apa yg terjadi disana?" ucap Kaito yg penasaran kemudian berjalan mendekat.
Dan setelah cahaya menyilaukan itu hilang, jasad domba itu tampak sudah terpotong menjadi bagian-bagian daging yg rapi.
"Bagaimana bisa?!" teriak Kaito dalam hati terkejut melihatnya.
"Waahh.." ucap Miku dan yg lainnya tampak kagum.
"Meiko-san kakkoi!!!" puji Miku dan yg lainnya.
Meiko tampak senang dan bangga akan dirinya saat mendengar pujian itu.
"Nah kalian, bawa daging-daging itu kemari." suruh Meiko.
"Baik.." sahut Miku, Gumi dan Len.
"Kaito." panggil Meiko.
Kaito menoleh ke arah Meiko.
"Sembur." suruh Meiko sambil menunjuk ke arah pemanggang itu.
"Apa maksudnya itu?!" ucap Kaito dengan nada keras.
"Tentu saja aku menyuruhmu menyalakan pemanggang ini dengan apimu." jawab Meiko.
"Hah?! Mentang-mentang aku bisa ngeluarin api biru, kau jadi menyuruhku menyemburnya? Kau kan juga berelemen api, Meiko!" sahut Kaito dengan kesal.
"Apa-apaan kamu ini? Kamu menyuruh seorang gadis manis melakukan hal memalukan seperti itu?" ucap Meiko.
"Hah? Gadis manis? Siapa yg kau maksud itu?" ujar Kaito.
"Mati saja sana!" teriak Meiko sambil memukul wajah Kaito hingga tersungkur ditanah.
"Biar aku nyalakan sendiri saja." ucap Meiko tampak ngambek.
"Ahaha.. hahaha.." Rin tiba-tiba saja tertawa kegelian.
"Mereka memang konyol sekali ya?" ucap Luka.
"Tidak bukan itu, ada sesuatu yg bergerak-gerak di saku rok ku." jawab Rin.
Luka sedikit kaget mendengarnya. Kemudian dia merogoh saku rok Rin. Dan mendapati ada seekor ikan segar disitu. Begitu pula di saku rok Rin yg satu lagi. Sehingga sekarang ada 2 ikan.
"Kenapa bisa ada ikan disakumu, Rin-chan?" tanya Luka.
"Oh.. mungkin kakak tadi yg memasukannya. Tapi sejak kapan dia memasukannya, kok aku tidak sadar ya." jawab Rin.
"Ray-kun yg memberikannya?!" ucap Luka terkejut mengetahuinya.
"Aku akan minta Meiko memanggangnya!" ucap Rin terlihat senang.
"Rin-chan ganti dulu rokmu. Tadi nampaknya basah oleh ikan." suruh Luka.
"Ah iya juga sih." ucap Rin.
Kemudian setelah Rin mengganti roknya, mereka pun mulai pesta barbeque nya.
"Bukankah mestinya pake daging sapi ya kalau barbeque." ucap Kaito.
"Ya sekali-kali berbeda tak ada salahnya kan." jawab Luka.
"Lihat Kaito-dono, sate terong dan daging domba." ucap Kamui memperlihatkan makanannya.
"Apaan tuh?! Gakupo, kalau nyate tuh dipotong-potong dulu lah terongnya!" bentak Kaito terkejut melihat terongnya langsung ditusuk tanpa dipotong.
"Kalau aku sate pisang." ujar Len.
"Mana enak lah disatuin ama daging!" ujar Kaito.
"Kalau aku sate daun bawang." tambah Miku memperlihatkan daun bawang satu batang langsung ditusuk bersama daging kambing.
"Aaaa.. ada apa dengan dunia ini!!! I need more ice cream!!!!" teriak Kaito berdiri dan menatap ke langit.
Terlihat Rin dengan lahap menyantap ikan bakarnya. Luka melihat ke arah Rin. Dia pun merasa semakin bingung akan Ray.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.