VocaWorld, chapter 59 - Angin Berhembus Semakin Kencang
Ray berjalan dengan santai masuk ke dalam pondok persembunyian Miku dan Luka.
"Menaruh 2 knight di depan untuk menghadang salah seorang dari kami. Kemudian menggunakan 2 bishop untuk pertahanan kedua. Dan queen yg punya area serangan terluas bertugas menjaga target. Sebenarnya itu rencana yg bagus, namun jika melawanku itu takkan berguna. Kamu menyuruh 2 knight yg punya keahlian pertarungan jarak dekat sebagai cara menghentikan pergerakan kami, atau paling tidak salah satu dari kami. Lalu jika memang salah satu dari kami yg lolos itu artinya adalah yg punya keahlian pertarungan jarak dekat melebihi 2 knight itu atau punya keahlian pertarungan jarak jauh yg pintar. Karena itu ditunjuk lah 2 bishop yg punya keahlian pertarungan jarak jauh sekaligus jarak dekat seperti Meiko dan Kaito. Dengan teknik serangan mereka, kalian pasti berpikir bisa menjebak salah satu dari kami itu dan mengelahkannya. Atau setidaknya memberi kalian waktu untuk melarikan diri lewat belakang. Atau jika salah satu dari kami itu berinisiatif menyerang dari belakang, hasilnya pun akan sama. Tapi bagaimana jadinya kalau kami dari awal memang menyerang dari 2 arah? Dan kami menggunakan orang yg handal pertarungan jarak dekat maupun jarak jauh dan salah seorang dari kami itu cukup pintar? Dan hasilnya bisa kamu lihat sendiri, my queen." ujar Ray sambil berjalan santai dari pintu belakang.
Luka seperti mengenal suara itu. Dia pun menoleh ke arah belakang dan terkejut melihat Ray.
"Checkmate!" ucap Ray sambil tersenyum.
"Luka-oneesama! Miku-chan!" teriak Gumi.
Namun di dalam pondok, Luka tampak tegang sehingga tak mendengar teriakan Gumi itu. Luka pun berniat memakai earophoid nya.
"Eits! Tidak boleh.." ucap Ray menangkap tangan Luka dengan tangan kirinya.
Tangan Luka tak bisa digerakan akibat kuatnya cengkeraman tangan kiri Ray. Miku pun bangkit dari duduknya dan menendang ke kepala Ray dengan kaki kanannya. Ray dengan santai menangkap kaki kanan Miku dengan tangan kanannya dan menginjak kaki kiri Miku dengan kaki kanannya. Miku dan Luka sama-sama tak bisa melawan saat itu.
"Kalian sudah kalah. Menyerahlah.." ucap Ray.
"Tidak, kami tidak akan menyerah." sahut Luka menatap tajam ke arah Ray.
"Begitu ya. Tapi, aku akan tetap mengambil hadiahku. Aku akan membawa Miku." sambung Ray sambil tersenyum.
Ray memutar Luka dan melemparnya menjauh. Namun Luka yg juga menguasai elegant dance, tidak terjatuh dan bisa kembali berdiri. Sementara Ray bergerak kebelakang dan memukul bagian belakang kepala Miku hingga pingsan. Ray pun menangkap tubuh Miku yg hendak terjatuh.
"Nah, kalau gitu sampai jumpa lagi, Megurine-san." ujar Ray.
"Takkan kubiarkan kamu membawa Miku-chan!" teriak Luka berlari ke arah Ray.
Namun Ray menghilang tepat dihadapan Luka.
"Dia.. menghilang?!.." ucap Luka terkejut dan menghentikan langkahnya.
Sementara di luar pondok, Gumi tak bisa pergi ke pondok menolong Luka. Meiko dan Kaito yg dekat ke pondok pun tak bisa membiarkan Dante lepas dari penjagaannya.
"Apa ini? Ohh.. nampaknya rencananya berhasil.." ujar Dante melihat ada benang arus listrik di tangannya.
"Apa maksudnya itu?" tanya Meiko.
"Kalian akan tahu setelah melihat ke dalam. Sampai jumpa.." ucap Dante lalu mengibaskan gitarnya memutar dan membuat api hitam menyembur melingkar.
Gumi, Kamui, Meiko dan Kaito pun berusaha menahannya. Dan saat api hitam itu menghilang, Dante sudah tidak ada.
"Dia kabur.." ucap Kaito.
"Luka-oneesama!" teriak Gumi berlari ke pondok duluan dan masuk lewat pintu depan.
"Tunggu kami.." ucap Meiko mengikuti Gumi dari belakang.
Dan kemudian di susul oleh Kaito dan Kamui.
"Luka-oneesama?!" ucap Gumi terkejut melihat Luka yg duduk sambil memegang kepalanya.
"Dimana Miku-chan?" tanya Meiko menghampiri Luka.
"Dia dibawa oleh Ray-kun." jawab Luka dengan nada datar.
Wajah Luka tampak bingung dan tatapan matanya seperti sedang sakit kepala.
"Sial, ternyata salah satu dari mereka memang pintar. Bahkan strategi Megurine-san tidak berguna." ucap Meiko sambil meninju telapak tangannya sendiri.
"Apa dia mengatakan kemana dia membawa Miku-dono pergi?" tanya Kamui.
"Jangan bodoh, Gakupo! Mana mungkin musuh mengatakan kemana dia melarikan diri." sahut Kaito.
"Luka-oneesama tidak apa-apa kan?" tanya Gumi menghampiri Luka.
Namun Luka tidak menjawab.
"Luka-oneesama.." ucap Gumi tampak khawatir.
"Kita tidak punya pilihan lain selain mencari mereka ke semua penjuru Voca Town." kata Kaito.
"Ya.." sahut Meiko.
"Kalau begitu, kita lakukan sekarang. Kemungkinan mereka belum jauh." ujar Kamui.
Meiko, Kaito, dan Gumi pun mengangguk tanda setuju.
"Ayo, Luka-oneesama.." ajak Gumi menarik tangan Luka untuk berdiri.
"Baiklah.." jawab Luka.
Mereka pun berpencar membagi menjadi 3 tim. Kaito dan Meiko ke arah timur laut, Kamui ke timur, Gumi ke selatan. Dan Luka ke barat. Setelah mencari sampai sore, mereka pun kembali berkumpul di depan kediaman Megurine.
"Bagimana, apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Meiko.
"Tidak." jawab Gumi.
Kamui pun menggelengkan kepalanya. Sementara Luka hanya diam saja.
"Baiklah kita lanjutkan besok saja. Kita masih belum mencari ke seluruh bagian Voca Town, karena waktu kita terbatas." ujar Kaito.
Meiko, Kamui, dan Gumi pun mengangguk. Sementara Luka hanya diam dan memegang kepalanya.
"Luka-oneesama.." ucap Gumi.
Kemudian mereka semua pun pulang.
"Megurine-san pasti sangat tertekan. Padahal Miku-chan berada di dekatnya saat itu. Tapi dia tak bisa melindunginya sama sekali." ujar Meiko dalam hatinya sambil berjalan.
Tanpa terasa 3 hari telah berlalu, mereka masih belum menemukan juga keberadaan Miku. Ray dan Dante pun masih belum menampakan dirinya lagi. Akhirnya mereka pun mengadakan rapat di kediaman Gakupo. Meiko, Luka, dan Gumi dipanggil dan berkumpul di dojo nya Kamui.
"Nampaknya pencarian kita masih belum membuahkan hasil." ujar Kaito.
"Kira-kira dimana ya keberadaan mereka? Bagaimana caranya mereka menghilang secepat itu?" sahut Gumi.
"Aku khawatir pada Miku-chan." ucap Meiko.
"Ya kami juga, Meiko. Kita tidak tahu keadaan Hatsune sekarang." sahut Kaito.
"Bukan begitu. Maksudku itu apa Miku-chan dikasih makan? Miku-chan itu makannya kan banyak." tambah Meiko.
"Haha.. ternyata itu ya yg kau khawatirkan, Meiko.. haha.." ujar Kaito sambil tertawa aneh melirik Meiko.
"Semuanya.. maafkan aku.." kata Luka tiba-tiba.
Kaito, Meiko, Kamui dan Gumi pun langsung melihat ke arah Luka.
"Maafkan aku.. gara-gara aku, Miku-chan.." sambung Luka sambil menundukkan kepalanya.
"Ini semua bukan salahmu kok. Megurine-san kan sudah berusaha melindungi Miku-chan. Bahkan sampai menutar otak membuat sebuah rencana rumit hanya untuk melindungi Miku-chan. Jadi ini bukan salahmu.." potong Meiko.
"Ya lagipula, mereka itu adalah legendaris. Mereka sudah pasti sangat sulit dikalahkan." tambah Kaito.
"Tenang saja. Disini juga ada pahlawan legenda. Aku sang Angin Fajar, dan Gumi sang Angin Senja." ujar Kamui dengan tanpa melirik ke arah Luka sedikitpun.
Luka terkejut mendengar perkataan Kamui. Kamui tampak berbeda saat itu. Tatapan matanya terlihat lebih tenang. Kamui hanya duduk memeluk katananya.
"Ya, kami pasti akan merebut kembali Miku-chan. Kami berjanji padamu untuk membalaskan kekalahanmu, Luka-oneesama." ujar Gumi menggenggam tangan Luka.
"Kalian semua.." ucap Luka.
Luka pun pulang, dan kali ini dia tidak murung lagi. Dia berjalan dengan tenang sambil tersenyum. Saat sampai di kediamannya, Luka langsung masuk ke ruang baca. Dia mengambil buku 'Diary of C'.
"Apa yg kau baca itu?" ucap seseorang dari belakang.
Luka pun terkejut dan lalu menoleh ke arah jendela di belakangnya.
"Hai.." ucap Ray yg duduk santai di jendela yg terbuka itu.
"Mau apa kau kemari!?" bentak Luka.
"Jangan galak seperti itu. Aku kesini bukan untuk bertarung denganmu." jawab Ray turun dari jendela ke ruang baca.
"Lalu mau apa kamu kemari?" tanya Luka lagi.
"Aku hanya ingin melakukan negosiasi." jawab Ray berjalan mengitari meja baca.
"Negosiasi? Tentang apa?" tanya Luka lagi yg sekarang membelakangi meja baca melihat ke arah Ray yg mendekati rak buku.
"Hatsune Miku-san. Sandera ku saat ini." jawab Ray menoleh ke arah Luka.
Ray melihat ada buku aneh di rak paling bawah yg judulnya terdapat abjad A sampai G berurutan. Hanya C yg hilang.
"Kamu punya buku yg menarik.." ucap Ray berusaha meraih buku itu.
Namun tiba-tiba Luka menghentikan tangan Ray. Luka mencengkeram tangan itu cukup kuat.
"Jangan sentuh buku itu!" ucap Luka menatap tajam ke arah Ray.
"Baiklah." sahut Ray yg kemudian menjauhkan tangannya lagi dari buku itu.
Luka pun melepaskannya.
"Jadi negosiasinya?" tanya Luka.
"Mudah saja.. kamu pilih 2 orang untuk bertarung dengan kami. Siapapun yg menang akan mendapatkan Hatsune Miku-san. Tapi jika kamu melanggar hal itu, kamu takkan pernah menemukan kami lagi. Aku juga akan berhenti menemuimu." jawab Ray.
"Baiklah, aku mengerti. Aku terima negosiasimi itu." balas Luka.
"Baguslah kalau begitu." sahut Ray.
Kemudian Ray berjalan ke arah jendela.
"Waktunya adalah 2 hari dari sekarang. Kamu bisa menemukan kami dihutan pinus sebelah barat." ujar Ray sambil naik ke bingkai jendela itu.
"Sampai jumpa lagi, my queen.." ujar Ray lalu melompat pergi dari jendela.
Keesokan harinya, Luka mengumpulkan kembali Meiko dan Gumi di dojo di kediaman Gakupo. Lalu Luka menjelaskan apa yg terjadi kemarin.
"Apa?! Kemarin Shiro Ray menemuimu?" ucap Kaito terkejut mendengarkan penjelasan Luka.
"Lalu siapa yg akan kamu tunjuk untuk melawan mereka, Megurine-san?" tanya Meiko.
"Tidak ada pilihan lain, kita pilih yg terbaik diantara kita saat ini." jawab Luka yg kemudian melihat ke arah Gumi dan Kamui yg ada di sebelah kirinya.
"Apa kalian bersedia melakukannya?" tanya Luka pada Gumi dan Kamui.
"Iya, tentu saja, Luka-oneesama." jawab Gumi sambil mengangguk.
"Kami siap kapanpun." jawab Kamui tampak tenang duduk bersandari di dekat pintu depan dojo sambil memeluk katananya.
Setelah rapat itu, Gumi dan Kamui pun berlatih untuk bersiap-siap menghadapi pertarungan. Kamui tampak bermeditasi di dalam dojo dengan Enka di pangkuannya. Gumi pun tampak melakukan pemanasan di depan dojo.
Kamui membuka matanya, memegang katananya dan mulai berdiri. Gumi mengambil posisi start jongkok. Kamui melakukan latihan mengayunkan pedang berkali-kali. Gumi berlari dengan kecepatan teratur menuju ke arah perbukitan. Kamui mulai melatih teknik berpedangnya.
"Iai technique: Batto jutsu!" ucap Kamui mencabut pedangnya dengan cepat, melakukan tebasan kilat lalu menyarungkan pedangnya lagi dengan cepat. Dia terus mengulanginya berkali-kali dan melakukan variasi pada tebasannya. Gumi juga sekarang sedang berlari menanjak dijalanan yg ada di perbukitan.
"Iai technique: Hiten Mitsurugi!" teriak Kamui kembali melakukan tebasan cepat.
Gumi pun sedang melakukan sit up dipagar jalanan puncak bukit.
"Kami takkan kalah!" ucap Kamui sambil menyarungkan pedangnya dengan pelan dan Gumi berlari menuruni bukit secara bersamaan.
Ke esokan harinya, terlihat Gumi dan Kamui sudah berada di hutan pinus tempat mereka akan bertarung dengan Ray dan Dante. Mereka sudah dalam keadaan berubah saat itu.
"Wah-wah.. kalian semangat sekali datang lebih awal.." ujar Dante berjalan mendekati mereka.
"Mana Miku-dono?" tanya Kamui sambil menatap tajam ke arah Dante.
"Dia disini." jawab Ray berdiri di dekat sebuah pasak kayu.
Terlihat Miku terikat di pasak kayu itu.
"Miku-chan!" panggil Gumi hendak berlari ke arah Miku.
Namun Kamui menghalanginya dengan tangannya.
"Are you ready?" tanya Dante.
Kamui dan Gumi pun bersiap.
"Let's rock!" teriak Dante berubah dan berlari ke arah Gumi.
Kamui berusaha menghalangi Dante dan menebas Dante. Namun Ray muncul dan menghentikan tangan Kamui.
"Lawanmu adalah aku." ujar Ray yg tampak sudah berubah.
Dante pun melewati Ray dan Kamui dan mengarah ke Gumi.
"Dance: Brutal!", "Dance: Happy Rabbit!" ucap Dante dan Gumi bersamaan.
Mereka pun beradu serangan lalu menghilang dari tempat itu dengan gerak cepat mereka.
"Sekarang mereka sudah menjauh. Jadi giliran kita memulai pertarungan. Ada baiknya kita agak sedikit menjauh juga dari sini." ujar Ray melepaskan tangan Kamui.
"Ya, ada benarnya juga." sahut Kamui menyarungkan pedangnya lagi.
Namun Kamui mencabut katananya dengan kecepatan tinggi sekaligus melakukan tebasan pada Ray.
"Iai technique: Batto jutsu!" ucap Kamui dengan tenang.
Ternyata yg terkena tebasan hanya bayangan Ray akibat gerakan cepatnya. Ray sendiri sudah berdiri sejauh 3 langkah dari Kamui saat itu.
"Hebat. Saat ini kamu sudah bisa mengenai bayanganku." puji Ray.
"Kalau begitu, masih belum cukup." ucap Kamui menyarungkan kembali katananya.
Kamui pun melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Ray, lalu mencabut pedangnya. Dalam gerak lambat, Ray melihat ke arah Kamui yg sudah hampir mencabut seluruh pedangnya. Namun Kamui lebih cepat daripada reaksi Ray, dan Ray hampir tak sempat melakukan lompatan ke belakang. Kembali ke gerak normal, Kamui berhasil mencabut dan melakukan tebasan. Dan Ray juga berhasil melompat kebelakang. Ray melirik ke arah jaketnya, dan ternyata ada bekas sayatan kecil disana.
"Aku berhasil mengenaimu kan?" ucap Kamui sambil tersenyum lalu menyarungkan katananya lagi.
"Menarik." balas Ray sambil tersenyum.
Di suatu tempat di hutan pinus, Gumi berhadapan dengan Dante dan serang brutalnya. Gumi seperti biasa bergerak sangat cepat. Sementara Dante selalu bisa menahan serangan Gumi dengan gerakan brutal nya. Gumi pun melakukan gerakan sliding ke arah kaki Dante. Dante melompat menghindar. Lalu Gumi pun segera berhenti dan berputar melompat menendang ke pinggang Dante dengan kaki kanannya. Dante menahan tendangan itu dengan menyikut nya dengan tangan kanannya. Gumi menghilang dan muncul di kiri lalu melakukan tendangan ke arah wajah Dante dengan kaki kirinya. Dante merespon dengan menggerakan lengan kirinya dan menahan tendangan itu. Namun Gumi langsung menghilang dan muncul diatas Dante. Dalam gerak lambat, Dante bereaksi dengan membungkukkan tubuhnya, menaikan kaki kanannya ke belakang melakukan tendangan kalajengking. Menyadari sikap itu, Gumi merubah arah tendangnya. Dia menggerakan kaki kanannya yg berada di depannya ke bawah lalu ke belakang menahan tendangan Dante. Kembali ke gerak normal, Gumi terlempar kedepan akibat tendangan Dante.
"Wah.. tadi itu hampir saja." ujar Dante kembali berdiri tegak.
"Jangan senang dulu bisa menghindari seranganku yg tadi. Itu hanya pemanasan." balas Gumi sambil tersenyum percaya diri.
"Apa?" ucap Dante.
Gumi berlari ke arah Dante. Dalam gerak lambat, Gumi kemudian menendang ke wajah sebelah kiri Dante. Dante menahan dengan kirinya. Dengan cepat Gumi menendang ke wajah sebelah kanan Dante, dan Dante menahannya dengan tangan kanan. Gumi berputar melakukan tendangan dengan ke arah tangan kanan Dante dengan kaki kanannya sehingga tangan Dante sedikit bergeser ke kiri. Lalu menapakan kaki kanannya, berputar dan menendang bagian wajah kanan Dante dengan kaki kirinya. Kembali ke gerak normal Dante terpental cukup jauh dan berguling-guling ditanah.
"Apa itu tadi?" ucap Dante mencoba kembali berdiri.
"Jika gerakan cepat tidak berpengaruh padamu. Maka akan kugunakan tendangan yg cepat." ujar Gumi.
Ditempat pertarungan Kamui, terlihat jaket Ray sudah banyak bekas sayatan kecil. Kamui berjalan santai ke arah Ray, sementara Ray berdiri dengan santai seperti tak terjadi apa-apa.
"Gunakanlah dance anda itu, The White Light-dono. Jika tidak, anda akan terkena tebasan saya di jurus selanjutnya?" ujar Kamui dengan percaya diri.
"Kalau begitu, lakukan saja." sahut Ray tampak tenang saja.
"Baiklah.." ucap Kamui yg lalu berlari ke arah Ray.
Kamui pun melakukan tebasan-tebasan cepat. Ray tampak bisa menghindarinya. Namun bekas sayatan dijaketnya terlihat semakin lebar. Itu artinya tebasan Kamui semakin hampir mengenai Ray. Gerakan tebasan Kamui semakin cepat, dan Ray semakin kesulitan menghindar. Lalu dalam sekejap Kamui menyarungkan pedangnya. Dan Kamui pun tampak memejamkan matanya.
"Iai technique: Hiten Mitsurugi!" ucap Kamui yg lalu melakukan tebasan dari 8 arah berbeda dengan kecepatan tinggi.
Ray berhasil menghindari salah satunya, namun dia terkena sayatan 7 tebasan lain saat hendak melompat kebelakang. Ternyata Kamui pun melakukan gerakan menusuk. Dada Ray tampak tertusuk walau tidak dalam karena ternyata ditahan oleh tangan kiri yg menangkap katana Kamui. Ray melangkah mundur ke belakang. Tampak dada dan telapak tangan kirinya berdarah, begitu pula bagian tubuh lain walau hanya berupa sayatan kecil.
"Hebat sekali, selain sikapmu ternyata kemampuanmu juga berubah." puji Ray tampak berdiri tegak meski terluka.
"Bagaimana? Apa anda sudah mau menggunakan dance anda, The White Light-dono?" tanya Kamui sambil menyarungkan lagi katananya.
"Tidak, terima kasih." jawab Ray tetap menolak melakukan dance.
"Kalau begitu, ini akhir anda." ucap Kamui yg lalu berlari ke arah Ray.
Di rumah Miku, terlihat Meiko, Kaito dan Luka terlihat gelisah menunggu. Sementara Rin dan Len hanya bermain game.
"Kenapa sih kalian tampak begitu semua? Lagi nungguin apa?" tanya Len.
"Tidak ada apa-apa kok. Kalian lagi main game apa?" jawab Luka dengan tersenyum ramah.
"Game fighting nih. Hahaha.." jawab Len yg tampak senang karena menang terus melawan Rin.
"Aku benci game berkelahi seperti ini. Sekali-kali kita main yg lain dong." gerutu Rin yg kesal kalah terus.
"Kalian tampak akrab sekali.." ucap Luka sambil tertawa kecil.
"Mereka lama sekali.." ucap Kaito yg berdiri bersandari di dinding menatap langit-langit.
"Iya." sahut Meiko dengan kepala tertunduk.
"Percayalah pada mereka, pasti mereka akan kembali kemari.." ujar Luka.
Di hutan pinus, terlihat Gumi dan Kamui masih bertarung dengan Dante dan Ray. Dante mulai kewalahan menghadapi tendangan-tendangan cepat Gumi, walau gerakannya tidak cepat lagi. Dante pun terpental terkena tendangan Gumi yg mendarat di perutnya.
"Tadi itu sakit sekali. Hampir saja sarapanku keluar lagi. Nampaknya aku harus sedikit serius." ucap Dante yg di selimuti cahaya merah yg lebih terang dari sebelumnya.
"Ya, aku juga." balas Gumi memakai goggle nya.
Mereka pun kembali melakukan serangan bersamaan dan saling berbenturan. Efek serangan itu sampai terasa ke tempat Kamui dan Ray.
"Nampaknya.. yg disana juga.. sudah mulai serius.. ya.." ujar Ray sambil menghindari tebasan-tebasan Kamui.
"Ada apa ini, gerakan nya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Ini seperti saat aku menghadapinya di tepi sungai." gumam Kamui dalam hati.
Ray menghindari tebasan Kamui dengan gerakan-gerakan sederhana seperti memiringkan tubuh, menunduk, mendongah, dan berputar namun dengan sangat cepat. Tebasan Kamui kembali hanya mengenai bayangan Ray saja.
"Rupanya, yg tadi itu.. anda hanya sedang bermain-main dengan saya.." ujar Kamui terlihat berkeringat.
"Mungkin iya.. mungkin tidak.." jawab Ray dengan plin-plan.
"Cih!" ucap Kamui tampak kesal.
"Dance: Samurai Warrior!" kata Kamui dan cahaya keunguan pun menyelimuti tubuhnya.
"Selama ini dia hanya menghindar dengan melompat kebelakang saja. Kenapa aku baru menyadarinya?" pekik Kamui dalam hati.
"Haaa...!!! Kurang ajar!!!" teriak Kamui karena marah.
Kamui pun melakukan tebasan brutal tak menentu. Ray mampu menghindar, namun Kamui mulai melakukan tendangan dengan kakinya. Tendangan itu mengarah ke ulu hati Ray, dan Ray menahannya dengan tangan. Kamui kemudian melakukan tebasan diagonal ke arah kiri bawahnya. Ray memiringkan tubuhnya ke arah kirinya menghindari tebasan Kamui yg mengarah ke kanannya. Kamui langsung melakukan tebasan horisontal ke arah Ray. Ray menghentakkan kakinya ke depan untuk membuatnya mundur.
"Tebasan tanpa aturan, memang lebih sulit ditebak ya." ucap Ray melihat ke arah bagian dada jaketnya yg tersayat dengan lebar lebih dari satu jengkal.
Ditempat Gumi, Dante mulai memberikan perlawan pada Gumi. Namun Gumi pun tak mau kalah dan mampu mengimbangi Dante. Serangan brutal Dante yg kuat mampu membuat Gumi sedikit terdesak.
"Sial, kakiku sakit sekali. Di menahan tendanganku dengan menyerang kakiku." pekik Gumi dalam hati.
Gumi pun melesat lagi ke arah Dante. Dante melakukan pukulan ke arah Gumi, dan Gumi pun melakukan tendangan dengan kaki kirinya. Kedua serangan itu tampak seimbang.
"Apa ini?!" ucap Dante yg merasakan ada yg menendang dagunya.
Terlihat ada seperti 2 Gumi disana, yg satu menahan pukulan Dante dengan tendangan kaki kirinya. Yg satu lagi menendang dagu Dante dengan tendang ke atas dengan posisi tubuhnya membelakangi Dante. Gumi pun melakukan tendangan salto dan Dante pun terpental membentur tanah dan terguling-guling beberapa kali. Namun Dante bisa bangkit lagi.
"Apa sekarang? Teknik apa itu?" ujar Dante bertanya-tanya.
Di tempat Kamui.
"Heeaaaa..!!!" teriak Kamui kembali menyerang Ray.
Kamui menendang Ray dengan lutut kaki kanannya. Ray menahan dengan tangan kirinya. Kemudian Kamui menebas ke kiri bawahnya, Ray pun memiringkan tubuhnya ke kanan Kamui. Kamui kemudian berputar ke kiri dan menendang dengan kaki kirinya. Ray menahan dengan kedua tangannya yg di letakan disebelah kirinya. Kamui pun langsung menebas ke kiri atasnya setelah kaki kirinya menapak kembali ketanah. Ray memiringkan tubuhnya ke kanannya. Kamui menendang Ray dengan lutut kaki kirinya, membuat Ray bergerak ke kanan Kamui saat menahan tendangannya. Lalu Kamui melakukan tebasan ke kiri bawah. Ray melompat ke belakang untuk menghindar, namun pipi bagian kirinya kena sehingga terlihat sedikit berdarah.
Heaa!!!" teriak Kamui sambil melangkahkan kaki kirinya ke depan dan melakukan tebasan sekuat tenaga ke kanan atas hingga berbalik ke belakang menciptakan efek hempasan angin yg kuat mengangkat dedaunan mati yg ada ditanah beserta tanahnya yg terlihat terbelah. Terlihat darah menciprat ke udara, tubuh Ray terkena tebasan telak dan terpental ke belakang menghantam pohon dan tampak pohon itu terbelah dua akibat efek tebasan Kamui.
"Amarah Naga Angin Perkasa!" ucap Kamui dengan lantang.
Sementara di tempat Gumi. Gumi melesat dengan cepat ke arah Dante. Dia berlari zigzag dengan cepat sehingga tampak seperti menghilang dari kiri ke kanan dan seterusnya.
"Sial, mataku tak bisa mengimbanginya." ucap Dante dalam hati.
Gumi muncul di sebelah kanan Dante dan menendang kakinya, sementara satu lagi Gumi muncul dari sebelah kiri Dante san menendang kepalanya.
"Ada 2 lagi?! Tidak, yg di sebelah kananku tinggal bayangannya saja. Yg asli ada di sebelah kiriku." ujar Dante dalam hati saat merasakan tendangan di pipi kirinya.
Dalam gerak lambat, Gumi muncul dibawah tubuhnya yg melayang di udara yg lalu menendangnya ke atas. Kembali ke gerak normal terlihat banyak sekali Gumi yg seperti menyerangnya dari segala arah. Namun itu hanya gerakan yg sangat cepat yg menciptakan banyak bayangan. Dante menerima puluhan serangan dan tetap melayang diudara karenanya. Semua bayangan itu pun menghilang, Gumi tampak muncul diatasnya bersalto di udara. Kemudian Gumi menginjak Dante dan menghentakkannya ke tanah. Mungkin itu lebih seperti tendangan dengan 2 kaki ke arah bawah daripada menginjak.
"Usagi Drop Kick!" ucap Gumi saat itu hingga tanah dibawah dan disekitarnya tampak retak dan terangkat ke atas.
Kemudian Gumi pun melompat menjauh.
Ray maupun Dante saat ini tubuhnya tertutup asap debu. Tidak ada yg tahu apa mereka masih hidup atau tidak.
"Berhasilkah?" ucap Gumi.
"The White Light-dono." ucap Kamui.
Gumi dan Kamui, keduanya tampak kelelahan. Mereka melakukan teknik baru mereka, sehingga tenaga mereka banyak terkuras. Asap debu pun mulai menghilang. Ternyata Ray dan Dante sudah tak ada disana lagi. Tubuh mereka lenyap entah kemana.
"Mereka melarikan diri?!" ucap Kamui.
Kamui menyarungkan pedangnya lagi. Gumi pun menghampiri Kamui.
"Oh ya, Miku-dono.." ujar Kamui yg baru ingat Miku masih terikat di pasak.
Kemudian Kamui pun memotong tali yg mengikat Miku dan membebaskan Miku.
"Miku-chan bangun lah.. Miku-chan.." ujar Gumi menggoyangkan tubuh Miku mencoba membangunkannya.
Miku pun perlahan membuka matanya.
"Ah.. Gumi-chan.. ada dimana aku?" ucap Miku saat terbangun dan melihat Gumi dihadapannya.
"Syukurlah.. Miku-chan baik-baik saja.." ucap Gumi memeluk Miku.
Mereka pun pulang.
"Kami pulang.." ucap Gumi.
Luka, Meiko dan Kaito pun langsung melihat ke pintu depan. Dan mereka pun tampak lega dan bahagia melihat Miku.
"Ah.. aku masih ngantuk.." ujar Miku saat itu.
Meiko langsung memeluk Miku.
"Syukurlah kamu selamat. Terima kasih Gumi-chan, Gakupo-san." ucap Meiko langsung menangis.
Luka pun menghampiri Miku.
"Maafkan aku karena tak bisa melindungimu waktu itu ya.." ucap Luka.
"Ah.. tidak apa-apa kok.. jangan dipikirkan." jawab Miku.
"Kamu tidak diapa-apakan kan oleh mereka?" tanya Meiko.
"Tidak kok. Saat aku terbangun dari pingsan, si Shiro Ray itu malah tersenyum dan mengatakan, 'Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Kamu akan segera bertemu dengan mereka dalam 5 hari. Jadi sampai hari itu, kamu bersama kami dulu.'. Begitu katanya. Namun aku bosan banget, setiap hari makannya ikan bakar terus." jawab Miku sambil manyun pada bagian akhirnya.
Semua yg mendengarnya tampak bingung.
"Eh, apa ada yg salah dengan perkataanku?" ucap Miku sambil memiringkan kepalanya.
Di rumah danau, Ray terlihat sedang memancing. Saat itu tangan dan dadanya di perban akibat pertarungan tadi. Dante pun hanya berbaring di kamarnya.
"Aniki, kenapa kita harus mundur?" tanya Dante dari dalam kamar.
"Tentu saja karena mereka menang kan?" jawab Ray sambil tetap memancing.
"Hah? Bagaimana bisa? Padahal kita belum mengeluarkan kekuatan penuh kita kan?" sahut Dante.
"Mereka belum siap melawan kita dengan kekuatan penuh, Dante." balas Ray.
"Lalu bagaimana untuk rencana selanjutnya?" tanya Dante.
"Hmm.. mungkin biarkan waktu saja yg menentukan." jawab Ray.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.