VocaWorld, chapter 52 - Ksatria Cahaya Berjirah Hitam

Setelah kepergian Ray dan Dante, Kamui pun melompat turun. Miku, Meiko, Kaito, Rin dan Len pun menghampiri Kamui dan Gumi.
"Benar-benar tak bisa dipercaya, ternyata Shiro Ray itu adalah orang jahat. Dia mendekati kita hanya untuk memanfaatkan kita." ujar Miku saat sampai di depan Gumi.
"Aku pun tak mengerti, seorang pahlawan bisa bergabung dengan seorang iblis. Apa yg sebenarnya terjadi?" sahut Gumi.
"Siapa Shiro Ray itu?" tanya Meiko yg tak mengenal Ray.
"Aku belum pernah melihatnya sebelumnya? Kenapa kalian bisa begitu kenal? Gakupo, siapa dia?" tanya Kaito menoleh ke arah Kamui.
"Dia adalah mantan pahlawan legenda di perang nada hitam, ia punya julukan The White Light." jawab Kamui.
"Kakak itu adalah pahlawan?" ucap Rin.
"Eh, Rin-chan pernah bertemu dengannya?" tanya Meiko.
"Ya, dia pernah menolong kami. Tapi, rasanya kami tak percaya dengan yg dikatakannya." jawab Len.
"Kenapa?" tanya Miku.
"Karena, kami merasa begitu nyaman saat ia mengelus kepala kami." jawab Rin dengan sedikit sedih.
"Oh ya, mana Megurine-san?" ucap Meiko sambil menoleh ke kiri dan kanan.
"Lho, bukannya tadi dia juga ikut kemari? Pergi kemana dia?" sahut Kaito.
Kemudian Meiko pun pergi mencari Luka. Dia pergi ke tempat Luka berdiri yaitu di atap sebuah bangunan restoran dekat parkiran itu. Dan ia pun menemukan Luka masih diam disana sambil memegangi kepalanya dan wajah yg tampak tidak percaya.
"Megurine-san, kamu tak apa?" tanya Meiko sambil menghampiri Luka.
Namun Luka tidak menjawab.
"Megurine-san.." panggil Meiko lagi sambil menyentuh bahu Luka.
Luka pun terperanjat kaget saat merasakan sentuhan Meiko.
"O-Oh.. itu kamu rupanya, Meiko-chan.." ujar Luka sambil berdiri.
"Kamu tak apa? Apa kamu sedang sakit?" tanya Meiko dengan khawatir.
"Tidak apa-apa kok. Aku baik-baik saja." jawab Luka sambil tersenyum.
"Oy Meiko! Kau sudah menemukan Megurine nya?" tanya Kaito dari bawah yg melihat Meiko ada di atas atap restoran.
"Ya." sahut Meiko.
"Kita akan ke rumah Gakupo untuk rapat. Katakan itu padanya.." ujar Kaito.
"Sip, oke!" balas Meiko.
Kaito pun kemudian melompat dan menghilang.
"Ayo, Megurine-san.." ajak Meiko pada Luka.
Mereka berdua pun mulai melompat-lompat dari satu gedung ke gedung lain ke arah rumah Kamui. Tidak berapa lama ada orang lewat dekat parkiran itu, kebetulan dia orang yg bekerja di kantor sebelahnya. Dan ia pun terkejut melihat bangunan kantor nya tampak berantakan.
"Apa ini? Terorisme? Ledakan gas? Atau pengrusakan kah? Atau jangan-jangan ada pencurian? Aku harus cepat-cepat menelpon polisi." ujar orang itu.
Kemudian tidak berapa lama polisi yg dipanggilnya datang dan tempat itu pun jadi ramai.

Di kediaman Gakupo, tampak Rin dan Len sedang menonton TV. Dan mereka pun melihat ada berita tentang tempat parkiran dan kantor di sebelahnya.
"Ini tempat yg tadi kan?" tanya Len.
"Ya. Paling-paling juga entar dikira kasus pencurian dan pengrusakan." jawab Rin yg duduk di sebelahnya.
"Oohh.. begitu ya. Mengganggu saja, padahal tadi lagi seru-serunya nonton anime." gerutu Len sambil manyun.
"Daripada anime, aku lebih penasaran apa yg sedang mereka bicarakan disana." ujar Rin sambil melihat ke arah dojo yg terlihat dari jendela besar ruang tengah rumah itu.
Di dalam dojo, ada Miku, Gumi, Luka, Meiko, Kaito dan Kamui terlihat sedang berdiskusi.
"Kenapa kita sampai harus rapat begini? Emang sehebat apa sih mereka?" tanya Miku yg tidak tahu pada Kamui.
Meiko dan Kaito yg juga tidak tahu menahu pun juga melihat ke arah Kamui menanti jawabannya.
"Kalau mesti dijelaskan, maka akan panjang ceritanya. Akan saya jelaskan secara singkat saja. Mereka adalah pahlawan legenda dan bos penjahat. Segitu saja.." jawab Kamui.
"Pahlawan legenda.." ucap Miku.
"..dan bos penjahat.." sambung Meiko.
"Gakupo, coba jelaskan saja lah! Biar semuanya semakin jelas!" pinta Kaito dengan tegas.
"Yg bertarung dan mengamuk melawan Gaku-Gaku itu dulunya itu adalah seorang pemimpin dalam perang nada hitam yg terjadi beberapa tahun yg lalu. Dia punya julukan sebagai pangeran kegelapan dan bernama Lucifer. Namun saat ini dia bersekolah di akademi Voca dan mengaku bernama Yami Dante." jelas Gumi.
"Jadi dia bos penjahatnya? Lalu yg satunya lagi yg katanya pahlawan legenda itu?" tanya Kaito lagi.
"Dia itu..", "Biar aku saja.." potong Luka pada perkataan Kamui.
"Pahlawan legenda, The White Light. Kira-kira begitulah julukannya. Dia sangat terkenal karena kehebatannya yg mampu membuat 10.000 pasukan pangeran kegelapan kocar-kacir saat berhadapan dengannya. Namun saat ini, dia menggunakan nama Shiro Ray yg punya arti sama dengan julukannya. Miku-chan dan Gumi-chan pasti mengenal dia karena mereka sekelas dengannya. Sekelas dengan orang yg sombong yg telah menipuku." ujar Luka yg terlihat sedikit kesal di akhir penjelasannya.
"Megurine-san.." ucap Meiko yg menyadari Luka sedang merasa sedih.
"Sudah kuduga, dia memang tampak mencurigakan. Tingkahnya itu memang seperti penjahat!" kata Miku dengan lantang.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Memangnya apa yg ia lakukan padamu, Miku-chan?" tanya Meiko.
"Shiro Ray itu kalau misalkan bertemu dengan Miku, entah dikelas, di lorong ataupun di kantin selalu saja mengganggu Miku. Bukan secara fisik sih, cuma dengan kata-kata doang." jawab Gumi.
"Iya dia itu ngeselin banget. Aku berusaha mukul dan nendang dia berkali-kali karena kesal. Tapi anehnya dia selalu bisa ngeles." tambah Miku.
"Kenapa dia begitu pada Miku-chan?" ujar Luka dalam hati sambil memegang dagunya sedang berpikir.
"Pokoknya saat ini kita harus hati-hati. Kalau hanya menghadapi pangeran kegelapan saja, mungkin saya dan Megu pun bisa. Tapi saat ini kita juga menghadapi seorang pahlawan legenda." sambung Kamui kembali ke permasalahan.
"Dan yg harus kalian waspadai adalah, Shiro Ray. Dia itu sangat cerdas. Dia bisa memanfaatkan kita selama ini, bahkan tanpa kita sadari." tambah Luka.
Mendengar perkataan Luka yg berwibawa, tiba-tiba dimata Kamui, Luka itu tampak mempesona. Wajah kamui sedikit memerah karena terpesona.
"Ada apa ini? Perasaan ini tampak muncul lagi. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihatnya." ujar Kamui dalam hati.
"Jangan bilang yg memberi tahu kita kode untuk membuka power lock earophoid adalah dia juga." ujar Meiko.
"Ya, itu memang dia." jawab Luka.
"Jangan-jangan orang asing yg berjaket hitam itu pun dia juga." ujar Meiko.
"Orang asing berjaket hitam?" ucap Luka.
"Apa kamu masih ingat, Kaito? Saat itu kita sedang bertengkar di dekat hutan saat mengumpulkan rebung bambu." tanya Meiko pada Kaito.
"Oohh.. yg waktu itu." sahut Kaito.
Saat itu, Meiko pergi kehutan karena mendengar rebung bambu di sekitar hutan bambu sudah mulai tumbuh.
"Hari ini aku akan membuat masakan dari rebung, kuharap Miku-chan, Rin-chan, dan Len-chan suka." ujar Meiko tampak ceria memasuki hutan.
Tak lama setelah masuk ke lebatnya hutan dia sampai di hutan bambu. Disana dia pun menemukan rebung yg ukurannya lumayan besar. Lalu Meiko pun berjongkok hendak memotong rebung itu. Namun ternyata ada orang lain juga yg berjongkok di hadapannya. Orang yg tidak asing lagi baginya, yaitu Kaito.
"Apa yg sedang kau lakukan disini?" ucap Kaito pada Meiko dengan dinginnya.
"Tentu saja mau mengumpulkan rebung, kamu tidak lihat?" jawab Meiko dengan kesal.
"Ohh.. kalau begitu selamat mengumpulkan rebung ya. Aku mau ngambil yg ini aja." ujar Kaito sambil memegang rebung yg ada di hadapannya itu.
Tiba-tiba Meiko mengeluarkan sebuah pisau yg ukurannya lumayan besar.
"Sebaiknya kau lepaskan rebung itu, karena kalau tidak, maka lenganmu akan ikut terpotong bersama rebung itu." ucap Meiko dengan suara menyeramkan.
Menyadari itu, Kaito tampak keringatan. Tanpa pemberitahuan Meiko pun langsung membacok rebung itu, untung saja Kaito berhasil menarik tangannya sebelum terkena tebasan pisau Meiko.
"Whoa...!!! Itu tadi berbahaya sekali tahu, Meiko!!!" teriak Kaito yg tampak masih shock.
"Siapa suruh megang yg bukan milikmu." sahut Meiko.
"Tapi itu juga kan bukan milik kau, Meiko!" bentak Kaito sambil berdiri.
"Kenapa? Masalah? Lagipula yg pertama menemukannya kan aku!" jawab Meiko yg juga kemudian berdiri.
"Siapa bilang? Memangnya siapa yg pertama kali sampai kesini?" balas Kaito dengan nada membentak.
"Hei.. bisakah kalian lebih tenang? Kalian bisa menakuti semua hewan dihutan ini dengan teriakan kalian." ujar seseorang berjaket hitam yg baru saja masuk ke hutan bambu itu.
"Siapa kau?" tanya Meiko dan Kaito bersamaan.
"Aku hanya orang lewat." jawab orang itu.
"Kalau begitu jangan ikut campur!" bentak Meiko dan Kaito.
"Tapi kalian berisik sekali. Daripada cuma teriak-teriak gitu, mending kalian ke tempat yg lebih luas disana itu dan bertarung satu lawan satu. Siapa yg menang akan mendapatkan rebung itu." usul orang itu.
"Hah?" ucap Meiko dan Kaito.
"Biar lebih seru kenapa tidak kalian gunakan earophoid kalian itu." tambah orang itu.
"Boleh." terima Meiko.
"Itu ide bagus." sahut Kaito.
Kemudian Meiko dan Kaito pun pergi ke tempat yg lebih luas. Mereka pun memakai earophoid nya.
"System sett. Power lock: switch off! Password:.." ucap Meiko dan Kaito.
"Fire Buster" ucap Meiko.
"Fire Wizard" ucap Kaito.
Dan kemudian terjadi pertarungan sengit di hutan itu. Terlihat api merah dan biru menyambar ke langit beberapa kali karena pertarungan mereka. Setelah itu mereka pun tampak kelelahan.
"Kau hebat seperti biasanya Meiko, sekarang ditambah dengan kekuatan api itu." ujar Kaito.
"Kau juga, sekarang semakin sulit mengalahkanmu rasanya." balas Meiko.
"Tunggu, kemana orang tadi?" tanya Kaito yg baru sadar orang berjaket hitam itu sudah tidak ada.
"Waaa.. rebung nya juga hilang!!" teriak Meiko saat melihat rebung yg diperebutkannya dengan Kaito sudah menghilang.
"Begitu pula yg lainnya. Hanya di sisain yg kecilnya doang." sambung Kaito.
"Lihat ini ada pesan." panggil Meiko dari arah sisa rebung yg diperebutkan oleh mereka.
Kemudian Kaito pun menghampirinya. Dan mereka pun membaca tulisan yg ada di secarik kertas itu.
"Anda belum beruntung. Silahkan coba lagi tahun depan.." begitulah isi tulisan itu.
"Sialan! Dia menipu kita!!!" teriak Meiko dan Kaito yg merasa kesal.
Begitulah yg di ceritakan oleh Meiko.
"Tapi bukankah saat itu Meiko-san tetap memasak rebung. Rebung darimana itu?" tanya Miku.
"Sebenarnya saat sampai rumah, ternyata ada rebung dan secarik kertas bertuliskan, 'Just kidding'. Rebung itu tinggal setengah, nampaknya sudah dibelah jadi 2 bagian." jelas Meiko.
"Ya, aku juga dapat kertas itu dan rebung yg setengah itu." sambung Kaito.
"Hah? Apa maksudnya itu? Kupikir dia benar-benar memanfaatkan kalian.." ujar Miku terlihat bingung.
"Ya, tapi tetap saja cara yg digunakannya mengesalkan. Ditambah dia tetap mendapatkan bagian terbesar karena dia juga mengumpulkan rebung lainnya. Sementara kami hanya mendapatkan rebung yg kami perebutkan doang." gerutu Meiko.
Mendengar penjelasan Meiko, Luka kembali memikirkan sesuatu. Dia terdiam sambil memegang dagunya.

Setelah melakukan rapat itu, Miku, Meiko, Rin dan juga Len pulang ke rumah mereka. Mereka pun sampai di rumah, dan seperti biasa Meiko langsung pergi ke dapur menyiapkan makan malam. Sementara Miku, Rin dan Len ada di ruang tengah nonton TV.
"Miku-nee, bolehkah kami bertanya?" ujar Len.
"Ya, mau nanya apa emangnya?" sahut Miku.
"Apa yg Miku-nee dan yg lainnya omongin di sana tadi?" tanya Len.
"Iya-iya.. tadi tuh kalian sedang membicarakan apa?" sambung Rin.
"Hmm.. kalian tidak perlu tahu, ini masalah orang dewasa." jawab Miku.
"Bukannya yg paling kekanak-kanakan disini tuh Miku-neechan ya?" ujar Rin.
"Bener tuh." sambung Len.
"Kurang ajar!!! Kalian minta dihajar ya, hah!" bentak Miku yg marah.
"Kabur!" ucap Rin dan Len melarikan diri dari Miku yg ngamuk.
"Miku-chan, Rin-chan, Len-chan, jangan lari-larian disana. Itu berbahaya.. gimana kalau ada barang yg jatuh.." ucap Meiko dari arah dapur.
"Ya.." sahut Rin dan Len yg kemudian berhenti lari.
Di kediamannya Luka, terlihat begitu tenang. Luka duduk di ruang baca sambil membaca buku, artikel, dsb yg berhubungan dengan perang nada hitam.
"Ray-kun pasti punya alasan melakukan ini. Aku harus mencari tahu. Dia tidak mungkin mengkhianatiku. Tidak mungkin.." ujar Luka sambil membaca buku satu persatu.
Lalu seorang maid mengetuk pintu ruang baca dari luar.
"Ya." sahut Luka.
"Air hangat untuk mandinya sudah siap, Luka-sama.
"Ya, terima kasih.." balas Luka sambil menutup bukunya.
"Mungkin aku harus mandi dulu untuk menjernihkan pikiranku." ujar Luka yg lalu keluar dari ruang baca.
Selesai mandi Luka langsung kembali ke ruang baca. Dia tampak sudah mengenakan piyama karena berencana langsung tidur setelah baca.
"Aku masih belum menemukan apapun yg berhubungan dengan Ray-kun. Entah kenapa, pergerakan The White Light hampir tidak pernah dibahas setelah pertempuran di bumi tengah." ujar Luka yg kemudian mencari buku lainnya.
"Pergerakan sebelum pertempuran itu pun tidak pernah diceritakan. Kenapa pahlawan yg sangat terkenal begitu misterius?" gerutu Luka sambil melihat dan memilih buku di rak buku itu.
"Ksatria Cahaya Berjirah Hitam?" ucap Luka melihat buku besar dengan jilid terbuat dari kulit.
Kemudian Luka pun menariknya. Namun ternyata buku itu macet dan hanya bagian atasnya yg dapat tertarik. Saat dia menarik bagian atas buku itu, ternyata rak buku itu naik ke atas. Ternyata ada satu bagian tersembunyi di bawah rak buku itu. Luka pun mengambil satu buku dari buku yg berjajar di bagian tersembunyi itu.
"Ini?!" ucap Luka tampak terkejut.
Ke esokan harinya, terlihat Miku pergi keluar sendirian. Dia berjalan dengan ceria, sambil berdendang sedikit.
"Hari ini ada diskon untuk baju-baju imut. Aku tak boleh ketinggalan." ujar Miku sambil melangkah tampak bahagia.
"Kamu yakin mau pergi sendiri?" ucap seseorang.
Terlihat ada seorang laki-laki berjaket hitam bersender di dinding dan berdiri di hadapan Miku. Laki-laki itu pun membuka tudung jaketnya, dan tampak jelaslah kalau dia itu Ray.
"Sh-Shiro Ray..?!" ucap Miku tampak terkejut.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】