VocaWorld, chapter 183 - Cahaya Senter
Jika damai artinya tidak terjadi apa-apa atau tak ada satupun kejadian, maka saat ini Voca Town adalah kota paling damai di dunia. Tanpa adanya penduduk kota itu menjadi sunyi seperti kota hantu. Dan di tengah kesunyian itu, Dante berjalan di sebuah trotoar. Tatapan mata kosong menemani langkahnya yang tak pasti arah tujuannya itu.
"Mungkin inilah hukumanku. Kehidupan yang hampa dan tak punya tujuan. Karena aku yang memusnahkan segalanya, kini aku sudah tak bisa kembali kesana. Tak ada rumah untukku bernaung ataupun berlindung. Aku tak punya tempat untuk pulang." gumam Dante sembari melangkah pelan dengan kepala yang senantiasa tertunduk kebawah.
Dante terus berjalan hingga akhirnya ia tiba disebuah sungai. Dia memandangi sungai itu dari ujung barat hingga ujung timur yang mampu ia lihat.
"Sepertinya dia tidak memancing hari ini." ujarnya.
Kembali Dante melangkah dan menyeberangi jembatan. Hingga sampai didepan jembatan dia menyadari ada sosok yang tak asing baginya sedang berdiri di ujung jembatan itu.
"Dia?! Sedang apa dia disini?" ucapnya sedikit terkejut.
Seorang gadis berambut hijau pendek tampak sedang berdiri melihat ke arah sungai dari dekat pagar jembatan. Dia menatap langit sore yang kini berwarna jingga.
"Angin Senja. Melihatnya disaat seperti ini membuatku tersadar kalau julukan itu sangatlah cocok untuknya. Dia terlihat begitu indah dibawah sinar matahari senja." pikir Dante yang tampak tersenyum.
Tapi tiba-tiba saja dibelakang Dante ada sosok dengan mata menyorot tajam padanya.
"Kenapa melihat Megu sambil senyum-senyum gitu, sialan!" ucapnya pada Dante.
Dante langsung melompat secara reflek dan menjauh dari sosok menyeramkan tersebut. Dan nampak sebuah tebasan katana telah ia hindari. Ia beruntung segera melompat saat itu.
"Tak kusangka ada samurai yang menyerang dari belakang. Kupikir samurai punya kebanggaan tentang pertarungan jujur dan adil." ujar Dante.
"Maafkan saya karena menyerang dari belakang. Tapi jika itu untuk menolong seseorang yang berharga bagi saya, maka tak masalah bagi saya untuk menanggalkan harga diri dan kebanggaan saya sebagai samurai." jawab sosok itu yang ternyata adalah Kamui.
"Begitukah. Kalau begitu bagaimana kalau kita bertarung sampai mati sekarang?" tantang Dante.
"Saya akan menerima tantangan anda dengan senang hati. Lagipula itu akan memudahkan kami untuk mengembalikan kedamaian kota ini." balas Kamui sambil melempar kantong plastik di lengan kirinya.
Kemudian Kamui menyentuh earophoid nya dengan lengan kirinya itu.
"Gackpoid." ucap Kamui.
****
Luka menuruni bukit hendak pulang setelah dari rumah kakek Taka dan nenek Toko. Dia berjalan sambil memegang dagunya untuk berpikir. Dia masih memikirkan tentang kejadian di kediaman pasangan kakek nenek itu.
Luka mengingat kembali yang kakek dan nenek itu bicarakan ketika mengobrol dengannya digudang.
"Aku kemari sebenarnya mau bertanya pada kalian." ujar Luka yang duduk di kasur ranjang yang berada di gudang itu.
"Bertanya apa?" tanya kakek Taka yang duduk disebelah kanan Luka.
"Pasti tentang Shiro-kun kan?" tukas nenek Toko yang duduk disebelah kiri Luka.
"Bukan! Memang tentang dia sih, tapi.. itu sama sekali tidak berkaitan dengan hal romatis!" bantah Luka.
"Ya kami tidak menyinggung hal itu sama sekali kok, tapi kenapa neng Luka tiba-tiba panik gitu? Hehehe.." goda nenek Toko.
"Aku tidak panik! Dan jangan terus alihkan topiknya! Tolong.." pinta Luka.
"Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi dengannya." lanjut Luka menurunkan pandangannya dan tampak muram.
Kakek Taka dan nenek Toko tersenyum melihat Luka yang begitu khawatir pada Shiro Ray.
"Shiro Ray. Dari nama nya saja kau sudah tahu darimana julukannya berasal. Dia memikul beban berat, begitu berat untuk usianya saat ini. Atau mungkin terlalu berat. Dia sudah memaksakan dirinya hingga saat ini." ujar kakek Taka.
"Saat dia datang kemari pun, sorot matanya sangat dingin. Lebih dingin daripada yang biasanya. Dia seperti sudah jatuh kedalam kegelapan." tambah nenek Toko.
"Dia memancarkan cahaya ke orang lain sementara dia sendiri tenggelam dalam kegelapan." sambung kakek Taka.
"Mirip seperti senter, kan" lanjut nenek Toko.
"Senter?!" ucap Luka yang kemudian terbayang bentuk senter.
Luka membayangkan senter yang memancarkan cahayanya. Dan cahaya itu menerangi Luka, Miku dan yang lainnya. Menerangi semuanya kecuali si pembawa senter tersebut yang tak nampak karena berada didalam gelap.
"Dia menerangi kami tapi dia sendiri ada dalam kegelapan?!" sambung Luka dalam hatinya.
"Dari dulu dia sudah seperti itu. Sepertinya dia meniru mentornya yang ia kagumi." ujar nenek Toko.
"Mentor?" ucap Luka tampak bingung.
"Ya, mentornya. Neng Luka lihat kan foto yang terpajang dibelakang kita?" balas nenek Toko sambil menengok kebelakang.
Luka pun ikut menoleh kebelakang dan melihat sebuah foto berukuran besar yang dibingkai dengan rapi. Itu adalah foto seorang perempuan. Usianya sekitar 17 tahun dan memiliki rambut hitam yang indah. Gaya rambutnya mirip dengan Luka namun ada bagian yang diikat kebelakang.
"Itu adalah foto cucu kami. Pahlawan dari Voca Town. Lonewolf Siren." jelas kakek Taka tanpa menoleh ke foto tersebut.
"Lonewolf?" ucap Luka yang tak mengetahui apa-apa tentang itu.
"Kau tidak mengetahuinya? Ah benar juga, ini pasti kerjaannya." ujar kakek Taka.
"Kerjaannya?" ucap Luka lagi yang semakin heran apa maksudnya.
"Sudahlah tak perlu dipikirkan. Untuk saat ini, kami akan menjelaskannya. Apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa alasan dia datang ke kota ini lagi." ujar kakek Taka.
"Kau serius akan menjelaskannya? Bagaimana kalau Shiro-kun marah?" tanya nenek Toko.
"Aku tak apa. Lagipula aku hanyalah kakek tua yang bodoh dan pikun. Dia akan memaklumi kalau aku lupa dan keceplosan menjelaskannya pada seseorang yang dekat dengannya." jawab kakek Taka.
"Lagipula, neng Luka adalah istimewa. Aku yakin dialah yang akan menjadi cahaya bagi Shiro-kun." sambung kakek Taka.
****
Dante dan Kamui telah siap bertarung. Mereka sudah sama-sama dalam keadaan berubah. Kini mereka saling berdiri berhadap-hadapan dan sorot mata penuh keyakinan akan kemenangan.
"Apa anda tidak akan menggunakan instrument anda?" tanya Kamui yang telah siap mencabut pedangnya.
"Itu tidak diperlukan, samurai. Aku bisa mengalahkanmu tanpa instrument saat ini. Dengan pelepasan kekuatan 99%, aku bahkan bisa menghancurkan sebuah gedung hanya dengan memukulnya tidak dengan serius." jelas Dante.
"Begitukah. Jadi anda akan meremehkan saya. Tak apa. Saya hanya perlu membuat anda terdesak hingga anda mau mengakui saya." ujar Kamui.
"Oh itu menarik. Tunjukan padaku kekuatan penuhmu, samurai." tantang Dante.
Kamui langsung menyerang Dante tanpa ragu. Dia berlari dan kemudian mencabut pedangnya menebas Dante dengan kecepatan tinggi. Dante tersenyum dan dengan santai menepis tebasan Kamui dengan tangan kanannya. Pedang itu pun hanya lewat diatas kepala Dante.
Kamui kaget dengan apa yang barusan terjadi. Dan dalam persekian detik Dante melancarkan serangan balasan berupa tendangan ke arah rusuk kanan Kamui dengan kaki kirinya.
Kamui memutar pedangnya dan menghadang tendangan Dante dengan pedangnya. Melihat reaksi Kamui, Dante kembali tersenyum dan melompat dengan kaki kanannya ke belakang Kamui. Karena lompatan itu kini tendangan Dante mendarat di punggung Kamui. Dan Kamui pun terpental ke depan cukup jauh.
"Sial, aku lupa ada dia disana?!" ucap Dante baru tersadar kesalahan yang telah dilakukannya.
Tubuh Kamui melesat ke arah gadis berambut hijau yang masih belum menyadari kehadiran mereka.
"Tak ada pilihan lain." ucap Dante kemudian mengaktifkan Dance Acceleration nya.
Dante melompat ke kanan kemudian melompat ke depan dengan kecepatan tinggi. Dan melesat mengejar tubuh Kamui. Kamui menyadari Dante mengarah kepadanya kemudian Kamui pun mencoba menebaskan pedangnya pada Dante.
"Cih, mengganggu saja!" pekik Dante.
Dante menangkap tebasan pedang itu dengan tangannya. Lalu ia juga menjambak baju Kamui dan tubuh mereka berdua pun terdorong ke arah Dante melompat. Sesaat ketika mendengar suara Dante, Gumi pun menoleh ke arah datangnya suara itu. Bersamaan dengan ia menoleh, Dante dan Kamui lewat disampingnya kemudian jatuh ke sungai.
"Yang barusan itu.." ucap Gumi dalam hati terkejut karena sekilas melihat orang yang dikenalnya.
Gumi langsung berbalik lagi ke arah sungai. Kamui tampak sudah muncul lagi ke permukaan air. Ia menyemburkan air dari mulutnya, karena ada sebagian air sungai yang terminum.
"Dimana dia? Jangan bilang dia melarikan diri." ucap Kamui menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Dante.
Namun Dante tidak ada dimanapun walau seharusnya dia sudah muncul lagi ke permukaan air.
"Dia tidak ada? Apa tadi hanya perasaanku saja?" tanya Gumi pada dirinya sendiri.
Gumi pun menatap sungai itu dengan wajah muram.
To be continued..
"Mungkin inilah hukumanku. Kehidupan yang hampa dan tak punya tujuan. Karena aku yang memusnahkan segalanya, kini aku sudah tak bisa kembali kesana. Tak ada rumah untukku bernaung ataupun berlindung. Aku tak punya tempat untuk pulang." gumam Dante sembari melangkah pelan dengan kepala yang senantiasa tertunduk kebawah.
Dante terus berjalan hingga akhirnya ia tiba disebuah sungai. Dia memandangi sungai itu dari ujung barat hingga ujung timur yang mampu ia lihat.
"Sepertinya dia tidak memancing hari ini." ujarnya.
Kembali Dante melangkah dan menyeberangi jembatan. Hingga sampai didepan jembatan dia menyadari ada sosok yang tak asing baginya sedang berdiri di ujung jembatan itu.
"Dia?! Sedang apa dia disini?" ucapnya sedikit terkejut.
Seorang gadis berambut hijau pendek tampak sedang berdiri melihat ke arah sungai dari dekat pagar jembatan. Dia menatap langit sore yang kini berwarna jingga.
"Angin Senja. Melihatnya disaat seperti ini membuatku tersadar kalau julukan itu sangatlah cocok untuknya. Dia terlihat begitu indah dibawah sinar matahari senja." pikir Dante yang tampak tersenyum.
Tapi tiba-tiba saja dibelakang Dante ada sosok dengan mata menyorot tajam padanya.
"Kenapa melihat Megu sambil senyum-senyum gitu, sialan!" ucapnya pada Dante.
Dante langsung melompat secara reflek dan menjauh dari sosok menyeramkan tersebut. Dan nampak sebuah tebasan katana telah ia hindari. Ia beruntung segera melompat saat itu.
"Tak kusangka ada samurai yang menyerang dari belakang. Kupikir samurai punya kebanggaan tentang pertarungan jujur dan adil." ujar Dante.
"Maafkan saya karena menyerang dari belakang. Tapi jika itu untuk menolong seseorang yang berharga bagi saya, maka tak masalah bagi saya untuk menanggalkan harga diri dan kebanggaan saya sebagai samurai." jawab sosok itu yang ternyata adalah Kamui.
"Begitukah. Kalau begitu bagaimana kalau kita bertarung sampai mati sekarang?" tantang Dante.
"Saya akan menerima tantangan anda dengan senang hati. Lagipula itu akan memudahkan kami untuk mengembalikan kedamaian kota ini." balas Kamui sambil melempar kantong plastik di lengan kirinya.
Kemudian Kamui menyentuh earophoid nya dengan lengan kirinya itu.
"Gackpoid." ucap Kamui.
****
Luka menuruni bukit hendak pulang setelah dari rumah kakek Taka dan nenek Toko. Dia berjalan sambil memegang dagunya untuk berpikir. Dia masih memikirkan tentang kejadian di kediaman pasangan kakek nenek itu.
Luka mengingat kembali yang kakek dan nenek itu bicarakan ketika mengobrol dengannya digudang.
"Aku kemari sebenarnya mau bertanya pada kalian." ujar Luka yang duduk di kasur ranjang yang berada di gudang itu.
"Bertanya apa?" tanya kakek Taka yang duduk disebelah kanan Luka.
"Pasti tentang Shiro-kun kan?" tukas nenek Toko yang duduk disebelah kiri Luka.
"Bukan! Memang tentang dia sih, tapi.. itu sama sekali tidak berkaitan dengan hal romatis!" bantah Luka.
"Ya kami tidak menyinggung hal itu sama sekali kok, tapi kenapa neng Luka tiba-tiba panik gitu? Hehehe.." goda nenek Toko.
"Aku tidak panik! Dan jangan terus alihkan topiknya! Tolong.." pinta Luka.
"Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi dengannya." lanjut Luka menurunkan pandangannya dan tampak muram.
Kakek Taka dan nenek Toko tersenyum melihat Luka yang begitu khawatir pada Shiro Ray.
"Shiro Ray. Dari nama nya saja kau sudah tahu darimana julukannya berasal. Dia memikul beban berat, begitu berat untuk usianya saat ini. Atau mungkin terlalu berat. Dia sudah memaksakan dirinya hingga saat ini." ujar kakek Taka.
"Saat dia datang kemari pun, sorot matanya sangat dingin. Lebih dingin daripada yang biasanya. Dia seperti sudah jatuh kedalam kegelapan." tambah nenek Toko.
"Dia memancarkan cahaya ke orang lain sementara dia sendiri tenggelam dalam kegelapan." sambung kakek Taka.
"Mirip seperti senter, kan" lanjut nenek Toko.
"Senter?!" ucap Luka yang kemudian terbayang bentuk senter.
Luka membayangkan senter yang memancarkan cahayanya. Dan cahaya itu menerangi Luka, Miku dan yang lainnya. Menerangi semuanya kecuali si pembawa senter tersebut yang tak nampak karena berada didalam gelap.
"Dia menerangi kami tapi dia sendiri ada dalam kegelapan?!" sambung Luka dalam hatinya.
"Dari dulu dia sudah seperti itu. Sepertinya dia meniru mentornya yang ia kagumi." ujar nenek Toko.
"Mentor?" ucap Luka tampak bingung.
"Ya, mentornya. Neng Luka lihat kan foto yang terpajang dibelakang kita?" balas nenek Toko sambil menengok kebelakang.
Luka pun ikut menoleh kebelakang dan melihat sebuah foto berukuran besar yang dibingkai dengan rapi. Itu adalah foto seorang perempuan. Usianya sekitar 17 tahun dan memiliki rambut hitam yang indah. Gaya rambutnya mirip dengan Luka namun ada bagian yang diikat kebelakang.
"Itu adalah foto cucu kami. Pahlawan dari Voca Town. Lonewolf Siren." jelas kakek Taka tanpa menoleh ke foto tersebut.
"Lonewolf?" ucap Luka yang tak mengetahui apa-apa tentang itu.
"Kau tidak mengetahuinya? Ah benar juga, ini pasti kerjaannya." ujar kakek Taka.
"Kerjaannya?" ucap Luka lagi yang semakin heran apa maksudnya.
"Sudahlah tak perlu dipikirkan. Untuk saat ini, kami akan menjelaskannya. Apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa alasan dia datang ke kota ini lagi." ujar kakek Taka.
"Kau serius akan menjelaskannya? Bagaimana kalau Shiro-kun marah?" tanya nenek Toko.
"Aku tak apa. Lagipula aku hanyalah kakek tua yang bodoh dan pikun. Dia akan memaklumi kalau aku lupa dan keceplosan menjelaskannya pada seseorang yang dekat dengannya." jawab kakek Taka.
"Lagipula, neng Luka adalah istimewa. Aku yakin dialah yang akan menjadi cahaya bagi Shiro-kun." sambung kakek Taka.
****
Dante dan Kamui telah siap bertarung. Mereka sudah sama-sama dalam keadaan berubah. Kini mereka saling berdiri berhadap-hadapan dan sorot mata penuh keyakinan akan kemenangan.
"Apa anda tidak akan menggunakan instrument anda?" tanya Kamui yang telah siap mencabut pedangnya.
"Itu tidak diperlukan, samurai. Aku bisa mengalahkanmu tanpa instrument saat ini. Dengan pelepasan kekuatan 99%, aku bahkan bisa menghancurkan sebuah gedung hanya dengan memukulnya tidak dengan serius." jelas Dante.
"Begitukah. Jadi anda akan meremehkan saya. Tak apa. Saya hanya perlu membuat anda terdesak hingga anda mau mengakui saya." ujar Kamui.
"Oh itu menarik. Tunjukan padaku kekuatan penuhmu, samurai." tantang Dante.
Kamui langsung menyerang Dante tanpa ragu. Dia berlari dan kemudian mencabut pedangnya menebas Dante dengan kecepatan tinggi. Dante tersenyum dan dengan santai menepis tebasan Kamui dengan tangan kanannya. Pedang itu pun hanya lewat diatas kepala Dante.
Kamui kaget dengan apa yang barusan terjadi. Dan dalam persekian detik Dante melancarkan serangan balasan berupa tendangan ke arah rusuk kanan Kamui dengan kaki kirinya.
Kamui memutar pedangnya dan menghadang tendangan Dante dengan pedangnya. Melihat reaksi Kamui, Dante kembali tersenyum dan melompat dengan kaki kanannya ke belakang Kamui. Karena lompatan itu kini tendangan Dante mendarat di punggung Kamui. Dan Kamui pun terpental ke depan cukup jauh.
"Sial, aku lupa ada dia disana?!" ucap Dante baru tersadar kesalahan yang telah dilakukannya.
Tubuh Kamui melesat ke arah gadis berambut hijau yang masih belum menyadari kehadiran mereka.
"Tak ada pilihan lain." ucap Dante kemudian mengaktifkan Dance Acceleration nya.
Dante melompat ke kanan kemudian melompat ke depan dengan kecepatan tinggi. Dan melesat mengejar tubuh Kamui. Kamui menyadari Dante mengarah kepadanya kemudian Kamui pun mencoba menebaskan pedangnya pada Dante.
"Cih, mengganggu saja!" pekik Dante.
Dante menangkap tebasan pedang itu dengan tangannya. Lalu ia juga menjambak baju Kamui dan tubuh mereka berdua pun terdorong ke arah Dante melompat. Sesaat ketika mendengar suara Dante, Gumi pun menoleh ke arah datangnya suara itu. Bersamaan dengan ia menoleh, Dante dan Kamui lewat disampingnya kemudian jatuh ke sungai.
"Yang barusan itu.." ucap Gumi dalam hati terkejut karena sekilas melihat orang yang dikenalnya.
Gumi langsung berbalik lagi ke arah sungai. Kamui tampak sudah muncul lagi ke permukaan air. Ia menyemburkan air dari mulutnya, karena ada sebagian air sungai yang terminum.
"Dimana dia? Jangan bilang dia melarikan diri." ucap Kamui menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Dante.
Namun Dante tidak ada dimanapun walau seharusnya dia sudah muncul lagi ke permukaan air.
"Dia tidak ada? Apa tadi hanya perasaanku saja?" tanya Gumi pada dirinya sendiri.
Gumi pun menatap sungai itu dengan wajah muram.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.