Memo, chapter 73 - Sindy Side 1

Sindy keluar dari ruang OSIS. Wajahnya terlihat sedikit kesal karena mulutnya yang nampak cemberut saat itu. Dia pun menutup pintu ruang OSIS dengan cukup kasar dan kemudian berjalan meninggalkan ruang OSIS dengan langkah cepat.

"Padahal sudah kubilang untuk tidak memanggilku dalam setiap rapat, tapi tetap saja dia melakukannya." gerutu Sindy.

Sindy bergerak menuju ke perpustakaan. Tapi di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Rere yang juga nampak sedang kesal.

"Wah.. Rere rupanya. Ada apa kok kamu kayak yang lagi kesal gitu?" sapa Sindy menunjukkan senyum anggun nya.

"Si-Sindy!? Sejak kapan kau ada disana?" ucap Rere terkejut ketika melihat Sindy.

"Hmm.. baru saja kok. Kalau dari reaksimu, sepertinya kau sedang terganggu akan sesuatu. Ada apa?" tanya Sindy sambil memiringkan kepalanya.

"A-.. aku tidak tidak sedang merasa terganggu apapun kok, beneran." jawab Rere dengan sedikit panik.

"Eeehh.. benarkah? Apa jangan-jangan kamu tadi bertemu dengannya?" goda Sindy.

"De-dengannya?! Dengan siapa maksudmu? Hehehe.." balas Rere sambil mengalihkan pandangannya.

"Oohh.. pura-pura tidak tahu kah. Apa itu sebuah tantangan tak langsung untukku? Boleh saja. Aku akan mengorek semua info darimu." ujar Sindy yang nampak berubah senyumannya menjadi senyum licik.

"Celaka, aku malah menggali kuburanku sendiri! Gimana ini!?" ucap Rere dalam hatinya terlihat tegang.

"Wah.. benar juga, aku baru ingat aku ada tugas penting. Jadi aku harus kembali ke ruang OSIS. Maaf ya Sindy, aku harus pergi! Dah!" ujar Rere berpamitan pada Sindy dan langsung melarikan diri ke ruang OSIS.

"Dia mudah sekali dibaca. Imutnya, Rere." kata Sindy sambil tersenyum manis.

Sindy melanjutkan langkahnya pergi ke ruang ekskul Sastra. Ketika sampai di sana Sindy langsung bersantai di kursi tempat ia biasa duduk kemudian membuka laptopnya.

"Hmm.. hari ini dia update apa ya?" ucapnya yang tampak sedang browsing internet.

Tapi tiba-tiba Sindy tersentak akibat baru menyadari sesuatu.

"Kenapa aku malah kemari!? Aku harusnya pergi ke halaman depan sekolah." kata Sindy yang langsung berdiri karena baru ingat yang ia lupakan.

Sindy pun langsung bergegas ke halaman depan sekolah. Dia berjalan cepat berusaha agar cepat sampai ke tempat tujuannya. Namun saat sampai di halaman depan sekolah, disana tak ada siapapun. Alat-alat untuk memungut sampah pun tampak sudah hilang.

"Mereka sudah pergi duluan ya? Hmm.. kira-kira pergi kemana mereka?" gumam Sindy sambil berpikir.

Sindy lalu pergi mencari junior-junior nya berkeliling sekolah. Lalu ia pun memutuskan untuk pergi ke mesjid. Disana ia bertemu dengan Ikhsan yang sedang menyapu teras depan mesjid.

"Assalamu alaikum, Ikhsan." sapa Sindy.

"Wa'alaikum salam.." sahut Ikhsan sambil menoleh ke arah Sindy.

"Menyapu sendirian saja, yang lain kemana?" tanya Sindy.

"Mereka ku suruh pulang lebih awal karena hari ini sedang tidak ada jadwal." jawab Ikhsan.

Sindy celingak-celinguk melihat ke dalam mesjid. Namun disana benar-benar kosong. Tidak ada siapapun disana kecuali karpet yang tergulung rapi.

"Ada apa? Kelihatannya kau sedang mencari seseorang." tukas Ikhsan secara tiba-tiba.

"Ya. Apa kamu melihat junior-juniorku dari ekskul sastra lewat sini?" tanya Sindy.

"Oh mereka. Tadi kulihat mereka kesana kemari mencarimu. Terutama bocah itu yang bertanya padaku, 'Apa senior melihat calon istriku?' katanya." jawab Ikhsan.

Tapi tak ada reaksi dari Sindy. Dia hanya tersenyum sambil menatap sipit pada Ikhsan. Tatapan yang begitu dingin yang bisa membuat siapapun menggigil saat melihatnya.

"Se-sepertinya dia tahu kalau aku sedang menggodanya. Gimana nih?" gumam Ikhsan sambil tersenyum yang tampak dipaksakan.

"Terus apa kamu memberitahunya dimana keberadaanku?" tanya Sindy pada Ikhsan yang tampak masih sedikit panik.

"Hmm.. tanpa perlu ku jawab pun harusnya kau sudah mengetahuinya kan?" tukas Ikhsan.

"Ya sudah, aku akan melihat ke ruang OSIS kali aja mereka ada disana." balas Sindy yang lalu lanjut ke ruang OSIS.

Sindy berjalan menuju ke ruang OSIS yang tadi ditinggalkannya. Saat diperjalanan Sindy sempat memikirkan sesuatu.

"Benar juga, aku kan tadi keluar dari ruang OSIS sambil menggerutu. Kalau aku masuk lagi secara tiba-tiba ketika mereka sedang rapat kayaknya bakal canggung. Mending tungguin di kantin aja deh." pikirnya yang lalu belok ke arah kantin.

Sindy pun akhirnya menunggu di kantin sambil meminum es buah. Sambil menyedot es buah itu melalui sedotan, Sindy tampak tersenyum menikmati segarnya es buah tersebut.

"Ah sebenarnya kemana mereka? Mencari mereka keliling sekolah akan sangat melelahkan. Menunggu disini pun belum tentu mereka akan kemari." keluh Sindy yang tampak sudah jenuh.

Bersamaan dengan es buahnya yang sudah habis, begitu pula kesabarannya. Sindy langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian membayar es buah itu. Dengan langkah yang lesu, Sindy pergi menuju ke ruang ekskulnya. Disana ia kembali duduk didepan laptopnya. Ia menatap lagi laptopnya. Dia melihat-lihat tulisan yang terpampang di monitor laptopnya yang kini menayangkan sebuah blog.

"Sepertinya semakin lama semakin bagus saja hasilnya. Dia mengalami perkembangan." ujar Sindy sambil tersenyum menatap laptopnya.

Catatan hari ini:
Mencari tanpa sebuah petunjuk itu mustahil bahkan bagi detektif terhebat sekalipun.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】