Memo, chapter 71 - Memungut dan Mencari 7

Arya tampak sedang duduk dan berpikir keras. Saat ini dia dan 3 orang perempuan yang terus mengikutinya sedang berada di kantin yang kebetulan sedang sepi. Shinta dan Alice tampak memperhatikan Arya menunggu keputusan Arya yang masih terdiam meletakan telunjuknya di sebelah kanan kepalanya. Suasana tampak begitu serius.

"Jadi mau pesan apa?" tanya pelayan kantin.

"Setelah kupikirkan baik-baik dan menelaah setiap kemungkinan yang akan terjadi, aku pilih ini!" jawab Arya dengan tegas sambil menunjuk gambar di menu.

Dan gambar yang ditunjuk Arya adalah segelas air putih dengar harga nol rupiah alias gratis.

"Baiklah, akan segera kuantarkan pesanan kalian." sahut pelayan.

"Mikirnya lama banget milihnya cuma air doang." gerutu Shinta.

"Tapi kenapa cuma air putih. Kita baru saja selesai berkeliling sekolah memungut sampah sambil mencari kak Sindy lho. Kenapa tidak pesan es buah atau semacamnya?" tanya Alice.

"Yah.. gimana ya. Aku sedang dalam mode super hemat agar bisa membeli pulsa listrik. Sudah seminggu ini aku tidur dalam gelap. Aku harus menabung uang jajanku." jawab Arya.

"Mmmh.. kamu jujur banget ya. Padahal biasanya laki-laki akan menyembunyikan kemiskinannya dari perempuan lho." ujar Shinta.

"Hah? Menyembunyikannya? Buat apa? Bukankah dalam menjalin hubungan yang dibutuhkan adalah kejujuran. Sikap terbuka lah yang dibutuhkan yang membuat rasa nyaman agar tercipta rasa saling percaya satu sama lain." jelas Arya.

Shinta dan Alice terkejut dengan jawaban Arya itu.

"Karena dengan saling jujur lah kita bisa saling berbagi, kan?" sambung Arya sambil tersenyum.

"Ya, kamu memang benar." sahut Shinta sambil tersenyum dengan wajah memerah.

Alice pun mengangguk dan wajahnya sama merahnya dengan Shinta. Tak jauh dari meja Arya, Shinta dan Alice, terlihat Ani sedang memperhatikan mereka bertiga.

"Dasar laki-laki gombal! Walau dia ada benarnya juga sih. Aku tak tahu dia punya pemikiran seperti itu juga di otak spek rendahnya itu." gerutu Ani dalam hatinya sambil menunjukkan wajah cemberut.

Ia tak menyadari kalau wajahnya juga ikut memerah karena mendengar kata-kata penuh roman dari Arya tadi.

Catatan hari ini:
Berbagi perasaan seperti berbagi makanan dalam toples, kalau tertutup rapat maka bagaimana bisa saling berbagi?

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】