VocaWorld, chapter 182 - Yang Sebenarnya Terjadi Adalah..
Sekarang dihadapan profesor Kei ada dua benda bulat berbungkus kain yang tampak mencurigakan. Dengan sedikit menelan ludahnya, profesor Kei memberanikan diri membuka bungkusan mencurigakan itu. Keringat mengucur deras ketika ia membuka satu persatu simpul yang mengikat bungkusan tersebut.
"I-ini kan?!" ucap profesor Kei ketika bungkusan itu terbuka.
Benda bulat seperti bola kini menunjukkan wujud aslinya. Dan itu adalah benda sebesar kepala. Sebuah perangkat berbentuk helm dengan nama yang tercetak di helm tersebut.
"Synconector 0.0" baca profesor Kei pada tulisan nama di helm tersebut.
"Mindy kah? Dan juga prototype lagi. Darimana dia mendapatkannya?" sambung profesor Kei sambil meletakannya kembali diatas mejanya.
Profesor Kei berjalan menuju ke meja komputernya dan membuka laptopnya kemudian membuka beberapa berkasnya.
"Kalau tidak salah, pemilik Mindy prototype ini adalah kelinci percobaan pertama proyek synconector. Mereka adalah musisi dan komposer terkenal di dunia. Merak abadi Takako. Tapi kalau sampai Shiro Ray mendapatkan benda ini, berarti dia mengambilnya dari pasangan legendaris itu." ujar profesor Kei sambil membaca berkas yang tampil dimonitor laptopnya.
"Tapi aku masih bingung bagaimana dia bisa mengambilnya dari kakek-nenek cerewet itu?" sambung profesor Kei berpikir keras.
"Ah sudahlah! Bagaimana cara dia mendapatkannya bukanlah masalah! Yang penting sekarang aku harus membuat earophoid berbasis sychro system dari ini. Ya memang paling cocok jika menggunakan perangkat prototype Mindy sih. Hahahaha..." tambah profesor Kei.
Profesor itu pun kemudian membuka berkas lain, dan muncul lah tampilan rancangan earophoid di layar monitor laptopnya itu.
"Oke, saatnya bekerja!" ucap profesor Kei dengan semangat.
****
Saat ini Luka dihadapkan dengan situasi yang menyeramkan walau cerita ini sama sekali bukan genre horror. Didepannya tampak ada 2 tubuh tergeletak dilantai. Wajah Luka langsung pucat dan tampak meneteskan keringat dingin cukup banyak.
"I-ini tidak mungkin terjadi!? Siapa yang telah melakukan ini!?" ucap Luka sambil mundur satu langkah.
Merasa suasana semakin mencekam, Luka membuka kontak di ponselnya. Dia mencoba menelpon seseorang melalui ponselnya. Suara nada tombol terdengar begitu keras di gudang yang begitu hening itu.
"Suara apaan tuh sih berisik banget." gerutu seseorang dalam kegelapan.
Luka kaget karena tiba-tiba mendengar suara yang tidak jelas darimana datangnya itu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari asal suara tersebut namun gudang itu terlalu gelap.
"Tiduran disini ternyata nyaman banget ya, kakek." ucap nenek Toko.
"Iya. Lantainya dingin-dingin gimana gitu." sahut kakek Taka.
Luka langsung menoleh ke arah 2 tubuh yang tergeletak dilantai gudang itu. Ia melihat ke tubuh 2 orang tua yang tergeletak disana dan menyipitkan matanya dengan curiga.
"Anoo.. maaf mengganggu. Jadi.. kalian baik-baik saja? Kalian bukan mati atau pingsan?" tanya Luka menatap penuh curiga pada 2 tubuh tua itu.
"Oh suara ini, pasti neng Luka. Apa kabarmu?" sahut kakek Taka menolehkan kepalanya.
"Apa kabar jidatmu keriput! Kupikir kalian jadi korban penyerangan atau semacamnya! Sedang apa kalian tiduran disana!?" bentak Luka.
"Santai saja, neng Luka. Kami hanya sedang menikmati lantai ini setelah lelah membantu Shiro-kun." jawab nenek Toko dengan tenang sambil menolehkan kepalanya juga.
"Eh, Ray-kun ada kemari? Kapan?" tanya Luka sedikit terkejut dengan jawaban nenek Toko.
"Tadi pagi. Dia datang kemari subuh-subuh dan meminta kami meminjamkan Mindy." jelas nenek Toko.
"Ya tapi karena sudah lama sekali kami tidak menggunakannya kami jadi agak lupa dimana kami meletakannya. Jadi kami mencarinya hingga kelelahan dan karena saking lelahnya kami beristirahat sebentar sambil tiduran dilantai. Tapi malah keterusan karena terlalu nyaman." sambung kakek Taka.
"Dasar orang tua kurang kerjaan." gerutu Luka yang tampak kesal.
"Lalu, ada urusan apa neng Luka datang kemari?" tanya kakek Taka.
"Pasti sedang mencari Shiro-kun kan?" tukas nenek Toko.
"Ti-tidak kok, jangan bicara sembarangan! Lagipula sebelum membahas itu, bukankah ada baiknya kalian bangun dulu?" ujar Luka.
"Masalah itu sebenarnya.." sahut nenek Toko.
"Tubuh kami masih lemas akibat kecapean, jadi kami tidak sanggup bangun sendiri." sambung kakek Taka.
"Cih, sudah kuduga. Ya sudah aku akan membantu kalian bangun." ujar Luka kemudian menghampiri 2 tubuh tua yang tergeletak di lantai itu.
Dari pintu masuk, seseorang memperhatikan mereka sambil tersenyum.
"Sepertinya aku tidak dibutuhkan lagi disini." ucap orang itu yang tak lain adalah Shiro Ray.
Kemudian sosok Shiro Ray pergi dan menghilang lagi. Sementara Luka membantu kakek Taka dan nenek Toko untuk duduk diatas ranjang yang ada di gudang bawah tanah itu.
****
Shiro Ray berjalan menyusuri jalan di pinggiran sungai. Sambil menyembunyikan wajahnya menggunakan tudung jaket hitamnya, ia berjalan menundukkan kepalanya. Sorot mata sayu khasnya tampak menatap jalan berlapis aspal yang ia pijak.
"Berlanjut ke tahap berikutnya. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya." pikir Ray sembari berjalan cepat dijalanan sepi itu.
Tapi tak berapa lama ia berpapasan dengan seorang gadis berambut twintail. Walau daripada disebut berpapasan itu lebih bisa disebut saling lewat disampingnya saja. Dan gadis yang baru saja lewat itu adalah Miku. Tapi Ray tampak tak acuh pada Miku yang lewat disampingnya. Dia tetap berjalan tanpa menghiarukan teman sekelasnya itu.
Miku menoleh kebelakang seperti melihat seseorang yang ia kenal. Tapi ketika ia melihat kebelakang, dia malah merasa heran.
"Eh? Kenapa aku menengok kebelakang?" ucapnya seperti orang bingung.
Miku kembali melempar pandangannya ke depan dan kemudian kembali melangkahkan kakinya. Ia masih tak dapat ide kenapa ia menoleh kebelakang saat itu.
"Aku seperti melihat sesuatu, tapi.. aku tidak melihat apapun. Atau lebih seperti.. aku tak ingin melihatnya." gumam Miku.
Miku melihat ke arah kota yang kini dipenuhi keheingan itu. Hanya ada suara angin dan air sungai disampingnya yang mampu ia dengar di kota kosong ini. Setelah ditinggalkan penduduknya kini Voca Town jadi seperti kota hantu.
"Rasanya menyeramkan juga kalau terlalu hening begini. Padahal dulu disini banyak orang lewat dan saling sapa kalau ketemu. Keramahan yang menghangatkan dari para penduduk. Rasanya aku rindu saat itu." ujar Miku dengan senyuman kecil diwajahnya.
Masih teringat jelas dibenak Miku ketika kota itu masih aman dan damai. Dan jauh dilubuk haitnya, ia merindukan masa-masa itu.
"Kapan ini akan berakhir? Adakah yang bisa kulakukan untuk menghentikan segala pertempuran disini? Seandainya ada dia, pasti dia selalu datang dengan berbagai rencana." sambung Miku yang perlahan menurunkan pandangannya ke bawah.
"Lho, sejak kapan aku jadi mengandalkannya? Kenapa aku malah memikirkannya di saat seperti ini? Si-sialan! Jangan bodoh Miku! Dia hanya orang berengsek! Buktinya dia malah menghilang disaat kami sedang membutuhkannya." ujar Miku dalam hatinya.
"Tenang saja, Hatsune Miku! Kaito-senpai pasti akan menyusun rencana yang lebih wow daripada si pemalas itu! Ya memang hanya Kaito-senpai yang cocok menjadi leader yang sesungguhnya." tambah Miku yang semangatnya kembali karena membayangkan kekerenan Kaito.
"Lanjut deh nyari Megurine-senpai nya! Yay!" ucap Miku dengan semangat.
Dan ia pun terus berjalan ke arah barat menyusuri jalan di samping sungai itu.
To be continued..
"I-ini kan?!" ucap profesor Kei ketika bungkusan itu terbuka.
Benda bulat seperti bola kini menunjukkan wujud aslinya. Dan itu adalah benda sebesar kepala. Sebuah perangkat berbentuk helm dengan nama yang tercetak di helm tersebut.
"Synconector 0.0" baca profesor Kei pada tulisan nama di helm tersebut.
"Mindy kah? Dan juga prototype lagi. Darimana dia mendapatkannya?" sambung profesor Kei sambil meletakannya kembali diatas mejanya.
Profesor Kei berjalan menuju ke meja komputernya dan membuka laptopnya kemudian membuka beberapa berkasnya.
"Kalau tidak salah, pemilik Mindy prototype ini adalah kelinci percobaan pertama proyek synconector. Mereka adalah musisi dan komposer terkenal di dunia. Merak abadi Takako. Tapi kalau sampai Shiro Ray mendapatkan benda ini, berarti dia mengambilnya dari pasangan legendaris itu." ujar profesor Kei sambil membaca berkas yang tampil dimonitor laptopnya.
"Tapi aku masih bingung bagaimana dia bisa mengambilnya dari kakek-nenek cerewet itu?" sambung profesor Kei berpikir keras.
"Ah sudahlah! Bagaimana cara dia mendapatkannya bukanlah masalah! Yang penting sekarang aku harus membuat earophoid berbasis sychro system dari ini. Ya memang paling cocok jika menggunakan perangkat prototype Mindy sih. Hahahaha..." tambah profesor Kei.
Profesor itu pun kemudian membuka berkas lain, dan muncul lah tampilan rancangan earophoid di layar monitor laptopnya itu.
"Oke, saatnya bekerja!" ucap profesor Kei dengan semangat.
****
Saat ini Luka dihadapkan dengan situasi yang menyeramkan walau cerita ini sama sekali bukan genre horror. Didepannya tampak ada 2 tubuh tergeletak dilantai. Wajah Luka langsung pucat dan tampak meneteskan keringat dingin cukup banyak.
"I-ini tidak mungkin terjadi!? Siapa yang telah melakukan ini!?" ucap Luka sambil mundur satu langkah.
Merasa suasana semakin mencekam, Luka membuka kontak di ponselnya. Dia mencoba menelpon seseorang melalui ponselnya. Suara nada tombol terdengar begitu keras di gudang yang begitu hening itu.
"Suara apaan tuh sih berisik banget." gerutu seseorang dalam kegelapan.
Luka kaget karena tiba-tiba mendengar suara yang tidak jelas darimana datangnya itu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari asal suara tersebut namun gudang itu terlalu gelap.
"Tiduran disini ternyata nyaman banget ya, kakek." ucap nenek Toko.
"Iya. Lantainya dingin-dingin gimana gitu." sahut kakek Taka.
Luka langsung menoleh ke arah 2 tubuh yang tergeletak dilantai gudang itu. Ia melihat ke tubuh 2 orang tua yang tergeletak disana dan menyipitkan matanya dengan curiga.
"Anoo.. maaf mengganggu. Jadi.. kalian baik-baik saja? Kalian bukan mati atau pingsan?" tanya Luka menatap penuh curiga pada 2 tubuh tua itu.
"Oh suara ini, pasti neng Luka. Apa kabarmu?" sahut kakek Taka menolehkan kepalanya.
"Apa kabar jidatmu keriput! Kupikir kalian jadi korban penyerangan atau semacamnya! Sedang apa kalian tiduran disana!?" bentak Luka.
"Santai saja, neng Luka. Kami hanya sedang menikmati lantai ini setelah lelah membantu Shiro-kun." jawab nenek Toko dengan tenang sambil menolehkan kepalanya juga.
"Eh, Ray-kun ada kemari? Kapan?" tanya Luka sedikit terkejut dengan jawaban nenek Toko.
"Tadi pagi. Dia datang kemari subuh-subuh dan meminta kami meminjamkan Mindy." jelas nenek Toko.
"Ya tapi karena sudah lama sekali kami tidak menggunakannya kami jadi agak lupa dimana kami meletakannya. Jadi kami mencarinya hingga kelelahan dan karena saking lelahnya kami beristirahat sebentar sambil tiduran dilantai. Tapi malah keterusan karena terlalu nyaman." sambung kakek Taka.
"Dasar orang tua kurang kerjaan." gerutu Luka yang tampak kesal.
"Lalu, ada urusan apa neng Luka datang kemari?" tanya kakek Taka.
"Pasti sedang mencari Shiro-kun kan?" tukas nenek Toko.
"Ti-tidak kok, jangan bicara sembarangan! Lagipula sebelum membahas itu, bukankah ada baiknya kalian bangun dulu?" ujar Luka.
"Masalah itu sebenarnya.." sahut nenek Toko.
"Tubuh kami masih lemas akibat kecapean, jadi kami tidak sanggup bangun sendiri." sambung kakek Taka.
"Cih, sudah kuduga. Ya sudah aku akan membantu kalian bangun." ujar Luka kemudian menghampiri 2 tubuh tua yang tergeletak di lantai itu.
Dari pintu masuk, seseorang memperhatikan mereka sambil tersenyum.
"Sepertinya aku tidak dibutuhkan lagi disini." ucap orang itu yang tak lain adalah Shiro Ray.
Kemudian sosok Shiro Ray pergi dan menghilang lagi. Sementara Luka membantu kakek Taka dan nenek Toko untuk duduk diatas ranjang yang ada di gudang bawah tanah itu.
****
Shiro Ray berjalan menyusuri jalan di pinggiran sungai. Sambil menyembunyikan wajahnya menggunakan tudung jaket hitamnya, ia berjalan menundukkan kepalanya. Sorot mata sayu khasnya tampak menatap jalan berlapis aspal yang ia pijak.
"Berlanjut ke tahap berikutnya. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya." pikir Ray sembari berjalan cepat dijalanan sepi itu.
Tapi tak berapa lama ia berpapasan dengan seorang gadis berambut twintail. Walau daripada disebut berpapasan itu lebih bisa disebut saling lewat disampingnya saja. Dan gadis yang baru saja lewat itu adalah Miku. Tapi Ray tampak tak acuh pada Miku yang lewat disampingnya. Dia tetap berjalan tanpa menghiarukan teman sekelasnya itu.
Miku menoleh kebelakang seperti melihat seseorang yang ia kenal. Tapi ketika ia melihat kebelakang, dia malah merasa heran.
"Eh? Kenapa aku menengok kebelakang?" ucapnya seperti orang bingung.
Miku kembali melempar pandangannya ke depan dan kemudian kembali melangkahkan kakinya. Ia masih tak dapat ide kenapa ia menoleh kebelakang saat itu.
"Aku seperti melihat sesuatu, tapi.. aku tidak melihat apapun. Atau lebih seperti.. aku tak ingin melihatnya." gumam Miku.
Miku melihat ke arah kota yang kini dipenuhi keheingan itu. Hanya ada suara angin dan air sungai disampingnya yang mampu ia dengar di kota kosong ini. Setelah ditinggalkan penduduknya kini Voca Town jadi seperti kota hantu.
"Rasanya menyeramkan juga kalau terlalu hening begini. Padahal dulu disini banyak orang lewat dan saling sapa kalau ketemu. Keramahan yang menghangatkan dari para penduduk. Rasanya aku rindu saat itu." ujar Miku dengan senyuman kecil diwajahnya.
Masih teringat jelas dibenak Miku ketika kota itu masih aman dan damai. Dan jauh dilubuk haitnya, ia merindukan masa-masa itu.
"Kapan ini akan berakhir? Adakah yang bisa kulakukan untuk menghentikan segala pertempuran disini? Seandainya ada dia, pasti dia selalu datang dengan berbagai rencana." sambung Miku yang perlahan menurunkan pandangannya ke bawah.
"Lho, sejak kapan aku jadi mengandalkannya? Kenapa aku malah memikirkannya di saat seperti ini? Si-sialan! Jangan bodoh Miku! Dia hanya orang berengsek! Buktinya dia malah menghilang disaat kami sedang membutuhkannya." ujar Miku dalam hatinya.
"Tenang saja, Hatsune Miku! Kaito-senpai pasti akan menyusun rencana yang lebih wow daripada si pemalas itu! Ya memang hanya Kaito-senpai yang cocok menjadi leader yang sesungguhnya." tambah Miku yang semangatnya kembali karena membayangkan kekerenan Kaito.
"Lanjut deh nyari Megurine-senpai nya! Yay!" ucap Miku dengan semangat.
Dan ia pun terus berjalan ke arah barat menyusuri jalan di samping sungai itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.