VocaWorld, chapter 169 - Band Of Darkness
Ray, Miku, Luka, dan yang lainnya terlihat sedang bertarung dengan Kagamine bersaudara. Namun tampak kelompok Miku mengalami kesulitan. Miku terpaksa menggunakan dance baru nya. Namun pada akhirnya mereka hanya berimbang dan tak ada yang memenangkan ataupun mengalahkan.
"Kelihatannya kita takkan bisa menang melawan mereka." ujar Luka.
Ray yang duduk disebelah Luka yang sedang berdiri, malah terdiam saja.
"Ray-kun, kenapa malah diam aja. Setidaknya berikanlah komentar." protes Luka.
"Tak ada yang perlu dikomentari. Mereka semua melakukan yang terbaik yang mereka lakukan. Yang perlu kita lakukan hanya menunggu." jawab Ray.
"Ah.. ini bukan saatnya untuk berkata-kata sok keren seperti itu, Ray-kun." komentar Luka.
"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Ray-kun. Kami dibuat bertarung dengan si kembar terus menerus walau pada akhirnya tidak ada yang menang. Selalu berakhir dengan mundurnya salah satu pihak." pikir Luka sambil memperhatikan Ray yang sedang fokus memperhatikan pertempuran.
Miku dan yang lainnya terlihat sudah mulai kelelahan. Begitu pula dengan si kembar.
"Perlukah kita akhiri saja untuk hari ini, Dante?" ucap Ray sambil berdiri.
Di pesawat pangeran kegelapan, Dante dan June memperhatikan jalannya pertarungan dari atas.
"Mereka berdua sudah kelelahan. Sebaiknya kita menarik mundur mereka, tuan." ujar June.
"Ya, aku setuju. Segera tarik mundur mereka, June." suruh Dante.
"Siap, tuan!" sahut June.
Rin dan Len pun ditarik mundur ke dalam pesawat.
"Ini kesempatan kita, ayo kita serang mereka!" ucap Gumi hendak melompat.
"Hentikan, Megupo-san!" larang Ray.
"Kenapa?" tanya Gumi.
"Untuk saat ini ayo kita mundur dulu. Kita harus mengisi energi dan istirahat dulu setelah pertempuran tadi. Jangan memaksakan diri melawan mereka dengan stamina yang hampir habis seperti itu." jawab Ray.
"Maaf.." sahut Gumi.
Akhirnya Miku dan yang lainnya pun menuruti Ray dan pulang ke rumah. Mereka semua berkumpul di rumah Miku.
"Shiro Ray! Ada yang mau aku tanyakan!" ucap Miku.
"Apa, Hatsune-san?" sahut Ray.
"Kenapa kamu menyuruh kami bertarung dengan mereka sebulan ini terus-terusan?" tanya Miku.
"Hmm.. kalau ditanya begitu aku juga sebenarnya tidak tahu." jawab Ray.
"Apa?!!" ucap Miku terkejut dengan jawaban Ray.
"Jadi selama ini kami bertarung untuk suatu hal yang sia-sia?" ujar Gumi sambil tersenyum malas.
"Terus kenapa kamu menyuruh kami bertarung dengan mereka terus-terusan tiap hari?" tanya Miku dengan kesal.
"Hmm.. bisa dibilang itu hanya reflek saja. Aku tak mungkin diam saja melihat mereka mulai melakukan pergerakan." jawab Ray.
"Tapi, setidaknya berikanlah kami istirahat. Jangan tiap hari juga kami harus melawan mereka!!!" protes Miku.
"Namun yang lebih penting lagi, kenapa Ray-kun melarang kami membujuk si kembar kembali dengan kebenaran sebenarnya yang telah kami dengar dari Ray-kun?" tanya Luka.
"Itu tidak ada gunanya untuk saat ini." jawab Ray.
"Apa maksud Ray-kun? Kenapa bisa tidak berguna?" tanya Luka semakin penasaran.
"Karena memangnya mereka akan percaya begitu saja dengan perkataan kita. Saat ini seperti yang kalian tahu sendiri, mereka berdua membenci kita. Tidak ada orang yang mempercayai perkataan orang yang dibencinya dengan begitu mudahnya." jelas Ray.
"Be-benar juga. Aku mengerti sekarang.." ucap Luka.
"Kalau begitu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan si kembar dari cengkraman pangeran kegelapan?" tanya Gumi.
"Daripada disebut 'cengkraman' itu lebih bisa disebut 'pelukan'. Karena mereka berdua merasa lebih nyaman di sisi Dante daripada di sisi kita saat ini. Jadi kata menyelamatkan sendiri kurang tepat. Karena itu kita takkan bisa memaksa mereka kembali ke sisi kita." jawab Ray.
"Shiro Ray, jangan membuat kami bingung! Katakan saja apa yang harus kita lakukan saat ini!" pinta Miku.
"Yang perlu kalian lakukan mudah saja sebenarnya. Kalian hanya perlu melakukan apa yang kalian lakukan beberapa hari ini." jawab Ray.
Di dalam sebuah kamar di dalam pesawat pangeran kegelapan, Rin dan Len sedang berbaring di ranjang mereka masing-masing.
"Hei Rin, menurutmu kenapa terus-terusan melawan kita meskipun tidak ada gunanya? Kita tak mungkin kembali ke sisi mereka. Mereka itu anak buahnya Ray-nii." tanya Len.
"Hmm.. tidak tahu juga. Tapi Len, apa kamu yakin kita akan terus melakukan ini?" jawab Rin kemudian bertanya balik pada Len.
"Tentu saja. Selama kita belum membalaskan dendam ibu, kita takkan berhenti." jawab Len.
"Tapi aku tak yakin ibu punya dendam pada orang yang membunuhnya." sahut Rin.
"Kamu ngomong apa Rin! Apa kamu mau membela laki-laki yang telah membunuh ibu!" bentak Len sambil bangun.
"Aku tidak membelanya kok. Tapi aku pikir Ray-niichan tidak mungkin melakukan hal sekeji itu." balas Rin yang juga bangun.
"Jangan bercanda! Mungkin saja saat ini dia hanya pura-pura baik. Kita tidak tahu apa yang ada dalam hatinya sebenarnya! Bahkan masa lalunya juga sangat misterius! Bagaimana cara kita mempercayai orang seperti itu!!" kata Len.
"I-iya sih." sahut Rin.
"Untuk saat ini, kita akan berlatih sekeras mungkin. Kita harus jadi lebih kuat untuk bisa mengalahkan Ray-nii." ujar Len melompat dari ranjangnya dengan semangat.
"Kalau kalian ingin latihan, aku punya guru yang tepat untuk kalian." ujar June yang ternyata sudah berada dalam kamar mereka.
"June-ji?!! Sejak kapan ada didalam!?" tanya Len terkejut.
"Apa maksud kalian. Dari tadi aku ngetuk-ngetuk pintu kamar kalian, apa kalian tidak dengar?" sahut June.
"Be-benarkah?" ucap Len bingung.
"Sudahlah, JB. Mereka hanya sedang terlalu semangat. Makanya mereka tidak mendengarmu." ujar Dante masuk ke dalam kamar.
"Dante-nii..", "Dante-niisama.." ucap Len dan Rin bersamaan.
"Kalian ingin jadi lebih kuat kan? Karena itu akan kuajari kalian. Makanya aku datang kemari." ujar Dante.
"Benarkah itu?" tanya Rin dan Len bersamaan dan terlihat senang.
"Tentu saja." jawab Dante.
"Yeah!" sorak Rin dan Len.
Di saat yang sama, di rumah keluarga Miku.
"Belum ingin tidur?" tanya Luka menghampiri Ray di teras samping rumah.
"Bulan malam ini bersembunyi dibalik awan mendung. Akankah esok hari muncul pelangi setelah hujan?" ucap Ray sambil melihat langit malam yang mendung.
"Apa Ray-kun masih memikirkan masalah 5 tahun yang lalu itu?" tanya Luka lagi.
"Menurutmu bagaimana, Megurine-san? Apa memang pilihanku saat itu tepat? Atau mungkin memang aku ini keliru?" tanya balik Ray.
"Aku tak tahu. Aku tak bisa menjawabnya, karena aku tidak tahu bagaimana situasi saat itu dan bagaimana rasanya pada saat dihadapkan pada situasi semacam itu." jawab Luka.
"Jadi pada akhirnya semuanya bergerak pada jalan takdir ya.." ucap Ray.
"Tapi aku rasa.. Ray-kun tidak keliru. Ray-kun memilih sesuatu yang paling tepat bagi Ray-kun saat itu. Mereka yang tidak tahu kejadian sebenarnya, tak pantas untuk menyalahkan ataupun mengkritik keputusan Ray-kun." ujar Luka sambil meletakan kepalanya di bahu Ray.
"Ya, Megurine-san benar juga. Terima kasih, my queen." ucap Ray sambil tersenyum.
"Sama-sama.." sahut Luka sambil memejamkan matanya.
"Megurine-san.." panggil Ray.
"Apa?" sahut Luka.
"Kupikir setelah kejadian di UKS waktu itu Megurine-san akan membenciku. Kenapa Megurine-san masih bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa?" tanya Ray.
"Karena, aku percaya pada Ray-kun." jawab Luka.
"Percaya.. padaku?" ucap Ray.
"Aku percaya kalau Ray-kun punya alasan sendiri kenapa tidak mau menjawab setiap pertanyaanku. Aku percaya Ray-kun melakukan semua hal itu karena itu adalah yang terbaik untukku. Dan aku percaya Ray-kun akan menjelaskannya suatu hari nanti." jelas Luka.
Ray sedikit terkejut dengan jawaban Luka.
"Karena itu, jangan remehkan perasaan seorang perempuan. Sekali perempuan sudah jatuh cinta. Maka dia takkan pernah mengkhianati ataupun meninggalkan perasaannya. Perempuan adalah makhluk yang membingungkan bukan?" sambung Luka.
"Begitu kah. Tapi aku tak pernah meremehkan perasaan siapapun. Terlebih lagi perasaanmu. Sama sepertimu yang mempercayaiku, aku juga mempercayai Megurine-san. Aku percaya Megurine-san takkan mengkhianatiku meski apapun yang terjadi di masa depan. Aku percaya Megurine-san akan tetap disampingku." jawab Ray.
Luka pun tersenyum mendengar perkataan Ray.
Pertempuran antara Miku dan kawan-kawan melawan Dante dan juga para pelayannya terjadi lagi. Pusat kota kembali menjadi medan pertarungan yang panas meskipun ini hari terakhir musim gugur.
"Rin-chan! Len-chan! Sadarlah! Otak kalian sedang dicuci oleh pangeran kegelapan!" ujar Miku dengan suara lantang.
"Miku-nee menyuruh kami sadar? Kami sudah sadar. Aku sadar kalau musuh kami sebenarnya adalah Shiro Ray!" jawab Len.
"Miku-neechan jangan ikut campur!" tambah Rin.
"Apa yang sebenarnya kalian pikirkan? Menjadi pelayan iblis seperti dia, apa kalian sudah kehilangan akal sehat kalian?" tanya Gumi.
"Siapa memangnya yang lebih iblis daripada orang yang membunuh ibu kami untuk kabur, hah?" jawab Len.
"Lagipula Dante-niichan bukanlah orang jahat. Dia merawat dan memberi kami makan. Dia bahkan melatih kami dan mengajari kami berbagai hal tentang musik." tambah Rin.
"Eh, benarkah?" tanya Gumi terlihat terkejut.
"Ha! Itu pasti bohong! Mana ada orang jahat sebaik itu!" ujar Miku.
"Itu beneran! Mana mungkin kami berbohong!" sahut Rin dan Len.
"Jadi begitu rupanya. Itukah yang membuat mereka semakin kuat beberapa hari ini." ujar Gumi dalam hatinya.
"Sial. Kalian telah menghina master kami. Karena itu akan kutunjukkan hasil latihanku!" ujar Len.
"Aku juga." tambah Rin.
"Mereka dilatih oleh Yami Dante?" ucap Gumi dalam hati.
"Instrument: Splash Bass!" ucap Rin memuncurkan sebuah gitar bass elektrik.
"Instrument: Brick Stick!" ucap Len memunculkan sepasang stik drum.
"Instrument??!!" ucap Miku dan Gumi terkejut.
"Mereka sudah menguasai instrument. Sebenarnya sudah sehebat apa mereka itu?" komentar Luka.
"Sepertinya mereka saat ini sudah setingkat denganmu, my queen." sahut Ray.
Rin dan Len melesat ke arah Miku dan Gumi.
"Kekuatan instrument milik mereka berdua sangatlah mengerikan dari jarak dekat. Aku dan tuan Lucifer saja dibuat kepayahan kalau hanya menggunakan dance." ujar June yang sedang berhadapan dengan Meiko dan Kaito.
"Aku tak mungkin percaya begitu saja dengan yang kau katakan!" ujar Kaito.
"Terserahlah.." sahut June.
Rin membantingkan bass nya ke arah Gumi, namun Gumi menghilang dan muncul dibelakang Rin. Rin berjungkir balik menyentuh senar dibagian badan bass nya, dan sambil membunyikan sebuah nada, ia mengayunkan bass nya ke atas. Gumi mampu menghindari ayunan bass Rin, namun dari nada yang dimainkan oleh Rin muncul sebuah getaran aneh yang membuat tubuhnya terhempas.
"Sial, aku memang bisa menghindari serangan fisiknya, tapi.." ucap Gumi kemudian tubuhnya menghantam dinding sebuah gedung hingga ambrol.
"Gumi-chan!" panggil Miku saat melihat Gumi dihempaskan.
Len sudah sampai dihadapan Miku, dan terlihat dia memasang kuda-kuda dan menyambung sepasang stik drum yang ia pegang dengan aliran listrik.
"Ini giliranmu, Miku-nee.." kata Len.
Len mulai menyerang Miku dengan stik drum yang kini tersambung mirip nunchaku itu. Miku mampu menghindari setiap serangan Len berkat dance Cherry Blossom Princess nya.
"Untung saja Miku-chan menggunakan dance nya yang baru." ujar Luka.
"Hmm.. tapi menghadapi pengguna instrument menggunakan dance itu sulit." sahut Ray.
"Benarkah? Kupikir ada kalanya dance bisa lebih unggul dari instrument user dalam beberapa hal. Buktinya dulu Ray-kun bisa menghindari setiap serangan dari instrument ku dengan dance milikku." sanggah Luka.
"Itu karena irama nya sama. Makanya aku bisa menghindarinya. Pada dasarnya dance dan instrument itu harusnya saling mendukung. Tapi jika digunakan untuk saling bertarung maka itu hal yang sulit, apalagi kalau jenis iramanya berbeda. Mereka akan saling menghancurkan." jelas Ray.
Rin tiba-tiba saja muncul dihadapan Ray dan Luka.
"Dia tahu kami sedang fokus dengan Len-kun dan memanfaatkan itu untuk menyerang kami secara tiba-tiba?!" ucap Luka dalam hati tampak terkejut.
Rin terlihat mengayunkan bass nya ke arah Ray yang berdiri di sebelah kanan Luka. Namun Ray dengan tenangnya menahan badan bass Rin dengan tangan kanannya.
"Percuma saja kamu menahan bass nya!" ucap Rin dalam hati.
Ray sejenak melirik ke arah Len. Dan dengan cepat Ray menggeser kaki kirinya kedepan dan menangkap leher bass Rin dengan tangan kirinya. Dia menghentikan getaran senarnya.
"Apa?!" ucap Rin sadar kalau serangannya dihentikan.
Kaki kanan Ray yang terdorong akibat efek dorongan dari bass Rin digeserkan ke belakang. Sambil berbalik, Ray mengayunkan bass Rin. Perut Rin terkena ayunan itu, dan terbawa ayunan Ray. Ray melepaskan bass Rin, dan Rin pun terlempar ke arah Len. Saudara kembar itu pun saling bertubrukan, sementara Miku melompat untuk menghindar supaya tidak terkena.
"A-apa yang barusan itu?!" ucap Rin bangun lagi.
"Woy Rin! Yang bener dong! Jangan nabrak-nabrak gitu!" bentak Len.
"Aku tak percaya Ray-kun mampu menahan bahkan menyerang balik pengguna instrument. Meskipun saat ini Ray-kun tidak memiliki kekuatan, tapi dia sangat hebat." puji Luka dalam hati yang terlihat terkejut.
"Kamu tak usah terkejut dengan hal tadi. Itu adalah resiko pengguna instrument kalau menyerang dari jarak dekat. Sebagai pengguna instrument, kamu harus mengetahuinya, my queen." ujar Ray dengan tenang mundur ke samping Luka lagi.
"Begitu rupanya. Jadi karena itu Ray-kun bilang kalau dancer dan instrument user harus saling support." sahut Luka yang sudah mengerti.
"Tepat sekali." balas Ray.
"Yahooooo!!!" ucap Dante dari kejauhan.
Terlihat Kamui terlempar ke arah Ray dan Luka. Namun ia berhasil bertahan dengan menancapkan pedangnya ke tanah.
"Devilish Slash!" teriak Dante dari atas.
Sebuah cambukan api hitam raksasa pun mengarah kepada Kamui. Kamui dengan cepat menyarungkan pedangnya. Dia mengambil napas panjang kemudian menahannya sambil memejamkan mata.
"Iai Technique: Batto Jutsu! Angin Pertama Yang Berhembus Saat Fajar!" ucap Kamui mengadu tebasannya dengan cambukan api Dante.
Api itu pun pecah menutupi wujud Kamui dan menghilang. Dante mendarat dibelakang Kamui, Kamui yang menyadarinya langsung berbalik dan menebas Dante. Dante menahannya dengan mengayunkan leher gitarnya. Tangan kiri Dante dengan cepat menyambar leher gitar dekat kepala gitarnya. Lalu dia melompat kemudian menyerang Kamui dengan badan gitarnya sambil berjungkir balik kebelakang Kamui. Kamui terpental kedepan ke arah Ray dan Luka.
"Dark Flame Cannon." ucap Dante sambil berbalik ke arah Kamui terlempar kemudian bersiap memainkan sebuah nada.
Tapi tanpa disadari oleh Dante dari belakang Gumi menendangnya, dan ia pun terpental dan tersungkur ke dekat Rin dan Len.
"Adududuh.. tendangan itu, aku kenal banget. Pasti itu kau, Angin Senja." ujar Dante bangun lagi sambil menoleh ke arah Gumi.
"Ya, benar sekali." sahut Gumi sambil tersenyum.
Dante kemudian berjalan ke depan Rin dan Len.
"Ijinkan aku menunjukkan teknik instrument yang baru saja aku kembangkan. Haha.. bukan hanya kau saja yang bisa membuat sebuah teknik baru, Shiro Ray." ujar Dante dengan sombong.
"Oh.. baguslah kalau begitu." sahut Ray.
"Teknik instrument baru? Apa maksudnya, Ray-kun?" tanya Luka.
"Apa kamu tidak sadar instrument yang dimiliki oleh mereka bertiga?" tanya balik Ray.
Luka pun memperhatikan lagi instrument yang ada di tangan Dante, Rin dan Len.
"Mungkinkah?!" ucap Luka menyadarinya.
"Ya.. teknik baru yang dimaksud adalah band. Mereka akan memadukan ketiga instrument mereka menjadi sebuah band. Aku bisa menduga kemungkinan serangan yang akan terjadi karena teknik baru mereka, tapi aku belum yakin karena belum melihatnya sendiri." jelas Ray.
"Get ready, everyone! Let's rock!" ucap Dante dengan penuh percaya diri bersiap memulai serangannya dan diikuti oleh Rin dan Len.
To be continued..
"Kelihatannya kita takkan bisa menang melawan mereka." ujar Luka.
Ray yang duduk disebelah Luka yang sedang berdiri, malah terdiam saja.
"Ray-kun, kenapa malah diam aja. Setidaknya berikanlah komentar." protes Luka.
"Tak ada yang perlu dikomentari. Mereka semua melakukan yang terbaik yang mereka lakukan. Yang perlu kita lakukan hanya menunggu." jawab Ray.
"Ah.. ini bukan saatnya untuk berkata-kata sok keren seperti itu, Ray-kun." komentar Luka.
"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Ray-kun. Kami dibuat bertarung dengan si kembar terus menerus walau pada akhirnya tidak ada yang menang. Selalu berakhir dengan mundurnya salah satu pihak." pikir Luka sambil memperhatikan Ray yang sedang fokus memperhatikan pertempuran.
Miku dan yang lainnya terlihat sudah mulai kelelahan. Begitu pula dengan si kembar.
"Perlukah kita akhiri saja untuk hari ini, Dante?" ucap Ray sambil berdiri.
Di pesawat pangeran kegelapan, Dante dan June memperhatikan jalannya pertarungan dari atas.
"Mereka berdua sudah kelelahan. Sebaiknya kita menarik mundur mereka, tuan." ujar June.
"Ya, aku setuju. Segera tarik mundur mereka, June." suruh Dante.
"Siap, tuan!" sahut June.
Rin dan Len pun ditarik mundur ke dalam pesawat.
"Ini kesempatan kita, ayo kita serang mereka!" ucap Gumi hendak melompat.
"Hentikan, Megupo-san!" larang Ray.
"Kenapa?" tanya Gumi.
"Untuk saat ini ayo kita mundur dulu. Kita harus mengisi energi dan istirahat dulu setelah pertempuran tadi. Jangan memaksakan diri melawan mereka dengan stamina yang hampir habis seperti itu." jawab Ray.
"Maaf.." sahut Gumi.
Akhirnya Miku dan yang lainnya pun menuruti Ray dan pulang ke rumah. Mereka semua berkumpul di rumah Miku.
"Shiro Ray! Ada yang mau aku tanyakan!" ucap Miku.
"Apa, Hatsune-san?" sahut Ray.
"Kenapa kamu menyuruh kami bertarung dengan mereka sebulan ini terus-terusan?" tanya Miku.
"Hmm.. kalau ditanya begitu aku juga sebenarnya tidak tahu." jawab Ray.
"Apa?!!" ucap Miku terkejut dengan jawaban Ray.
"Jadi selama ini kami bertarung untuk suatu hal yang sia-sia?" ujar Gumi sambil tersenyum malas.
"Terus kenapa kamu menyuruh kami bertarung dengan mereka terus-terusan tiap hari?" tanya Miku dengan kesal.
"Hmm.. bisa dibilang itu hanya reflek saja. Aku tak mungkin diam saja melihat mereka mulai melakukan pergerakan." jawab Ray.
"Tapi, setidaknya berikanlah kami istirahat. Jangan tiap hari juga kami harus melawan mereka!!!" protes Miku.
"Namun yang lebih penting lagi, kenapa Ray-kun melarang kami membujuk si kembar kembali dengan kebenaran sebenarnya yang telah kami dengar dari Ray-kun?" tanya Luka.
"Itu tidak ada gunanya untuk saat ini." jawab Ray.
"Apa maksud Ray-kun? Kenapa bisa tidak berguna?" tanya Luka semakin penasaran.
"Karena memangnya mereka akan percaya begitu saja dengan perkataan kita. Saat ini seperti yang kalian tahu sendiri, mereka berdua membenci kita. Tidak ada orang yang mempercayai perkataan orang yang dibencinya dengan begitu mudahnya." jelas Ray.
"Be-benar juga. Aku mengerti sekarang.." ucap Luka.
"Kalau begitu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan si kembar dari cengkraman pangeran kegelapan?" tanya Gumi.
"Daripada disebut 'cengkraman' itu lebih bisa disebut 'pelukan'. Karena mereka berdua merasa lebih nyaman di sisi Dante daripada di sisi kita saat ini. Jadi kata menyelamatkan sendiri kurang tepat. Karena itu kita takkan bisa memaksa mereka kembali ke sisi kita." jawab Ray.
"Shiro Ray, jangan membuat kami bingung! Katakan saja apa yang harus kita lakukan saat ini!" pinta Miku.
"Yang perlu kalian lakukan mudah saja sebenarnya. Kalian hanya perlu melakukan apa yang kalian lakukan beberapa hari ini." jawab Ray.
Di dalam sebuah kamar di dalam pesawat pangeran kegelapan, Rin dan Len sedang berbaring di ranjang mereka masing-masing.
"Hei Rin, menurutmu kenapa terus-terusan melawan kita meskipun tidak ada gunanya? Kita tak mungkin kembali ke sisi mereka. Mereka itu anak buahnya Ray-nii." tanya Len.
"Hmm.. tidak tahu juga. Tapi Len, apa kamu yakin kita akan terus melakukan ini?" jawab Rin kemudian bertanya balik pada Len.
"Tentu saja. Selama kita belum membalaskan dendam ibu, kita takkan berhenti." jawab Len.
"Tapi aku tak yakin ibu punya dendam pada orang yang membunuhnya." sahut Rin.
"Kamu ngomong apa Rin! Apa kamu mau membela laki-laki yang telah membunuh ibu!" bentak Len sambil bangun.
"Aku tidak membelanya kok. Tapi aku pikir Ray-niichan tidak mungkin melakukan hal sekeji itu." balas Rin yang juga bangun.
"Jangan bercanda! Mungkin saja saat ini dia hanya pura-pura baik. Kita tidak tahu apa yang ada dalam hatinya sebenarnya! Bahkan masa lalunya juga sangat misterius! Bagaimana cara kita mempercayai orang seperti itu!!" kata Len.
"I-iya sih." sahut Rin.
"Untuk saat ini, kita akan berlatih sekeras mungkin. Kita harus jadi lebih kuat untuk bisa mengalahkan Ray-nii." ujar Len melompat dari ranjangnya dengan semangat.
"Kalau kalian ingin latihan, aku punya guru yang tepat untuk kalian." ujar June yang ternyata sudah berada dalam kamar mereka.
"June-ji?!! Sejak kapan ada didalam!?" tanya Len terkejut.
"Apa maksud kalian. Dari tadi aku ngetuk-ngetuk pintu kamar kalian, apa kalian tidak dengar?" sahut June.
"Be-benarkah?" ucap Len bingung.
"Sudahlah, JB. Mereka hanya sedang terlalu semangat. Makanya mereka tidak mendengarmu." ujar Dante masuk ke dalam kamar.
"Dante-nii..", "Dante-niisama.." ucap Len dan Rin bersamaan.
"Kalian ingin jadi lebih kuat kan? Karena itu akan kuajari kalian. Makanya aku datang kemari." ujar Dante.
"Benarkah itu?" tanya Rin dan Len bersamaan dan terlihat senang.
"Tentu saja." jawab Dante.
"Yeah!" sorak Rin dan Len.
Di saat yang sama, di rumah keluarga Miku.
"Belum ingin tidur?" tanya Luka menghampiri Ray di teras samping rumah.
"Bulan malam ini bersembunyi dibalik awan mendung. Akankah esok hari muncul pelangi setelah hujan?" ucap Ray sambil melihat langit malam yang mendung.
"Apa Ray-kun masih memikirkan masalah 5 tahun yang lalu itu?" tanya Luka lagi.
"Menurutmu bagaimana, Megurine-san? Apa memang pilihanku saat itu tepat? Atau mungkin memang aku ini keliru?" tanya balik Ray.
"Aku tak tahu. Aku tak bisa menjawabnya, karena aku tidak tahu bagaimana situasi saat itu dan bagaimana rasanya pada saat dihadapkan pada situasi semacam itu." jawab Luka.
"Jadi pada akhirnya semuanya bergerak pada jalan takdir ya.." ucap Ray.
"Tapi aku rasa.. Ray-kun tidak keliru. Ray-kun memilih sesuatu yang paling tepat bagi Ray-kun saat itu. Mereka yang tidak tahu kejadian sebenarnya, tak pantas untuk menyalahkan ataupun mengkritik keputusan Ray-kun." ujar Luka sambil meletakan kepalanya di bahu Ray.
"Ya, Megurine-san benar juga. Terima kasih, my queen." ucap Ray sambil tersenyum.
"Sama-sama.." sahut Luka sambil memejamkan matanya.
"Megurine-san.." panggil Ray.
"Apa?" sahut Luka.
"Kupikir setelah kejadian di UKS waktu itu Megurine-san akan membenciku. Kenapa Megurine-san masih bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa?" tanya Ray.
"Karena, aku percaya pada Ray-kun." jawab Luka.
"Percaya.. padaku?" ucap Ray.
"Aku percaya kalau Ray-kun punya alasan sendiri kenapa tidak mau menjawab setiap pertanyaanku. Aku percaya Ray-kun melakukan semua hal itu karena itu adalah yang terbaik untukku. Dan aku percaya Ray-kun akan menjelaskannya suatu hari nanti." jelas Luka.
Ray sedikit terkejut dengan jawaban Luka.
"Karena itu, jangan remehkan perasaan seorang perempuan. Sekali perempuan sudah jatuh cinta. Maka dia takkan pernah mengkhianati ataupun meninggalkan perasaannya. Perempuan adalah makhluk yang membingungkan bukan?" sambung Luka.
"Begitu kah. Tapi aku tak pernah meremehkan perasaan siapapun. Terlebih lagi perasaanmu. Sama sepertimu yang mempercayaiku, aku juga mempercayai Megurine-san. Aku percaya Megurine-san takkan mengkhianatiku meski apapun yang terjadi di masa depan. Aku percaya Megurine-san akan tetap disampingku." jawab Ray.
Luka pun tersenyum mendengar perkataan Ray.
Pertempuran antara Miku dan kawan-kawan melawan Dante dan juga para pelayannya terjadi lagi. Pusat kota kembali menjadi medan pertarungan yang panas meskipun ini hari terakhir musim gugur.
"Rin-chan! Len-chan! Sadarlah! Otak kalian sedang dicuci oleh pangeran kegelapan!" ujar Miku dengan suara lantang.
"Miku-nee menyuruh kami sadar? Kami sudah sadar. Aku sadar kalau musuh kami sebenarnya adalah Shiro Ray!" jawab Len.
"Miku-neechan jangan ikut campur!" tambah Rin.
"Apa yang sebenarnya kalian pikirkan? Menjadi pelayan iblis seperti dia, apa kalian sudah kehilangan akal sehat kalian?" tanya Gumi.
"Siapa memangnya yang lebih iblis daripada orang yang membunuh ibu kami untuk kabur, hah?" jawab Len.
"Lagipula Dante-niichan bukanlah orang jahat. Dia merawat dan memberi kami makan. Dia bahkan melatih kami dan mengajari kami berbagai hal tentang musik." tambah Rin.
"Eh, benarkah?" tanya Gumi terlihat terkejut.
"Ha! Itu pasti bohong! Mana ada orang jahat sebaik itu!" ujar Miku.
"Itu beneran! Mana mungkin kami berbohong!" sahut Rin dan Len.
"Jadi begitu rupanya. Itukah yang membuat mereka semakin kuat beberapa hari ini." ujar Gumi dalam hatinya.
"Sial. Kalian telah menghina master kami. Karena itu akan kutunjukkan hasil latihanku!" ujar Len.
"Aku juga." tambah Rin.
"Mereka dilatih oleh Yami Dante?" ucap Gumi dalam hati.
"Instrument: Splash Bass!" ucap Rin memuncurkan sebuah gitar bass elektrik.
"Instrument: Brick Stick!" ucap Len memunculkan sepasang stik drum.
"Instrument??!!" ucap Miku dan Gumi terkejut.
"Mereka sudah menguasai instrument. Sebenarnya sudah sehebat apa mereka itu?" komentar Luka.
"Sepertinya mereka saat ini sudah setingkat denganmu, my queen." sahut Ray.
Rin dan Len melesat ke arah Miku dan Gumi.
"Kekuatan instrument milik mereka berdua sangatlah mengerikan dari jarak dekat. Aku dan tuan Lucifer saja dibuat kepayahan kalau hanya menggunakan dance." ujar June yang sedang berhadapan dengan Meiko dan Kaito.
"Aku tak mungkin percaya begitu saja dengan yang kau katakan!" ujar Kaito.
"Terserahlah.." sahut June.
Rin membantingkan bass nya ke arah Gumi, namun Gumi menghilang dan muncul dibelakang Rin. Rin berjungkir balik menyentuh senar dibagian badan bass nya, dan sambil membunyikan sebuah nada, ia mengayunkan bass nya ke atas. Gumi mampu menghindari ayunan bass Rin, namun dari nada yang dimainkan oleh Rin muncul sebuah getaran aneh yang membuat tubuhnya terhempas.
"Sial, aku memang bisa menghindari serangan fisiknya, tapi.." ucap Gumi kemudian tubuhnya menghantam dinding sebuah gedung hingga ambrol.
"Gumi-chan!" panggil Miku saat melihat Gumi dihempaskan.
Len sudah sampai dihadapan Miku, dan terlihat dia memasang kuda-kuda dan menyambung sepasang stik drum yang ia pegang dengan aliran listrik.
"Ini giliranmu, Miku-nee.." kata Len.
Len mulai menyerang Miku dengan stik drum yang kini tersambung mirip nunchaku itu. Miku mampu menghindari setiap serangan Len berkat dance Cherry Blossom Princess nya.
"Untung saja Miku-chan menggunakan dance nya yang baru." ujar Luka.
"Hmm.. tapi menghadapi pengguna instrument menggunakan dance itu sulit." sahut Ray.
"Benarkah? Kupikir ada kalanya dance bisa lebih unggul dari instrument user dalam beberapa hal. Buktinya dulu Ray-kun bisa menghindari setiap serangan dari instrument ku dengan dance milikku." sanggah Luka.
"Itu karena irama nya sama. Makanya aku bisa menghindarinya. Pada dasarnya dance dan instrument itu harusnya saling mendukung. Tapi jika digunakan untuk saling bertarung maka itu hal yang sulit, apalagi kalau jenis iramanya berbeda. Mereka akan saling menghancurkan." jelas Ray.
Rin tiba-tiba saja muncul dihadapan Ray dan Luka.
"Dia tahu kami sedang fokus dengan Len-kun dan memanfaatkan itu untuk menyerang kami secara tiba-tiba?!" ucap Luka dalam hati tampak terkejut.
Rin terlihat mengayunkan bass nya ke arah Ray yang berdiri di sebelah kanan Luka. Namun Ray dengan tenangnya menahan badan bass Rin dengan tangan kanannya.
"Percuma saja kamu menahan bass nya!" ucap Rin dalam hati.
Ray sejenak melirik ke arah Len. Dan dengan cepat Ray menggeser kaki kirinya kedepan dan menangkap leher bass Rin dengan tangan kirinya. Dia menghentikan getaran senarnya.
"Apa?!" ucap Rin sadar kalau serangannya dihentikan.
Kaki kanan Ray yang terdorong akibat efek dorongan dari bass Rin digeserkan ke belakang. Sambil berbalik, Ray mengayunkan bass Rin. Perut Rin terkena ayunan itu, dan terbawa ayunan Ray. Ray melepaskan bass Rin, dan Rin pun terlempar ke arah Len. Saudara kembar itu pun saling bertubrukan, sementara Miku melompat untuk menghindar supaya tidak terkena.
"A-apa yang barusan itu?!" ucap Rin bangun lagi.
"Woy Rin! Yang bener dong! Jangan nabrak-nabrak gitu!" bentak Len.
"Aku tak percaya Ray-kun mampu menahan bahkan menyerang balik pengguna instrument. Meskipun saat ini Ray-kun tidak memiliki kekuatan, tapi dia sangat hebat." puji Luka dalam hati yang terlihat terkejut.
"Kamu tak usah terkejut dengan hal tadi. Itu adalah resiko pengguna instrument kalau menyerang dari jarak dekat. Sebagai pengguna instrument, kamu harus mengetahuinya, my queen." ujar Ray dengan tenang mundur ke samping Luka lagi.
"Begitu rupanya. Jadi karena itu Ray-kun bilang kalau dancer dan instrument user harus saling support." sahut Luka yang sudah mengerti.
"Tepat sekali." balas Ray.
"Yahooooo!!!" ucap Dante dari kejauhan.
Terlihat Kamui terlempar ke arah Ray dan Luka. Namun ia berhasil bertahan dengan menancapkan pedangnya ke tanah.
"Devilish Slash!" teriak Dante dari atas.
Sebuah cambukan api hitam raksasa pun mengarah kepada Kamui. Kamui dengan cepat menyarungkan pedangnya. Dia mengambil napas panjang kemudian menahannya sambil memejamkan mata.
"Iai Technique: Batto Jutsu! Angin Pertama Yang Berhembus Saat Fajar!" ucap Kamui mengadu tebasannya dengan cambukan api Dante.
Api itu pun pecah menutupi wujud Kamui dan menghilang. Dante mendarat dibelakang Kamui, Kamui yang menyadarinya langsung berbalik dan menebas Dante. Dante menahannya dengan mengayunkan leher gitarnya. Tangan kiri Dante dengan cepat menyambar leher gitar dekat kepala gitarnya. Lalu dia melompat kemudian menyerang Kamui dengan badan gitarnya sambil berjungkir balik kebelakang Kamui. Kamui terpental kedepan ke arah Ray dan Luka.
"Dark Flame Cannon." ucap Dante sambil berbalik ke arah Kamui terlempar kemudian bersiap memainkan sebuah nada.
Tapi tanpa disadari oleh Dante dari belakang Gumi menendangnya, dan ia pun terpental dan tersungkur ke dekat Rin dan Len.
"Adududuh.. tendangan itu, aku kenal banget. Pasti itu kau, Angin Senja." ujar Dante bangun lagi sambil menoleh ke arah Gumi.
"Ya, benar sekali." sahut Gumi sambil tersenyum.
Dante kemudian berjalan ke depan Rin dan Len.
"Ijinkan aku menunjukkan teknik instrument yang baru saja aku kembangkan. Haha.. bukan hanya kau saja yang bisa membuat sebuah teknik baru, Shiro Ray." ujar Dante dengan sombong.
"Oh.. baguslah kalau begitu." sahut Ray.
"Teknik instrument baru? Apa maksudnya, Ray-kun?" tanya Luka.
"Apa kamu tidak sadar instrument yang dimiliki oleh mereka bertiga?" tanya balik Ray.
Luka pun memperhatikan lagi instrument yang ada di tangan Dante, Rin dan Len.
"Mungkinkah?!" ucap Luka menyadarinya.
"Ya.. teknik baru yang dimaksud adalah band. Mereka akan memadukan ketiga instrument mereka menjadi sebuah band. Aku bisa menduga kemungkinan serangan yang akan terjadi karena teknik baru mereka, tapi aku belum yakin karena belum melihatnya sendiri." jelas Ray.
"Get ready, everyone! Let's rock!" ucap Dante dengan penuh percaya diri bersiap memulai serangannya dan diikuti oleh Rin dan Len.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.