VocaWorld, chapter 168 - Masa Lalu Dan Kehilangan

Di rumah Miku, terlihat keadaan begitu suram. Miku dan Luka sedang makan bersama. Namun kursi Meiko, Rin dan Len tampak kosong.
"Kita belum bisa menemukan solusi terbaik untuk mengembalikan Rin-chan dan Len-kun. Bahkan Meiko-chan pun tidak mau keluar dari kamarnya." ujar Luka.
"Meiko-san pasti sangat terpukul sekali karena Rin-chan dan Len-chan jadi seperti itu." kata Miku.
"Ya, pastinya. Tidak ada yang tidak sedih melihat adiknya yang sudah di urus sejak kecil tapi sekarang berubah menjadi orang jahat." sahut Luka.
"Apa Shiro Ray juga merasakan hal yang sama ya? Tapi kelihatannya dia biasa-biasa saja meskipun adiknya menyerangnya dan menjadi jahat lagi." kata Miku.
"Kurasa dia juga merasakan hal yang sama, namun dia menyembunyikan perasaannya dengan baik. Mau bagaimanapun dia itu selalu menunjukkan tampang poker face nya." kata Luka sambil tersenyum.
"Shiro Ray harusnya bersyukur memiliki seseorang yang selalu mengerti seperti Luka-oneesan." ujar Miku.
"A-apa maksud Miku-chan?! Ke-kenapa mengatakan itu secara tiba-tiba?!" protes Luka tampak malu-malu.
"Enaknya.. kapan ya aku dan Kaito-senpai bisa begitu?" ujar Miku terlihat sedikit iri dan tersenyum.
Luka pun menunduk karena malu. Tapi beberapa saat setelah itu wajah malunya telihat sirna dan sorot matanya berganti dengan sorot mata kesedihan.
"Aku benar-benar tak berdaya." ujar Luka.
Miku bingung Luka tiba-tiba berkata seperti itu.
"Tanpa Ray-kun aku benar-benar tidak bisa apa-apa. Aku tidak bisa melindungi siapapun. Aku ini lemah. Seandainya Ray-kun ada disini, pasti kejadian seperti kemarin takkan terjadi." sambung Luka dengan wajah semakin sedih.
"Ta-tapi.. Luka-oneesan sudah berusaha kan. Jadi.. jangan khawatir. Kami takkan menyalahkanmu karena hal ini." sahut Miku.
"Tapi gara-gara aku aku, karena aku tak bisa menghentikan Rin-chan dan Len-kun, sekarang Meiko-san jadi mengurung dirinya di dalam kamar. Dan semua orang jadi sedih. Kalau begini terus kita takkan bisa menang." jelas Luka.
Miku pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tak tahu harus bicara apa lagi untuk menenangkan Luka. Pada akhirnya mereka berdua pun jadi saling diam. Namun tiba-tiba suara bel rumah memecah keheningan itu.
"Ada tamu?" ucap Miku.
"Hah? Miku-chan ngomong apa? Disaat seperti ini mana mungkin ada tamu." ujar Luka.
"Beneran, tadi aku dengar suara bel pintu depan." sahut Miku.
Suara bel pun terdengar lagi. Kali ini lebih jelas dan lebih sering dibanding sebelumnya.
"Tuh denger kan, Luka-oneesan." ujar Miku.
"Disaat kondisi kota seperti ini siapa sih yang bertamu." gerutu Luka sambil menghampiri pintu depan.
Luka pun membukakan pintu dan terlihat lah sesosok laki-laki sedang memanggul pancingan dan memakai jaket hitam.
"Selamat siang. Lama tak berjumpa, kalian berdua." ujar laki-laki itu.
Luka terkejut saat meliat laki-laki yang terlihat tak asing dimata nya itu. Luka menjulurkan tangannya seperti hendak meraih laki-laki itu. Dan lalu Luka pun langsung saja memeluk dan mendekapnya erat.
"Ada apa Megurine-san? Jangan memelukku saat ini. Aku belum mandi." ujar sosok itu.
"Aku tidak peduli!" jawab Luka terlihat meneteskan air matanya.
Laki-laki itu pun tersenyum dan terlihatlah wajah polos yang tak lain adalah wajah Ray itu.
"Maafkan aku.. karena telah meninggalkanmu." ucap Ray sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang Luka dan mendekap Luka.

Meiko berbaring di tempat tidurnya. Dia terlihat sangat sedih dan mendekap gulingnya seerat-eratnya. Kamarnya pun gelap karena semua jendela dan gorden nya di tutup rapat. Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu kamar.
"Meiko-chan.. ayo buka pintunya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." pinta Luka dari balik pintu.
Namun Meiko tidak kunjung menjawab.
"Meiko-san.. ayo keluar. Kumohon.." pinta Miku.
"Mereka sama sekali tidak mengerti. Rin-chan dan Len-chan.. Rin-chan dan Len-chan telah membenciku saat ini. Apa aku telah menjadi kakak yang buruk untuk mereka? Apa aku terlalu keras pada mereka?" ucap Meiko dalam hati sambil membenamkan mukanya ke gulingnya.
"Sepertinya tidak berguna sama sekali. Meiko-chan takkan mau membukakan pintunya." ujar Luka sambil menoleh kebelakang.
"Ray-kun?!" ucap Luka terkejut karena Ray tiba-tiba menghilang.
Disaat itu Kaito dan Kamui sedang berjalan ke arah rumah Miku. Kaito terlihat sangat bingung dan berusaha berpikir keras entah tentang apa. Sementara di kamar Meiko, Meiko kembali menangis.
"Mau sampai kapan kamu akan tiduran disana dan membuang-buang energi dan cairan tubuhmu dengan menangis seperti itu, Sakine-san." ujar Ray yang sudah berdiri menatap ke arah Meiko.
Meiko terkejut dan langsung melihat ke arah datangnya suara itu. Menyadari kalau itu adalah Ray, Meiko langsung melemparkan sebuah bantal ke wajah Ray. Namun bantal itu tampak berhenti diudara.
"Ada apa, Sakine-san? Kenapa kamu melemparkan bantal ini padaku? Aku tidak sedang ingin tidur saat ini." tanya Ray yang ternyata menangkap bantal itu sebelum mengenai wajahnya.
"Ini semua salahmu!" bentak Meiko.
"Salahku? Apa maksudmu?" tanya Ray sambil melihat Meiko dan menyingkirkan bantal dengan perlahan ke samping.
"Karena kamu! Karena kamu mereka jadi membenciku! Mereka pasti mengira aku melindungimu!" bentak Meiko lagi.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Sakine-san. Bagaimana bisa ini menjadi salahku? Dan kenapa mereka membencimu karena melindungiku?" tanya Ray dengan masih tenang saja dan melemparkan bantal ditangannya ke sudut kamar.
"Karena kamu lah yang membunuh ibu mereka, sialan!" bentak Meiko sambil melancarkan tinjunya ke wajah Ray.
Ray sempat terkejut sejenak saat mendengar kata-kata Meiko sehingga ia tak bisa menghindar dan pukulan Meiko pun mengenai pipi sebelah kirinya dengan keras. Ray hampir tersungkur karena saking kerasnya pukulan Meiko.
"Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang." ucap Ray dengan suara pelan.
Meiko hendak memukul Ray lagi namun Ray menangkap pergelangan tangan Meiko dan memelintirnya kebelakang untuk mengunci Meiko. Kemudian Ray mendorong Meiko hingga terjatuh di ranjangnya.
"Sakine-san.. ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu.." ujar Ray sambil mendekat ke ranjang Meiko.
"Aku tidak butuh penjelasanmu!" ucap Meiko sambil berbalik dan hendak bangun dari ranjangnya.
"Tidak, kamu harus mendengarkan ini, Sakine-san." ujar Ray sambil menahan tangan Meiko sehingga tidak bisa bangun.
Wajah mereka pun saling berhadapan begitu dekat. Ray saat ini ada diatas Meiko dan menahan tubuh Meiko. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Terlalu dekat. Wajahnya terlalu dekat. Melihat tatapan matanya sedekat ini.. membuat jantungku berdebar-debar." ucap Meiko dalam hatinya wajahnya terlihat memerah.
"Lepaskan aku!" pinta Meiko sambil memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya.
"Tidak akan. Aku takkan melepaskanmu sebelum aku menjelaskan semuanya padamu." tolak Ray.
"Memangnya apa yang ingin dia jelaskan padaku?" kata Meiko dalam hatinya.
"Kamu lah orang yang pertama yang mengetahui hal ini. Sebenarnya.. akulah yang membawa mereka berdua kesini sekitar 10 tahun yang lalu." kata Ray.
Meiko terkejut dan kembali melihat ke arah Ray.
"Akulah yang meninggalkan mereka di depan rumahmu." sambung Ray.
"Ja-jadi itu kamu? Tapi kenapa didepan rumahku?" tanya Meiko yang masih terkejut.
"Karena.. aku melihat sosok seorang kakak yang hebat dalam dirimu. Kamu juga lembut dan begitu penuh kasih sayang. Hanya kamulah satu-satunya yang bisa menjadi seorang kakak sekaligus ibu yang tepat untuk mereka." jelas Ray sambil tersenyum pada Meiko.
Wajah Meiko kembali memerah.
"Entah kenapa rasanya aku seperti merasakan kalau dia juga merasakan sakit yang sama denganku." ujar Meiko dalam hatinya dengan wajah terperangah melihat senyuman Ray.
Ray melepaskan tangan Meiko dan turun dari ranjang Meiko.
"Perlu kamu tahu, aku juga sudah menganggap mereka sebagai adikku sendiri. Saat aku kembali ke kota ini setahun yang lalu, aku begitu senang saat melihat mereka sudah tumbuh besar." sambung Ray sambil membelakangi Meiko.
Meiko memegang dadanya, wajahnya memerah, dan dia kagum melihat Ray yang tampak begitu dewasa.
"Ayo kita segera ke ruang makan. Aku membawakanmu ikan yang besar yang baru saja aku tangkap dari laut. Aku yakin saat ini kamu lapar." ujar Ray menoleh ke arah Meiko.
Dan terdengarlah suara perut keroncongan di kamar itu.
"Tuh, perutmu sudah keroncongan." ujar Ray.
"Tunggu sebentar, itu bukan perutku." sahut Meiko.
"Lho, kalau bukan suara perutmu, lalu darimana suara itu berasal?" tanya Ray.
"Memangnya menurutmu siapa lagi yang ada dikamar ini!" jawab Meiko.
"Jadi itu suara perutku ya?" tanya Ray lagi.
"Jangan berpura-pura bingung!" bentak Meiko.
"Iya juga, dari pagi aku belum makan apa-apa. Karena itu.. maukah kamu memasakkan sesuatu untukku." balas Ray sambil tersenyum.
"Ya mau bagaimana lagi.. dirumah ini tidak ada yang bisa masak selain aku." ujar Meiko sambil turun dari ranjangnya dan tampak tersenyum.

Kaito dan Kamui sampai di rumah Miku. Mereka mencium aroma yang enak dari arah rumah Miku.
"Hmm.. bau ini.. sepertinya seseorang sedang memasak ikan." ucap Kaito
"Tunggu sebentar, jangan-jangan..!?" sambung Kaito menyadari sesuatu.
Kaito pun langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Kaito-dono!" panggil Kamui lalu mengikuti Kaito masuk.
Saat masuk ke dalam Kaito dan Kamui terkejut melihat Meiko berada didapur dan sedang memasak saat ini. Dia memakai apron dan memasak dengan penuh keceriaan.
"Ba-bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" ucap Kaito terkejut.
"Oh.. lama tak berjumpa, Shion-san, Gakupo-san." sapa Ray yang sedang duduk santai di depan meja makan.
"Shi-Shiro Ray?!" ucap Kaito kaget melihat ada Ray disana.
"The White Light-dono. Anda kembali." ujar Kamui.
"Ya, sepertinya aku berhutang sebuah penjelasan pada kalian. Jadi aku datang kemari. Tapi sebelum itu ayo kita makan dulu." jawab Ray.
"Aku pulang." ucap Gumi dari pintu depan.
"Selamat datang.." sahut Meiko dari dapur.
"Eh, Meiko-oneesan?!" ucap Gumi terkejut melihat Meiko ada di dapur.
"Jadi bagaimana keadaan di pusat kota?" tanya Luka pada Gumi.
"Seperti biasanya, tak ada tanda-tanda mereka keluar. Disana terasa seperti kota mati." jawab Gumi.
"Begitukah." sahut Luka.
"Shir-Shiro Ray!!!??" ucap Gumi terkejut melihat ada Shiro Ray.
"Lama tak berjumpa Megupo-san." sahut Ray.
Setelah selesai makan, Ray pun menyuruh Miku dan yang lainnya berkumpul di ruang tengah.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku berhutang sebuah penjelasan pada kalian." ujar Ray membuka pokok bahasan.
"Apa ini tentang si kembar?" tanya Kaito.
"Ya, ini tentang mereka. Tentang masa lalu mereka yang aku sembunyikan dari kalian semua." jawab Ray.
"Maksudnya.. apa?" tanya Miku.
"Tentang ibu mereka yang kamu bunuh kah?" tanya Meiko sambil menatap tajam.
Semuanya tampak terkejut mendengar pertanyaan Meiko pada Ray.
"Ray-kun membunuh ibunya Rin-chan dan Len-kun?!" ucap Luka terlihat shock.
"Kalau begitu cepat jelaskan pada kami apa yang terjadi sehingga kamu sampai membunuh ibu mereka." pinta Kaito yang jadi makin serius.
"Apa kalian tahu tentang legenda The White Light yang mengalahkan 10.000 pasukan pangeran kegelapan sendirian?" tanya Ray.
"Ya, itu adalah kejadian paling terkenal selama perang nada hitam. Kenapa memangnya?" tanya Kamui.
"Sebenarnya saat itu aku tidak benar-benar mengalahkan mereka semua sendirian. Ada yang membantuku, namun dia tidak diceritakan dalam berita yang ditulis oleh pers." jawab Ray.
"Maksudmu?" tanya Gumi.
"Mungkinkah!?" ucap Luka terkejut seperti menyadari sesuatu.
"Ya, dia adalah ibu dari Kagamine Rin dan Kagamine Len." tambah Ray.
"Jadi kamu membunuhnya untuk menghentikan perang kah?" tukas Gumi.
"Tidak mungkin lah. Kalau aku membunuhnya untuk menghentikan pertempuran saat itu, aku tak mungkin sampai ditakuti oleh pasukan satanism." sanggah Ray.
"Lalu kenapa kamu membunuh ibu si kembar?" tanya Kaito.
"Tidak. Bukan itu yang terjadi. Tidak mungkin aku membunuh seseorang yang berharga dalam hidupku." jawab Ray.
"Eh, terus kenapa? Kenapa Meiko mengatakan tentang kamu yang membunuh ibu si kembar?" tanya Kaito lagi yang jadi bingung.
"Shiro Ray, jawablah yang jelas. Jangan berbelit-belit gitu." pinta Miku.
"Baiklah aku akan menjelaskannya." sahut Ray.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】