VocaWorld, chapter 170 - Harmonia Masa Lalu
Dante, Rin dan Len mulai memainkan musik mereka bersama-sama. Sebuah permainan musik rock yang begitu keras dan kasar.
"Tidak terjadi apa-apa?" komentar Luka.
"Perhatikanlah baik-baik." suruh Ray.
Perlahan dari belakang Dante, Rin dan Len muncul sosok tinggi besar dan tampak menyeramkan.
"A-apa itu?!" ucap Kamui tampak terkejut.
"Raging Golem Iron Maiden!" ucap Dante.
Dan benar saja, sosok itu mulai membentuk raksasa golem yang berwarna gelap dan menyeramkan.
"Tak kusangka mereka juga bisa menggunakan itu." komentar Ray.
"Menggunakan itu? Itu apa?" tanya Luka.
"Materize. Menciptakan sebuah makhluk menggunakan melodi." jawab Ray.
"Menciptakan makhluk menggunakan melodi? Sama seperti perempuan itu?" tanya Luka mengingat pertarungan melawan Leviathan.
"Ya, nama perempuan itu adalah Leviathan. Salah satu dari 4 komandan satanism. Jadi tidak aneh kalau dia menguasai Materize." jelas Ray.
Raksasa yang ada dibelakang band Dante semakin membesar dan akhirnya sampai ke keadaan penuhnya yaitu setingga 20 meter dan selebar 10 meter.
"Major yang waktu itu ukurannya lebih besar dari raksasa ini. Saya pasti akan membelahnya." ujar Kamui bersiap menggunakan teknik tebasan andalannya.
"Kupikir tidak semudah itu, Gaku-Gaku. Berbeda dengan Major, aku merasakan kalau mereka tak mudah dikalahkan oleh tebasanmu." sahut Gumi.
"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, Megu." balas Kamui.
Kamui pun menebaskan pedangnya ke depan menembakkan efek shockwave yang kuat. Raksasa golem itu melompat ke depan kemudian menyatuhkan kepalan tangannya dan menghantam tanah menahan efek shockwave dari tebasan Kamui.
"Tidak mungkin!?" ucap Kamui terkejut.
"Sudah kuduga." kata Gumi.
Golem itu berlari sambil melesakkan tinjunya ke Gumi dan Kamui. Gerakan golem itu sangat cepat sehingga Gumi dan Kamui pun terkejut dan tak sempat bereaksi. Namun untung saja Miku datang dan menendang tinju golem itu dari arah samping, sehingga tinju itu malah jadi menghantam gedung hingga hancur.
"Kenapa kalian malah bengong gitu? Lawan yang bener!" gerutu Miku.
Golem itu pun kini berhadapan dengan Miku, Gumi dan Kamui. Golem tersebut menyerang Miku dan yang lainnya secara membabi buta, untung saja Miku, Gumi, dan Kamui bisa mengimbangi amukan golem tersebut. Saat Golem itu kembali menyerang, Miku menghindar bersama Gumi dan Kamui untuk memberi jarak.
"Bagaimana ini? Kita butuh rencana untuk melawan makhluk mengerikan itu." ujar Gumi.
"Tapi tak ada dari kita yang bisa membuat rencana disaat seperti ini." sahut Kamui.
"Sepertinya tidak ada cara lain. Aku akan menggunakan otakku yang pintar ini untuk membuatkan kita sebuah rencana yang jenius." kata Miku.
"Terpaksa dah, kita serang sekaligus!" ucap Gumi melompat maju.
"Yeah!" sahut Kamui yang ikut melesat ke arah golem.
"Kenapa kalian tidak mendengarkanku!!?" gerutu Miku.
Namun golem itu melompat dan melewati Gumi dan Kamui begitu saja. Ternyata yang ia tuju adalah Miku.
"Eh? Eeeehhh?!! Kenapa mengarah kesini!!?" ucap Miku terkejut.
"Celaka?!" ucap Gumi yang masih melayang diudara.
Kamui yang berlari ditanah mampu berbalik kembali ke arah Miku berusaha mengejar golem itu.
"Sial, saya takkan sempat menyelamatkan Miku-dono!" ucap Kamui dalam hati.
Golem itu mengepalkan kedua tangannya kemudian bersiap menghantam Miku ke tanah. Namun Miku bergerak kedepan sedikit dan melompat ke atas. Dia meninju golem itu keatas.
"Dia menyerang sambil menghindar?!" ucap Dante dalam hati yang terkejut melihat Miku bisa melakukan hal itu.
Belum berhenti disitu, Miku membungkukan punggungnya kemudian menendang golem itu dengan kedua kakinya sementara kedua tangan Miku berada dibawah. Golem itu terpental keatas.
"Ini kesempatan saya!" ucap Kamui yang melompat sambil melaju ke depan.
Kamui kemudian menebas golem yang masih berada di udara itu sementara Miku sudah mendarat di tanah.
"Naga Terbang Membelah Langit!" ucap Kamui yang mendarat ditanah setelah menebas golem itu.
Golem itu tampak terbelah dua.
"Apa?!" ucap Dante nampak terkejut.
Dari samping tanpa disadari Dante, Gumi melesat dengan kecepatan tinggi kemudian melompat berputar dan menendang kepala Dante. Dante pun terpental jauh ke samping dan menghantam gedung.
"Master!" ucap Rin dan Len konsentrasi permainan mereka terpecah karena melihat Dante terlempar.
Rin dan Len berusaha menyerang Gumi yang berada di hadapan mereka. Namun tiba-tiba ada yang menyentuh kepala mereka.
"Selamat tidur.. Kagamine.." bisik orang yang menyentuh kepala mereka.
Kemudian Rin dan Len tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri setelah mendengar bisikan orang itu yang tak lain adalah Ray.
"Shiro Ray?!" ucap Gumi terkejut dengan Ray yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
"Oke, semuanya sudah selesai. Kita mundur!" suruh Ray.
Luka melihat ke arah Ray, dan Ray tampak mengangguk padanya memberi kode. Luka pun mengerti dan meluncurkan dua pixie dan membuat dua ledakan mirip kembang api diatas langit. Meiko dan Kaito yang sedang bertarung melawan June melihatnya.
"Itu tandanya." ucap Meiko.
Kemudian mereka berdua pun melompat pergi meninggalkan June.
"Hei jangan kabur!" ucap June.
Dante juga kembali keluar dari gedung tempat ia terlempar, namun Miku dan yang lainnya sudah menghilang.
"Sial. Sial kau Shiro Ray!!!" ucap Dante terlihat sangat kesal.
Sosok Rin dan Len pun tampak tidak ada.
Rin dan Len terbaring di sofa yang saling berhadapan di ruang tengah rumah keluarga Miku. Miku dan kawan-kawan berdiri mengelilingi Rin dan Len.
"Apa yang kamu lakukan pada mereka, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ya, kau melakukan apa pada mereka sampai mereka tiba-tiba pingsan begitu?" tanya Miku.
"Aku mengembalikan apa yang hilang dari mereka. Karena kembali secara sekaligus dan menimpa yang sudah dimanipulasi, maka tubuh mereka mengalami shock. Dan karena tidak tahan, mereka pun akhirnya tak sadarkan diri." jelas Ray.
"Seperti biasanya, penjelasanmu itu susah sekali dimengerti." komentar Gumi.
"Tapi, apa mereka akan baik-baik saja?" tanya Meiko terlihat khawatir.
"Tenang saja. Saat mereka sadar, mereka akan kembali seperti biasanya." jawab Ray.
"Syukurlah.." ucap Meiko terlihat lega.
Tak lama kemudian, Rin dan Len pun tersadar. Sebelum membuka matanya, mereka tampak menangis. Air mata yang cukup banyak mulai bercucuran melalui sela mata mereka.
Meiko yang tidak tega melihat mereka menangis langsung menghampiri tubuh Rin dan Len kemudian menggenggam tangan mereka dengan erat.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Luka pada Ray yang berada di sebelahnya.
"Mereka mengingatnya. Mereka mengingat apa yang mereka lupakan." jawab Ray.
"Oohh.." sahut Luka dengan tampak sedih menatap ke Rin dan Len.
"Ibu.." ucap Rin dan Len.
Meiko terkejut mendengar ucapan Rin dan Len.
"Ibu.. jangan tinggalkan kami.." sambung Rin dan Len.
"Tidak. Ibu tidak akan meninggalkan kalian." jawab Meiko.
"Mereka pasti menganggap Meiko-chan sebagai ibu mereka saat merasakan tangan Meiko-chan." pikir Luka.
"Benarkah? Ibu janji?" tanya Rin dan Len.
"Ya, ibu berjanji takkan pernah meninggalkan kalian. Ibu akan selalu disamping kalian. Karena itu, Rin-chan, Len-chan, tetaplah disisi ibu." jawab Meiko sambil menangis.
Perlahan si kembar itu membuka mata mereka.
"A-ada dimana ini?" tanya Len sambil bangun.
"Ibu? Dimana ibu?" tanya Rin sambil bangun.
"Ibu ada disini." jawab Meiko.
Rin dan Len pun menoleh ke arah Meiko.
"Meiko-neesan?!", "Meiko-nee?!" ujar Rin dan Len bersamaan.
"Ya.. selamat datang.." sahut Meiko.
Rin dan Len pun sadar kalau yang menjawabnya saat mereka mengigau itu adalah Meiko, dan mereka pun menangis lagi.
"Waaahh.. selamat datang lagi, adik-adikku yang manis!" ucap Miku sambil melompat ke arah Rin dan Len.
"Eh, siapa ya?" tanya Rin dan Len bersamaan.
Miku pun jatuh karena shock.
"Tidak!! Jangan bilang kalian telah melupakanku!!" ucap Miku sambil menangis.
"Hahaha.. bercanda kok, Miku-nee." sahut Len.
"Mana mungkin kami melupakan kakak bodoh kami." tambah Rin.
"Sepertinya semuanya sudah berakhir. Benarkan, Ray-kun.." ujar Luka sambil menoleh ke arah Ray.
Tapi ternyata Ray sudah tidak ada di sampingnya.
"Oh ya, Ray-niichan mana?" tanya Rin.
"Ray-nii!" panggil Len.
"Lho tadi dia ada disana, kemana perginya?" kata Miku.
"Dia lagi-lagi pergi tanpa bilang apa-apa." komentar Meiko.
"Aku akan mencarinya." ujar Gumi kemudian berlari keluar.
"The White Light-dono sangatlah menyusahkan ya." ujar Kamui.
"Tapi walau begitu dia lebih berguna daripada pemalas sepertimu." sahut Kaito.
"Apa kalian lapar? Mau menu apa untuk makan malam nanti?" tanya Meiko.
"Kare!" jawab Miku, Rin dan Len bersamaan.
"Oke, makan malam kali ini adalah kare. Kaito, bantu aku!" sahut Meiko kemudian menyuruh Kaito membantunya.
"Baiklah." balas Kaito sambil tersenyum malas.
Gumi berlari-lari mencari Ray. Dan tak lama, dia mampu melihat Ray berjalan dengan santai membawa pancingan. Ray pun turun ke pematang sungai dan duduk disana. Gumi memperlambat larinya dan berhenti dibelakang Ray.
"Ternyata mau mancing doang. Kupikir dia mau menghilang lagi." gumam Gumi.
"Aku sudah berjanji ke Megurine-san kalau aku takkan meninggalkannya lagi, jadi tenang saja." ujar Ray.
"Darimana kamu tahu ini aku!?" tanya Gumi dengan terkejut.
"Tidak, aku tidak tahu kamu siapa. Memangnya tadi aku menyebutkan namamu?" jawab Ray.
Gumi kembali terkejut dengan jawaban Ray.
"Jadi ada apa kamu menyusulku kemari?" tanya Ray.
"Si kembar nyariin kamu tuh. Apa kamu tidak mau menyapa mereka?" jawab Gumi kemudian bertanya balik.
"Aku bisa menyapa mereka kapan saja setelah ini. Aku hanya tak ingin mereka banyak bertanya padaku untuk saat ini." jawab Ray.
"Memangnya apa yang akan mereka tanyakan padamu?" tanya Gumi penasaran kemudian duduk di sebelah Ray.
"Aku punya beberapa kemungkinannya. Tapi aku menghindari yang paling terburuk diantaranya." jelas Ray.
"Seperti biasanya penjelasanmu membingungkan." komentar Gumi.
"Megupo-san sendiri kenapa masih menutup diri seperti itu?" tanya Ray.
"Menutup diri? Apa maksudmu?" tanya balik Gumi.
"Aku yakin Dante pernah mengajakmu duet sewaktu festival budaya waktu itu. Tapi karena alasan masa lalu, Megupo-san menolaknya. Benar kan?" jawab Ray.
"Da-darimana kamu tahu hal itu?" tanya Gumi terkejut.
"Sudah lama aku mengenal Dante, mana mungkin aku tidak mengerti perasaannya saat menyerangku waktu itu." jawab Ray.
"Orang yang jahat akan selamanya di cap jahat meskipun saat ini dia melakukan hal baik!" ucap Dante dalam ingatan Ray.
"Kamu takkan pernah melangkah maju jika terus terjebak di masa lalu. Untuk melihat masa lalu cukuplah dari cermin, tak perlu menyelaminya sedalam itu." sambung Ray.
"Ta-tapi kan.." sahut Gumi dengan wajah sedikit memerah.
"Tapi kenapa lagi?" tanya Ray sambil memiringkan kepalanya.
Gumi pun enggan menjawab dan malah menjauhkan padangannya dari Ray dan melihat ke bawah dengan wajah memerah.
"Tunggu sebentar, jangan bilang kamu..", "Whoaa.. tidak kok! Tidak mungkin! Aku tidak sedang-.." potong Gumi pada perkataan Ray kemudian menutup mulutnya sendiri.
"'Tidak sedang'? Tidak sedang apa?" tanya Ray sambil memiringkan kepalanya.
"Ah bukan apa-apa. Lupakan saja!" sahut Gumi berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Gumi pun langsung diam berhenti bicara, sementara Ray hanya menghela napas.
"Dante itu selalu kesepian. Dia terjatuh dalam kegelapan sendirian. Tapi dia selalu berusaha untuk semangat selama orang-orang disekitarnya terus ada menemaninya. Jika orang yang penting baginya dilukai, maka dia akan jadi orang pertama yang marah. Dia tidak jahat, dia hanya kesepian." jelas Ray.
"Kesepian?" ucap Gumi sambil menoleh ke arah Ray.
"Karena perasaan sepi, seseorang akan melakukan apapun untuk menarik perhatian orang-orang. Bukankah itu yang selalu terjadi?" sambung Ray.
Gumi pun menunduk karena mengerti maksud Ray. Ray pun memegang kepala Gumi.
"Karena itu, jadilah orang yang menyelamatkannya dari kesepian. Jadilah orang yang benar-benar menyelamatkannya." tambah Ray.
Gumi melirik ke arah Ray dan menatap wajahnya yang tampak serius melihat ke arah sungai.
"Pantas saja Luka-oneesama jatuh cinta pada orang ini. Berada di dekatnya membuat hatiku merasa sangat nyaman." ujar Gumi dalam hatinya.
Sekitar 5 tahun yang lalu di bumi tengah, ada sebuah kota kecil yang damai dan tentram. Sebuah kota yang diperintah oleh seorang ratu. Ratu yang cantik berambut pirang bernama Ellen. Saat itu, sebuah pasukan besar milik Pangeran Kegelapan sedang menuju ke kota itu. Pasukan yang dipimpin langsung oleh Dante itu berniat menjatuhkan kota perbatasan itu.
"Pokoknya siang ini kita harus sudah menjatuhkan mereka!" ucap Dante yang masih berusia 10 tahunan itu di pesawat singgasana nya.
"Tuan Lucifer, ratu disana terkenal dengan nyanyian perang nya. Apa kita bisa mengalahkannya?" tanya seorang berseragam kapten.
"Tenang saja. Jumlah pasukan kita lebih dari 10.000. Kita pasti menang." jawab Dante dengan percaya diri.
"Memang benar sih, tapi bagaimana kalau tiba-tiba muncul seseorang yang sangat hebat sampai-sampai bisa menghabisi 10.000 pasukan sekaligus?" tanya kapten itu yang terlihat khawatir.
"Magna, berhentilah berpikiran negatif seperti itu. Kalau sampai orang seperti itu muncul, kita tinggal turun tangan saja kan sebelum dia menghabisi seluruh pasukan kita." jawab Dante.
"Be-benar juga." sahut kapten yang ternyata bernama Magna itu.
"Daripada khawatir pada hal seperti itu, lebih baik kita berikan ucapan halo pada mereka." ujar Dante sambil memasang kuda-kuda.
Dari kepalan tangannya muncul api hitam. Dante pun memukulkan tangannya kedepan menembakan bola api hitam yang lumayan besar ke arah kota yang jauh ada didepannya. Bola api hitam itu pun jatuh di pusat kota tepat mengenai patung di tengah air mancur hingga hancur berkeping-keping bersama beberapa bangunan disekitarnya. Hal itu pun memicu kepanikan warga yang menyaksikannya.
"Kita diserang! Kita diserang!" teriak seorang laki-laki yang kelihatannya seorang prajurit berlari-lari masuk ke dalam istana.
Di singgasana nya, ratu Ellen tampak sedang duduk membaca buku. Di pangkuan sang ratu, tampak sepasang anak kembar duduk mendengarkan ibunya itu membacakan cerita.
"Yang mulia! Gawat yang mulia! Gawat!!" ucap seorang prajurit tiba-tiba saja masuk dan membuka pintu.
Kedua anak kembar itu terkejut dan menyundul dagu ibunya. Ellen pun kesakitan dan langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu pula kedua anaknya yang kepalanya juga kesakitan.
"Ada apa sih ngagetin?" tanya Ellen.
"Kita diserang! Kita diserang oleh pangeran kegelapan!" jawab prajurit itu.
"Apa?! Pangeran kedelapan?!" sahut Ellen.
"Ayolah ratu, ini bukan saatnya bercanda.." ujar prajurit itu.
"Ibu.. pangeran kegelapan itu apa? Apa sejenis biskuit?" tanya salah satu anaknya.
"Ya begitulah. Tapi rasanya pahit." jawab ibunya dengan senyuman polos.
"Yah kalau tidak enak aku tidak mau deh." sahut anaknya itu.
"Segera siapkan seluruh pasukan yang ada. Kita akan memberi perlawanan sebisa kita sampai para warga mengungsi." suruh Ellen dengan suara pelan.
"Baik ratu." sahut prajurit itu kemudian pergi keluar dari ruangan.
Sementara di gerbang sebelah timur kota, ada seorang anak laki-laki memasuki kota tersebut. Seorang anak laki-laki berambut hitam pendek dengan kaos hitam dan celana pendek belang hitam putih kotak-kotak mirip bendera finish.
"Kota ini kah selanjutnya. Maaf saja, tapi sepertinya aku harus menghentikanmu lagi, Pangeran Kegelapan." ujar anak laki-laki yang tak lain ada Ray muda itu.
Seluruh pasukan kerajaan yang jumlahnya hanya sekitar 1.000 orang itu sudah bersiap didepan benteng dan membuat barikade untuk menahan pasukan Pangeran Kegelapan.
"Kita berkumpul disini bukan untuk bermain gapleh! Kita disni bukan untuk bermain cangkulan! Tapi kita disini untuk berperang! Berperang untuk melindungi benteng yang melindungi orang-orang didalamnya! Kita tak boleh kalah! Kita adalah prajurit yang siap! Jangan biarkan satupun dari mereka lewat!!!" ucap kapten pasukan itu.
"Wah-wah.. sepertinya mereka berniat menahan kita dengan pasukan yang jumlahnya hanya 1/10 dari kita. Berani juga mereka." komentar Dante yang melihat melalui teropong.
"Tentu saja mereka berani, tuan. Mereka punya nyanyian perang yang membuat penyerangan kita beberapa kali gagal meskipun jumlah kita lebih banyak. Kita dibuat harus memakai jalan memutar untuk sampai ke kota selanjutnya." jelas Magna.
"Beneran?" tanya Dante.
"Ya beneran lah. Tuan lupa kalau tuan sudah pernah beberapa kali memerintahkan pasukan menduduki kota tersebut dan gagal?" jawab Magna.
"Hahaha.. maaf aku tidak ingat dengan kejadian-kejadian yang kurang penting menurutku." sahut Dante sambil tertawa bego.
"Tapi yang membuatku heran adalah, beberapa bulan ini pasukan-pasukan kecil yang kita utus ke kota-kota di wilayah timur satu persatu menghilang. Entah apa yang terjadi." ujar Magna tampak berpikir.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang penting sekarang kita akan menghancurkan kota yang selama ini menghalangi jalan kita ke wilayah timur." sahut Dante.
"Ya, tuan benar juga." balas Magna.
Kemudian pasukan Pangeran Kegelapan pun berhenti sejenak di tanah lapang itu.
"Aku Lucifer. Aku datang kemari untuk menghancurkan kota kalian. Apapun perlawanan yang kalian lakukan akan sia-sia. Jadi, jika ingin memperpanjang umur silahkan tinggalkan kota itu dengan segera." ujar Dante dengan lantang dari pesawatnya.
"Ha! Kau pikir bisa mengalahkan kami dengan mudah hah!" sahut kapten dari pasukan penjaga kota itu.
"Mudah saja kok." jawab Dante kemudian membuat sebuah bola api hitam besar berukuran 10 kali bola basket di telapak tangannya.
"Apa itu?!" ucap kapten pasukan tadi terkejut.
Dante lalu melemparkan bola api itu ke arah pasukan dihadapannya. Hampir separuh dari jumlah pasukan pun terkena ledakan bola api itu.
"Di-dia menghancurkan separuh pasukan sekali serang?!" ucap kapten itu semakin terkejut.
"Ups! Sepertinya aku terlalu banyak membunuh mereka. Ini jadi tidak seru." kata Dante.
"Cih, sialan!" ucap kapten itu tampak geram.
"Ada apa menatapku seperti itu? Tenang saja tak perlu kesal, kalian akan segera menyusul mereka!" ujar Dante dengan tatapan iblis.
"Pasukan serang!" suruh kapten pasukan penjaga gerbang.
"Pasukan hancurkan mereka!" perintah Magna.
Kedua belah pasukan yang jumlah sangat jauh berbeda itu pun saling bertubrukan. Ada beberapa dari mereka yang menggunakan pedang, ada juga yang menggunakan senjata api, tapi ada juga yang menggunakan tangan kosong. Mereka saling membantai dalam pertempuran yang mengerikan itu. Diatas menara yang tinggi sang ratu berdiri. Ellen menarik napas panjang kemudian mulai membuka mulutnya. Ellen mulai bernyanyi dengan suara indah nan merdu mirip penyanyi opera.
"Itukah nyanyian perang yang terkenal itu. Hmm.." ucap Ray sambil melihat kearah menara.
Lalu Ray memejamkan matanya. Dia mendalami melodi itu dan dia pun akhirnya merasakan sesuatu.
"Oh.. begitu rupanya." ucap Ray lalu membuka matanya lagi.
Ray pun menghampiri menara itu dan masuk kedalamnya. Sementara itu di medan pertempuran terlihat pasukan penjaga gerbang mengamuk menghancurkan setiap musuh disekitarnya.
"Yang benar saja! Kenapa mereka jadi sekuat itu!?" ucap prajurit yang sedang melawan salah seorang dari pasukan penjaga gerbang.
"Whoaa!!" teriak pasukan Pangeran Kegelapan yang terlihat ketakutan.
"Inikah kekuatan dari nyanyian perang?" gumam Magna melihat pasukan barisan depan panik.
Dalam medan perang itu terlihat pasukan penjaga gerbang terus menekan pasukan pangeran kegelapan.
"Kalau begini terpaksa akan kugunakan kekuatanku untuk membantu. Aku adalah Magna, kapten pasukan ini yang menguasai kekuatan terbesar dibumi. Kekuatan yang disebut magnet." ujar Magna sambil membuka telapak tangan kanannya ke arah pasukan penjaga gerbang.
"Press!" ucap Magna sambil sedikit menurunkan telapak tangannya kebawah.
Kemudian para pasukan penjaga gerbang itu langsung ambruk terbaring ditanah. Mereka meringis kesakitan seperti ditekan oleh sesuatu yang sangat berat.
"Itu adalah 'press', kekuatan milik kapten Magna. Kapten terkuat diantara kapten yang lain. Itu adalah kekuatan yang mampu mendorong segala benda yang ingin di dorong dengan tekanan sebesar apapun yang diinginkan oleh pemilik kekuatan tersebut. Benar-benar kekuatan yang mengerikan." komentar salah seorang dari pasukan pangeran kegelapan yang ada di baris depan.
"Dan sekarang, Break!" ucap Magna kemudian mengepalkan tangannya.
Dan tubuh orang-orang yang terkena 'press' pun terlihat seperti diremas. Darah muncrat keluar dan tubuh mereka ringsek.
"A-apa yang terjadi?!" ucap Ellen terkejut melihat pasukannya tewas semuanya dalam sekejap.
"Tak perlu sekaget itu." ujar Ray dari belakang Ellen.
Ellen terkejut mendengar suara anak laki-laki dari belakangnya dan dia pun menoleh kebelakang.
"Siapa kamu?" tanya Ellen terkejut melihat Ray.
"Perkenalkan, namaku adalah Shiro Ray. Aku berasal dari timur jauh. Aku kemari untuk membantumu, nona." jawab Ray.
"Membantuku? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untuk membantuku?" tanya Ellen lagi tampak ragu.
"Hmm.. misalnya dengan mengusir 10.000 orang yang sedang tawuran disana itu." jawab Ray sambil melirik pasukan pangeran kegelapan yang hendak memasuki kota.
"Eh?! Kamu?!" ucap Ellen tidak percaya.
"Ya, karena itu cobalah bantu aku dengan melody of harmoni milikmu." pinta Ray kemudian memakai earohpoid nya.
"Start up! Vocaloid system: on! Power: 100% Light up!!!" ucap Ray lalu tubuh dan pakaiannya menjadi putih dan semakin lama semakin bersinar terang.
Ray menghilang dari hadapan Ellen dan tiba-tiba muncul diantara pasukan pangeran kegelapan barisan depan. Kemunculannya membuat efek kejut yang mampu melibas habis pasukan disekitarnya dalam radius 100 meter.
"A-apa itu?!!" ucap pasukan pangeran kegelapan terkejut dengan kedatangan sosok putih itu tiba-tiba.
Beberapa saat kemudian cahaya putih yang menyelimuti Ray perlahan meredup dan nampaklah dia memakai kaos biru dengan motif petir berwarna putih dan celana pendek putih.
"Siapa dia?" tanya Dante.
"Saya juga tidak tahu, tuan." jawab Magna.
"Nah, sepertinya disini sepi sekali. Rasanya bosan kalau tidak ada musik. Mungkinkah aku harus memainkan beberapa nada sebagai BGM?" ujar Ray sambil mengangkat tangannya.
"Instrument: Thundergod Guitar!" ucap Ray dan muncul lah petir menyambar ke dirinya.
Tanahnya terlihat hancur terkena sambaran petir itu, dan kemudian ditangan Ray muncul sebuah gitar elektrik.
"Jangan diam saja! Serang!" suruh Magna pada pasukannya.
Pasukan yang mengelilingi Ray pun mulai berlari ke arah Ray untuk mengeroyoknya.
Semua pasukan yang berada di sekeliling Ray langsung bergerak menuju ke arah Ray. Ray dikepung dan tak bisa pergi kemana-mana lagi saat itu.
"Apa dayaku, kalau diserang dari segala arah seperti ini.." kata Ray terlihat menyetel gitarnya.
"Aku hanya tinggal menyerang ke segala arah!" sambung Ray kemudian memainkan sebuah nada dan aliran listrik tegangan tinggi pun menyambar ke segala penjuru.
Aliran listrik itu membabat habis semua yang ada di jalurnya, bahkan tanah ikut terangkat akibat kuatnya aliran listrik tersebut.
"Kekuatan macam apa itu?! Apa dia juga pemilik nada hitam alami sepertiku." ujar Magna terkejut melihat kekuatan Ray.
Ray melihat ke arah Ellen sambil berdiri dengan gagahnya diantara para pasukan yang ambruk.
"Kenapa dia melihat kemari? Oh, benar juga tadi dia memintaku membantunya. Etto.. dengan melody of harmony kalau tidak salah. Tapi.. apa maksudnya? Mungkinkah itu caranya menyebut nyanyian perangku?" gumam Ellen.
Ellen pun mengangguk tanda mengerti permintaan Ray. Kemudian Ellen mulai bernyanyi lagi dengan suara merdunya. Nyanyian perang yang membuat merinding saat mendengarnya. Ray memejamkan matanya dan mulai merasakan ada energi yang sangat kuat mengalir ke dirinya.
"Hmm.. sudah kuduga. Begini cara kerja melody of harmony." ujar Ray dalam hatinya sambil tetap memejamkan matanya.
Perlahan tubuhnya diselimuti cahaya berwarna-warni.
"Lightning Edge Divider!" ucap Ray melempar gitar nya ke angkasa.
Kemudian Ray berjalan ke depan dengan santai menghampiri ribuan pasukan tanpa ragu sedikitpun. Tak lama kemudian gitar Ray jatuh dibelakang Ray dengan badan gitar nya mendarat terlebih dahulu dan menghancurkan tanah. Lalu muncul 2 dinding petir yang membatasi bagian kiri dan kanan dan semakin menjauh dari gitar semakin lebar.
"Dengan begini, berapapun jumlah pasukannya tidak jadi masalah bagiku. Jadi, ayo kita mulai pertunjukkannya." kata Ray dengan tangan kirinya nya dilipat dibelakang punggung.
Di pesawatnya, Dante tampak kebingungan begitu pula Magna. Dari atas tampak dinding petir milik Ray benar-benar membatasi pergerakan pasukan pangeran kegelapan.
"Bagaimana ini, tuan? Sepertinya dia kuat sekali. Ditambah sekarang dia dibantu oleh nyanyian perang juga. Apa kita akan menang?" tanya Magna terlihat panik.
"Jangan tanya aku. Aku juga bingung nih." jawab Dante yang terlihat mulai pusing berpikir.
Pasukan pangeran kegelapan terlihat terus-terusan menyerang Ray dari depan secara bertubi-tubi tanpa henti, tapi dengan menyamakan gerakannya dengan irama nyanyian Ellen, Ray mampu mengalahkan setiap orang yang mengalahkannya.
"Kita benar-benar dibantai, tuan. Kalau begini terus kita bisa kalah." ujar Magna.
"Iya, aku juga tahu." sahut Dante terlihat kesal melihat jalannya perang.
"Apa kita harus turun tangan?" tanya Magna.
"Kita belum tahu kekuatan sebenarnya dari musuh kita. Memangnya kau sudah yakin ingin melawannya? Tapi jika kamu yakin maka akan kuijinkan kau melawannya." jawab Dante.
"Ti-tidak begitu juga lah, tuan. Setidaknya tuan berikanlah bantuan. Masa cuma saya saja sendirian." tolak Magna.
"Ya tenang saja. Nanti aku kasih support dari sini." jawab Dante.
"Oh.. beneran?" tanya Magna.
"Ya beneran." sahut Dante.
"Baiklah kalau begitu." balas Magna kemudian melompat turun dari pesawatnya.
Pasukannya terlihat sudah terbantai lebih dari separuhnya oleh Ray yang hanya sendirian dan melawan dengan tangan kosong.
"Lift!" ucap Magna sambil mengerakan ke empat jarinya ke atas.
Ray pun terangkat ke atas.
"Ada apa ini?" ucap Ray saat tubuh nya tiba-tiba melayang.
"Press!" tambah Magna membalikan tangannya kemudian menekan kebawah.
Ray yang tadi terangkat seketika jatuh kebawah dengan kecepatan tinggi.
"Begitu rupanya." kata Ray dalam hati.
Tanah pun hancur terkena efek hantaman dan asap debu mengepul ke atas.
"Berhasil kah?" ucap Magna terlihat masih siaga.
Saat asap debu memudar, nampak Ray berdiri dengan santai seperti tak terjadi apa-apa. Dia bahkan tak tergores sedikitpun.
"Apa?!" kata Magna dengan wajah terkejut.
"Kekuatan magnet kah? Mudah sekali. Magnet hanyalah mainan untukku." ujar Ray dengan tatapan sayu nya.
"Cih, bagaimana aku bisa melawan orang semacam dia." pikir Magna.
"Dia hebat." puji Ellen yang memperhatikan dari menara.
Ellen pun melanjutkan nyanyiannya yang sempat terhenti karena takjub melihat Ray yang begitu hebat.
"Bagaimana dengan ini?" ujar Magna kembali membuka telapak tangannya ke arah Ray.
"Break!" sambung Magna meremas tangannya.
Namun tak terjadi apa-apa pada Ray. Ray hanya menatap Magna dengan malas seperti sudah bosan. Ray kemudian melesat dengan cepat dan dalam sekejap sudah ada di hadapan Magna. Dia menangkap lengan Magna kemudian membanting Magna dengan bantingan judo.
"Sebaiknya kamu menyerah sebelum kamu terbunuh disini. Aku tak ingin mengotori tanganku dengan darah." ujar Ray berdiri menatap Magna yang terbaring ditanah.
"Jangan sombong! Press Wave!" teriak Magna membuah sebuah bola menyelubungi tubuhnya yang melebar dengan cepat.
Pasukannya sendiri ikut tertekan kebelakang, dan sebagian menghantam dinding petir Ray hingga terpental ke atas. Namun Ray sama sekali tidak terpengaruh, dia masih berdiri di tempat yang sama.
"Ti-tidak mungkin?! Bagaimana bisa kau.." ucap Magna kembali terkejut.
"Bukankah sudah kukatakan, magnet hanyalah mainanku. Dengan kekuatan listrik, aku bisa membuat atau meniadakan magnetisme suatu benda. Mengerti?" jelas Ray.
Mendengar penjelasan Ray, Magna semakin terkejut karena barus sadar kalau dirinya sama sekali bukan apa-apa dibandingkan anak dihadapannya saat ini.
"Tapi aku takkan menyerah semudah itu. Aku tidak mungkin disebut kapten terkuat tanpa alasan." ujar Magna kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Black Hole!" sambung Magna kemudian membuat sebuah titik hitam kecil yang makin lama makin membesar.
Bola hitam itu kini sebesar bola voli dan stabil. Namun kemudian bola tersebut mulai menghisap apapun yang ada disekitarnya hingga menghilang. Tapi sayangnya Ray tetap tidak terpengaruh.
"Tuan Lucifer, katanya mau beri support! Ayo sekarang! Saya sedang butuh bantuan anda sekarang!" pinta Magna.
"Go! Go! Magna Go!" ucap Dante bagaikan pemandu sorak.
"Maksud saya bukan support yang itu!!" bentak Magna.
Semakin lama hisapan bola hitam itu semakin kuat dan akhirnya bahkan bisa menghisap tanah disekitarnya.
"Wire: On!" ucap Ray menjertikkan jarinya.
Lalu tubuh Magna tersambar listrik tegangan tinggi sehingga bola hitam nya pun pecah dan menghilang. Magna ambruk dan lemas akibat sengatan listrik. Ray kemudian beralih memandang ke arah pesawat yang melayang tak jauh dari situ.
Ray dan Dante saling berhadapan untuk pertama kalinya. Dante melompat turun dari pesawatnya untuk melihat Ray lebih dekat agar tahu seperti apa orang yang membantai pasukannya dan mempermalukannya seperti itu.
"Hebat sekali. Kamu bisa mempermalukanku sampai seperti sekarang. Belum pernah sebelumnya pasukan yang dipimpin langsung olehku gagal dalam pertempuran." ujar Dante berhenti saat merasa cukup dekat untuk melihat wajah Ray.
"Baguslah kalau begitu, berarti ini sebuah kemajuan." sahut Ray.
"Haha.. ternyata kau punya lidah yang tajam sekali." balas Dante.
"Terima kasih." kata Ray.
"Itu bukan pujian." bantah Dante.
"Jadi saat ini kamu mau menyerah, Pangeran Kegelapan?" tanya Ray.
"Menyerah? Haha.. kau lucu sekali. Tapi sayangnya tak ada kata menyerah dikamusku." jawab Dante.
"Kalau begitu tambahkan dong." balas Ray.
"Cih, kau menyebalkan juga ternyata." ucap Dante.
"Terima kasih." kata Ray.
"Itu juga bukan pujian." bantah Dante.
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Kita mulai saja!!!" pekik Dante mengepalkan kedua tangannya dan tampak api menyelimuti kedua kepalan tangannya.
"Oke." sahut Ray.
Pertarungan diantara mereka berdua pun tak terhindarkan. Mereka bertarung dengan sengit. Dante melancarkan tinjunya bertubi-tubi ke arah Ray. Namun Ray mampu menghindari setiap tinju Dante sekaligus tembakan api yang terlempar karenanya.
"Kenapa hanya menghindar saja! Ayo serang aku!" tantang Dante.
"Baiklah." sahut Ray kemudian menangkap pergelangan tangan Dante.
Ray berputar dan membanting tubuh Dante dengan bantingan Judo. Ray mundur kebelakang untuk memberi jarak. Dante bangkit lagi.
"Hanya itu saja?" tanya Dante yang terlihat tidak terlalu terpengaruh bantingan Ray.
"Ya, hanya gerakan itu saja yang aku ketahui sampai saat ini." jawab Ray.
"Lemah!" bentak Dante kemudian menembakan api hitam dari 10 jari tangannya sekaligus.
Ray bergerak dan bermanuver menghindari setiap peluru api hitam itu kemudian akhirnya sampai dihadapan Dante. Tapi tiba-tiba dia mundur lagi ke arah lain.
"Eh, dia tidak menyerangku?" ucap Dante dalam hati heran.
Dante kembali menyerang Ray, namun Ray menghindar kesana kemari dengan gerakan yang aneh. Dengan cepat Dante pun berusaha mengejar Ray, namun Ray menyentuh dadanya dan mendorongnya dengan kuat. Dante terdorong kebelakang namun kakinya masih bisa mendarat dan menahan.
"Haha.. hanya itu saja?" tanya Dante.
Kemudian Dante mengangkat tangan kirinya ke atas. Terbentuklah sebuah bola api hitam raksasa ditangannya.
"This is the end! I'll show you! Wire of Last Stand! On!!!" teriak Ray kemudian menjertikan jarinya.
Nampak beberapa titik bercahaya tersambung satu sama lain dengan jalur listrik. Titik-titik cahaya yang berada di sekeliling Dante itu saling menyambung bagaikan sirkuit listrik mendekat menuju ke Dante.
"A-apa ini?!" ucap Dante kemudian melompat ke atas karena merasaka sesuatu yang buruk akan terjadi padanya kalau diam terus.
Namun sia-sia, ternyata jalur listrik itu tetap menyambung padanya.
"Apa?!!" ucap Dante terkejut.
Dan sebuah petir raksasa pun tercipta menjulang tinggi ke angkasa. Petir putih yang begitu menyilaukan cahayanya. Cabangnya merambat dilangit bagaikan sebuah pohon putih raksasa.
"Cahaya putih." ucap setiap orang yang melihatnya dari dekat ataupun jauh.
Petir yang berdiri tegak di medan perang perlahan mulai menghilang. Dan nampaklah sosok Dante terbujur kaku di tengah kawah yang terbentuk akibat sambaran petir. Ray berjalan mendekati Dante yang terbaring tak berdaya.
"Jadi, apakah kamu akan menarik mundur pasukanmu dan kabur? Atau mau menyerah disini dan membiarkanku mengurus semuanya?" tanya Ray sambil menunduk melihat ke arah Dante.
"Si-sial.. siapa kau sebenarnya?" tanya balik Dante yang masih terbaring lemas.
"Siapapun aku, itu tidak terlalu penting. Lagipula aku sudah mengalahkanmu." jawab Ray.
"Cih, kurang ajar. Tapi sayang aku takkan menyerah disini. Karena itu, aku akan memilih kabur dan menarik mundur pasukan yang tersisa." ujar Dante sambil tersenyum.
Tubuh Dante perlahan terangkat keudara. Ternyata diatasnya ada sebuah pesawat yang tak lain adalah pesawat yang membawa singasana nya.
"Oohh.. jadi pesawat itu juga bisa melakukan hal semacam itu. Kendaraan yang menarik." komentar Ray.
"Pasukan! Mundur sekarang!" suruh Dante kemudian pergi dengan pesawatnya.
Para pasukannya yang masih tersisa pun terlihat mundur.
"Dia membiarkannya pergi? Kenapa?" gumam Ellen terlihat heran.
"Kekuatanku sudah tinggal sedikit. Tak kusangka serangan tadi menghabiskan begitu banyak energi." ujar Ray dalam hatinya kemudian terlihat lega dengan perginya Dante dan pasukannya.
Ray kemudian berjalan dan mengembalikan wujudnya ke wujud semula. Dia kembali ke kota dan sampai di gebarng benteng kota. Namun saat sampai di gerbang dia jatuh terduduk di pintu gerbang dan terlihat kelelahan. Lalu Ray pun tertidur di pintu gerbang tersebut.
"Hei kamu tidak apa-apa? Hei!" ucap Ellen berusaha menyadarkan Ray.
Namun Ray tetap menutup matanya dan tertidur karena terlalu kelelahan. Saat Ray membuka matanya kembali, dia sudah berada di sebuah ruangan dengan hiasan yang indah.
"Ada dimana aku?" tanya Ray sambil perlahan melihat-lihat ruangan tersebut.
Sepertinya itu adalah sebuah kamar yang sangat mewah. Dan pintu pun terbuka lalu muncul seorang perempuan anggun berambut pirang panjang nan cantik jelita. Sambil tersenyum perempuan itu menghampiri Ray yang masih terbaring di ranjang itu.
"Kamu sudah sadar? Syukurlah.." ucap perempuan yang tak lain adalah Ellen itu.
"Oohh.. nona ratu. Anda kah yang membawa saya kemari?" tanya Ray.
"Ya.. kulihat kamu kelelahan jadi aku bawa kamu kemari. Terima kasih telah menolong kami mengalahkan Pangeran Kegelapan.Kalau tidak ada kamu.. pasti kota ini sudah.." ujar Ellen tampak sedih.
"Tak usah dipikirkan. Seharusnya aku juga datang lebih cepat." sahut Ray yang ternyata menyadari mayat-mayat pasukan penjaga gerbang di medan pertempuran.
"Tapi kenapa kamu melepaskan Pangeran Kegelapan?" tanya Ellen.
"Kamu lihat sendiri kan? Aku sudah sangat kelelahan. Setelah bertarung melawan ribuan pasukan dan pangeran kegelapan, stamina tubuh asliku benar-benar terkuras habis. Ditambah energiku juga sudah banyak terpakai. Jadi meskipun aku berusaha menghentikannya sekalipun sudah pasti dia akan bisa kabur." jelas Ray.
"Benar juga. Setiap orang selalu memiliki batasannya masing-masing." sahut Ellen.
Tak lama kemudian masuk 2 orang anak kecil ke kamar tersebut. Dia langsung menghampiri Ellen dan memeluknya.
"Perkenalkan, mereka adalah anakku. Mereka kembar. Namanya Rin dan Len." ucap Ellen memperkenalkan mereka.
"Oohh.. mereka lucu-lucu ya, mirip ibunya." ujar Ray saat melihat Rin dan Len yang masih kecil itu.
"Hah? Kau mau menggodaku? Maaf itu takkan berguna. Aku tak tertarik pada bocah sepertimu." sahut Ellen.
"Eh, menggoda nona? Buat apa? Aku tak ada niatan menggodamu. Aku kan hanya mengatakan kalau mereka mirip denganmu." jelas Ray.
"Be-begitukah?" ucap Ellen heran.
"Celaka?!! Kenapa ini seperti aku berharap dia menggodaku? Ada apa dengan bocah ini? Karisma nya membuatku berpikiran aneh seperti ini, padahal dia masih kecil." pikir Ellen jadi malu.
"Ibu kenapa? Kok wajahnya merah?" tanya Len.
"Ibu sakit?" tanya Rin.
"Tidak kok. Ayo kita keluar. Jangan sampai kita mengganggu istirahat kakak ini. Dia yang sedang sakit sekarang." jawab Ellen membujuk kedua anaknya untuk keluar ruangan.
"Kakak tampan itu sedang sakit?" tanya Rin.
"Sakit apa?" tanya Len.
"Hush! Tidak sopan menanyakan sakit seseorang." jawab Ellen membawa Rin dan Len keluar ruangan.
"Mungkin aku harus diam di kota ini sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalananku." ujar Ray setelah Ellen dan kedua anaknya keluar dari kamar tersebut.
Kemudian Ray memejamkan matanya.
Ray yang sudah merasa baikan berjalan-jalan di sekitar istana. Dan akhirnya dia menemukan sebuah taman bunga di halaman tengah istana. Ray berjalan menyusuri jalan setapak di taman bunga itu.
"Semua bunga ini begitu terawat. Sepertinya penjaga kebun nya bekerja dengan sangat baik." ujar Ray sambil jongkok melihat sebuah bunga yang sedang mekar.
Lalu saat Ray sedang berjongkok, dia melihat 2 orang anak berlari lewat dibelakangnya. Mereka nampaknya sedang bermain kejar-kejaran. Wajah mereka terlihat ceria sekali.
"Sama seperti bunga disini, sepertinya mereka juga dirawat dengan baik." sambung Ray sambil berdiri kembali.
"Maksudmu oleh tukang kebun?" sahut Ellen yang ternyata ada dibelakang Ray.
"Tentu saja bukan. Pastinya oleh ibu mereka kan." jawab Ray melirik ke arah Ellen yang berjalan ke sampingnya.
"Oh.. terima kasih.." balas Ellen sambil tersenyum.
"Apa sulit mengurus dua orang anak sendirian?" tanya Ray.
"Hmm.. tidak juga. Eh, tunggu.. darimana kamu tahu aku mengurus mereka sendirian?" jawab Ellen kemudian bertanya balik.
"Pastinya semua orang akan berkata seperti itu. Karena sejak tadi aku berkeliling di sekitar istana aku tidak melihat sosok ayah mereka alias sang raja." jawab Ray.
"Hmm.. begitu ya.." sahut Ellen kemudian tampak murung.
"Memangnya ada apa dengan ayah mereka?" tanya Ray.
"Se-sebenarnya ayah mereka.. tidak ada." jawab Ellen sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Hah? Maksudnya dengan tidak ada?" tanya Ray lagi.
Ellen diam tidak memberi jawaban dan hanya menundukkan kepalanya.
"Sepertinya dia tidak mau menjawabnya. Pasti terjadi sesuatu yang buruk dimasa lalu." pikir Ray saat melihat Ellen seperti itu.
"Maaf.. sepertinya aku terlalu banyak bertanya tentang masalah pribadi anda, nona ratu." ujar Ray.
Ray berjalan-jalan di sekitar kota dan memasuki sebuah pasar. Pasar itu terlihat sepi dan tampak ada satu pedagang buah sedang membereskan dagangannya ke dalam kotak.
"Sepertinya saat ini mereka masih berkabung dengan kematian para prajurit yang menjaga kota ini di peperangan kemarin." gumam Ray berjalan menghampiri pedangan buah itu.
"Permisi, aku mau beli buahnya boleh?" tanya Ray ke pedagang itu.
"Oh.. tuan pahlawan, anda mau buah? Mau buah apa?" sahut pedagang tersebut.
"Hmm.. yang ada aja. Aku tak mau membuat paman repot kotak-kotak yang lain." jawab Ray.
"Ooohh.. begitukah. Hahaha.. tuan pahlawan memang baik. Ini.." ujar pedagang itu sambil tersenyum menyodorkan sekantung jeruk mandarin dan satu sisir pisang.
"Hmm.. jadi berapa semuanya?" tanya Ray.
"Oh.. tidak perlu bayar. Ini saya berikan pada tuan." jawab pedagang itu sambil tetap tersenyum.
"Hah? Paman yakin?" sahut Ray terlihat heran.
"Ya, ambil saja. Ini sebagai rasa terima kasih saya sebagai warga kota ini karena tuan pahlawan telah menyelamatkan kami dan menghentikan pangeran kegelapan." jelas pedagang tersebut.
"Ka-kalau begitu terima kasih. Rasanya jadi kurang enak mendapat hadiah gratisan hanya karena menolong kalian." jawab Ray.
"Haha.. tak perlu sungkan dengan kami, tuan pahlawan. Kalau ingin buah lagi, tuan tinggal temui saja kami." balas pedagang tersebut.
"Padahal aku tidak berharap apa-apa sebagai balasan. Ah.. sepertinya lain kali aku harus membayarnya. Aku tidak bisa terus-terusan mendapatkan hadiah gratisan ini." ujar Ray dalam hati sambil berjalan keluar dari area pasar.
Saat kembali ke istana, Ray melihat Rin dan Len sedang melakukan gunting-kertas-batu.
"Wah.. kalian sedang apa nih? Sepertinya seru. Boleh aku ikutan." sapa Ray pada mereka.
"Kakak yang sedang sakit!" ucap Len sambil menunjuk Ray.
"Kakak yang sedang sakit?" sahut Ray.
"Memangnya kakak bisa main petak umpet?" tanya Rin.
"Hmm.. petak umpet ya? Mudah. Bahkan itu terlalu mudah untukku." jawab Ray dengan percaya diri.
"Oohh.. kalau begitu kenapa tidak kakak saja yang jaga, dan kami yang ngumpet? Kalau kakak menemukan kami, berarti kakak memang hebat." tantang Len.
"Begitukah. Oh.. kalau begiitu kenapa tidak kita mulai saja. Cepat sana sembunyi. Aku hitung sampai 10. Kalau tidak sembunyi juga, kalian akan kugantung terbalik di tiang bendera." ujar Ray menunjukkan senyuman licik.
"Ba-baik.." sahut Rin dan Len terlihat ketakutan dengan senyuman Ray.
Mereka berdua langsung lari untuk sembunyi. Ray menutup matanya menghitung dari 1 sampai 10.
"Kakak itu terlihat berbahaya sekali. Sebaiknya aku harus bersembunyi di tempat ngumpet andalanku." ujar Len dalam hatinya berlari ke semak-semak dan bersembunyi disana.
"Aku harus sembunyi dimana nih? Aku tidak mau digantung terbalik di tiang bendera." gumam Rin mencari-cari tempat sembunyi terbaik untuknya.
"Ah.. ini saatnya mencari." ucap Ray membuka matanya setelah selesai menghitung.
Saat itu Rin sedang bersembunyi disebuah meja dengan taplak yang menutupi seluruh bagian bawahnya, dan Len bersembunyi di sebuah semak-semak di taman istana. Sudah setengah jam berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Ray menemukan mereka berdua. Rin dan Len pun mulai bosan.
"Haha.. sepertinya aku menang karena kakak itu tidak menemukanku juga." ujar Len dengan bangga.
"Syukurlah aku tidak ditemukannya." ucap Rin tampak lega.
Len berdiri dan menyadari sesuatu dikepalanya. Ternyata ada buah pisang dikepalanya saat itu.
"Apa nih?! Sejak kapan?!" ucap Len kaget saat mengambil pisang dikepalanya.
Len kembali ke tempat dimana Ray berhitung dan bersiap mencari mereka. Disana Len bertemu dengan Rin yang tampak membawa sebuah jeruk ditangannya.
"Jeruk siapa tuh?" tanya Len saat bertemu Rin.
"Aku tidak tahu. Saat aku hendak melihat ke luar, tiba-tiba dihadapanku ada jeruk ini." jawab Rin.
"Hah? Bagaimana bisa.. aaa.. tunggu sebentar.. bukankah kakak yang tadi itu membawa jeruk dan pisang. Jangan-jangan.." sahut Len terkejut saat mengingat apa yang dibawa Ray.
"Eh, benar juga. Jadi kakak itu sudah.. menemukan kita?!" ucap Rin yang juga terkejut.
"Oh.. kalian sudah sadar aku telah menemukan kalian." ujar Ray sambil memegang kepala mereka berdua.
"Whoaa!!? Kakak yang tadi?!" ucap Rin dan Len terkejut melihat Ray muncul dibelakang tiba-tiba.
"Mudah sekali menemukan kalian." ujar Ray dengan nada santai.
"Ba-bagaimana bisa kakak meletakan buah pisang dikepalaku tanpa kami sadari?" tanya Len.
"Tentu saja karena aku menemukan kalian kan? Kalau tidak ketemu bagaimana letakinnya coba." jawab Ray.
"Meskipun menemukan kami, mustahil kakak bisa meletakan sesuatu tanpa kami sadari!" bentak Len.
"Itulah hebatnya seseorang yang sering melakukan petak umpet sehari-harinya." kata Ray.
"Ho.. jadi kakak sering main petak umpet tiap hari?" tanya Rin.
"Ya, bisa dibilang itu kemampuan sampingan khusus milikku." jawab Ray.
"Bagaimana bisa itu jadi kemampuan khusus sampingan?" tanya Len.
"Ya.. begitulah." sahut Ray enggan menjelaskan.
"Hmm.. terus kemampuan khusus utama kakak itu apa?" tanya Rin.
"Planning." jawab Ray.
"Planning? Apaan tuh? Semacam penyakit pusing dikepala kah?" tanya Len.
"Itu mah pening." sahut Ray.
"Memang planning itu apaan kak?" tanya Rin.
"Perencanaan. Sesuatu hal yang digunakan untuk mengintip masa depan yang menyangkut taktik dan strategi." jelas Ray.
"Woo.. terdengar keren." ucap Rin dan Len terkagum.
"Daripada diam disini bagaimana kalau kita bermain lagi." ajak Ray.
"Bermain apa?" tanya Len.
"Bagaimana kalau ini?" ujar Rin menunjukkan sebuah permainan papan.
"Ludo kah.. boleh juga." sahut Ray.
Mereka pun memainkannya. Namun beberapa saat kemudian permainan berakhir dengan kemenangan telak Ray.
"Ba-bagaimana bisa?! Kakak itu menang bahkan sebelum bidakku berjalan lebih dari 10 langkah dari start." ujar Len dengan kaget.
"Ma-maaf.. sepertinya aku kelewatan. Padahal sudah menurunkan kemampuan berpikirku, tapi kenapa masih bisa menang ya?" kata Ray.
Len terlihat sangat kesal. Kemudian mengeluarkan permainan lain. Kali ini adalah ular tangga. Namun lagi-lagi Ray bisa memenangkan permainan tersebut dengan sangat mudah. Mereka pun terus mencoba permainan lain hingga sore hari tiba. Dan semuanya dimenangkan oleh Ray dengan kemenangan telak tak terbantahkan.
"Aaahh.. capeknya. Bagaimana bisa kami kalah terus seperti ini. Meskipun diulang beberapa kali tetap saja kalah. Walau ganti permainan sekalipun entah kenapa tetap saja kalah. Aneh banget dah." gerutu Len.
"Kakak terlalu hebat. Bagaimana kakak bisa terus menang seperti itu?" tanya Rin.
"Entahlah.. itu terjadi begitu saja." jawab Ray.
"Masa? Kakak mengatakannya seperti kemenangan itu hanyalah sesuatu yang mudah buat kakak." ujar Len.
"Ya sudah, sebaiknya kita sudahi dulu saja hari ini. Daripada kalian makin pusing." ujar Ray sambil berdiri dari duduknya.
Tiba-tiba perut Rin dan Len terdengar keroncongan. Sepertinya mereka kelaparan karena seharian bermain bersama Ray.
"Kalian lapar? Kenapa tidak kalian makan saja buah yang tadi?" tanya Ray.
"Tapi.." ucap Len.
"Buah nya sudah dipakai ngemil sambil main tadi." sambung Rin.
"Oh.. begitukah? Kalau begitu ini.. makanlah sepuas kalian aku masih punya banyak." ujar Ray sambil menunjukkan sekantong penuh buah pisang dan jeruk. Dan kemudian mereka pun memakan buah pisang dan jeruk itu dengan lahapnya.
"Wah.. pisang ini enak." ujar Len.
"Ya, rasanya segar banget." tambah Rin.
"Tentu saja. Setelah cape melakukan aktifitas memang enaknya makan buah segar." sahut Ray sambil berdiri.
"Kakak mau kemana?" tanya Rin.
"Hmm.. aku mau menemui ibu kalian. Dah.." jawab Ray berpamitan.
"Menemui ibu? Mau apa?" ucap Rin heran.
"Mana ku tahu." sahut Len.
Di dalam kamarnya, Ellen sedang berdandan. Tampak rambutnya masih sedikit basah karena baru saja selesai mandi. Namun tidak seperti ratu pada umumnya, tidak terlihat ada satu orangpun pelayan yang membantunya berdandan. Saat dia sedang asik memilih-milih pakaian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Ellen.
"Ini aku, Shiro Ray." jawab yang mengetuk pintu.
"Oh Shiro Ray kah. Masuklah.." sahut Ellen.
Ray pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut. Ray sedikit terkejut melihat Ellen yang masih mengenakan handuk itu.
"Ma-maaf, sepertinya saya datang disaat yang tidak tepat. Saya akan keluar du..", "Tunggu.. bisakah kamu pilihkan aku pakaian?" potong Ellen pada Ray yang hendak keluar kamar lagi.
"Ta-tapi.. anda saat ini.." sahut Ray tampak mengalihkan pandangannya.
"Hmm.. jangan bilang kamu bernafsu pada tubuhku meskipun usiamu masih 10 tahun." goda Ellen.
"Ti-tidak mungkin lah. Hanya saja sedikit memalukan melihat seorang perempuan dewasa setengah telanjang seperti ini." jawab Ray dengan wajah sedikit memerah.
"Oohh.. jadi kamu tipe laki-laki yang menyukai perempuan yang lebih dewasa darimu." tukas Ellen.
"Hah?!" ucap Ray terlihat tidak terima.
"Menurutmu.. aku lebih cantik pakai yang putih atau yang hitam?" tanya Ellen sambil menunjukkan 2 gaun dengan model berbeda dan warna yang berbeda pula.
Ray pun memperhatikan kedua gaun itu dengan teliti.
"Hmm.. menurutku lebih cocok yang putih." jawab Ray setelah berpikir.
"Kalau begitu aku pilih yang putih." sahut Ellen melemparkan yang putih ke atas ranjang.
Sementara yang hitam ia kembalikan kedalam lemari. Kemudian Ellen pun melepaskan handuknya.
"Tu-tunggu sebentar.. aku akan keluar dari sini.." ujar Ray berbalik dan bersiap lari keluar.
"Takkan kubiarkan.." ucap Ellen memeluk Ray dari belakang.
"A-apaan nih? Aku merasakan dua bola empuk belakang leherku." gumam Ray terlihat sedikit panik.
"Kamu kan belum memilihkan dalaman seperti apa yang harus kupakai." ujar Ellen.
"Memangnya penting buatku? Mau pakai jenis apapun aku tidak peduli." sahut Ray.
"Hmm.. jadi kamu tidak suka kalau aku pakai. Baiklah.. hari ini aku tidak akan memakainya." balas Ellen.
"Malah tambah parah." ucap Ray dalam hati.
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Permisi.. bolehkah aku bertanya.." ujar Ray.
"Ya, apa?" sahut Ellen.
"Mau sampai kapan anda memeluk saya dari belakang?" tanya Ray.
"Hmm.. jadi kamu lebih memilih dari depan? Baiklah.." sahut Ellen kemudian membalik tubuh Ray.
Ellen pun membenamkan wajah Ray di antara dadanya yang berukuran cukup besar itu.
"Mmhh.. mmh.. mmmhh.." Ray tidak bisa mengeluarkan perkataannya karena wajahnya terjepit di dua gunung empuk itu.
Ray yang merasa sesak pun mendorong tubuh Ellen hingga jatuh terlentang diranjang. Tubuh Ellen yang polos tanpa pakaian itu pun terlihat dengan jelas oleh Ray. Dan lebih buruknya saat itu Rin dan Len masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Melihat ibunya ada dikasur dengan keadaan telanjang dan kaki terbuka dan didepannya ada Ray membuat Rin dan Len terkejut.
"A-Aku bisa menjelaskannya.." ucap Ray.
Namun Rin dan Len langsung saja memukul Ray dengan pukulan uppercut hingga jatuh terbaring di lantai.
Ray, Ellen, Rin dan Len berkumpul di ruang makan. Mereka semua sedang makan malam bersama.
"Ya ampun, daguku masih sakit dihajar dengan pukulan uppercut oleh kalian." gerutu Ray sambil berusaha mengunyah makanannya dengan rahang yang sakit.
"Itu salahmu sendiri yang hendak menyerang ibu kami." sahut Rin.
"Hah? Siapa yang maksudnya mau menyerang?" tanya Ray dengan heran.
"Sudah, mengaku saja! Jangan banyak alasan!" tukas Len.
"Sudah-sudah.. kalian jangan berantem terus. Ayo makan dulu. Tidak baik makan sambil ngomong." ujar Ellen.
"Ba-baik, ibu.." sahut Rin dan Len tampak menyesal.
Ray pun menghembuskan napas lega. Beberapa saat kemudian Ellen pindah tempat duduk ke samping Ray. Rin dan Len menatap tajam ke arah Ray karena hal itu.
"Hei, apa yang anda lakukan?" tanya Ray pada Ellen dengan suara pelan.
"Hmm.. nampaknya mereka berdua menyukaimu." ujar Ellen.
"Menyukai darimana? Jelas-jelas mereka melototin aku." sahut Ray.
"Oohh.. jarang-jarang sekali mereka melototin orang sampai segitunya. Biasanya mereka selalu takut pada orang lain. Kalau mereka sampai melotot padamu seperti itu berarti mereka tertarik padamu." jelas Ellen.
"Hah, benarkah?" sahut Ray.
"Tentu saja. Aku adalah ibu mereka. Apa kamu meragukan kemampuanku mengerti anakku sebagai seorang ibu?" ucap Ellen.
"Eh, tidak lah. Lagipula aku tidak tahu seperti apa karakter ibu itu?" jawab Ray.
"Hah? Maksudmu?" tanya Ellen.
"Ayah dan ibuku sudah meninggal saat aku masih kecil. Jadi aku tak begitu mengingat seperti apa karakater orang tua itu. Sejauh yang ku ingat tentang orang tuaku hanya.. mereka selalu tersenyum padaku." jawab Ray.
Ellen terkejut mendengar penjelasan Ray. Kemudian Ellen pun memeluk Ray.
"Maaf.. aku tidak tahu ternyata kamu menyimpan hal semacam itu." ujar Ellen mendekap tubuh Ray dengan erat.
Rin dan Len terlihat cemberut melihat Ray mendapat pelukan hangat dari ibu mereka.
"Kalau kamu mau, aku bisa berperan jadi ibumu." tawar Ellen.
"Hmm.. sepertinya jangan." tolak Ray.
"Kenapa?" tanya Ellen.
"Aku tidak ingin mereka jadi membenciku karena merebut ibu mereka." jawab Ray.
"Begitukah.." sahut Ellen.
"Sudah kuduga.. dia lebih cocok jadi karakter orang tua daripada seorang anak." ujar Ellen dalam hatinya.
Setelah mereka selesai makan, Ray berjalan ke beranda. Ellen yang melihat Ray sendirian di beranda kemudian menghampirinya.
"Sedang apa kamu disini sendirian?" tanya Ellen.
"Aku sedang berpikir." jawab Ray.
"Berpikir?" sahut Ellen.
"Sampai kapan aku bisa terus berada disini. Hmm.. mungkin sebaiknya jangan terlalu lama." kata Ray.
"Kamu boleh kok tinggal disini sampai kapanpun." ujar Ellen.
"Tidak. Aku tidak boleh ada disini terlalu lama. Setelah aku pulih, aku akan pergi ke selatan." kata Ray lagi.
"Hah? Selatan? Memangnya ada apa di selatan?" tanya Ellen.
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan disana. Aku harus pergi secepatnya kalau tidak mau terlambat." jelas Ray.
"Hmm.. begitukah. Tapi apa kamu akan kembali kemari?" tanya Ellen lagi.
"Setelah masalah di utara selesai aku akan kemari lagi untuk mampir." jawab Ray.
"Lho, tadi bilangnya ke selatan, sekarang ke utara. Jadi mana yang bener?" ucap Ellen terlihat bingung.
"Pertama ke selatan dulu, lalu ke utara." jelas Ray.
"Ooohh.." sahut Ellen.
"Tapi aku tidak menjamin aku benar-benar bisa kembali lagi." ujar Ray.
"Jangan ngomong gitu! Kembalilah dengan selamat! Aku takkan memaafkanmu kalau sampai tidak kembali!" bentak Ellen.
Ray sedikit terkejut dibentak seperti itu oleh Ellen.
"Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kembali kemari." sahut Ray sambil berjalan meninggalkan beranda.
"Janji?" tanya Ellen.
"Ya." jawab Ray.
Beberapa hari telah berlalu. Ray sudah pulih kembali dan dia sudah menyiapkan diri untuk segera melakukan perjalanan ke selatan. Ray mengenakan jaket hitam putih mirip harimau putih. Dengan telinga harimau yang nampak mencuat di tudung jaketnya membuat Ray terlihat semakin mirip dengan kucing besar itu.
"Wah.. cocoknya.." ucap Ellen terlihat terpesona melihat keimutan Ray mengenakan pakaian mirip harimau putih itu.
"Ada apa dengan jaket ini. Ini memang membantuku untuk berkamuflase di dalam hutan hujan di wilayah selatan. Tapi.. bukankah ini sedikit berlebihan." komentar Ray.
"Tapi kupikir itu rasanya cocok sekali denganmu. Bisakah kamu bilang 'nyan~' untukku." pinta Ellen yang tidak bisa mengendalikan dirinya karena sangat tertarik pada Ray.
"Hah? Kenapa aku harus melakukannnya?" tanya Ray.
"Ayolah.. kumohon.." bujuk Ellen dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah.. akan kulakukan." sahut Ray terlihat menyerah.
"Nyaaann.." ucap Ray dengan sedikit meniru gerakan kucing.
Ellen terlihat kegirangan dengan tingkah Ray.
"Sudah cukup kan?" tanya Ray.
Ray berjalan menuju ke pintu depan.
"Lho ngomong-ngomong kemana perginya si kembar?" tanya Ray.
"Entahlah.. mereka sejak pagi ada dikamar mereka." jawab Ellen sambil tersenyum.
Ray tampak curiga dengan senyuman Ellen. Namun ia tidak punya bukti, jadi ia melanjutkan langkahnya ke arah pintu depan. Saat membuka pintu besar itu Ray terkejut ternyata Rin dan Len ada dibalik pintu itu.
"Kakak sudah mau pergi?" tanya Rin terlihat sedih.
"Kak Ray memangnya tidak mau tinggal disini?" tanya Len.
"Ya bukannya tidak mau, hanya saja aku tidak bisa terus disini. Aku harus melakukan tugasku. Kalian tahu aku ini siapa kan?" jawab Ray sambil mendekat ke Rin dan Len.
"Ya, kakak adalah pahlawan pembela kebenaran." jawab Len.
"Tepat sekali. Coba bayangkan kalau pahlawan pembela kebenaran hanya diam di rumahnya. Apa dia akan bisa membela kebenaran? Tidak kan. Karena itu aku harus pergi." jelas Ray.
"Tapi kan.." sahut Rin yang tampak tidak terima Ray hendak pergi.
"Tenang saja. Aku akan mampir kemari saat ada waktu senggang." balas Ray sambil mengelus kepala Rin dan Len.
"Sepertinya kami memang tidak bisa mencegah kakak pergi." ujar Len.
"Ya, sepertinya begitu." ujar Rin.
"Jadi terima ini. Ini hadiah dari kami. Supaya kakak terus mengingat kami." sambung Rin dan Len sambil menyodorkan sebuah gantungan kunci boneka berbentuk jeruk dan pisang.
"Wooo.. terima kasih. Ini kalian yang buat sendiri?" tanya Ray.
Rin dan Len mengangguk sambil tersenyum.
"Oohh.. kalau begitu akan kupakai. Terima kasih.. Rin.. Len.." ucap Ray kemudian menggantungkan gantungan kunci itu di pinggangnya.
"Bukan hanya mereka yang punya hadiah untukmu." ujar Ellen.
Ray berbalik ke arah Ellen.
"Ini hadiahku untukmu.." sambung Ellen kemudian memeluk Ray dan mencium keningnya.
Ray sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Ellen itu. Begitu pula kedua anaknya yang nampak tak menyangka ibu mereka mencium Ray.
"Hati-hati dijalan. Jaga baik-baik dirimu ya.." tambah Ellen sambil mundur dan melepaskan dekapannya.
"Y-ya.." jawab Ray dengan sedikit gugup.
Ray pun pergi setelah berpamitan.
"Apa kakak itu akan benar-benar kembali kemari?" ucap Rin.
"Aku tidak tahu." jawab Len.
"Ya, kita doakan saja dia akan kembali kemari." ujar Ellen kemudian mengajak kedua anaknya itu untuk kembali masuk kedalam.
Ray berkelana ke selatan dan mengalahkan seorang komandan beserta bala tentaranya disana. Dan begitu pula diutara, Ray dapat menghancurkan pasukan satanism beserta komanda yang memimpinnya. Namun itu tidak diberitakan di manapun karena semuanya terjadi sebelum peperangan terjadi. Ray mengalahkan kedua komandan itu sebelum sempat membuat konflik. Kemudian setelah beberapa bulan berlalu setelah kepergian Ray, tanpa diduga kota tempat Rin dan Len berada tampak porak poranda. Hal itu membuat Ray terkejut saat tiba didepan gerbang yang tadinya kokoh berdiri sekarang tampak hancur dan menyisakan ambang pintu nya saja yang masih tegak berdiri.
"Apa yang telah terjadi disini?" gumam Ray saat melewati gerbang tersebut.
Ray berjalan menyusuri jalanan utama, namun tak ada satu orang pun yang lewat. Yang ada hanyalah reruntuhan dari bangunan-bangunan yang tersisa.
"Sepertinya disini sudah tidak ada orang lagi. Namun, aneh sekali.. rasanya aku masih merasakan kehadiran seseorang disekitar sini." ujar Ray.
Ray sampai di pasar tempat dia diberi buah-buahan. Tempat yang memiliki cukup banyak kenangan untuk Ray.
"Aku baru ingat, sebelum aku pergi aku sering kesini dengan si kembar. Dan diberi jeruk dan pisang oleh paman penjual buah itu. Kuharap beliau tidak apa-apa." gumam Ray sambil membayangkan beberapa bulan silam sebelum kepergiannya.
Saat sedang melamunkan masa lalu, tiba-tiba dia melihat sekilas ada bayangan lewat diantara bekas pertokoan tersebut. Ray menajamkan pandangannya saat menyadari kalau itu adalah sosok manusia.
"Mungkinkah.." ucap Ray kemudian mengikuti sosok bayangan manusia itu.
Ray diam-diam mengikuti dari belakang. Dan rupanya sosok itu mengarah ke bekas istana. Disebut bekas istana karena saat itu yang tersisa hanya reruntuhannya saja.
"Mau apa dia pergi kesana?" ucap Ray bersembunyi dibalik pohon.
Saat orang itu menghilang di antara reruntuhan bangunan istana, Ray ikut masuk kesana. Dan saat Ray sudah masuk kedalam, tiba-tiba saja ada suara pistol dikokang.
"Sebaiknya jangan menguntit seperti itu, bocah. Itu tidak baik." ucap seseorang tampak hendak menodongkan pistol ke kepala Ray.
Namun Ray langsung merendahkan tubuhnya dan dengan cepat bergerak mendekat ke orang yang menodongnya tersebut. Ray menangkap pergelangan tangan orang itu kemudian memukul perut orang tersebut dengan keras.
"Berhati-hatilah.. gerakanku itu tidak lambat lho." ujar Ray.
"Sialan!" ucap orang itu tampak kesal.
Tapi Ray langsung membantingnya ke tanah dengan keras.
"Menodong orang sembarangan seperti itu, berbahaya sekali, Ronald." kata Ray pada orang itu.
"A-apa itu anda, tuan The White Light?!" ucap orang itu sepertinya mengenal Ray.
Laki-laki berambut pirang berusia 20 tahunan itu pun bangun lagi setelah tahu kalau itu Ray.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Yang kutahu kamu tinggal sangat jauh dari sini." tanya Ray.
"Tuan mungkin tidak tahu, tapi sebenarnya saya berasal dari kota Harmonia ini." jawab laki-laki bernama Ronald tersebut.
"Kota Harmonia?" sahut Ray tampak bingung.
"Hah? Ayolah.. anda adalah pahlawan yang menyelamatkan separuh dunia melalui kota ini. Masa anda tidak tahu kota yang anda bela?" gerutu Ronald.
"Ma-maaf.. aku punya kebiasaan buruk. Aku sering tidak tahu nama tempat aku melakukan pekerjaanku." ujar Ray.
"Yang benar saja. Jadi selama ini anda melakukan kebaikan tanpa mengetahui dimana anda berada?" tanya Ronald.
"Karena aku rasa itu tidak terlalu penting, maka tidak terlalu mempersalahkannya." jawab Ray.
"Ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan di reruntuhan istana ini?" tanya Ray sambil melihat-lihat reruntuhan tersebut.
"Oh.. kebetulan. Anda pasti sedang mencari korban selamat dari kejadian yang menghancurkan kota ini. Biar saja tunjukkan sebuah hal menarik." ujar Ronald.
Ronald mengantarkan Ray menuju ke dalam reruntuhan istana tersebut dan akhirnya sampai di taman di halaman tengah reruntuhan istana tersebut. Taman tempat Ray biasa bermain dengan Rin dan Len.
"Kenapa kamu tiba-tiba membawaku kemari?" tanya Ray.
"Haha.. biar saya tunjukkan sesuatu yang belum anda lihat sebelumnya." ujar Ronald.
Ronald pun memutar sebuah patung di taman tersebut dan sebuah jalan rahasia pun terbuka di lantai taman tersebut. Sebuah jalan menuju ke ruangan rahasia di bawah tanah.
"Woo.. indiana jones kah?" ucap Ray tampak terkagum.
"Jangan mengatakannya seperti tokoh utamanya susah jodoh lah, tuan The White Light." komentar Ronald.
"Maaf, aku tidak sengaja. Lidahku terpeleset." sahut Ray.
"Bagaimana bisa lidah terpeleset?" balas Ronald.
"Bisa lah. Kan mulut kita berair." jawab Ray.
"Haha.. bisa aja ngejawabnya." kata Ronald tersenyum aneh.
Ronald dan Ray masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut. Dan disana nampak banyak sekali orang. Sepertinya ruangan tersebut dijadikan ruang persembunyian bagi para koban dari bencana yang melanda kota tersebut.
"Hmm.. Ronald, kalau aku boleh tahu sedang apa kamu dikota ini? Apa yang terjadi dengan wilayah selatan?" tanya Ray sambil berjalan melewati orang-orang.
"Tenang saja, setelah kemenangan tuan di selatan seluruh wilayah selatan sampai saat ini aman. Lagipula saya memang berasal dari kota Harmonia. Bisa dibilang kalau kota ini adalah kampung halaman saya." jawab Ronald.
"Hah? Begitukah? Tapi kenapa selama ini kamu tidak pernah bilang padaku?" tanya Ray.
"Tuan sendiri tidak menanyakannya." jawab Ronald.
"Wah! Kakak yang waktu itu!" ucap Rin dan Len yang mengenali Ray sambil menunjuk pada Ray.
"Hmm.. siapa ya?" ucap Ray.
"Yang benar saja, baru beberapa bulan sudah melupakan kami!" bentak Rin dan Len dengan kesal.
"Oh itu kalian. Maaf, kukira aku salah orang. Soalnya, kalian tampak lebih tinggi sejak terakhir kali kira bertemu. Tampaknya kalian cukup makan." ucap Ray sambil mengelus kepala Rin dan Len.
Rin dan Len tampak nyaman kepala mereka dielus oleh sang pahlawan The White Light itu.
"Dimana ibu kalian?" tanya Ray berjalan lewat diantara mereka.
"Ah, kalau itu.." sahut Rin tampak sedih.
"Mmh? Ada apa?" tanya Ray dengan heran.
"Tuan sebenarnya.." ucap Ronald.
Ronald mengantar Ray melihat Ellen. Namun saat melihatnya, Ray sanget terkejut. Ellen duduk lemas diatas sebuah tikar dengan kaki tampak di balut dengan menggunakan kain. Dan di kain tersebut tampak ada bekas darah.
"Begitu rupanya." ucap Ray yang melihat dari kejauhan.
"Apa anda yakin tak ingin menemuinya?" tanya Ronald.
"Untuk saat ini tidak perlu. Ada hal lain yang lebih penting. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kota ini? Bukankah seharusnya Pangeran Kegelapan tidak berani kembali kemari lagi?" balas Ray.
"Hmm.. sebenarnya yang menyerang kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pangeran Kegelapan. Bisa dibilang, mereka memanfaatkan momen terjadinya konflik yang sedang terjadi di dunia ini." jelas Ronald.
"Oohh.. begitu rupanya.." sahut Ray sambil mengingat di sebuah reruntuhan di kota tersebut terdapat bekas rudal.
"Apa ada sesuatu yang anda pikirkan?" tanya Ronald.
"Ya. Kalau mereka tak ada hubungannya dengan Pangeran Kegelapan, itu artinya mereka menggunakan senjata fisik. Mereka menggunakan senjata api." jawab Ray.
"Ya, benar sekali. Mereka membombardir kota ini dengan serangan rudal. Kemudian mereka menyerang dengan senjata fisik. Beberapa warga berhasil selamat dan melarikan diri dari serangan tersebut berkat yang mulia Ellen. Namun beberapa dari kami tidak berhasil keluar dan yang mulia Ellen membawa kami kemari. Tapi karena hal itu, kaki yang mulia Ellen jadi koban. Beliau terkena tembak saat mengarahkan pengungsi ke tempat ini." jelas Ronald.
"Begitukah." ucap Ray.
"Dan malam ini kami berencana untuk melarikan diri. Seharian tadi saya sudah mempelajari pola patroli musuh dan kebiasaan mereka. Jadi ini akan mudah." ujar Ronald dengan yakin.
"Jadi itu yang sedang kamu lakukan tadi di luar sana?" tanya Ray.
"Ya. Lagipula persediaan makanan disini sudah mulai habis. Jadi kita tak bisa berlama-lama bersembunyi disini terus." kata Ronald.
"Namun hal itu punya satu resiko." balas Ray.
"Apa itu?" tanya Ronald.
"Saat kita keluar dari sini, kita takkan bisa menggunakan tempat ini sebagai tempat persembunyian lagi. Mereka akan mengetahuinya. Karena itu kalau sampai kita gagal, kita semua takkan punya tempat untuk lari lagi." jawab Ray.
"Kalau begitu kita tinggal berhasil saja kan, tuan The White Light?" sahut Ronald sambil tersenyum.
"Ya." balas Ray yang tampak sedikit khawatir.
Ronald pun mengumpulkan semua orang untuk menjelaskan tentang rencana nya. Ray hanya mendengarkan dari kejauhan. Dia tampak sedikit khawatir. Tapi tarikan di lengan bajunya membuat konsentrasinya buyar.
"Woy nii.. kita main yuk!" ajak Len sambil menarik lengan jaket Ray.
"Kali ini kami takkan kalah. Ayo kita main ini." ajak Rin sambil menarik lengan jaket yang satunya lagi.
"Kalian, disaat seperti ini malah ngajak main." ujar Ray.
"Memangnya kenapa? Kita kan tidak tahu kapan kita bisa main lagi?" sahut Rin.
"Kita harus melakukannya selagi masih bisa. Seperti yang nii katakan kalau kita tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi dimasa depan kan?" tambah Len.
"Itu memang benar sih." sahut Ray.
"Aku tidak menyangka mereka menggunakan kata-kataku untuk menyerang balik. Anak-anak seperti mereka bisa menyerap segala informasi dengan cepat. Kurasa aku harus lebih hati-hati dalam membagi informasi dengan mereka." pikir Ray.
"Ayolah nii.." bujuk Len.
"Ayo kita main, onii-chan." tambah Rin.
"Hmm.. baiklah. Tapi main apa?" tanya Ray.
"Main bekel!!!" jawab Rin dan Len.
"Eh? Bekel?" ucap Ray terkejut.
"Nii tidak tahu permainan bekel? Sayang sekali. Kalau begitu kekalahan kakak sudah dapat dipastikan." ledek Len.
"Tentu saja aku tahu permainan bekel. Maksudku itu kenapa mesti bekel?" balas Ray.
"Hmm.. soalnya kalau permainan lain sudah pasti oniichan yang menang." jawab Rin.
"Kalau permainan otak nii sudah pasti menang. Makanya kali ini kami sepakat untuk menggunakan permainan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pikiran." jelas Len.
"Permainan bekel murni permainan reaksi reflek." tambah Rin.
"Sepertinya mereka benar-benar ingin menang dariku." ucap Ray dalam hati sambil sedikit tersenyum.
Akhirnya Ray pun memainkan permainan bekel bersama Rin dan Len sambil menunggu Ronald selesai dengan pidatonya. Dari kejauhan tampak Ellen memperhatikan mereka bermain tanpa sepengetahuan mereka.
"Gawat-gawat-gawat! Diluar! Diluar!" ucap seorang laki-laki tampak ketakutan.
"Ada apa? Kenapa kamu tampak ketakutan begitu?" tanya Ronald.
"Diluar!" sahut orang itu.
"Ada apa memangnya diluar?" tanya Ronald lagi.
"Diluar banyak sekali pasukan musuh!" jawab orang tersebut.
"Apa?! Bagaimana bisa?!!" ucap Ronald tampak sangat terkejut.
Ray yang juga mendengar hal tersebut pun langsung berdiri dan menghampiri Ronald.
"Sepertinya keadaannya gawat sekali." ujar Ray mendekati Ronald yang terlihat panik.
"Tuan The White Light." ucap Ronald.
"Sepertinya mereka mengawasi kita siang tadi. Tepatnya mengawasimu." ujar Ray.
"Be-benarkah?" tanya Ronald.
"Mereka pasti sudah merencanakannya. Mereka menunggu seseorang keluar dari persembunyiannya untuk melihat keadaan sekitar atau sekedar mencari makanan. Kedatanganku tidak akan terlalu menjadi masalah karena mereka akan berpikir kalau aku hanya seorang yang sedang melakukan perjalanan dan kebetulan lewat disini, Tapi lain lagi jika orang itu tiba-tiba muncul di dalam kota dan kemudian tiba-tiba saja menghilang." jelas Ray.
"Benar juga. Sepertinya ini kesalahanku karena keluar begitu saja pada siang hari. Sudah kuduga mestinya aku keluar malam hari saja." ujar Ronald tampak menyesal dan kesal.
"Tidak, kupikir malam hari pun kejadiannya akan sama saja. Kulihat banyak jejak kaki saat aku melewati gerbang kota. Mustahil itu jejak bekas penyerangan mereka, karena pastinya itu sudah terhapus karena sudah lama. Jadi, sudah pasti jejak itu baru dibuat. Yang artinya mereka keluar masuk kota ini secara berkala." kata Ray.
"Maksud tuan?!" ucap Ronald tampak kaget.
"Ya, benar sekali. Mereka melakukan patroli malam." jawab Ray.
"Kenapa mereka begitu ngotot mencari kita? Memang kita sebegitu pentingnya?" gerutu Ronald dengan kesal.
"Kita memang tidak terlalu berharga. Tapi lain lagi artinya untuk orang yang memiliki kemampuan spesial." jawab Ray sambil menoleh ke arah Ellen.
"Begitu rupanya." sahut Ronald mengerti maksud Ray.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya orang yang memberitahukan keadaan diluar tadi.
"Jangan panik. Kita harus tetap tenang. Jika mereka masih mondar-mandir diluar artinya mereka belum menemukan jalan masuknya. Atau mereka sudah menemukannya tapi tidak tahu cara membukanya. Jadi untuk saat ini kita masih bisa bernapas lega." jawab Ray berusaha tetap tenang.
"Namun jika terlalu lama disini, kita akan ditemukan juga." ujar Ronald.
"Apa tempat ini punya pintu belakang? Jalan keluar yang lain? Sebuah pintu darurat untuk melarikan diri?" tanya Ray.
"Saya tidak tahu. Untuk hal itu sebaiknya anda tanyakan pada yang mulia Ellen." jawab Ronald.
Ray menghampiri Ellen yang duduk di tempat yang sama karena tak bisa bergerak.
"Selamat datang kembali, Ray.." ucap Ellen sambil tersenyum saat Ray berdiri dihadapannya.
Ray pun menyampaikan semuanya pada Ellen. Dia menjelaskan kalau saat ini tempat persembunyian itu sudah terkepung. Mustahil untuk kabur melalui pintu depan. Jadi dia perlu menggunakan pintu belakang.
"Begitukah.." ucap Ellen sambil tersenyum setelah mendengar penjelasan dari Ray.
"Jadi bagaimana? Dimana jalan daruratnya? Untuk setiap tempat perlindunga pasti selalu punya pintu belakang bukan?" tanya Ray.
"Sebelum itu, ngomong-ngomong.. kenapa kamu tidak menyapaku kalau kamu memang sudah pulang?" tanya balik Ellen.
"Ini bukan saatnya membicarakan hal itu. Cepat katakan dimana jalan keluar daruratnya?" sahut Ray.
"Apa sebegitu tidak pentingnya sehingga kamu enggan memberikan jawaban kenapa kamu tidak mau menyapaku pertama kali setelah pulang?" protes Ellen.
"Ayolah nona Ellen, bisakah kamu lebih serius.." ucap Ray berusaha membujuk Ellen.
"Ini juga aku serius!" bentak Ellen.
Ray terdiam dibentak oleh Ellen.
"Apa bagimu aku ini tidak ada artinya? Apa bagimu aku ini hanya orang yang tidak penting? Padahal aku sudah menantimu sebegitu lamanya. Rasanya sudah bertahun-tahun berlalu meskipun hanya beberapa bulan. Apa kamu tidak mengerti perasaanku!?" ujar Ellen.
Ray diam dan menundukkan kepalanya.
"Mungkin aku akan tampak tidak normal karena menyukai anak yang usianya lebih muda dariku. Tapi aku.. aku benar-benar menyukaimu.. setulus hatiku." sambung Ellen menyatakan perasaannya pada Ray.
"Ma-maaf.. aku tidak bisa.." jawab Ray.
"Ke-kenapa?" tanya Ellen sedikit terkejut.
"Entahlah.. rasanya aku hanya.. tidak bisa menerima perasaanmu saat ini." jawab Ray tampak sedikit murung.
"Apa karena aku lebih tua darimu?" tanya Ellen yang kemudian terlihat sedikit sedih.
"Tidak. Bukan karena itu. Tentu saja perbedaan usia takkan menjadi masalah dalam perasaan yang disebut cinta. Hanya saja, aku hanya tidak bisa menerima perasaanmu. Perasaan cinta itu mestilah sepasang. Mesti ada 2 sisi yang saling bertukar kebahagiaan dan kesedihan. Saling melengkapi dan saling memenuhi. Rasanya aku tidak pantas menerima perasaanmu, jika aku sendiri tak mencintaimu." jelas Ray.
"Ah.. sepertinya aku ditolak.." ucap Ellen sambil tersenyum.
Meskipun Ellen tersenyum lebar, tapi Ray menyadari ada setitik air mata disudut mata Ellen. Sudah pasti Ellen sedih saat itu. Siapa yang tidak sedih jika cintanya ditolak. Ray juga menyadari hal itu.
"Maaf.." ucap Ray sambil memalingkan wajahnya kearah lain memandang kebawah dengan kemurungan.
"Apa-apaan kamu ini? Kenapa malah minta maaf? Ini salahku karena menyatakan cinta pada orang yang lebih muda dariku." sahut Ellen sambil mengusap air matanya yang mulai bercucuran.
"Akulah yang salah! Akulah yang bodoh disini! Aku.." ucap Ellen yang tampak tak bisa menahan dirinya lagi kemudian menangis tersedu-sedu.
Melihat hal itu Ray tanpa pikir panjang langsung memeluk Ellen.
"Maafkan aku." ucap Ray sambil mendekap tubuh Ellen.
Ellen menangis dalam dekapan Ray hingga akhirnya dia merasa lebih tenang.
"Hei Ray.. maukah kami berjanji sesuatu padaku?" tanya Ellen yang masih dalam dekapan Ray.
"Mmh? Janji apa?" sahut Ray.
"Berjanjilah untuk menjaga anak-anakku setelah ini." ujar Ellen.
"Tentu saja. Aku sudah menganggap mereka sebagai adik-adikku sendiri." jawab Ray.
"Begitukah. Syukurlah.." sahut Ellen sambil tersenyum.
Ray merasa ada yang aneh dengan permintaan Ellen barusan. Tapi dia tidak terlalu memikirkkannya sekarang. Disaat seperti itu tiba-tiba saja terjadi ledakan di pintu masuk persembunyian tersebut. Sebuah ledakan keras yang menghancurkan pintu persembunyian itu berkeping-keping. Beberapa prajurit melompat masuk kedalam dan mulai menembaki setiap orang di sana.
"Sial." ucap Ray menoleh ke arah pintu masuk.
Ray langsung mengaktifkan melody of silent miliknya dan menyembunyikan keberadaan mereka.
"A-apa ini?!" ucap Ellen terheran dengan keadaan sekitarnya yang berubah jadi hitam putih.
"Ini adalah melody of silent. Melodi yang mampu menyembunyikan keberadaan pemakainya dan orang-orang yang diisolasi olehnya." jelas Ray.
"Tapi ini jelas gawat. Meski memakai melody of silent sekalipun kalau dikepung begini rasanya hampir mustahil kami bisa selamat. Ditambah aku tidak bisa memakai kekuatan petirku disini." ujar Ray dalam hati.
"Ibu! Aku takut!" ucap Rin dan Len bersamaan sambil memeluk Ellen.
"Tidak apa-apa. Kalian tak perlu takut. Karena kakak ini pasti akan melindungi kalian. Selama ada kakak ini kalian pasti aman." ucap Ellen sambil mendekap tubuh kedua anaknya tersebut.
Beberapa orang prajurit musuh tampak memasuki tempat persembunyian bawah tanah tersebut.
"Kalau aku menunjukkan diriku aku bisa mengalihkan mereka dengan memfokuskan diri mereka padaku. Namun, aku jadi takkan tahu posisi mereka yang aku sembunyikan kalau aku menjadi ignorer juga. Hmm.. pasti ada suatu jalan lain yang lebih baik dari ini. Aku harus memikirkannya lebih cepat." gumam Ray tampak berpikir keras.
"Ray." panggil Ellen dari belakang.
Ray menoleh ke arah Ellen.
"Aku punya sebuah rencana." ucap Ellen.
"Rencana bagaimana?" tanya Ray.
"Aku akan menggunakan lagu pahlawan milikku untuk men-support dirimu." jawab Ellen.
"Tunggu sebentar. Jika kamu menggunakan melody of harmoni milikmu maka melody of silent ku takkan bekerja padamu. Mereka akan menyadari keberadaanmu. Itu berbahaya." tolak Ray.
"Tapi kita tidak punya jalan lain. Hanya itu satu-satunya cara kalian keluar." bujuk Ellen.
"Tidak! Aku tak bisa mengijinkannya. Biarkan aku memikirkannya lagi. Aku yakin bisa menemukan rencana yang lebih baik jika berpikir kembali." balas Ray.
"Kita tidak punya banyak waktu!" ucap Ellen.
"Biarkan aku..", "Ray!" bentak Ellen memotong perkataan Ray.
"Tolong bawa Rin dan Len pergi. Selamatkan mereka. Bukankah kamu sudah berjanji padaku?" sambung Ellen sambil tersenyum.
Mendengarnya, Ray terlihat shock. Dia menyadari memang waktunya sangat sempit sampai para prajurit itu benar-benar sampai dihadapan mereka dan menghalangi jalan mereka untuk lari.
"Ayo kalian berdua.. ikut aku sebentar.." ucap Ray dengan kepala tertunduk.
"Kita mau kemana kak?" tanya Rin.
"Sudahlah ikut saja!" sahut Ray menggendong Rin dan Len di pinggangnya kemudian berlari ke arah para prajurit tersebut.
Ellen menyanyikan nyanyian perangnya. Sebuah lagu pahlawan yang menggetarkan hati yang disebut oleh Ray sebagai melody of harmony. Dengan bantuan lagu itu, Ray mampu menghancurkan barisan prajurit itu dengan menabraknya. Ray mendorong paksa mereka yang berdiri di jalannya. Ray pun mampu keluar dari bunker tersebut dan melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
"Apa yang barusan itu?!" ucap salah seorang prajurit yang ditabrak.
"Rasanya seperti ditabrak sesuatu, tapi aku tak tahu apa yang menabrakku." tambah yang disebelahnya.
"Ada apa?" tanya seorang laki-laki yang kelihatannya adalah pimpinan mereka.
"Tiba-tiba ada angin berhembus dan menghempaskan kami semua." jawab salah seorang prajurit.
"Angin? Yang benar saja. Tidak mungkin ada angin yang mampu menghempaskan kalian yang bersenjata lengkap dengan armor berat seperti itu. Berat kalian bisa sekitar 70 kilo keatas. Tidak mungkin hembusan angin melemparkan kalian." gerutu laki-laki berambut coklat itu.
"Beneran dah. Mana mungkin kami bohong disaat seperti ini." sahut prajurit tersebut.
Laki-laki tersebut pun menghela napasnya seakan masih tak percaya dengan penjelasan anak buahnya tersebut. Dia pun berjalan masuk kedalam bunker untuk melihat keadaan didalam.
"Wah..wah.. sepertinya kita mendapatkan tangkapan besar disini." ujar laki-laki tersebut yang melihat Ellen terduduk tak berdaya.
Wajah Ellen pun tampak berkeringat. Dia tidak bisa lari kemana-mana karena kakinya terluka. Dia terpojok didalam tempat yang harusnya menjadi tempat perlindungan tersebut.
"Tidak semudah itu!" ucap Ronald melompat ke arah laki-laki tersebut hendak menyerangnya.
"Begitukah!" ucap laki-laki tersebut membungkuk menghindari serangan Ronald.
Lalu laki-laki itu pun menendang perut Ronald dan Ronald pun terpental kembali kebelakang dan menghantam dinding. Laki-laki yang menendang Ronald itu pun kemudian meminta senjata pada anak buahnya. Anak buahnya pun melemparkan sebuah pistol.
"Selamat malam.." ucap laki-laki itu sambil menodongkan pistol ke arah kepala Ronald.
Laki-laki itu pun menembak kepala Ronald. Dan nampak darah yang cukup banyak muncrat dari kepala Ronald.
"Ronald!!!" panggil Ellen saat melihat Ronald tak bergerak lagi setelah ditembak.
"Tenang saja.. takkan lama lagi kamu akan menyusulnya juga." ujar laki-laki itu sambil mendekati Ellen.
Ellen mulai merasa ketakutan. Namun semakin takut Ellen senyuman diwajah laki-laki yang mengancamnya malah semakin lebar. Namun tiba-tiba saja rasa takut Ellen berubah menjadi senyuman saat mengingat anak-anaknya. Ellen ingat tentang Ray yang berjanji akan melindungi dan menjaga Rin dan Len sehingga hatinya jadi lebih tenang.
"Tak apa. Aku sudah siap.. kalau kamu mau membunuhku sekarang pun tidak apa-apa." jawab Ellen sambil tersenyum tenang.
"Hah? Aku tak tahu apa yang merasukimu. Tapi itu tak mengubah apapun. Aku akan tetap membunuhmu dan mendapatkan posisiku di pasukan Pangeran Kegelapan." ujar laki-laki tersebut sambil mulai menodongkan pistolnya ke arah Ellen.
"Sebelum membunuhmu akan kuperkenalkan diriku supaya kamu tahu siapa yang telah membunuhmu. Namaku June Black. Aku akan menjadi salah satu kapten pasukan pangeran kegelapan kalau berhasil membunuhmu. Hahahaha.. semoga betah dialam sana.." ujar laki-laki yang ternyata June Black itu.
"Rin.. Len.. jadilah anak yang baik. Jadilah seorang pahlawan yang selalu menebar senyuman kemanapun kalian pergi dan dimanapun kalian berada. Ray.. jagalah putra-putriku, dan bimbinglah mereka menjadi orang yang baik. Menjadi orang yang hebat sepertimu." ujar Ellen dalam hatinya sambil tersenyum dan menutup matanya.
June pun kemudian menembak kepala Ellen. Dia menembaknya berkali-kali hingga peluru di pistol itu habis. Darah berceceran kemana-mana. Ruangan itu jadi begitu mengerikan akibatnya.
Di tempat lain Ray berlari membawa Rin dan Len dipinggangnya. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah hutan dan Ray berhenti saat sampai dipinggir sungai.
"Ibu! Bagaimana dengan ibu!??" tanya Len.
"Kenapa kita malah meninggalkannya?" tanya Rin
"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin tahu." jawab Ray yang kenyataannya tahu kemungkinan terburuk yang akan terjadi saat itu.
"Kakak ayo jemput ibu!" pinta Rin.
"Kalau sekarang pasti masih sempat." tambah Len.
"Tidak. Kita takkan kembali kesana." tolak Ray dengan dingin.
"Kenapa?" tanya Rin.
"Kakak jangan jadi pengecut! Ayo jemput ibu sekarang juga!" bentak Len.
"Sudah kubilang tidak! Kita tidak bisa kembali kesana." tolak Ray dengan tegas.
"Cih! Kalau begitu biar aku saja yang kembali kesana." ujar Len yang kemudian mulai berjalan menjauh dari Ray.
"Apa kamu tahu jalan kesana?" tanya Ray.
Len pun terhenti.
"Kalau begitu cepat tunjukkan pada kami jalan kesana! Kalau kakak takut menghadapi mereka, biar aku saja yang bertarung dengan mereka!" bentak Len.
"Ibu.." ucap Rin tampak sedih.
Ray pun menurunkan pandangannya tampak bimbang.
"Ibu mereka menyuruhku untuk menjaga mereka. Aku tidak mungkin membiarkan mereka terjun kedalam bahaya seperti itu. Namun jika aku diam dan membawa mereka semakin menjauh mereka hanya akan membuat mereka marah dan semakin putus asa. Mental mereka akan semakin rusak dan retak. Aku pikir aku tak perlu menggunakannya namun.. hanya ini cara terbaik." ucap Ray sambil mulai berjalan mendekat ke arah Rin dan Len.
"Rin.. Len.. maafkan aku.. tapi.." ucap Ray dalam hati sambil mencondongkan tubuhnya dan memegang pundak Rin dan Len.
"..lupakanlah ibu kalian." sambung Ray kemudian mendekatkan mulutnya diantara telinga Rin dan Len.
Ray tampak membisikkan sesuatu. Dan tiba-tiba saja mata Rin dan Len terbelalak seperti shock. Lalu tak lama setelah itu mereka berdua pun tak sadarkan diri di pundak Ray.
"..maafkan aku.." ucap Ray sambil menundukkan kepalanya penuh kesedihan.
Ray membawa mereka yang tak sadarkan diri ke arah timur. Terus ke arah timur hingga sampai di lepas pantai laut cina selatan. Ray menaiki sebuah perahu yang diawaki oleh seorang gadis berambut putih pendek yang usianya tidak jauh darinya. Mereka sampai di Voca Town. Ray membawa Rin dan Len ke sebuah rumah yang tampak berisik.
"Masih saja seperti itu. Padahal sudah lewat bertahun-tahun." ujar Ray sambil tersenyum.
Ray meletakan tubuh Rin dan Len disamping pintu kemudian ia menekan tombol bel rumah tersebut. Sebelum pergi, Ray mengusap kepala Rin dan Len untuk yang terakhir kalinya. Ray pun menghilang dalam senyuman yang menunjukkan kesedihan.
"Ada apa?" ucap Miku kecil membuka pintu rumah tersebut dan nongol keluar.
Miku pun terkejut karena tidak ada siapa-siapa disana.
"Siapa, Miku-chan?" tanya Meiko menghampiri Miku.
"Tidak ada siapa-siapa. Aneh banget. Mungkinkah hanya bel jahil yang sering terjadi dalam berita itu." jawab Miku tampak menggerutu.
"Hah? Masa?" sahut Meiko terdengar tak percaya dan keluar untuk melihat.
Rin dan Len mulai sadarkan diri.
"Di-dimana ini?" tanya Rin saat membuka matanya.
Mendengar lenguhan, Miku dan Meiko menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Mereka berdua pun terkejut bukan main saat melihat ada dua orang anak yang super imut tertidur disamping pintu rumah mereka dan baru bangun.
"Ka-kalian sedang apa disini??" tanya Miku dengan sedikit ragu-ragu.
"A-ada dimana kami?" ucap Len dengan suara lemah.
"Yang lebih penting, masuklah dulu. Disini terlalu dingin. Kalian bisa masuk angin." ujar Meiko yang tak tega melihat kedua anak itu tampak gemetaran karena kedinginan.
Meiko dan Miku pun membawa kedua anak kembar tersebut masuk kedalam. Mereka kemudian mendudukan mereka disofa dan memberikan mereka selimut.
"Apa Meiko-san kenal mereka?" tanya Miku.
"Tidak. Dari wajah mereka, sepertinya mereka adalah orang asing." jawab Meiko.
"Terus bagaimana urusannya dong? Kita tidak tahu mereka anak siapa? Dan kita juga tidak tahu nama mereka." ujar Miku dengan khawatir.
"Mana aku tahu." sahut Meiko sambil pergi ke arah dapur.
"Nama kalian siapa? Kalian berasal darimana? Dimana orang tua kalian?" tanya Meiko dengan ramah pada Rin dan Len yang sedang menghangatkan diri.
"Nama ku.. siapa? Aku siapa?" ucap Len tampak berusaha mengingat namanya.
"Siapa aku? Mana ibuku?" kata Rin yang nampaknya juga tidak mengingat tentang dirinya.
"Meiko-san! Sepertinya mereka berdua amenisa!" ujar Miku.
Di dapur terlihat Meiko terdiam karena terkejut mengetahui kedua anak yang masih kecil itu mengalami hilang ingatan.
Meiko berjalan kembali ke ruang tengah sambil membawa 2 gelas coklat panas. Kemudian Meiko menyuguhkan 2 gelas coklat panas itu pada Rin dan Len.
"Minumlah.. itu enak lho. Tubuh kalian akan langsung terasa hangat setelah meminumnya." ucap Meiko.
"Te-terima kasih.." jawab Rin dan Len kemudian meminum coklat panas itu.
"Curang.. tolong buatkan aku juga dong, Meiko-san.." protes Miku.
"Buat saja sendiri sana. Udah gede ini masa tidak bisa." sahut Meiko.
"Ehh?!! yang benar saja! Pilih-pilih banget dah Meiko-san ini! Tidak adil! Meiko-san tidak adil!!" protes Miku terlihat kesal.
"Bercanda kok. Bentar ya akan aku buatkan dulu." ucap Meiko sambil berjalan kembali ke arah dapur.
"Harus apa aku sekarang? Mereka hilang ingatan. Mereka tidak ingat siapa orang tua mereka maupun asal mereka. Harus gimana nih?" gumam Meiko kebingungan.
"Kenapa aku harus bingung? Tentu saja jawabannya sudah jelas bukan. Aku akan mengurus mereka. Sama seperti Miku-chan. Bodohnya aku." sambung Meiko sambil tersenyum.
Meiko kembali ke ruang tengah untuk menyerahkan coklat panas milik Miku.
"Kalau dilihat-lihat melihat mereka seperti melihat bayangan cermin. Mirip banget. Apa mereka kembar?" ujar Miku sambil meneguk coklat panasnya.
"Tentu saja kan mereka kembar. Kalau tidak, tidak mungkin lah mereka semirip itu" jawab Meiko.
"Benar juga. Hahaha.." sahut Miku.
"Cermin kah.. hmm.. Kagamine. Bagaimana kalau kita namai mereka Kagamine." kata Meiko.
"Benar juga, mereka kan sedang anemia. Mereka tidak ingat nama mereka. Tapi kalau 'Kagamine' doang rasanya kurang wow deh." ujar Miku.
"Miku-chan.. yang benar buka anemia, tapi amnesia. Ya ampun.." sahut Meiko sambil menepuk jidatnya.
"E, iya.. amenisa.." balas Miku.
Meiko hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Miku yang tidak kunjung benar.
"Menurut Miku-chan, nama apa yang bagus untuk mereka?" tanya Meiko.
"Bagaimana kalau Rin-chan dan Len-chan?" usul Miku.
"Nama yang bagus! Dapat darimana?" tanya Meiko lagi.
"Tuh ada namanya di kerah baju mereka." jawab Miku.
Meiko kembali menepuk jidatnya karenanya. Rin dan Len tampak kebingungan melihat Miku dan Meiko. Mereka juga tampak sedikit takut dan cemas karena yang ada dihadapannya adalah orang asing bagi mereka. Melihat sorot mata Rin dan Len, Meiko pun kemudian memeluk mereka berdua.
"Tak usah takut. Aku akan merawat kalian hingga besar. Mungkin aku takkan pernah bisa menggantikan orang tua kalian, tapi aku akan berusaha menjaga kalian. Rin.. Len.. mulai sekarang kalian adalah bagian dari keluargaku." ujar Meiko sambil memeluk mereka berdua.
"Ka-kakak.." ucap Rin dan Len yang masih terheran.
"Aku juga! Mulai saat ini aku akan jadi onee-chan kalian." ucap Miku sambil melompat dan memeluk Rin dan Len dari samping.
Di pelabuhan, Ray tampak hendak menaiki sebuah perahu.
"Aku percayakan mereka padamu, Meiko-san." ujar Ray sambil tersenyum.
"Sudah siap untuk berangkat?" tanya seorang gadis berambut putih pendek.
"Ya." jawab Ray.
Kembali ke masa sekarang, Rin dan Len tampak sedang main game bersama di ruang tengah.
"Kalian ini selalu saja bermain game ya?" sapa Ray sambil memegang kepala Rin dan Len.
"Whoa!!?? Kenapa Ray-nii selalu muncul tiba-tiba." gerutu Len.
"Sejak dulu, Ray-niichan selalu saja bisa muncul tanpa terduga." tambah Rin.
"Mau bagaimana lagi. Itu sudah jadi kebiasaanku." jawab Ray
"Dasar master petak umpet." ucap Len.
Ray hanya tersenyum dikatai seperti itu oleh Len.
To be continued..
"Tidak terjadi apa-apa?" komentar Luka.
"Perhatikanlah baik-baik." suruh Ray.
Perlahan dari belakang Dante, Rin dan Len muncul sosok tinggi besar dan tampak menyeramkan.
"A-apa itu?!" ucap Kamui tampak terkejut.
"Raging Golem Iron Maiden!" ucap Dante.
Dan benar saja, sosok itu mulai membentuk raksasa golem yang berwarna gelap dan menyeramkan.
"Tak kusangka mereka juga bisa menggunakan itu." komentar Ray.
"Menggunakan itu? Itu apa?" tanya Luka.
"Materize. Menciptakan sebuah makhluk menggunakan melodi." jawab Ray.
"Menciptakan makhluk menggunakan melodi? Sama seperti perempuan itu?" tanya Luka mengingat pertarungan melawan Leviathan.
"Ya, nama perempuan itu adalah Leviathan. Salah satu dari 4 komandan satanism. Jadi tidak aneh kalau dia menguasai Materize." jelas Ray.
Raksasa yang ada dibelakang band Dante semakin membesar dan akhirnya sampai ke keadaan penuhnya yaitu setingga 20 meter dan selebar 10 meter.
"Major yang waktu itu ukurannya lebih besar dari raksasa ini. Saya pasti akan membelahnya." ujar Kamui bersiap menggunakan teknik tebasan andalannya.
"Kupikir tidak semudah itu, Gaku-Gaku. Berbeda dengan Major, aku merasakan kalau mereka tak mudah dikalahkan oleh tebasanmu." sahut Gumi.
"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, Megu." balas Kamui.
Kamui pun menebaskan pedangnya ke depan menembakkan efek shockwave yang kuat. Raksasa golem itu melompat ke depan kemudian menyatuhkan kepalan tangannya dan menghantam tanah menahan efek shockwave dari tebasan Kamui.
"Tidak mungkin!?" ucap Kamui terkejut.
"Sudah kuduga." kata Gumi.
Golem itu berlari sambil melesakkan tinjunya ke Gumi dan Kamui. Gerakan golem itu sangat cepat sehingga Gumi dan Kamui pun terkejut dan tak sempat bereaksi. Namun untung saja Miku datang dan menendang tinju golem itu dari arah samping, sehingga tinju itu malah jadi menghantam gedung hingga hancur.
"Kenapa kalian malah bengong gitu? Lawan yang bener!" gerutu Miku.
Golem itu pun kini berhadapan dengan Miku, Gumi dan Kamui. Golem tersebut menyerang Miku dan yang lainnya secara membabi buta, untung saja Miku, Gumi, dan Kamui bisa mengimbangi amukan golem tersebut. Saat Golem itu kembali menyerang, Miku menghindar bersama Gumi dan Kamui untuk memberi jarak.
"Bagaimana ini? Kita butuh rencana untuk melawan makhluk mengerikan itu." ujar Gumi.
"Tapi tak ada dari kita yang bisa membuat rencana disaat seperti ini." sahut Kamui.
"Sepertinya tidak ada cara lain. Aku akan menggunakan otakku yang pintar ini untuk membuatkan kita sebuah rencana yang jenius." kata Miku.
"Terpaksa dah, kita serang sekaligus!" ucap Gumi melompat maju.
"Yeah!" sahut Kamui yang ikut melesat ke arah golem.
"Kenapa kalian tidak mendengarkanku!!?" gerutu Miku.
Namun golem itu melompat dan melewati Gumi dan Kamui begitu saja. Ternyata yang ia tuju adalah Miku.
"Eh? Eeeehhh?!! Kenapa mengarah kesini!!?" ucap Miku terkejut.
"Celaka?!" ucap Gumi yang masih melayang diudara.
Kamui yang berlari ditanah mampu berbalik kembali ke arah Miku berusaha mengejar golem itu.
"Sial, saya takkan sempat menyelamatkan Miku-dono!" ucap Kamui dalam hati.
Golem itu mengepalkan kedua tangannya kemudian bersiap menghantam Miku ke tanah. Namun Miku bergerak kedepan sedikit dan melompat ke atas. Dia meninju golem itu keatas.
"Dia menyerang sambil menghindar?!" ucap Dante dalam hati yang terkejut melihat Miku bisa melakukan hal itu.
Belum berhenti disitu, Miku membungkukan punggungnya kemudian menendang golem itu dengan kedua kakinya sementara kedua tangan Miku berada dibawah. Golem itu terpental keatas.
"Ini kesempatan saya!" ucap Kamui yang melompat sambil melaju ke depan.
Kamui kemudian menebas golem yang masih berada di udara itu sementara Miku sudah mendarat di tanah.
"Naga Terbang Membelah Langit!" ucap Kamui yang mendarat ditanah setelah menebas golem itu.
Golem itu tampak terbelah dua.
"Apa?!" ucap Dante nampak terkejut.
Dari samping tanpa disadari Dante, Gumi melesat dengan kecepatan tinggi kemudian melompat berputar dan menendang kepala Dante. Dante pun terpental jauh ke samping dan menghantam gedung.
"Master!" ucap Rin dan Len konsentrasi permainan mereka terpecah karena melihat Dante terlempar.
Rin dan Len berusaha menyerang Gumi yang berada di hadapan mereka. Namun tiba-tiba ada yang menyentuh kepala mereka.
"Selamat tidur.. Kagamine.." bisik orang yang menyentuh kepala mereka.
Kemudian Rin dan Len tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri setelah mendengar bisikan orang itu yang tak lain adalah Ray.
"Shiro Ray?!" ucap Gumi terkejut dengan Ray yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
"Oke, semuanya sudah selesai. Kita mundur!" suruh Ray.
Luka melihat ke arah Ray, dan Ray tampak mengangguk padanya memberi kode. Luka pun mengerti dan meluncurkan dua pixie dan membuat dua ledakan mirip kembang api diatas langit. Meiko dan Kaito yang sedang bertarung melawan June melihatnya.
"Itu tandanya." ucap Meiko.
Kemudian mereka berdua pun melompat pergi meninggalkan June.
"Hei jangan kabur!" ucap June.
Dante juga kembali keluar dari gedung tempat ia terlempar, namun Miku dan yang lainnya sudah menghilang.
"Sial. Sial kau Shiro Ray!!!" ucap Dante terlihat sangat kesal.
Sosok Rin dan Len pun tampak tidak ada.
Rin dan Len terbaring di sofa yang saling berhadapan di ruang tengah rumah keluarga Miku. Miku dan kawan-kawan berdiri mengelilingi Rin dan Len.
"Apa yang kamu lakukan pada mereka, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ya, kau melakukan apa pada mereka sampai mereka tiba-tiba pingsan begitu?" tanya Miku.
"Aku mengembalikan apa yang hilang dari mereka. Karena kembali secara sekaligus dan menimpa yang sudah dimanipulasi, maka tubuh mereka mengalami shock. Dan karena tidak tahan, mereka pun akhirnya tak sadarkan diri." jelas Ray.
"Seperti biasanya, penjelasanmu itu susah sekali dimengerti." komentar Gumi.
"Tapi, apa mereka akan baik-baik saja?" tanya Meiko terlihat khawatir.
"Tenang saja. Saat mereka sadar, mereka akan kembali seperti biasanya." jawab Ray.
"Syukurlah.." ucap Meiko terlihat lega.
Tak lama kemudian, Rin dan Len pun tersadar. Sebelum membuka matanya, mereka tampak menangis. Air mata yang cukup banyak mulai bercucuran melalui sela mata mereka.
Meiko yang tidak tega melihat mereka menangis langsung menghampiri tubuh Rin dan Len kemudian menggenggam tangan mereka dengan erat.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Luka pada Ray yang berada di sebelahnya.
"Mereka mengingatnya. Mereka mengingat apa yang mereka lupakan." jawab Ray.
"Oohh.." sahut Luka dengan tampak sedih menatap ke Rin dan Len.
"Ibu.." ucap Rin dan Len.
Meiko terkejut mendengar ucapan Rin dan Len.
"Ibu.. jangan tinggalkan kami.." sambung Rin dan Len.
"Tidak. Ibu tidak akan meninggalkan kalian." jawab Meiko.
"Mereka pasti menganggap Meiko-chan sebagai ibu mereka saat merasakan tangan Meiko-chan." pikir Luka.
"Benarkah? Ibu janji?" tanya Rin dan Len.
"Ya, ibu berjanji takkan pernah meninggalkan kalian. Ibu akan selalu disamping kalian. Karena itu, Rin-chan, Len-chan, tetaplah disisi ibu." jawab Meiko sambil menangis.
Perlahan si kembar itu membuka mata mereka.
"A-ada dimana ini?" tanya Len sambil bangun.
"Ibu? Dimana ibu?" tanya Rin sambil bangun.
"Ibu ada disini." jawab Meiko.
Rin dan Len pun menoleh ke arah Meiko.
"Meiko-neesan?!", "Meiko-nee?!" ujar Rin dan Len bersamaan.
"Ya.. selamat datang.." sahut Meiko.
Rin dan Len pun sadar kalau yang menjawabnya saat mereka mengigau itu adalah Meiko, dan mereka pun menangis lagi.
"Waaahh.. selamat datang lagi, adik-adikku yang manis!" ucap Miku sambil melompat ke arah Rin dan Len.
"Eh, siapa ya?" tanya Rin dan Len bersamaan.
Miku pun jatuh karena shock.
"Tidak!! Jangan bilang kalian telah melupakanku!!" ucap Miku sambil menangis.
"Hahaha.. bercanda kok, Miku-nee." sahut Len.
"Mana mungkin kami melupakan kakak bodoh kami." tambah Rin.
"Sepertinya semuanya sudah berakhir. Benarkan, Ray-kun.." ujar Luka sambil menoleh ke arah Ray.
Tapi ternyata Ray sudah tidak ada di sampingnya.
"Oh ya, Ray-niichan mana?" tanya Rin.
"Ray-nii!" panggil Len.
"Lho tadi dia ada disana, kemana perginya?" kata Miku.
"Dia lagi-lagi pergi tanpa bilang apa-apa." komentar Meiko.
"Aku akan mencarinya." ujar Gumi kemudian berlari keluar.
"The White Light-dono sangatlah menyusahkan ya." ujar Kamui.
"Tapi walau begitu dia lebih berguna daripada pemalas sepertimu." sahut Kaito.
"Apa kalian lapar? Mau menu apa untuk makan malam nanti?" tanya Meiko.
"Kare!" jawab Miku, Rin dan Len bersamaan.
"Oke, makan malam kali ini adalah kare. Kaito, bantu aku!" sahut Meiko kemudian menyuruh Kaito membantunya.
"Baiklah." balas Kaito sambil tersenyum malas.
Gumi berlari-lari mencari Ray. Dan tak lama, dia mampu melihat Ray berjalan dengan santai membawa pancingan. Ray pun turun ke pematang sungai dan duduk disana. Gumi memperlambat larinya dan berhenti dibelakang Ray.
"Ternyata mau mancing doang. Kupikir dia mau menghilang lagi." gumam Gumi.
"Aku sudah berjanji ke Megurine-san kalau aku takkan meninggalkannya lagi, jadi tenang saja." ujar Ray.
"Darimana kamu tahu ini aku!?" tanya Gumi dengan terkejut.
"Tidak, aku tidak tahu kamu siapa. Memangnya tadi aku menyebutkan namamu?" jawab Ray.
Gumi kembali terkejut dengan jawaban Ray.
"Jadi ada apa kamu menyusulku kemari?" tanya Ray.
"Si kembar nyariin kamu tuh. Apa kamu tidak mau menyapa mereka?" jawab Gumi kemudian bertanya balik.
"Aku bisa menyapa mereka kapan saja setelah ini. Aku hanya tak ingin mereka banyak bertanya padaku untuk saat ini." jawab Ray.
"Memangnya apa yang akan mereka tanyakan padamu?" tanya Gumi penasaran kemudian duduk di sebelah Ray.
"Aku punya beberapa kemungkinannya. Tapi aku menghindari yang paling terburuk diantaranya." jelas Ray.
"Seperti biasanya penjelasanmu membingungkan." komentar Gumi.
"Megupo-san sendiri kenapa masih menutup diri seperti itu?" tanya Ray.
"Menutup diri? Apa maksudmu?" tanya balik Gumi.
"Aku yakin Dante pernah mengajakmu duet sewaktu festival budaya waktu itu. Tapi karena alasan masa lalu, Megupo-san menolaknya. Benar kan?" jawab Ray.
"Da-darimana kamu tahu hal itu?" tanya Gumi terkejut.
"Sudah lama aku mengenal Dante, mana mungkin aku tidak mengerti perasaannya saat menyerangku waktu itu." jawab Ray.
"Orang yang jahat akan selamanya di cap jahat meskipun saat ini dia melakukan hal baik!" ucap Dante dalam ingatan Ray.
"Kamu takkan pernah melangkah maju jika terus terjebak di masa lalu. Untuk melihat masa lalu cukuplah dari cermin, tak perlu menyelaminya sedalam itu." sambung Ray.
"Ta-tapi kan.." sahut Gumi dengan wajah sedikit memerah.
"Tapi kenapa lagi?" tanya Ray sambil memiringkan kepalanya.
Gumi pun enggan menjawab dan malah menjauhkan padangannya dari Ray dan melihat ke bawah dengan wajah memerah.
"Tunggu sebentar, jangan bilang kamu..", "Whoaa.. tidak kok! Tidak mungkin! Aku tidak sedang-.." potong Gumi pada perkataan Ray kemudian menutup mulutnya sendiri.
"'Tidak sedang'? Tidak sedang apa?" tanya Ray sambil memiringkan kepalanya.
"Ah bukan apa-apa. Lupakan saja!" sahut Gumi berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Gumi pun langsung diam berhenti bicara, sementara Ray hanya menghela napas.
"Dante itu selalu kesepian. Dia terjatuh dalam kegelapan sendirian. Tapi dia selalu berusaha untuk semangat selama orang-orang disekitarnya terus ada menemaninya. Jika orang yang penting baginya dilukai, maka dia akan jadi orang pertama yang marah. Dia tidak jahat, dia hanya kesepian." jelas Ray.
"Kesepian?" ucap Gumi sambil menoleh ke arah Ray.
"Karena perasaan sepi, seseorang akan melakukan apapun untuk menarik perhatian orang-orang. Bukankah itu yang selalu terjadi?" sambung Ray.
Gumi pun menunduk karena mengerti maksud Ray. Ray pun memegang kepala Gumi.
"Karena itu, jadilah orang yang menyelamatkannya dari kesepian. Jadilah orang yang benar-benar menyelamatkannya." tambah Ray.
Gumi melirik ke arah Ray dan menatap wajahnya yang tampak serius melihat ke arah sungai.
"Pantas saja Luka-oneesama jatuh cinta pada orang ini. Berada di dekatnya membuat hatiku merasa sangat nyaman." ujar Gumi dalam hatinya.
Sekitar 5 tahun yang lalu di bumi tengah, ada sebuah kota kecil yang damai dan tentram. Sebuah kota yang diperintah oleh seorang ratu. Ratu yang cantik berambut pirang bernama Ellen. Saat itu, sebuah pasukan besar milik Pangeran Kegelapan sedang menuju ke kota itu. Pasukan yang dipimpin langsung oleh Dante itu berniat menjatuhkan kota perbatasan itu.
"Pokoknya siang ini kita harus sudah menjatuhkan mereka!" ucap Dante yang masih berusia 10 tahunan itu di pesawat singgasana nya.
"Tuan Lucifer, ratu disana terkenal dengan nyanyian perang nya. Apa kita bisa mengalahkannya?" tanya seorang berseragam kapten.
"Tenang saja. Jumlah pasukan kita lebih dari 10.000. Kita pasti menang." jawab Dante dengan percaya diri.
"Memang benar sih, tapi bagaimana kalau tiba-tiba muncul seseorang yang sangat hebat sampai-sampai bisa menghabisi 10.000 pasukan sekaligus?" tanya kapten itu yang terlihat khawatir.
"Magna, berhentilah berpikiran negatif seperti itu. Kalau sampai orang seperti itu muncul, kita tinggal turun tangan saja kan sebelum dia menghabisi seluruh pasukan kita." jawab Dante.
"Be-benar juga." sahut kapten yang ternyata bernama Magna itu.
"Daripada khawatir pada hal seperti itu, lebih baik kita berikan ucapan halo pada mereka." ujar Dante sambil memasang kuda-kuda.
Dari kepalan tangannya muncul api hitam. Dante pun memukulkan tangannya kedepan menembakan bola api hitam yang lumayan besar ke arah kota yang jauh ada didepannya. Bola api hitam itu pun jatuh di pusat kota tepat mengenai patung di tengah air mancur hingga hancur berkeping-keping bersama beberapa bangunan disekitarnya. Hal itu pun memicu kepanikan warga yang menyaksikannya.
"Kita diserang! Kita diserang!" teriak seorang laki-laki yang kelihatannya seorang prajurit berlari-lari masuk ke dalam istana.
Di singgasana nya, ratu Ellen tampak sedang duduk membaca buku. Di pangkuan sang ratu, tampak sepasang anak kembar duduk mendengarkan ibunya itu membacakan cerita.
"Yang mulia! Gawat yang mulia! Gawat!!" ucap seorang prajurit tiba-tiba saja masuk dan membuka pintu.
Kedua anak kembar itu terkejut dan menyundul dagu ibunya. Ellen pun kesakitan dan langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu pula kedua anaknya yang kepalanya juga kesakitan.
"Ada apa sih ngagetin?" tanya Ellen.
"Kita diserang! Kita diserang oleh pangeran kegelapan!" jawab prajurit itu.
"Apa?! Pangeran kedelapan?!" sahut Ellen.
"Ayolah ratu, ini bukan saatnya bercanda.." ujar prajurit itu.
"Ibu.. pangeran kegelapan itu apa? Apa sejenis biskuit?" tanya salah satu anaknya.
"Ya begitulah. Tapi rasanya pahit." jawab ibunya dengan senyuman polos.
"Yah kalau tidak enak aku tidak mau deh." sahut anaknya itu.
"Segera siapkan seluruh pasukan yang ada. Kita akan memberi perlawanan sebisa kita sampai para warga mengungsi." suruh Ellen dengan suara pelan.
"Baik ratu." sahut prajurit itu kemudian pergi keluar dari ruangan.
Sementara di gerbang sebelah timur kota, ada seorang anak laki-laki memasuki kota tersebut. Seorang anak laki-laki berambut hitam pendek dengan kaos hitam dan celana pendek belang hitam putih kotak-kotak mirip bendera finish.
"Kota ini kah selanjutnya. Maaf saja, tapi sepertinya aku harus menghentikanmu lagi, Pangeran Kegelapan." ujar anak laki-laki yang tak lain ada Ray muda itu.
Seluruh pasukan kerajaan yang jumlahnya hanya sekitar 1.000 orang itu sudah bersiap didepan benteng dan membuat barikade untuk menahan pasukan Pangeran Kegelapan.
"Kita berkumpul disini bukan untuk bermain gapleh! Kita disni bukan untuk bermain cangkulan! Tapi kita disini untuk berperang! Berperang untuk melindungi benteng yang melindungi orang-orang didalamnya! Kita tak boleh kalah! Kita adalah prajurit yang siap! Jangan biarkan satupun dari mereka lewat!!!" ucap kapten pasukan itu.
"Wah-wah.. sepertinya mereka berniat menahan kita dengan pasukan yang jumlahnya hanya 1/10 dari kita. Berani juga mereka." komentar Dante yang melihat melalui teropong.
"Tentu saja mereka berani, tuan. Mereka punya nyanyian perang yang membuat penyerangan kita beberapa kali gagal meskipun jumlah kita lebih banyak. Kita dibuat harus memakai jalan memutar untuk sampai ke kota selanjutnya." jelas Magna.
"Beneran?" tanya Dante.
"Ya beneran lah. Tuan lupa kalau tuan sudah pernah beberapa kali memerintahkan pasukan menduduki kota tersebut dan gagal?" jawab Magna.
"Hahaha.. maaf aku tidak ingat dengan kejadian-kejadian yang kurang penting menurutku." sahut Dante sambil tertawa bego.
"Tapi yang membuatku heran adalah, beberapa bulan ini pasukan-pasukan kecil yang kita utus ke kota-kota di wilayah timur satu persatu menghilang. Entah apa yang terjadi." ujar Magna tampak berpikir.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang penting sekarang kita akan menghancurkan kota yang selama ini menghalangi jalan kita ke wilayah timur." sahut Dante.
"Ya, tuan benar juga." balas Magna.
Kemudian pasukan Pangeran Kegelapan pun berhenti sejenak di tanah lapang itu.
"Aku Lucifer. Aku datang kemari untuk menghancurkan kota kalian. Apapun perlawanan yang kalian lakukan akan sia-sia. Jadi, jika ingin memperpanjang umur silahkan tinggalkan kota itu dengan segera." ujar Dante dengan lantang dari pesawatnya.
"Ha! Kau pikir bisa mengalahkan kami dengan mudah hah!" sahut kapten dari pasukan penjaga kota itu.
"Mudah saja kok." jawab Dante kemudian membuat sebuah bola api hitam besar berukuran 10 kali bola basket di telapak tangannya.
"Apa itu?!" ucap kapten pasukan tadi terkejut.
Dante lalu melemparkan bola api itu ke arah pasukan dihadapannya. Hampir separuh dari jumlah pasukan pun terkena ledakan bola api itu.
"Di-dia menghancurkan separuh pasukan sekali serang?!" ucap kapten itu semakin terkejut.
"Ups! Sepertinya aku terlalu banyak membunuh mereka. Ini jadi tidak seru." kata Dante.
"Cih, sialan!" ucap kapten itu tampak geram.
"Ada apa menatapku seperti itu? Tenang saja tak perlu kesal, kalian akan segera menyusul mereka!" ujar Dante dengan tatapan iblis.
"Pasukan serang!" suruh kapten pasukan penjaga gerbang.
"Pasukan hancurkan mereka!" perintah Magna.
Kedua belah pasukan yang jumlah sangat jauh berbeda itu pun saling bertubrukan. Ada beberapa dari mereka yang menggunakan pedang, ada juga yang menggunakan senjata api, tapi ada juga yang menggunakan tangan kosong. Mereka saling membantai dalam pertempuran yang mengerikan itu. Diatas menara yang tinggi sang ratu berdiri. Ellen menarik napas panjang kemudian mulai membuka mulutnya. Ellen mulai bernyanyi dengan suara indah nan merdu mirip penyanyi opera.
"Itukah nyanyian perang yang terkenal itu. Hmm.." ucap Ray sambil melihat kearah menara.
Lalu Ray memejamkan matanya. Dia mendalami melodi itu dan dia pun akhirnya merasakan sesuatu.
"Oh.. begitu rupanya." ucap Ray lalu membuka matanya lagi.
Ray pun menghampiri menara itu dan masuk kedalamnya. Sementara itu di medan pertempuran terlihat pasukan penjaga gerbang mengamuk menghancurkan setiap musuh disekitarnya.
"Yang benar saja! Kenapa mereka jadi sekuat itu!?" ucap prajurit yang sedang melawan salah seorang dari pasukan penjaga gerbang.
"Whoaa!!" teriak pasukan Pangeran Kegelapan yang terlihat ketakutan.
"Inikah kekuatan dari nyanyian perang?" gumam Magna melihat pasukan barisan depan panik.
Dalam medan perang itu terlihat pasukan penjaga gerbang terus menekan pasukan pangeran kegelapan.
"Kalau begini terpaksa akan kugunakan kekuatanku untuk membantu. Aku adalah Magna, kapten pasukan ini yang menguasai kekuatan terbesar dibumi. Kekuatan yang disebut magnet." ujar Magna sambil membuka telapak tangan kanannya ke arah pasukan penjaga gerbang.
"Press!" ucap Magna sambil sedikit menurunkan telapak tangannya kebawah.
Kemudian para pasukan penjaga gerbang itu langsung ambruk terbaring ditanah. Mereka meringis kesakitan seperti ditekan oleh sesuatu yang sangat berat.
"Itu adalah 'press', kekuatan milik kapten Magna. Kapten terkuat diantara kapten yang lain. Itu adalah kekuatan yang mampu mendorong segala benda yang ingin di dorong dengan tekanan sebesar apapun yang diinginkan oleh pemilik kekuatan tersebut. Benar-benar kekuatan yang mengerikan." komentar salah seorang dari pasukan pangeran kegelapan yang ada di baris depan.
"Dan sekarang, Break!" ucap Magna kemudian mengepalkan tangannya.
Dan tubuh orang-orang yang terkena 'press' pun terlihat seperti diremas. Darah muncrat keluar dan tubuh mereka ringsek.
"A-apa yang terjadi?!" ucap Ellen terkejut melihat pasukannya tewas semuanya dalam sekejap.
"Tak perlu sekaget itu." ujar Ray dari belakang Ellen.
Ellen terkejut mendengar suara anak laki-laki dari belakangnya dan dia pun menoleh kebelakang.
"Siapa kamu?" tanya Ellen terkejut melihat Ray.
"Perkenalkan, namaku adalah Shiro Ray. Aku berasal dari timur jauh. Aku kemari untuk membantumu, nona." jawab Ray.
"Membantuku? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untuk membantuku?" tanya Ellen lagi tampak ragu.
"Hmm.. misalnya dengan mengusir 10.000 orang yang sedang tawuran disana itu." jawab Ray sambil melirik pasukan pangeran kegelapan yang hendak memasuki kota.
"Eh?! Kamu?!" ucap Ellen tidak percaya.
"Ya, karena itu cobalah bantu aku dengan melody of harmoni milikmu." pinta Ray kemudian memakai earohpoid nya.
"Start up! Vocaloid system: on! Power: 100% Light up!!!" ucap Ray lalu tubuh dan pakaiannya menjadi putih dan semakin lama semakin bersinar terang.
Ray menghilang dari hadapan Ellen dan tiba-tiba muncul diantara pasukan pangeran kegelapan barisan depan. Kemunculannya membuat efek kejut yang mampu melibas habis pasukan disekitarnya dalam radius 100 meter.
"A-apa itu?!!" ucap pasukan pangeran kegelapan terkejut dengan kedatangan sosok putih itu tiba-tiba.
Beberapa saat kemudian cahaya putih yang menyelimuti Ray perlahan meredup dan nampaklah dia memakai kaos biru dengan motif petir berwarna putih dan celana pendek putih.
"Siapa dia?" tanya Dante.
"Saya juga tidak tahu, tuan." jawab Magna.
"Nah, sepertinya disini sepi sekali. Rasanya bosan kalau tidak ada musik. Mungkinkah aku harus memainkan beberapa nada sebagai BGM?" ujar Ray sambil mengangkat tangannya.
"Instrument: Thundergod Guitar!" ucap Ray dan muncul lah petir menyambar ke dirinya.
Tanahnya terlihat hancur terkena sambaran petir itu, dan kemudian ditangan Ray muncul sebuah gitar elektrik.
"Jangan diam saja! Serang!" suruh Magna pada pasukannya.
Pasukan yang mengelilingi Ray pun mulai berlari ke arah Ray untuk mengeroyoknya.
Semua pasukan yang berada di sekeliling Ray langsung bergerak menuju ke arah Ray. Ray dikepung dan tak bisa pergi kemana-mana lagi saat itu.
"Apa dayaku, kalau diserang dari segala arah seperti ini.." kata Ray terlihat menyetel gitarnya.
"Aku hanya tinggal menyerang ke segala arah!" sambung Ray kemudian memainkan sebuah nada dan aliran listrik tegangan tinggi pun menyambar ke segala penjuru.
Aliran listrik itu membabat habis semua yang ada di jalurnya, bahkan tanah ikut terangkat akibat kuatnya aliran listrik tersebut.
"Kekuatan macam apa itu?! Apa dia juga pemilik nada hitam alami sepertiku." ujar Magna terkejut melihat kekuatan Ray.
Ray melihat ke arah Ellen sambil berdiri dengan gagahnya diantara para pasukan yang ambruk.
"Kenapa dia melihat kemari? Oh, benar juga tadi dia memintaku membantunya. Etto.. dengan melody of harmony kalau tidak salah. Tapi.. apa maksudnya? Mungkinkah itu caranya menyebut nyanyian perangku?" gumam Ellen.
Ellen pun mengangguk tanda mengerti permintaan Ray. Kemudian Ellen mulai bernyanyi lagi dengan suara merdunya. Nyanyian perang yang membuat merinding saat mendengarnya. Ray memejamkan matanya dan mulai merasakan ada energi yang sangat kuat mengalir ke dirinya.
"Hmm.. sudah kuduga. Begini cara kerja melody of harmony." ujar Ray dalam hatinya sambil tetap memejamkan matanya.
Perlahan tubuhnya diselimuti cahaya berwarna-warni.
"Lightning Edge Divider!" ucap Ray melempar gitar nya ke angkasa.
Kemudian Ray berjalan ke depan dengan santai menghampiri ribuan pasukan tanpa ragu sedikitpun. Tak lama kemudian gitar Ray jatuh dibelakang Ray dengan badan gitar nya mendarat terlebih dahulu dan menghancurkan tanah. Lalu muncul 2 dinding petir yang membatasi bagian kiri dan kanan dan semakin menjauh dari gitar semakin lebar.
"Dengan begini, berapapun jumlah pasukannya tidak jadi masalah bagiku. Jadi, ayo kita mulai pertunjukkannya." kata Ray dengan tangan kirinya nya dilipat dibelakang punggung.
Di pesawatnya, Dante tampak kebingungan begitu pula Magna. Dari atas tampak dinding petir milik Ray benar-benar membatasi pergerakan pasukan pangeran kegelapan.
"Bagaimana ini, tuan? Sepertinya dia kuat sekali. Ditambah sekarang dia dibantu oleh nyanyian perang juga. Apa kita akan menang?" tanya Magna terlihat panik.
"Jangan tanya aku. Aku juga bingung nih." jawab Dante yang terlihat mulai pusing berpikir.
Pasukan pangeran kegelapan terlihat terus-terusan menyerang Ray dari depan secara bertubi-tubi tanpa henti, tapi dengan menyamakan gerakannya dengan irama nyanyian Ellen, Ray mampu mengalahkan setiap orang yang mengalahkannya.
"Kita benar-benar dibantai, tuan. Kalau begini terus kita bisa kalah." ujar Magna.
"Iya, aku juga tahu." sahut Dante terlihat kesal melihat jalannya perang.
"Apa kita harus turun tangan?" tanya Magna.
"Kita belum tahu kekuatan sebenarnya dari musuh kita. Memangnya kau sudah yakin ingin melawannya? Tapi jika kamu yakin maka akan kuijinkan kau melawannya." jawab Dante.
"Ti-tidak begitu juga lah, tuan. Setidaknya tuan berikanlah bantuan. Masa cuma saya saja sendirian." tolak Magna.
"Ya tenang saja. Nanti aku kasih support dari sini." jawab Dante.
"Oh.. beneran?" tanya Magna.
"Ya beneran." sahut Dante.
"Baiklah kalau begitu." balas Magna kemudian melompat turun dari pesawatnya.
Pasukannya terlihat sudah terbantai lebih dari separuhnya oleh Ray yang hanya sendirian dan melawan dengan tangan kosong.
"Lift!" ucap Magna sambil mengerakan ke empat jarinya ke atas.
Ray pun terangkat ke atas.
"Ada apa ini?" ucap Ray saat tubuh nya tiba-tiba melayang.
"Press!" tambah Magna membalikan tangannya kemudian menekan kebawah.
Ray yang tadi terangkat seketika jatuh kebawah dengan kecepatan tinggi.
"Begitu rupanya." kata Ray dalam hati.
Tanah pun hancur terkena efek hantaman dan asap debu mengepul ke atas.
"Berhasil kah?" ucap Magna terlihat masih siaga.
Saat asap debu memudar, nampak Ray berdiri dengan santai seperti tak terjadi apa-apa. Dia bahkan tak tergores sedikitpun.
"Apa?!" kata Magna dengan wajah terkejut.
"Kekuatan magnet kah? Mudah sekali. Magnet hanyalah mainan untukku." ujar Ray dengan tatapan sayu nya.
"Cih, bagaimana aku bisa melawan orang semacam dia." pikir Magna.
"Dia hebat." puji Ellen yang memperhatikan dari menara.
Ellen pun melanjutkan nyanyiannya yang sempat terhenti karena takjub melihat Ray yang begitu hebat.
"Bagaimana dengan ini?" ujar Magna kembali membuka telapak tangannya ke arah Ray.
"Break!" sambung Magna meremas tangannya.
Namun tak terjadi apa-apa pada Ray. Ray hanya menatap Magna dengan malas seperti sudah bosan. Ray kemudian melesat dengan cepat dan dalam sekejap sudah ada di hadapan Magna. Dia menangkap lengan Magna kemudian membanting Magna dengan bantingan judo.
"Sebaiknya kamu menyerah sebelum kamu terbunuh disini. Aku tak ingin mengotori tanganku dengan darah." ujar Ray berdiri menatap Magna yang terbaring ditanah.
"Jangan sombong! Press Wave!" teriak Magna membuah sebuah bola menyelubungi tubuhnya yang melebar dengan cepat.
Pasukannya sendiri ikut tertekan kebelakang, dan sebagian menghantam dinding petir Ray hingga terpental ke atas. Namun Ray sama sekali tidak terpengaruh, dia masih berdiri di tempat yang sama.
"Ti-tidak mungkin?! Bagaimana bisa kau.." ucap Magna kembali terkejut.
"Bukankah sudah kukatakan, magnet hanyalah mainanku. Dengan kekuatan listrik, aku bisa membuat atau meniadakan magnetisme suatu benda. Mengerti?" jelas Ray.
Mendengar penjelasan Ray, Magna semakin terkejut karena barus sadar kalau dirinya sama sekali bukan apa-apa dibandingkan anak dihadapannya saat ini.
"Tapi aku takkan menyerah semudah itu. Aku tidak mungkin disebut kapten terkuat tanpa alasan." ujar Magna kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Black Hole!" sambung Magna kemudian membuat sebuah titik hitam kecil yang makin lama makin membesar.
Bola hitam itu kini sebesar bola voli dan stabil. Namun kemudian bola tersebut mulai menghisap apapun yang ada disekitarnya hingga menghilang. Tapi sayangnya Ray tetap tidak terpengaruh.
"Tuan Lucifer, katanya mau beri support! Ayo sekarang! Saya sedang butuh bantuan anda sekarang!" pinta Magna.
"Go! Go! Magna Go!" ucap Dante bagaikan pemandu sorak.
"Maksud saya bukan support yang itu!!" bentak Magna.
Semakin lama hisapan bola hitam itu semakin kuat dan akhirnya bahkan bisa menghisap tanah disekitarnya.
"Wire: On!" ucap Ray menjertikkan jarinya.
Lalu tubuh Magna tersambar listrik tegangan tinggi sehingga bola hitam nya pun pecah dan menghilang. Magna ambruk dan lemas akibat sengatan listrik. Ray kemudian beralih memandang ke arah pesawat yang melayang tak jauh dari situ.
Ray dan Dante saling berhadapan untuk pertama kalinya. Dante melompat turun dari pesawatnya untuk melihat Ray lebih dekat agar tahu seperti apa orang yang membantai pasukannya dan mempermalukannya seperti itu.
"Hebat sekali. Kamu bisa mempermalukanku sampai seperti sekarang. Belum pernah sebelumnya pasukan yang dipimpin langsung olehku gagal dalam pertempuran." ujar Dante berhenti saat merasa cukup dekat untuk melihat wajah Ray.
"Baguslah kalau begitu, berarti ini sebuah kemajuan." sahut Ray.
"Haha.. ternyata kau punya lidah yang tajam sekali." balas Dante.
"Terima kasih." kata Ray.
"Itu bukan pujian." bantah Dante.
"Jadi saat ini kamu mau menyerah, Pangeran Kegelapan?" tanya Ray.
"Menyerah? Haha.. kau lucu sekali. Tapi sayangnya tak ada kata menyerah dikamusku." jawab Dante.
"Kalau begitu tambahkan dong." balas Ray.
"Cih, kau menyebalkan juga ternyata." ucap Dante.
"Terima kasih." kata Ray.
"Itu juga bukan pujian." bantah Dante.
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Kita mulai saja!!!" pekik Dante mengepalkan kedua tangannya dan tampak api menyelimuti kedua kepalan tangannya.
"Oke." sahut Ray.
Pertarungan diantara mereka berdua pun tak terhindarkan. Mereka bertarung dengan sengit. Dante melancarkan tinjunya bertubi-tubi ke arah Ray. Namun Ray mampu menghindari setiap tinju Dante sekaligus tembakan api yang terlempar karenanya.
"Kenapa hanya menghindar saja! Ayo serang aku!" tantang Dante.
"Baiklah." sahut Ray kemudian menangkap pergelangan tangan Dante.
Ray berputar dan membanting tubuh Dante dengan bantingan Judo. Ray mundur kebelakang untuk memberi jarak. Dante bangkit lagi.
"Hanya itu saja?" tanya Dante yang terlihat tidak terlalu terpengaruh bantingan Ray.
"Ya, hanya gerakan itu saja yang aku ketahui sampai saat ini." jawab Ray.
"Lemah!" bentak Dante kemudian menembakan api hitam dari 10 jari tangannya sekaligus.
Ray bergerak dan bermanuver menghindari setiap peluru api hitam itu kemudian akhirnya sampai dihadapan Dante. Tapi tiba-tiba dia mundur lagi ke arah lain.
"Eh, dia tidak menyerangku?" ucap Dante dalam hati heran.
Dante kembali menyerang Ray, namun Ray menghindar kesana kemari dengan gerakan yang aneh. Dengan cepat Dante pun berusaha mengejar Ray, namun Ray menyentuh dadanya dan mendorongnya dengan kuat. Dante terdorong kebelakang namun kakinya masih bisa mendarat dan menahan.
"Haha.. hanya itu saja?" tanya Dante.
Kemudian Dante mengangkat tangan kirinya ke atas. Terbentuklah sebuah bola api hitam raksasa ditangannya.
"This is the end! I'll show you! Wire of Last Stand! On!!!" teriak Ray kemudian menjertikan jarinya.
Nampak beberapa titik bercahaya tersambung satu sama lain dengan jalur listrik. Titik-titik cahaya yang berada di sekeliling Dante itu saling menyambung bagaikan sirkuit listrik mendekat menuju ke Dante.
"A-apa ini?!" ucap Dante kemudian melompat ke atas karena merasaka sesuatu yang buruk akan terjadi padanya kalau diam terus.
Namun sia-sia, ternyata jalur listrik itu tetap menyambung padanya.
"Apa?!!" ucap Dante terkejut.
Dan sebuah petir raksasa pun tercipta menjulang tinggi ke angkasa. Petir putih yang begitu menyilaukan cahayanya. Cabangnya merambat dilangit bagaikan sebuah pohon putih raksasa.
"Cahaya putih." ucap setiap orang yang melihatnya dari dekat ataupun jauh.
Petir yang berdiri tegak di medan perang perlahan mulai menghilang. Dan nampaklah sosok Dante terbujur kaku di tengah kawah yang terbentuk akibat sambaran petir. Ray berjalan mendekati Dante yang terbaring tak berdaya.
"Jadi, apakah kamu akan menarik mundur pasukanmu dan kabur? Atau mau menyerah disini dan membiarkanku mengurus semuanya?" tanya Ray sambil menunduk melihat ke arah Dante.
"Si-sial.. siapa kau sebenarnya?" tanya balik Dante yang masih terbaring lemas.
"Siapapun aku, itu tidak terlalu penting. Lagipula aku sudah mengalahkanmu." jawab Ray.
"Cih, kurang ajar. Tapi sayang aku takkan menyerah disini. Karena itu, aku akan memilih kabur dan menarik mundur pasukan yang tersisa." ujar Dante sambil tersenyum.
Tubuh Dante perlahan terangkat keudara. Ternyata diatasnya ada sebuah pesawat yang tak lain adalah pesawat yang membawa singasana nya.
"Oohh.. jadi pesawat itu juga bisa melakukan hal semacam itu. Kendaraan yang menarik." komentar Ray.
"Pasukan! Mundur sekarang!" suruh Dante kemudian pergi dengan pesawatnya.
Para pasukannya yang masih tersisa pun terlihat mundur.
"Dia membiarkannya pergi? Kenapa?" gumam Ellen terlihat heran.
"Kekuatanku sudah tinggal sedikit. Tak kusangka serangan tadi menghabiskan begitu banyak energi." ujar Ray dalam hatinya kemudian terlihat lega dengan perginya Dante dan pasukannya.
Ray kemudian berjalan dan mengembalikan wujudnya ke wujud semula. Dia kembali ke kota dan sampai di gebarng benteng kota. Namun saat sampai di gerbang dia jatuh terduduk di pintu gerbang dan terlihat kelelahan. Lalu Ray pun tertidur di pintu gerbang tersebut.
"Hei kamu tidak apa-apa? Hei!" ucap Ellen berusaha menyadarkan Ray.
Namun Ray tetap menutup matanya dan tertidur karena terlalu kelelahan. Saat Ray membuka matanya kembali, dia sudah berada di sebuah ruangan dengan hiasan yang indah.
"Ada dimana aku?" tanya Ray sambil perlahan melihat-lihat ruangan tersebut.
Sepertinya itu adalah sebuah kamar yang sangat mewah. Dan pintu pun terbuka lalu muncul seorang perempuan anggun berambut pirang panjang nan cantik jelita. Sambil tersenyum perempuan itu menghampiri Ray yang masih terbaring di ranjang itu.
"Kamu sudah sadar? Syukurlah.." ucap perempuan yang tak lain adalah Ellen itu.
"Oohh.. nona ratu. Anda kah yang membawa saya kemari?" tanya Ray.
"Ya.. kulihat kamu kelelahan jadi aku bawa kamu kemari. Terima kasih telah menolong kami mengalahkan Pangeran Kegelapan.Kalau tidak ada kamu.. pasti kota ini sudah.." ujar Ellen tampak sedih.
"Tak usah dipikirkan. Seharusnya aku juga datang lebih cepat." sahut Ray yang ternyata menyadari mayat-mayat pasukan penjaga gerbang di medan pertempuran.
"Tapi kenapa kamu melepaskan Pangeran Kegelapan?" tanya Ellen.
"Kamu lihat sendiri kan? Aku sudah sangat kelelahan. Setelah bertarung melawan ribuan pasukan dan pangeran kegelapan, stamina tubuh asliku benar-benar terkuras habis. Ditambah energiku juga sudah banyak terpakai. Jadi meskipun aku berusaha menghentikannya sekalipun sudah pasti dia akan bisa kabur." jelas Ray.
"Benar juga. Setiap orang selalu memiliki batasannya masing-masing." sahut Ellen.
Tak lama kemudian masuk 2 orang anak kecil ke kamar tersebut. Dia langsung menghampiri Ellen dan memeluknya.
"Perkenalkan, mereka adalah anakku. Mereka kembar. Namanya Rin dan Len." ucap Ellen memperkenalkan mereka.
"Oohh.. mereka lucu-lucu ya, mirip ibunya." ujar Ray saat melihat Rin dan Len yang masih kecil itu.
"Hah? Kau mau menggodaku? Maaf itu takkan berguna. Aku tak tertarik pada bocah sepertimu." sahut Ellen.
"Eh, menggoda nona? Buat apa? Aku tak ada niatan menggodamu. Aku kan hanya mengatakan kalau mereka mirip denganmu." jelas Ray.
"Be-begitukah?" ucap Ellen heran.
"Celaka?!! Kenapa ini seperti aku berharap dia menggodaku? Ada apa dengan bocah ini? Karisma nya membuatku berpikiran aneh seperti ini, padahal dia masih kecil." pikir Ellen jadi malu.
"Ibu kenapa? Kok wajahnya merah?" tanya Len.
"Ibu sakit?" tanya Rin.
"Tidak kok. Ayo kita keluar. Jangan sampai kita mengganggu istirahat kakak ini. Dia yang sedang sakit sekarang." jawab Ellen membujuk kedua anaknya untuk keluar ruangan.
"Kakak tampan itu sedang sakit?" tanya Rin.
"Sakit apa?" tanya Len.
"Hush! Tidak sopan menanyakan sakit seseorang." jawab Ellen membawa Rin dan Len keluar ruangan.
"Mungkin aku harus diam di kota ini sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalananku." ujar Ray setelah Ellen dan kedua anaknya keluar dari kamar tersebut.
Kemudian Ray memejamkan matanya.
Ray yang sudah merasa baikan berjalan-jalan di sekitar istana. Dan akhirnya dia menemukan sebuah taman bunga di halaman tengah istana. Ray berjalan menyusuri jalan setapak di taman bunga itu.
"Semua bunga ini begitu terawat. Sepertinya penjaga kebun nya bekerja dengan sangat baik." ujar Ray sambil jongkok melihat sebuah bunga yang sedang mekar.
Lalu saat Ray sedang berjongkok, dia melihat 2 orang anak berlari lewat dibelakangnya. Mereka nampaknya sedang bermain kejar-kejaran. Wajah mereka terlihat ceria sekali.
"Sama seperti bunga disini, sepertinya mereka juga dirawat dengan baik." sambung Ray sambil berdiri kembali.
"Maksudmu oleh tukang kebun?" sahut Ellen yang ternyata ada dibelakang Ray.
"Tentu saja bukan. Pastinya oleh ibu mereka kan." jawab Ray melirik ke arah Ellen yang berjalan ke sampingnya.
"Oh.. terima kasih.." balas Ellen sambil tersenyum.
"Apa sulit mengurus dua orang anak sendirian?" tanya Ray.
"Hmm.. tidak juga. Eh, tunggu.. darimana kamu tahu aku mengurus mereka sendirian?" jawab Ellen kemudian bertanya balik.
"Pastinya semua orang akan berkata seperti itu. Karena sejak tadi aku berkeliling di sekitar istana aku tidak melihat sosok ayah mereka alias sang raja." jawab Ray.
"Hmm.. begitu ya.." sahut Ellen kemudian tampak murung.
"Memangnya ada apa dengan ayah mereka?" tanya Ray.
"Se-sebenarnya ayah mereka.. tidak ada." jawab Ellen sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Hah? Maksudnya dengan tidak ada?" tanya Ray lagi.
Ellen diam tidak memberi jawaban dan hanya menundukkan kepalanya.
"Sepertinya dia tidak mau menjawabnya. Pasti terjadi sesuatu yang buruk dimasa lalu." pikir Ray saat melihat Ellen seperti itu.
"Maaf.. sepertinya aku terlalu banyak bertanya tentang masalah pribadi anda, nona ratu." ujar Ray.
Ray berjalan-jalan di sekitar kota dan memasuki sebuah pasar. Pasar itu terlihat sepi dan tampak ada satu pedagang buah sedang membereskan dagangannya ke dalam kotak.
"Sepertinya saat ini mereka masih berkabung dengan kematian para prajurit yang menjaga kota ini di peperangan kemarin." gumam Ray berjalan menghampiri pedangan buah itu.
"Permisi, aku mau beli buahnya boleh?" tanya Ray ke pedagang itu.
"Oh.. tuan pahlawan, anda mau buah? Mau buah apa?" sahut pedagang tersebut.
"Hmm.. yang ada aja. Aku tak mau membuat paman repot kotak-kotak yang lain." jawab Ray.
"Ooohh.. begitukah. Hahaha.. tuan pahlawan memang baik. Ini.." ujar pedagang itu sambil tersenyum menyodorkan sekantung jeruk mandarin dan satu sisir pisang.
"Hmm.. jadi berapa semuanya?" tanya Ray.
"Oh.. tidak perlu bayar. Ini saya berikan pada tuan." jawab pedagang itu sambil tetap tersenyum.
"Hah? Paman yakin?" sahut Ray terlihat heran.
"Ya, ambil saja. Ini sebagai rasa terima kasih saya sebagai warga kota ini karena tuan pahlawan telah menyelamatkan kami dan menghentikan pangeran kegelapan." jelas pedagang tersebut.
"Ka-kalau begitu terima kasih. Rasanya jadi kurang enak mendapat hadiah gratisan hanya karena menolong kalian." jawab Ray.
"Haha.. tak perlu sungkan dengan kami, tuan pahlawan. Kalau ingin buah lagi, tuan tinggal temui saja kami." balas pedagang tersebut.
"Padahal aku tidak berharap apa-apa sebagai balasan. Ah.. sepertinya lain kali aku harus membayarnya. Aku tidak bisa terus-terusan mendapatkan hadiah gratisan ini." ujar Ray dalam hati sambil berjalan keluar dari area pasar.
Saat kembali ke istana, Ray melihat Rin dan Len sedang melakukan gunting-kertas-batu.
"Wah.. kalian sedang apa nih? Sepertinya seru. Boleh aku ikutan." sapa Ray pada mereka.
"Kakak yang sedang sakit!" ucap Len sambil menunjuk Ray.
"Kakak yang sedang sakit?" sahut Ray.
"Memangnya kakak bisa main petak umpet?" tanya Rin.
"Hmm.. petak umpet ya? Mudah. Bahkan itu terlalu mudah untukku." jawab Ray dengan percaya diri.
"Oohh.. kalau begitu kenapa tidak kakak saja yang jaga, dan kami yang ngumpet? Kalau kakak menemukan kami, berarti kakak memang hebat." tantang Len.
"Begitukah. Oh.. kalau begiitu kenapa tidak kita mulai saja. Cepat sana sembunyi. Aku hitung sampai 10. Kalau tidak sembunyi juga, kalian akan kugantung terbalik di tiang bendera." ujar Ray menunjukkan senyuman licik.
"Ba-baik.." sahut Rin dan Len terlihat ketakutan dengan senyuman Ray.
Mereka berdua langsung lari untuk sembunyi. Ray menutup matanya menghitung dari 1 sampai 10.
"Kakak itu terlihat berbahaya sekali. Sebaiknya aku harus bersembunyi di tempat ngumpet andalanku." ujar Len dalam hatinya berlari ke semak-semak dan bersembunyi disana.
"Aku harus sembunyi dimana nih? Aku tidak mau digantung terbalik di tiang bendera." gumam Rin mencari-cari tempat sembunyi terbaik untuknya.
"Ah.. ini saatnya mencari." ucap Ray membuka matanya setelah selesai menghitung.
Saat itu Rin sedang bersembunyi disebuah meja dengan taplak yang menutupi seluruh bagian bawahnya, dan Len bersembunyi di sebuah semak-semak di taman istana. Sudah setengah jam berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Ray menemukan mereka berdua. Rin dan Len pun mulai bosan.
"Haha.. sepertinya aku menang karena kakak itu tidak menemukanku juga." ujar Len dengan bangga.
"Syukurlah aku tidak ditemukannya." ucap Rin tampak lega.
Len berdiri dan menyadari sesuatu dikepalanya. Ternyata ada buah pisang dikepalanya saat itu.
"Apa nih?! Sejak kapan?!" ucap Len kaget saat mengambil pisang dikepalanya.
Len kembali ke tempat dimana Ray berhitung dan bersiap mencari mereka. Disana Len bertemu dengan Rin yang tampak membawa sebuah jeruk ditangannya.
"Jeruk siapa tuh?" tanya Len saat bertemu Rin.
"Aku tidak tahu. Saat aku hendak melihat ke luar, tiba-tiba dihadapanku ada jeruk ini." jawab Rin.
"Hah? Bagaimana bisa.. aaa.. tunggu sebentar.. bukankah kakak yang tadi itu membawa jeruk dan pisang. Jangan-jangan.." sahut Len terkejut saat mengingat apa yang dibawa Ray.
"Eh, benar juga. Jadi kakak itu sudah.. menemukan kita?!" ucap Rin yang juga terkejut.
"Oh.. kalian sudah sadar aku telah menemukan kalian." ujar Ray sambil memegang kepala mereka berdua.
"Whoaa!!? Kakak yang tadi?!" ucap Rin dan Len terkejut melihat Ray muncul dibelakang tiba-tiba.
"Mudah sekali menemukan kalian." ujar Ray dengan nada santai.
"Ba-bagaimana bisa kakak meletakan buah pisang dikepalaku tanpa kami sadari?" tanya Len.
"Tentu saja karena aku menemukan kalian kan? Kalau tidak ketemu bagaimana letakinnya coba." jawab Ray.
"Meskipun menemukan kami, mustahil kakak bisa meletakan sesuatu tanpa kami sadari!" bentak Len.
"Itulah hebatnya seseorang yang sering melakukan petak umpet sehari-harinya." kata Ray.
"Ho.. jadi kakak sering main petak umpet tiap hari?" tanya Rin.
"Ya, bisa dibilang itu kemampuan sampingan khusus milikku." jawab Ray.
"Bagaimana bisa itu jadi kemampuan khusus sampingan?" tanya Len.
"Ya.. begitulah." sahut Ray enggan menjelaskan.
"Hmm.. terus kemampuan khusus utama kakak itu apa?" tanya Rin.
"Planning." jawab Ray.
"Planning? Apaan tuh? Semacam penyakit pusing dikepala kah?" tanya Len.
"Itu mah pening." sahut Ray.
"Memang planning itu apaan kak?" tanya Rin.
"Perencanaan. Sesuatu hal yang digunakan untuk mengintip masa depan yang menyangkut taktik dan strategi." jelas Ray.
"Woo.. terdengar keren." ucap Rin dan Len terkagum.
"Daripada diam disini bagaimana kalau kita bermain lagi." ajak Ray.
"Bermain apa?" tanya Len.
"Bagaimana kalau ini?" ujar Rin menunjukkan sebuah permainan papan.
"Ludo kah.. boleh juga." sahut Ray.
Mereka pun memainkannya. Namun beberapa saat kemudian permainan berakhir dengan kemenangan telak Ray.
"Ba-bagaimana bisa?! Kakak itu menang bahkan sebelum bidakku berjalan lebih dari 10 langkah dari start." ujar Len dengan kaget.
"Ma-maaf.. sepertinya aku kelewatan. Padahal sudah menurunkan kemampuan berpikirku, tapi kenapa masih bisa menang ya?" kata Ray.
Len terlihat sangat kesal. Kemudian mengeluarkan permainan lain. Kali ini adalah ular tangga. Namun lagi-lagi Ray bisa memenangkan permainan tersebut dengan sangat mudah. Mereka pun terus mencoba permainan lain hingga sore hari tiba. Dan semuanya dimenangkan oleh Ray dengan kemenangan telak tak terbantahkan.
"Aaahh.. capeknya. Bagaimana bisa kami kalah terus seperti ini. Meskipun diulang beberapa kali tetap saja kalah. Walau ganti permainan sekalipun entah kenapa tetap saja kalah. Aneh banget dah." gerutu Len.
"Kakak terlalu hebat. Bagaimana kakak bisa terus menang seperti itu?" tanya Rin.
"Entahlah.. itu terjadi begitu saja." jawab Ray.
"Masa? Kakak mengatakannya seperti kemenangan itu hanyalah sesuatu yang mudah buat kakak." ujar Len.
"Ya sudah, sebaiknya kita sudahi dulu saja hari ini. Daripada kalian makin pusing." ujar Ray sambil berdiri dari duduknya.
Tiba-tiba perut Rin dan Len terdengar keroncongan. Sepertinya mereka kelaparan karena seharian bermain bersama Ray.
"Kalian lapar? Kenapa tidak kalian makan saja buah yang tadi?" tanya Ray.
"Tapi.." ucap Len.
"Buah nya sudah dipakai ngemil sambil main tadi." sambung Rin.
"Oh.. begitukah? Kalau begitu ini.. makanlah sepuas kalian aku masih punya banyak." ujar Ray sambil menunjukkan sekantong penuh buah pisang dan jeruk. Dan kemudian mereka pun memakan buah pisang dan jeruk itu dengan lahapnya.
"Wah.. pisang ini enak." ujar Len.
"Ya, rasanya segar banget." tambah Rin.
"Tentu saja. Setelah cape melakukan aktifitas memang enaknya makan buah segar." sahut Ray sambil berdiri.
"Kakak mau kemana?" tanya Rin.
"Hmm.. aku mau menemui ibu kalian. Dah.." jawab Ray berpamitan.
"Menemui ibu? Mau apa?" ucap Rin heran.
"Mana ku tahu." sahut Len.
Di dalam kamarnya, Ellen sedang berdandan. Tampak rambutnya masih sedikit basah karena baru saja selesai mandi. Namun tidak seperti ratu pada umumnya, tidak terlihat ada satu orangpun pelayan yang membantunya berdandan. Saat dia sedang asik memilih-milih pakaian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Ellen.
"Ini aku, Shiro Ray." jawab yang mengetuk pintu.
"Oh Shiro Ray kah. Masuklah.." sahut Ellen.
Ray pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut. Ray sedikit terkejut melihat Ellen yang masih mengenakan handuk itu.
"Ma-maaf, sepertinya saya datang disaat yang tidak tepat. Saya akan keluar du..", "Tunggu.. bisakah kamu pilihkan aku pakaian?" potong Ellen pada Ray yang hendak keluar kamar lagi.
"Ta-tapi.. anda saat ini.." sahut Ray tampak mengalihkan pandangannya.
"Hmm.. jangan bilang kamu bernafsu pada tubuhku meskipun usiamu masih 10 tahun." goda Ellen.
"Ti-tidak mungkin lah. Hanya saja sedikit memalukan melihat seorang perempuan dewasa setengah telanjang seperti ini." jawab Ray dengan wajah sedikit memerah.
"Oohh.. jadi kamu tipe laki-laki yang menyukai perempuan yang lebih dewasa darimu." tukas Ellen.
"Hah?!" ucap Ray terlihat tidak terima.
"Menurutmu.. aku lebih cantik pakai yang putih atau yang hitam?" tanya Ellen sambil menunjukkan 2 gaun dengan model berbeda dan warna yang berbeda pula.
Ray pun memperhatikan kedua gaun itu dengan teliti.
"Hmm.. menurutku lebih cocok yang putih." jawab Ray setelah berpikir.
"Kalau begitu aku pilih yang putih." sahut Ellen melemparkan yang putih ke atas ranjang.
Sementara yang hitam ia kembalikan kedalam lemari. Kemudian Ellen pun melepaskan handuknya.
"Tu-tunggu sebentar.. aku akan keluar dari sini.." ujar Ray berbalik dan bersiap lari keluar.
"Takkan kubiarkan.." ucap Ellen memeluk Ray dari belakang.
"A-apaan nih? Aku merasakan dua bola empuk belakang leherku." gumam Ray terlihat sedikit panik.
"Kamu kan belum memilihkan dalaman seperti apa yang harus kupakai." ujar Ellen.
"Memangnya penting buatku? Mau pakai jenis apapun aku tidak peduli." sahut Ray.
"Hmm.. jadi kamu tidak suka kalau aku pakai. Baiklah.. hari ini aku tidak akan memakainya." balas Ellen.
"Malah tambah parah." ucap Ray dalam hati.
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Permisi.. bolehkah aku bertanya.." ujar Ray.
"Ya, apa?" sahut Ellen.
"Mau sampai kapan anda memeluk saya dari belakang?" tanya Ray.
"Hmm.. jadi kamu lebih memilih dari depan? Baiklah.." sahut Ellen kemudian membalik tubuh Ray.
Ellen pun membenamkan wajah Ray di antara dadanya yang berukuran cukup besar itu.
"Mmhh.. mmh.. mmmhh.." Ray tidak bisa mengeluarkan perkataannya karena wajahnya terjepit di dua gunung empuk itu.
Ray yang merasa sesak pun mendorong tubuh Ellen hingga jatuh terlentang diranjang. Tubuh Ellen yang polos tanpa pakaian itu pun terlihat dengan jelas oleh Ray. Dan lebih buruknya saat itu Rin dan Len masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Melihat ibunya ada dikasur dengan keadaan telanjang dan kaki terbuka dan didepannya ada Ray membuat Rin dan Len terkejut.
"A-Aku bisa menjelaskannya.." ucap Ray.
Namun Rin dan Len langsung saja memukul Ray dengan pukulan uppercut hingga jatuh terbaring di lantai.
Ray, Ellen, Rin dan Len berkumpul di ruang makan. Mereka semua sedang makan malam bersama.
"Ya ampun, daguku masih sakit dihajar dengan pukulan uppercut oleh kalian." gerutu Ray sambil berusaha mengunyah makanannya dengan rahang yang sakit.
"Itu salahmu sendiri yang hendak menyerang ibu kami." sahut Rin.
"Hah? Siapa yang maksudnya mau menyerang?" tanya Ray dengan heran.
"Sudah, mengaku saja! Jangan banyak alasan!" tukas Len.
"Sudah-sudah.. kalian jangan berantem terus. Ayo makan dulu. Tidak baik makan sambil ngomong." ujar Ellen.
"Ba-baik, ibu.." sahut Rin dan Len tampak menyesal.
Ray pun menghembuskan napas lega. Beberapa saat kemudian Ellen pindah tempat duduk ke samping Ray. Rin dan Len menatap tajam ke arah Ray karena hal itu.
"Hei, apa yang anda lakukan?" tanya Ray pada Ellen dengan suara pelan.
"Hmm.. nampaknya mereka berdua menyukaimu." ujar Ellen.
"Menyukai darimana? Jelas-jelas mereka melototin aku." sahut Ray.
"Oohh.. jarang-jarang sekali mereka melototin orang sampai segitunya. Biasanya mereka selalu takut pada orang lain. Kalau mereka sampai melotot padamu seperti itu berarti mereka tertarik padamu." jelas Ellen.
"Hah, benarkah?" sahut Ray.
"Tentu saja. Aku adalah ibu mereka. Apa kamu meragukan kemampuanku mengerti anakku sebagai seorang ibu?" ucap Ellen.
"Eh, tidak lah. Lagipula aku tidak tahu seperti apa karakter ibu itu?" jawab Ray.
"Hah? Maksudmu?" tanya Ellen.
"Ayah dan ibuku sudah meninggal saat aku masih kecil. Jadi aku tak begitu mengingat seperti apa karakater orang tua itu. Sejauh yang ku ingat tentang orang tuaku hanya.. mereka selalu tersenyum padaku." jawab Ray.
Ellen terkejut mendengar penjelasan Ray. Kemudian Ellen pun memeluk Ray.
"Maaf.. aku tidak tahu ternyata kamu menyimpan hal semacam itu." ujar Ellen mendekap tubuh Ray dengan erat.
Rin dan Len terlihat cemberut melihat Ray mendapat pelukan hangat dari ibu mereka.
"Kalau kamu mau, aku bisa berperan jadi ibumu." tawar Ellen.
"Hmm.. sepertinya jangan." tolak Ray.
"Kenapa?" tanya Ellen.
"Aku tidak ingin mereka jadi membenciku karena merebut ibu mereka." jawab Ray.
"Begitukah.." sahut Ellen.
"Sudah kuduga.. dia lebih cocok jadi karakter orang tua daripada seorang anak." ujar Ellen dalam hatinya.
Setelah mereka selesai makan, Ray berjalan ke beranda. Ellen yang melihat Ray sendirian di beranda kemudian menghampirinya.
"Sedang apa kamu disini sendirian?" tanya Ellen.
"Aku sedang berpikir." jawab Ray.
"Berpikir?" sahut Ellen.
"Sampai kapan aku bisa terus berada disini. Hmm.. mungkin sebaiknya jangan terlalu lama." kata Ray.
"Kamu boleh kok tinggal disini sampai kapanpun." ujar Ellen.
"Tidak. Aku tidak boleh ada disini terlalu lama. Setelah aku pulih, aku akan pergi ke selatan." kata Ray lagi.
"Hah? Selatan? Memangnya ada apa di selatan?" tanya Ellen.
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan disana. Aku harus pergi secepatnya kalau tidak mau terlambat." jelas Ray.
"Hmm.. begitukah. Tapi apa kamu akan kembali kemari?" tanya Ellen lagi.
"Setelah masalah di utara selesai aku akan kemari lagi untuk mampir." jawab Ray.
"Lho, tadi bilangnya ke selatan, sekarang ke utara. Jadi mana yang bener?" ucap Ellen terlihat bingung.
"Pertama ke selatan dulu, lalu ke utara." jelas Ray.
"Ooohh.." sahut Ellen.
"Tapi aku tidak menjamin aku benar-benar bisa kembali lagi." ujar Ray.
"Jangan ngomong gitu! Kembalilah dengan selamat! Aku takkan memaafkanmu kalau sampai tidak kembali!" bentak Ellen.
Ray sedikit terkejut dibentak seperti itu oleh Ellen.
"Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kembali kemari." sahut Ray sambil berjalan meninggalkan beranda.
"Janji?" tanya Ellen.
"Ya." jawab Ray.
Beberapa hari telah berlalu. Ray sudah pulih kembali dan dia sudah menyiapkan diri untuk segera melakukan perjalanan ke selatan. Ray mengenakan jaket hitam putih mirip harimau putih. Dengan telinga harimau yang nampak mencuat di tudung jaketnya membuat Ray terlihat semakin mirip dengan kucing besar itu.
"Wah.. cocoknya.." ucap Ellen terlihat terpesona melihat keimutan Ray mengenakan pakaian mirip harimau putih itu.
"Ada apa dengan jaket ini. Ini memang membantuku untuk berkamuflase di dalam hutan hujan di wilayah selatan. Tapi.. bukankah ini sedikit berlebihan." komentar Ray.
"Tapi kupikir itu rasanya cocok sekali denganmu. Bisakah kamu bilang 'nyan~' untukku." pinta Ellen yang tidak bisa mengendalikan dirinya karena sangat tertarik pada Ray.
"Hah? Kenapa aku harus melakukannnya?" tanya Ray.
"Ayolah.. kumohon.." bujuk Ellen dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah.. akan kulakukan." sahut Ray terlihat menyerah.
"Nyaaann.." ucap Ray dengan sedikit meniru gerakan kucing.
Ellen terlihat kegirangan dengan tingkah Ray.
"Sudah cukup kan?" tanya Ray.
Ray berjalan menuju ke pintu depan.
"Lho ngomong-ngomong kemana perginya si kembar?" tanya Ray.
"Entahlah.. mereka sejak pagi ada dikamar mereka." jawab Ellen sambil tersenyum.
Ray tampak curiga dengan senyuman Ellen. Namun ia tidak punya bukti, jadi ia melanjutkan langkahnya ke arah pintu depan. Saat membuka pintu besar itu Ray terkejut ternyata Rin dan Len ada dibalik pintu itu.
"Kakak sudah mau pergi?" tanya Rin terlihat sedih.
"Kak Ray memangnya tidak mau tinggal disini?" tanya Len.
"Ya bukannya tidak mau, hanya saja aku tidak bisa terus disini. Aku harus melakukan tugasku. Kalian tahu aku ini siapa kan?" jawab Ray sambil mendekat ke Rin dan Len.
"Ya, kakak adalah pahlawan pembela kebenaran." jawab Len.
"Tepat sekali. Coba bayangkan kalau pahlawan pembela kebenaran hanya diam di rumahnya. Apa dia akan bisa membela kebenaran? Tidak kan. Karena itu aku harus pergi." jelas Ray.
"Tapi kan.." sahut Rin yang tampak tidak terima Ray hendak pergi.
"Tenang saja. Aku akan mampir kemari saat ada waktu senggang." balas Ray sambil mengelus kepala Rin dan Len.
"Sepertinya kami memang tidak bisa mencegah kakak pergi." ujar Len.
"Ya, sepertinya begitu." ujar Rin.
"Jadi terima ini. Ini hadiah dari kami. Supaya kakak terus mengingat kami." sambung Rin dan Len sambil menyodorkan sebuah gantungan kunci boneka berbentuk jeruk dan pisang.
"Wooo.. terima kasih. Ini kalian yang buat sendiri?" tanya Ray.
Rin dan Len mengangguk sambil tersenyum.
"Oohh.. kalau begitu akan kupakai. Terima kasih.. Rin.. Len.." ucap Ray kemudian menggantungkan gantungan kunci itu di pinggangnya.
"Bukan hanya mereka yang punya hadiah untukmu." ujar Ellen.
Ray berbalik ke arah Ellen.
"Ini hadiahku untukmu.." sambung Ellen kemudian memeluk Ray dan mencium keningnya.
Ray sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Ellen itu. Begitu pula kedua anaknya yang nampak tak menyangka ibu mereka mencium Ray.
"Hati-hati dijalan. Jaga baik-baik dirimu ya.." tambah Ellen sambil mundur dan melepaskan dekapannya.
"Y-ya.." jawab Ray dengan sedikit gugup.
Ray pun pergi setelah berpamitan.
"Apa kakak itu akan benar-benar kembali kemari?" ucap Rin.
"Aku tidak tahu." jawab Len.
"Ya, kita doakan saja dia akan kembali kemari." ujar Ellen kemudian mengajak kedua anaknya itu untuk kembali masuk kedalam.
Ray berkelana ke selatan dan mengalahkan seorang komandan beserta bala tentaranya disana. Dan begitu pula diutara, Ray dapat menghancurkan pasukan satanism beserta komanda yang memimpinnya. Namun itu tidak diberitakan di manapun karena semuanya terjadi sebelum peperangan terjadi. Ray mengalahkan kedua komandan itu sebelum sempat membuat konflik. Kemudian setelah beberapa bulan berlalu setelah kepergian Ray, tanpa diduga kota tempat Rin dan Len berada tampak porak poranda. Hal itu membuat Ray terkejut saat tiba didepan gerbang yang tadinya kokoh berdiri sekarang tampak hancur dan menyisakan ambang pintu nya saja yang masih tegak berdiri.
"Apa yang telah terjadi disini?" gumam Ray saat melewati gerbang tersebut.
Ray berjalan menyusuri jalanan utama, namun tak ada satu orang pun yang lewat. Yang ada hanyalah reruntuhan dari bangunan-bangunan yang tersisa.
"Sepertinya disini sudah tidak ada orang lagi. Namun, aneh sekali.. rasanya aku masih merasakan kehadiran seseorang disekitar sini." ujar Ray.
Ray sampai di pasar tempat dia diberi buah-buahan. Tempat yang memiliki cukup banyak kenangan untuk Ray.
"Aku baru ingat, sebelum aku pergi aku sering kesini dengan si kembar. Dan diberi jeruk dan pisang oleh paman penjual buah itu. Kuharap beliau tidak apa-apa." gumam Ray sambil membayangkan beberapa bulan silam sebelum kepergiannya.
Saat sedang melamunkan masa lalu, tiba-tiba dia melihat sekilas ada bayangan lewat diantara bekas pertokoan tersebut. Ray menajamkan pandangannya saat menyadari kalau itu adalah sosok manusia.
"Mungkinkah.." ucap Ray kemudian mengikuti sosok bayangan manusia itu.
Ray diam-diam mengikuti dari belakang. Dan rupanya sosok itu mengarah ke bekas istana. Disebut bekas istana karena saat itu yang tersisa hanya reruntuhannya saja.
"Mau apa dia pergi kesana?" ucap Ray bersembunyi dibalik pohon.
Saat orang itu menghilang di antara reruntuhan bangunan istana, Ray ikut masuk kesana. Dan saat Ray sudah masuk kedalam, tiba-tiba saja ada suara pistol dikokang.
"Sebaiknya jangan menguntit seperti itu, bocah. Itu tidak baik." ucap seseorang tampak hendak menodongkan pistol ke kepala Ray.
Namun Ray langsung merendahkan tubuhnya dan dengan cepat bergerak mendekat ke orang yang menodongnya tersebut. Ray menangkap pergelangan tangan orang itu kemudian memukul perut orang tersebut dengan keras.
"Berhati-hatilah.. gerakanku itu tidak lambat lho." ujar Ray.
"Sialan!" ucap orang itu tampak kesal.
Tapi Ray langsung membantingnya ke tanah dengan keras.
"Menodong orang sembarangan seperti itu, berbahaya sekali, Ronald." kata Ray pada orang itu.
"A-apa itu anda, tuan The White Light?!" ucap orang itu sepertinya mengenal Ray.
Laki-laki berambut pirang berusia 20 tahunan itu pun bangun lagi setelah tahu kalau itu Ray.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Yang kutahu kamu tinggal sangat jauh dari sini." tanya Ray.
"Tuan mungkin tidak tahu, tapi sebenarnya saya berasal dari kota Harmonia ini." jawab laki-laki bernama Ronald tersebut.
"Kota Harmonia?" sahut Ray tampak bingung.
"Hah? Ayolah.. anda adalah pahlawan yang menyelamatkan separuh dunia melalui kota ini. Masa anda tidak tahu kota yang anda bela?" gerutu Ronald.
"Ma-maaf.. aku punya kebiasaan buruk. Aku sering tidak tahu nama tempat aku melakukan pekerjaanku." ujar Ray.
"Yang benar saja. Jadi selama ini anda melakukan kebaikan tanpa mengetahui dimana anda berada?" tanya Ronald.
"Karena aku rasa itu tidak terlalu penting, maka tidak terlalu mempersalahkannya." jawab Ray.
"Ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan di reruntuhan istana ini?" tanya Ray sambil melihat-lihat reruntuhan tersebut.
"Oh.. kebetulan. Anda pasti sedang mencari korban selamat dari kejadian yang menghancurkan kota ini. Biar saja tunjukkan sebuah hal menarik." ujar Ronald.
Ronald mengantarkan Ray menuju ke dalam reruntuhan istana tersebut dan akhirnya sampai di taman di halaman tengah reruntuhan istana tersebut. Taman tempat Ray biasa bermain dengan Rin dan Len.
"Kenapa kamu tiba-tiba membawaku kemari?" tanya Ray.
"Haha.. biar saya tunjukkan sesuatu yang belum anda lihat sebelumnya." ujar Ronald.
Ronald pun memutar sebuah patung di taman tersebut dan sebuah jalan rahasia pun terbuka di lantai taman tersebut. Sebuah jalan menuju ke ruangan rahasia di bawah tanah.
"Woo.. indiana jones kah?" ucap Ray tampak terkagum.
"Jangan mengatakannya seperti tokoh utamanya susah jodoh lah, tuan The White Light." komentar Ronald.
"Maaf, aku tidak sengaja. Lidahku terpeleset." sahut Ray.
"Bagaimana bisa lidah terpeleset?" balas Ronald.
"Bisa lah. Kan mulut kita berair." jawab Ray.
"Haha.. bisa aja ngejawabnya." kata Ronald tersenyum aneh.
Ronald dan Ray masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut. Dan disana nampak banyak sekali orang. Sepertinya ruangan tersebut dijadikan ruang persembunyian bagi para koban dari bencana yang melanda kota tersebut.
"Hmm.. Ronald, kalau aku boleh tahu sedang apa kamu dikota ini? Apa yang terjadi dengan wilayah selatan?" tanya Ray sambil berjalan melewati orang-orang.
"Tenang saja, setelah kemenangan tuan di selatan seluruh wilayah selatan sampai saat ini aman. Lagipula saya memang berasal dari kota Harmonia. Bisa dibilang kalau kota ini adalah kampung halaman saya." jawab Ronald.
"Hah? Begitukah? Tapi kenapa selama ini kamu tidak pernah bilang padaku?" tanya Ray.
"Tuan sendiri tidak menanyakannya." jawab Ronald.
"Wah! Kakak yang waktu itu!" ucap Rin dan Len yang mengenali Ray sambil menunjuk pada Ray.
"Hmm.. siapa ya?" ucap Ray.
"Yang benar saja, baru beberapa bulan sudah melupakan kami!" bentak Rin dan Len dengan kesal.
"Oh itu kalian. Maaf, kukira aku salah orang. Soalnya, kalian tampak lebih tinggi sejak terakhir kali kira bertemu. Tampaknya kalian cukup makan." ucap Ray sambil mengelus kepala Rin dan Len.
Rin dan Len tampak nyaman kepala mereka dielus oleh sang pahlawan The White Light itu.
"Dimana ibu kalian?" tanya Ray berjalan lewat diantara mereka.
"Ah, kalau itu.." sahut Rin tampak sedih.
"Mmh? Ada apa?" tanya Ray dengan heran.
"Tuan sebenarnya.." ucap Ronald.
Ronald mengantar Ray melihat Ellen. Namun saat melihatnya, Ray sanget terkejut. Ellen duduk lemas diatas sebuah tikar dengan kaki tampak di balut dengan menggunakan kain. Dan di kain tersebut tampak ada bekas darah.
"Begitu rupanya." ucap Ray yang melihat dari kejauhan.
"Apa anda yakin tak ingin menemuinya?" tanya Ronald.
"Untuk saat ini tidak perlu. Ada hal lain yang lebih penting. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kota ini? Bukankah seharusnya Pangeran Kegelapan tidak berani kembali kemari lagi?" balas Ray.
"Hmm.. sebenarnya yang menyerang kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pangeran Kegelapan. Bisa dibilang, mereka memanfaatkan momen terjadinya konflik yang sedang terjadi di dunia ini." jelas Ronald.
"Oohh.. begitu rupanya.." sahut Ray sambil mengingat di sebuah reruntuhan di kota tersebut terdapat bekas rudal.
"Apa ada sesuatu yang anda pikirkan?" tanya Ronald.
"Ya. Kalau mereka tak ada hubungannya dengan Pangeran Kegelapan, itu artinya mereka menggunakan senjata fisik. Mereka menggunakan senjata api." jawab Ray.
"Ya, benar sekali. Mereka membombardir kota ini dengan serangan rudal. Kemudian mereka menyerang dengan senjata fisik. Beberapa warga berhasil selamat dan melarikan diri dari serangan tersebut berkat yang mulia Ellen. Namun beberapa dari kami tidak berhasil keluar dan yang mulia Ellen membawa kami kemari. Tapi karena hal itu, kaki yang mulia Ellen jadi koban. Beliau terkena tembak saat mengarahkan pengungsi ke tempat ini." jelas Ronald.
"Begitukah." ucap Ray.
"Dan malam ini kami berencana untuk melarikan diri. Seharian tadi saya sudah mempelajari pola patroli musuh dan kebiasaan mereka. Jadi ini akan mudah." ujar Ronald dengan yakin.
"Jadi itu yang sedang kamu lakukan tadi di luar sana?" tanya Ray.
"Ya. Lagipula persediaan makanan disini sudah mulai habis. Jadi kita tak bisa berlama-lama bersembunyi disini terus." kata Ronald.
"Namun hal itu punya satu resiko." balas Ray.
"Apa itu?" tanya Ronald.
"Saat kita keluar dari sini, kita takkan bisa menggunakan tempat ini sebagai tempat persembunyian lagi. Mereka akan mengetahuinya. Karena itu kalau sampai kita gagal, kita semua takkan punya tempat untuk lari lagi." jawab Ray.
"Kalau begitu kita tinggal berhasil saja kan, tuan The White Light?" sahut Ronald sambil tersenyum.
"Ya." balas Ray yang tampak sedikit khawatir.
Ronald pun mengumpulkan semua orang untuk menjelaskan tentang rencana nya. Ray hanya mendengarkan dari kejauhan. Dia tampak sedikit khawatir. Tapi tarikan di lengan bajunya membuat konsentrasinya buyar.
"Woy nii.. kita main yuk!" ajak Len sambil menarik lengan jaket Ray.
"Kali ini kami takkan kalah. Ayo kita main ini." ajak Rin sambil menarik lengan jaket yang satunya lagi.
"Kalian, disaat seperti ini malah ngajak main." ujar Ray.
"Memangnya kenapa? Kita kan tidak tahu kapan kita bisa main lagi?" sahut Rin.
"Kita harus melakukannya selagi masih bisa. Seperti yang nii katakan kalau kita tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi dimasa depan kan?" tambah Len.
"Itu memang benar sih." sahut Ray.
"Aku tidak menyangka mereka menggunakan kata-kataku untuk menyerang balik. Anak-anak seperti mereka bisa menyerap segala informasi dengan cepat. Kurasa aku harus lebih hati-hati dalam membagi informasi dengan mereka." pikir Ray.
"Ayolah nii.." bujuk Len.
"Ayo kita main, onii-chan." tambah Rin.
"Hmm.. baiklah. Tapi main apa?" tanya Ray.
"Main bekel!!!" jawab Rin dan Len.
"Eh? Bekel?" ucap Ray terkejut.
"Nii tidak tahu permainan bekel? Sayang sekali. Kalau begitu kekalahan kakak sudah dapat dipastikan." ledek Len.
"Tentu saja aku tahu permainan bekel. Maksudku itu kenapa mesti bekel?" balas Ray.
"Hmm.. soalnya kalau permainan lain sudah pasti oniichan yang menang." jawab Rin.
"Kalau permainan otak nii sudah pasti menang. Makanya kali ini kami sepakat untuk menggunakan permainan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pikiran." jelas Len.
"Permainan bekel murni permainan reaksi reflek." tambah Rin.
"Sepertinya mereka benar-benar ingin menang dariku." ucap Ray dalam hati sambil sedikit tersenyum.
Akhirnya Ray pun memainkan permainan bekel bersama Rin dan Len sambil menunggu Ronald selesai dengan pidatonya. Dari kejauhan tampak Ellen memperhatikan mereka bermain tanpa sepengetahuan mereka.
"Gawat-gawat-gawat! Diluar! Diluar!" ucap seorang laki-laki tampak ketakutan.
"Ada apa? Kenapa kamu tampak ketakutan begitu?" tanya Ronald.
"Diluar!" sahut orang itu.
"Ada apa memangnya diluar?" tanya Ronald lagi.
"Diluar banyak sekali pasukan musuh!" jawab orang tersebut.
"Apa?! Bagaimana bisa?!!" ucap Ronald tampak sangat terkejut.
Ray yang juga mendengar hal tersebut pun langsung berdiri dan menghampiri Ronald.
"Sepertinya keadaannya gawat sekali." ujar Ray mendekati Ronald yang terlihat panik.
"Tuan The White Light." ucap Ronald.
"Sepertinya mereka mengawasi kita siang tadi. Tepatnya mengawasimu." ujar Ray.
"Be-benarkah?" tanya Ronald.
"Mereka pasti sudah merencanakannya. Mereka menunggu seseorang keluar dari persembunyiannya untuk melihat keadaan sekitar atau sekedar mencari makanan. Kedatanganku tidak akan terlalu menjadi masalah karena mereka akan berpikir kalau aku hanya seorang yang sedang melakukan perjalanan dan kebetulan lewat disini, Tapi lain lagi jika orang itu tiba-tiba muncul di dalam kota dan kemudian tiba-tiba saja menghilang." jelas Ray.
"Benar juga. Sepertinya ini kesalahanku karena keluar begitu saja pada siang hari. Sudah kuduga mestinya aku keluar malam hari saja." ujar Ronald tampak menyesal dan kesal.
"Tidak, kupikir malam hari pun kejadiannya akan sama saja. Kulihat banyak jejak kaki saat aku melewati gerbang kota. Mustahil itu jejak bekas penyerangan mereka, karena pastinya itu sudah terhapus karena sudah lama. Jadi, sudah pasti jejak itu baru dibuat. Yang artinya mereka keluar masuk kota ini secara berkala." kata Ray.
"Maksud tuan?!" ucap Ronald tampak kaget.
"Ya, benar sekali. Mereka melakukan patroli malam." jawab Ray.
"Kenapa mereka begitu ngotot mencari kita? Memang kita sebegitu pentingnya?" gerutu Ronald dengan kesal.
"Kita memang tidak terlalu berharga. Tapi lain lagi artinya untuk orang yang memiliki kemampuan spesial." jawab Ray sambil menoleh ke arah Ellen.
"Begitu rupanya." sahut Ronald mengerti maksud Ray.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya orang yang memberitahukan keadaan diluar tadi.
"Jangan panik. Kita harus tetap tenang. Jika mereka masih mondar-mandir diluar artinya mereka belum menemukan jalan masuknya. Atau mereka sudah menemukannya tapi tidak tahu cara membukanya. Jadi untuk saat ini kita masih bisa bernapas lega." jawab Ray berusaha tetap tenang.
"Namun jika terlalu lama disini, kita akan ditemukan juga." ujar Ronald.
"Apa tempat ini punya pintu belakang? Jalan keluar yang lain? Sebuah pintu darurat untuk melarikan diri?" tanya Ray.
"Saya tidak tahu. Untuk hal itu sebaiknya anda tanyakan pada yang mulia Ellen." jawab Ronald.
Ray menghampiri Ellen yang duduk di tempat yang sama karena tak bisa bergerak.
"Selamat datang kembali, Ray.." ucap Ellen sambil tersenyum saat Ray berdiri dihadapannya.
Ray pun menyampaikan semuanya pada Ellen. Dia menjelaskan kalau saat ini tempat persembunyian itu sudah terkepung. Mustahil untuk kabur melalui pintu depan. Jadi dia perlu menggunakan pintu belakang.
"Begitukah.." ucap Ellen sambil tersenyum setelah mendengar penjelasan dari Ray.
"Jadi bagaimana? Dimana jalan daruratnya? Untuk setiap tempat perlindunga pasti selalu punya pintu belakang bukan?" tanya Ray.
"Sebelum itu, ngomong-ngomong.. kenapa kamu tidak menyapaku kalau kamu memang sudah pulang?" tanya balik Ellen.
"Ini bukan saatnya membicarakan hal itu. Cepat katakan dimana jalan keluar daruratnya?" sahut Ray.
"Apa sebegitu tidak pentingnya sehingga kamu enggan memberikan jawaban kenapa kamu tidak mau menyapaku pertama kali setelah pulang?" protes Ellen.
"Ayolah nona Ellen, bisakah kamu lebih serius.." ucap Ray berusaha membujuk Ellen.
"Ini juga aku serius!" bentak Ellen.
Ray terdiam dibentak oleh Ellen.
"Apa bagimu aku ini tidak ada artinya? Apa bagimu aku ini hanya orang yang tidak penting? Padahal aku sudah menantimu sebegitu lamanya. Rasanya sudah bertahun-tahun berlalu meskipun hanya beberapa bulan. Apa kamu tidak mengerti perasaanku!?" ujar Ellen.
Ray diam dan menundukkan kepalanya.
"Mungkin aku akan tampak tidak normal karena menyukai anak yang usianya lebih muda dariku. Tapi aku.. aku benar-benar menyukaimu.. setulus hatiku." sambung Ellen menyatakan perasaannya pada Ray.
"Ma-maaf.. aku tidak bisa.." jawab Ray.
"Ke-kenapa?" tanya Ellen sedikit terkejut.
"Entahlah.. rasanya aku hanya.. tidak bisa menerima perasaanmu saat ini." jawab Ray tampak sedikit murung.
"Apa karena aku lebih tua darimu?" tanya Ellen yang kemudian terlihat sedikit sedih.
"Tidak. Bukan karena itu. Tentu saja perbedaan usia takkan menjadi masalah dalam perasaan yang disebut cinta. Hanya saja, aku hanya tidak bisa menerima perasaanmu. Perasaan cinta itu mestilah sepasang. Mesti ada 2 sisi yang saling bertukar kebahagiaan dan kesedihan. Saling melengkapi dan saling memenuhi. Rasanya aku tidak pantas menerima perasaanmu, jika aku sendiri tak mencintaimu." jelas Ray.
"Ah.. sepertinya aku ditolak.." ucap Ellen sambil tersenyum.
Meskipun Ellen tersenyum lebar, tapi Ray menyadari ada setitik air mata disudut mata Ellen. Sudah pasti Ellen sedih saat itu. Siapa yang tidak sedih jika cintanya ditolak. Ray juga menyadari hal itu.
"Maaf.." ucap Ray sambil memalingkan wajahnya kearah lain memandang kebawah dengan kemurungan.
"Apa-apaan kamu ini? Kenapa malah minta maaf? Ini salahku karena menyatakan cinta pada orang yang lebih muda dariku." sahut Ellen sambil mengusap air matanya yang mulai bercucuran.
"Akulah yang salah! Akulah yang bodoh disini! Aku.." ucap Ellen yang tampak tak bisa menahan dirinya lagi kemudian menangis tersedu-sedu.
Melihat hal itu Ray tanpa pikir panjang langsung memeluk Ellen.
"Maafkan aku." ucap Ray sambil mendekap tubuh Ellen.
Ellen menangis dalam dekapan Ray hingga akhirnya dia merasa lebih tenang.
"Hei Ray.. maukah kami berjanji sesuatu padaku?" tanya Ellen yang masih dalam dekapan Ray.
"Mmh? Janji apa?" sahut Ray.
"Berjanjilah untuk menjaga anak-anakku setelah ini." ujar Ellen.
"Tentu saja. Aku sudah menganggap mereka sebagai adik-adikku sendiri." jawab Ray.
"Begitukah. Syukurlah.." sahut Ellen sambil tersenyum.
Ray merasa ada yang aneh dengan permintaan Ellen barusan. Tapi dia tidak terlalu memikirkkannya sekarang. Disaat seperti itu tiba-tiba saja terjadi ledakan di pintu masuk persembunyian tersebut. Sebuah ledakan keras yang menghancurkan pintu persembunyian itu berkeping-keping. Beberapa prajurit melompat masuk kedalam dan mulai menembaki setiap orang di sana.
"Sial." ucap Ray menoleh ke arah pintu masuk.
Ray langsung mengaktifkan melody of silent miliknya dan menyembunyikan keberadaan mereka.
"A-apa ini?!" ucap Ellen terheran dengan keadaan sekitarnya yang berubah jadi hitam putih.
"Ini adalah melody of silent. Melodi yang mampu menyembunyikan keberadaan pemakainya dan orang-orang yang diisolasi olehnya." jelas Ray.
"Tapi ini jelas gawat. Meski memakai melody of silent sekalipun kalau dikepung begini rasanya hampir mustahil kami bisa selamat. Ditambah aku tidak bisa memakai kekuatan petirku disini." ujar Ray dalam hati.
"Ibu! Aku takut!" ucap Rin dan Len bersamaan sambil memeluk Ellen.
"Tidak apa-apa. Kalian tak perlu takut. Karena kakak ini pasti akan melindungi kalian. Selama ada kakak ini kalian pasti aman." ucap Ellen sambil mendekap tubuh kedua anaknya tersebut.
Beberapa orang prajurit musuh tampak memasuki tempat persembunyian bawah tanah tersebut.
"Kalau aku menunjukkan diriku aku bisa mengalihkan mereka dengan memfokuskan diri mereka padaku. Namun, aku jadi takkan tahu posisi mereka yang aku sembunyikan kalau aku menjadi ignorer juga. Hmm.. pasti ada suatu jalan lain yang lebih baik dari ini. Aku harus memikirkannya lebih cepat." gumam Ray tampak berpikir keras.
"Ray." panggil Ellen dari belakang.
Ray menoleh ke arah Ellen.
"Aku punya sebuah rencana." ucap Ellen.
"Rencana bagaimana?" tanya Ray.
"Aku akan menggunakan lagu pahlawan milikku untuk men-support dirimu." jawab Ellen.
"Tunggu sebentar. Jika kamu menggunakan melody of harmoni milikmu maka melody of silent ku takkan bekerja padamu. Mereka akan menyadari keberadaanmu. Itu berbahaya." tolak Ray.
"Tapi kita tidak punya jalan lain. Hanya itu satu-satunya cara kalian keluar." bujuk Ellen.
"Tidak! Aku tak bisa mengijinkannya. Biarkan aku memikirkannya lagi. Aku yakin bisa menemukan rencana yang lebih baik jika berpikir kembali." balas Ray.
"Kita tidak punya banyak waktu!" ucap Ellen.
"Biarkan aku..", "Ray!" bentak Ellen memotong perkataan Ray.
"Tolong bawa Rin dan Len pergi. Selamatkan mereka. Bukankah kamu sudah berjanji padaku?" sambung Ellen sambil tersenyum.
Mendengarnya, Ray terlihat shock. Dia menyadari memang waktunya sangat sempit sampai para prajurit itu benar-benar sampai dihadapan mereka dan menghalangi jalan mereka untuk lari.
"Ayo kalian berdua.. ikut aku sebentar.." ucap Ray dengan kepala tertunduk.
"Kita mau kemana kak?" tanya Rin.
"Sudahlah ikut saja!" sahut Ray menggendong Rin dan Len di pinggangnya kemudian berlari ke arah para prajurit tersebut.
Ellen menyanyikan nyanyian perangnya. Sebuah lagu pahlawan yang menggetarkan hati yang disebut oleh Ray sebagai melody of harmony. Dengan bantuan lagu itu, Ray mampu menghancurkan barisan prajurit itu dengan menabraknya. Ray mendorong paksa mereka yang berdiri di jalannya. Ray pun mampu keluar dari bunker tersebut dan melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
"Apa yang barusan itu?!" ucap salah seorang prajurit yang ditabrak.
"Rasanya seperti ditabrak sesuatu, tapi aku tak tahu apa yang menabrakku." tambah yang disebelahnya.
"Ada apa?" tanya seorang laki-laki yang kelihatannya adalah pimpinan mereka.
"Tiba-tiba ada angin berhembus dan menghempaskan kami semua." jawab salah seorang prajurit.
"Angin? Yang benar saja. Tidak mungkin ada angin yang mampu menghempaskan kalian yang bersenjata lengkap dengan armor berat seperti itu. Berat kalian bisa sekitar 70 kilo keatas. Tidak mungkin hembusan angin melemparkan kalian." gerutu laki-laki berambut coklat itu.
"Beneran dah. Mana mungkin kami bohong disaat seperti ini." sahut prajurit tersebut.
Laki-laki tersebut pun menghela napasnya seakan masih tak percaya dengan penjelasan anak buahnya tersebut. Dia pun berjalan masuk kedalam bunker untuk melihat keadaan didalam.
"Wah..wah.. sepertinya kita mendapatkan tangkapan besar disini." ujar laki-laki tersebut yang melihat Ellen terduduk tak berdaya.
Wajah Ellen pun tampak berkeringat. Dia tidak bisa lari kemana-mana karena kakinya terluka. Dia terpojok didalam tempat yang harusnya menjadi tempat perlindungan tersebut.
"Tidak semudah itu!" ucap Ronald melompat ke arah laki-laki tersebut hendak menyerangnya.
"Begitukah!" ucap laki-laki tersebut membungkuk menghindari serangan Ronald.
Lalu laki-laki itu pun menendang perut Ronald dan Ronald pun terpental kembali kebelakang dan menghantam dinding. Laki-laki yang menendang Ronald itu pun kemudian meminta senjata pada anak buahnya. Anak buahnya pun melemparkan sebuah pistol.
"Selamat malam.." ucap laki-laki itu sambil menodongkan pistol ke arah kepala Ronald.
Laki-laki itu pun menembak kepala Ronald. Dan nampak darah yang cukup banyak muncrat dari kepala Ronald.
"Ronald!!!" panggil Ellen saat melihat Ronald tak bergerak lagi setelah ditembak.
"Tenang saja.. takkan lama lagi kamu akan menyusulnya juga." ujar laki-laki itu sambil mendekati Ellen.
Ellen mulai merasa ketakutan. Namun semakin takut Ellen senyuman diwajah laki-laki yang mengancamnya malah semakin lebar. Namun tiba-tiba saja rasa takut Ellen berubah menjadi senyuman saat mengingat anak-anaknya. Ellen ingat tentang Ray yang berjanji akan melindungi dan menjaga Rin dan Len sehingga hatinya jadi lebih tenang.
"Tak apa. Aku sudah siap.. kalau kamu mau membunuhku sekarang pun tidak apa-apa." jawab Ellen sambil tersenyum tenang.
"Hah? Aku tak tahu apa yang merasukimu. Tapi itu tak mengubah apapun. Aku akan tetap membunuhmu dan mendapatkan posisiku di pasukan Pangeran Kegelapan." ujar laki-laki tersebut sambil mulai menodongkan pistolnya ke arah Ellen.
"Sebelum membunuhmu akan kuperkenalkan diriku supaya kamu tahu siapa yang telah membunuhmu. Namaku June Black. Aku akan menjadi salah satu kapten pasukan pangeran kegelapan kalau berhasil membunuhmu. Hahahaha.. semoga betah dialam sana.." ujar laki-laki yang ternyata June Black itu.
"Rin.. Len.. jadilah anak yang baik. Jadilah seorang pahlawan yang selalu menebar senyuman kemanapun kalian pergi dan dimanapun kalian berada. Ray.. jagalah putra-putriku, dan bimbinglah mereka menjadi orang yang baik. Menjadi orang yang hebat sepertimu." ujar Ellen dalam hatinya sambil tersenyum dan menutup matanya.
June pun kemudian menembak kepala Ellen. Dia menembaknya berkali-kali hingga peluru di pistol itu habis. Darah berceceran kemana-mana. Ruangan itu jadi begitu mengerikan akibatnya.
Di tempat lain Ray berlari membawa Rin dan Len dipinggangnya. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah hutan dan Ray berhenti saat sampai dipinggir sungai.
"Ibu! Bagaimana dengan ibu!??" tanya Len.
"Kenapa kita malah meninggalkannya?" tanya Rin
"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin tahu." jawab Ray yang kenyataannya tahu kemungkinan terburuk yang akan terjadi saat itu.
"Kakak ayo jemput ibu!" pinta Rin.
"Kalau sekarang pasti masih sempat." tambah Len.
"Tidak. Kita takkan kembali kesana." tolak Ray dengan dingin.
"Kenapa?" tanya Rin.
"Kakak jangan jadi pengecut! Ayo jemput ibu sekarang juga!" bentak Len.
"Sudah kubilang tidak! Kita tidak bisa kembali kesana." tolak Ray dengan tegas.
"Cih! Kalau begitu biar aku saja yang kembali kesana." ujar Len yang kemudian mulai berjalan menjauh dari Ray.
"Apa kamu tahu jalan kesana?" tanya Ray.
Len pun terhenti.
"Kalau begitu cepat tunjukkan pada kami jalan kesana! Kalau kakak takut menghadapi mereka, biar aku saja yang bertarung dengan mereka!" bentak Len.
"Ibu.." ucap Rin tampak sedih.
Ray pun menurunkan pandangannya tampak bimbang.
"Ibu mereka menyuruhku untuk menjaga mereka. Aku tidak mungkin membiarkan mereka terjun kedalam bahaya seperti itu. Namun jika aku diam dan membawa mereka semakin menjauh mereka hanya akan membuat mereka marah dan semakin putus asa. Mental mereka akan semakin rusak dan retak. Aku pikir aku tak perlu menggunakannya namun.. hanya ini cara terbaik." ucap Ray sambil mulai berjalan mendekat ke arah Rin dan Len.
"Rin.. Len.. maafkan aku.. tapi.." ucap Ray dalam hati sambil mencondongkan tubuhnya dan memegang pundak Rin dan Len.
"..lupakanlah ibu kalian." sambung Ray kemudian mendekatkan mulutnya diantara telinga Rin dan Len.
Ray tampak membisikkan sesuatu. Dan tiba-tiba saja mata Rin dan Len terbelalak seperti shock. Lalu tak lama setelah itu mereka berdua pun tak sadarkan diri di pundak Ray.
"..maafkan aku.." ucap Ray sambil menundukkan kepalanya penuh kesedihan.
Ray membawa mereka yang tak sadarkan diri ke arah timur. Terus ke arah timur hingga sampai di lepas pantai laut cina selatan. Ray menaiki sebuah perahu yang diawaki oleh seorang gadis berambut putih pendek yang usianya tidak jauh darinya. Mereka sampai di Voca Town. Ray membawa Rin dan Len ke sebuah rumah yang tampak berisik.
"Masih saja seperti itu. Padahal sudah lewat bertahun-tahun." ujar Ray sambil tersenyum.
Ray meletakan tubuh Rin dan Len disamping pintu kemudian ia menekan tombol bel rumah tersebut. Sebelum pergi, Ray mengusap kepala Rin dan Len untuk yang terakhir kalinya. Ray pun menghilang dalam senyuman yang menunjukkan kesedihan.
"Ada apa?" ucap Miku kecil membuka pintu rumah tersebut dan nongol keluar.
Miku pun terkejut karena tidak ada siapa-siapa disana.
"Siapa, Miku-chan?" tanya Meiko menghampiri Miku.
"Tidak ada siapa-siapa. Aneh banget. Mungkinkah hanya bel jahil yang sering terjadi dalam berita itu." jawab Miku tampak menggerutu.
"Hah? Masa?" sahut Meiko terdengar tak percaya dan keluar untuk melihat.
Rin dan Len mulai sadarkan diri.
"Di-dimana ini?" tanya Rin saat membuka matanya.
Mendengar lenguhan, Miku dan Meiko menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Mereka berdua pun terkejut bukan main saat melihat ada dua orang anak yang super imut tertidur disamping pintu rumah mereka dan baru bangun.
"Ka-kalian sedang apa disini??" tanya Miku dengan sedikit ragu-ragu.
"A-ada dimana kami?" ucap Len dengan suara lemah.
"Yang lebih penting, masuklah dulu. Disini terlalu dingin. Kalian bisa masuk angin." ujar Meiko yang tak tega melihat kedua anak itu tampak gemetaran karena kedinginan.
Meiko dan Miku pun membawa kedua anak kembar tersebut masuk kedalam. Mereka kemudian mendudukan mereka disofa dan memberikan mereka selimut.
"Apa Meiko-san kenal mereka?" tanya Miku.
"Tidak. Dari wajah mereka, sepertinya mereka adalah orang asing." jawab Meiko.
"Terus bagaimana urusannya dong? Kita tidak tahu mereka anak siapa? Dan kita juga tidak tahu nama mereka." ujar Miku dengan khawatir.
"Mana aku tahu." sahut Meiko sambil pergi ke arah dapur.
"Nama kalian siapa? Kalian berasal darimana? Dimana orang tua kalian?" tanya Meiko dengan ramah pada Rin dan Len yang sedang menghangatkan diri.
"Nama ku.. siapa? Aku siapa?" ucap Len tampak berusaha mengingat namanya.
"Siapa aku? Mana ibuku?" kata Rin yang nampaknya juga tidak mengingat tentang dirinya.
"Meiko-san! Sepertinya mereka berdua amenisa!" ujar Miku.
Di dapur terlihat Meiko terdiam karena terkejut mengetahui kedua anak yang masih kecil itu mengalami hilang ingatan.
Meiko berjalan kembali ke ruang tengah sambil membawa 2 gelas coklat panas. Kemudian Meiko menyuguhkan 2 gelas coklat panas itu pada Rin dan Len.
"Minumlah.. itu enak lho. Tubuh kalian akan langsung terasa hangat setelah meminumnya." ucap Meiko.
"Te-terima kasih.." jawab Rin dan Len kemudian meminum coklat panas itu.
"Curang.. tolong buatkan aku juga dong, Meiko-san.." protes Miku.
"Buat saja sendiri sana. Udah gede ini masa tidak bisa." sahut Meiko.
"Ehh?!! yang benar saja! Pilih-pilih banget dah Meiko-san ini! Tidak adil! Meiko-san tidak adil!!" protes Miku terlihat kesal.
"Bercanda kok. Bentar ya akan aku buatkan dulu." ucap Meiko sambil berjalan kembali ke arah dapur.
"Harus apa aku sekarang? Mereka hilang ingatan. Mereka tidak ingat siapa orang tua mereka maupun asal mereka. Harus gimana nih?" gumam Meiko kebingungan.
"Kenapa aku harus bingung? Tentu saja jawabannya sudah jelas bukan. Aku akan mengurus mereka. Sama seperti Miku-chan. Bodohnya aku." sambung Meiko sambil tersenyum.
Meiko kembali ke ruang tengah untuk menyerahkan coklat panas milik Miku.
"Kalau dilihat-lihat melihat mereka seperti melihat bayangan cermin. Mirip banget. Apa mereka kembar?" ujar Miku sambil meneguk coklat panasnya.
"Tentu saja kan mereka kembar. Kalau tidak, tidak mungkin lah mereka semirip itu" jawab Meiko.
"Benar juga. Hahaha.." sahut Miku.
"Cermin kah.. hmm.. Kagamine. Bagaimana kalau kita namai mereka Kagamine." kata Meiko.
"Benar juga, mereka kan sedang anemia. Mereka tidak ingat nama mereka. Tapi kalau 'Kagamine' doang rasanya kurang wow deh." ujar Miku.
"Miku-chan.. yang benar buka anemia, tapi amnesia. Ya ampun.." sahut Meiko sambil menepuk jidatnya.
"E, iya.. amenisa.." balas Miku.
Meiko hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Miku yang tidak kunjung benar.
"Menurut Miku-chan, nama apa yang bagus untuk mereka?" tanya Meiko.
"Bagaimana kalau Rin-chan dan Len-chan?" usul Miku.
"Nama yang bagus! Dapat darimana?" tanya Meiko lagi.
"Tuh ada namanya di kerah baju mereka." jawab Miku.
Meiko kembali menepuk jidatnya karenanya. Rin dan Len tampak kebingungan melihat Miku dan Meiko. Mereka juga tampak sedikit takut dan cemas karena yang ada dihadapannya adalah orang asing bagi mereka. Melihat sorot mata Rin dan Len, Meiko pun kemudian memeluk mereka berdua.
"Tak usah takut. Aku akan merawat kalian hingga besar. Mungkin aku takkan pernah bisa menggantikan orang tua kalian, tapi aku akan berusaha menjaga kalian. Rin.. Len.. mulai sekarang kalian adalah bagian dari keluargaku." ujar Meiko sambil memeluk mereka berdua.
"Ka-kakak.." ucap Rin dan Len yang masih terheran.
"Aku juga! Mulai saat ini aku akan jadi onee-chan kalian." ucap Miku sambil melompat dan memeluk Rin dan Len dari samping.
Di pelabuhan, Ray tampak hendak menaiki sebuah perahu.
"Aku percayakan mereka padamu, Meiko-san." ujar Ray sambil tersenyum.
"Sudah siap untuk berangkat?" tanya seorang gadis berambut putih pendek.
"Ya." jawab Ray.
Kembali ke masa sekarang, Rin dan Len tampak sedang main game bersama di ruang tengah.
"Kalian ini selalu saja bermain game ya?" sapa Ray sambil memegang kepala Rin dan Len.
"Whoa!!?? Kenapa Ray-nii selalu muncul tiba-tiba." gerutu Len.
"Sejak dulu, Ray-niichan selalu saja bisa muncul tanpa terduga." tambah Rin.
"Mau bagaimana lagi. Itu sudah jadi kebiasaanku." jawab Ray
"Dasar master petak umpet." ucap Len.
Ray hanya tersenyum dikatai seperti itu oleh Len.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.