Memo, chapter 55 - Kemurungan

Arya di interogasi oleh Shindy di ruang ekskul sastra. Disana juga ada Alice dan Ani yang dijadikan saksi. Kini ruangan itu bagaikan ruang sidang. Suasana disana begitu tegang. Arya berkeringat begitu banyak.
"Jadi apa yang bisa kamu jelaskan? Cepat katakan!" suruh Shindy menatap tajam pada Arya.
"Ah.. disini panas banget ya. Nyalakan AC nya dong." ujar Arya.
"Sudah jangan alihkan topik pembicaraan. Cepat jelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya!" bentak Shindy.
"Eeehh.. hmm.. itu.." kata Arya terlihat takut untuk menjelaskannya.
"Arya.." ucap Shindy memaksa Arya.
"A-apa?" tanya Arya.
"Jangan menghindar lagi. Jadilah laki-laki sejati dan jelaskan semuanya!" suruh Shindy dengan tatapan serius.
Melihat sorot mata Shindy, Arya pun mengambil napas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah. Sepertinya tidak ada gunanya juga aku terus menyembunyikannya dari senior. Tapi kalau aku berkata jujur apa senior akan mempercayaiku?" tanya Arya.
"Tentu saja. Apapun yang Arya katakan padaku, aku akan mempercayainya." jawab Shindy dengan serius.
"Jadi, jangan berbohong lagi padaku." sambung Shindy sambil menatap sipit Arya.
"Syukurlah.." ujar Arya sambil tersenyum.
Kemudian Arya pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Ia mengatakan semua yang ia ketahui pada Shindy.
"Oohh.. begitu rupanya." ucap Shindy sudah mengerti.
"Jadi, yang waktu itu mengirim SMS pada ku adalah kamu, bukan nona Alice?" tanya Ani.
"Ya, aku sengaja supaya tidak terjadi hal yang buruk meskipun Alice tidak pulang ke rumah sesuai keinginannya." jawab Arya.
"Hmm.. begitu rupanya. Jadi nona Alice tidak benar-benar gabung ekskul sastra." ujar Ani.
"Tidak. Meskipun aku ingin gabung sebenarnya." sahut Alice.
"Tapi setahuku nona tidak berbakat dalam menulis cerita." kata Ani.
"Me-memang sih! Tapi.." balas Alice lalu terlihat malu-malu.
"Sastra bukan hanya tentang menulis cerita. Bukan hanya dengan menulis puisi. Tapi sastra adalah kehidupan itu sendiri." ujar Shindy.
Alice dan Ani menoleh ke arah Shindy karena mendengar hal itu.
"Itulah yang dikatakan oleh nya." sambung Shindy sambil memegang pundak Arya.
"Oh.. jadi senior meng-copy perkataan ku?" tanya Arya.
"Maaf, soalnya perkataanmu keren banget." jawab Shindy sambil tersenyum.
"Ya terserahlah. Terus sekarang bagaimana?" ujar Arya.
"Hmm.. kalau begitu, kenapa kita tidak mengajak sang putri masuk ekskul sastra?" sahut Shindy.
"Ide bagus! Jadi bagaimana menurutmu? Apa kamu mau masuk ke ekskul sastra?" balas Arya kemudian menawari Alice.
"Aku beneran boleh masuk ekskul sastra? Meskipun tidak bisa nulis cerita ataupun puisi?" tanya Alice.
"Ya, tentu saja! Sudah kubilang kan, satra bukan hanya tentang menulis." jawab Arya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan masuk ekskul nya Arya." kata Alice dengan malu-malu.
"Nona! Apa nona serius masuk ekskul yang hampir bubar ini?" protes Ani.
"Hahaha.. kita disebut 'ekskul yang hampir bubar'." ujar Arya sambil tersenyum malas.
"Ani, tidak sopan berkata begitu didepan orangnya!" sahut Alice.
"Jadi kalau dibelakang orangnya tidak apa-apa?" komentar Arya.
"Ya setidaknya orang tersebut tidak tersakiti." jawab Alice .
"Orang yang bersangkutan memang tidak tersakiti secara langsung. Tapi akan tersakiti oleh rumor yang beredar nantinya." balas Arya.
"Terus bagaimana dong membicarakan orang tanpa menyakitinya?" tanya Alice.
"Pokoknya sebaiknya jangan membicarakan tentang apapun dari orang lain. Kita harus menghargai privasi setiap orang kan." jelas Arya.
Alice pun terperangah kagum dengan kata-kata Arya.
"Ada apa?" tanya Arya.
"Ti-tidak kok." jawab Alice sambil berbalik menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Shindy tersenyum menyadari itu.
"Terus bagaimana denganmu? Apa kamu mau bergabung juga?" tawar Arya pada Ani.
"Tidak perlu kamu tanya, aku pasti akan bergabung kalau nona Alice juga bergabung. Aku harus tetap berada di samping nona Alice apapun yang terjadi." jawab Ani.
"Bagus kalau begitu. Sekarang kita sudah punya 5 anggota. Jadi dengan ini ekskul kita tidak akan dibubarkan." ujar Arya.
"Iya kan, senior?" tanya Arya melirik ke arah Shindy.
Namun Arya dibuat terkejut oleh wajah murung Shindy.
"Senior?" panggil Arya.
"Eh, apa?" sahut Shindy.
"Senior sakit?"tanya Arya.
"Tidak. Aku baik-baik saja kok. Ya.. syukurlah anggota kita bertambah." jawab Shindy sambil tersenyum.
"Nona Alice, kita harus segera pulang. Ayah anda sudah menunggu dirumah." ujar Ani pada Alice.
"Tidak. Aku tidak mau pulang ke rumah saat ini." jawab Alice.
"Tapi nona, jika anda tidak pulang, Ayah anda akan marah besar." jelas Ani.
"Aku tidak peduli, pokoknya aku tidak mau pulang!" tolak Alice.
"Nona! Nona jangan lari terus! Ini penting untuk masa depan nona!" bujuk Ani.
"Tidak mau!" tolak Alice sambil bersembunyi dibelakang Arya.
"Nona!" bentak Ani.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau pulang!!!" ucap Alice sambil meremas bagian belakang baju Arya.
"Kalau begitu nona tinggal pilih, pulang ke rumah atau ekskul ini dihancurkan oleh ayah anda?" tanya Ani.
Mendengar hal itu membuat Arya, Shindy dan Alice terkejut.
"Ba-baiklah.." sahut Alice sambil menunduk kebawah.
Alice pun pergi dibawa oleh Ani. Di ruang itu hanya tinggal Arya dan Shindy saja.
"Begitu kah?" ucap Arya dalam hatinya tampak mengerti situasi yang dialami Alice.
"Sayangnya aku tidak punya kenalan yang memiliki kuda putih." ucap Shindy kemudian duduk dan mulai membuka laptopnya.
"Kuda putih? Buat apa?" tanya Arya.
Di luar, Alice terlihat masuk ke mobilnya yang mewah dengan wajah sedih.

Catatan hari ini:
Jika ada orang yang percaya pada kita, jangan pernah khianati kepercayaannya dengan sebuah kebohongan. Karena sebuah kepercayaan itu lebih berharga dari permata.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】