Said (Berkata)
Hidup bukanlah sekedar berbicara dan mengkritik hidup orang lain, tapi hidup itu adalah perbuatan dan bagaimana cara kita melaksanakan dan menjalankannya. Itulah yg akan selalu berlaku, sekarang dan selamanya. Ada satu cerita tentang kehidupan anak SMA yg banyak berbuat tapi sedikit bicara. Cerita ini dimulai di suatu pagi dimana semua orang berangkat sekolah. Dia selalu datang paling awal. Dia adalah “Mr. No Comment”, atau sebut saja dia Dani. Setiap pagi saat dia disapa oleh satpam, dia hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Tapi berbeda kalau dia bersama temannya, Rico. Dia selalu terbuka. Dan saat dia belajar di kelas, hampir di setiap pelajaran dia tak pernah bertanya. Ok, cerita akan dimulai. Seperti biasa, Dani datang pagi-pagi. Ternyata kali ini dia bukanlah satu-satunya yg datang saat itu. Sewaktu dia lewat di kelas IPA, dia melihat seorang perempuan yg sudah lama dia sukai. Tapi tak pernah berani untuk mengatakannya. Namanya adalah Iweth. Tiba-tiba Iweth berbalik dan menyapa Dani, “Hai, Dan…”. Dani begitu terkejut, dan dia hanya membalas sapaan itu dg senyuman ramah saja. Lalu dia berlari menuju kelasnya, yaitu kelas IPS. Sebenarnya Dani sangat cerdas, dan sangat jenius. Tapi dia memilih kelas IPS karena takut sekelas dg Iweth. “Ah, tadi itu hampir saja.” dalam hati Dani, sambil duduk dan menundukan kepalanya. “Kenapa aku tak pernah bisa mengatakan hal itu padanya? Apa mentalku memang lemah ya?” gumam Dani dalam hatinya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh tangan yg menyentuh bahunya dari belakang. “Hai, Dan… Selamat pagi…” sapa seorang perempuan. Dani pun menoleh dan berkata dg singkat, “Selamat pagi juga, Rin..”. Ternyata itu adalah teman Dani, namanya adalah Ririn. Dia sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Iweth. Sebenarnya Ririn suka pada Dani, tapi sayangnya Dani hanya menganggap Ririn sebagai temannya saja. “Oh ya, Dan. Kamu malam ini ada acara gak?” tanya Ririn. Dani pun menggelengkan kepala tanda “tidak”. “Kalau gitu bagaimana kalau kita jalan?” ajak Ririn. “Daripada kamu habiskan waktu untuk hal yg tidak berguna seperti itu, lebih baik malam minggu ini kamu belajar.” ujar Dani. “Ok, kalau gitu kita belajar bareng aja ya? Kamu mau kan, Dan?” tanya Ririn. “Tentu” jawab Dani singkat saja. Saat belajar, tiba-tiba ada wali kelas datang memperkenalkan siswa baru. Dia tampan sekali, sehingga semua perempuan ribut saat itu membicarakan siswa baru itu. “Silence please!” teriak Pak Didi, wali kelas di kelas itu. “Ok, kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Jakarta. Ya, silahkan perkenalkan dirimu.” ujar Pak Didi. “Nama saya Dimas Firmansyah. Saya berasal dari SMAN 1 Jakarta. Salam kenal…” ujar siswa baru, yg ternyata bernama Dimas itu. “Dimas, boleh minta nomer HPnya?” tanya salah seorang siswi. “Huuu….” siswi yg lain pun menyorakinya karena mendengar pertanyaan itu. “Hahaha.. Nanti saja ya..” ujar Dimas dg senyuman ramah menambah ketampanannya. “Dimas, kamu duduk dekat Ririn dibelakang.” ujar Pak Didi. “Siap, Pak!” sahut Dimas.
Tidak berapa lama, bel istirahat pun berbunyi. “Hey, Dan. Kita ke kantin yuk!” ajak Rico kepada Dani. Rico adalah teman dekat Dani. Mereka berdua sangat akrab. “Ok.” terima Dani. Mereka pun pergi ke kantin berdua. Seperti biasa, Rico lah yg memesan, karena memang Dani jarang bicara kalau ada di depan umum. Ternyata disana juga ada Iweth dan teman-temannya. Seperti biasa setiap Iweth CS datang, kantin tiba-tiba jadi sangat ribut. “Hey, katanya ada murid baru yg gantengnya terlalu ya?” tanya Iweth pada temannya. “Ya, katanya sih gitu. Emang kenapa?” tanya temannya itu. “Gak apa-apa. Cuma nanya doank.” jawab Iweth. “Denger tuh, Dan. Mereka lagi ngomongin si Dimas.” bisik Rico pada Dani. Tapi Dani hanya tersenyum. “Kok malah senyum sih? Pujaan hati lu lagi kasmaran pada orang lain kok lu tenang-tenang aja?” tanya Rico dg herannya. “Biarkan saja. Kita lihat apa yg akan terjadi selanjutnya?” ujar Dani. “Ok, terserah lu aja…” sahut Rico. Setelah mereka selesai jajan, lalu Iweth CS pun kembali ke kelas. Dani dan Rico pun mengikuti mereka. “Oh ya, ngomong-ngomong dia bakal suka gak ya sama aku?” ujar Iweth pada teman-temannya. “Ya tentu lah, Iweth gitu…” sahut teman-temannya. “Tuh denger, Dan. Gua kata juga apa? Dia suka sama si Dimas.” bisik Rico pada Dani sambil berjalan di belakang Iweth CS. “Tenang saja, lagipula dia belum tahu Dimas itu seperti apa.” sahut Dani dg nada pelan. “Ok!” sahut Rico. Saat mereka sdg asik ngobrol, tiba-tiba Iweth ditabrak oleh seseorang. Iweth pun langsung melabrak orang itu dg suara yg begitu nyaring, “Hey, kalau jalan itu lihat-lihat donk!!”. “Aduh, maaf ya. Kamu gak apa-apa kan?” ujar orang yg menabrak Iweth itu dg senyuman yg ramah. Saat Iweth menatap orang itu, ia kaget ternyata yg ada dihadapannya adalah orang yg begitu tampan. “Oh ya namamu siapa?” sambung orang itu. “Aduh, gawat! Lihat tuh Dan, dia bertemu ama Dimas.” ujar Rico pada Dani. Tapi Dani hanya diam dan melihat saja. “Namaku… Hmm… Kamu panggil saja aku Iweth ya.” jawab Iweth dg wajah ceria. “Oooh.. Kenalkan, namaku Dimas. Aku murid baru disini.” ujar orang itu, yg ternyata adalah Dimas. “Oh jadi kamu ya, yg dibilang-bilang sebagai pangeran kelas IPS itu?” ujar Iweth. “Oh begitukah?” kata Dimas seolah tidak percaya. “Eh, kami duluan ya. Kalian disini saja, ngobrol.” ucap salah satu temannya Iweth, dia bernama Santi. “Ya udah kalau gitu kalian pergi aja yg jauh. Kalau perlu ke luar negeri sana.” ujar Iweth pada teman-temannya. “Ah dasar kau ini, kalau udah ketemu cowok ganteng, gini jadinya.” ujar Santi bergurau. “Ayo Ric, kita juga. Kita kembali ke kelas.” ajak Dani pada Rico. “Ok!” terima Rico. Akhirnya Iweth dan Dimas pun ditinggal berdua dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Sementara, Dani dan Rico kembali ke kelas. Dani berjalan dg kepala tertekuk dan tangan kirinya dimasukan ke saku celana depan. “Kasihan bocah itu. Pasti dia patah hati lihat yg barusan.” gumam Rico dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dani pun masuk ke kelas dan sempat berpapasan dg Ririn di pintu kelas. Ririn kaget melihat raut wajah Dani. Ririn yg berniat pergi keluar pun, jadi tidak jadi keluar. Dia malah kembali kedalam dan menghampiri Dani yg sedang terduduk lesu di bangkunya. “Dan, kamu kenapa? Ada apa? Apa yg terjadi?” tanya Ririn dg wajah cemas. Tapi Dani tidak menjawab. Ririn mencoba lagi bertanya, tapi tetap saja tidak dijawa. “Hai, Rin. Bisa kita bicara.” ajak Rico. “Baiklah.” terima Ririn. Kemudian Rico pun mengajak Ririn ke depan kelas lalu menjelaskan semuanya pada Ririn tentang apa yg terjadi pada Dani. “Oh, jadi begitu ya.” ujar Ririn dg sedikit kecewa karena mendengar bahwa Dani mencintai Iweth. “Kenapa lu kelihatan kecewa begitu?” tanya Rico. “Hmm.. Sebenarnya.. Sebenarnya aku suka sama Dani. Aku jatuh cinta padanya, Ric.” jawab Ririn. “Apa? Lu suka sama Dani? Kenapa gak bilang dari dulu sih?” tanya Rico dg sedikit kaget. “Aah.. Aku malu..” jawab Ririn. Sementara itu, Iweth dan Dimas juga masih asik ngobrol. “Oh ya, malam ini kamu ada acara gak?” tanya Dimas. “Gak kok, kalau mau ngajak kencan silahkan! I’m free..” jawab Iweth. “Wah, kelihatannya kamu udah tahu tujuanku ya.” ujar Dimas. “Siapa dulu dong. Iweth!” ujar Iweth membanggakan dirinya. Kemudian mereka saling bertukar nomer HP dan lalu kembali kekelas masing-masing. Sekembalinya ke kelas, Iweth bersorak-sorak dg penuh kegirangan. “Yeah! Aku dapet nomer HPnya lho.” ujar Iweth memamerkan nomer Dimas pada teman-temannya. “Mana? Mana? Aku minta dong!” pinta teman-temannya. “Alah, minta. Usaha sendiri dong.” kata Iweth dg sombongnya. “Aah.. Pelit lu..” gerutu teman-temannya. Saat malam tiba, karena itu malam minggu, jadi di tempat-tempat gelap jadi ramai oleh pasangan muda-mudi yg di mabuk asmara. Iweth pun menunggu dg penuh kesabaran. Dia menunggu pangeran pujaan hatinya, yaitu Dimas. Sedangkan Dani yg sudah jatuh cinta pada Iweth sejak kelas 1, hanya bisa diam dirumah dan merenungi nasibnya. Tapi tiba-tiba, “Dan! Dani! Nih ada pacar kamu nyamperin.” teriak Ibunya dari ruang tamu. Dani pun tersentak dan terjatuh dari tempat tidurnya karena terburu-buru lari ke ruang tamu. “Aaaaa…!!!” teriak tamu itu sambil menutup matanya dg kedua tangannya. “Ya ampun, Dan. Kamu itu yg sopan dong.” ujar Ibunya Dani. “Emang ada apa?”tanya Dani. “Lihat ke bawah!” suruh Ibunya Dani. “Ya ampun! Aku lupa belum sempat pakai celana.” ujar Dani terkaget melihat bawahnya hanya memakai celana kolor. Lalu dia berlari kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu, Iweth pun mulai bosan menunggu Dimas. Lalu dia pun menelepon Dimas. Saat ditelepon, Dimas mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan. Tidak lama kemudian, munculah sebuah motor sejenis motor Kawasaki Ninja RR berwarna hijau. Dan ternyata itu adalah Dimas. “Iweth! Aku ada diluar.” teriak Dimas ke arah rumah yg cukup besar itu. “Hey, aku disini! Ngapain kamu teriak-teriak ke rumah orang.” sahut Iweth dari arah seberang rumah besar itu. “Ou, aku berteriak kerumah itu supaya memantul suaranya. Kan rumah itu besar, jadi pasti bisa memantulkan suara kan?” ujar Dimas. “Hmm.. Ngelesnya jago banget. Padahal bilang aja kalau kamu salah rumah. Huh!” kata Iweth dalam hatinya. “Kalau gitu ayo kita pergi sekarang!” ajak Dimas. “Ok, let’s go!” terima Iweth. Kemudian mereka pun pergi dg motor entah kemana. Kembali ke rumah Dani, disana Dani sdg ngobrol dg tamunya yg ternyata itu adalah Ririn. “Maaf ya soal yg tadi itu.” ujar Dani. “Gak apa-apa.” sahut Ririn dg wajah yg masih memerah karena gugup. “Kukira kamu itu cuma bercanda waktu katakan mau belajar bareng.” ujar Dani berbasa-basi. “Tidak, aku tidak bercanda. Buktinya aku ada disini.” jawab Ririn dg senyuman yg begitu manis. “Eh Dan, tawari minum dong. Masa pacar sendiri gak ditawari minum.” ujar Ibunya menggoda. “Ah Ibu, Ririn itu bukan pacarku. Dia hanya teman sekelasku saja.” sahut Dani. “Tapi menurut ibu kalian sangat serasi. Dan kalian juga lebih terlihat seperti pacaran daripada berteman.” goda Ibunya sambil tersenyum kecil. “Aduh, Ibu…” ujar Dani dg malu. Ririn yg mendengar itu hanya bisa tersenyum malu dg wajah yg merah. “Dani.. Kapan belajarnya?.. Katanya mau belajar..” ujar Ririn dg lirih karena malu. “Ya sekarang aja lah, takut nanti kamu kemaleman.” jawab Dani. Kemudian Ririn dan Dani pun mengeluarkan buku dan lalu belajar bersama. Sementara itu, Iweth dan Dimas sedang makan di sebuah cafe sambil ngobrol. Mereka mengobrol dg akrab sekali, tapi suara Iweth sangat nyaring dan dia mendominasi setiap kata dan ucapannya. Sampai-sampai Dimas pun tidak sempat bicara. “Hmm.. Ni cewek cerewet banget. Aku sampai gak kebagean ngomong.” gumam Dimas dalam hatinya sambil menopang dagu. Tidak lama kemudian, HP Dimas berbunyi. Dan Dimas pun meminta ijin ke Iweth untuk menelpon dulu. Lalu setelah usai, Dimas pun buru-buru pamit, “Eh weth, maaf aku harus pulang. Ada urusan keluarga. Dan maaf juga aku gak bisa nganterin kamu, soalnya aku harus buru-buru. Tenang soal pesanan sudah aku bayar tadi.” ujar Dimas memohon. “Ok! Gak apa-apa kok. Aku pulang sendiri aja.” kata Iweth menerima. Lalu Dimas pun buru-buru pergi dg motornya, dan Iweth pun pulang sendirian dan jalan kaki karena memang cafe itu tidak jauh dari rumahnya. Lalu, di rumah Dani, Dani dan Ririn sedang asik belajar. Walaupun saat di sekolah Dani begitu tertutup, tapi saat dirumah Dani sangat terbuka. Dia juga adalah anak yg begitu smart dan jenius. Tapi saat sedang asik-asiknya Ririn belajar dari Dani, tiba-tiba ibunya Dani memanggil Dani dari arah dapur. “Dan! Dani!” saur ibunya. “Kulan!” sahut Dani. “Kesini dulu!” pinta ibunya. “Baik, bu!” sahut Dani sambil berlari menuju dapur. Tidak berapa lama, Dani kembali dan meminta ijin pada Ririn, “Rin, aku kedepan dulu ya, beli pulsa buat ibuku.”. “Ok!” sahut Ririn. Kemudian Dani pun keluar dari rumahnya dan lari ke konter pulsa terdekat yg tepatnya ada di seberang jalan raya. Dan jalan raya tsb jaraknya sekitar 200 m dari rumahnya. Saat selesai membeli pulsa, dan menghitung kembali uang kembalian, dia melihat Iweth yg menyebrang jalan. Saat itu tiba-tiba ada mobil colt diesel yg berkecepatan tinggi menuju ke arah Iweth. Dani pun buru-buru memasukan uang itu kedalam sakunya dan berlari mencoba menyelamatkan Iweth. Dani pun menangkap Iweth dan menjatuhkan dirinya dibawah Iweth sebagai bantalan supaya tubuh Iweth tidak terluka. Dani membiarkan tubuhnya yg tergores tanah berbatu kerikil, dan merelakan tangannya terluka. “Euh.. Aduh..” rintih Iweth kesakitan karena jatuh. Kemudian Dani pun bangkit dan menjauh dari Iweth. “Hey, mau kemana?” cegah Iweth. Tapi Dani tetap saja pergi menjauhi Iweth. “Itu tadi siapa ya? Aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Uuh…kenapa dia pergi begitu?” gumam Iweth bertanya-tanya dalam hatinya. Sementara itu, Dani pulang ke rumah sambil memegangi tangan kanannya yg berdarah. Ketika sampai dirumah, Ririn kaget melihat tangan Dani yg berlumuran darah. “Dani, tanganmu… Apa yg barusan terjadi? Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Ririn dg gelisah. “Aku baik-baik saja.” jawab Dani dg pelan sekali. “Dan, apa kamu punya kotak P3K?” tanya Ririn. “Disana. Di dalam lemari.” jawab Dani. “Dimana?” tanya Ririn lagi karena tak menemukan apa yg ia cari. “Di laci. Sebelah kananmu.” jawab Dani lagi sambil menunjuk ke arah laci lemari itu. Setelah menemukan kotak P3K itu, Ririn pun lalu membersihkan luka Dani lalu membalutnya dg perban. “Tanganmu itu kenapa?” tanya ibunya Dani sambil meletakan minuman dan makanan ringan di meja tamu. “Tidak apa-apa. Tadi hanya terpeleset di jalan.” jawab Dani, mencari alasan. “Hmm.. Tapi kelihatannya ibu tak perlu khawatir lagi karena sudah ada gadis yg merawatmu.” goda ibunya. “Ah, ibu ini…” sahut Dani dg sedikit malu. “Selesai..” kata Ririn usai membalut seluruh luka Dani. Lalu mereka pun melanjutkan belajar mereka sampai pukul 9 malam. Dan Ririn pun pulang. Keesokan harinya, saat di sekolah Iweth menceritakan semua yg terjadi pada saat malam minggu kemarin pada teman-temannya. Iweth begitu semangat menbicarakan semua itu. Berbeda dg Dani yg hanya diam seharian saat ditanya oleh teman-temannya tentang apa yg terjadi pada tangan kanannya. “Eh Dan, tangan lu kenapa?” tanya Rico, teman baik Dani. “Aku tak mau membahasnya.” jawab Dani dg tenang. Lalu Dani pun berlalu ke kantin. “Hmm.. Dia kenapa?” tanya Ririn pada Rico. “Tau tuh, dia kayaknya ngambek saat ku tanya soal tangannya.” jawab Rico dg wajah jengkel. “Oh ya, gimana kencan kalian?” sambung Rico sambil bertanya. “Gak. Kami gak kencan kok. Cuma belajar bareng doank.” jawab Ririn dg malu-malu. “Wah, pasti sambil mesra-mesraan kan?” goda Rico. “Ih kamu ya. Gak kok! Kami belajarnya serius.” jawab Ririn semakin malu. Sementara itu, Dani sedang membeli beberapa makanan di kantin. Dan saat itu pun, Iweth lewat di belakangnya. Iweth kaget melihat tangan kanan Dani di balut perban. Dia jadi ingat kejadian waktu itu. “Hmm.. Tangan kanannya di perban. Apakah dia orang yg telah menyelematkanku malam itu. Tidak mungkin! Dia kan anaknya culun, pendiam, dan pengecut. Mana mungkin dia senekat itu. Tapi, orang yg malam itu menyelematkanku juga terluka di tangan kanannya. Atau mungkin saja dia hanya lukanya aja yg sama. Tapi… Tapi… Aah… Lebih baik aku tanyakan saja biar jelas.” gumam Iweth dalam hatinya dan memutuskan untuk menanyakannya pada Dani. “Hey Dan, tangan lu kenapa?…” tanya Iweth sambil menahan Dani yg mau pergi. Dani kaget melihat siapa orang di hadapannya itu. Dani pun berusaha menghindar, tapi Iweth menangkap tangan kirinya dan mencengkeramnya dg kuat. Sehingga Dani tak bisa kemana-kemana. “Eh lu mau kemana? Jawab dulu, tangan lu itu kenapa harus di perban?” tanya Iweth. Tapi Dani malah menatap tajam mata Iweth yg juga sedikit kesal dan berkata, “I have no comment…”. Lalu Dani menghentakan tangan kirinya sehingga cengkraman tangan Iweth terlepas dan dia pun pergi. “Dasar Mr. No Comment. Jawabnya itu-itu mulu. Gak ada kata lain apa? Mr. Ius banget sih.” gerutu Iweth dg wajah yg begitu kesal. Saat itu, Dimas mencoba mendekati Ririn di kelas. Dia mulai berjalan dan duduk di kursi sebelah kursi Ririn. “Hai cewek, lagi ngapain nih?” ujar Dimas memulai teknik mautnya. Tapi kelihatannya Ririn sudah tahu apa yg akan terjadi. Jadi dia memberi penangkalnya. “Maaf, aku tak punya waktu untuk pembicaraan ini.” tangkis Ririn. Dimas pun agak jengkel karena hal itu. Tapi dia tak mau menunjukan perasaannya. Akhirnya dia pun pergi. Beberapa lama kemudian, Dani pun datang. Dia berpapasan dg Dimas di pintu kelas. Mereka berdua pun saling menatap saat itu, sambil tetap berjalan. Dani merasakan sesuatu yg aneh saat menatap Dimas. Seperti ada sesuatu hal yg disembunyikan olehnya. Satu bulan telah berlalu, dan akhirnya Dimas dan Iweth pun berpacaran. Sementara Dani hanya bisa melihat dan memberikan bantuan kecil sesekali pada Iweth secara sembunyi-sembunyi. Saat pulang sekolah, Dani yg pulang bersama Ririn, mereka melihat Dimas ada di sebuah gang dg sekumpulan orang. “Eh Dimas, ada apa lu manggil gua kemari?” tanya orang bertubuh besar dan berwajah sangar itu. “Ouw, tenang. Aku punya tugas untuk kalian. Apa kalian mau?” tanya Dimas dg tenang. “Tentu kami mau, tuan.” jawab orang yg bertubuh kekar itu, mungkin dia pimpinan orang-orang itu. “Rin, ayo kita cepat pergi dari sini. Disini berbahaya!” bisik Dani. Lalu Dani dan Ririn pun menjauh dari tempat itu. Saat di sekolah, Dani terus memperhatikan setiap gerak-gerik Dimas. Saat di WC, Dani mendengar pembicaraan seseorang di luar WC. Dan itu ternyata adalah, Dimas. “Hmm.. Menurutmu si Iweth ini bakal kena gak?” tanya Dimas pada temannya. “Mungkin. Di coba saja.” jawab temannya itu. “Kelihatannya korbanmu akan tambah 1 lagi ya.” ujar temannya yg satu lagi. “So pasti…” sahut Dimas. “Kita buat dia benar-benar takkan melupakan hal ini. Kita beri dia pengalaman yg takkan terlupakan.” sambung Dimas. “Ok, boss!” sahut ke 2 temannya itu. “Hmm.. Kelihatannya aku harus bertemu Iweth. Mungkin dia takkan mau percaya pada kata-kataku. Tapi aku akan mencoba katakan. Ada saatnya diam itu emas, tapi akan ada saatnya pula dimana bicara itu berlian. Aku harus katakan ini padanya.” gumam Dani berusaha meyakinkan dirinya. Setelah keluar dari WC, dia pun menemui Iweth yg sedang sendirian di kelas. Dia mulai berjalan mendekat ke Iweth. “Eehh… Dani, ada apa?” tanya Iweth dg ramah. “Aku ingin katakan sesuatu.” jawab Dani. Lalu Dani menjelaskan semuanya tentang Dimas, dan berkata supaya Iweth berhati-hati dg Dimas. Iweth tidak percaya pada kata-kata Dani dan tidak mengindahkannya sama sekali. Dani pun di pergi. Dalam hatinya dia berpikir bahwa yg penting dia sudah mencoba untuk memberitahu Iweth. Saat pulang sekolah, Iweth pun diajak pulang bareng oleh Dimas naik motor kerennya. “Rico, bisa antar aku ke suatu tempat?” tanya Dani saat melihat Iweth pergi dg Dimas. “Ok! Kemana?” sahut Rico. “Sudah, ikuti saja petunjuk dariku” jawab Dani. “Ok!” terima Rico. Kemudian mereka pun pergi dg motornya Rico. Sementara itu, Iweth di ajak jalan-jalan dulu keliling-keliling oleh Dimas. Terlihat awan hitam sudah berkumpul, bersiap menjatuhkan titik air yg dibawanya. Dan hujan pun turun, sehingga Dimas dan Iweth terpaksa mencari tempat berteduh. Mereka pun berhenti di sebuah rumah kosong di daerah perkebunan yg lumayan jauh dari kampung. Sementara itu, Dani dan Rico berteduh di warung kopi dekat perkebunan tersebut. “Hey, aku akan memeriksa sesuatu.” ujar Dani. “Tenang dulu. Kita ngopi dulu ya. Kan lagi ujan gini.” sahut Rico menahan Dani. “Bu kopinya donk.” pinta Rico pada penjaga warung itu. “Berapa?” tanya penjaga warung itu. “Eh Dan, lu mau gak?” tanya Rico sambil menoleh ke arah Dani. “Ya ampun, ternyata dia dah pergi. Hmm.. Dasar Dani. Kalau pergi gak bilang-bilang.” ujar Rico saat tahu bahwa Dani ternyata sudah lenyap. Sementara itu, Dimas dan Iweth sedang asyik ngobrol. Walaupun kelihatannya Iweth lebih menguasai obrolan itu, dan Dimas gak kebagian ngomong. “Sekarang saat yg tepat sekali. Sesuai rencanaku, ini akan segera dimulai.” ujar Dimas di dalam hatinya. Dimas pun mulai menjalankan rencananya. Dia mulai merayu-rayu Iweth supaya Iweth mau menuruti keinginannya. Dan Dimas pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Iweth. Dan Iweth pun mulai pasrah. Tapi tiba-tiba dia ingat pada perkataan Dani tentang Dimas. Apalagi saat tangan Dimas mulai nakal menjelajah dirinya. Iweth pun memberi penolakan. Dia pun bangkit dan menjauhi Dimas. “Dimas, jangan! Kita belum boleh lakukan itu. Aku gak mau.” ujar Iweth. “Tenang aja, gak bakal ada yg tahu kok.” jawab Dimas dg tenang. “Pokoknya aku gak mau. Kukira tadinya kamu orang yg baik-baik, ternyata nggak. Aku bener-bener kecewa.” sentak Iweth. “Ouw, jangan gitu donk sayang.” bujuk Dimas. “Pokoknya kita putus!!!” bentak Iweth. “Ouw, begitukah? Kau tidak tahu aku dipindahkan karena apa. Dan kau tidak tahu kau sedang bicara dg siapa.” ujar Dimas mulai emosi. Kemudian dia memanggil preman-premannya dan mereka pun keluar dari rumah kosong itu. Ternyata semua ini telah direncanakan oleh Dimas. Iweth yg merasa terpojok pun meminta tolong. Tapi sayang, suaranya takkan terdengar karena derasnya hujan. Iweth pun lari dan menembus lebatnya hujan. Dan mereka pun mengejarnya. Iweth berusaha lari sekuat tenaga, tapi akhirnya jatuh terpeleset licinnya tanah becek. Iweth pun pasrah dan menutup matanya. Tapi tiba-tiba mereka berjatuhan. Saat membuka matanya, dia kaget, ternyata yg ada di hadapannya adalah Dani. Dia mampu mengalahkan mereka. Dan yg tersisa tinggal 2 orang dan Dimas saja. Tapi ternyata yg 2 orang tadi membawa senjata. Dani pun mati-matian melawan mereka berdua. Walau tubuhnya sampai luka-luka, tapi akhirnya mereka kalah juga. Dimas pun lari menuju motornya. Dani berusaha mengejarnya, tapi dia malah ditabrak oleh Dimas dg motornya. “Ha..ha.. Rasakan itu, pecundang.” ejek Dimas. Dimas pun melaju meninggalkan Dani dan Iweth. Tapi didepannya juga ada yg melaju dan memukulnya hingga jatuh kebelakang. “Maaf ya. Tapi pecundang itu adalah temanku.” ujar orang yg memukul Dimas itu, yg ternyata itu adalah Rico. Sementara itu, Dani berusaha bangkit dan menghampiri Iweth yg terduduk di tanah yg becek. “Kenapa kamu mau melakukan ini semua?” tanya Iweth. Dani pun tersenyum dan mengatakannya. “Aku lakukan ini semua untukmu, Iweth. Walaupun tubuhku harus hancur. Walaupun ragaku harus binasa. Aku rela melakukan semua itu agar kau bahagia. Karena aku sangat mencintaimu.” jelas Dani yg kemudian jatuh di pangkuan Iweth. Terlihat darah dari lukanya terus mengalir. Lalu Dani pun dibawa ke rumah sakit, sementara itu Dimas dibawa ke kantor polisi. Dan akhirnya Dani dan Iweth pun berpacaran. Mereka sangat cocok sekali. Karena kekurangan Dani yg pendiam bisa ditutupi dg kelebihan Iweth dalam berbicara. Dan mereka pun bahagia.
Tidak berapa lama, bel istirahat pun berbunyi. “Hey, Dan. Kita ke kantin yuk!” ajak Rico kepada Dani. Rico adalah teman dekat Dani. Mereka berdua sangat akrab. “Ok.” terima Dani. Mereka pun pergi ke kantin berdua. Seperti biasa, Rico lah yg memesan, karena memang Dani jarang bicara kalau ada di depan umum. Ternyata disana juga ada Iweth dan teman-temannya. Seperti biasa setiap Iweth CS datang, kantin tiba-tiba jadi sangat ribut. “Hey, katanya ada murid baru yg gantengnya terlalu ya?” tanya Iweth pada temannya. “Ya, katanya sih gitu. Emang kenapa?” tanya temannya itu. “Gak apa-apa. Cuma nanya doank.” jawab Iweth. “Denger tuh, Dan. Mereka lagi ngomongin si Dimas.” bisik Rico pada Dani. Tapi Dani hanya tersenyum. “Kok malah senyum sih? Pujaan hati lu lagi kasmaran pada orang lain kok lu tenang-tenang aja?” tanya Rico dg herannya. “Biarkan saja. Kita lihat apa yg akan terjadi selanjutnya?” ujar Dani. “Ok, terserah lu aja…” sahut Rico. Setelah mereka selesai jajan, lalu Iweth CS pun kembali ke kelas. Dani dan Rico pun mengikuti mereka. “Oh ya, ngomong-ngomong dia bakal suka gak ya sama aku?” ujar Iweth pada teman-temannya. “Ya tentu lah, Iweth gitu…” sahut teman-temannya. “Tuh denger, Dan. Gua kata juga apa? Dia suka sama si Dimas.” bisik Rico pada Dani sambil berjalan di belakang Iweth CS. “Tenang saja, lagipula dia belum tahu Dimas itu seperti apa.” sahut Dani dg nada pelan. “Ok!” sahut Rico. Saat mereka sdg asik ngobrol, tiba-tiba Iweth ditabrak oleh seseorang. Iweth pun langsung melabrak orang itu dg suara yg begitu nyaring, “Hey, kalau jalan itu lihat-lihat donk!!”. “Aduh, maaf ya. Kamu gak apa-apa kan?” ujar orang yg menabrak Iweth itu dg senyuman yg ramah. Saat Iweth menatap orang itu, ia kaget ternyata yg ada dihadapannya adalah orang yg begitu tampan. “Oh ya namamu siapa?” sambung orang itu. “Aduh, gawat! Lihat tuh Dan, dia bertemu ama Dimas.” ujar Rico pada Dani. Tapi Dani hanya diam dan melihat saja. “Namaku… Hmm… Kamu panggil saja aku Iweth ya.” jawab Iweth dg wajah ceria. “Oooh.. Kenalkan, namaku Dimas. Aku murid baru disini.” ujar orang itu, yg ternyata adalah Dimas. “Oh jadi kamu ya, yg dibilang-bilang sebagai pangeran kelas IPS itu?” ujar Iweth. “Oh begitukah?” kata Dimas seolah tidak percaya. “Eh, kami duluan ya. Kalian disini saja, ngobrol.” ucap salah satu temannya Iweth, dia bernama Santi. “Ya udah kalau gitu kalian pergi aja yg jauh. Kalau perlu ke luar negeri sana.” ujar Iweth pada teman-temannya. “Ah dasar kau ini, kalau udah ketemu cowok ganteng, gini jadinya.” ujar Santi bergurau. “Ayo Ric, kita juga. Kita kembali ke kelas.” ajak Dani pada Rico. “Ok!” terima Rico. Akhirnya Iweth dan Dimas pun ditinggal berdua dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Sementara, Dani dan Rico kembali ke kelas. Dani berjalan dg kepala tertekuk dan tangan kirinya dimasukan ke saku celana depan. “Kasihan bocah itu. Pasti dia patah hati lihat yg barusan.” gumam Rico dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dani pun masuk ke kelas dan sempat berpapasan dg Ririn di pintu kelas. Ririn kaget melihat raut wajah Dani. Ririn yg berniat pergi keluar pun, jadi tidak jadi keluar. Dia malah kembali kedalam dan menghampiri Dani yg sedang terduduk lesu di bangkunya. “Dan, kamu kenapa? Ada apa? Apa yg terjadi?” tanya Ririn dg wajah cemas. Tapi Dani tidak menjawab. Ririn mencoba lagi bertanya, tapi tetap saja tidak dijawa. “Hai, Rin. Bisa kita bicara.” ajak Rico. “Baiklah.” terima Ririn. Kemudian Rico pun mengajak Ririn ke depan kelas lalu menjelaskan semuanya pada Ririn tentang apa yg terjadi pada Dani. “Oh, jadi begitu ya.” ujar Ririn dg sedikit kecewa karena mendengar bahwa Dani mencintai Iweth. “Kenapa lu kelihatan kecewa begitu?” tanya Rico. “Hmm.. Sebenarnya.. Sebenarnya aku suka sama Dani. Aku jatuh cinta padanya, Ric.” jawab Ririn. “Apa? Lu suka sama Dani? Kenapa gak bilang dari dulu sih?” tanya Rico dg sedikit kaget. “Aah.. Aku malu..” jawab Ririn. Sementara itu, Iweth dan Dimas juga masih asik ngobrol. “Oh ya, malam ini kamu ada acara gak?” tanya Dimas. “Gak kok, kalau mau ngajak kencan silahkan! I’m free..” jawab Iweth. “Wah, kelihatannya kamu udah tahu tujuanku ya.” ujar Dimas. “Siapa dulu dong. Iweth!” ujar Iweth membanggakan dirinya. Kemudian mereka saling bertukar nomer HP dan lalu kembali kekelas masing-masing. Sekembalinya ke kelas, Iweth bersorak-sorak dg penuh kegirangan. “Yeah! Aku dapet nomer HPnya lho.” ujar Iweth memamerkan nomer Dimas pada teman-temannya. “Mana? Mana? Aku minta dong!” pinta teman-temannya. “Alah, minta. Usaha sendiri dong.” kata Iweth dg sombongnya. “Aah.. Pelit lu..” gerutu teman-temannya. Saat malam tiba, karena itu malam minggu, jadi di tempat-tempat gelap jadi ramai oleh pasangan muda-mudi yg di mabuk asmara. Iweth pun menunggu dg penuh kesabaran. Dia menunggu pangeran pujaan hatinya, yaitu Dimas. Sedangkan Dani yg sudah jatuh cinta pada Iweth sejak kelas 1, hanya bisa diam dirumah dan merenungi nasibnya. Tapi tiba-tiba, “Dan! Dani! Nih ada pacar kamu nyamperin.” teriak Ibunya dari ruang tamu. Dani pun tersentak dan terjatuh dari tempat tidurnya karena terburu-buru lari ke ruang tamu. “Aaaaa…!!!” teriak tamu itu sambil menutup matanya dg kedua tangannya. “Ya ampun, Dan. Kamu itu yg sopan dong.” ujar Ibunya Dani. “Emang ada apa?”tanya Dani. “Lihat ke bawah!” suruh Ibunya Dani. “Ya ampun! Aku lupa belum sempat pakai celana.” ujar Dani terkaget melihat bawahnya hanya memakai celana kolor. Lalu dia berlari kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu, Iweth pun mulai bosan menunggu Dimas. Lalu dia pun menelepon Dimas. Saat ditelepon, Dimas mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan. Tidak lama kemudian, munculah sebuah motor sejenis motor Kawasaki Ninja RR berwarna hijau. Dan ternyata itu adalah Dimas. “Iweth! Aku ada diluar.” teriak Dimas ke arah rumah yg cukup besar itu. “Hey, aku disini! Ngapain kamu teriak-teriak ke rumah orang.” sahut Iweth dari arah seberang rumah besar itu. “Ou, aku berteriak kerumah itu supaya memantul suaranya. Kan rumah itu besar, jadi pasti bisa memantulkan suara kan?” ujar Dimas. “Hmm.. Ngelesnya jago banget. Padahal bilang aja kalau kamu salah rumah. Huh!” kata Iweth dalam hatinya. “Kalau gitu ayo kita pergi sekarang!” ajak Dimas. “Ok, let’s go!” terima Iweth. Kemudian mereka pun pergi dg motor entah kemana. Kembali ke rumah Dani, disana Dani sdg ngobrol dg tamunya yg ternyata itu adalah Ririn. “Maaf ya soal yg tadi itu.” ujar Dani. “Gak apa-apa.” sahut Ririn dg wajah yg masih memerah karena gugup. “Kukira kamu itu cuma bercanda waktu katakan mau belajar bareng.” ujar Dani berbasa-basi. “Tidak, aku tidak bercanda. Buktinya aku ada disini.” jawab Ririn dg senyuman yg begitu manis. “Eh Dan, tawari minum dong. Masa pacar sendiri gak ditawari minum.” ujar Ibunya menggoda. “Ah Ibu, Ririn itu bukan pacarku. Dia hanya teman sekelasku saja.” sahut Dani. “Tapi menurut ibu kalian sangat serasi. Dan kalian juga lebih terlihat seperti pacaran daripada berteman.” goda Ibunya sambil tersenyum kecil. “Aduh, Ibu…” ujar Dani dg malu. Ririn yg mendengar itu hanya bisa tersenyum malu dg wajah yg merah. “Dani.. Kapan belajarnya?.. Katanya mau belajar..” ujar Ririn dg lirih karena malu. “Ya sekarang aja lah, takut nanti kamu kemaleman.” jawab Dani. Kemudian Ririn dan Dani pun mengeluarkan buku dan lalu belajar bersama. Sementara itu, Iweth dan Dimas sedang makan di sebuah cafe sambil ngobrol. Mereka mengobrol dg akrab sekali, tapi suara Iweth sangat nyaring dan dia mendominasi setiap kata dan ucapannya. Sampai-sampai Dimas pun tidak sempat bicara. “Hmm.. Ni cewek cerewet banget. Aku sampai gak kebagean ngomong.” gumam Dimas dalam hatinya sambil menopang dagu. Tidak lama kemudian, HP Dimas berbunyi. Dan Dimas pun meminta ijin ke Iweth untuk menelpon dulu. Lalu setelah usai, Dimas pun buru-buru pamit, “Eh weth, maaf aku harus pulang. Ada urusan keluarga. Dan maaf juga aku gak bisa nganterin kamu, soalnya aku harus buru-buru. Tenang soal pesanan sudah aku bayar tadi.” ujar Dimas memohon. “Ok! Gak apa-apa kok. Aku pulang sendiri aja.” kata Iweth menerima. Lalu Dimas pun buru-buru pergi dg motornya, dan Iweth pun pulang sendirian dan jalan kaki karena memang cafe itu tidak jauh dari rumahnya. Lalu, di rumah Dani, Dani dan Ririn sedang asik belajar. Walaupun saat di sekolah Dani begitu tertutup, tapi saat dirumah Dani sangat terbuka. Dia juga adalah anak yg begitu smart dan jenius. Tapi saat sedang asik-asiknya Ririn belajar dari Dani, tiba-tiba ibunya Dani memanggil Dani dari arah dapur. “Dan! Dani!” saur ibunya. “Kulan!” sahut Dani. “Kesini dulu!” pinta ibunya. “Baik, bu!” sahut Dani sambil berlari menuju dapur. Tidak berapa lama, Dani kembali dan meminta ijin pada Ririn, “Rin, aku kedepan dulu ya, beli pulsa buat ibuku.”. “Ok!” sahut Ririn. Kemudian Dani pun keluar dari rumahnya dan lari ke konter pulsa terdekat yg tepatnya ada di seberang jalan raya. Dan jalan raya tsb jaraknya sekitar 200 m dari rumahnya. Saat selesai membeli pulsa, dan menghitung kembali uang kembalian, dia melihat Iweth yg menyebrang jalan. Saat itu tiba-tiba ada mobil colt diesel yg berkecepatan tinggi menuju ke arah Iweth. Dani pun buru-buru memasukan uang itu kedalam sakunya dan berlari mencoba menyelamatkan Iweth. Dani pun menangkap Iweth dan menjatuhkan dirinya dibawah Iweth sebagai bantalan supaya tubuh Iweth tidak terluka. Dani membiarkan tubuhnya yg tergores tanah berbatu kerikil, dan merelakan tangannya terluka. “Euh.. Aduh..” rintih Iweth kesakitan karena jatuh. Kemudian Dani pun bangkit dan menjauh dari Iweth. “Hey, mau kemana?” cegah Iweth. Tapi Dani tetap saja pergi menjauhi Iweth. “Itu tadi siapa ya? Aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Uuh…kenapa dia pergi begitu?” gumam Iweth bertanya-tanya dalam hatinya. Sementara itu, Dani pulang ke rumah sambil memegangi tangan kanannya yg berdarah. Ketika sampai dirumah, Ririn kaget melihat tangan Dani yg berlumuran darah. “Dani, tanganmu… Apa yg barusan terjadi? Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Ririn dg gelisah. “Aku baik-baik saja.” jawab Dani dg pelan sekali. “Dan, apa kamu punya kotak P3K?” tanya Ririn. “Disana. Di dalam lemari.” jawab Dani. “Dimana?” tanya Ririn lagi karena tak menemukan apa yg ia cari. “Di laci. Sebelah kananmu.” jawab Dani lagi sambil menunjuk ke arah laci lemari itu. Setelah menemukan kotak P3K itu, Ririn pun lalu membersihkan luka Dani lalu membalutnya dg perban. “Tanganmu itu kenapa?” tanya ibunya Dani sambil meletakan minuman dan makanan ringan di meja tamu. “Tidak apa-apa. Tadi hanya terpeleset di jalan.” jawab Dani, mencari alasan. “Hmm.. Tapi kelihatannya ibu tak perlu khawatir lagi karena sudah ada gadis yg merawatmu.” goda ibunya. “Ah, ibu ini…” sahut Dani dg sedikit malu. “Selesai..” kata Ririn usai membalut seluruh luka Dani. Lalu mereka pun melanjutkan belajar mereka sampai pukul 9 malam. Dan Ririn pun pulang. Keesokan harinya, saat di sekolah Iweth menceritakan semua yg terjadi pada saat malam minggu kemarin pada teman-temannya. Iweth begitu semangat menbicarakan semua itu. Berbeda dg Dani yg hanya diam seharian saat ditanya oleh teman-temannya tentang apa yg terjadi pada tangan kanannya. “Eh Dan, tangan lu kenapa?” tanya Rico, teman baik Dani. “Aku tak mau membahasnya.” jawab Dani dg tenang. Lalu Dani pun berlalu ke kantin. “Hmm.. Dia kenapa?” tanya Ririn pada Rico. “Tau tuh, dia kayaknya ngambek saat ku tanya soal tangannya.” jawab Rico dg wajah jengkel. “Oh ya, gimana kencan kalian?” sambung Rico sambil bertanya. “Gak. Kami gak kencan kok. Cuma belajar bareng doank.” jawab Ririn dg malu-malu. “Wah, pasti sambil mesra-mesraan kan?” goda Rico. “Ih kamu ya. Gak kok! Kami belajarnya serius.” jawab Ririn semakin malu. Sementara itu, Dani sedang membeli beberapa makanan di kantin. Dan saat itu pun, Iweth lewat di belakangnya. Iweth kaget melihat tangan kanan Dani di balut perban. Dia jadi ingat kejadian waktu itu. “Hmm.. Tangan kanannya di perban. Apakah dia orang yg telah menyelematkanku malam itu. Tidak mungkin! Dia kan anaknya culun, pendiam, dan pengecut. Mana mungkin dia senekat itu. Tapi, orang yg malam itu menyelematkanku juga terluka di tangan kanannya. Atau mungkin saja dia hanya lukanya aja yg sama. Tapi… Tapi… Aah… Lebih baik aku tanyakan saja biar jelas.” gumam Iweth dalam hatinya dan memutuskan untuk menanyakannya pada Dani. “Hey Dan, tangan lu kenapa?…” tanya Iweth sambil menahan Dani yg mau pergi. Dani kaget melihat siapa orang di hadapannya itu. Dani pun berusaha menghindar, tapi Iweth menangkap tangan kirinya dan mencengkeramnya dg kuat. Sehingga Dani tak bisa kemana-kemana. “Eh lu mau kemana? Jawab dulu, tangan lu itu kenapa harus di perban?” tanya Iweth. Tapi Dani malah menatap tajam mata Iweth yg juga sedikit kesal dan berkata, “I have no comment…”. Lalu Dani menghentakan tangan kirinya sehingga cengkraman tangan Iweth terlepas dan dia pun pergi. “Dasar Mr. No Comment. Jawabnya itu-itu mulu. Gak ada kata lain apa? Mr. Ius banget sih.” gerutu Iweth dg wajah yg begitu kesal. Saat itu, Dimas mencoba mendekati Ririn di kelas. Dia mulai berjalan dan duduk di kursi sebelah kursi Ririn. “Hai cewek, lagi ngapain nih?” ujar Dimas memulai teknik mautnya. Tapi kelihatannya Ririn sudah tahu apa yg akan terjadi. Jadi dia memberi penangkalnya. “Maaf, aku tak punya waktu untuk pembicaraan ini.” tangkis Ririn. Dimas pun agak jengkel karena hal itu. Tapi dia tak mau menunjukan perasaannya. Akhirnya dia pun pergi. Beberapa lama kemudian, Dani pun datang. Dia berpapasan dg Dimas di pintu kelas. Mereka berdua pun saling menatap saat itu, sambil tetap berjalan. Dani merasakan sesuatu yg aneh saat menatap Dimas. Seperti ada sesuatu hal yg disembunyikan olehnya. Satu bulan telah berlalu, dan akhirnya Dimas dan Iweth pun berpacaran. Sementara Dani hanya bisa melihat dan memberikan bantuan kecil sesekali pada Iweth secara sembunyi-sembunyi. Saat pulang sekolah, Dani yg pulang bersama Ririn, mereka melihat Dimas ada di sebuah gang dg sekumpulan orang. “Eh Dimas, ada apa lu manggil gua kemari?” tanya orang bertubuh besar dan berwajah sangar itu. “Ouw, tenang. Aku punya tugas untuk kalian. Apa kalian mau?” tanya Dimas dg tenang. “Tentu kami mau, tuan.” jawab orang yg bertubuh kekar itu, mungkin dia pimpinan orang-orang itu. “Rin, ayo kita cepat pergi dari sini. Disini berbahaya!” bisik Dani. Lalu Dani dan Ririn pun menjauh dari tempat itu. Saat di sekolah, Dani terus memperhatikan setiap gerak-gerik Dimas. Saat di WC, Dani mendengar pembicaraan seseorang di luar WC. Dan itu ternyata adalah, Dimas. “Hmm.. Menurutmu si Iweth ini bakal kena gak?” tanya Dimas pada temannya. “Mungkin. Di coba saja.” jawab temannya itu. “Kelihatannya korbanmu akan tambah 1 lagi ya.” ujar temannya yg satu lagi. “So pasti…” sahut Dimas. “Kita buat dia benar-benar takkan melupakan hal ini. Kita beri dia pengalaman yg takkan terlupakan.” sambung Dimas. “Ok, boss!” sahut ke 2 temannya itu. “Hmm.. Kelihatannya aku harus bertemu Iweth. Mungkin dia takkan mau percaya pada kata-kataku. Tapi aku akan mencoba katakan. Ada saatnya diam itu emas, tapi akan ada saatnya pula dimana bicara itu berlian. Aku harus katakan ini padanya.” gumam Dani berusaha meyakinkan dirinya. Setelah keluar dari WC, dia pun menemui Iweth yg sedang sendirian di kelas. Dia mulai berjalan mendekat ke Iweth. “Eehh… Dani, ada apa?” tanya Iweth dg ramah. “Aku ingin katakan sesuatu.” jawab Dani. Lalu Dani menjelaskan semuanya tentang Dimas, dan berkata supaya Iweth berhati-hati dg Dimas. Iweth tidak percaya pada kata-kata Dani dan tidak mengindahkannya sama sekali. Dani pun di pergi. Dalam hatinya dia berpikir bahwa yg penting dia sudah mencoba untuk memberitahu Iweth. Saat pulang sekolah, Iweth pun diajak pulang bareng oleh Dimas naik motor kerennya. “Rico, bisa antar aku ke suatu tempat?” tanya Dani saat melihat Iweth pergi dg Dimas. “Ok! Kemana?” sahut Rico. “Sudah, ikuti saja petunjuk dariku” jawab Dani. “Ok!” terima Rico. Kemudian mereka pun pergi dg motornya Rico. Sementara itu, Iweth di ajak jalan-jalan dulu keliling-keliling oleh Dimas. Terlihat awan hitam sudah berkumpul, bersiap menjatuhkan titik air yg dibawanya. Dan hujan pun turun, sehingga Dimas dan Iweth terpaksa mencari tempat berteduh. Mereka pun berhenti di sebuah rumah kosong di daerah perkebunan yg lumayan jauh dari kampung. Sementara itu, Dani dan Rico berteduh di warung kopi dekat perkebunan tersebut. “Hey, aku akan memeriksa sesuatu.” ujar Dani. “Tenang dulu. Kita ngopi dulu ya. Kan lagi ujan gini.” sahut Rico menahan Dani. “Bu kopinya donk.” pinta Rico pada penjaga warung itu. “Berapa?” tanya penjaga warung itu. “Eh Dan, lu mau gak?” tanya Rico sambil menoleh ke arah Dani. “Ya ampun, ternyata dia dah pergi. Hmm.. Dasar Dani. Kalau pergi gak bilang-bilang.” ujar Rico saat tahu bahwa Dani ternyata sudah lenyap. Sementara itu, Dimas dan Iweth sedang asyik ngobrol. Walaupun kelihatannya Iweth lebih menguasai obrolan itu, dan Dimas gak kebagian ngomong. “Sekarang saat yg tepat sekali. Sesuai rencanaku, ini akan segera dimulai.” ujar Dimas di dalam hatinya. Dimas pun mulai menjalankan rencananya. Dia mulai merayu-rayu Iweth supaya Iweth mau menuruti keinginannya. Dan Dimas pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Iweth. Dan Iweth pun mulai pasrah. Tapi tiba-tiba dia ingat pada perkataan Dani tentang Dimas. Apalagi saat tangan Dimas mulai nakal menjelajah dirinya. Iweth pun memberi penolakan. Dia pun bangkit dan menjauhi Dimas. “Dimas, jangan! Kita belum boleh lakukan itu. Aku gak mau.” ujar Iweth. “Tenang aja, gak bakal ada yg tahu kok.” jawab Dimas dg tenang. “Pokoknya aku gak mau. Kukira tadinya kamu orang yg baik-baik, ternyata nggak. Aku bener-bener kecewa.” sentak Iweth. “Ouw, jangan gitu donk sayang.” bujuk Dimas. “Pokoknya kita putus!!!” bentak Iweth. “Ouw, begitukah? Kau tidak tahu aku dipindahkan karena apa. Dan kau tidak tahu kau sedang bicara dg siapa.” ujar Dimas mulai emosi. Kemudian dia memanggil preman-premannya dan mereka pun keluar dari rumah kosong itu. Ternyata semua ini telah direncanakan oleh Dimas. Iweth yg merasa terpojok pun meminta tolong. Tapi sayang, suaranya takkan terdengar karena derasnya hujan. Iweth pun lari dan menembus lebatnya hujan. Dan mereka pun mengejarnya. Iweth berusaha lari sekuat tenaga, tapi akhirnya jatuh terpeleset licinnya tanah becek. Iweth pun pasrah dan menutup matanya. Tapi tiba-tiba mereka berjatuhan. Saat membuka matanya, dia kaget, ternyata yg ada di hadapannya adalah Dani. Dia mampu mengalahkan mereka. Dan yg tersisa tinggal 2 orang dan Dimas saja. Tapi ternyata yg 2 orang tadi membawa senjata. Dani pun mati-matian melawan mereka berdua. Walau tubuhnya sampai luka-luka, tapi akhirnya mereka kalah juga. Dimas pun lari menuju motornya. Dani berusaha mengejarnya, tapi dia malah ditabrak oleh Dimas dg motornya. “Ha..ha.. Rasakan itu, pecundang.” ejek Dimas. Dimas pun melaju meninggalkan Dani dan Iweth. Tapi didepannya juga ada yg melaju dan memukulnya hingga jatuh kebelakang. “Maaf ya. Tapi pecundang itu adalah temanku.” ujar orang yg memukul Dimas itu, yg ternyata itu adalah Rico. Sementara itu, Dani berusaha bangkit dan menghampiri Iweth yg terduduk di tanah yg becek. “Kenapa kamu mau melakukan ini semua?” tanya Iweth. Dani pun tersenyum dan mengatakannya. “Aku lakukan ini semua untukmu, Iweth. Walaupun tubuhku harus hancur. Walaupun ragaku harus binasa. Aku rela melakukan semua itu agar kau bahagia. Karena aku sangat mencintaimu.” jelas Dani yg kemudian jatuh di pangkuan Iweth. Terlihat darah dari lukanya terus mengalir. Lalu Dani pun dibawa ke rumah sakit, sementara itu Dimas dibawa ke kantor polisi. Dan akhirnya Dani dan Iweth pun berpacaran. Mereka sangat cocok sekali. Karena kekurangan Dani yg pendiam bisa ditutupi dg kelebihan Iweth dalam berbicara. Dan mereka pun bahagia.
Taaaaaaaammmmmmmmmaaaaaaaatt……………..
Karya: Aleka Rizki Aryadi
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.