Pasopati: The Beginning
Saat cinta telah didustai. Saat hati tak mau lagi percayai. Saat-saat seseorang tersesat di kegelapan. Dan saat kesepian yg mendalam membawa dendam dan kebencian. Saat itulah dia takkan mau lagi berbicara apapun. Hanya akan terdiam dan sedingin kutub yg membeku. Ada sebuah cerita tentang orang-orang yg jatuh bangun dalam kehidupan cinta. Kisah ini bermula pada awal hari sekolah di SMAN 1. Seperti biasa, 6 siswa primadona datang bersama-sama untuk melihat kelas mereka yg baru. Mereka berjajar dan berjalan dengan pesona mereka masing-masing. Mulai dari sebelah kiri adalah Andri, dia punya ciri khas jaketnya dan rambutnya yg cepak. Dia tak pernah putus asa, maju terus pantang mundur. Dia juga sangat ahli dalam bidang mekanik dan permesinan. Apalagi untuk masalah motor. Dia juga handal dalam mengendarai motor. Diantara para pembalap jalanan, dia lah yg paling ditakuti. Dan di sebelah kanannya ada Anwar, tapi sering di panggil War. Karena dia itu punya sifat yg keras dan handal dalam bertarung atau berkelahi. Punya keberanian tinggi dan dengan gaya khasnya yg selalu serius, dia di hormati oleh semua orang. Tapi walau begitu, dia tidak sombong. Dia tetap saja memberi respect pada orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya tidak terlalu besar, tapi cukup berisi. Gerakannya sangat cepat. Bahkan hampir tak terlihat oleh mata. Dan di sebelahnya lagi ada Reza, yg punya julukan "the guardian". Selain karena kuat, tapi juga karena kejelian dan ketelitiannya. Dia juga tidak kalah hebat dari War. Tapi dia orangnya humoris, maka dari itu dia juga dijuluki "the joker". Dia punya fisik yg bagus, tinggi, rambutnya pendek dan giginya memakai kawat gigi. Lalu di sebelahnya lagi ada Radith. Dia tinggi dengan gaya rambutnya yg agak berdiri. Dia ahli dalam menyelinap, mengendap-ngendap. Dan orangnya sangat amat jahil, tapi anehnya tak pernah ketahuan. Dan di sebelahnya lagi ada Fikri yg punya julukan "fix de angelo". Dia adalah orang yg paling romantis dan pintar merayu perempuan. Dia pintar bicara dan memutar kata. Kalau soal debat, sudah pasti dia yg menang. Lalu disebelahnya lagi ada Eka. Dia punya wajah yg paling tampan. Tapi dia begitu dingin pada orang-orang. Dia suka memakai syal biru muda walau seperti apapun cuacanya. Dia jenius, dan ahli dalam menganalisis. Dia juga teliti dan jeli pada apa yg sedang dia analisa itu. Dan diantara beberapa temannya, dia lah yg masih jomblo. Dia punya julukan "the hunter". Dia punya mata yg sayu, seolah malas melihat orang-orang disekitarnya. Saat mereka berjalan bersama, waktu seolah berhenti. Dan seluruh perhatian tertuju pada mereka semua. Mereka adalah "Pasopati". "Hey, Eka!" ujar Andri. "Apa?" sahut Eka. "Sapa lah teman-temanmu. Cari kenalan baru. Jangan terlalu dingin seperti itu." kata Andri. "Sudahlah.. Jangan suruh aku lakukan itu. Kau tahu sendiri kan aku ini orangnya seperti apa." jawab Eka sambil menatap tajam pada Andri. Andri pun terdiam sejenak dan lalu berkata, "Baiklah, terserah kau saja, Eka." sambil berlalu pergi kedalam kelas mendahului semua temannya. "Eka, kau kenapa berkata seperti itu sih? Kita itu harus menjaga hubungan persahabatan kita. Janganlah memulai perang saudara. Bukankah kau sendiri yg bilang, 'persahabatan itu adalah segalanya bagiku. Aku lebih baik mati, daripada melihat sahabatku mati duluan. Dan aku lebih rela lebur daripada melihat persahabatanku hancur'. Begitu kan?" ujar Fix. "Tapi itu dulu. Aku yg dulu sudah lama mati. Sudah lama sekali." sahut Eka sambil berlalu pergi entah kemana. "Eka, ada apa sebenarnya dengan dirimu?" gumam Fix. Sementara itu Eka terus saja melangkah sambil menggerutu dalam hatinya, "Kenapa mereka tak mau mengerti? Apa mereka belum mengerti juga? Semua yg telah aku alami adalah hal yg menyakitkan hatiku. Aku yg telah dibuang dan dicampakan oleh semua orang.". Dia pun pergi ke WC dan membasuh kepalanya dengan air. "Kenapa? Kenapa harus terjadi padaku?" gumamnya. Sementara itu, di dalam kelas, Andri, Reza, Radith, War, dan Fix sedang berdiskusi tentang masalah Eka. Mereka mencari cara bagaimana untuk membuat Eka menjadi Eka yg dulu. "Kita harus merubah dia jadi dia yg dulu." ujar Fix. "Yeps, karena aku tidak suka dia yg sekarang. Dia seperti tak menganggap kita. Padahal kita adalah sahabatnya." jawab Andri.
"Hmm.. Bagaimana ya?.. Menurutmu bagaimana, Radith." tanya Fix. "Gimana kalau kita cariin dia cewek?" jawab Radith. "Hey, yg kita bicarakan ini tentang persahabatan kita, bukan soal cewek." tentang Andri. "Dri, lu udah lupa ya penyebab Eka jadi kayak gini tuh karena apa?" jawab Radith. "Hmm.. Benar juga sih. Aku masih ingat kejadian waktu itu." ujar Andri, flashback. Mereka semua pun langsung terdiam saat mengingat tragedi di masa lalu itu. Sesuatu yg membuat Eka berubah 180 derajat. "Tapi, yg jadi masalah, kita belum menemukan perempuan yg cocok untuk Eka. Dan belum tentu juga Eka nya mau pada perempuan itu." kata War. "Ya, saat ini kita harus menyeleksi semua siswi yg ada di sekolah ini. Misalnya dengan mengadakan audisi." ujar Andri. "Tapi itu akan membutuhkan waktu yg lama dan biaya yg besar." tentang Fix. "Hmm.. Aku punya ide lain." tukas Reza. "Apaan tuh?" tanya Radith. "Kita jodohkan saja Eka dengan dia." jawab Reza sambil nunjuk seorang siswi. "Hmm.. Dia siapa, za?.." tanya Fix. "Gak tahu. Aku juga gak kenal sih. He..he..he.." jawab Reza sambil tertawa bodoh. "Yah....." ucap Andri, War, Radith, dan Fix sambil terjungkir dari kursi mereka. "Ha..ha..ha..ha.." tawaan Reza. "Hmm.. Kalau gitu kita cari tahu aja." ujar Fix. "Okelah kalau begitu." terima Reza. Lalu Andri dan Fix pun pergi dan mencari Eka. Sementara Radith, War dan Reza mengumpulkan info tentang gadis itu. Lalu Andri dan Fix pun menemukan Eka di depan perpustakaan. "Hey, Eka. Disini kau rupanya." sapa Fix. "Lagi ngapain nih?" tanya Andri. "That's not your bussiness." jawab Eka singkat saja. "Hmm.. Ayolah.. Kita ke kantin aja yuk! Kita jajan.." ajak Andri. "No, thanks.." jawab Eka. "Hmm.. Ya udah. Aku duluan ke kelas ya." kata Fix. "Ok! That's up to you." sahut Eka. Lalu Andri, Fix, War, Reza, dan Radith pun berkumpul lagi. "Bagaimana? Apa kalian sudah dapat info tentang gadis itu?" tanya Fix. "Sudah. Katanya sih dia adalah murid baru. Dia pindahan dari Jakarta. Dan beruntungnya, dia tuh di kelas kita." jelas Reza. "Ya, dia punya nama adalah Siska." sambung Radith. "Benar sekali. Dia juga orangnya ramah, murah senyum, dan mudah akrab." tambah War. "Oh ya, kalian sendiri udah bisa nanganin Eka belum?" tanya Reza. "Hmm.. Belum. Dia kelihatannya masih ngambek." ujar Fix. "Ouw.. Begitu rupanya.." ucap War. Lalu War pun pergi meninggalkan mereka. "Ada apa dengan dia?" tanya Andri. "Aku tidak tahu. Tapi pastinya ada sesuatu yg akan dia lakukan." jawab Fix. "Sesuatu apa, Fix? Apa perlu aku ikuti?" kata Reza. "Tidak. Mungkin bukan apa-apa. Lebih baik kita lanjutkan debat ini saja." jawab Fix dengan tenang. "Walau aku khawatir, tapi semoga saja tidak terjadi apa-apa." gumam Fix. Sementara itu, War ternyata menghampiri Eka yg sedang duduk di depan perpustakaan memandang langit. "Eka!" panggil War. Mendengar panggilan War yg amat keras itu, Eka pun bangkit dari duduknya dan berbalik ke arah War. "Kemari kau!" bentak War. "War.." ucap Eka, kaget melihat mimik wajah War yg kelihatannya sedang marah. Kemudian War pun mendekati Eka, lalu menjambak dan menarik baju Eka. Dan Eka pun di bawa ke belakang. Saat War marah, takkan ada yg bisa menghalanginya. "Eka, ada apa dengan dirimu sebenarnya? Aku sudah lama tidak marah. Jika aku marah, kau tahu sendiri kan adatku? Hah.." ujar War. Tapi Eka hanya bisa diam, dan terlihat keringat mengucur di dahinya. "Kenapa kau diam saja? Apa kau takut? Apa itu seorang Eka yg paling aku hormati selama ini? Aku benar-benar kecewa. Kau jadi lemah seperti ini. Aku tidak percaya kalau kau selemah ini. Aku yakin kau bisa lebih. Hanya saja, kau tak mau percaya pada dirimu dan pada sahabatmu." ujar War sambil mengangkat tubuh Eka yg disandarkan di dinding belakang. "Hah.. Sungguh mengecewakan.." sambung War sambil membanting tubuh Eka ke belakang. Eka pun jatuh dan terbatuk-batuk, karena saat tubuhnya diangkat, lehernya lah yg dicengkeram. Lalu War pun pergi meninggalkan Eka yg belum bangkit juga. Saat War kembali ke kelas, ternyata Pasopati yg lain sudah selesai dengan debat mereka dan menunggu War. "War, dari mana saja kau?" tanya Andri. "Bukan urusanmu, Dri." jawab War. "Kuharap kamu tidak bertengkar dengan Eka." ujar Fix. "Sudah kubilang. Ini bukanlah urusan kalian." sahut War dengan nada yg sedikit membentak. Tiba-tiba datanglah Eka dengan baju yg kotor akibat dijatuhkan oleh War barusan. "Bajunya kotor." ucap Fix dalam hatinya. "Jangan-jangan.." gumam Andri. "Ada guru.. Ada guru.." teriak salah satu siswa memberi tahu. Dan hal itu membuat para siswa yg lain membereskan duduk mereka. Dan datanglah guru sambil membawa siswi baru itu. "Wah..." ucap para laki-laki saat melihat siswi yg amat cantik itu. "Ibu membawa murid pindahan dari Jakarta. Namanya Siska. Ibu harap kalian mau berteman dengannya." ujar guru fisika itu. "Hai.." sapa Siska dengan senyuman yg begitu manis. "Benar-benar cantik.." ujar Fix dengan mata yang berubah jadi 'love'. "Siska, kau duduk disana!" ujar guru fisika itu sambil menunjuk ke bangku yg paling belakang. Kemudian Siska pergi menuju bangkunya. Saat ia duduk dan menoleh ke sampingnya, ia pun kaget. Ternyata mejanya tetanggaan dengan seorang pangeran. Tepatnya adalah Eka. Hal itu membuat wajah Siska memerah. Siska pun berbalik dan lalu kenalan dengan teman sebangkunya yg juga perempuan itu. "Hai.. Kenalin, namaku Siska.." sapa Siska dengan wajah yg manis dan ramah sambil menyodorkan tangannya. "Aku Vina." jawab Vina sambil berjabatan tangan. "Oh ya, dia tuh siapa sih?" tanya Siska sambil nunjuk Eka. "Hmm.. Dia tuh Eka. Orang yg paling dulunya paling disukai semua perempuan." jawab Vina. "Dulunya?" ujar Siska, heran. "Iya. Dulu sih Eka itu sangat mempesona. Tapi sekarang dia amat dingin pada orang-orang disekitarnya." jawab Vina. "Hey kalian! Jangan ngobrol!" bentak guru fisika itu, yg tepatnya bernama bu Nur. "Aaah, dasar perempuan." ujar Eka dengan nada pelan. Saat istirahat tiba, para Pasopati keluar, kecuali Eka. Dia memilih di dalam kelas untuk menyendiri. Lalu Siska pun menyapa dan menghampirinya. "Hai pangeran, boleh aku duduk disampingmu?" tanya Siska dengan senyuman manisnya. "Silahkan saja. Lagipula aku tak terlalu peduli pada tempat duduk." ujar Eka sambil pindah ke kanan karena dia duduk di sebelah kiri. Lalu Siska pun duduk di sebelahnya. "Hmm.. Kenapa kamu diem aja disini? Kok gak bareng ama temen-temen kamu?" tanya Siska dengan ramah. "Aku lagi gak mood buat keluar." jawab Eka singkat saja. "Ooohh.. Mau aku temenin gak?" tanya Siska lagi. "Hey..hey.. Coba lihat, ini juga kamu lagi nemenin aku kan." ujar Eka dengan tatapan malasnya. "Eh iya ya. He..he.." kata Siska dengan wajah memerah dia pun tertawa. "Udah ah, aku mau pergi aja." ujar Eka sambil bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi. "Pangeran.." cegah Siska. Tapi Eka tetap saja pergi dan terus melangkah. Tidak berapa lama setelah Eka pergi, para Pasopati yg lain pun datang dan menghampiri Siska. "Kamu Siska kan?" tanya Andri. "Ya. Kalian ini para Pasopati temannya Pangeranku kan?" jawab Siska sambil bertanya balik. "Pangeranmu?" ujar Reza bertanya-tanya. "Maaf, maksudku itu Eka." jelas Siska. "Ya, kami memang temannya. Terus kenapa tadi kamu panggil dia dengan 'pangeranku'?" tanya Andri. "Hmm.." lenguh Siska dengan wajah yg memerah. "Ciiieeee..." sorak para Pasopati. Hal itu pun malah membuat wajah Siska semakin memerah karena malu. "Eeuuhh.. Apa aku boleh minta bantuan kalian?" tanya Siska. "Tentu saja boleh. Kami akan membantumu kok buat deketin Eka." jawab Reza. Mendengar hal itu Siska pun tersenyum tersipu malu. Lalu para Pasopati pun pergi mencari Eka. Lalu para Pasopati girl datang menghampiri Siska. Pasopati girls adalah para pacar dari Pasopati boys, kecuali Eka. "Hai.. Andri udah cerita. Katanya kamu suka ya ama Eka." ujar Liez, pacar Andri. "Kami akan bantu kamu. Biar Eka suka ama kamu, kami akan mendandanimu. Kami tahu benar Eka suka perempuan yg seperti apa. Karena dulu yg mendandani mantan pacarnya juga kami." ujar Sarah, pacarnya Reza menawarkan bantuan. "Ya, terima kasih ya. Aku lebih suka tampil sederhana. Aku ingin jadi diriku sendiri aja." ujar Siska. "Cocok. Berarti kamu emang pantas buat Eka." ujar Sarah. "Cocok. Cocok apanya?" tanya Siska. "Hmm.. Baiklah. Akan kami ceritakan masa lalunya Eka." ujar Liez. "Masa lalu? Emang ada apa dengan masa lalunya?" tanya Siska lagi. "Dulu, Eka adalah orang yg bersemangat dan kuat bagai api yg membara. Dia juga humoris dan romantis. Selalu maju ke depan dan tak kenal menyerah. Dia selalu memberi warna di hidup orang-orang di sekitarnya, sampai tragedi itu terjadi." jelas Liez. "Tragedi? Tragedi apa?" tanya Siska, penasaran. "Tragedi dimana Eka harus hancur hatinya, musnah perasaannya dan hilang kepercayaannya. Tepatnya dia sakit hati karena telah di khianati oleh perempuan yg paling ia cintai" sambung Sarah. "Padahal Eka sudah mengorbankan segalanya untuk perempuan itu. Tapi ternyata perempuan itu membohonginya." tambah Liez. "Kami takkan membiarkan satupun perempuan menyakiti Eka lagi seperti yg terjadi di masa lalu." ujar Dini, pacar War sambil bersender di ambang pintu. Sementara itu, para Pasopati boys mencari-cari Eka ke seluruh bagian sekolah tapi tidak ketemu juga. Akhirnya mereka berkumpul di kantin lagi sambil beli minuman, karena mereka kecapean keliling sekolah. "Ketemu?" tanya Andri pada yg lainnya sambil ngos-ngosan. "Gak." jawab Radith. "Aku juga tidak menemukannya di manapun." jawab Fix. "Begitu pula denganku." jawab Reza. "Oh begitu ya. Hmm.. Oh ya, dimana War? Kok dia belum kembali juga?" tanya Andri. "Lu udah ngomong kalau kita ngumpul disini lagi kan?" tanya Radith. "Sudah. Tapi kenapa belum kembali ya? Hmm.." jawab Andri sambil berpikir. "Jangan-jangan.." ujar Fix. Disaat yg sama, Eka sedang bersandar di dinding depan perpustakaan. "War, mau apa kau kemari?" tanya Eka yg ternyata benar War sedang berada di depannya. "Aku ingin kau ikut denganku." jawab War. "Kalau aku menolak?" tanya Eka. "Terpaksa akan ku pakai caraku." jawab War. "Baiklah, kita pakai caramu saja." ujar Eka. "Ooh.. Begitu. Baiklah..!!" bentak War. "Jika itu maumu!!!" bentak War lagi sambil berlari ke arah Eka dan berusaha untuk memukulnya. Tiba-tiba, "Hentikan!!!" suara teriakan itu pun menghentikan langkah War. Ternyata itu Siska. Lalu para Pasopati girls pun datang menghampiri mereka. "Hey, War. Hentikan. Sudah dulu sampai disini." suruh Dini. "Baiklah." terima War. "Hey, apa kami terlambat?" tanya Andri yg datang bersama Pasopati boys yg lainnya. "Kalian lelet banget sih. Tadi kalian kemana aja?" tanya Liez pada Andri dan yg lainnya. "Maaf..maaf.. Tadi kami ke kantin dulu. Soalnya kami cape, jadi beli es dulu." jawab Andri. "Pangeranku." sapa Siska, malu-malu. Tapi Eka tidak menjawab, hanya melirik dan menatap Siska dengan tatapan tajam. "Pangeranku, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Siska. "Hhh.." ucap Eka sambil melangkah pergi meninggalkannya. "Eka, tunggu.. Jangan pergi.." cegah Siska sambil berlalu menyusul Eka. "Hmm.. Jadi kalian udah menguji nya? Gimana hasilnya?" tanya Reza pada Pasopati girls. "100% lulus, sayang." jawab Sarah. "Wah.. Bagus kalau begitu." ujar Fix. Sejak saat itu, Siska selalu berusaha mendekati Eka dan berusaha menunjukan kepeduliannya pada Eka. "Hmm.. Sebuah diary. Jadi dia menulis diary ya. Menarik.." ujar Sarah, pelan saat melihat Siska menulis di diary nya. "Apa?" tanya Siska. "Gak ada apa-apa kok." jawab Sarah sambil tersenyum. Setiap kejadian di setiap harinya, Siska tuliskan dalam diary nya itu. Walau ditolak beberapa kalipun oleh Eka, anehnya Siska tetap saja tidak menyerah. Suatu saat, saat Eka sedang sendirian di dalam kelas, Siska menghampirinya. "Pangeranku, kamu kenapa sih menyendiri terus?" tanya Siska. "Terserah aku kan. Jadi, kamu jangan terlalu ikut campur." jawab Eka, jutek. "Aku temenin ya.." tawar Siska. "Sudahlah, kenapa harus repot-repot menemaniku? Pergi saja bersama teman-temanmu yg lain." usir Eka. "Aku gak mau kalau harus senang-senang sedangkan kamu murung seperti ini. Aku tahu kamu itu sebenarnya kesepian. Tapi kamu berpura-pura kuat dengan tidak menunjukan kesedihanmu. Kamu ingin melupakan rasa sakitmu dengan menjauhi semua orang disekitarmu dan menyendiri seperti ini. Tapi itu salah. Seharusnya kamu jangan memikul beban ini sendirian. Kamu harus berbagi. Itulah gunanya teman kan? Pangeranku, harus kamu tahu, aku tuh cinta ama kamu. Aku sayang banget ama kamu. Aku tak sanggup jika melihat orang yg kusayangi dan kucintai menderita. Aku cinta kamu, pangeranku. Aku yakin kamu lah malaikat yg dikirim dari surga untuk mencariku dan mengambil hatiku." jelas Siska dengan mata berkaca-kaca karena akan menangis. "Sudah! Sudah cukup! Aku tak mau dengar semua kebohongan ini lagi. Ini sangat menyakitkan bagiku. Sebaiknya kau pergi saja, Siska! Jangan pernah dekati aku lagi!" bentak Eka mengusir Siska sambil bangkit dari duduknya. Hal itu pun membuat Siska menangis dan akhirnya berlari keluar. Eka pun duduk lagi, sambil memegang dada kirinya dan dengan wajah seperti menahan sakit dia pun berkata, "Sial...". Siska yg berlari keluar kemudian di hentikan oleh Andri dan Liez yg kebetulan lewat. "Siska, kamu kenapa nangis?" tanya Liez sambil berusaha menenangkan Siska. "Sudah. Lebih baik duduk dulu disini dan ceritakan ada apa?" ujar Andri. "Eka, dia membentakku dan mengusirku. Kelihatannya pintu hatinya sudah tertutup untukku." jelas Siska, masih menangis. "Jangan berkata seperti itu. Kamu jangan menyerah. Aku yakin kamu pasti bisa." kata Liez sambil tersenyum berusaha menenangkan Siska. "Bukannya sudah tertutup, tapi hampir tertutup. Karena itu, jika kamu terlambat sedikit saja bisa bahaya. Setahuku, hanya kamu sajalah yg diijinkan olehnya untuk duduk disampingnya." ujar Andri. "Benarkah?" tanya Siska. "Beneran. Karena biasanya dia langsung pergi jika ada perempuan mendekatinya. Itu artinya dia sebenarnya juga ada perasaan ama kamu. Cuma belum percaya aja." jelas Andri. "Tuh dengerin. Jadi kamu jangan nyerah dulu. Kamu masih punya kesempatan." sambung Liez. Setelah mendengar semua itu akhirnya Siska bisa tenang dan kembali bersemangat. Di saat pulang sekolah, dia pun senyum-senyum sendiri karena baru sadar ternyata yg dikatakan Andri tentang Eka itu memang benar adanya. Saat itu dia sedang membuka diary, dan mau menulis. Lalu dari seberang jalan ada yg memanggilnya. "Sis, Siska!" panggil seseorang. Kemudian dia buru-buru memasukan diary nya. Tapi karena buru-buru, diary nya jatuh tanpa sepengetahuannya dan dia pun menyebrang jalan. Saat berhadap-hadapan dengan orang yg memanggilnya itu kemudian dia di bekap dengan sebuah sapu tangan yg sudah di lumuri oleh obat biur dan dia pun pingsan. Karena saat itu tempat sedang sepi karena di dekat sawah dan perkebunan, jadi mudah melakukan pembiusan itu. Lalu Siska pun buru-buru dibawa dengan menggunakan mobil karena ternyata ada seorang petani yg lewat, dan orang itu takut ketahuan. Pada malam harinya, ibunya Siska pun gelisah karena Siska belum pulang juga. Dan lalu ibunya Siska pergi ke rumah teman-temannya, tapi belum ketemu juga. Sampai akhirnya beliau melaporkan ke polisi bahwa anaknya hilang. Berita hilangnya Siska itu pun sampai ke para Pasopati. "Hey kawan, aku ada kabar buruk buat kalian." ujar Fix pada teman-temannya di markas Pasopati di sebuah saung ranggon. "Hmm.. Apa? Ada berita apa?" tanya Andri sambil berdiri lalu menghampiri Fix dan diikuti oleh yg lainnya. "Katanya Siska hilang. Dan katanya juga polisi tidak mampu menemukannya." ujar Fix. "Hmm.. Apa polisi udah nemuin petunjuk atau yg semacamnya?" tanya Reza. "Ya. Katanya ada buku diary." jawab Fix. "Hmm.. Diary ya. Dia memang suka nulis diary." kata seseorang secara tiba-tiba dari belakang. "Liez, sedang apa honey disini?" tanya Andri pada orang itu yg ternyata adalah para Pasopati girls. "Kami juga sudah dapat kabar tentang hilangnya Siska. Jadi kami kemari untuk minta bantuan Eka." jawab Liez. "Nah.. Iya juga. Eka kan jago dalam hal beginian. Kenapa gak kepikiran dari tadi sih? Hmm.." ujar Radith. "Ya mungkin otakmu saja yg telmi." sambung War. "Apa!?" ucap Radith dengan wajah jengkel. "Udah..udah.. Sayang jangan marah ya.." kata Sinta, pacar Radith yg berusaha menenangkan Radith. "Aku bukannya marah sayang. Marah itu yg lawannya warna biru kan?" sahut Radith. "Itu mah merah atuh." jelas Sinta. "Oh, ngomong-ngomong my angel kemana? Tidak ikut kesini ya?" tanya Fix. "Hmm.. Tadi sih dia di belakang kami. Kemana ya kira-kira." ujar Liez. Sementara itu di tingkat atas, Eka sedang tiduran. "Eka.." panggil seorang perempuan dari belakang. Eka pun bangun dan berbalik. "Angel.. Ada apa? Sedang apa kau disini?" tanya Eka dengan tatapan malasnya. "Hmm.. Siska hilang.." jawab perempuan itu yg ternyata bernama Angel, pacarnya Fix. Saat mendengar hal itu, terlihat sekilas air mukanya berubah. "Eka.. Aku mohon bantu kami untuk mencari Siska. Hanya kau lah satu-satunya harapan kami. Hanya kamu lah yg bisa." pinta Angel dengan mata berkaca-kaca dan seakan ingin menangis. "Kenapa harus aku? Kenapa tidak suruh polisi saja?" tanya Eka. "Eka, ku mohon. Polisi sudah tidak bisa lagi membantu kita. Aku memohon padamu dengan sangat. Aku mohon padamu untuk mencari Siska." jawab Angel sambil meneteskan air mata. "Kenapa aku harus susah-susah mencarinya? Emang dia siapanya aku?" tanya Eka. "Dia adalah orang yg mencintaimu dengan tulus. Dia adalah orang yg ingin membahagiakanmu. Dia adalah bidadari yg akan menyalakan api cintamu yg telah padam, dan mengembalikanmu seperti dulu." jelas Angel. "Kenapa kalian terus mendukungnya? Kenapa kalian ingin aku lemah seperti aku yg dulu?" kata Eka mulai emosi. "Tidak. kau salah Eka. Kau yg dulu lah Eka yg lebih kuat. Eka yg sekarang lebih lemah dari kapas yg tertiup angin." jawab War yg tiba-tiba datang. "Ya, War benar. Kami lebih suka Eka yg dulu." sambung Fix. "Eka, kembalilah. Jangan terus melangkah ke kegelapan. Disini kami selalu ada untukmu. Berbagilah. Itulah gunanya teman kan." tambah Andri. "Kau jangan terus jadikan masa lalu itu sebagai kabut yg menghalangi jalan kedepan. Tapi jadikanlah itu pengalaman yg menerangi semua orang. Yg sudah terjadi ya sudah. Jangan terus dipikiran." ujar Reza. "Ya, biarkanlah hidup tuh mengalir kayak air dan berlalu kayak debu di hempas angin." jelas Radith. "Ketahuilah, Siska itu sangat menyayangimu. Dia tak pernah punya niat menyakitimu. Karena kaulah yg paling dicintai olehnya. Kaulah pangerannya." ujar Liez. "Sudah! Sudah! Sudah cukup! Jangan diteruskan! Lebih baik kalian pergi! Cepat!" bentak Eka mengusir mereka semua. "Eka.." ucap Angel. "Cepat pergi!!!" usir Eka dengan suara yg amat keras. "Ya udah kita pergi saja. Lebih baik kita pergi mencari Siska sendiri saja." ajak Andri pada yg lainnya. Dan lalu mereka pun pergi. Eka tinggal sendirian sambil memegang dada kirinya sambil merintih kesakitan. Para Pasopati boys dan Pasopati girls pun pergi ke kantor polisi untuk meminta ijin melihat petunjuk hilangnya Siska. Dan diary Siska pun di berikan. Lalu mereka pun meminta ijin buat masuk area TKP, tapi tidak di ijinkan. Lalu mereka pun pergi ke TKP tanpa sepengetahuan polisi sambil membawa diary Siska. "Jadi buku diary ini di temukan disini?" tanya Andri. "Katanya sih gitu." jawab Fix. "Jadi mungkin ini penculikan." ujar Reza. "Bisa jadi." sahut Fix. "Hmm.. Berarti penculiknya tidak jauh kan. Pasti disekitar hutan dan kebun disana." ujar Andri. "Justru itu masalahnya. Polisi sudah menyisir seluruh kawasan ini, tapi tidak menemukan apapun. Hasilnya nihil." sahut Fix. "Aduh, gua bener-bener gak ngerti yg sedang kalian omongin." keluh Radith. "Dasar telmi." ledek War, pelan. "Sepertinya ada kesalahan dalam teori yg kalian kemukakan itu. Penculikan tidak terjadi disitu." ujar seseorang dari belakang. Para Pasopati pun kaget, dan lalu menoleh ke belakang. "Eka.." ujar para Pasopati saat melihat orang yg bicara itu, yg tidak lain adalah temannya sendiri. "Reza, apa kau lihat bekas ban mobil disana?" tanya Eka dengan raut wajah yg segar kembali. "Ya, pastinya. Emang kenapa?" tanya balik Reza. "Andri, coba cek bekas ban mobil itu. Dan identifikasi jenis ban, jenis mobil, dll!" pinta Eka. "Wah, kelihatannya sang hunter telah kembali." ujar Fix. "Baguslah.." sahut War. "Bagaimana, apa kau sudah mengetahui sesuatu?" tanya Eka pada Andri sambil melangkah menghampirinya. "Oh.. Mudah saja. Ini jenis ban dunlop. Aku tahu dari bekasnya yg masih hangat, kelihatannya baru tadi. Hmm.. Dan dari goresannya, ini menuju ke pegunungan." jelas Andri sambil jongkok dan memperhatikan bekas ban itu. "Hmm.. Begitu rupanya. Fix dan lainnya, kalian segera ke pemukiman warga terdekat, dan cari tahu apa ada yg melihat sebuah mobil yg menuju pegunungan tadi siang." suruh Eka. "Ok boss.." terima para Pasopati yg lain. "Andri, War, dan Reza ikut aku ke pegunungan." suruh Eka pada Pasopati boys yg tidak ke pemukiman. Kemudian Eka pergi bersama Andri dengan menggunakan motor Andri. Sementara Reza dan War dengan motornya Reza. Lalu mereka pun pergi menuju pegunungan. Sementara itu Fix dan para Pasopati yg lain bertanya pada para warga disana. Tapi, sudah hampir semua rumah di datangi, sayangnya mereka semua jawab, "Tidak tahu". "Hanya tinggal satu rumah lagi." ujar Liez. "Dimana?" tanya Radith. "Lihatlah yg ditengah sawah itu." jawab Fix. "Oh, iya juga ya. Sorry boy.. He..he.." ujar Radith sambil tersenyum bodoh. Lalu mereka pun pergi melewati persawahan. "Hey lihat, ada kodok." ujar Radith sambil menunjuk ke sawah. "Mana dith?" tanya Fix. "Itu.." sambil nunjuk ke arah sawah yg tadi. "Wah mungkin cuma bayanganmu aja di air. He..he.." ejek Radith. "Sialan lu!" ujar Fix, jengkel. "Ha..ha..ha..ha.." Radith pun ketawa. "Udah..udah.." ujar Liez mencoba menenangkan. Tidak terasa mereka pun sampai di rumah itu. "Permisi.." panggil Liez sambil mengetuk pintu. "Assalamu 'alaikum.." sapa Fix. "Wa'alaikum salam.." sahut seseorang dari dalam. Kemudian orang itu pun membukakan pintu dan menyapa mereka dengan ramah. "Maaf pa, kami ganggu malam-malam. Kami cuma mau tanya. Apa sekitar jam 1 siang tadi bapak lihat mobil yg menuju ke pegunungan?" tanya Liez. "Hmm.. Seingatku tidak ada mobil yg ke pegunungan." jawab orang tua itu. "Hmm.. Begitu ya. Ya udah, terima kasih ya. Maaf nih udah ganggu malam-malam. Kami permisi dulu ya, pak." kata Liez. Lalu dengan kepala tertunduk kecewa, mereka pun pergi. Tiba-tiba, "Hey, anak muda! Tunggu! Baru bapak ingat, waktu bapak lewat di sekitar sawah di dekat jalan raya tadi siang, bapak lihat mobil xenia warna silver. Iya warna silver kalau tidak salah." teriak orang itu. "Oh.. Terima kasih ya pak!" sahut Fix. "Ya, sama-sama nak." terima orang itu. Kemudian Fix pun mengSMS Eka. "Xenia warna silver ya. Reza, kau bisa kan?" tanya Eka dengan nada keras pada Reza, karena mereka sedang naik motor. "Sip!" terima Reza. "Hey, berhenti dulu. Lihat di jalan tanah itu. Ada bekas ban mobil baru!" ujar Reza sambil mengerem. Lalu Andri pun ikut berhenti. "Coba cek bekas ban itu, Dri!" suruh Eka. Kemudian Andri turun dari motornya lalu mengamati sebentar bekas ban itu, lalu kembali lagi ke motornya. "Jenis ban yg sama dengan yg tadi." kata Andri. "Hmm.. Baiklah. Kita ikuti jejak ini. Ini petunjuk kita satu-satunya." ujar Eka, meminta mengikuti jejak ban mobil itu. Lalu mereka pun meneruskan perjalanan. "Stop!! Semuanya berhenti." perintah Reza pada yg lainnya. "Hey, ada apa?" tanya Andri. "Lihat, yg didepan itu. Kelihatannya ada blockade yg harus kita tembus." ujar Reza. "Hmm.. Apa harus aku turun tangan?" tanya War. "Yg ini biar aku saja yg tangani." ujar Andri sambil menarik gas, dan motor pun sampai standing. Eka kaget dan langsung berpegangan erat pada Andri. "Waduh, dri. Nyesel aku semotor denganmu!" teriak Eka. "Ha..ha.. Ayo kita beraksi..!!" kata Andri dengan penuh semangat. "Hey! Hey! Awas!!" teriak orang-orang yg menjaga jalan itu. Kemudian orang itu kocar-kacir takut tertabrak oleh Andri. Lalu Reza pun mengikuti dari belakang. Tidak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah villa. Dan bisa dilihat dengan jelas mobil silver yg di gunakan untuk menculik Siska. "Hey, itu mobilnya!" ujar Reza. "Ya, aku juga lihat, za." sahut Andri. "Hey, ada apa dengan Eka kok dia diem aja?" tanya Reza. "Ha..ha.. Mungkin dia masih 'soak' ama yg tadi." jawab Andri dengan tenang. Lalu mereka pun berhenti, walau masih jauh dengan villa itu, karena mereka cari jarak aman. "Bagaimana ini, Eka? Apa kau punya rencana?" tanya War. "Kita pakai cara yg biasa. Kau sudah mengerti kan, War. Ini sudah hampir tengah malam. Kita harus selesaikan sebelum pagi. Apa kalian sanggup?" tanya Eka setelah menjawab pertanyaan War. "Ok!" terima Andri. "Sip!" sahut Reza. "Baiklah." jawab War. "Ok, ayo kita mulai." ujar Eka sambil memberi kode untuk maju. Kemudian mereka pun menyelinap lewat dinding pinggir, batas tanah villa itu. Mereka pun terus mendekati villa itu diam-diam. Akhirnya mereka pun sampai di dekat garasi villa itu. "Hati-hati, pintu depan di jaga oleh 2 orang berbadan kekar." kata Reza mencoba mengingatkan. Tapi ternyata War sudah ada di pintu depan dan berhasil mengalahkan 2 orang yg dimaksud Reza itu. Terlihat 2 orang itu sudah rubuh. "Dasar.. Ternyata perkataanku sama sekali tidak dianggap." gerutu Reza. "Kenapa dia sudah ada disana? Bukankah tadi dia ada di belakang kita?" tanya Andri, heran. "Kau belum tahu kekuatan seorang War yg sebenarnya. Dia itu bisa bergerak lebih cepat daripada angin." jelas Eka. Kemudian mereka pun menuju pintu depan, menghampiri War. "Kalian lambat sekali." komentar War sambil menendang mendobrak pintu sampai ambrol.
Brak!!
Daun pintu itu pun terlempar jauh. Hal itu pun mengundang para preman yg sedang bersantai di ruang tengah. Tanpa banyak bicara, War bergerak secepat kilat dan bertarung dengan para preman itu. Walau tubuh preman itu besar-besar, tapi terbukti dengan skill bertarung War yg tinggi, para preman itu bukanlah apa-apa di hadapan War. Tapi karena jumlah yg terlalu banyak, War pun akhirnya kewalahan juga. Dan War pun terkena pukulan keras dari salah seorang preman itu sehingga di terhuyung-huyung kebelakang. "Rasakan ini, bocah!!!" ucap salah seorang preman lagi mencoba memukul War. Tapi tiba-tiba..
Teph!!
Tangan preman itu di tahan oleh Reza yg datang membantu. "Ayolah, jangan bersenang-senang sendiri." ujar Reza sambil tersenyum dan tetap menahan tangan preman itu. "Hey, awas di belakangmu!!" teriak War. Lalu dengan sigap Reza menundukan tubuhnya, dan dengan bertopang pada punggung Reza, War melakukan tendangan lompat ke wajah kedua preman itu. "Hey, kenapa mangsaku juga kau sikat?" tanya Reza. "Maaf, kawan." sahut War. "Andri! Eka! Disini biar kami yg hadapi! Kalian cepat cari Siska!" suruh War sambil bertarung. "Baik." terima Eka. Kemudian Andri dan Eka pun pergi ke lantai atas dan mencari Siska. "Hmm.. Ada pengganggu rupanya!" ujar orang yg berdiri di samping kursi dimana tubuh Siska di ikat. "Pangeran! Awas! Dia bawa pistol!" teriak Siska, karena mulutnya tidak di sumbat, jadi dia bisa bebas berbicara. "Apa? Andri cari sesuatu untuk berlindung!" perintah Eka. Kemudian mereka pun segera mencari tempat berlindung. Orang itu pun mengeluarkan pistol dan menembaki Eka dan Andri. "Suara pistol." ujar Reza. "Ya, benar." sahut War. "Ayo segera kita susul mereka." ajak Reza. Kemudian Reza dan War pun menyusul mereka. Sementara itu, Eka masih di tembaki sambil berlari mencari tempat sembunyi. Lalu Eka pun bersembunyi di belakang sofa. Tapi ternyata sofa itu tidak dapat menahan peluru. "Sial! Aku harus bertahan sampai pelurunya habis." pekik Eka. "Ha..ha.. Ayo keluarlah kalian!" ujar orang yg menembaki Eka dan Andri itu. "Dia berhenti menembak. Hmm.. Kalau isinya 20 peluru, kalau di hitung-hitung dia sudah mencoba menembakku 10 kali dan Andri 7 kali. Berarti sisa 3. Dari sini ke sana jaraknya sekitar 7 meter. Berarti butuh waktu sekitar 2, 45 detik untukku dengan berlari. Tapi aku butuh pengalih perhatian." gumam Eka sambil menganalisa. "Hey, Eka!" panggil Reza sambil berlari menaiki tangga. "Ada lagi rupanya." ujar orang yg menculik Siska itu sambil mencoba menembak Reza.
Dor! Dor! Dor!
Tapi untung Reza ditarik dari belakang oleh War, dan peluru itu hanya mengenai dinding saja. "Sekarang!" teriak Eka sambil berlari ke arah orang itu dan memukulnya hingga terjatuh. Kemudian dengan cepat dia menghampiri Siska dan melepaskan ikatannya. "Matilah kau!" teriak orang itu sambil menembakan peluru terakhir. "Awas!!" teriak Siska sambil berpindah menghalangi tubuh Eka. "Tidak. Jangan." gumam Eka sesaat sebelum peluru itu mengenai Siska. "Arrggh!" rintih Eka yg ternyata sudah berada di depan tubuh Siska. Lalu Eka pun rubuh di depan Siska. "Ha..ha..ha.. Rasakan itu, dasar bodoh.." ujar orang itu sambil tertawa kegirangan. Kemudian dengan cepat War menendang kepala orang itu dengan tendangan putar. Lalu Andri juga menghantam lagi pundak orang itu dengan dua tangan yg disatu kepalkan. Lalu Reza melompat dan menimpa kedua pergelangan pangkal tangan orang itu dengan kakinya sehingga terdengar suara tulang yg patah keras sekali. "Arrrrrgggghhhhhh........!!!" teriak orang itu merintih kesakitan. "Jangan ganggu ketua kami, karena kami akan marah. Sangat amat marah, jika orang yg paling kami hormati itu dilukai secara fisik ataupun hati." ujar Andri, Reza, dan War secara serentak. "Kau tidak apa-apa, Ka?" tanya Andri. "Tidak. Aku tidak apa-apa." jawab Eka sambil menahan sakitnya, karena bahu kirinya terkena tembakan tadi. "Pangeranku, maafkan aku. Gara-gara aku kamu jadi terluka. Maafkan aku.." pinta Siska dg amat menyesal. "Hmm.. Siska, aku tidak apa-apa kok. Lagipula ini karena kesalahanku sendiri. Aku salah menganalisis, karena kukira pelurunya ada 20. Ternyata aku memang ceroboh." jelas Eka sambil mencoba berdiri. Lalu Siska pun membantu Eka berdiri dan memapahnya. Lalu mereka pun keluar villa. Sementara itu, Andri menelpon yg lainnya lalu menghubungi polisi. Kemudian para Pasopati yg lain pun datang beserta polisi. "Wah, Eka kenapa?" tanya Liez. "Kecium pelor, honey." jawab Andri. "Alah, lebay lu dri." komentar Radith. "Ayo cepat kita bawa Eka ke rumah sakit." ajak Fix. "Ok!" jawab Pasopati yg lain. Kemudian Eka pun di bawa ke rumah sakit. Setelah di rawat, besoknya ia sudah bisa sekolah. Dan para pasopati boys pun di marahi oleh wali kelasnya. "Kalian ini bodoh ya? Kalian tahu kan itu tuh bahaya. Kenapa kalian tidak nunggu polisi datang dulu? Kalian jangan gegabah! Kalau kalian mati, gimana?" kata wali kelas yg tidak lain adalah guru fisika mereka. Para Pasopati boys hanya bisa tertunduk saja, dan tak bisa bicara apapun. "Ibu tak mau kalau sampai kehilangan kalian. Kalian adalah siswa kesayangan ibu. Walau kalian senakal, sejail, dan sediam apapun. Kalian sudah ibu anggap sebagai anak-anak ibu." ujar guru fisika itu sambil meneteskan air mata, lalu memeluk mereka berenam. "Aduh ibu, kami tuh bukan anak kecil lagi." tolak Radith. "Ssst.. Radith." ucap Eka pada Radith sambil memberi kode untuk diam. Radith pun mengerti. Selang beberapa hari, akhirnya Siska masuk kedalam Pasopati. Dan setelah Eka akhirnya mau membuka hatinya untuk cinta yg baru, Eka pun mau menerima Siska. Saat mereka duduk bersama di depan perpustakaan dan memandang langit bersama, mereka saling bertukar pikiran. "Hmm.. Siska." panggil Eka. "Apa, pangeranku?" sahut Siska dengan manjanya. "Aku suka sekali melihat langit." ujar Eka. "Emang ada apa sih dilangit?" tanya Siska. "Hmm.. Yg aku carinya gak ada sih. Aku nyari nya pelangi. Eh ternyata pelangi nya pindah ke senyummu. Wuih.. Indahnya.." puji Eka. "Ah kamu bisa aja." kata Siska tersipu malu. "Oh ya, pangeranku. Emang ada kejadian apa sih di masa lalu, sampai-sampai bikin kamu berubah total?" tanya Siska, penasaran. "Iya deh, akan ku ceritakan. Tapi nanti ya..." jawab Eka sambil memencet hidung Siska dengan halus. Dan akhirnya Eka kembali jadi dirinya yg sejati. Bersama Siska, dia terlihat begitu bahagia. Dan cerita pun masih akan berlanjut.
Karya: Aleka Rizki Aryadi.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan dalam nama, tempat atau kejadian itu bukanlah karena kesengajaan tapi karena kebetulan semata.
"Hmm.. Bagaimana ya?.. Menurutmu bagaimana, Radith." tanya Fix. "Gimana kalau kita cariin dia cewek?" jawab Radith. "Hey, yg kita bicarakan ini tentang persahabatan kita, bukan soal cewek." tentang Andri. "Dri, lu udah lupa ya penyebab Eka jadi kayak gini tuh karena apa?" jawab Radith. "Hmm.. Benar juga sih. Aku masih ingat kejadian waktu itu." ujar Andri, flashback. Mereka semua pun langsung terdiam saat mengingat tragedi di masa lalu itu. Sesuatu yg membuat Eka berubah 180 derajat. "Tapi, yg jadi masalah, kita belum menemukan perempuan yg cocok untuk Eka. Dan belum tentu juga Eka nya mau pada perempuan itu." kata War. "Ya, saat ini kita harus menyeleksi semua siswi yg ada di sekolah ini. Misalnya dengan mengadakan audisi." ujar Andri. "Tapi itu akan membutuhkan waktu yg lama dan biaya yg besar." tentang Fix. "Hmm.. Aku punya ide lain." tukas Reza. "Apaan tuh?" tanya Radith. "Kita jodohkan saja Eka dengan dia." jawab Reza sambil nunjuk seorang siswi. "Hmm.. Dia siapa, za?.." tanya Fix. "Gak tahu. Aku juga gak kenal sih. He..he..he.." jawab Reza sambil tertawa bodoh. "Yah....." ucap Andri, War, Radith, dan Fix sambil terjungkir dari kursi mereka. "Ha..ha..ha..ha.." tawaan Reza. "Hmm.. Kalau gitu kita cari tahu aja." ujar Fix. "Okelah kalau begitu." terima Reza. Lalu Andri dan Fix pun pergi dan mencari Eka. Sementara Radith, War dan Reza mengumpulkan info tentang gadis itu. Lalu Andri dan Fix pun menemukan Eka di depan perpustakaan. "Hey, Eka. Disini kau rupanya." sapa Fix. "Lagi ngapain nih?" tanya Andri. "That's not your bussiness." jawab Eka singkat saja. "Hmm.. Ayolah.. Kita ke kantin aja yuk! Kita jajan.." ajak Andri. "No, thanks.." jawab Eka. "Hmm.. Ya udah. Aku duluan ke kelas ya." kata Fix. "Ok! That's up to you." sahut Eka. Lalu Andri, Fix, War, Reza, dan Radith pun berkumpul lagi. "Bagaimana? Apa kalian sudah dapat info tentang gadis itu?" tanya Fix. "Sudah. Katanya sih dia adalah murid baru. Dia pindahan dari Jakarta. Dan beruntungnya, dia tuh di kelas kita." jelas Reza. "Ya, dia punya nama adalah Siska." sambung Radith. "Benar sekali. Dia juga orangnya ramah, murah senyum, dan mudah akrab." tambah War. "Oh ya, kalian sendiri udah bisa nanganin Eka belum?" tanya Reza. "Hmm.. Belum. Dia kelihatannya masih ngambek." ujar Fix. "Ouw.. Begitu rupanya.." ucap War. Lalu War pun pergi meninggalkan mereka. "Ada apa dengan dia?" tanya Andri. "Aku tidak tahu. Tapi pastinya ada sesuatu yg akan dia lakukan." jawab Fix. "Sesuatu apa, Fix? Apa perlu aku ikuti?" kata Reza. "Tidak. Mungkin bukan apa-apa. Lebih baik kita lanjutkan debat ini saja." jawab Fix dengan tenang. "Walau aku khawatir, tapi semoga saja tidak terjadi apa-apa." gumam Fix. Sementara itu, War ternyata menghampiri Eka yg sedang duduk di depan perpustakaan memandang langit. "Eka!" panggil War. Mendengar panggilan War yg amat keras itu, Eka pun bangkit dari duduknya dan berbalik ke arah War. "Kemari kau!" bentak War. "War.." ucap Eka, kaget melihat mimik wajah War yg kelihatannya sedang marah. Kemudian War pun mendekati Eka, lalu menjambak dan menarik baju Eka. Dan Eka pun di bawa ke belakang. Saat War marah, takkan ada yg bisa menghalanginya. "Eka, ada apa dengan dirimu sebenarnya? Aku sudah lama tidak marah. Jika aku marah, kau tahu sendiri kan adatku? Hah.." ujar War. Tapi Eka hanya bisa diam, dan terlihat keringat mengucur di dahinya. "Kenapa kau diam saja? Apa kau takut? Apa itu seorang Eka yg paling aku hormati selama ini? Aku benar-benar kecewa. Kau jadi lemah seperti ini. Aku tidak percaya kalau kau selemah ini. Aku yakin kau bisa lebih. Hanya saja, kau tak mau percaya pada dirimu dan pada sahabatmu." ujar War sambil mengangkat tubuh Eka yg disandarkan di dinding belakang. "Hah.. Sungguh mengecewakan.." sambung War sambil membanting tubuh Eka ke belakang. Eka pun jatuh dan terbatuk-batuk, karena saat tubuhnya diangkat, lehernya lah yg dicengkeram. Lalu War pun pergi meninggalkan Eka yg belum bangkit juga. Saat War kembali ke kelas, ternyata Pasopati yg lain sudah selesai dengan debat mereka dan menunggu War. "War, dari mana saja kau?" tanya Andri. "Bukan urusanmu, Dri." jawab War. "Kuharap kamu tidak bertengkar dengan Eka." ujar Fix. "Sudah kubilang. Ini bukanlah urusan kalian." sahut War dengan nada yg sedikit membentak. Tiba-tiba datanglah Eka dengan baju yg kotor akibat dijatuhkan oleh War barusan. "Bajunya kotor." ucap Fix dalam hatinya. "Jangan-jangan.." gumam Andri. "Ada guru.. Ada guru.." teriak salah satu siswa memberi tahu. Dan hal itu membuat para siswa yg lain membereskan duduk mereka. Dan datanglah guru sambil membawa siswi baru itu. "Wah..." ucap para laki-laki saat melihat siswi yg amat cantik itu. "Ibu membawa murid pindahan dari Jakarta. Namanya Siska. Ibu harap kalian mau berteman dengannya." ujar guru fisika itu. "Hai.." sapa Siska dengan senyuman yg begitu manis. "Benar-benar cantik.." ujar Fix dengan mata yang berubah jadi 'love'. "Siska, kau duduk disana!" ujar guru fisika itu sambil menunjuk ke bangku yg paling belakang. Kemudian Siska pergi menuju bangkunya. Saat ia duduk dan menoleh ke sampingnya, ia pun kaget. Ternyata mejanya tetanggaan dengan seorang pangeran. Tepatnya adalah Eka. Hal itu membuat wajah Siska memerah. Siska pun berbalik dan lalu kenalan dengan teman sebangkunya yg juga perempuan itu. "Hai.. Kenalin, namaku Siska.." sapa Siska dengan wajah yg manis dan ramah sambil menyodorkan tangannya. "Aku Vina." jawab Vina sambil berjabatan tangan. "Oh ya, dia tuh siapa sih?" tanya Siska sambil nunjuk Eka. "Hmm.. Dia tuh Eka. Orang yg paling dulunya paling disukai semua perempuan." jawab Vina. "Dulunya?" ujar Siska, heran. "Iya. Dulu sih Eka itu sangat mempesona. Tapi sekarang dia amat dingin pada orang-orang disekitarnya." jawab Vina. "Hey kalian! Jangan ngobrol!" bentak guru fisika itu, yg tepatnya bernama bu Nur. "Aaah, dasar perempuan." ujar Eka dengan nada pelan. Saat istirahat tiba, para Pasopati keluar, kecuali Eka. Dia memilih di dalam kelas untuk menyendiri. Lalu Siska pun menyapa dan menghampirinya. "Hai pangeran, boleh aku duduk disampingmu?" tanya Siska dengan senyuman manisnya. "Silahkan saja. Lagipula aku tak terlalu peduli pada tempat duduk." ujar Eka sambil pindah ke kanan karena dia duduk di sebelah kiri. Lalu Siska pun duduk di sebelahnya. "Hmm.. Kenapa kamu diem aja disini? Kok gak bareng ama temen-temen kamu?" tanya Siska dengan ramah. "Aku lagi gak mood buat keluar." jawab Eka singkat saja. "Ooohh.. Mau aku temenin gak?" tanya Siska lagi. "Hey..hey.. Coba lihat, ini juga kamu lagi nemenin aku kan." ujar Eka dengan tatapan malasnya. "Eh iya ya. He..he.." kata Siska dengan wajah memerah dia pun tertawa. "Udah ah, aku mau pergi aja." ujar Eka sambil bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi. "Pangeran.." cegah Siska. Tapi Eka tetap saja pergi dan terus melangkah. Tidak berapa lama setelah Eka pergi, para Pasopati yg lain pun datang dan menghampiri Siska. "Kamu Siska kan?" tanya Andri. "Ya. Kalian ini para Pasopati temannya Pangeranku kan?" jawab Siska sambil bertanya balik. "Pangeranmu?" ujar Reza bertanya-tanya. "Maaf, maksudku itu Eka." jelas Siska. "Ya, kami memang temannya. Terus kenapa tadi kamu panggil dia dengan 'pangeranku'?" tanya Andri. "Hmm.." lenguh Siska dengan wajah yg memerah. "Ciiieeee..." sorak para Pasopati. Hal itu pun malah membuat wajah Siska semakin memerah karena malu. "Eeuuhh.. Apa aku boleh minta bantuan kalian?" tanya Siska. "Tentu saja boleh. Kami akan membantumu kok buat deketin Eka." jawab Reza. Mendengar hal itu Siska pun tersenyum tersipu malu. Lalu para Pasopati pun pergi mencari Eka. Lalu para Pasopati girl datang menghampiri Siska. Pasopati girls adalah para pacar dari Pasopati boys, kecuali Eka. "Hai.. Andri udah cerita. Katanya kamu suka ya ama Eka." ujar Liez, pacar Andri. "Kami akan bantu kamu. Biar Eka suka ama kamu, kami akan mendandanimu. Kami tahu benar Eka suka perempuan yg seperti apa. Karena dulu yg mendandani mantan pacarnya juga kami." ujar Sarah, pacarnya Reza menawarkan bantuan. "Ya, terima kasih ya. Aku lebih suka tampil sederhana. Aku ingin jadi diriku sendiri aja." ujar Siska. "Cocok. Berarti kamu emang pantas buat Eka." ujar Sarah. "Cocok. Cocok apanya?" tanya Siska. "Hmm.. Baiklah. Akan kami ceritakan masa lalunya Eka." ujar Liez. "Masa lalu? Emang ada apa dengan masa lalunya?" tanya Siska lagi. "Dulu, Eka adalah orang yg bersemangat dan kuat bagai api yg membara. Dia juga humoris dan romantis. Selalu maju ke depan dan tak kenal menyerah. Dia selalu memberi warna di hidup orang-orang di sekitarnya, sampai tragedi itu terjadi." jelas Liez. "Tragedi? Tragedi apa?" tanya Siska, penasaran. "Tragedi dimana Eka harus hancur hatinya, musnah perasaannya dan hilang kepercayaannya. Tepatnya dia sakit hati karena telah di khianati oleh perempuan yg paling ia cintai" sambung Sarah. "Padahal Eka sudah mengorbankan segalanya untuk perempuan itu. Tapi ternyata perempuan itu membohonginya." tambah Liez. "Kami takkan membiarkan satupun perempuan menyakiti Eka lagi seperti yg terjadi di masa lalu." ujar Dini, pacar War sambil bersender di ambang pintu. Sementara itu, para Pasopati boys mencari-cari Eka ke seluruh bagian sekolah tapi tidak ketemu juga. Akhirnya mereka berkumpul di kantin lagi sambil beli minuman, karena mereka kecapean keliling sekolah. "Ketemu?" tanya Andri pada yg lainnya sambil ngos-ngosan. "Gak." jawab Radith. "Aku juga tidak menemukannya di manapun." jawab Fix. "Begitu pula denganku." jawab Reza. "Oh begitu ya. Hmm.. Oh ya, dimana War? Kok dia belum kembali juga?" tanya Andri. "Lu udah ngomong kalau kita ngumpul disini lagi kan?" tanya Radith. "Sudah. Tapi kenapa belum kembali ya? Hmm.." jawab Andri sambil berpikir. "Jangan-jangan.." ujar Fix. Disaat yg sama, Eka sedang bersandar di dinding depan perpustakaan. "War, mau apa kau kemari?" tanya Eka yg ternyata benar War sedang berada di depannya. "Aku ingin kau ikut denganku." jawab War. "Kalau aku menolak?" tanya Eka. "Terpaksa akan ku pakai caraku." jawab War. "Baiklah, kita pakai caramu saja." ujar Eka. "Ooh.. Begitu. Baiklah..!!" bentak War. "Jika itu maumu!!!" bentak War lagi sambil berlari ke arah Eka dan berusaha untuk memukulnya. Tiba-tiba, "Hentikan!!!" suara teriakan itu pun menghentikan langkah War. Ternyata itu Siska. Lalu para Pasopati girls pun datang menghampiri mereka. "Hey, War. Hentikan. Sudah dulu sampai disini." suruh Dini. "Baiklah." terima War. "Hey, apa kami terlambat?" tanya Andri yg datang bersama Pasopati boys yg lainnya. "Kalian lelet banget sih. Tadi kalian kemana aja?" tanya Liez pada Andri dan yg lainnya. "Maaf..maaf.. Tadi kami ke kantin dulu. Soalnya kami cape, jadi beli es dulu." jawab Andri. "Pangeranku." sapa Siska, malu-malu. Tapi Eka tidak menjawab, hanya melirik dan menatap Siska dengan tatapan tajam. "Pangeranku, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Siska. "Hhh.." ucap Eka sambil melangkah pergi meninggalkannya. "Eka, tunggu.. Jangan pergi.." cegah Siska sambil berlalu menyusul Eka. "Hmm.. Jadi kalian udah menguji nya? Gimana hasilnya?" tanya Reza pada Pasopati girls. "100% lulus, sayang." jawab Sarah. "Wah.. Bagus kalau begitu." ujar Fix. Sejak saat itu, Siska selalu berusaha mendekati Eka dan berusaha menunjukan kepeduliannya pada Eka. "Hmm.. Sebuah diary. Jadi dia menulis diary ya. Menarik.." ujar Sarah, pelan saat melihat Siska menulis di diary nya. "Apa?" tanya Siska. "Gak ada apa-apa kok." jawab Sarah sambil tersenyum. Setiap kejadian di setiap harinya, Siska tuliskan dalam diary nya itu. Walau ditolak beberapa kalipun oleh Eka, anehnya Siska tetap saja tidak menyerah. Suatu saat, saat Eka sedang sendirian di dalam kelas, Siska menghampirinya. "Pangeranku, kamu kenapa sih menyendiri terus?" tanya Siska. "Terserah aku kan. Jadi, kamu jangan terlalu ikut campur." jawab Eka, jutek. "Aku temenin ya.." tawar Siska. "Sudahlah, kenapa harus repot-repot menemaniku? Pergi saja bersama teman-temanmu yg lain." usir Eka. "Aku gak mau kalau harus senang-senang sedangkan kamu murung seperti ini. Aku tahu kamu itu sebenarnya kesepian. Tapi kamu berpura-pura kuat dengan tidak menunjukan kesedihanmu. Kamu ingin melupakan rasa sakitmu dengan menjauhi semua orang disekitarmu dan menyendiri seperti ini. Tapi itu salah. Seharusnya kamu jangan memikul beban ini sendirian. Kamu harus berbagi. Itulah gunanya teman kan? Pangeranku, harus kamu tahu, aku tuh cinta ama kamu. Aku sayang banget ama kamu. Aku tak sanggup jika melihat orang yg kusayangi dan kucintai menderita. Aku cinta kamu, pangeranku. Aku yakin kamu lah malaikat yg dikirim dari surga untuk mencariku dan mengambil hatiku." jelas Siska dengan mata berkaca-kaca karena akan menangis. "Sudah! Sudah cukup! Aku tak mau dengar semua kebohongan ini lagi. Ini sangat menyakitkan bagiku. Sebaiknya kau pergi saja, Siska! Jangan pernah dekati aku lagi!" bentak Eka mengusir Siska sambil bangkit dari duduknya. Hal itu pun membuat Siska menangis dan akhirnya berlari keluar. Eka pun duduk lagi, sambil memegang dada kirinya dan dengan wajah seperti menahan sakit dia pun berkata, "Sial...". Siska yg berlari keluar kemudian di hentikan oleh Andri dan Liez yg kebetulan lewat. "Siska, kamu kenapa nangis?" tanya Liez sambil berusaha menenangkan Siska. "Sudah. Lebih baik duduk dulu disini dan ceritakan ada apa?" ujar Andri. "Eka, dia membentakku dan mengusirku. Kelihatannya pintu hatinya sudah tertutup untukku." jelas Siska, masih menangis. "Jangan berkata seperti itu. Kamu jangan menyerah. Aku yakin kamu pasti bisa." kata Liez sambil tersenyum berusaha menenangkan Siska. "Bukannya sudah tertutup, tapi hampir tertutup. Karena itu, jika kamu terlambat sedikit saja bisa bahaya. Setahuku, hanya kamu sajalah yg diijinkan olehnya untuk duduk disampingnya." ujar Andri. "Benarkah?" tanya Siska. "Beneran. Karena biasanya dia langsung pergi jika ada perempuan mendekatinya. Itu artinya dia sebenarnya juga ada perasaan ama kamu. Cuma belum percaya aja." jelas Andri. "Tuh dengerin. Jadi kamu jangan nyerah dulu. Kamu masih punya kesempatan." sambung Liez. Setelah mendengar semua itu akhirnya Siska bisa tenang dan kembali bersemangat. Di saat pulang sekolah, dia pun senyum-senyum sendiri karena baru sadar ternyata yg dikatakan Andri tentang Eka itu memang benar adanya. Saat itu dia sedang membuka diary, dan mau menulis. Lalu dari seberang jalan ada yg memanggilnya. "Sis, Siska!" panggil seseorang. Kemudian dia buru-buru memasukan diary nya. Tapi karena buru-buru, diary nya jatuh tanpa sepengetahuannya dan dia pun menyebrang jalan. Saat berhadap-hadapan dengan orang yg memanggilnya itu kemudian dia di bekap dengan sebuah sapu tangan yg sudah di lumuri oleh obat biur dan dia pun pingsan. Karena saat itu tempat sedang sepi karena di dekat sawah dan perkebunan, jadi mudah melakukan pembiusan itu. Lalu Siska pun buru-buru dibawa dengan menggunakan mobil karena ternyata ada seorang petani yg lewat, dan orang itu takut ketahuan. Pada malam harinya, ibunya Siska pun gelisah karena Siska belum pulang juga. Dan lalu ibunya Siska pergi ke rumah teman-temannya, tapi belum ketemu juga. Sampai akhirnya beliau melaporkan ke polisi bahwa anaknya hilang. Berita hilangnya Siska itu pun sampai ke para Pasopati. "Hey kawan, aku ada kabar buruk buat kalian." ujar Fix pada teman-temannya di markas Pasopati di sebuah saung ranggon. "Hmm.. Apa? Ada berita apa?" tanya Andri sambil berdiri lalu menghampiri Fix dan diikuti oleh yg lainnya. "Katanya Siska hilang. Dan katanya juga polisi tidak mampu menemukannya." ujar Fix. "Hmm.. Apa polisi udah nemuin petunjuk atau yg semacamnya?" tanya Reza. "Ya. Katanya ada buku diary." jawab Fix. "Hmm.. Diary ya. Dia memang suka nulis diary." kata seseorang secara tiba-tiba dari belakang. "Liez, sedang apa honey disini?" tanya Andri pada orang itu yg ternyata adalah para Pasopati girls. "Kami juga sudah dapat kabar tentang hilangnya Siska. Jadi kami kemari untuk minta bantuan Eka." jawab Liez. "Nah.. Iya juga. Eka kan jago dalam hal beginian. Kenapa gak kepikiran dari tadi sih? Hmm.." ujar Radith. "Ya mungkin otakmu saja yg telmi." sambung War. "Apa!?" ucap Radith dengan wajah jengkel. "Udah..udah.. Sayang jangan marah ya.." kata Sinta, pacar Radith yg berusaha menenangkan Radith. "Aku bukannya marah sayang. Marah itu yg lawannya warna biru kan?" sahut Radith. "Itu mah merah atuh." jelas Sinta. "Oh, ngomong-ngomong my angel kemana? Tidak ikut kesini ya?" tanya Fix. "Hmm.. Tadi sih dia di belakang kami. Kemana ya kira-kira." ujar Liez. Sementara itu di tingkat atas, Eka sedang tiduran. "Eka.." panggil seorang perempuan dari belakang. Eka pun bangun dan berbalik. "Angel.. Ada apa? Sedang apa kau disini?" tanya Eka dengan tatapan malasnya. "Hmm.. Siska hilang.." jawab perempuan itu yg ternyata bernama Angel, pacarnya Fix. Saat mendengar hal itu, terlihat sekilas air mukanya berubah. "Eka.. Aku mohon bantu kami untuk mencari Siska. Hanya kau lah satu-satunya harapan kami. Hanya kamu lah yg bisa." pinta Angel dengan mata berkaca-kaca dan seakan ingin menangis. "Kenapa harus aku? Kenapa tidak suruh polisi saja?" tanya Eka. "Eka, ku mohon. Polisi sudah tidak bisa lagi membantu kita. Aku memohon padamu dengan sangat. Aku mohon padamu untuk mencari Siska." jawab Angel sambil meneteskan air mata. "Kenapa aku harus susah-susah mencarinya? Emang dia siapanya aku?" tanya Eka. "Dia adalah orang yg mencintaimu dengan tulus. Dia adalah orang yg ingin membahagiakanmu. Dia adalah bidadari yg akan menyalakan api cintamu yg telah padam, dan mengembalikanmu seperti dulu." jelas Angel. "Kenapa kalian terus mendukungnya? Kenapa kalian ingin aku lemah seperti aku yg dulu?" kata Eka mulai emosi. "Tidak. kau salah Eka. Kau yg dulu lah Eka yg lebih kuat. Eka yg sekarang lebih lemah dari kapas yg tertiup angin." jawab War yg tiba-tiba datang. "Ya, War benar. Kami lebih suka Eka yg dulu." sambung Fix. "Eka, kembalilah. Jangan terus melangkah ke kegelapan. Disini kami selalu ada untukmu. Berbagilah. Itulah gunanya teman kan." tambah Andri. "Kau jangan terus jadikan masa lalu itu sebagai kabut yg menghalangi jalan kedepan. Tapi jadikanlah itu pengalaman yg menerangi semua orang. Yg sudah terjadi ya sudah. Jangan terus dipikiran." ujar Reza. "Ya, biarkanlah hidup tuh mengalir kayak air dan berlalu kayak debu di hempas angin." jelas Radith. "Ketahuilah, Siska itu sangat menyayangimu. Dia tak pernah punya niat menyakitimu. Karena kaulah yg paling dicintai olehnya. Kaulah pangerannya." ujar Liez. "Sudah! Sudah! Sudah cukup! Jangan diteruskan! Lebih baik kalian pergi! Cepat!" bentak Eka mengusir mereka semua. "Eka.." ucap Angel. "Cepat pergi!!!" usir Eka dengan suara yg amat keras. "Ya udah kita pergi saja. Lebih baik kita pergi mencari Siska sendiri saja." ajak Andri pada yg lainnya. Dan lalu mereka pun pergi. Eka tinggal sendirian sambil memegang dada kirinya sambil merintih kesakitan. Para Pasopati boys dan Pasopati girls pun pergi ke kantor polisi untuk meminta ijin melihat petunjuk hilangnya Siska. Dan diary Siska pun di berikan. Lalu mereka pun meminta ijin buat masuk area TKP, tapi tidak di ijinkan. Lalu mereka pun pergi ke TKP tanpa sepengetahuan polisi sambil membawa diary Siska. "Jadi buku diary ini di temukan disini?" tanya Andri. "Katanya sih gitu." jawab Fix. "Jadi mungkin ini penculikan." ujar Reza. "Bisa jadi." sahut Fix. "Hmm.. Berarti penculiknya tidak jauh kan. Pasti disekitar hutan dan kebun disana." ujar Andri. "Justru itu masalahnya. Polisi sudah menyisir seluruh kawasan ini, tapi tidak menemukan apapun. Hasilnya nihil." sahut Fix. "Aduh, gua bener-bener gak ngerti yg sedang kalian omongin." keluh Radith. "Dasar telmi." ledek War, pelan. "Sepertinya ada kesalahan dalam teori yg kalian kemukakan itu. Penculikan tidak terjadi disitu." ujar seseorang dari belakang. Para Pasopati pun kaget, dan lalu menoleh ke belakang. "Eka.." ujar para Pasopati saat melihat orang yg bicara itu, yg tidak lain adalah temannya sendiri. "Reza, apa kau lihat bekas ban mobil disana?" tanya Eka dengan raut wajah yg segar kembali. "Ya, pastinya. Emang kenapa?" tanya balik Reza. "Andri, coba cek bekas ban mobil itu. Dan identifikasi jenis ban, jenis mobil, dll!" pinta Eka. "Wah, kelihatannya sang hunter telah kembali." ujar Fix. "Baguslah.." sahut War. "Bagaimana, apa kau sudah mengetahui sesuatu?" tanya Eka pada Andri sambil melangkah menghampirinya. "Oh.. Mudah saja. Ini jenis ban dunlop. Aku tahu dari bekasnya yg masih hangat, kelihatannya baru tadi. Hmm.. Dan dari goresannya, ini menuju ke pegunungan." jelas Andri sambil jongkok dan memperhatikan bekas ban itu. "Hmm.. Begitu rupanya. Fix dan lainnya, kalian segera ke pemukiman warga terdekat, dan cari tahu apa ada yg melihat sebuah mobil yg menuju pegunungan tadi siang." suruh Eka. "Ok boss.." terima para Pasopati yg lain. "Andri, War, dan Reza ikut aku ke pegunungan." suruh Eka pada Pasopati boys yg tidak ke pemukiman. Kemudian Eka pergi bersama Andri dengan menggunakan motor Andri. Sementara Reza dan War dengan motornya Reza. Lalu mereka pun pergi menuju pegunungan. Sementara itu Fix dan para Pasopati yg lain bertanya pada para warga disana. Tapi, sudah hampir semua rumah di datangi, sayangnya mereka semua jawab, "Tidak tahu". "Hanya tinggal satu rumah lagi." ujar Liez. "Dimana?" tanya Radith. "Lihatlah yg ditengah sawah itu." jawab Fix. "Oh, iya juga ya. Sorry boy.. He..he.." ujar Radith sambil tersenyum bodoh. Lalu mereka pun pergi melewati persawahan. "Hey lihat, ada kodok." ujar Radith sambil menunjuk ke sawah. "Mana dith?" tanya Fix. "Itu.." sambil nunjuk ke arah sawah yg tadi. "Wah mungkin cuma bayanganmu aja di air. He..he.." ejek Radith. "Sialan lu!" ujar Fix, jengkel. "Ha..ha..ha..ha.." Radith pun ketawa. "Udah..udah.." ujar Liez mencoba menenangkan. Tidak terasa mereka pun sampai di rumah itu. "Permisi.." panggil Liez sambil mengetuk pintu. "Assalamu 'alaikum.." sapa Fix. "Wa'alaikum salam.." sahut seseorang dari dalam. Kemudian orang itu pun membukakan pintu dan menyapa mereka dengan ramah. "Maaf pa, kami ganggu malam-malam. Kami cuma mau tanya. Apa sekitar jam 1 siang tadi bapak lihat mobil yg menuju ke pegunungan?" tanya Liez. "Hmm.. Seingatku tidak ada mobil yg ke pegunungan." jawab orang tua itu. "Hmm.. Begitu ya. Ya udah, terima kasih ya. Maaf nih udah ganggu malam-malam. Kami permisi dulu ya, pak." kata Liez. Lalu dengan kepala tertunduk kecewa, mereka pun pergi. Tiba-tiba, "Hey, anak muda! Tunggu! Baru bapak ingat, waktu bapak lewat di sekitar sawah di dekat jalan raya tadi siang, bapak lihat mobil xenia warna silver. Iya warna silver kalau tidak salah." teriak orang itu. "Oh.. Terima kasih ya pak!" sahut Fix. "Ya, sama-sama nak." terima orang itu. Kemudian Fix pun mengSMS Eka. "Xenia warna silver ya. Reza, kau bisa kan?" tanya Eka dengan nada keras pada Reza, karena mereka sedang naik motor. "Sip!" terima Reza. "Hey, berhenti dulu. Lihat di jalan tanah itu. Ada bekas ban mobil baru!" ujar Reza sambil mengerem. Lalu Andri pun ikut berhenti. "Coba cek bekas ban itu, Dri!" suruh Eka. Kemudian Andri turun dari motornya lalu mengamati sebentar bekas ban itu, lalu kembali lagi ke motornya. "Jenis ban yg sama dengan yg tadi." kata Andri. "Hmm.. Baiklah. Kita ikuti jejak ini. Ini petunjuk kita satu-satunya." ujar Eka, meminta mengikuti jejak ban mobil itu. Lalu mereka pun meneruskan perjalanan. "Stop!! Semuanya berhenti." perintah Reza pada yg lainnya. "Hey, ada apa?" tanya Andri. "Lihat, yg didepan itu. Kelihatannya ada blockade yg harus kita tembus." ujar Reza. "Hmm.. Apa harus aku turun tangan?" tanya War. "Yg ini biar aku saja yg tangani." ujar Andri sambil menarik gas, dan motor pun sampai standing. Eka kaget dan langsung berpegangan erat pada Andri. "Waduh, dri. Nyesel aku semotor denganmu!" teriak Eka. "Ha..ha.. Ayo kita beraksi..!!" kata Andri dengan penuh semangat. "Hey! Hey! Awas!!" teriak orang-orang yg menjaga jalan itu. Kemudian orang itu kocar-kacir takut tertabrak oleh Andri. Lalu Reza pun mengikuti dari belakang. Tidak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah villa. Dan bisa dilihat dengan jelas mobil silver yg di gunakan untuk menculik Siska. "Hey, itu mobilnya!" ujar Reza. "Ya, aku juga lihat, za." sahut Andri. "Hey, ada apa dengan Eka kok dia diem aja?" tanya Reza. "Ha..ha.. Mungkin dia masih 'soak' ama yg tadi." jawab Andri dengan tenang. Lalu mereka pun berhenti, walau masih jauh dengan villa itu, karena mereka cari jarak aman. "Bagaimana ini, Eka? Apa kau punya rencana?" tanya War. "Kita pakai cara yg biasa. Kau sudah mengerti kan, War. Ini sudah hampir tengah malam. Kita harus selesaikan sebelum pagi. Apa kalian sanggup?" tanya Eka setelah menjawab pertanyaan War. "Ok!" terima Andri. "Sip!" sahut Reza. "Baiklah." jawab War. "Ok, ayo kita mulai." ujar Eka sambil memberi kode untuk maju. Kemudian mereka pun menyelinap lewat dinding pinggir, batas tanah villa itu. Mereka pun terus mendekati villa itu diam-diam. Akhirnya mereka pun sampai di dekat garasi villa itu. "Hati-hati, pintu depan di jaga oleh 2 orang berbadan kekar." kata Reza mencoba mengingatkan. Tapi ternyata War sudah ada di pintu depan dan berhasil mengalahkan 2 orang yg dimaksud Reza itu. Terlihat 2 orang itu sudah rubuh. "Dasar.. Ternyata perkataanku sama sekali tidak dianggap." gerutu Reza. "Kenapa dia sudah ada disana? Bukankah tadi dia ada di belakang kita?" tanya Andri, heran. "Kau belum tahu kekuatan seorang War yg sebenarnya. Dia itu bisa bergerak lebih cepat daripada angin." jelas Eka. Kemudian mereka pun menuju pintu depan, menghampiri War. "Kalian lambat sekali." komentar War sambil menendang mendobrak pintu sampai ambrol.
Brak!!
Daun pintu itu pun terlempar jauh. Hal itu pun mengundang para preman yg sedang bersantai di ruang tengah. Tanpa banyak bicara, War bergerak secepat kilat dan bertarung dengan para preman itu. Walau tubuh preman itu besar-besar, tapi terbukti dengan skill bertarung War yg tinggi, para preman itu bukanlah apa-apa di hadapan War. Tapi karena jumlah yg terlalu banyak, War pun akhirnya kewalahan juga. Dan War pun terkena pukulan keras dari salah seorang preman itu sehingga di terhuyung-huyung kebelakang. "Rasakan ini, bocah!!!" ucap salah seorang preman lagi mencoba memukul War. Tapi tiba-tiba..
Teph!!
Tangan preman itu di tahan oleh Reza yg datang membantu. "Ayolah, jangan bersenang-senang sendiri." ujar Reza sambil tersenyum dan tetap menahan tangan preman itu. "Hey, awas di belakangmu!!" teriak War. Lalu dengan sigap Reza menundukan tubuhnya, dan dengan bertopang pada punggung Reza, War melakukan tendangan lompat ke wajah kedua preman itu. "Hey, kenapa mangsaku juga kau sikat?" tanya Reza. "Maaf, kawan." sahut War. "Andri! Eka! Disini biar kami yg hadapi! Kalian cepat cari Siska!" suruh War sambil bertarung. "Baik." terima Eka. Kemudian Andri dan Eka pun pergi ke lantai atas dan mencari Siska. "Hmm.. Ada pengganggu rupanya!" ujar orang yg berdiri di samping kursi dimana tubuh Siska di ikat. "Pangeran! Awas! Dia bawa pistol!" teriak Siska, karena mulutnya tidak di sumbat, jadi dia bisa bebas berbicara. "Apa? Andri cari sesuatu untuk berlindung!" perintah Eka. Kemudian mereka pun segera mencari tempat berlindung. Orang itu pun mengeluarkan pistol dan menembaki Eka dan Andri. "Suara pistol." ujar Reza. "Ya, benar." sahut War. "Ayo segera kita susul mereka." ajak Reza. Kemudian Reza dan War pun menyusul mereka. Sementara itu, Eka masih di tembaki sambil berlari mencari tempat sembunyi. Lalu Eka pun bersembunyi di belakang sofa. Tapi ternyata sofa itu tidak dapat menahan peluru. "Sial! Aku harus bertahan sampai pelurunya habis." pekik Eka. "Ha..ha.. Ayo keluarlah kalian!" ujar orang yg menembaki Eka dan Andri itu. "Dia berhenti menembak. Hmm.. Kalau isinya 20 peluru, kalau di hitung-hitung dia sudah mencoba menembakku 10 kali dan Andri 7 kali. Berarti sisa 3. Dari sini ke sana jaraknya sekitar 7 meter. Berarti butuh waktu sekitar 2, 45 detik untukku dengan berlari. Tapi aku butuh pengalih perhatian." gumam Eka sambil menganalisa. "Hey, Eka!" panggil Reza sambil berlari menaiki tangga. "Ada lagi rupanya." ujar orang yg menculik Siska itu sambil mencoba menembak Reza.
Dor! Dor! Dor!
Tapi untung Reza ditarik dari belakang oleh War, dan peluru itu hanya mengenai dinding saja. "Sekarang!" teriak Eka sambil berlari ke arah orang itu dan memukulnya hingga terjatuh. Kemudian dengan cepat dia menghampiri Siska dan melepaskan ikatannya. "Matilah kau!" teriak orang itu sambil menembakan peluru terakhir. "Awas!!" teriak Siska sambil berpindah menghalangi tubuh Eka. "Tidak. Jangan." gumam Eka sesaat sebelum peluru itu mengenai Siska. "Arrggh!" rintih Eka yg ternyata sudah berada di depan tubuh Siska. Lalu Eka pun rubuh di depan Siska. "Ha..ha..ha.. Rasakan itu, dasar bodoh.." ujar orang itu sambil tertawa kegirangan. Kemudian dengan cepat War menendang kepala orang itu dengan tendangan putar. Lalu Andri juga menghantam lagi pundak orang itu dengan dua tangan yg disatu kepalkan. Lalu Reza melompat dan menimpa kedua pergelangan pangkal tangan orang itu dengan kakinya sehingga terdengar suara tulang yg patah keras sekali. "Arrrrrgggghhhhhh........!!!" teriak orang itu merintih kesakitan. "Jangan ganggu ketua kami, karena kami akan marah. Sangat amat marah, jika orang yg paling kami hormati itu dilukai secara fisik ataupun hati." ujar Andri, Reza, dan War secara serentak. "Kau tidak apa-apa, Ka?" tanya Andri. "Tidak. Aku tidak apa-apa." jawab Eka sambil menahan sakitnya, karena bahu kirinya terkena tembakan tadi. "Pangeranku, maafkan aku. Gara-gara aku kamu jadi terluka. Maafkan aku.." pinta Siska dg amat menyesal. "Hmm.. Siska, aku tidak apa-apa kok. Lagipula ini karena kesalahanku sendiri. Aku salah menganalisis, karena kukira pelurunya ada 20. Ternyata aku memang ceroboh." jelas Eka sambil mencoba berdiri. Lalu Siska pun membantu Eka berdiri dan memapahnya. Lalu mereka pun keluar villa. Sementara itu, Andri menelpon yg lainnya lalu menghubungi polisi. Kemudian para Pasopati yg lain pun datang beserta polisi. "Wah, Eka kenapa?" tanya Liez. "Kecium pelor, honey." jawab Andri. "Alah, lebay lu dri." komentar Radith. "Ayo cepat kita bawa Eka ke rumah sakit." ajak Fix. "Ok!" jawab Pasopati yg lain. Kemudian Eka pun di bawa ke rumah sakit. Setelah di rawat, besoknya ia sudah bisa sekolah. Dan para pasopati boys pun di marahi oleh wali kelasnya. "Kalian ini bodoh ya? Kalian tahu kan itu tuh bahaya. Kenapa kalian tidak nunggu polisi datang dulu? Kalian jangan gegabah! Kalau kalian mati, gimana?" kata wali kelas yg tidak lain adalah guru fisika mereka. Para Pasopati boys hanya bisa tertunduk saja, dan tak bisa bicara apapun. "Ibu tak mau kalau sampai kehilangan kalian. Kalian adalah siswa kesayangan ibu. Walau kalian senakal, sejail, dan sediam apapun. Kalian sudah ibu anggap sebagai anak-anak ibu." ujar guru fisika itu sambil meneteskan air mata, lalu memeluk mereka berenam. "Aduh ibu, kami tuh bukan anak kecil lagi." tolak Radith. "Ssst.. Radith." ucap Eka pada Radith sambil memberi kode untuk diam. Radith pun mengerti. Selang beberapa hari, akhirnya Siska masuk kedalam Pasopati. Dan setelah Eka akhirnya mau membuka hatinya untuk cinta yg baru, Eka pun mau menerima Siska. Saat mereka duduk bersama di depan perpustakaan dan memandang langit bersama, mereka saling bertukar pikiran. "Hmm.. Siska." panggil Eka. "Apa, pangeranku?" sahut Siska dengan manjanya. "Aku suka sekali melihat langit." ujar Eka. "Emang ada apa sih dilangit?" tanya Siska. "Hmm.. Yg aku carinya gak ada sih. Aku nyari nya pelangi. Eh ternyata pelangi nya pindah ke senyummu. Wuih.. Indahnya.." puji Eka. "Ah kamu bisa aja." kata Siska tersipu malu. "Oh ya, pangeranku. Emang ada kejadian apa sih di masa lalu, sampai-sampai bikin kamu berubah total?" tanya Siska, penasaran. "Iya deh, akan ku ceritakan. Tapi nanti ya..." jawab Eka sambil memencet hidung Siska dengan halus. Dan akhirnya Eka kembali jadi dirinya yg sejati. Bersama Siska, dia terlihat begitu bahagia. Dan cerita pun masih akan berlanjut.
Karya: Aleka Rizki Aryadi.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan dalam nama, tempat atau kejadian itu bukanlah karena kesengajaan tapi karena kebetulan semata.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.