Said 3: Ririn Chronicles


Ririn yang kita tahu adalah perempuan yang selalu berkorban demi Dani dan Iweth ternyata mencintai Dani seperti halnya Iweth. Ririn sangat ingin memiliki Dani, tapi dia rela mengorbankan keinginannya itu demi terjaganya hubungan Dani dan Iweth. Tidak lama setelah Iweth berubah, Ririn pun bermaksud untuk memasrahkan Dani. Saat akhir semester 1, Ririn yang sedang berjalan sendiri di jalan menuju rumahnya, termenung sembari berpikkir, “Apa aku bisa lewati semua ini? Tapi tak mungkin Iweth mau membagi Dani untukku. Mungkinkah ku pasrahkan saja Dani untuk Iweth saja dan ku pergi?”. Ririn terus-menerus bergumam tentang hal itu dalam pikirannya hingga ia sampai di rumah. Saat sampai di rumah, Ririn langsung masuk ke kamarnya. Ibunya pun merasa aneh dengan Ririn yang biasanya ceria sekarang jadi murung. “Ada apa dengan anak itu? Gak biasanya dia murung gitu.” ujar ibunya Ririn yang sedang nonton TV di ruang tengah dan melihat Ririn masuk ke kamar dengan wajah di tekuk. Maka ia pun masuk ke kamarnya Ririn dan duduk di samping Ririn yang termenung duduk di ranjang sambil menghadap ke jendela. “Wah..wah.. anak ibu yang cantik nih kenapa sih? Gak biasanya murung gini. Ada apa? Coba cerita ke ibu.” bujuk ibunya Ririn sambil mengelus-ngelus rambut Ririn. Tapi Ririn tidak menjawab dan terus diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ibunya pun tampak khawatir dan kemudian turun dan berjongkok di depan Ririn sambil memegang dan mengangkat wajah Ririn yang tertunduk lesu. Kemudian ibunya itu pun menatap mata anaknya itu dan tersenyum berusaha menenangkan hati anak tunggalnya itu. “Sayang.. ayo dong cerita ke ibu. Kalau kamu terus diam gini, bagaimana cara ibu ngasih sarannya. Ibu juga pernah muda, jadi kalau masalah cinta mungkin ibu bisa bantu.” bujuk ibunya Ririn lagi sambil mengusap air mata yang berada di sela mata Ririn. Tapi Ririn tetap saja diam dan tak mau bicara. Ibunya itu pun mengambil kesimpulan kalau memang ini ada kaitannya dengan cinta, karena terlihat jelas dari ekspresinya Ririn saat mendengar ia menyinggung masalah cinta. “Kalau memang ada laki-laki yang kamu sukai di sekolah, maka kamu haru perjuangkan dia. Cobalah buktikan kalau kamu mencintainya. Pasti dia juga akan mengerti. Kalau tak bisa dengan kata-kata maka dengan perbuatan.” ujar ibu berumur 34 tahun itu menasihati anaknya. Sedikit demi sedikit ekspresi wajah ririn berubah saat mendengar nasihat itu, kemudian ibunya pun melanjutkan, “Kalau dia menolakmu untuk sebuah alasan, maka tunggulah sampai alasannya itu hilang. Atau kalau tak hilang, maka kamu yang harus menghilangkannya.” tambah ibunya Ririn. “Menghilangkan alasan? Bagaimana caranya?” tanya Ririn yang akhirnya mau bicara juga. “Ya dengan perbuatan, jangan hanya berkata tanpa berbuat. ‘talk less do more’.” jawab ibunya sambil tersenyum dan lalu memeluk Ririn. “Ririn sayangku, kamu memang sudah waktunya untuk merasakan apa itu cinta. Tapi kamu jangan hanya merasakannya sendiri. Hilangkanlah keegoisan dari cinta itu dan rasakanlah cinta sejatimu. Biarkan cinta mengalir dan tunjukkan jalannya untukmu.” tambah ibunya sambil memeluk Ririn.
Malam harinya, Ririn sibuk menulis puisi di kamarnya. “Rin, makan dulu. Kamu belum makan dari siang.” teriak ibunya dari ruang makan memanggil Ririn. “Ya, bentar mah..” sahut Ririn dari dalam kamarnya. “Mah, emang kenapa dengan Ririn. Kok dia dari tadi sore gak mau keluar kamar?” tanya ayahnya Ririn. “Biasalah.. anak muda. Lagi ada masalah cinta ya gitu.” jawab ibu. “Dasar anak muda..” gerutu ayah. “Ah.. kayak yang gak pernah muda saja.” sahut ibu. Tidak lama kemudian Ririn pun keluar dari kamarnya dan langsung ke ruang makan dan duduk bersama ayah dan ibunya. Ia tampak sudah tak murung lagi dan wajahnya tampak berseri. “Sst.. mah katanya dia lagi ada masalah cinta. Kok gak kelihatan lagi ada masalah?” bisik ayah kepada ibu. “Tenang yah, kan udah ibu beri obat paling manjur.” sahut ibu dengan nada pelan. “Apaan tuh?” tanya ayah. “Rahasia perempuan dong.” jawab ibu sambil tersenyum. “ Ah, mamah suka rahasia-rahasiaan deh. Gitu ah..” gerutu ayah. “Kalian kenapa bisik-bisik gitu sih? Ada apa? Apa ada yang salah denganku?” tanya Ririn, heran. “Gak ada apa-apa kok. he..he..” jawab ayah. Lalu mereka pun melanjutkan makan mereka. Setelah selesai makan, Ririn melanjutkan membuat puisinya. Ia melakukannya dengan serius. Puisi itu pun berjudul, ‘penantian cinta’. Saat itu sekitar pukul 10 malam dan puisi itu pun baru selesai. Dan akhirnya Ririn pun bisa tidur dengan tenang.
Esok harinya saat di kelas, yang memang saat itu ada pelajaran bahasa Indonesia. Dan ketika itu memang ada tugas membuat puisi. Tapi Ririn tenang saja karena ia sudah membuatnya saat di rumah. Dia pun jadi tak sabar untuk membacakannya. “Aduh.. kok giliranku lama sekali ya? Euhh..” keluh Ririn yang tak sabar menunggu gilirannya. “Dani, ayo maju dan baca puisimu!” suruh guru bahasa Indonesia itu pada Dani. “Ah, Dani!?” ucap Ririn yang terkejut saat mendengar ini adalah giliran Dani untuk membacakan puisinya. Dani pun maju ke depan dan mulai membacakan puisinya.
“Hati Yang Terbagi”

“Aku yang terhenti di keheningan..
Tertunduk lesu di tengah kegelapan..
Mendadak hati ini serasa kebingungan..
Aku yang tersesat dan tak tahu jalan..

Sepi merujuk hati yang beku..
Melayukan bunga yang hendak mekar..
Sungguh hati terkejut kala ku tahu..
Dua bidadari tiba dan tanamkan cinta..

Mesti ku pilih yang manakah..
Apakah dia atau dirinya..
Inginnya ku pilih keduanya..
Tapi akankah mereka terima.."
Para siswa yang lain pun bersorak saat Dani selesai membacakan puisi itu. Ririn juga begitu terkejut, ternyata dalam puisi itu menceritakan tentang apa yang terjadi padanya. “Dani..” ucap Ririn sambil tersenyum malu. Lalu Dani pun duduk kembali di tempatnya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya giliran Ririn pun tiba. “Baiklah, sekarang giliran si putri IPS, Ririn..” ucap guru bahasa Indonesia itu. “Yeah...” sorak semua siswa di kelas itu kepada Ririn. Ririn pun maju sambil tersenyum malu karena sorakan  teman-temannya itu. Ririn mulai membacakan puisinya.
“Penantian Cinta”

“Ketika cinta hinggap di dada..
Ketika kasih masuk dalam hati..
Takkan ada yang bisa menyangkal..
Takkan ada yang bisa menghalangi..

Tapi cinta pun beralasan..
Katanya cinta sudah ada yang punya..
Walau hati rasa keberatan..
Namun daku sudah terlanjur cinta..

Ku kan rela menanti cinta..
Ku juga rela cinta di dua..
Asal daku tak kau sakiti..
Asal cinta dapat kumiliki..

Penantian ini penuh dengan perih..
Daku takkan menyerah walau hati pedih..
Cinta bagiku adalah segalanya..
Tanpa cinta dunia kan hujan selamanya..”
“Wuih...!!!!” teriak para siswa lain bersorak untuk Ririn saat selesai membacakan puisinya. Dani hanya bisa terbengong mendengarkan puisi Ririn tersebut. “Apa dia bisa mengerti maksud puisiku tadi ya?” tanya Ririn dalam hatinya sambil tersenyum malu. Kemudian Ririn pun kembali ke tempat duduknya. Saat duduk, Ririn sering melirik-lirik kecil ke arah Dani karena penasaran ingin melihat respon Dani setelah mendengarkan puisinya itu. “Hey dan, liat tuh si Ririn liatin kamu terus sambil senyum-senyum gitu. Apa kamu gak mau balas senyum ama dia?” bisik Rico bertanya pada Dani yang duduk di sebelahnya. “Emang harus ya?” tanya Dani balik. “Ya iyalah. Kalau kamu cuek gitu nanti dia sakit hati. Kan kamu dengar sendiri puisinya barusan? Dia tuh gak ingin disakiti ama kamu yang ia sayangi.” jelas Rico. “Hmm.. baiklah.” sahut Dani. Kemudian saat Ririn melirik lagi ke arah Dani, Dani pun senyum pada Ririn. Ririn pun terkejut dan langsung membalikan wajahnya karena malu dan kaget. Hatinya berdebar-debar. “Aduh, dia senyum padaku. Apa dia tahu maksud puisiku tadi ya?” ucap Ririn dalam hatinya sambil tersenyum malu. “Tuh kan, dia memalingkan mukanya. Artinya dia gak suka kalau aku senyum padanya.” ujar Dani pada Rico saat setelah Ririn membalikan wajahnya. “Ah, kamu tuh emang gak ngerti cewek ya? Dia memalingkan muka bukan karena dia gak suka, tapi karena malu. Pasti sekarang juga dia lagi senyum-senyum sendiri.” sahut Rico. Bel istirahat pun berbunyi dan pelajaran bahasa Indonesia pun berakhir.
Saat istirahat, Ririn seperti biasa pergi ke perpustakaan. Disana ia mencari buku kesukaannya, yaitu novel. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya ia menemukan sebuah buku. Yaitu sebuah buku lanjutan dari buku yang pernah di bacanya dulu. Yaitu, ‘ketulusan cinta 2’. “Wah.. ternyata yang lanjutannya udah keluar. Hmm.. Dani pasti suka. Aku mau kasih tahu dia ah..” kata Ririn saking senangnya. Kemudian dia pun buru-buru ke kelas untuk menemui Dani yang memang masih ngobrol dengan Rico. “Dan!” panggil Ririn dari pintu. “Apa?” sahut Dani bertanya. ”Kesini dulu deh.” pinta Ririn. Kemudian Dani pun menghampiri Ririn. “Ciiee..ciiee.” goda Rico. “Ada apa sih, rin?” tanya Dani karena heran. Tapi Ririn tidak menjawab dan malah menarik tangan Dani dan membawan Dani ke perpustakaan. “Hei.. ada apa sih, rin? Kok kamu bawa aku kemari?” tanya Dani saking penasarannya. ”Lihat dan, ada novel terbaru. Ini novel kesukaanmu kan?” kata Ririn sambil menunjuk sebuah buku novel di depannya. Dani pun mengambilnya. “Wow.. ini lanjutannya ya.” ujar Dani dengan nada kaget. “Sst..” desis orang-orang yang sedang di perpustakaan itu karena Dani dan Ririn yang terlalu berisik. “He..he..he.. maaf..” ucap Dani sambil tersenyum bodoh. “Terima kasih ya, rin. Kamu udah ngasih tahu aku.” kata Dani sambil memeluk Ririn saking bahagianya dan lalu pergi ke penjaga perpustakaannya untuk meminjam buku tersebut. Begitu pula dengan Ririn. Lalu mereka pun membaca di kelas bersama-sama. Tidak berapa lama Iweth pun datang. “Hai, ayang. Lagi apa nih?” sapa Iweth. “Ini aku lagi baca novel lanjutan yang kemarin.” jawab Dani. “Ooh.. lalu Ririn juga lagi apa?” tanya Iweth lagi pada Ririn. “Sama kayak Dani. Aku juga lagi baca novel.” jawab Ririn sambil tetap membaca buku itu. “Hmm.. gitu ya. Apa aku boleh duduk di samping Dani?” tanya Iweth lagi pada Ririn. “Ya, silahkan.” sahut Ririn sambil memberikan tempat duduknya pada Iweth. Dan sekarang Ririn pun duduk bersama Rico. “Rin, kamu yakin gak mau katakan yang sejuurnya saja pada mereka?” tanya Rico. “Ric, aku tuh gak mau ngeganggu hubungan mereka.” jawab Ririn singkat saja. “Hmm.. kalau gak dicoba gak akan tahu kan.” ujar Rico. “Ah, udah ah. Jangan bahas itu kalau ada Iweth, aku takut nanti hubunganku ama mereka berdua rusak gara-gara itu.” cegah Ririn. Lalu Ririn pun pergi keluar karena merasa terganggu didalam.
Sepulang sekolah, Ririn langsung masuk ke kamarnya dan membaca novelnya itu. Saat sedang asik-asik membaca novel, tiba-tiba ibunya masuk ke kamarnya. “Ririn, gimana? Apa laki-laki yang kamu sukai itu sudah menerimamu?” tanya ibunya sambil duduk di samping Ririn yang sedang membaca novel sambil telungkup di ranjang. “Sudahlah bu, jangan bahas itu dulu. Ririn ingin nenangin hati Ririn dulu.” sahut Ririn. “Kalau kamu tidak mencobanya sekarang mau kapan lagi?” ujar ibunya sambil mengelus rambut Ririn. “Mungkin nanti.” jawab Ririn. “Ya sudah, kalau kamu memang lagi gak mau ya gak apa-apa.” ujar ibunya yang lalu keluar dari kamar itu. Ririn pun jadi sedih memikirkan nasibnya itu.Dia pun ingat pada masa lalunya saat di kelas dua. Saat itu dia begitu dekat dengan Dani, tapi dai malah tak berani mengungkapkannya. Dia sering memperhatikan Dani yang sering mengikuti Iweth secara diam-diam. Dan saat paling bahagia saat itu adalah saat ia pergi ke rumah Dani untuk belajar bersama. Saat itu ia dikira sebagai pacarnya Dani. tapi ia tidak tahu kalau Dani terluka karena habis menolong Iweth yang hampir tertabrak. Ririnlah yang saat itu membalut luka Dani. “Rin, wajahmu kenapa merah gitu?” tanya Dani saat itu saat lukanya di perban oleh Ririn. “Emang wajahku merah ya?” tanya Ririn balik yang dalam hatinya terkejut. “Ya, terlihat jelas dari sini. Apalagi wajahmu deket banget ama wajahku.” jawab Dani yang wajahnya juga memerah. “Gitu ya.. ya maaf. Mungkin aku gugup deket ama kamu.” jawab Ririn blak-blakan. “Kenapa harus gugup?” tanya Dani lagi. ”Udah ah, jangan nanyain itu terus.” sahut Ririn menolak menjawab. Lalu setelah selesai mebalut luka Dani, Ririn pun mengambil buku dari tasnya dan mulai belajar bareng Dani. Saat mereka sedang asik belajar, tiba-tiba pulpen Ririn jatuh ke bawah meja. Ririn pun mencarinya. “Aduh.. dan, pulpenku ilang.” ujar Ririn karena tidak menemukan pulpennya. Dani pun kemudian turun juga ke bawah meja untuk membantu Ririn, dan saat itu ibunya Dani lewat. “Ehm.. Kalau mau ciuman jangan dibawah meja atuh.” kata ibunya Dani sambil berdehem. Ririn dan Dani pun kaget dan lalu bermaksud berdiri, tapi karena mereka terburu-buru kepala mereka berdua pun kepentok meja. “Aduh!” rintih mereka berdua saat kepala mereka kepentok meja. Ibunya pun tersenyum melihat tingkah mereka. “Aduh.. bu. Kami tuh bukan lagi ciuman.”ujar Dani sambil memegangi kepalanya yang kesakitan. “Lalu kenapa kalian sampai kaget gitu, sampai-sampai kepala kalian kejedot?” tanya ibunya lagi. “Ya kami lagi cari pulpen, tapi karena ibu ngomongnya gitu, kami jadi kaget.” jelas Dani. “Iya bu, eh maksudku tante. Pulpenku jatuh ke bawah meja, lalu kami mencarinya.” tambah Ririn. “Udah, panggil ibu juga gak apa-apa. Kan kamu calon mantu ibu.” ujar ibunya Dani sambil tersenyum. “Ahh..ibu..” sahut Dani sambil menghela nafas lalu menggelengkan kepala. Ririn pun senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian saat itu.
Hari sabtu pun tiba, dan Ririn pun mengenakan baju pramuka kesayangannya. Dia terlihat sangat cantik saat memakai baju pramuka. Lalu ia pun berangkat dengan penuh semangat. Saat tiba di sekolah, yang paling dulu ia hampiri adalah Dani. “Hai, dan.” sapa Ririn sambil tersenyum manis. “Hai juga..” sahut Dani. Lalu ia pun duduk di samping Dani, dan Dani pun terlihat tak menolak. ”Dan, apa malam minggu ini aku boleh belajar bersama lagi kayak waktu itu?” tanya Ririn sambil malu-malu. “Hmm.. kayak waktu itu?” ucap Dani yang kemudian wajahnya memerah saat ingat kejadian saat belajar bersama di rumahnya waktu kelas dua. “Ya. Apa boleh?” tanya Ririn lagi. “Hmm.. gimana ya? Aku udah ada janji sama Iweth. Aku gak enak kalau ngebatalinnya.” jawab Dani. “Oh gitu ya. Ya udah gak apa-apa kalau gak bisa.” sahut Ririn dengan nada kecewa yang lalu pergi ke tempat duduknya. Dani merasa bersalah karena menolak Ririn. “Dia semakin lama semakin terlihat cantik. Dia memang pantas mendapat julukan putri IPS. Tapi kenapa dia bisa jatuh cinta padaku, dan kenapa aku juga menolaknya.“ ujar Dani memuji Ririn dan menyesal dalam hatinya. Saat malam minggu tiba, Dani dan Iweth pun jalan bersama, sedangkan Ririn diam di rumah sambil melihat bintang-bintang dari jendelanya. Ibunya terus memperhatikan Ririn dari luar pintu kamar Ririn yang sedikit terbuka. Karena tak tahan lagi melihat anaknya yang di luputi kesedihan, ibunya pun masuk dan menghampiri Ririn. “Kamu kenapa sih sedih terus. Katanya udah gak mau mikirin itu lagi? Kok masih sedih aja?” tanya ibunya. “Tapi walau gak dipikirin juga, perasaan ini entah kenapa selalu ada di hati Ririn. Ririn gak pernah bisa mengelak” ujar Ririn yang lalu menangis dan memeluk ibunya. “Perasaan itu jangan di pendam. Kamu harus mengeluarkannya. Berbagilah dengan orang yang kamu percayai, supaya tidak terlalu berat. Kalau kamu butuh teman curhat, ibu siap kok jadi temen curhatmu.” tawar ibu. “Terima kasih ya bu. Hanya ibu yang ngerti aku.” ucap Ririn sambil menangis. Sementara itu, Dani dan Iweth sedang jalan-jalan. “Dan, aku mau tanya sesuatu boleh gak?” tanya Iweth pada Dani yang sedang ia gandeng. “Ya, silahkan.” terima Dani. “Apa kamu suka pada Ririn?” tanya Iweth. ”Kenapa kamu tanya seperti itu?” tanya Dani balik dengan sedikit kaget akan pertanyaan Iweth tersebut. “Udah jawab aja, apa kamu suka pada Ririn? Aku gak akan marah kok.” bujuk Iweth sambil tersenyum meyakinkan Dani. “Hmm.. sebenarnya aku memang suka padanya. Tapi bukan sebagai pacar kok, hanya sebagai sahabat.” jawab Dani dengan sedikit takut. “Seandainya suka sebagai kekasih juga gak apa-apa. Aku akan terima kok. Asal kamu bisa janji gak akan lupain aku saat bersama dia.” ujar Iweth sambil bersandar di bahu Dani. Dani pun kaget mendengar perkataan Iweth barusan. Ternyata Iweth mengijinkannya untuk mendua. “Udah ah kamu jangan bercanda.” ujar Dani dengan nada tidak percaya. “Aku serius. Tapi kalau gak mau ya gak apa-apa.” sahut Iweth. “Tapi kenapa kamu tiba-tiba ngijinin aku menduakanmu?” tanya Dani, penasaran. “Ya aku sedih aja melihat Ririn yang semakin lama semakin hilang cahayanya. Keceriaannya semakin berkurang. Aku juga tahu dia suka sama kamu, dan aku memang gak rela memberikanmu padanya. Tapi aku juga perempuan, dan aku mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Ririn sekarang. Pasti sekarang dia sedang menangis di kamarnya. Dia sudah banyak berkorban untuk kita, untuk diriku. Dan sekarang giliranku untuk berkorban untuknya.” jelas Iweth. “Aku bangga padamu. Kamu memang tak seperti perempuan yang lain. Perbedaanmu adalah kelebihanmu. Aku benar-benar bahagia memiliki intan terindah di bumi sepertimu.” kata Dani sambil memeluk Iweth. “Terima kasih ayang..” sahut Iweth sambil merangkul Dani. “Bagaimana kalau malam ini kamu ke rumah Ririn.” ujar Iweth. “Hmm.. malam ini?” tanya Dani, kaget. “Ya, malam ini. Nanti aku yang anterin deh.” tawar Iweth. “Ya, kalau kamu mau ya baiklah.” terima Dani. Kemudian mereka pun pergi ke rumah Ririn.
Ririn pun masih menangis dirumahnya. Ibunya pun masih berusaha untuk menenangkan Ririn. “Tenanglah sayang, ibu yakin kok kalau nanti laki-laki itu akan datang kemari dan mengatakan kalau dia cinta padamu dan dia menerima cintamu.” ujar ibunya. Tapi Ririn tidak percaya dan tetap menangis. “Kalau kamu gak percaya juga gak apa-apa. Tapi feeling seorang ibu tak mungkin salah.” kata ibunya lagi. Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor dari luar. “Suara motor siapa itu bu?” tanya Ririn. “Hmm.. mungkin ayahmu baru pulang.” jawab ibunya. Kemudian ibunya Ririn pun keluar untuk melihat siapa itu. “Selamat malam tante. Apa Ririnnya ada?” sapa pemilik motor itu yang ternyata adalah Iweth. “Ada. Ayo silahkan masuk.” ajak ibunya Ririn pada Iweth. “Ayang.. ayo kemari..” panggil Iweth pada Dani yang diam dekat motor. Dani pun menghampiri Iweth dan lalu masuk bersamanya. Ibunya Ririn pun mempersilahkan Iweth dan Dani masuk ke kamar Ririn. “Rin..” sapa Dani. Betapa kagetnya Ririn mendengar suara Dani, dan ia pun berbalik. “Dani.. Iweth..” sahut Ririn. “Ririn.. kamu kenapa nangis?” tanya Iweth dengan nada khawatir yang lalu menghampiri Ririn. “Hmm.. gak kenapa-napa kok. Kalian kenapa ada disini?” sahut Ririn sambil bertanya balik. “Sebenarnya ada yang ingin kami katakan padamu.“ jawab Iweth. “Mengatakan apa?” tanya Ririn lagi. “Mungkin yang lebih tepatnya bukan kami, tapi Dani yang ingin ngomong.” jelas Ririn. “Dani.. ada apa?” tanya Ririn pada Dani dengan penasaran. “Euhh.. aku.. aku..” ucap Dani terbata-bata. ”Kamu kenapa?” tanya Ririn lagi tambah penasaran. “Aku.. sebenarnya..” ucap Dani lagi dengan sedikit deg-degan. “sebenarnya apa?” tanya Ririn lagi semakin penasaran. ”Aku cinta kamu.” jawab Dani dengan singkat. Ririn terkejut mendengar pernyataan Dani tersebut. “Kamu gak perlu khawatir. Aku udah rela kok berbagi Dani buatmu. Aku rela jadi Sylla seperti dalam novel.” ujar Iweth menenangkan Ririn. “Benarkah, weth?” tanya Ririn. “Iya.” jawab Iweth sambil tersenyum. “Apa aku boleh memeluk Dani?” tanya Ririn lagi pada Iweth. “Kenapa harus ijin dulu? Sekarang kan dia juga udah milik kamu.” ujar Iweth. Kemudian tanpa ragu-ragu lagi Ririn pun memeluk Dani dengan erat sekali, karena setelah penantian yang sangat lama akhirnya ia bisa juga memeluk Dani yang sangat ia sayangi. Dan mereka pun akhirnya berbagi  Dani bersama. Tapi walau begitu, mereka selalu akur layaknya sahabat. Tapi ada apakah sebenarnya yang membuat Iweth bersedia membagi Dani? Kita tunggu di cerita selanjutnya.

Tamat..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan dalam nama, tempat ataupun kejadian itu bukanlah karena kesengajaan, tapi karena kebetulan semata.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】