God Gendros Generations (3G), part 8


            Abdul berusaha menghindari serangan-serangan Selodom dan sementara itu Netros berhasil menyelamatkan Aisyah dari serangan raja kalajengking. “Kenapa kau terus menghindar, bocah? Apa kau sudah kehilangan keberanianmu? Haha..” ujar Selodom sembari menembaki Abdul dengan bola api. “Aisyah, kamu diamlah disini. Aku akan membantu Abdul.” Kata Netros sambil menurunkan tubuh Aisyah di bawah pohon. “Mmh.. baiklah.” Terima Aisyah. Netros pun tersenyum lalu lari lagi ke tengah pertempuran. “Tapi berjanjilah untuk kembali!” teriak Aisyah dengan nada khawatir. “Tenang saja, aku takkan mati disini.” Sahut Netros. “Oke, sekarang akan kugunakan jurus andalanku. Teknik Putaran, Roda Kematian!” ucap Netros yg lalu membulatkan tubuhnya dan menggelinding ke arah Selodom dengan sangat cepat. Selodom tak sempat menghindar dan kena telak di rusuk kanannya. Selodom pun berguling-guling karena terkena serangan itu. “Keparat! Gajah itu gerakannya cepat sekali.” Pekik Selodom menahan sakit. “Netros, kita lakukan itu.” Ujar Abdul. “Oke sahabatku.” Terima Netros. “Teknik Putaran, Angin Topan Kembar!!” teriak mereka berdua yg lalu berputar ke arah yg sama dan membuat dua pusaran angin raksasa. Selodom tak mau kalah. Ia pun gunakan jurus terkuatnya. “Elemen Api, Kuda Dari Neraka!” ucapnya yg lalu merubah dirinya jadi berjubah api dan berjirah magma. “Semburan Api Naga Neraka!!” teriak Selodom yg lalu melawan angin dengan semburan apinya. Namun sayang api itu malah bersatu dengan angin topan yg diciptakan oleh Abdul dan Netros dan membabat habis pasukan kalajengking yg memang lemah terhadap api. Angin topan itu semakin mendekat padanya bersama apinya sendiri. “Hasan, apa kamu tahu kelemahan siluman tipe api sepertinya?” tanya Abdul pada Hasan yg ada di belakangnya. “Siluman tipe api ya? Hmm.. mungkin tuan bisa coba bidik jantungnya. Atau sesuatu yg ada di tubuhnya yg tak ikut berubah jadi api.” Saran Hasan. “Oh.. begitu ya.” Ucap Abdul yg mulai mengerti. “Netros, saat anginnya berhenti, kau siap-siap menyerangnya dari bawah. Dan sisanya biar aku yg selesaikan.” Suruh Abdul pada Netros yg ada di depannya. “Baik.” Terima Netros. Selodom menahan angin bercampur api itu sendirian. Dia menghisap angin itu hingga habis. Tapi tiba-tiba Netros muncul dari dalam pasir dan menyerangnya. Selodom terpental ke atas dengan dada terangkat. “Disana rupanya.” Ucap Abdul yg melihat ada berlian merah di dada sebelah kiri Selodom. Kemudian dia merentangkan panahnya dengan salah satu kakinya menahan busur padah sementara tangan kanannya merentangkan anak panah. Dengan cara seperti itu, anak panah akan melesat dengan kuat dan menghancurkan berlian tersebut. “Rasakan ini!” teriak Abdul sambil melepaskan anak panah itu. Dan anak panah itu pun melesat tepat ke arah berlian dan menghacurkan berlian itu menembus tubuh Selodom. Tubuh Selodom yg tadinya berbentuk magma dan api pun kembali berubah seperti semula karena berlian itu hancur. Selodom pun jatuh karena jantungnya tertusuk panah dari Abdul. Abdul menghampiri Netros dan Selodom. Di tengah kesekaratanannya, Selodom berkata, “Kalian anak yg hebat. Ini pertama kalinya aku menggunakan kemampuan terkuatku. Aku akan memberikan kalian hadiah. Terimalah kekuatan apiku ini, kuharap kalian akan gunakan untuk hal yg lebih baik daripada saat aku menggunakannya. Dan jika kalian bertemu sahabatku, Salamander. Tolong sampaikan maafku padanya karena telah mengkhianati persahabatan kami. Aku malah memilih sesuatu yg fana dan memihak pada kegelapan.”. Lalu ada dua cahaya merah keluar dari tubuh Selodom dan masuk ke tubuh Abdul dan Netros. “Dengan itu kalian akan tahan terhadap api dan dingin. Aku senang bisa bertempur dengan lawan tangguh seperti kalian. Selamat tinggal..” ucap Selodom yg terakhir kalianya sebelum ia menutupkan matanya. Pertempuran itupun di menangkan oleh Abdul dkk. Abdul dan Netros pun kembali ke arah Oasis dan menghampiri yg lainnya.
            Fajar pun terbit, dan Abdul bersama Netros sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. “Kalian yakin takkan tinggal untuk beberapa saat lagi?” ucap Aisyah, khawatir. “Kami harus segera pergi menuju sekolah Zen-Ryu. Kami tak ingin ketinggalan pendaftaran yg akan dilakukan saat bulan baru.” Sahut Abdul. “Apa sekolah yg kau maksud adalah sekolah siluman tingkat tinggi itu?” sambung Hasan. “Hmm.. ya begitulah. Kami dapat rekomendasi dari tuan Raijuu.” Jawab Netros. “Kami tahu arahnya, kalian mau kami antar?” tanya Hasan lagi. “Tentu.” Terima Abdul. Kemudian mereka pun berjalan menuju timur Oasis tersebut. “Kami akan membawamu terbang, gajah muda.” Ujar Hasan. “Netros..” panggil Aisyah dari belakang. Netros pun menoleh ke arah Aisyah. “Berjanjilah kalau kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.” Ujar Aisyah dengan wajah merah. “Mmm.. baiklah.” Jawab Netros pelan karena gugup. “Ayo kita segera berangkat.” Ajak Abdul. Kemudian mereka pun berangkat. Netros pun dibawa terbang oleh Hasan dan Umar. “Netros..!! Aku sayang kamu..!!!” teriak Aisyah dari kejauhan. Netros kaget mendengar itu, dan wajahnya pun jadi amat merah. “Wah..wah.. kelihatannya ada yg punya pacar baru nih.” Goda Abdul sambil tertawa-tawa. “Ah.. kau ini.” Ucap Netros sambil berusaha menahan malu. Siang hari, mereka sudah sampai di perbatasan Nepal kalau di dunia manusia. “Kami hanya bisa mengantar sampai sini. Untuk selanjutnya kalian teruskan sendiri. Maafkan kami..” ucap Hasan. “Tak apa, Hasan. Tapi apa kami sudah dekat?” tanya Abdul. “Hmm.. setelah melewati pegunungan ini kalian akan sampai di sebuah lembah. Dari sana kalian tetap lurus dan kalian akan menemukan sebuah gua. Kalian masuk dan susuri gua itu, namun kalian harus hati-hati karena katanya banyak yg tewas sebelum sampai ke ujungnya. Dan di ujung gua itulah katanya sekolah itu berada.” Jelas Umar. “Kok katanya semua? Apa kalian belum pernah kesana?” tanya Netros. “Hehe.. kami memang belum pernah kesana. Namun ada seseorang yg mengatakannya pada kami.” Jawab Hasan. “Siapakah dia?” tanya Abdul. “Kami tidak tahu. Tapi dia memakai pakaian berwarna putih semuanya. Hanya rambutnya saja yg hitam. Namun walau begitu, rambutnya juga akan putih saat menggunakan kekuatan petirnya.” Jelas Hasan. “Jangan-jangan itu tuan Raijuu. “ ucap Abdul dan Netros. “Bisajadi.” Sahut Umar. “Sudahlah, kalian cepatlah berangkat. Karena bulan baru akan muncul satu minggu lagi.” Kata Hasan mengingatkan Abdul dan Netros. “Baiklah kalau begitu. Netros, ayo kita pergi.” Ucap Abdul. “Oke..” sahut Netros. Kemudian mereka berdua pun pergi, sementara Hasan dan Umar pergi kembali menuju Oasis.
            Siang itu tidak ada masalah untuk mereka, dan mereka berjalan dengan santai menaiki pegunungan. “Haha.. enak sekali. Kemarin kita kepanasan di gurun. Namun sekarang sejuk sekali di pegunungan ya.” Ucap Netros sambil tertawa menghadap Abdul yg terbang rendah di belakangnya. “Aku tak sependapat denganmu. Sekarang malah lebih parah.” Sahut Abdul sambil mengehtikan terbangnya dan menatap ke arah gunung selanjutnya. “Memang kenapa, sahabatku?” tanya Netros, bingung. “Lihatlah di depanmu.” Suruh Abdul. Saat itu mereka ada di puncak sebuah gunung, jadi sangat jelas melihat ke gunung yg ada di depannya. Netros pun menoleh kembali ke arah depan, dan kaget dengan apa yg dilihatnya kali ini. Dengan mulut menganga ia memperhatikan gunung yg tingginya 4 sampai 6 kali gunung yg mereka naiki. Dan puncak gunung itu tertutup salju. Sementara gunung lain setelahnya tidak terlihat tertutup kabut. “Kenapa cuma mau sekolah aja berat banget ya. Pertama sanggrai pasir, sekarang refrigator. Ya ampun..” ucap Netros sambil tertunduk. “Ayo, kita tak boleh menyerah disini. Kita pasti bisa melewati semuanya kalau kita bersama.” Ujar Abdul memberi semangat pada temannya tersebut. “Ya baiklah, bersama kita bisa lewati semuanya.” Ucap Netros yg kembali semangat. Di matanya terlihat api membara saking semangatnya. Kemudian Netros pun melangkah dengan semangat di depan Abdul. Abdul hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu lalu kembali terbang di belakang Netros. Saat sudah ¼ jalan, mereka berdua mulai merasa kedinginan. “Tetap semangat.” Ucap Netros sambil mengepalkan tangannya dan kembali melangkah. Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat bersalju. “Huachim..!” Netros bersin badannya menggigil kedinginan. “Tetap semangat..” ucap Netros dengan nada yg mulai lemah sambil mengepalkan tangannya. Abdul pun mulai berhenti terbang dan berjalan kaki. Ia memilih menggunakan sayapnya untuk menutupi tubuhnya supaya tidak kedinginan. Setelah ¾ jalan, Netros tampak kaku seperti membeku, namun tetap mengepalkan tangannya tanda semangat. Abdul mendorongnya naik dari belakang dengan sekuat tenaga. Akhirnya mereka pun sampai di puncak dengan susah payah. Abdul terlihat bertelungkup dan berusaha menutupi tubuhnya dengan sayapnya karena kedinginan. Sementara Netros sudah benar-benar beku. “Semoga setelah ini ada lembah yg hangat.” Kata Abdul sambil mengangkat kepalanya berusaha melihat gunung yg ia daki setelah ini. Ternyata yg ada di depannya malah lebih tinggi lagi. Mereka di kelilingi gunung-gunung bersalju yg super tinggi. Dan kalau di dunia manusia, mereka sedang berada di pegunungan Himalaya. Dataran disana terus naik dan naik hingga ke tempat tertinggi yg di sebut Everest. Atau kalau di pisah adalah Ever dan Rest. Dan kalau diartika artinya peristirahatan abadi. Karena dalam kepercayaan Hindu, orang yg baik akan mati masuk nirwana yg tempatnya berada di tempat tertinggi. Dan katanya para Pandawa juga mati menuju puncak gunung tersebut. “Ya tuhan, apa lagi ini?” kata Abdul sembari kembali membulatkan tubuhnya dan menutupinya dengan sayapnya. Kemudian Abdul berdiri dan  berkata, “Aku tak boleh kalah. Aku pasti bisa!”. Lalu ia pun kembali berjalan dan mendorong tubuh Netros yg membeku.
            Abdul mendaki gunung sambil mendorong Netros. Abdul sudah nampak kelelahan. Dia berusaha untuk tidak meninggalkan sahabatnya itu, dan membawanya walaupun berat adanya. Dia pun tiba di sebuah lereng dimana disana ada sebuah gua. Abdul pun memutuskan untuk berstirahat disana. Abdul mendorong tubuh Netros itu ke dalam gua untuk menghangatkannya. Lalu kemudian ia berlari kembali ke arah gunung yg ada pepohonannya, walau elang bukan tipe pelari, tapi ia berusaha untuk lari secepat mungkin. Setelah beberapa jam, Abdul pun kembali membawa ranting-ranting pohon dan dedaunan yg kering. Dan ia berusaha menyalakan api dengan menggesekan ranting-ranting pohon itu. Setelah beberapa lama, mulai keluar asap, dan ia menaruh dedaunan kering diatasnya dan mulailah muncul api. Tubuh Netros yg membeku di taruh dekat api tersebut, sementara ia menunggu dan tidak terasa ia mulai tertidur. Saat itu memang sudah malam. Pagi pun menjelang, Abdul terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah Netros, namun betapa terkejutnya dia ternyata Netros sudah tidak ada. “Netros..!!” teriaknya memanggil Netros dari luar mulut gua. “Sial! Kenapa aku malah tertidur. Pasti dia dibawa oleh siluman jahat saat aku tertidur.” Ucap Abdul sambil memukul dinding gua tersebut karena kesal. “Kau kenapa, sahabatku?” tanya Netros yg ternyata sudah ada di belakangnya. “Netros, kemana saja kau?” tanya Abdul, khawatir. “Aku baru mengitari gunung ini, dan aku punya kabar buruk untukmu.” Jawab Netros. “Kabar buruk apa?” tanya Abdul lagi. “Barusan, saat tubuhku baru saja normal. Aku mendengar teriakan seorang perempuan. Aku pun menghampiri asal suara itu, dan disana hanya tersisa danging terkoyak habis tinggal tulang saja. Aku kira di pegunungan ini ada iblis di pegunungan ini.” Jelas Netros. “Kenapa? Apa kau takut? Sudah kubilang, janganlah takut pada iblis. Mereka takkan bisa menyakiti kita selama kita selalu percaya dan selalu bersama. Kita tak terkalahkan saat bersama.” Ucap Abdul berusaha meyakinkan Netros. “Kukira kau benar. Baiklah, kita lanjutkan perjalanan.” Sahut Netros sambil mengajak Abdul. Abdul pun berjalan di belakang Netros. Kini mereka menyusuri jalan setapak yg tampaknya sering dipakai oleh yg lewat disana. Mereka tidak sadar ada sosok besar sedang memperhatikan mereka. Mereka berdua tetap saja berjalan dan akhirnya sampai di sebuah gunung yg amat sepi dan gelap. Disana senatiasa badai dan berkabut. “Tempat ini agak menyeramkan.” Ucap Netros yg bersembunyi di belakang Abdul. “Sudahlah kau tak perlu takut, kan masih ada aku.” Sahut Abdul sambil melihat kanan kiri. “Kita sepertinya diikuti.” Sambung Abdul. “Di ikuti?” kata Netros dengan gemetaran. Saat abdul menoleh ke kanan, dari arah kiri muncul siluman babon menubruknya. Abdul pun berguling-guling dengan siluman babon itu menuju lembah yg tidak lain adalah danau yg membeku. “Abdul!” panggil Netros yg tidak sadar di belakangnya sudah ada para siluman babon lain bersiap menangkapnya. Netros pun berbalik dan berusaha melawan mereka, namun tiba-tiba ada seekor siluman babon lain yg naik ke punggunya dan menotokkan sebuah tongkat tepat ke pundaknya. “Teknik Iblis Penidur.” Ucap babon itu. Lalu Netros pun ambruk tertidur disana. Dari lembah, Abdul melihat Netros dibawa oleh para babon itu. Mereka semua pendek tapi licah dan kuat. Abdul menghadapi salah satunya di lembah. “Netros..!!” teriak Abdul saat melihat Netros dibawa. Siluman babon itu pun memanfaatkan kesempatan tersebut dan menendang Abdul kebawah hingga terperosok ke bawah es yg tidak lain adalah danau tersebut. “Hehe.. kau tak akan melihat temanmu lagi saat ia sudah kami cerna.” Ucap siluman babon itu sambil berlalu pergi. “Sial, aku tak bisa bergerak. Aku kehilangan tenagaku. Rasanya aku membeku.” Kata Abdul dalam hatinya, matanya pun sudah mulai buram. Dan dari atas, samar-samar ada bayangan makhluk tinggi besar berusaha menggapainya. Namun Abdul sudah keburu tak sadarkan diri.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】