VocaWorld, chapter 2 - Following

Bunga sakura berjatuhan dan angin musim semi membuatnya berterbangan di udara. Perjalanan ke sekolah antara Miku dan Kaito tampak jadi lebih romantis. Dan hal itu membuat hati Miku jadi makin dag-gig-dug. Sementara Kaito berjalan sambil menuntun sepeda tua yg putus rantainya. Di belakang mereka tampak ada seorang laki-laki sedang memperhatikan.
"Ini jadi makin menarik, nampaknya suasana di sekitar mereka semakin mendukung. Akankah perasaan diantara mereka akan bersemi layaknya bunga sakura? Hmm.." ujar laki-laki berambut hitam pendek dengan gaya belah pinggir tersebut.
"A-ano, sepedanya kenapa?" tanya Miku sambil malu-malu.
"Mampus dah! Mesti gimana aku jawabnya? Kalau ku jawab jujur, bisa mati aku karena malu." gumam Kaito dalam hatinya.
Miku tampak penasaran, di memiringkan kepalanya.
"Waduh, gimana ini? Jangan sampai dia melihat ke bawah. Aku harus cepat memikirkan jawabannya." gumam Kaito lagi dalam hatinya, berpikir keras.
"Se-sebenarnya, ini tidak apa-apa. Hanya saja aku lebih suka berjalan kaki. Aku tak mau melewatkan momen hari pertama sambil melihat bunga sakura berguguran." jawab Kaito sambil melihat ke atas.
Kemudian Kaito melihat ke arah Miku lalu tersenyum.
"Ya, lagipula aku tak ingin waktu perkenalan kita berlalu terlalu cepat." ucapnya.
Miku terkejut mendengar itu, wajahnya makin memerah dan jantungnya berdegup dengan kencang. Dia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Be-begitu ya." ujar Miku dengan suara pelan karena malu.
"Safe, dia tidak tahu kalau aku panik barusan. Untung saja aku bisa memikirkan kata-kata yg keren barusan. Ya, apalagi aku tak bisa bilang kalau sepeda ini rantainya putus, dapat minjam dari orang aneh pula. Kalau saja motorku tidak dirusak oleh orang itu, ini takkan mungkin terjadi." ujar Kaito dalam hatinya merasa lega.
Kemudian Kaito membayangkan kejadian tadi pagi dalam kepalanya. Saat hendak berangkat, dia naik diatas motornya lalu berusaha menyalakannya. Namun motor itu tidak mau hidup.
"Sial, nampaknya motor ini mogok!" ucap Kaito geram.
"Yo Kaito-dono, mau saya bantu perbaiki. Begini-begini saya ahli dalam hal otomotif." ujar laki-laki berambut ungu panjang yg berpakaian kimono.
"Benarkah? Kalau begitu mohon bantuannya." terima Kaito.
Kemudian laki-laki itu tampak mengoprak-oprek motor tersebut.
"Tada! Selesai..!" ucap laki-laki itu.
"Sip, aku coba starter ya." sahut Kaito tampak senang.
Pas dia kick starter, motor tersebut memang nyala.
"Yes!" ucap Kaito.
Lalu kemudian knalpotnya jatuh. Kaito terkejut. Lalu disusul dengan body, mesin, ban, dll. Dan hanya tinggal stang aja yg dipegang Kaito. Kaito langsung shock.
"APA MAKSUDNYA INI!!!" teriaknya pada laki-laki berambut ungu tersebut.
"Ya, sebenarnya saya tak terlalu handal dalam hal modern. Hahaha.." jawab laki-laki tersebut.
"TAPI BUKANNYA TADI KAMU BILANG KAMU AHLI DALAM OTOMOTIF!!??" ujar Kaito masih dengan nada tinggi.
"Ya, itu memang benar. Itu kendaraan saya, tuh." jawab laki-laki itu lagi sambil menunjuk sebuah sepeda tua di pinggir dojo.
Kemudian dia mengambil sepeda tersebut.
"Ini mah bukan otomotif, lagipula ini sudah tua. Buatan tahun berapa ini?" tanya Kaito nada nya mulai lebih rendah.
"Ini adalah peninggalan dari Kakeknya Kakekku." jawab laki-laki tersebut.
"Eh?" ucap Kaito saat mendengarnya.
Kemudian suasana pun hening sejenak.
"TUA BANGET DAH!! JAMAN APA ITU?? JAMAN EDO KAH??!!" teriak Kaito lagi.
"Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku bisa berangkat sekolah?" ujar Kaito tertunduk lesu.
Kemudian laki-laki itu menghampirinya dan memegang pundak Kaito.
"Tenang saja, kan anda bisa pake sepeda legendaris ini. Ini adalah kesempatan anda untuk mencobanya." katanya.
"Memangnya masih bisa dipakai?" tanya Kaito.
"Tentu saja, untuk saat ini." jawabnya.
"Baiklah, daripada gak sama sekali." ujar Kaito sambil menaiki sepeda tersebut.
Kemudian Kaito pun berangkat menaiki sepeda tersebut.
"Hati-hati di jalan ya, Kaito-dono." ucap laki-laki itu pada Kaito.
Dan begitulah kisah Kaito bagaimana dia bisa mengendarai sepeda tua itu. Walau disayangkan rantainya juga sudah terlalu tua dan putus tepat saat lewat jembatan.

Miku dan Kaito pun sampai di gerbang depan Akademi Voca.
"Baiklah kita sudah sampai." ucap Kaito.
"Wah.. besar sekali sekolahnya." ujar Miku tampak kagum melihat sekolah barunya.
"Nah, setelah ini kamu bisa sendiri kan? Soalnya aku harus menyimpan sepedaku dulu di parkiran sepeda." kata Kaito sambil membelokkan sepedanya ke arah gerbang belakang menuju parkiran sepeda.
"Baiklah. Terima kasih ya, Kaito-senpai." ucap Miku sambil tersenyum manis.
"Ya." sahut Kaito.
Kemudian Miku berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah tersebut. Dan dia pun di sambut oleh senior-senior yg mempromosikan klub nya. Karena Akademi Voca adalah sekolah musik, maka kebanyakan klub nya juga adalah klub musik.
"Nice Lady, apa kabarnya? Oh kamu pasti sedang dalam keadaan prima hari ini. Dan kamu juga tampak bersemangat. Bagaimana kalau kamu kobarkan semangat mu dengan api rock'n roll, dan bergabung dengan klub Rock." ajak seorang senior tampak sok akrab, dan dibelakangnya ada temannya yg mengiringi dengan gitar listrik.
"Ma-maaf, aku tidak terlalu mengerti dengan rock-apalah-itu." tolak Miku sambil tersenyum ramah sambil menggaruk kepalanya.
"Oh nooooo... baby!" teriak senior itu, tetap sambil diiringi gitar listrik oleh temannya.
"Yoman, ayo kita santai seperti dipantai bersama klub Reggae." ujar senior di depannya.
Tampak para anggota itu sedang pegang rokok, dan suasana disekitarnya berasap.
"Kenapa kalian merokok?!!! Kalian masih SMA kan?!!" bentak Miku tampak kaget.
"Yoman, kalem aja. Ini bukan rokok sungguhan. Ini isinya adalah susu ra*s. Dapet beli dari tukang sayur." jawab senior tersebut.
"Lalu asap itu??" tanya Miku sambil menunjuk ke arah para senior tersebut.
"Oh itu, kami lagi bakar jagung. Tadi aku sudah bilang kan kami beli rokok ini dari tukang sayur. Jadi biar gak malu, sekalian beli jagung aja, yoman." jawab senior itu lagi.
"Lebih mantap ditemani kopi hitam yo." tambah temannya.
"Terserah kalian aja dah." ucap Miku sambil tepuk jidat.
Kemudian Miku pun melanjutkan langkahnya. Dan klub Reggae pun menyanyikan lagu, 'No Woman No Cry'.
"Yo-yo-yo neng geulis bade kamana?" panggil seseorang pada Miku.
Miku pun menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Eh, siapa? Aku?" tanya Miku sambil menunjuk dirinya.
"Sumuhun pisan yo pisan yo." jawab orang itu.
"Hehehe.. begitukah? Lagipula.. BAHASA APA ITU BARUSAN?!!!" kata Miku pada orang itu.
"Bahasa sunda yo, su-su-sunda." jawabnya dengan logat rap yg makin menjadi.
"Eeehhh..." ucap Miku sambil berekspresi aneh.
"3-2-1-Go!" kata orang itu memberi isyarat pada teman-temannya.
Kemudian teman-temannya keluar entah dari mana sambil membawa peralatan DJ. Mereka pun mulai membuat sebuah melodi.
"Yo, Nami kuring Ebiet Beat B, klub hip-hop eta klub abdi, tos terkenal lewat CD, Bla-bla-bla.." nyanyi orang itu sambil diiringi musik hip-hop.
Sementara Miku hanya terpaku saja.
"Aku gak ngerti sama sekali apa yg dia katakan. Lagipula apa-apaan gaya pakaian itu. Mereka masing-masing pada bawa jam dikalungkan dileher pake rantai. Pake cincin banyak banget mirip Tess*." komentar Miku dalam hatinya dengan tatapan lesu.
"Tunggu sebentar, yg pertama sih normal. Kenapa juga yg kedua malah pake jam digital?!" ucap Miku dalam hati saat melihat kalung anggota klub hip-hop yg lain.
"Jam waker?! Apa-apaan itu? Apa dia punya masalah dengan ketepatan waktu. Lagipula itu kegedean, kenapa gak sekalian jam dinding?" komentar Miku saat melihat ke anggota yg lain.
"Ternyata ada??!!!!" teriak Miku dalam hatinya saat melihat ke anggota yg satu lagi.
"Ampun dah, aku cape daritadi berkomentar terus. Lebih baik langsung masuk gedung sekolah saja." ucap Miku sambil meninggalkan klub hip-hop yg masih nyanyi.
"Hei kalian! Kalian melanggar peraturan sekolah!" bentak seseorang pada anggota klub hip-hop.
Miku menoleh ke belakang untuk melihatnya. Tampak seorang gadis berambut panjang berwarna pink nan indah sedang memarahi klub hip-hop.
"Kalian terlalu banyak memakai aksesoris. Jadi sekarang akan kami sita." bentak gadis itu lagi.
"Siapa dia? Rambutnya indah sekali. Aku ingin punya rambut seperti itu." ujar Miku.
"Miku-chan?" panggil seseorang yg suaranya sudah dikenal oleh Miku.
Miku pun menoleh.
"Meiko-san.." sahut Miku saat memastikan kalau itu adalah Meiko.
"Mau gabung dengan klub Light Music?" tawar Meiko.
"Hehe.. tidak, terima kasih. Untuk saat ini aku belum mau gabung klub apapun." jawab Miku.
"Begitu ya, ya udah tak apa." balas Meiko sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya." ujar Miku.
"Ya." sahut Meiko.
Tampak laki-laki berambut hitam itu masih memperhatikan Miku tanpa sepengetahuannya. Dia diam diantara keramaian dan melihat ke arah gadis manis itu.
"Baguslah, tampaknya tak ada masalah." ucap laki-laki itu tersenyum.
"Aniki!" panggil seseorang dari belakangnya.
Ternyata itu adalah laki-laki berambut perak. Suaranya seperti seorang anggota band visual kei.
"Kau terlambat, Dante." sapa laki-laki itu.
"Bukankah kau sendiri yg meninggalkanku, aniki." sahut Dante tampak ngos-ngosan seperti sudah berlari jauh.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】