LINE Dragon Flight Story, chapter 3 - Dikejar Dan Mengejar
Elli menyelamatkan Rikka dari seseorang yang hendak menyerangnya. Dan sebagai rasa terima kasih, Rikka pun menawarkan makanan untuk Elli. Meskipun ternyata roti nya telah berubah menjadi ikan, Elii terlihat tidak keberatan untuk memakannya.
"Oh ya, kalau boleh aku tanya, kenapa sampai kamu dikejar oleh orang yg tadi?" tanya Elli.
"Aku juga tidak tahu. Saat aku sedang terbang menuju kota berikutnya, aku tiba-tiba diserang olehnya." jawab Rikka.
Siang tadi, sebelum bertemu dengan Elli, Rikka sedang belanja di sebuah toko di kota. Rikka membeli berbagai macam tanaman obat dari toko itu. Kemudian dia keluar dari toko dan berjalan menuju toko berikutnya.
"Hei, kau jangan mendaratkan nagamu sembarangan! Lihat, atap rumahku jadi hancur!" bentak salah seorang warga.
Mendengar ada keributan di belakangnya Rikka pun menoleh karena penasaran.
"Hah! Berani juga kau membentakku. Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Jantero. Si naga gunung merah." balas seorang laki-laki pengendara naga merah.
"Jantero? Siapa itu Jantero?" ucap warga yang tadi.
"Cih, sialan! Bagaimana kau bisa tidak mengenaliku!!? Lihat poster disana! Itu aku!" bentak Jantero lalu menunjuk poster buronan yg tertempel di dinding.
"Tapi, nampaknya gambarnya tidak mirip denganmu." ucap warga itu sambil memperhatikan poster dengan seksama.
"Itu mungkin karena penggambar posternya tidak becus! Aku ini Jantero asli!" ujar laki-laki yg bersikukuh kalau dia adalah yg ada di poster itu.
"Sudahlah.. kamu tak perlu memaksakan diri. Kalau kamu ingin ditakuti, bilang saja. Nanti kami bisa pura-pura takut." kata salah seorang warga yg lain.
Semua warga yg ada disitu pun tertawa.
"Kurang ajar!! Akan kubuktikan pada kalian!" ucap laki-laki pengendara naga itu yg melompat dari naganya dan mendarat tepat di depan Rikka.
"Akan kubunuh gadis ini di depan kalian!" kata laki-laki itu dengan nada mengancam.
Tampak sebuah pedang terhunus tepat ke arah leher Rikka. Rikka tampak tenang saja dan terlihat memakan sesuatu.
"Te-tenanglah tuan.. siapa tadi?.. Jantero ya?" bujuk seorang warga.
"Ah! Aku sudah muak! Akan kubunuh gadis ini sekarang juga!" kata laki-laki yg mengaku Jantero itu.
Jantero itu pun menebaskan pedangnya ke arah Rikka, namun dengan mudahnya Rikka menghindar dengan cara menunduk.
"Apa?! Dia menghindarinya?!!" ucap Jantero dalam hati dengan ekspresi terkejut.
"Kau hebat juga bisa menghindari tebasan pertamaku. Lalu bagaimana dengan ini!" ucap Jantero pada Rikka kemudian melancarkan serangannya lagi.
Namun Rikka tampak tidak kesulitan sama sekali menghindari setiap tebasannya.
"Kenapa ini? Aku yakin tidak menurunkan kemampuanku saat menebasnya, tapi dia bisa menghindari setiap tebasanku. Siapa gadis ini?" gumam Jantero dalam hati.
Kemudian Rikka menangkap tangan Jantero sambil menghindari tebasannya. Dan Rikka pun membanting Jantero ke tanah.
"A-aku adalah Jantero. Naga dari gunung merah. Aku tak mungkin dikalahkan oleh gadis kecil seperti dia." kata Jantero dalam hati sambil menahan sakit dan mencoba untuk kembali bangkit.
"Tidak mungkun!!!" pekik Jantero sambil bangkit dengan penuh amarah.
"Jantero, sedang apa kau disini? Kita sedang punya tugas. Apa kau sudah lupa?" ucap seseorang dari belakang Jantero.
Terlihat sosok naga dan seorang gadis sudah berada di belakang Jantero. Jantero dan Rikka sama-sama terkejut karena tidak menyadari kehadiran dan kedatangan naga dan gadis itu sama sekali.
"Diam kau, Eve! Aku sedang bertarung disini!" bentak Jantero pada gadis pengendara naga biru itu.
"Kau sebut itu bertarung? Kamu tidak ada bedanya dengan seekor cacing yang menantang induk ayam barusan." ujar gadis berambur putih itu.
"Sialan kau, Eve.." geram Jantero.
"Ayo kita pergi dari sini, kita saat ini punya tugas yang lebih penting." sambung gadis bernama Eve itu terbang bersama naganya.
Meskipun kesal, Jantero tak punya pilihan lain selain menurutinya. Mereka pun pergi ke arah timur.
"Untung saja mereka pergi. Sesaat aku pikir aku akan menghadapi temannya juga, bisa gawat kalau gitu." ucap Rikka dalam hati terlihat merasa lega.
"Yeah!" para warga bersorak.
Mereka terlihat senang melihat Rikka bisa mengusir pengacau itu. Para warga pun berterima kasih dan membiarkan Rikka berbelanja dengan potongan harga di toko mereka.
Setelah selesai belanja, Rikka memanggil naga nya dan terbang ke arah timur.
"Setelah ini aku akan pergi ke kota Rimpolly. Aku dengar disana ada yang menjual jamur Alice." ujar Rikka dalam hati.
"Kali ini apalagi yang akan kau buat?" tanya naganya.
"Dengan tanaman yang aku beli di kota ini, dan jamur Alice di kota selanjutnya. Aku mungkin bisa membuat obat pengubah bentuk." jawab Rikka.
"Obat pengubah bentuk?" ucap naganya tidak mengerti.
"Ya, kita belum tahu. Itu baru sebuah teori. Yang terpenting saat ini adalah kita menuju kota Rimpolly." kata Rikka.
"Baiklah nona.." sahut naganya.
Tanpa mereka sadari, ada sesosok naga yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Merasakan ada hawa naga lain, Bonar baru menyadari kehadiran sosok naga itu.
"Nona, pegangan yg erat!" suruh Bonar yang kemudian terbang kebawah menghindari serangan sosok naga itu.
Sosok naga misterius itu pun mengikuti Bonar.
"Ada apa tiba-tiba terbang kebawah seperti itu!?" bentak Rikka yang kurang siap sehingga terkejut.
"Nona, ada yang sedang berusaha menyerang kita." jawab Bonar.
"Siapa?" tanya Rikka.
"Lihat kebelakang!" jawab Bonar.
Bonar berusaha bermanuver untuk menipu naga tersebut, namun naga misterius itu bisa mengikutinya dengan mudah.
"Nampaknya kita tidak bisa menghindarinya, nona. Naga itu itu punya kemampuan diatasku." kata Bonar.
"Nona?" sambung Bonar karena Rikka diam saja tidak menjawab.
"Di-dia?! Dia gadis yg tadi?!" ujar Rikka kaget melihat kalau yg mengejarnya adalah Eve dan naganya.
"Berhenti kau, mata empat!!!" teriak Eve dengan wajah seperti hendak membunuh Rikka.
"Kenapa dia mengejarku? Apa yang terjadi?" ucap Rikka dalam hati.
Bonar kembali menggunakan berbagai macam manuver, tapi tetap tidak bisa mengecoh naganya Eve.
"Sial, naga itu benar-benar lebih hebat dariku. Aku tak bisa lari darinya." gerutu Bonar.
"Kita tak punya pilihan lain. Bonar! Makan ini!" kata Rikka sambil menyodorkan sesuatu mirip permen.
"Kau takkan bisa lari!" kata Eve.
Kemudian tiba-tiba saja Rikka dan naganya melesat dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Eve jauh di belakang.
"Ce-cepat sekali!!!" kata Eve yg terkejut melihat perubahan kecepatan yg terlalu drastis itu.
"Snow ada apa denganmu! Ayo kejar mereka!" suruh Eve pada naganya yg bernama Snow itu.
"Meski disuruh begitu pun, tapi saat ini aku sudah mencapai kecepatan maksimalku. Jadi tak mungkin aku bisa mengejar mereka." sahut Snow.
Eve tampak kesal dan hanya bisa pasrah melihat targetnya lolos.
"Untunglah kita bisa lari!" ucap Rikka dengan senang.
"Nona.." panggil Bonar.
"Ada apa?" sahut Rikka.
"Aku sudah tidak kuat lagi.." jawab Bonar tampak kelelahan.
Sayapnya pun berhenti dan mereka pun jatuh.
"Kyaa!! Bonar jangan pingsan dulu!" teriak Rikka saat melesat kebawah.
"Awas yang dibawah!!!" teriak Rikka lagi.
Dan saat itulah dia bertemu dengan Elli.
"Jadi setelah ini kalian akan pergi ke mana?" tanya Elli.
"Kami akan ke Rimpolly." jawab Rikka.
"Rimpolly?" sahut Elli yang tidak tahu ada nama tempat seperti itu.
"Oh, aku tahu kota itu. Itu adalah kota para penjual jamur itu." ucap Torn.
"Jamur?" kata Elli yg masih tidak tahu.
"Tapi, mungkin bukan sekarang. Bonar terlihat masih kelelahan. Jadi sebaiknya aku pergi besok saja." sambung Rikka sambil melihat ke arah Bonar yg masuh tidur.
"Jadi apa boleh aku berkemah bersama kalian?" tanya Rika.
"Ya! Tentu saja!" jawab Elli dengan senang.
Ini pertama kalinya Elli punya teman selain Torn dan berkemah di alam liar. Di tempat lain, Eve merasa kesal dikalahkan dengan mudahnya.
"Maafkan aku, Jantero. Aku tidak bisa membalaskan dendammu!" ucap Eve sambil memukul tempat duduknya.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.